Friday, April 08, 2022

Jiro, Ikigai, Flow dan Hidup Hingga 100 Tahun

©Magnolia Pictures/Courtesy Everett Collection



“Once you decide on your occupation... you must immerse yourself in your work. You have to fall in love with your work. Never complain about your job. You must dedicate your life to mastering your skill. That's the secret of success...and is the key to being regarded honorably.” – Jiro Ono


Film dokumenter Jiro Dreams of Sushi dibuka dengan pembukaan yang sangat kuat yaitu Pak Jiro sendiri yang memberikan nasihat di atas. Kutipan yang disampaikan dalam bahasa Jepang itu adalah resep kesuksesan sang Legenda Sushi tersebut. Bila kita menonton film berdurasi 1 jam 21 menit tersebut, memang terlihat bagaimana pemilik restoran sushi yang sering disebut termahal di dunia ini mendedikasikan hidupnya untuk membuat sushi yang terbaik. 


Jiro Ono, pria kelahiran tahun 1925, saat syuting film dokumentar tentang hidupnya, berusia 85 tahun. Pada usia tersebut, beliau masih bekerja, menjadi kepala chef di restorannya yang tak pernah sepi. Walau dipatok dengan harga per orang dimulai dari 30.000 yen, dan pelanggan harus melakukan reservasi satu bulan sebelumnya, tetap saja orang-orang mengantri untuk mencoba makan di sini. Sushi Jiro mendapat berbagai penghargaan termasuk rating three stars Michelin. Perdana Menteri Shinzo Abe dan Presiden AS Barack Obama pernah makan di sini dan Obama menyebut sushi Jiro adalah sushi terbaik yang pernah dimakannya. 


Selain mengintip dapur restoran sushi termahal di dunia, film Jiro Dreams of Sushi juga mengantar kita mengikuti perjalanan hidup Jiro Ono dan kedua putranya yang juga adalah koki sushi. Kutipan di atas seolah menjadi kesimpulan dari film, yang merupakan rahasia sukses Jiro. Rahasia ini juga berlaku untuk kita semua. Apabila kita ingin sukses, maka pilihlah suatu pekerjaan yang dapat membuat kita jatuh cinta pada pekerjaan tersebut, lalu bertekunlah untuk membangun keahlian di sana.


Tapi tunggu dulu, apakah Jiro bisa dikatakan sukses? Beliau tidak mengendarai mobil mewah atau hidup berfoya-foya layaknya sultan. Beliau tidak memiliki harta berlimpah, namun beliau sukses, selain karena mendapat pengakuan dunia akan hasil karyanya, juga terutama karena beliau begitu bahagia menjalani setiap hari hidupnya. Setiap pagi Jiro pergi ke pasar untuk membeli ikan, lalu menyiapkan hidangan sushi terbaik di restorannya. Setiap pagi dia bahkan selalu naik kereta pada jam yang sama dan duduk di tempat yang sama. Ia menjalani rutinitas seperti itu setiap hari tanpa pernah libur. Tokonya tidak pernah tutup, kecuali ada acara penting seperti pemakaman. Jiro dapat dikatakan telah menemukan Ikigai-nya.


Francesc Miralles dan Hector Garcia menulis dalam buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, bahwa baik Jiro maupun putranya adalah seniman kuliner. Mereka tak pernah bosan ketika mereka memasak --- mereka mencapai kondisi flow. Mereka menikmati diri mereka sepenuhnya ketika berada di dapur; itulah kebahagiaan mereka, ikigai mereka. 


Dalam film Jiro Dreams of Sushi juga diceritakan tentang seorang anak magang Jiro yang belajar membuat tamagoyaki (semacam omelet di atas sushi). Betapa pun ia mencoba, tamagoyaki buatannya tak pernah disetujui Jiro. Dia terus berlatih hingga bertahun-tahun hingga mendapatkan persetujuan Jiro. Mengapa anak magang ini tidak menyerah? Mengapa ia tidak bosan memasak telur setiap hari? Karena membuat sushi juga merupakan ikigai-nya. 


Ikigai adalah suatu kata yang misterius. Bila Anda masukkan ke dalam google translate, maka terjemahan Bahasa Indonesia-nya adalah: alasan untuk hidup. Menurut orang-orang Jepang, setiap orang memiliki ikigai, atau apa yang disebut filsuf Perancis raison d'ĂȘtre (alasan, tujuan). Ikigai bisa disamakan dengan tujuan atau makna hidup seperti dalam aliran logotherapy Victor Frankl. Aliran psikologi ini bertujuan membantu orang menemukan tujuan hidup mereka. Bila Anda telah menemukan makna hidup, ikigai Anda, maka Anda tidak akan pernah mengeluh dalam pekerjaan Anda. 


Kembali ke cerita Jiro, bagaimana Jiro tahu membuat sushi adalah ikigai-nya? Bagaimana kita tahu cara menemukan ikigai kita? Ini salah satu clue, dan hal ini terdapat pula dalam film dokumenter yang disebut di atas walaupun tidak terlalu ditonjolkan, bahwa: dalam tidurnya pun, Jiro bermimpi membuat sushi. Sering ia mempertanyakan, apa yang disebut dengan Oishi (lezat)? Ia tak pernah puas dan selalu menantang dirinya untuk membuat sushi yang lebih baik. “Even at my age, in my work... I haven't reached perfection,” kutipan Jiro dalam film. 


Jiro mulai membuat sushi pada usia tujuh tahun dan memulai karir sebagai koki sushi pada usia 25 tahun. Berarti, ia telah membuat sushi lebih dari 70 tahun dan masih belum puas akan hasil karyanya. 


Clue yang dapat Anda gunakan untuk menemukan Ikigai Anda, pertama adalah mimpi. Clue kedua adalah keinginan untuk terus belajar dan menguasai suatu keahlian tersebut. Ketiga, kata-kata ini sudah sempat disebutkan di atas namun belum dijelaskan, adalah flow.  


Konsep flow dipopulerkan oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi. Ia terus mempertanyakan apa yang membuat kita bisa begitu menikmati suatu pekerjaan hingga lupa waktu dan lupa segalanya? Ia pun secara khusus meneliti kondisi atau pengalaman dimana kita sepenuhnya membenamkan diri dalam apa yang sedang kita kerjakan. Csikszentmihalyi pun menyebut kondisi ini sebagai “flow” yang dideskripsikan sebagai kesenangan, suka cita, kreativitas, dan proses ketika kita sepenuhnya membenamkan diri (dalam mengerjakan sesuatu).


Flow adalah kondisi di mana seseorang begitu terhanyut dalam suatu aktivitas sehingga hal lain seperti tidak penting, pengalaman tersebut sendiri begitu menyenangkan sehingga mereka akan mengerjakan hal tersebut tanpa tujuan tertentu, hanya karena mereka senang mengerjakannya. Nah, coba teliti aktivitas apa yang Anda kerjakan yang dapat membuat Anda dalam kondisi “flow”? Mungkin saja hal itu bisa membantu Anda menemukan Ikigai Anda.


Dalam kesimpulan bukunya Francesc Miralles dan Hector Garcia menulis bahwa: Ikigai setiap orang berbeda-beda, namun satu hal yang sama adalah kita semua mencari makna hidup. Ketika kita mengerjakan sesuatu yang bermakna, maka kehidupan kita terasa penuh. Ketika kita sibuk mengerjakan apa yang kita sukai dan dikelilingi orang-orang yang mencintai kita, jangan heran mungkin kita bisa hidup hingga 100 tahun!


Dalam riset penulisan buku Ikigai Miralles dan Garcia menghabiskan waktu di desa Ogimi. Ogimi yang berada di Prefecture Okinawa disebut sebagai Village of Longevity, memiliki populasi centenarians (orang yang berusia 100 tahun ke atas) terbanyak di dunia, dan mendapatkan rekor Guinness untuk umur panjang. Di Ogimi, berusia 80 tahun masih dianggap anak-anak. Miralles dan Garcia menemukan, orang-orang tua berusia di atas 80 tahun ini masih sangat aktif. Mereka tidak menghabiskan waktu mereka duduk di rumah saja atau membaca koran. Mereka banyak berjalan, bernyanyi, mengobrol dengan tetangga, atau berkebun. Mungkin inilah salah satu rahasia berumur panjang. Dan ternyata Ikigai bila diterjemahkan dengan kasar dapat berarti “the happiness of always being busy.” 


Sebagai kesimpulan bukunya, Miralles dan Garcia memberikan 10 aturan Ikigai (10 Ikigai rules) yang merupakan rahasia berumur panjang dan hidup bahagia orang-orang Jepang.


1. Stay active; don’t retire

2. Take it slow

3. Don’t fill your stomach

4. Surround yourself with good friends

5. Get in shape for your next birthday

6. Smile

7. Reconnect with nature

8. Give thanks

9. Live in the moment

10. Follow your ikigai


Bila Anda belum tahu apa ikigai Anda, seperi kata Viktor Frankl, maka misi Anda adalah untuk menemukannya. 









Wednesday, February 03, 2021

Pengalaman Memperpanjang Paspor Januari 2021



 

Ketika masa berlaku paspor saya akan habis, maka saya pun hendak memperpanjang paspor tersebut. Kali ini perpanjangan saya lakukan mepet banget, hanya dua hari sebelum masa berlaku habis karena memang selama pandemi tidak ada rencana untuk bepergian ke luar negeri.

 

Saya telah melakukan pencarian informasi  di Google tentang cara memperpanjang paspor yang terbaru yaitu untuk tahun 2020 dan 2021 di Jakarta. Menurut petunjuk tersebut perpanjangan paspor sekarang dilakukan secara online, dimana step yang perlu diikuti adalah sebagai berikut:

 

1.     Kunjungi Website Imigrasi di antrian.imigrasi.go.id atau install aplikasi layanan paspor online.

2.     Mengisi Formulir.

3.     Pilih kantor imigrasi dan jadwal kedatangan

4.     Jadwal untuk Datang Ke Kantor Imigrasi.

5.     Verifikasi dan Pembayaran

6.     Datang ke Kantor Imigrasi Sesuai Jadwal.

7.     Proses wawancara paspor baru

8.     Selesaikan transaksi dan ambil paspor

 

Steps di atas saya peroleh dari browsing di Google, untuk lebih jelasnya Anda juga bisa mengikuti steps yang saya potret dari brosur yang saya ambil di kantor imigrasi di atas.

 

Akan tetapi, ketika mencoba mendaftar melalui aplikasi layanan paspor online seperti di bawah ini:



 

 

saya gagal terus. Pesan yang disampaikan oleh aplikasi setelah saya mengisi data saya adalah: “ERROR”

 

Maka keesokan harinya saya pun datang langsung ke Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Petugas yang berjaga di sana sangat ramah dan baik menyambut saya. Ketika tiba di sana, kita langsung ditanyakan, apakah sudah mengisi melalui online? Saya jawab, belum, karena gagal terus.

 

Petugas tersebut tetap saja menyuruh saya mengisi data melalui aplikasi yang sudah terinstall di HP saya. Lalu saya ulang proses yang saya lakukan, dan gagal lagi. Saya tanyakan ke petugas, katanya mungkin sudah penuh. Pada saat itu saya melihat orang-orang yang sudah mendaftar via Online sudah dilayani di lantai dua. Trus gimana dong, tanya saya, kalau Error terus. Akhirnya petugas menyarankan saya datang langsung pada saat Layanan Sore, yang dibuka setiap hari Senin dan Kamis jam 16.00.

 

Saya pun mengikuti anjuran tersebut, hari Senin 16.00 saya datang. Ketika tiba di sana, saya diminta fotokopi paspor lama dan KTP dalam kertas A4. Untunglah di sana dekat musholla ada tukang fotokopi. Setelah itu saya mengisi formulir, mengantri sebentar (tidak ramai, hanya beberapa orang), dan tiba giliran saya dipanggil untuk wawancara dan foto.

 

Petugas hanya menanyai beberapa pertanyaan terkait pekerjaan saya, dan apakah ada rencana bepergian, dan mengambil foto dan sidik jari. Setelah itu saya diberikan kertas berisi QR code, kode booking yang akan digunakan untuk pembayaran melalui mobile banking. Saya sudah menyiapkan uang tunai, tapi ternyata pembayaran dengan uang tunai tidak diterima. Anda bisa melakukan setoran ke bank dengan menyebut kode permohonan atau melakukan pembayaran di mobile banking dengan nomor kode bayar yang telah disediakan. Setelah pembayaran dilakukan, maka paspor kita akan diproses, dan bisa diambil dalam waktu 4 hari kerja.

 

Berikut dokumen yang perlu disiapkan:

 

-       KTP

-       Kartu Keluarga

-       Akta kelahiran/Akte Nikah/Ijazah

-       Paspor lama

 

Biaya paspor biasa 48 halaman Rp 350.000. Paspor Biasa 48 halaman Elektronik Rp 650.000.




 

Setelah melakukan pembayaran melalui mobile banking Mandiri, saya capture screen, lalu mencetak hasil capture screen tersebut untuk digunakan untuk pengambilan paspor.

 

Untuk memastikan apakah paspor sudah siap diambil atau belum, Anda bisa Whasapp ke nomor Sigap 0811 8539 333 dengan menyebutkan kode pembayaran.

 

Ketika mengambil paspor jangan lupa membawa nomor permohonan tersebut beserta hasil capture screen bukti pembayaran. Tata cara pengambil paspor dapat dilihat pada video berikut: https://youtu.be/UBZiHX8KfvY

 

Monday, November 11, 2019

Tiga Hal Menarik Ketika Mengunjungi Museum Benteng Heritage Tangerang





Museum Benteng Heritage diresmikan pada tanggal 11 November 2011, tepat delapan tahun yang lalu. Museum yang menyimpan beberapa warisan budaya Peranakan Tionghoa Tangerang ini berada di dalam Pasar Lama Tangerang.

Cara mengakses museum ini adalah melalui Pasar Lama Tangerang yang rupanya sekarang telah menjadi salah satu pusat kuliner baru. Di pintu gerbang masuk tertulis “Kawasan Kuliner Pasar Lama”. Tak jauh dari pintu gerbang itu, carilah sebuah gang kecil yang menuju kelenteng Boen Tek Bio. Dari kelenteng belok kanan ke sebuah gang kecil lagi, dan di sanalah lokasi Museum Benteng Heritage (MBH) yang merupakan sebuah rumah lama yang beralih fungsi menjadi museum.

Museum ini dikelola oleh swasta dan didirikan oleh Udaya Halim. Tiket masuk Rp 30,000 sudah termasuk penjelasan dari seorang guide. Beberapa bagian dari rumah lama yang didirikan pada tahun 1700-an itu masih dipertahankan, seperti lantai dari terra kota, dinding batu, serta kayu ulin yang menjadi penyangga. Beberapa lukisan yang dibuat berdasarkan foto dari masa lalu membawa kita ke jalan-jalan di sekitar Pasar Lama Tangerang pada masa penjajahan Belanda. Koleksi-koleksi museum yang disertai penjelasan dari guide juga membawa kita travelling ke abad 15 ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, dan katanya menuju Palembang, dan melewati Tangerang. Kita juga akan belajar mengapa orang-orang Tionghoa di Tangerang sering juga disebut Cina Benteng. Koleksi-koleksi museum seperti timbangan-timbangan, radio, meja belajar lama, patung-patung dewa Tionghoa, dan sebagainya.



Setidaknya ada tiga hal yang paling menarik buat saya pribadi, yaitu:

1.     Pintu rumah orang Tionghoa pada zaman dulu, yang terbuat dari kayu, dan hanya bisa dikunci dari dalam. Pada waktu itu belum ditemukan kunci dari luar, sehingga rumah tidak boleh kosong. Setidaknya harus ada satu orang yang jaga rumah untuk membukakan pintu dari dalam. Mereka juga membuat kunci dari kayu dengan menambahkan unsur rahasia sehingga hanya orang yang tahu rahasianya yang dapat membuka pintu tersebut. Sayangnya di dalam museum kita tidak diperbolehkan mengambil foto, sehingga saya tidak bisa menampilkan foto pintu yang saya maksud. Guide mengunci pintu dengan kedua palang, dan menyuruh para audience mencoba membukanya. Dan ternyata tidak ada yang bisa membuka pintu itu. Rupanya ada rahasia tertentu… ada suatu tombol di dalam yang (seharusnya) hanya diketahui oleh pemilik rumah. Teknologi yang sederhana namun cukup canggih untuk masa itu.

2.     Masih seputar teknologi. Saya cukup terpesona melihat sebuah box kecil dari kayu yang dipahat dengan rapi, yang ditempatkan di sisi sebuah ranjang pengantin di dalam museum. Apakah box ini? Tidak ada yang bisa menebak. Terlihat seperti kotak harta atau untuk menyimpan sesuatu yang berharga. Di bawah kotak tersebut juga dipasangkan roda, yang membuatnya mudah dipindahkan atau digerakkan. Ternyata box itu adalah sebuah toilet portable. Pada zaman dulu, orang Tionghoa tidak boleh membuat toilet di dalam rumah. Karena itu mereka membuat toilet portable ini agar tidak repot bila harus buang air di malam hari. Ketika dibuka, di dalam box itu terdapat bentuk dudukan toilet (yang dibawahnya diletakkan sebuah pispot) serta di sisinya terdapat lubang-lubang untuk menaroh botol air. Sebuah design yang sederhana tetapi menurut saya ini adalah sebuah teknologi yang memudahkan kehidupan manusia.

3.     Saya juga baru tahu bahwa di setiap kelenteng selalu ada dua patung singa di depannya. Yang satu adalah jantan, dan satunya betina. Nah bagaimana membedakannya? Perhatikan pada kakinya. Di bawah kaki singa yang jantan, terdapat bola dunia. Artinya tugas laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarga. Di bawah kaki singa yang betina, terdapat seekor singa kecil. Artinya tugas perempuan adalah mengasuh anak. Nah menarik bukan?

Masih banyak hal menarik lainnya yang dapat ditemukan dengan mengunjungi Museum Benteng Heritage ini. Tidak disangka-sangka, di dalam sebuah pasar terdapat sebuah museum, yang dikelola dengan cukup professional. Setelah mengunjungi museum, kita dapat menikmati kulineran di Pasar Lama, serta membeli oleh-oleh kecap yang terkenal di Tangerang, yaitu kecap SH yang merupakan salah satu kecap tertua di Tangerang (sejak 1920). Ini bisa menjadi sebuah paket pengalaman wisata yang menarik.