Google+ Followers

Thursday, August 27, 2015

Kereta TransSiberia Ulan Ude-Moscow


“Russia, with its fields, steppes, villages, and towns, bleached lime-white by the sun, flew past them wrapped in hot clouds of dust.”

Kutipan di atas saya ambil dari Dr Zhivago, Boris Pasternak, pada bagian yang mengisahkan perjalanan dengan kereta Trans Siberia. Kereta dari Moscow ke Vladivostok yang total menghabiskan waktu 8 hari ini memang historis bagi bangsa Rusia. Railway dibangun sejak tahun 1905, tidak ada yang ingat kehidupan sebelum ada kereta ini. Jalur kereta yang ceritanya dibangun dengan sangat costly ini telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Rusia.

Karena itulah taking train adalah sesuatu yang harus dicoba dalam perjalanan Anda ke Rusia. Jaringan railway di sini cukup mengagumkan, dengan daratan yang begitu luas, kita bisa naik kereta selama berhari-hari. Di negara kita mungkin paling lama semalaman, tidak sampai 24 jam. Kami mengambil rute dari Ulan Ude ke Moscow, yang total memakan waktu 4 hari. Untuk menghitung jumlah jam-nya saya agak bingung, karena ada perbedaan waktu. Dan pecahlah rekor baru bagi saya, yaitu naik kereta yang paling lama.

Dengan total jarak 5488 km, kereta Trans Siberia nomor 81 berangkat dari Ulan Ude dan berakhir di Moscow. Rute ini melewati danau Baikal, kota-kota penting seperti Irkutsk, Novosibirsk, Krasnoyarks, Omsk, Ekaterinsburg, dan sungai Volga yang merupakan sungai terpanjang di Eropa. Kereta ini juga melintasi dua benua, yaitu Eropa dan Asia. Di Ekaterinsburg terdapat sebuah tugu yang menjadi penanda batas benua Eropa dan Asia, tetapi kami tidak sempat melihat karena sedang malam/subuh pada saat kereta melintasi Ekaterinsburg.

Empat hari di kereta. Empat hari tanpa koneksi internet. Saya sendiri takjub bagaimana saya sebagai orang yang hidup di era internet yang serba cepat ini bisa “membuang” waktu 4 hari dalam perjalanan? Berbagai jurus anti bosan sudah dikeluarkan: baca, nonton, sampai selfie. Tidak ada colokan listrik di bangku/tempat tidur, jadi colokan di toilet jadi rebutan. Ada hikmahnya juga kami duduk di dekat toilet. “Gak ngapa-ngapain” selama 4 hari bagi orang “modern” seperti kita tentu sesuatu banget. Bagaimana kita melalui waktu, selain motret, baca, dan lain-lain di atas tadi? Waktu berjalan lambat, waktu adalah sesuatu yang relative, apalagi ini pakai acara ada perbedaan waktu pula, jadi agak confusing. Sebagai penumpang hingga tujuan terakhir, kita seperti anak di panti yang enggak diambil-ambil, satu per satu penumpang lain turun, serta ada penumpang baru yang naik, kita masih di situ-situ aja.

Saya suka analogi teman saya, kami merasa seperti anak di panti asuhan yang belum diambil-ambil juga.

Tetapi ada satu insight yang muncul di kepala saya waktu itu, yaitu bahwa we’re making progress. Perlahan tapi pasti, detik demi detik waktu berjalan seiring dengan kita semakin dekat pada tempat tujuan.

Satu per satu stasiun yang kami lewati, saya berusaha untuk mengabadikannya dalam foto. Dari hari ke hari saya mencatat apa yang bisa dicatat. Inilah yang bisa kubagikan pada kalian:

Diari seorang penumpang kereta Trans Siberia Ulan Ude-Moscow

12 Juni sore, tak lama setelah kereta berangkat dari Ulan Ude, kami melintasi danau Baikal. Banyak terlihat orang-orang berlibur di tepi danau, ada yang camping, mancing, dan bersepeda. Pemandangan dari jendela kereta ini terlihat seperti lukisan sebuah liburan di musim panas. Rumah-rumah pedesaan dari kayu yang cantik dengan kebun sayur di halamannya mempermanis pemandangan tersebut.
Pemandangan pedesaan Rusia

Sekitar pukul 01 malam kereta tiba di Irkutsk. Kami sudah tertidur pada saat itu, namun terbangun mendengar suara penumpang naik dan turun. Setiap kereta berhenti di stasiun toilet akan dikunci 30 menit sebelumnya hingga 30 menit setelahnya. Lama berhenti tergantung dari stasiunnya. Di stasiun besar seperti Irkutsk kereta berhenti lebih dari 30 menit.

Kami menempati gerbong yang tidak ada kompartemen, ini kelas tiga atau kelas dua, pokoknya yang paling murah. Di dalam gerbong ada sekitar 50-an bed. Di ujung satu terdapat satu samovar (teko besar berisi air panas, untuk membuat teh, kopi, atau pop mie) yang tak pernah kosong, dan kamar provodnista (satu gerbong satu provodnista, atau pramugari kereta). “Mbak” ini yang mengurusi semuanya. Setiap sore dia akan keluar untuk menyapu dan mengepel kereta. Setiap stasiun berhenti si mbak akan berdiri menyambut penumpang baru dan memeriksa data mereka, serta kemudian memastikan mereka duduk di tempat yang benar. Setiap penumpang yang baru naik akan diminta “membeli” paket berisi seprei dan sarung bantal seharga 127 rubel. Seprei dan sarung bantal ini dipasang sendiri oleh masing-masing penumpang, dan ketika turun penumpang juga membereskan sendiri serta menyerahkan kembali seprei dan sarung bantal kepada si mbak. Dengan demikian kebersihan kereta terjaga demikian pula kebersihan masing-masing tempat duduk penumpang. Penumpang juga bisa membeli teh, kopi, dan pop mie di kamar provodnista ini sewaktu-waktu ketika membutuhkan.

Jika di ujung satu ada samovar, di ujung lain setiap gerbong terdapat toilet dan tong sampah. Letaknya di ujung belakang gerbong, dekat tempat duduk paling belakang, nomor 30-an di mana kami berada. Di pagi hari saya suka duduk di kursi samping yang dekat jendela, kebetulan kursi ini kosong setelah bapak yang menempatinya telah turun di Irkutsk. Menikmati pemandangan setelah Irkutsk berupa padang-padang (steppe) dan pohon pinus. Membuat saya berpikir sepertinya kayu cukup memainkan peran penting dalam perekonomian Rusia.

Pukul 9-10 lalu lintas dekat toilet mulai padat. Banyak yang baru bangun dan hendak ke toilet untuk cuci muka, sikat gigi dan urusan lain. Setelah itu pada sibuk mengeluarkan bekal masing-masing. Ada juga yang bekalnya cukup mewah, roti dan daging, buah dan sayur, serta cangkir keramik dan taplak meja sehingga terlihat seperti piknik yang serius. Setelah beres makan masing-masing sibuk mengeluarkan jurus anti bosan, ada yang mengisi TTS, baca buku, bengong, bermain kartu, sibuk dengan handphone, dan ada juga yang kembali tidur.

Setiap siang provodnista akan menyapu dan mengepel lantai kereta
Gerbong yang sangat panjang seolah tak habis-habis

Pukul 12 mbak provodnista keluar menyapu dan kemudian mengepel lantai kereta. Sekitar pukul 15 kereta behenti sekitar 15 menit di sebuah stasiun yang saya lupa namanya. Pemberhentian seperti ini akan ada setiap hari, kesempatan bagi penumpang untuk nyetok makanan seperti pop mie, minuman kalengan, roti, dll. Ada juga penjual makanan-makanan lokal seperti ayam, kentang, dan roti. Saya juga sempat ke gerbong restorasi yang jaraknya cukup jauh dari gerbong kami, melewati lebih dari 5 gerbong. Terasa jauh karena gerbong-gerbong yang kami lalui sangat padat penumpangnya, serta ruang antara satu gerbong dengan gerbong yang lain gelap serta pintunya agak keras. Mungkin karena itu tidak banyak yang jalan-jalan lintas gerbong maupun ke gerbong restorasi. Ketika makan di restorasi kami hanya sendiri. Menunya pun tidak banyak, semuanya dengan bahasa Rusia, petugas pun tidak bisa Bahasa Inggris, akhirnya kami menggunakan bahasa gambar untuk melukiskan yang kami mau. Karena jarang yang mengunjungi restorasi, pelayan restorasi akan berkeliling dengan dagangannya ke setiap gerbong dua kali dalam sehari.

Pukul 19 kereta tiba di Krasnoyarks. Salah seorang teman kami turun di sini, karena dia hendak melanjutkan trip ke Mount Elbrus dan tidak tahan kelamaan di kereta. Tinggallah kami bertiga di dalam sisa perjalanan yang masih panjang. Seorang teman kecil kami juga turun di sini. Seorang anak Rusia bernama Jiman yang jadi “mainan” kami menghabiskan waktu di kereta. Dia bocah yang lucu dengan mata bulat berwarna biru, yang menyukai biscuit pretzel dan tidak menyukai kacang. Jiman bepergian dengan neneknya yang pendiam dan tampak tak berminat bertegur sapa dengan orang-orang asing yang tak mengerti bahasa mereka. Malam itu kami ngobrol-ngobrol sebelum tidur, dan tak terasa satu hari pun telah berlalu di kereta.

14 Juni, jam 8 pagi, saya terbangun karena kereta berhenti. Ternyata kami telah tiba di Novosibirsk, kota terbesar di Siberia, dan merupakan kota ketiga terbesar Rusia setelah Moscow dan St Petersburg. Di sini berhenti sekitar 30 menit, lumayan bisa keluar foto-foto di stasiunnya saja. Suhu di sini 16 derajat Celcius, terbaca dari papan digital yang memberikan informasi suhu. Dari Novosibirsk ke Moscow masih 3000-an km jaraknya. Ketika melewati stasiun-stasiun kecil mulai ada stasiun yang diberi nama jarak dari Moscow, misalnya ada stasiun bernama 3307 km.

Pukul 17 kereta tiba di Omsk, ini juga salah satu kota yang cukup penting di Siberia. Ibu-ibu yang duduk di sebelah kami turun di sini. Dia seorang ibu-ibu yang bepergian sendiri, dari Ulan Ude ke Omsk. Orangnya ramah dan sangat rapih, terlihat dari caranya menyusun tempat tidur dan ketika makan. Dia tidak banyak berbicara, kebanyakan terlihat bengong memandang pemandangan dari jendela, sehingga teman kami merasa tergerak untuk menghibur kesepiannya dan mengajak berkomunikasi seadanya.

Di Omsk ini banyak penumpang baru yang naik, sehingga kereta menjadi penuh. Termasuk dua orang cewek cantik yang duduk di tempat yang ditinggalkan si ibu-ibu tadi. Yang satu di bed bawah, yang satu di atas. Keduanya berambut panjang dan tinggi semampai, ditambah mengenakan high heels. Dandanan juga serius, beda dengan penumpang-penumpang lain. Membuat kami berpikir jangan-jangan mereka salah gerbong, cantik dan wangi begini mengapa tidak naik yang kompartemen? Kami pun membuat teori tentang siapa mereka, misalnya lagi mau ikutan casting, dll, maklumlah orang-orang kurang kerjaan. Dan mumpung tak ada yang mengerti bahasa kita, kesempatan buat mengomentari orang-orang.

Pukul 00:20, jam di HP saya, kereta tiba di Tiomeh. Kedua cewek cantik turun di sini, ternyata perjalanan mereka sangat singkat. Waktu itu langit belum gelap-gelap juga, ternyata jam lokal baru 22:20. Dimulailah perbedaan waktu yang mulai terasa. Walaupun seharusnya sudah saatnya tidur, tetapi langit tak kunjung gelap, sehingga kami sulit tidur. Jam di HP saya ubah ke waktu Tiomeh.

Para pedagang yang menjajakan makanan dll kepada penumpang kereta pada stasiun pemberhentian

15 Juni pukul 08.30 kereta berhenti di stasiun Krasnofimsk. Sepertinya kami baru saja lewat pegunungan karena banyak masuk terowongan dan pemandangannya bagus, seperti bukit-bukit di Swiss. Ketika saya cek di daftar pemberhentian kereta yang tertempel di pintu kamar provodnista, ternyata kami telah melewati Ekaterinsburg pada waktu subuh tadi, atau pukul 00:49 waktu Moscow. Tak heran semua informasi waktu dalam perkeretaapian di sini menggunakan waktu Moscow, daripada ribet. Saya pun harus mengubah jam di HP saya menjadi waktu Moscow. Setelah pemberhentian di Krasnofimk ini mulai terasa kereta jalannya ngebut, sehingga sulit untuk membaca.

Pada saat ini kami sudah merasa sangat bosan dan bersyukur besok kami akan tiba di Moscow. Rasa kangen tak tertahankan pada kamar mandi dan koneksi internet. Saya mulai bermimpi yang aneh mungkin karena rasa cemas karena kehilanggan koneksi dengan dunia. Kalau lama tidak terkonek saya kadang merasa cemas berlebihan seolah ingin memastikan semuanya baik-baik saja.

Sore itu sekitar pukul 16 naiklah segerombolan laki-laki yang terlihat seperti baru selesai latihan sepak bola. Mereka naik dari sebuah stasiun yang cukup besar dan modern yang ternyata adalah Kazan. Begitu duduk di tempat masing-masing mereka pun langsung membuka baju dan hanya mengenakan celana pendek. Setelah itu mereka masing-masing mengeluarkan makanan dari tas bekal mereka. Teritori kami pun terinvasi oleh sekitar 12 orang laki-laki bertubuh besar yang berkeringat seperti sehabis berolahraga, dan kereta pun terasa pengap.

Mereka tampak seperti atlet sepakbola atau buruh pabrik yang baru selesai bekerja. Karena kami berada di dekat mereka, mereka pun mencoba berkomunikasi. Dengan bahasa Inggris seadanya kami kemudian mengetahui nama-nama mereka, seperti: Victor, Dmitri, Sasha, dan Timur. Hampir semua terlihat ramah dan mencoba berkenalan dengan kami, tetapi tak lama kemudian ternyata mereka mengeluarkan vodka dan mulai minum. Padahal hal itu dilarang di kereta dan berkali-kali telah diperingatkan oleh petugas kereta. Kami pun kemudian menjaga jarak. Ternyata mereka adalah para pekerja offshore mining yang ditugaskan ke Moscow.

Keesokan paginya kami tiba di Moscow pukul 04.42 sesuai dengan jadwal. Pagi hari cowok-cowok ini telah sober dan lebih behave daripada semalam. Semalam ada yang minum vodka banyak sekali hingga mabuk dan muntah. Syukurlah tidak ada kejadian yang parah atau merugikan padahal penumpang-penumpang kereta yang lain tampak mulai was-was memperhatikan rombongan ini. Biar bagaimana pun kehadiran mereka telah menambah cerita dalam perjalanan panjang kami dari Ulan Ude menuju Moscow.

Baca juga: 



Tuesday, August 25, 2015

Penting: Registrasi Visa Selama di Rusia


Setiap pengunjung ke Rusia harus mendaftarkan visanya dalam waktu 7 hari kerja setelah kedatangannya. Sebelum tahun 2011 lebih parah, yaitu dalam waktu 72 jam. Waktu kami baca soal ini tentu saja kaget, dan merasa itu merepotkan banget. Apalagi setiap kali registrasi itu berarti ada biayanya.

Tak perlu khawatir, karena hostel tempat kita menginap dapat membantu melakukan registrasi ini. Cukup menyerahkan paspor dan membayar. Fee yang diterapkan masing-masing hostel atau hotel mungkin berbeda. Kami membayar kalau gak salah 250 rubel (di Nikita Homestead). Di hostel lain mostly kami hanya satu malam, jadi tidak perlu mendaftar. Selain itu kami banyak menginap dalam perjalanan, alias tidur di kereta. Apalagi Trans Siberia dari Ulan Ude ke Moscow saja sudah empat hari. Nah, apabila demikian, sebaiknya semua tiket perjalanan disimpan untuk membuktikan perjalanan kita tersebut, kalau-kalau diperiksa.

Karena perubahan aturan baru pada tahun 2011, masih ada petugas yang belum familiar, karena itu dinasihatkan agar kita mendaftar dalam waktu 72 jam setelah kedatangan. Karena pendaftaran ini adalah tanggung jawab tempat akomodasi kita, mereka pastinya akan membantu, karena bila kita tidak mendaftar, mereka juga akan mendapat kesulitan.

Bagaimana kalau kita tidak mendaftar? Kita bisa dikenakan denda karena melanggar aturan, sehingga akan mengurangi peluang kita untuk mendapatkan visa Rusia di kemudian hari.

Dalam perjalanan kami selama total 15 hari kami hanya mendaftar sekali. Dan untunglah kami tidak pernah bertemu petugas yang memeriksa.


bukti sudah registrasi visa, halaman belakang. Halaman depan nama dan nomor paspor


 Baca juga:



Thursday, August 20, 2015

Taste of Asia di Ulan Ude

Pemandangan Ulan Ude dari Rinpoche Bagsha Datsan

Ulan Ude adalah kota yang menarik. Selain Irkutsk, kota ini juga merupakan salah satu pemberhentian Trans Siberia yang populer di daerah Baikal. Merupakan ibu kota wilayah Buryatia, Ulan Ude adalah pusat industri dan komersial yang penting di Siberia Timur. Kedekatannya dengan Mongolia memberi kota ini nuansa yang sangat Asia, serta sebagian besar penduduknya adalah suku Buryat. Di kota ini juga mudah ditemukan tempat beribadah agama Budha Tibetan.

Pagi tanggal 12 juni 2015 di Ulan Ude Traveler House, kami mendengar lagu-lagu seperti lagu perjuangan bernuansa komunis yang seolah mengingatkan kami sedang berada di Rusia. Hostel kami memang dekat dengan alun-alun yang ada patung kepala Lenin itu. Rupanya di sana sedang ada acara, dan lagu-lagunya terdengar dari kamar kami. Kami baru tahu kemudian bahwa hari itu adalah hari libur nasional.

Kami pun buru-buru bersiap-siap untuk pergi ke alun-alun itu. Di sana sedang ada acara semacam pemberian penghargaan dan banyak yang mengenakan pakaian tradisional. Kesempatan yang baik untuk foto-foto. Tak jauh dari alun-alun itu ada pedestrian street yang mirip Arbat street di Moscow di mana terdapat banyak café, pertokoan, maupun seniman jalanan. Dari sini juga cukup convenient untuk naik bis ke tempat-tempat wisata seperti Rinpoche Bagsha Datsan dan Etnographic Museum. Untuk makan dan berbelanja pun sangat convenient, inilah yang menjadikan kota ini menyenangkan, selain penduduknya ramah serta tidak sulit mendapatkan makanan Asia seperti nasi.

Di Ulan Ude jangan lupa mencoba makanan khas di sini, namanya Buza. Semacam dumpling, tetapi ukurannya lebih besar dari rata-rata xiao long bao, isinya lebih banyak serta kulit pembungkusnya lebih tebal. Rasanya, bagi saya, tidak seenak xiao long bao, tetapi cukup menghibur daripada makan roti terus.

Acara di Alun-Alun Lenin Head

Melanjutkan cerita sebelumnya, sesuai dengan rencana, dari Irkutsk kami naik kereta ke Ulan Ude. Kereta ini juga sudah dibeli sebelumnya dan berangkat pada malam hari. Sepertinya tidur di kereta sudah menjadi hal yang biasa bagi kami, walaupun kereta Irkutsk-Ulan Ude ini berbeda dengan yang lain, karena tidak ada bed, tetapi hanya tempat duduk biasa (kami memilih kelas yang paling murah, yaitu sitting). Untung bisa tidur juga, dan saya bersyukur sejauh ini semua berjalan sesuai dengan rencana.

Tempat wisata yang saya kunjungi adalah kedua yang saya sebutkan di atas. Tidak terlalu istimewa sih, di Rinpoche (yang merupakan temple Tibetan Buddhism) kita bisa melihat view panorama kota Ulan Ude dari atas. Di Etnographic Museum ada gereja Kristen orthodox tua yang unik. Letak keduanya tidak jauh dari pusat kota, dari alun-alun Lenin tinggal naik bus nomor 97 ke Rinpoche, dan nomor 37 untuk ke Etnographic Museum. Saya paling enjoy jalan-jalan di Arbat Street itu, sambil mencari jajanan. Tak jauh dari sini (within walking distance) jangan lupa mengunjungi Odigitrievsky Cathedral, gereja Kristen Ortodhox yang bersejarah dan juga masih digunakan sebagai tempat beribadah. Di sekitar gereja ini banyak rumah-rumah tradisional tua yang terbuat dari kayu.

Di hostel kami berkenalan dengan beberapa pejalan lain, ada yang dari Korea, Perancis, Italia, dan Hong Kong. Banyak yang singgah di Ulan Ude, untuk kemudian masuk ke Mongolia (orang Korea bebas visa ke Mongolia). Bagi kami, Ulan Ude adalah titik terjauh yang kami capai dari Moscow dalam rangkaian Trans Siberia. Setelah ini, saatnya naik kereta empat hari dari Ulan-Ude ke Moscow yang akan menjadi pengalaman once in a lifetime journey with Trans Siberia.

Kami diantar ke stasiun kereta oleh taksi Yandex (semacam Uber), seorang opa-opa dengan Toyota Corolla. Setelah menurunkan koper-koper kami sang opa melambaikan tangan melepas kepergian kami. Rasanya seperti diantar ke stasiun oleh opa sendiri.

Baca juga:






Tuesday, August 18, 2015

Intermezzo: Privet, Spasiba, Some Useful Phrases


Sebelum berkunjung ke Rusia, pelajarilah satu dua kata atau frase yang mungkin berguna dalam perjalanan. Saya mendownload aplikasi Learn Russian Phrasebook di Ipad saya. Aplikasi ini bisa digunakan secara offline, dan ternyata sangat berguna dalam membuka percakapan kami dengan orang-orang Rusia yang kami temui.

Berikut ini saya berikan hasil scan some useful phrases yang saya ambil dari guidebook, kata-kata seperti “Hello, terima kasih, selamat pagi, saya tidak mengerti,” bisa cukup berguna. Sebaiknya juga mengakrabkan diri dengan huruf Rusia, serta mempersiapkan beberapa kata-kata bahasa Rusia yang mungkin berguna, seperti nasi, ikan, ayam, daging sapi, dan lain-lain. Anda akan terkejut dengan keramahan orang Rusia J


Baca juga:




Thursday, August 13, 2015

Irkutsk, Lake Baikal, Khuzir


Danau Baikal adalah danau dengan volume air tawar terbesar di dunia dan juga sekaligus paling dalam. Disebut “Pearl of Siberia” danau yang terletak di antara wilayah Irkutsk Oblast dengan Buryat Republik, termasuk danau paling jernih dan paling tua di dunia. Usianya mencapai 25 juta tahun. Kota terdekat untuk mengunjungi danau Baikal yang menjadi salah satu pemberhentian Trans Siberia yang paling populer adalah Irkutsk. Dulu saya pernah menonton acara adventure di televisi dimana seseorang naik kereta Trans Siberia dari Moscow ke Irkutsk (kereta Trans Siberia jurusan Moscow-Vladivostok). Dari Irkutsk ia melanjutkan perjalanan dengan mobil four wheel drive ke danau Baikal. Pemandangan pegunungan dengan landscape yang luas terlihat sepi dan bernuansa adventurous. Waktu itu saya tidak menyangka bahwa suatu hari saya akan sampai juga ke Irkutsk dan danau Baikal. Sama halnya saya tidak mengira bahwa tempat ini sudah menjadi demikian touristic, sehingga nuansa adventour agak berkurang.

Danau Baikal dikelilingi oleh pegunungan. Ada juga pulau-pulau di dalam dan di sekitarnya, pulau terbesar adalah pulau Olkhon. Sepanjang 72 km, pulau Olkhon adalah pulau di dalam danau yang ketiga terbesar di dunia. Dengan keunikan dan keragaman landscape-nya, pulau ini menjadi tempat yang harus dikunjungi di Danau Baikal. Desa terbesar di pulau ini adalah Khuzir, dimana kami menginap dua malam di penginapan paling terkenal di sana, yaitu Nikita Homestead.

Melanjutkan cerita sebelumnya, dari St Petersburg perjalanan dilanjutkan dengan pesawat S7 ke Irkutsk. Penerbangan ini dilakukan pada malam hari, dan tiba besok paginya di Irkutsk, dengan transit di Moscow. Penerbangan St Petersburg ke Moscow hanya satu jam, dan tidak ada perbedaan waktu di antara keduanya. Kami tiba di bandara Irkutsk pukul 09.30. Perbedaan waktu Irkutsk dan Moscow/St Petersburg adalah 5 jam (lebih maju).

Bandara Irkutsk cukup sederhana, hanya ada beberapa ruang conveyor belt untuk pengambilan bagasi yang hanya dibuka ketika pesawat tiba dan ada petugas yang menjaga. Terdapat pusat informasi di sini, yang menjadi tempat pertama kami setelah selesai mengambil bagasi. Petugas informasi di sini tidak bisa bahasa Inggris, tetapi sangat ingin membantu. Ia mengeluarkan handphone-nya dan meminta kami mengetik di Google Translate. Dari sini kami mengetahui informasi bagaimana mencapai Khuzir.

Kami naik angkot nomor 20 dari bandara ke pusat kota, yang ternyata tidak jauh. Tarif naik angkot ini sebenarnya 12 rubel, tapi kami di-charge 50, karena membawa koper. Tak apalah daripada tidak diterima naik angkot, seperti angkot sebelumnya yang menolak kami.



Kami diturunkan di suatu tempat dimana kami masih harus berjalan kaki untuk mencapai stasiun bis. Sepanjang perjalanan ini kami melihat banyak rumah tradisional dari kayu dengan jendela yang cantik-cantik. Ketika diturunkan dari angkot nomor 20, kami agak bingung. Untunglah ada seorang pemuda (yang kemudian kami tahu bernama Roma) yang mengantar kami hingga ke stasiun bis. Bahasa Inggris dia juga terbatas, namun sudah cukup untuk menjadi penerjemah kami. Ia yang membantu kami membeli tiket minivan sampai Khuzir, dan juga ia memastikan kami naik ke minivan tersebut sebelum meninggalkan kami. Sungguh kami beruntung, karena selain menerima pertolongan di saat membutuhkan, juga minivan akan berangkat segera, kalau tidak salah waktu itu pukul 11 siang.

“Minivan Lokal” vs “Minivan Turis”

Perjalanan ke Khuzir memakan waktu 5-6 jam (sudah termasuk penyeberangan ke pulau Olkhon dengan ferry). Sepanjang perjalanan pemandangannya perbukitan yang tandus dan terlihat seperti kering/gersang. Kami baru tahu kemudian bahwa minivan yang kami tumpangi ini adalah angkutan penduduk lokal, maksudnya bukan yang biasanya digunakan turis. Pantas saja tarifnya murah, 475 (yang turis 800). Saya sempat khawatir jangan-jangan ini tidak sampai Khuzir (mengingat kendala bahasa serta tiketnya pun semua menggunakan bahasa Rusia). Tapi untunglah ternyata angkutan ini memang benar mengantar kami hingga desa Khuzir. Kami dimintai tambahan 125 untuk koper kami (karena ini bukan angkutan turis tadi), karena itu kami negosiasi untuk diantar hingga ke Nikita dengan tambahan tersebut. Pada saat pulang ke Irkutsk kami memesan minivan dari hostel dengan tarif 800. Minivan ini ternyata tempat duduknya lebih lega, tidak ada charge tambahan untuk koper, dan juga melewati rute yang berbeda dibanding “minivan lokal”.

Pada “minivan lokal” kami berhenti di sebuah “rest area” yang sangat eksotis dengan pemandangan pedesaan yang indah mirip New Zealand. “Warung” nya pun eksotis, rumahnya dari kayu dan menjual roti-roti daging serta minuman. Namun, toiletnya berada di luar rumah, dari kayu juga, dan… sangat horror. Toilet seadanya model begini juga saya temui nanti di pulau Olkhon, yang hanya terdiri dari sebuah lubang tempat pembuangan macam-macam barang. Tak ada flush, tak ada air, dan perlengkapan lainnya, sehingga di atas lubang itu masih berserakan benda-benda yang tak sedap dipandang mata. Sebaiknya siapkan peralatan penutup hidung daripada tidak pipis sepanjang 5-6 jam.

Perjalanan pulang ke Irkutsk dengan “minivan turis” melewati rute yang lain. Sepertinya rute ini lebih panjang dan melewati jalan-jalan yang lebih bagus (lebih perkotaan). Saya menduga “minivan lokal” kami itu mengambil jalan pintas, entahlah. Karena itu “rest area” dengan “minivan turis” juga lebih baik. Sebuah restoran dengan toilet yang decent. Jangan khawatir karena ternyata kami tidak perlu lagi menghadapi toilet horror di sepanjang perjalanan kami berikutnya.

Di resto inilah kami berkesempatan mencoba sop Rusia, yaitu Borscht atau Solyanka. Kedua soup ini sepertinya memang soup yang common, yang disediakan di resto-resto Rusia, yang dimakan bersama dengan roti. Kami pun melakukan hal yang sama, mencoba mengikuti apa yang dilakukan orang lokal. Saya lebih suka Borscht yang lebih segar dengan rasa asam, solyanka lebih creamy, namun saya sarankan untuk mencoba keduanya, karena resep kedua soup ini bisa bermacam-macam, sehingga resto yang berbeda mungkin akan memberikan rasa soup yang berbeda.



Nikita Homestead dan One Day Excursion pulau Olkhon
Nikita Guesthouse adalah penginapan pertama di desa Khuzir. Tak heran lokasinya amatlah bagus, di belakang Nikita ini mungkin salah satu tempat melihat view danau Baikal yang terbaik. Saya membayangkan mungkin dulu ketika Nikita baru membuka guesthouse ini, tempat ini begitu sepi dan misterius. Suasana mystical danau Baikal dengan segala keheningannya masih bisa terasa hingga di guesthouse. Tapi hari ini, guesthouse ini sangat ramai, kamarnya demikian banyak, begitu pula tamunya.

Saya membaca bahwa guesthouse ini selalu fully booked, karena itu kami merasa beruntung mendapat kamar di sini. Ketika tiba, kami diberitahu oleh petugasnya bahwa belum pernah ada orang Indonesia yang menginap di sini. Wow.. ah masa sih.. Berarti penulis blog yang saya baca tersebut tidak mendapat kamar di sini, tetapi mungkin dia hanya melihat dari luarnya saja, atau membaca tentangnya. Tidak seperti yang saya bayangkan, karena tempat ini cukup ramai. Kami berbarengan dengan rombongan dari Korea dan Cina. Pada makan malam hari pertama kami belum tahu bahwa kami sebaiknya datang early ke ruang makan, karena ternyata pada saat kami datang makan, banyak makanan telah habis. Soup berwarna merah (mungkin borscht) habis. Ikan omul yang menjadi juara di danau Baikal, habis juga. Kecewa sekali rasanya karena makanan enak merupakan satu hal yang sering ditulis orang tentang Nikita. Beruntung saya sempat menyapa bos Nikita pada sore tadi, sehingga ketika menyampaikan kekecewaan saya, sang pemilik Nikita ini langsung memerintahkan stafnya untuk menggorengkan ikan lagi buat kami. Walaupun ikannya seadanya, hanya digoreng buru-buru, tapi lumayanlah daripada tidak ada. Sejak itu kami selalu datang early di ruang makan, tidak ingin kehabisan lagi.

Di Nikita ini tarif menginap 1300 per person per malam, sudah termasuk makan pagi dan malam. Sepanjang hari disediakan kopi dan teh gratis. Makan malam biasanya ada salad, dan saladnya enak banget. Makan pagi yang kami temui seperti pancake, telur, dan.. di sinilah pertama kali berkenalan dengan bubur dengan susu kental manis. Pasalnya, salah seorang teman kami me-request “rice” karena sudah lama tidak makan nasi. Ternyata yang disebut “rice” atau pronounced “riz” dalam bahasa Rusia, ya itu: bubur dengan susu kental manis. Pada saat lain ketika kami hendak memesan nasi, kami tidak mengatakan “riz” karena kalau kita bilang riz keluarnya ya si bubur itu. Untunglah saya pernah memotret nasi beneran dan foto itulah yang biasanya kami jadikan alat untuk mengkomunikasikan maksud kami untuk memesan nasi.

Nikita, demikian pula penginapan lain, dapat membantu memesankan one day excursion, atau tour Pulau Olkhon (biaya 800 sudah termasuk lunch, tapi belum termasuk tiket masuk taman nasional 60). Dengan mobil semacam jeep buatan Rusia yang tangguh melewati jalan berpasir di pulau Olkhon, kita dapat menikmati view danau Baikal dari berbagai penjuru pulau Olkhon. Landscape-nya cukup beragam, vegetasinya khas, dan udara dingin walaupun matahari bersinar terik di atas. Yang paling mantap buat saya adalah makan siangnya. Makan siang ini dipersiapkan oleh Sergey, sopir jeep kami dengan peralatan seadanya seperti sedang camping. Siang itu Sergey memasak soup ikan. Kami menyantap soup itu bersama roti berwarna coklat yang dilapisi bongkahan keju yang cukup besar. Luar biasa lezat, sambil memandang danau Baikal yang biru dan tenang, sesekali sekawanan burung camar lewat di depan pondok tempat kami makan.

banyak yang meninggalkan kertas doa dan uang receh persembahan di sini.

      
Sore itu setelah excursion (selesai pukul 17.00), saya berjalan-jalan sendiri di “main street” desa Khuzir. Desa tak beraspal ini baru dialiri listrik tahun 2004, tapi saat ini terlihat cukup banyak penginapan, toko, café, dan supermarket. Sekitar 1500 penduduk mendiami rumah-rumah dari kayu di desa ini. Saya bertanya-tanya apa pekerjaan mereka sehari-hari di tempat yang jauh dan dingin ini.

Baca juga: 

Tuesday, August 11, 2015

Cantiknya St Petersburg

The breath taking Church of Savior on Blood

6 Juni 2015, pukul 12.49. Matahari sangat terik di St Petersburg. Suhu di HP saya menunjukkan angka 16 derajat Celcius. Saya duduk di McD Nevsky Prospekt, salah satu jalan utama yang paling penting di St Petersburg. Boleh diumpamakan seperti Champ Ellyse di Paris, tempat banyak café dan pertokoan, serta orang-orang yang berjalan di trotoar.
Hostel kami sendiri berada di Nevsky Prospekt, tinggal jalan kaki ke beberapa objek wisata. Saya malah bisa kembali tidur siang (I mean at 17.00), setelah capek jalan kaki, lalu keluar lagi di malam hari.

Melanjutkan cerita sebelumnya, dari Moscow (Москва) kami naik kereta malam ke St Peterburg (Санкт Петербург). Di sinilah kami pertama kali berkenalan dengan Russian Railway, semacam PT KAI-nya Rusia, yang kemudian akan menjadi teman akrab kami dalam perjalanan ini. Semua tiket kereta sudah kami pesan sebelumnya, dan berbeda dengan yang saya baca di blog-blog orang, pemesanan tiket secara online ini sama sekali tidak ribet. Mungkin dulu sistemnya masih belum canggih sehingga kita harus melakukan registrasi di stasiun kereta, tetapi kini yang kami alami, sangat convenient dan efficient. Nama kita sudah dicatat berdasarkan gerbong, ketika kita datang tinggal menunjukkan paspor.

Gerbong paling murah (biasanya paling belakang) kalau gak salah kelas tiga, adalah gerbong tanpa kompartemen. Kami di gerbong 16, masih beruntung dapat tempat walau agak terpisah-pisah sedikit, karena sepertinya bulan Juni itu high season di sini. Ada sekitar 50an bed dalam satu gerbong yang disusun per empat bed yang saling berhadapan kemudian dua bed di pinggir aisle. Bed yang atas agak tinggi, untunglah saya bisa memanjat. Pertama kali kami terpesona, tapi lama-lama kami jadi sangat familiar dengan kereta seperti ini.

Kereta dari Moscow ke St Petersburg berangkat dari stasiun Leningradsky. Stasiun kereta ini bisa dicapai dari MRT Komsomolskaya, tinggal berjalan kaki. Di MRT Komsomolskaya ini ada tiga stasiun kereta, yaitu: Leningradsky, Yaroslavsky, dan Kazansky (nanti kita akan ke sini ketika naik kereta Trans Siberia). Website Russian Railway terkadang agak membingungkan, untunglah ada staf hostel kami yang sangat membantu dan informative dalam hal ini.

Tiba di St Peterburg di stasiun kereta Moskovsky. (alias Moscow. Di Moscow stasiunnya Leningradsky. Leningrad adalah nama lain St Petersburg). Dari stasiun ini tinggal berjalan kaki ke Nevsky Prospekt. Kami check in dulu, naruh barang, mandi, dll, sebelum meng-explore kota yang cantik ini.

Hermitage, Church of the Savior on Blood, Kazan Cathedral


Hermitage yang megah di sisi Sungai Neva
St Petersburg memang kota yang cantik. Suasananya berbeda dengan Moscow yang kerasa banget suasana metropolis, sementara di sini lebih terasa nuansa touristiknya. Mungkin karena kami lebih banyak menghabiskan waktu di Nevsky Prospekt dan sekitarnya. Di sini memang sangat dekat dengan sebagian besar objek wisata penting seperti Hermitage, Church of the Savior on Blood, Kazan Cathedral, St Isaac Cathedral, dan juga sungai Neva.

St Petersburg sering disebut “Venice of the East”, karena ternyata, bentuknya berkanal-kanal juga. Kalau dilihat di peta, sungai Neva membagi kota ini dan juga ada banyak sungai-sungai kecil lainnya. Tidak sebanyak Venice mungkin, tapi ada pulau-pulau yang cukup besar di Gulf of Finland, menjadikan kota ini unik secara geografis.

Pada musim panas, St Petersburg berpesta merayakan malam yang terang (White Night). Ada juga pertunjukan “opening bridge” di Sungai Neva pada pukul 01.30 midnight, dimana ada jembatan-jembatan yang membuka dan kita melihatnya dari kapal, atau melintasinya. Atraksi ini menjadi salah satu jualan pariwisata di sekitar sungai Neva. Kami beruntung datang ke sini pada saat malam minggu (atau jangan-jangan setiap malam begini?) karena sepertinya kota ini tak pernah tidur. Pukul 03.00 pagi masih banyak mobil lewat di Nevsky Prospekt dengan musik berdentum-dentum dari mobil mereka.

Benar-benar kota yang menyenangkan. Belum lagi objek-objek wisata yang tadi saya sebutkan, semuanya bagus-bagus. Breath taking. Worth visiting.

Berikut ini saya share beberapa biaya yang mungkin berguna bagi Anda yang sedang merencanakan perjalanan:
  •    Tiket masuk Hermitage: 600
  •      Tiket masuk Church of Savior on Blood: 250
  •       Boat Cruise: 900
  •      Naik bus: 28
  •      Hostel: 450
  •     Taksi ke airport: 600 (pake Yandex, semacam Uber)


Baca juga: 

Thursday, August 06, 2015

3 Hal Tentang Moscow


5 Juni 2015. Saya terbangun pukul 05.30 di bunk bed Moscow Home Hostel. Sepagi itu udah bangun, mungkin masih masa adaptasi, karena kalau di Jakarta itu sudah pukul 09.30. Pagi itu handphone saya menunjukkan suhu 8 derajat Celcius. Agak siangan sekitar pukul 8, suhu sudah naik menjadi 12 derajat Celcius.

Pada saat sarapan di dapur hostel kami berkenalan dengan Sergey dari Belarusia, Constantine dari Altai, dan Jafar dari Afganistan. Mereka bertiga berbahasa Rusia, dan tidak seperti traveler yang sering kami temui di backpacker hostel. Memang sejak tiba kami merasakan ada yang berbeda dengan hostel ini, dimana sepertinya yang menginap juga ada orang yang bekerja, tidak hanya traveler. Suasana pagi itu jadi seru dengan tiga laki-laki yang mencoba berkomunikasi dengan tiga perempuan tanpa bahasa pemersatu. Kami tidak bisa bahasa Rusia, mereka tidak bisa bahasa Inggris. Google Translate pun hadir membantu, selain bantuan Jafar dari Afganistan yang lebih fasih bahasa Inggris dibanding yang lain. Entahlah bagaimana ceritanya mereka bisa berada di Moscow, agaknya masalah bahasa membuat kami memilih topik yang lebih mudah saja, seperti destinasi wisata.

Kemarin, setelah mendarat dengan selamat di bandara Sheremetyevo, kami menumpang kereta cepat bandara Aeroexpress hingga ke pusat kota. Sesampai di kota, kami berjalan sedikit ke stasiun MRT Bellorusky, dari sana naik MRT menuju stasiun Park Kultury, untuk menuju ke hostel. Saya baru tahu di sini nama stasiun MRT adalah nama exit. Jadi satu stasiun yang sama bisa memiliki nama yang berbeda karena dinamai dengan nama pintu keluar (exit)-nya.

Inilah hal pertama tentang Moscow yang ingin saya ceritakan, yaitu tentang stasiun-stasiun MRT-nya. Selain perkara pintu exit tadi, MRT Moscow menurut saya sangat keren, karena mereka memiliki satu jalur yang melingkar/memutar (jalur coklat) yang tersambung dengan hampir semua jalur yang lain. Di tengah-tengah jalur coklat ini, atau sama dengan di tengah-tengah kota Moscow, terletak istana Kremlin.

Ini adalah hal kedua yang ingin saya ceritakan, yang menurut saya merupakan fakta yang unik tentang kota metropolitan ini. Red Square (Lapangan Merah) tempat museum Kremlin serta istana Kremlin ini berada persis di tengah-tengah kota. Pusat kekuasaan ini memang dibangun di sisi sungai Moskva, yang menjadi asal muasal nama kota Moskva (Moscow), dari sinilah kota dibangun selama bertahun-tahun, berabad-abad, hingga saat ini menjadi salah satu metropolitan paling padat dengan jumlah penduduk lebih dari 12 juta.

Mall mewah di dalam kompleks Kremlin Moscow

Kami telah mengunjungi Red Square pada hari pertama kami tiba. Perjalanan dengan Aeroexpress + MRT + jalan kali, tak terasa sudah pukul 19.00 ketika tiba di hostel. Kami mulai jalan sekitar pukul 20.00, untung hari masih terang. Kami menyusuri Arbat Street, sepanjang jalan banyak menanyakan arah kepada orang-orang. Kami berjalan kaki dari hostel hingga Red Square, lumayan bikin kaki gempor, tetapi sambil jalan sambil foto-foto, jadi tidak terasa.

Pada hari kedua, kami kembali lagi ke Kremlin, kali ini naik MRT. Kembali lagi ke hal pertama tadi, pengalaman naik MRT di Moscow memang sesuatu banget. Jangan sampai kamu tidak mencobanya. Nama-nama stasiun MRT dengan huruf Rusia, cukup membingungkan, jalur yang berbeda dengan warna yang berbeda di peta sehingga kita sebaiknya bertanya untuk memastikan kita tidak salah jalur atau salah arah. Beberapa stasiun MRT juga memukau dengan kemegahannya, tiang-tiang yang besar serta patung-patung perunggu.

Setelah puas dengan museum Kremlin, kami naik boat menyusuri Moskva River. Sore ini kami sudah harus bergegas ke stasiun kereta, untuk naik kereta malam menuju St. Peterburg. Cepat sekali ya harus berpindah kota, namun jangan khawatir, karena pada hari terakhir kami masih akan kembali ke Moscow, dan masih punya satu hari untuk menikmati keindahan kota ini.

Which bring us to hal ketiga yang ingin saya ceritakan di sini, yaitu Pasar Ismaylovo. Di hari terakhir (setelah naik kereta Trans Siberia selama 4 hari) kami memilih berbelanja di Pasar Ismaylovo yang menjadi pusat souvenir dan barang antik. Oleh-oleh Rusia yang paling populer, tentu saja adalah boneka Matrioska, boneka kayu yang digambar gadis cantik dengan ukuran kecil hingga besar. Ada yang berisi 5, 7, bahkan 12. Selain itu ada juga tempelan kulkas, kaos, dan lain-lain.

Sebenarnya di Arbat Street (ini jalan yang menarik dan wajib dikunjungi!) kita juga bisa membeli souvenir, tetapi di Ismaylovo mostly harga lebih murah dan bisa ditawar. Mereka juga ternyata sudah sangat familiar dengan pembeli dari Indonesia. Sebagian beragama Islam, dan ketika tahu kami dari Indonesia, pertanyaan mereka yang pertama adalah “Are you Moslem?”

Tulisan di sisi tanda panah itu bacanya: Kremlin Izmaylovo


Salah satu pedagang itu bernama Abdul Azis. Dia bisa menghitung dan tawar-menawar dalam bahasa Indonesia. Karena itu tawar-menawar pun rasanya lebih santai dan bisa sambil bercanda. Azis juga menjual boneka Matrioska bergambar presiden Jokowi dan presiden-presiden sebelumnya dalam boneka-boneka yang lebih kecil. Dia memberi alasan mengapa membuat boneka Jokowi, katanya semua orang Indonesia suka Jokowi, makanya mereka membuat bonekanya. Hmm, dalam hati kami berkata, iya, mungkin, pada waktu itu. Sekarang, entahlah.

Itulah a glimpse of Moscow, kota metropolitan yang sibuk tempat berjuta orang yang berbeda-beda mencari nafkah dan mengejar impian. Kota ini juga kaya dengan sejarah serta tempat-tempat wisata historis. Tempat-tempat yang kami kunjungi adalah Red Square, Museum Kremlin, Gereja Katedral Basil, Arbat Street, Moscow River Boat Cruise, dan pasar Ismaylovo.

Di bawah ini saya share biaya-biayanya, barangkali berguna untuk Anda yang sedang merencanakan perjalanan:

  •     Aeroexpress train dari bandara ke kota: 470
  •    Tiket MRT sekali jalan: 50
  •   Tiket masuk Kremlin: 500
  •     Tiket masuk gereja Basil: 350
  •      Boat Cruise Moskva River: 500
  •      Makan di Glow Sub (semacam Subway): 250
  •      Hostel: 490
Baca juga:






Tuesday, August 04, 2015

Penerbangan Jakarta-Moscow (via Bangkok) dengan Aeroflot

Photo Sources: Aeroflot Instagram

Jarak Jakarta ke Moscow sekitar 13,500 km, ini mungkin salah satu titik terjauh dari rumah yang pernah saya capai, entahlah. Ada banyak cara mencapai Moscow dari Jakarta, ada beberapa penerbangan yang tersedia, seperti Lufthansa, Qatar, dll. Saya beruntung bertemu dengan Aeroflot, flag carrier Rusia yang bahkan namanya baru pertama kali saya dengar waktu itu. Kenapa beruntung? Karena tarifnya waktu itu adalah yang paling murah dibanding yang lain. Cara saya menemukan penerbangan ini adalah dengan menggunakan Fare Compare, salah satu price comparison website yang ternyata cukup membantu.

Aeroflot sebenarnya tidak sampai Jakarta, karena itu kita harus transit dulu ke Bangkok. Penerbangan dari Jakarta ke Bangkok bekerjasama dengan Garuda, saya menganggap hal ini sebagai mendapat bonus, karena naik Garuda, dalam hampir segala hal, ternyata lebih baik dari Aeroflot.
Pengalaman naik Garuda ini kalau saya pikir-pikir, singkat kata, membuat saya rasanya kangen naik pesawat. Dan berpikir, sebisanya, kalau long haul, jangan naik budget flight deh. Kalau bisa.. :D

Penerbangan Jakarta-Bangkok hanya 3 jam. Kami berangkat sekitar pukul 18.00 dari Jakarta. Kami, sekali lagi, dapat bonus, satu malam di Bangkok. Karena penerbangan Bangkok ke Moscow baru keesokan harinya pukul 10.00, maka kami memutuskan untuk keluar jalan-jalan di ibukota Thailand itu. Ke mana lagi yang ada hiburan malam plus tempat tidur murah, kalau bukan ke Khaosan Road? Kami menumpang taksi berbentuk Toyota Inova garis-garis hijau dari airport ke daerah yang terkenal sebagai pusat backpacker itu. (tariff taksi 500 THB sudah termasuk tol)

Di Khaosan Road teringatlah nostalgia petualangan Bramp mui tahun 2007. Sejak delapan tahun yang lalu sudah ada orang-orang yang minum tequila dengan ember yang pastinya menarik perhatian pengunjung yang lewat. Bar-bar jalanan dengan DJ yang memainkan musik sambil orang-orang duduk dengan ember kecil di meja masing-masing. Kami mengira ember itu berisi bir, tapi ternyata itu adalah berbagai pilihan cocktail.

Kami tidak minum. Selain karena tidak punya cukup Bath, saya khawatir satu malam di Bangkok ini bisa berubah menjadi salah satu episode Hangover dan batallah seluruh perjalanan ke Rusia yang sudah direncanakan… :D Kami hanya makan pad thai yang rasanya tawar sambil menumpang mendengarkan music di warung yang menyediakan ember-ember cocktail itu.

Very Strong Cocktail inside the Bucket.. at Khaosan Road, Bangkok


A long day, literally

Keesokan paginya kami berangkat seawal mungkin karena kabarnya Bangkok cukup macet, dan sekitar pukul 07 kami telah tiba di bandara Svarnabhumi. Surprise… karena ternyata kami harus membayar airport tax di sini, karena tiket kami tidak termasuk airport tax bandara Bangkok. (airport tax 700 bath, salah satu teman terpaksa menukar uang).

Penerbangan Bangkok ke Moscow membutuhkan waktu 10 jam. Berangkat pukul 10.00 waktu Bangkok, kita akan tiba di Moscow pukul 16.00 waktu Moscow (karena perbedaan waktu). Sepanjang perjalanan matahari siang begitu silau, hampir semua penumpang menutup jendelanya. Ini adalah perjalanan sepanjang siang yang sangat panjang, dan begitu sampai di tempat tujuan pun tetap siang! (walaupun kita telah melewati 10 jam). Pukul 16 di Moscow sedang terik-teriknya karena mereka baru gelap pukul 21 atau 22. Jadi, benar-benar long day, literally.

Penerbangan pulangnya, untunglah, pada malam hari. Pukul 19.00 kami berangkat dari Moscow. Jadi sepanjang perjalanan bisa tidur saja, dan tak terasa keesokan harinya sudah tiba di Bangkok. Sarapan pun selalu datang tepat pada waktunya, ketika kita membuka mata. Penerbangan belasan jam ini tak menjadi masalah sama sekali, malah menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Baca juga: 



Thursday, July 30, 2015

Bawa Duit Apa Ke Rusia?



Penampakan salah satu money changer di kota Moscow


Menjawab pertanyaan dalam judul di atas: ya tentu saja bawa mata uang Rusia, yaitu Rubel. Tetapi kenapa perlu ditanyakan? Karena di Jakarta ini cukup sulit mendapatkan uang Rubel. (Saran saya, kalau bertemu Rubel di money changer, boleh dibeli dan dikumpulkan sedikit demi sedikit, apabila memang punya rencana untuk pergi ke Rusia). Di forum-forum traveler ternyata juga ada yang menanyakan, misalnya bawa US Dollar atau Euro? Hal ini apakah menandakan di negara-negara mereka juga tidak umum atau tidak mudah mendapatkan Rubel? Entahlah. Trip saya dilakukan pada bulan Juni 2015, dan saya yakin hal ini akan berubah dalam waktu beberapa tahun kemudian, karena akan semakin banyak orang yang bepergian ke Rusia, sehingga tidak akan terlalu sulit lagi menukar uang Rubel di Jakarta.

Mungkin juga ada faktor lain, seperti volatility Rubel saat ini. Atau memang faktor mudahnya menukar uang US Dollar atau Euro di Rusia, jadi banyak traveler di forum menyarankan bawa US Dollar (yang mungkin memang adalah mata uang mereka sendiri). Akhirnya memang itu yang saya lakukan. Walaupun kemudian hal ini jadi membuat segalanya membingungkan. Karena kita jadi kena dua kali kurs, Rupiah terhadap US Dollar, lalu US Dollar terhadap Rubel. Selain itu beberapa kali menukar uang, mendapat kurs yang berbeda. Karena itu, bila ditanya sesuatu itu harganya berapa dalam Rupiah, saya jadi agak bingung, karena kurs yang berbeda-beda. Karena itu biar tidak ribet di sana kita gunakan patokan 1 Rubel = 300 rupiah untuk harga barang-barang. Misalnya harga makan di McD sekitar 270 Rubel, maka kira-kira rupiahnya Rp 81,000 gitu.

Salah satu teman kami membeli Rubel di Jakarta seharga 290. Kami membeli US Dollar dengan harga 13,200. Lalu tuker di sana dapat beda-beda kurs. Di bandara 1 US Dollar hanya 39 Rubel. Di kota 51 koma sekian. Beberapa hari kemudian 52 koma sekian karena Rubel melemah. See what I mean? Karena itu, biar lebih mudah, dan yang terbaik memang kita siapkan Rubel sebelum berangkat.

Baca juga:

Rusia 2015. Pengalaman tak terlupakan

Persyaratan visa Rusia

Tuesday, July 28, 2015

Cuaca Rusia di Bulan Juni



Kazan Cathedral, St. Petersburg, pukul 21.00

Cuaca di tempat tujuan adalah suatu yang penting untuk diketahui sebelum berangkat. Hal ini karena cuaca akan menentukan pakaian dan perlengkapan yang akan kita bawa. Besar kemungkinan manusia-manusia yang hidup di era internet seperti Anda dan saya akan mencari di search engine dengan keyword “cuaca Rusia di bulan Juni” atau “Russia weather in June” or “Moscow weather” dll. Kita yang hidup di era ini sangatlah dimanjakan dengan banyaknya informasi yang akan mempersiapkan kita dalam perjalanan.

Saat ini apabila kita melakukan pencarian di Google tentang cuaca, hasilnya cukup lengkap. Khususnya di kota-kota yang saya cari, seperti Moscow, St. Petersburg, Irkutsk, dan Ulan Ude, cuaca dari hari ke hari cukup detil, bahkan dari pagi, siang, sore, malam, menampilkan suhu yang berbeda-beda. Google Now juga membuat saya terkesan kali ini. Entahlah siapa yang memberitahu padanya, tapi tahu-tahu dia sudah mencatat jadwal penerbangan saya (saya tidak ingat mendaftarkan email saat memesan tiket pesawat. Tiket pesawat pun di-book dengan bantuan teman saya). Google Now saya menampilkan informasi cuaca, tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, di Bangkok dan Moscow yang tercatat dalam tiket pesawat saya.

Bulan Juni di Rusia adalah awal musim panas. Berdasarkan informasi yang saya cari, musim panas di Rusia tidaklah panjang. Sepanjang tahun mereka menghadapi cuaca yang dingin, di tempat-tempat tertentu bahkan sangat dingin (merupakan tempat terdingin di dunia). Musim panas (summer) yang datang pada bulan Juni, Juli, dan Agustus disambut dengan gembira. Musim panas ini juga merupakan musim liburan alias high season bagi traveler. Banyak orang kota memiliki rumah musim panas di desa, yang memiliki kebun sayuran, yang mereka kunjungi pada musim panas. Siang hari lebih panjang pada musim panas, langit masih terang hingga pukul 21.00. Orang-orang duduk di depan rumah membaca koran pada pukul 21.00. Sunset dapat dilihat pada pukul 22.00. Di St. Petersburg fenomena ini terkenal dengan nama White Night (Malam putih).

Namun pada awal bulan Juni, summer belum-lah genap. Di Moscow di pagi dan malam masih bisa mencapai suhu 11 atau 12 derajat Celcius. Siang hari terik sekitar 24 derajat. Yang paling panas kami alami di Irkutsk dan Ulan Ude, mencapai 28 derajat Celcius. (di bulan Juli mungkin suhu mencapai 30-an). Dengan suhu yang galau seperti ini tidak heran kalau kita bertemu di jalanan dengan fashion yang bervariasi: ada yang pakai you can see, tetapi ada yang memakai jaket. Paling aman adalah mengenakan kaos, tetapi membawa jaket, karena terkadang angin datang dan cukup dingin. Paling dingin saya rasakan di pulau Olkhon di danau Baikal. Pada musim dingin danau di Siberia ini akan membeku dan dapat dilalui mobil, pada musim panas matahari sangat terik, tetapi angin yang berhembus menusuk-nusuk tulang.

Pada saat packing untuk trip ini saya sempat bingung juga. Mau bawa jaket tebal atau jaket tipis? Mau bawa tangan panjang atau pendek? Mengingat Juni disebut musim panas, tetapi kok suhu 12 derajat? Itu kan mayan dingin… Akhirnya saya hanya bawa jaket yang biasa (tidak tebal), asal bisa menahan angin. Bila kurang dapat ditambahkan peralatan lain seperti syal, sarung tangan, dan topi kupluk. Peralatan ini biasanya dibawa pada waktu jalan-jalan, baru dikenakan pada malam hari. Payung juga penting, karena di awal musim panas ini beberapa kali kami bertemu dengan hujan. Bila tidak hujan, payung juga dapat melindungi kita dari panas yang terik. Saran saya, periksalah informasi cuaca sedetil mungkin, dan bawalah pakaian yang sesuai dengan Anda sendiri. Setiap orang tentu memiliki daya tahan yang berbeda terhadap dingin atau panas, jadi tak perlu malu, misalnya, untuk mengenakan jaket tebal, karena percayalah, fashion di bulan Juni ini benar-benar beragam. Ada yang mengenakan celana pendek tetapi ada juga yang mengenakan topi kupluk, syal dan jaket tebal. Yang penting Anda merasa nyaman, dan jangan sampai jatuh sakit di negeri orang. Cuaca di sini juga mudah berubah-ubah, karena itu periksalah dengan detil kota tujuan, dan tanggal Anda berada di sana. Cerita saya ini di awal Juni 2015, di akhir bulan Juni bisa saja cuaca semakin panas.

Baca juga: