Wednesday, February 03, 2021

Pengalaman Memperpanjang Paspor Januari 2021



 

Ketika masa berlaku paspor saya akan habis, maka saya pun hendak memperpanjang paspor tersebut. Kali ini perpanjangan saya lakukan mepet banget, hanya dua hari sebelum masa berlaku habis karena memang selama pandemi tidak ada rencana untuk bepergian ke luar negeri.

 

Saya telah melakukan pencarian informasi  di Google tentang cara memperpanjang paspor yang terbaru yaitu untuk tahun 2020 dan 2021 di Jakarta. Menurut petunjuk tersebut perpanjangan paspor sekarang dilakukan secara online, dimana step yang perlu diikuti adalah sebagai berikut:

 

1.     Kunjungi Website Imigrasi di antrian.imigrasi.go.id atau install aplikasi layanan paspor online.

2.     Mengisi Formulir.

3.     Pilih kantor imigrasi dan jadwal kedatangan

4.     Jadwal untuk Datang Ke Kantor Imigrasi.

5.     Verifikasi dan Pembayaran

6.     Datang ke Kantor Imigrasi Sesuai Jadwal.

7.     Proses wawancara paspor baru

8.     Selesaikan transaksi dan ambil paspor

 

Steps di atas saya peroleh dari browsing di Google, untuk lebih jelasnya Anda juga bisa mengikuti steps yang saya potret dari brosur yang saya ambil di kantor imigrasi di atas.

 

Akan tetapi, ketika mencoba mendaftar melalui aplikasi layanan paspor online seperti di bawah ini:



 

 

saya gagal terus. Pesan yang disampaikan oleh aplikasi setelah saya mengisi data saya adalah: “ERROR”

 

Maka keesokan harinya saya pun datang langsung ke Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Petugas yang berjaga di sana sangat ramah dan baik menyambut saya. Ketika tiba di sana, kita langsung ditanyakan, apakah sudah mengisi melalui online? Saya jawab, belum, karena gagal terus.

 

Petugas tersebut tetap saja menyuruh saya mengisi data melalui aplikasi yang sudah terinstall di HP saya. Lalu saya ulang proses yang saya lakukan, dan gagal lagi. Saya tanyakan ke petugas, katanya mungkin sudah penuh. Pada saat itu saya melihat orang-orang yang sudah mendaftar via Online sudah dilayani di lantai dua. Trus gimana dong, tanya saya, kalau Error terus. Akhirnya petugas menyarankan saya datang langsung pada saat Layanan Sore, yang dibuka setiap hari Senin dan Kamis jam 16.00.

 

Saya pun mengikuti anjuran tersebut, hari Senin 16.00 saya datang. Ketika tiba di sana, saya diminta fotokopi paspor lama dan KTP dalam kertas A4. Untunglah di sana dekat musholla ada tukang fotokopi. Setelah itu saya mengisi formulir, mengantri sebentar (tidak ramai, hanya beberapa orang), dan tiba giliran saya dipanggil untuk wawancara dan foto.

 

Petugas hanya menanyai beberapa pertanyaan terkait pekerjaan saya, dan apakah ada rencana bepergian, dan mengambil foto dan sidik jari. Setelah itu saya diberikan kertas berisi QR code, kode booking yang akan digunakan untuk pembayaran melalui mobile banking. Saya sudah menyiapkan uang tunai, tapi ternyata pembayaran dengan uang tunai tidak diterima. Anda bisa melakukan setoran ke bank dengan menyebut kode permohonan atau melakukan pembayaran di mobile banking dengan nomor kode bayar yang telah disediakan. Setelah pembayaran dilakukan, maka paspor kita akan diproses, dan bisa diambil dalam waktu 4 hari kerja.

 

Berikut dokumen yang perlu disiapkan:

 

-       KTP

-       Kartu Keluarga

-       Akta kelahiran/Akte Nikah/Ijazah

-       Paspor lama

 

Biaya paspor biasa 48 halaman Rp 350.000. Paspor Biasa 48 halaman Elektronik Rp 650.000.




 

Setelah melakukan pembayaran melalui mobile banking Mandiri, saya capture screen, lalu mencetak hasil capture screen tersebut untuk digunakan untuk pengambilan paspor.

 

Untuk memastikan apakah paspor sudah siap diambil atau belum, Anda bisa Whasapp ke nomor Sigap 0811 8539 333 dengan menyebutkan kode pembayaran.

 

Ketika mengambil paspor jangan lupa membawa nomor permohonan tersebut beserta hasil capture screen bukti pembayaran. Tata cara pengambil paspor dapat dilihat pada video berikut: https://youtu.be/UBZiHX8KfvY

 

Monday, November 11, 2019

Tiga Hal Menarik Ketika Mengunjungi Museum Benteng Heritage Tangerang





Museum Benteng Heritage diresmikan pada tanggal 11 November 2011, tepat delapan tahun yang lalu. Museum yang menyimpan beberapa warisan budaya Peranakan Tionghoa Tangerang ini berada di dalam Pasar Lama Tangerang.

Cara mengakses museum ini adalah melalui Pasar Lama Tangerang yang rupanya sekarang telah menjadi salah satu pusat kuliner baru. Di pintu gerbang masuk tertulis “Kawasan Kuliner Pasar Lama”. Tak jauh dari pintu gerbang itu, carilah sebuah gang kecil yang menuju kelenteng Boen Tek Bio. Dari kelenteng belok kanan ke sebuah gang kecil lagi, dan di sanalah lokasi Museum Benteng Heritage (MBH) yang merupakan sebuah rumah lama yang beralih fungsi menjadi museum.

Museum ini dikelola oleh swasta dan didirikan oleh Udaya Halim. Tiket masuk Rp 30,000 sudah termasuk penjelasan dari seorang guide. Beberapa bagian dari rumah lama yang didirikan pada tahun 1700-an itu masih dipertahankan, seperti lantai dari terra kota, dinding batu, serta kayu ulin yang menjadi penyangga. Beberapa lukisan yang dibuat berdasarkan foto dari masa lalu membawa kita ke jalan-jalan di sekitar Pasar Lama Tangerang pada masa penjajahan Belanda. Koleksi-koleksi museum yang disertai penjelasan dari guide juga membawa kita travelling ke abad 15 ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, dan katanya menuju Palembang, dan melewati Tangerang. Kita juga akan belajar mengapa orang-orang Tionghoa di Tangerang sering juga disebut Cina Benteng. Koleksi-koleksi museum seperti timbangan-timbangan, radio, meja belajar lama, patung-patung dewa Tionghoa, dan sebagainya.



Setidaknya ada tiga hal yang paling menarik buat saya pribadi, yaitu:

1.     Pintu rumah orang Tionghoa pada zaman dulu, yang terbuat dari kayu, dan hanya bisa dikunci dari dalam. Pada waktu itu belum ditemukan kunci dari luar, sehingga rumah tidak boleh kosong. Setidaknya harus ada satu orang yang jaga rumah untuk membukakan pintu dari dalam. Mereka juga membuat kunci dari kayu dengan menambahkan unsur rahasia sehingga hanya orang yang tahu rahasianya yang dapat membuka pintu tersebut. Sayangnya di dalam museum kita tidak diperbolehkan mengambil foto, sehingga saya tidak bisa menampilkan foto pintu yang saya maksud. Guide mengunci pintu dengan kedua palang, dan menyuruh para audience mencoba membukanya. Dan ternyata tidak ada yang bisa membuka pintu itu. Rupanya ada rahasia tertentu… ada suatu tombol di dalam yang (seharusnya) hanya diketahui oleh pemilik rumah. Teknologi yang sederhana namun cukup canggih untuk masa itu.

2.     Masih seputar teknologi. Saya cukup terpesona melihat sebuah box kecil dari kayu yang dipahat dengan rapi, yang ditempatkan di sisi sebuah ranjang pengantin di dalam museum. Apakah box ini? Tidak ada yang bisa menebak. Terlihat seperti kotak harta atau untuk menyimpan sesuatu yang berharga. Di bawah kotak tersebut juga dipasangkan roda, yang membuatnya mudah dipindahkan atau digerakkan. Ternyata box itu adalah sebuah toilet portable. Pada zaman dulu, orang Tionghoa tidak boleh membuat toilet di dalam rumah. Karena itu mereka membuat toilet portable ini agar tidak repot bila harus buang air di malam hari. Ketika dibuka, di dalam box itu terdapat bentuk dudukan toilet (yang dibawahnya diletakkan sebuah pispot) serta di sisinya terdapat lubang-lubang untuk menaroh botol air. Sebuah design yang sederhana tetapi menurut saya ini adalah sebuah teknologi yang memudahkan kehidupan manusia.

3.     Saya juga baru tahu bahwa di setiap kelenteng selalu ada dua patung singa di depannya. Yang satu adalah jantan, dan satunya betina. Nah bagaimana membedakannya? Perhatikan pada kakinya. Di bawah kaki singa yang jantan, terdapat bola dunia. Artinya tugas laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarga. Di bawah kaki singa yang betina, terdapat seekor singa kecil. Artinya tugas perempuan adalah mengasuh anak. Nah menarik bukan?

Masih banyak hal menarik lainnya yang dapat ditemukan dengan mengunjungi Museum Benteng Heritage ini. Tidak disangka-sangka, di dalam sebuah pasar terdapat sebuah museum, yang dikelola dengan cukup professional. Setelah mengunjungi museum, kita dapat menikmati kulineran di Pasar Lama, serta membeli oleh-oleh kecap yang terkenal di Tangerang, yaitu kecap SH yang merupakan salah satu kecap tertua di Tangerang (sejak 1920). Ini bisa menjadi sebuah paket pengalaman wisata yang menarik.