Google+ Followers

Sunday, September 25, 2016

Ipoh 2016: Sekeping Kota Tua


Nama Ipoh sudah lama saya dengar karena terkenal dengan Ipoh White Coffee, Ipoh juga sebuah kota tua bekas tambang timah serta kota kelahiran aktris mandarin Michelle Yeoh. Orang-orang mungkin juga mendengar Ipoh karena sering menjadi kota persinggahan dalam perjalanan ke Penang yang lebih terkenal sebagai kota tujuan wisata. Tetapi adalah sebuah liputan di acara televisi tentang travel, pada suatu hari, yang membuat saya tergerak untuk merencanakan trip ke sana.

Dalam liputan itu ditampilkan semangkok Hor hee yang sederhana dan legendaris dari kota Ipoh. Hor hee tersebut dihidangkan di atas meja marmer di dalam sebuah kantin sederhana dengan segala suasana Pecinannya yang eksotis. Ibu-ibu dan bapak-bapak tua yang seolah sudah memasak seumur hidupnya, seolah menjadi jaminan mutu akan keenakan masakannya.

Semangkok hor hee (semacam kue tiau yang lembut), dilengkapi dengan baso ikan yang segar, kuah yang sedap, hanya dari tayangan TV saja bisa terbayang kelezatannya. Selain bayangan akan makanan enak, suasana kota tua yang terjaga juga menjadi alasan saya mengunjungi kota ini.

Maka direncanakanlah trip singkat ini. Kami mengambil waktu bulan September yang lalu ketika ada long weekend liburan Idul Adha. Itinerary yang kami buat hanya mengunjungi kota Ipoh dan Penang karena keterbatasan waktu. Tiket Jakarta-Kuala Lumpur (Malindo) dan Penang-Jakarta (AirAsia) pun kami pesan jauh-jauh hari untuk mendapatkan harga yang terjangkau.

Menjelang saat trip, hati ini mulai excited, apalagi setelah melakukan pencarian tentang Ipoh dan Penang. Mengagumkan betapa lengkapnya informasi tentang wisata kedua kota ini. Mengagumkan juga betapa banyaknya foto makanan yang disajikan dengan demikian menarik. Tak sabar rasanya ingin berangkat.

Perjalanan Kuala Lumpur-Ipoh

Kami berangkat hari Sabtu pagi menuju Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur kami memilih angkutan bus yang tersedia langsung di Kuala Lumpur International Airport. 

Jadwal bus dari KLIA ke Ipoh dan beberapa kota lain yang difoto di terminal bus di Kuala Lumpur International Airport, dari bus Star Shuttle dan Yoyo.
Kami memilih Yoyo Bus karena jadwalnya cocok, tidak perlu menunggu lama. Harga tiket bus 45 ringgit. Bus berangkat tepat waktu, sesuai jadwal pukul 11.30. Estimasi tiba di Ipoh pukul 15,00 karena itu saya menahan diri tidak lunch sebelum jalan, hanya makan sedikit roti canai. Tak sabar rasanya menikmati kuliner di Ipoh yang daftar panjangnya sudah dipersiapkan, sehingga perlu mempersiapkan ruang di perut.

Tetapi oh tetapi.. ternyata di Malaysia sama halnya dengan di tanah air, saat itu adalah long weekend. Seperti halnya kondisi Jakarta-Bandung pada saat long weekend, demikianlah KL - Ipoh yang berjarak sekitar 200 km. Kami tiba di sebuah rest area sekitar pukul 14.00-an, tempat ini sungguh mengingatkan saya pada suasana perjalanan Jakarta-Bandung. Sayangnya di rest area ini tidak ada restoran-restoran besar seperti di kita, hanya ada beberapa toko yang menjual snack. Padahal perut ini sudah lapar karena belum makan siang.

Sepanjang perjalanan setelah itu masih macet total, bus hanya bergerak sedikit-sedikit. Sementara saya menahan lapar dan kemudian pengen buang air kecil. Akhirnya, penderitaan itu pun berakhir, kami tiba di Terminal Amanjaya sekitar pukul 19.00 !

Dari Terminal Amanjaya kami naik taksi menuju hotel French Ipoh. Di sini tidak ada taksi bermeter, taksi di sini disebut “Kereta Sewa” dan kita tawar-menawar dulu sebelum naik seperti halnya sewa mobil. Agak mahal karena gak ada pilihan, dari terminal ke hotel 30 Ringgit. (Nilai tukar Ringgit Malaysia saat kami membeli = Rp 3,270).

Kami tiba di hotel sudah pukul 20.00. Dari sana langsung mencari makanan enak yang terdekat. Untunglah hotel French Ipoh ini tidak jauh dari tujuan wisata kuliner, seperti pasar malam, dan kota tua (yang akan kami datangi pada besok hari). Malam ini kami makan toge ayam, salah satu makanan khas yang terkenal di Ipoh.

Tauge ayam On Kee di Gerbang Malam Ipoh. Enak dimakan dengan nasi ataupun kuetiau.

Semaraknya Gang Selir

Setelah hari pertama banyak terbuang waktu di perjalanan, kami siap menjelajah kota tua Ipoh pada hari kedua. Tujuan pertama untuk sarapan: Restoran Sin Yoon Loong di jalan Bandar Timah. Di sini kami hendak mencoba white coffee dan che cheong fan.

White Coffee Sin Yoon Loong yang segar sebagai pembuka hari.

Di seberang Sin Yon Loong, tak kalah terkenalnya adalah Nam Heong yang adalah toko original dari Old Town White Coffee, brand toko kopi yang sudah hadir juga di Indonesia. Kami memilih Sin Yoon Loong karena banyak yang bilang kopinya lebih enak. Tetapi pada sore hari kami kembali lagi ke sini untuk mencicipi kopi di Nam Heong.

Setelah sarapan kami jalan-jalan ke Lorong Panglima atau dikenal dengan Concubine Lane. Di jalan ini cukup semarak dengan toko-toko yang berjualan macam-macam souvenir maupun makanan. Toko-toko semua dihias dengan cantik dengan mempertahankan nuansa kota tua. Kami juga tertarik mencari beberapa mural yang menghias kota tua ini. Sebagian dari mural ini bukan sembarang mural, karena dilukis oleh pelukis international. (Contoh mural old uncle yang menjadi pembuka tulisan ini)

Concubine Lane, sempit dan meriah.

Di seberang Concubine Lane juga ada restoran yang terkenal yaitu Sekeping Kong Heng. Di belakang restoran ini ada cafe Plan B, di sini banyak obyek foto yang artistik. Banyak orang foto-foto di sini.

Ketika tiba saat makan siang kami menuju Loke Woi Kee untuk mencari hor hee yang ada dalam liputan acara televisi travel. Sama seperti resto-resto yang saya sebutkan sebelumnya, di sini juga tidak ada AC, hanya kipas angin yang membantu kita menghadapi siang hari yang sangat panas di Ipoh. Meja-meja marmer bulat di dalam ruangan yang terbuka seolah membawa kita ke masa lalu. Semua resto yang saya sebut di sini semuanya terkenal, karena itu sangat ramai dan berisik. Tak jarang kita harus menunggu untuk mendapatkan meja. Uncle dan auntie di sini berbahasa Kong Hu (Cantonese), membuat kita terkenang suasana di Hong Kong, untunglah mereka bisa bahasa Melayu atau bahasa Mandarin. Karena tidak bisa bahasa Canton, kami sempat dikira amoy dari Penang. (Saya baru tahu juga bahwa walaupun Ipoh dan Penang hanya berjarak 2 jam perjalanan, namun etnis Chinese mayoritasnya berbeda, dimana di Penang mayoritasnya orang Hokkian).

Akhirnya saya pun mencicipi Hor Hee yang membuat saya terbang ke sini. Rasanya? Hmmm.. enak.. Kuetiaunya lembut, basonya juga segar dan pas. Sayangnya suasana resto serta panasnya siang di Ipoh yang kurang mendukung. Saat yang tepat untuk memesan Seven Up float yang juga terkenal di sini.

Hor Hee Ipoh dan Seven Up Float di background.
Salah satu contoh Street Art yang mempercantik kota tua Ipoh, karya pelukis dari Lithuania.
Karya lain Ernest Zacharevic dari Lithuania di salah satu dinding tua kota Ipoh.

Menjelang sore sebelum sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Penang, kami mampir dulu di Nam Heong untuk mencoba white coffee-nya. Dan benar, menurut saya memang enakan di Sin Yon Loong, lebih pekat.

Mungkin karena tidak ber-AC juga, maka makanan di sini boleh dibilang harganya cukup terjangkau. Saya pribadi sangat menikmati suasana di Ipoh, di mana kami hanya meng-explore sekeping kota tuanya saja. Kota tua Ipoh dihias cantik dan terjaga otentisitasnya. Apalagi makanannya, semua enak dan terjangkau. Sebagai penutup tulisan ini saya sajikan beberapa harga-harga makanan:

        Hor hee (di Loke Woi Kee) 5 ringgit
        Che Cheong Fan (di Sin Yoon Loong) 3 ringgit
        White Coffee Hot (di Nam Heong)  1,8 ringgit
        Tauge Ayam (Kedai On kee) makan bertiga 53 ringgit

Thursday, September 15, 2016

Tanjung Puting Trip 2016: Get Close with Nature and the Precious Orangutan


His name is Percy. I don’t know how he got his name, but he seems to be famous among the tour guides. I’m talking about the orangutan you will find walking around Camp Leaky and being very close with the visitors. Sometimes when he spotted an opportunity, he will jump into the tourist boats to steal food like snack, biscuits and sugar. I was initially surprised by his act, but it didn’t seem to surprise all the tour guides and boat operators. Here, in Tanjung Puting National Park, you can get really close with the precious endangered orangutan.

Tanjung Puting National Park is a national park in Indonesia, located in Central Kalimantan (Central Borneo). The 416,040 hectares park is famous for its orangutan conservation, it was one of the biggest orangutan conservations in the world. Orangutan population is estimated around 230,000 in total. In Borneo alone is estimated around 45,000 – 69,000 (endangered) and in Sumatera about 7,500 (critically endangered). The nearest main town to get to Tanjung Puting National Park (TPNP) is Pangkalan Bun. There is a direct flight from Jakarta to Pangkalan Bun.

Although the orangutans are really cute, and also precious because of their endangered status, they are not the main reason for my visit to TPNP. I’m not such a big fan of animal or animal lover, i’m more attracted to what nature has to offer. The park is composed of dryland dipterocarp forest, nipah palm trees and mangrove. Imagine cruising the river in the quite surrounding, nothing separates you with the nature, there’s only you and the clear sky above. The trees around you give off clear oxigen, and in the night you can see a star-studded sky. It was a good detoxication for someone who live her daily life in Jakarta like me. And it was not so exagerating that Dr. Galdikas, one of the world’s leading expert on orangutan behaviour and founder of Orangutan Foundation International called this place “Garden of Eden.”


So, after carefully reviewing offers from tour operator, we chose the 2 days/1 night package because it can be done just over the weekend, so you don’t have to take a leave. As far as I know, visit to TPNP has to be guided, and we have to take one of the klotok boats to cruise along the national park. It’s all been arranged by the tour operator.

We took Trigana Air on Saturday morning, which fly directly to Pangkalan Bun. We are being picked up by our guide Pak Nasir at the airport. The flight was delayed, so by the time we got there, day already approaching noon. We took the local taxi from airport to Kumai Port. You probably heard Kumai port before, it was famous when media crews flocking here for the searching of Air Asia debris nearby. Kumai port is also a gateway to Borneo’s gold mines and timber forest. The small town is also known for its bird-nest business, no wonder you can find on your way here the odd-shaped swiftlet house (rumah Walet).

We arrived at Kumai port around 12.00. I saw our boat crew is cleaning the boat and the bed, just like the hotel staff prepare the room. This will be our five star hotel for tonight.

When the boat took off, we have a wonderful lunch on the boat. Fresh water fish, vegetables, and Indonesian style sambal ! Promise you you will not be lacking anything living in a boat. We are served by four crews, they are the boatmen (driver and navigator), a cook, and a guide. The boat is equipped with simple mattress, pillow, mosquito net, clean water, kitchen, and toilet. Has to admit that i’m not used to this kind of trip where everything was already arranged and we are being served like kings.

On the first day we visit Tanjung Harapan. There are three places here where you can see the orangutans upclose, ie Camp Leakey, Pondok Tanggui, and Tanjung Harapan. The orangutans feeding time is 9 in the morning and 3 in the afternoon. Here is where the forest rangers bring food (banana and milk, sometimes corn) to the feeding table that was set in the jungle (so it’s not far from orangutans real habitat). With time the orangutans were conditioned to come every 9 am and 3 pm to the feeding table for the food. This then become one of tourist attractions where the tourist prepare their best lenses to capture the orangutans expressions upclose. (Too bad I don’t have tele lense)

I enjoyed more the trekking. To get to the feeding table, there’s usually 30-45 minutes walk in the forest. Those are the best, where I can breath fresh air and take pictures of forest lives. Besides the walk, we spend most of our time in the boat, cruising the river, talking and taking pictures.




When the night came we had a lavish dinner with candlelight. Why so romantic? It turned out the candle was necessary because if we use lamp (with generator) it will attract swarm of moths.
After dinner we just enjoy the quite night. Our boat parked in the calm river, tied to a tree. In the heart of Borneo jungle, night was not as quiet as I expected. The chatter of the boat crews was the most annoying, but it stopped when they slept. Then we can hear the soft soothing voices of birds far far away, as well as the sound from the crickets.

When we tried to sleep there’s another noise. It’s like people are playing with water. The sound was not constant so it’s hard to sleep with it. We were curious and we decided to find out what noise was that. We took our flashlight and look below to the water. We saw thousands of small fishes moving around themselves randomly as if they were dancing in the water. So, that apparently who’s to blame for the noise. We can only surrender.

I managed to sleep well that night. Early in the morning dew was dripping above us from the boat hut, no wonder our clothes that we tried to dry in the sun, become wet because of the dew. Well, that was just part of living in a boat.

And just like staying in five star hotels, the best part was the breakfast. We had fresh coffee, pancakes, egg and fruits. In the lovely morning when sun start to shine, the sunlights appears from the shades of tree. Being well fed in the morning, we are then ready for another day of cruising the river, taking pictures, trekking, and orangutans watching.

I’m quite happy with this trip. Being close to watch orangutans, i can see that their pattern of movement is similar to what being pictured in the popular movies such as Tarzan and Jungle Book (although what being pictured is not specifically orangutans). I also learned that the older male orangutans have civet in their faces, and how cute it was that the baby orangutans are always clinging to their mothers.

Beside orangutans, we can also encounter proboscis monkey, gibbons, wild boar, some birds and the crocodile! For the vegetation, it would be an additional bonus to the nice walk in the jungle if we know the species. Luckily there are some of the more popular species such as orchid, nepenthes (kantong semar) and Indonesian well known medicine pasak bumi.

Morning sunlight
can you see the crocodile?

that's our boat

Look, there's proboscis monkeys on the tree

Indonesian author Umar Kayam once wrote about thousands of fireflies in Manhattan. I read somewhere about TPNP  before my visit that here you can find millions of fireflies in Sekonyer river among the nipah palm trees. Too bad, I didn’t find any. I can only imagine how beautiful it was, from the story of Pak Nasir, our guide. He said several years ago we can easily find such scenery. In the dark calm night imagine millions of fireflies flickering among the nipah trees.. how awesome!

But now, such a scenery was rare due to the heavy deforestation. Not so far from the national park lies the vast palm oil plantations. I don’t know whether the millions of fireflies as described is still possible in the present days, but I do hope that you’re lucky enough to encounter that in the real life, not only in your imagination.

Tuesday, January 26, 2016

Cara Perpanjang Paspor Dengan Datang Sendiri 2016

Hari ini, setelah ditunda-tunda (karena males bangun pagi), akhirnya saya jabanin juga, pergi ke Kantor Imigrasi untuk mengurus perpanjangan paspor. Bukan apa-apa, hasil browsing mengatakan, pengurusan paspor ini ada kuotanya, sehingga orang-orang datang pagi-pagi (super pagi, alias subuh pun sudah ada yang datang) ke kantor imigrasi, agar mendapatkan nomor kuota dan nomor antrian.




Saya tiba sekitar pukul 6, mendapat nomor antrian 32. Ternyata sejak tanggal 11 Januari 2016 tidak ada lagi pembatasan kuota, namun pemohon paspor dibatasi kedatangan hingga pukul 10.00. Informasi ini masih baru sehingga banyak yang belum tahu, tidak heran pukul 6 pagi saja sudah banyak yang antri. Pagi ini mendung dan sempat hujan, walaupun hanya gerimis, karena itu petugas di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Pusat yang saya datangi cukup sigap dan mulai mendata dan membariskan para pemohon sekitar pukul 6.30. Dokumen-dokumen persyaratan diperiksa dulu oleh satpam, kalau-kalau ada yang kurang dapat segera melengkapi atau pergi ke tempat foto kopi. 
Pemohon dapat masuk ke kantor imigrasi dan duduk dalam ruang tunggu, menunggu hingga pukul 07.30 pelayanan baru dimulai. Para petugas mulai berdatangan pada saat itu, mengabsen (finger print) lalu naik ke lantai dua.

Syarat perpanjangan paspor adalah:

- Paspor lama dan fotokopi halaman depan dan belakang
- KTP asli dan Fotokopi (ukuran A4, jangan dipotong)
- Kartu Keluarga asli dan fotokopi
- Akte Lahir asli dan fotokopi

Pukul 07.30 petugas di lantai 1 mulai memanggil nomor antrian. Mereka lalu memberikan map kuning dan formulir untuk diisi. Di sini sekali lagi dokumen-dokumen diperiksa. Setelah itu kita naik ke lantai 2 untuk menunggu nomor kita dipanggil.

Sambil menunggu, kita dapat mengisi formulir yang tadi diberikan di bawah. Ada 3 jenis nomor antrian, yaitu antrian online, dan walk-in, satu lagi saya kurang jelas. Saya memilih walk-in karena kabarnya untuk e-paspor masih belum bisa mendaftar secara online.

Setelah dipanggil ke konter (ada 8 konter), kita diperiksa lagi kelengkapan dokumen, lalu diwawancara, difoto dan pengambilan sidik jari. Setelah selesai, kita diberikan bukti pengantar pembayaran, yang kemudian kita bawa ke bank BNI (hanya BNI yang kerjasama saat ini) untuk membayar biaya paspor. Waktu pembayaran yang diberikan 7 hari, waktu selesainya paspor adalah 4 hari kerja setelah kita membayar. Di kertas pengantar pembayaran itu sudah ada nomor permohonan kita, karena itu setelha kita bayar harusnya langsung ter-konek ke sistemnya.

Di dekat kantor imigrasi Jakarta Pusat saya langsung jalan kaki ke BNI Kemayoran. Namun ternyata belum bisa dilakukan pembayaran karena datanya belum masuk. Saya pun otw ke kantor, dan mampir ke BNI Wisma 46, dan ternyata sudah bisa dibayar. Bukti bayar nanti akan digunakan untuk pengambilan paspor 4 hari kemudian.

Kantor imigrasi kelas satu Jakarta Pusat buka Senin s/d Kamis 07.30 – 16.00. Istirahat 12.00 – 13.00. Jumat 07.30 – 16.30. Istirahat 11.30 – 13.00. Ingat, jangan mengenakan celana pendek atau sandal jepit ya.. nanti gak dikasih masuk...


Thursday, August 27, 2015

Kereta TransSiberia Ulan Ude-Moscow


“Russia, with its fields, steppes, villages, and towns, bleached lime-white by the sun, flew past them wrapped in hot clouds of dust.”

Kutipan di atas saya ambil dari Dr Zhivago, Boris Pasternak, pada bagian yang mengisahkan perjalanan dengan kereta Trans Siberia. Kereta dari Moscow ke Vladivostok yang total menghabiskan waktu 8 hari ini memang historis bagi bangsa Rusia. Railway dibangun sejak tahun 1905, tidak ada yang ingat kehidupan sebelum ada kereta ini. Jalur kereta yang ceritanya dibangun dengan sangat costly ini telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Rusia.

Karena itulah taking train adalah sesuatu yang harus dicoba dalam perjalanan Anda ke Rusia. Jaringan railway di sini cukup mengagumkan, dengan daratan yang begitu luas, kita bisa naik kereta selama berhari-hari. Di negara kita mungkin paling lama semalaman, tidak sampai 24 jam. Kami mengambil rute dari Ulan Ude ke Moscow, yang total memakan waktu 4 hari. Untuk menghitung jumlah jam-nya saya agak bingung, karena ada perbedaan waktu. Dan pecahlah rekor baru bagi saya, yaitu naik kereta yang paling lama.

Dengan total jarak 5488 km, kereta Trans Siberia nomor 81 berangkat dari Ulan Ude dan berakhir di Moscow. Rute ini melewati danau Baikal, kota-kota penting seperti Irkutsk, Novosibirsk, Krasnoyarks, Omsk, Ekaterinsburg, dan sungai Volga yang merupakan sungai terpanjang di Eropa. Kereta ini juga melintasi dua benua, yaitu Eropa dan Asia. Di Ekaterinsburg terdapat sebuah tugu yang menjadi penanda batas benua Eropa dan Asia, tetapi kami tidak sempat melihat karena sedang malam/subuh pada saat kereta melintasi Ekaterinsburg.

Empat hari di kereta. Empat hari tanpa koneksi internet. Saya sendiri takjub bagaimana saya sebagai orang yang hidup di era internet yang serba cepat ini bisa “membuang” waktu 4 hari dalam perjalanan? Berbagai jurus anti bosan sudah dikeluarkan: baca, nonton, sampai selfie. Tidak ada colokan listrik di bangku/tempat tidur, jadi colokan di toilet jadi rebutan. Ada hikmahnya juga kami duduk di dekat toilet. “Gak ngapa-ngapain” selama 4 hari bagi orang “modern” seperti kita tentu sesuatu banget. Bagaimana kita melalui waktu, selain motret, baca, dan lain-lain di atas tadi? Waktu berjalan lambat, waktu adalah sesuatu yang relative, apalagi ini pakai acara ada perbedaan waktu pula, jadi agak confusing. Sebagai penumpang hingga tujuan terakhir, kita seperti anak di panti yang enggak diambil-ambil, satu per satu penumpang lain turun, serta ada penumpang baru yang naik, kita masih di situ-situ aja.

Saya suka analogi teman saya, kami merasa seperti anak di panti asuhan yang belum diambil-ambil juga.

Tetapi ada satu insight yang muncul di kepala saya waktu itu, yaitu bahwa we’re making progress. Perlahan tapi pasti, detik demi detik waktu berjalan seiring dengan kita semakin dekat pada tempat tujuan.

Satu per satu stasiun yang kami lewati, saya berusaha untuk mengabadikannya dalam foto. Dari hari ke hari saya mencatat apa yang bisa dicatat. Inilah yang bisa kubagikan pada kalian:

Diari seorang penumpang kereta Trans Siberia Ulan Ude-Moscow

12 Juni sore, tak lama setelah kereta berangkat dari Ulan Ude, kami melintasi danau Baikal. Banyak terlihat orang-orang berlibur di tepi danau, ada yang camping, mancing, dan bersepeda. Pemandangan dari jendela kereta ini terlihat seperti lukisan sebuah liburan di musim panas. Rumah-rumah pedesaan dari kayu yang cantik dengan kebun sayur di halamannya mempermanis pemandangan tersebut.
Pemandangan pedesaan Rusia

Sekitar pukul 01 malam kereta tiba di Irkutsk. Kami sudah tertidur pada saat itu, namun terbangun mendengar suara penumpang naik dan turun. Setiap kereta berhenti di stasiun toilet akan dikunci 30 menit sebelumnya hingga 30 menit setelahnya. Lama berhenti tergantung dari stasiunnya. Di stasiun besar seperti Irkutsk kereta berhenti lebih dari 30 menit.

Kami menempati gerbong yang tidak ada kompartemen, ini kelas tiga atau kelas dua, pokoknya yang paling murah. Di dalam gerbong ada sekitar 50-an bed. Di ujung satu terdapat satu samovar (teko besar berisi air panas, untuk membuat teh, kopi, atau pop mie) yang tak pernah kosong, dan kamar provodnista (satu gerbong satu provodnista, atau pramugari kereta). “Mbak” ini yang mengurusi semuanya. Setiap sore dia akan keluar untuk menyapu dan mengepel kereta. Setiap stasiun berhenti si mbak akan berdiri menyambut penumpang baru dan memeriksa data mereka, serta kemudian memastikan mereka duduk di tempat yang benar. Setiap penumpang yang baru naik akan diminta “membeli” paket berisi seprei dan sarung bantal seharga 127 rubel. Seprei dan sarung bantal ini dipasang sendiri oleh masing-masing penumpang, dan ketika turun penumpang juga membereskan sendiri serta menyerahkan kembali seprei dan sarung bantal kepada si mbak. Dengan demikian kebersihan kereta terjaga demikian pula kebersihan masing-masing tempat duduk penumpang. Penumpang juga bisa membeli teh, kopi, dan pop mie di kamar provodnista ini sewaktu-waktu ketika membutuhkan.

Jika di ujung satu ada samovar, di ujung lain setiap gerbong terdapat toilet dan tong sampah. Letaknya di ujung belakang gerbong, dekat tempat duduk paling belakang, nomor 30-an di mana kami berada. Di pagi hari saya suka duduk di kursi samping yang dekat jendela, kebetulan kursi ini kosong setelah bapak yang menempatinya telah turun di Irkutsk. Menikmati pemandangan setelah Irkutsk berupa padang-padang (steppe) dan pohon pinus. Membuat saya berpikir sepertinya kayu cukup memainkan peran penting dalam perekonomian Rusia.

Pukul 9-10 lalu lintas dekat toilet mulai padat. Banyak yang baru bangun dan hendak ke toilet untuk cuci muka, sikat gigi dan urusan lain. Setelah itu pada sibuk mengeluarkan bekal masing-masing. Ada juga yang bekalnya cukup mewah, roti dan daging, buah dan sayur, serta cangkir keramik dan taplak meja sehingga terlihat seperti piknik yang serius. Setelah beres makan masing-masing sibuk mengeluarkan jurus anti bosan, ada yang mengisi TTS, baca buku, bengong, bermain kartu, sibuk dengan handphone, dan ada juga yang kembali tidur.

Setiap siang provodnista akan menyapu dan mengepel lantai kereta
Gerbong yang sangat panjang seolah tak habis-habis

Pukul 12 mbak provodnista keluar menyapu dan kemudian mengepel lantai kereta. Sekitar pukul 15 kereta behenti sekitar 15 menit di sebuah stasiun yang saya lupa namanya. Pemberhentian seperti ini akan ada setiap hari, kesempatan bagi penumpang untuk nyetok makanan seperti pop mie, minuman kalengan, roti, dll. Ada juga penjual makanan-makanan lokal seperti ayam, kentang, dan roti. Saya juga sempat ke gerbong restorasi yang jaraknya cukup jauh dari gerbong kami, melewati lebih dari 5 gerbong. Terasa jauh karena gerbong-gerbong yang kami lalui sangat padat penumpangnya, serta ruang antara satu gerbong dengan gerbong yang lain gelap serta pintunya agak keras. Mungkin karena itu tidak banyak yang jalan-jalan lintas gerbong maupun ke gerbong restorasi. Ketika makan di restorasi kami hanya sendiri. Menunya pun tidak banyak, semuanya dengan bahasa Rusia, petugas pun tidak bisa Bahasa Inggris, akhirnya kami menggunakan bahasa gambar untuk melukiskan yang kami mau. Karena jarang yang mengunjungi restorasi, pelayan restorasi akan berkeliling dengan dagangannya ke setiap gerbong dua kali dalam sehari.

Pukul 19 kereta tiba di Krasnoyarks. Salah seorang teman kami turun di sini, karena dia hendak melanjutkan trip ke Mount Elbrus dan tidak tahan kelamaan di kereta. Tinggallah kami bertiga di dalam sisa perjalanan yang masih panjang. Seorang teman kecil kami juga turun di sini. Seorang anak Rusia bernama Jiman yang jadi “mainan” kami menghabiskan waktu di kereta. Dia bocah yang lucu dengan mata bulat berwarna biru, yang menyukai biscuit pretzel dan tidak menyukai kacang. Jiman bepergian dengan neneknya yang pendiam dan tampak tak berminat bertegur sapa dengan orang-orang asing yang tak mengerti bahasa mereka. Malam itu kami ngobrol-ngobrol sebelum tidur, dan tak terasa satu hari pun telah berlalu di kereta.

14 Juni, jam 8 pagi, saya terbangun karena kereta berhenti. Ternyata kami telah tiba di Novosibirsk, kota terbesar di Siberia, dan merupakan kota ketiga terbesar Rusia setelah Moscow dan St Petersburg. Di sini berhenti sekitar 30 menit, lumayan bisa keluar foto-foto di stasiunnya saja. Suhu di sini 16 derajat Celcius, terbaca dari papan digital yang memberikan informasi suhu. Dari Novosibirsk ke Moscow masih 3000-an km jaraknya. Ketika melewati stasiun-stasiun kecil mulai ada stasiun yang diberi nama jarak dari Moscow, misalnya ada stasiun bernama 3307 km.

Pukul 17 kereta tiba di Omsk, ini juga salah satu kota yang cukup penting di Siberia. Ibu-ibu yang duduk di sebelah kami turun di sini. Dia seorang ibu-ibu yang bepergian sendiri, dari Ulan Ude ke Omsk. Orangnya ramah dan sangat rapih, terlihat dari caranya menyusun tempat tidur dan ketika makan. Dia tidak banyak berbicara, kebanyakan terlihat bengong memandang pemandangan dari jendela, sehingga teman kami merasa tergerak untuk menghibur kesepiannya dan mengajak berkomunikasi seadanya.

Di Omsk ini banyak penumpang baru yang naik, sehingga kereta menjadi penuh. Termasuk dua orang cewek cantik yang duduk di tempat yang ditinggalkan si ibu-ibu tadi. Yang satu di bed bawah, yang satu di atas. Keduanya berambut panjang dan tinggi semampai, ditambah mengenakan high heels. Dandanan juga serius, beda dengan penumpang-penumpang lain. Membuat kami berpikir jangan-jangan mereka salah gerbong, cantik dan wangi begini mengapa tidak naik yang kompartemen? Kami pun membuat teori tentang siapa mereka, misalnya lagi mau ikutan casting, dll, maklumlah orang-orang kurang kerjaan. Dan mumpung tak ada yang mengerti bahasa kita, kesempatan buat mengomentari orang-orang.

Pukul 00:20, jam di HP saya, kereta tiba di Tiomeh. Kedua cewek cantik turun di sini, ternyata perjalanan mereka sangat singkat. Waktu itu langit belum gelap-gelap juga, ternyata jam lokal baru 22:20. Dimulailah perbedaan waktu yang mulai terasa. Walaupun seharusnya sudah saatnya tidur, tetapi langit tak kunjung gelap, sehingga kami sulit tidur. Jam di HP saya ubah ke waktu Tiomeh.

Para pedagang yang menjajakan makanan dll kepada penumpang kereta pada stasiun pemberhentian

15 Juni pukul 08.30 kereta berhenti di stasiun Krasnofimsk. Sepertinya kami baru saja lewat pegunungan karena banyak masuk terowongan dan pemandangannya bagus, seperti bukit-bukit di Swiss. Ketika saya cek di daftar pemberhentian kereta yang tertempel di pintu kamar provodnista, ternyata kami telah melewati Ekaterinsburg pada waktu subuh tadi, atau pukul 00:49 waktu Moscow. Tak heran semua informasi waktu dalam perkeretaapian di sini menggunakan waktu Moscow, daripada ribet. Saya pun harus mengubah jam di HP saya menjadi waktu Moscow. Setelah pemberhentian di Krasnofimk ini mulai terasa kereta jalannya ngebut, sehingga sulit untuk membaca.

Pada saat ini kami sudah merasa sangat bosan dan bersyukur besok kami akan tiba di Moscow. Rasa kangen tak tertahankan pada kamar mandi dan koneksi internet. Saya mulai bermimpi yang aneh mungkin karena rasa cemas karena kehilanggan koneksi dengan dunia. Kalau lama tidak terkonek saya kadang merasa cemas berlebihan seolah ingin memastikan semuanya baik-baik saja.

Sore itu sekitar pukul 16 naiklah segerombolan laki-laki yang terlihat seperti baru selesai latihan sepak bola. Mereka naik dari sebuah stasiun yang cukup besar dan modern yang ternyata adalah Kazan. Begitu duduk di tempat masing-masing mereka pun langsung membuka baju dan hanya mengenakan celana pendek. Setelah itu mereka masing-masing mengeluarkan makanan dari tas bekal mereka. Teritori kami pun terinvasi oleh sekitar 12 orang laki-laki bertubuh besar yang berkeringat seperti sehabis berolahraga, dan kereta pun terasa pengap.

Mereka tampak seperti atlet sepakbola atau buruh pabrik yang baru selesai bekerja. Karena kami berada di dekat mereka, mereka pun mencoba berkomunikasi. Dengan bahasa Inggris seadanya kami kemudian mengetahui nama-nama mereka, seperti: Victor, Dmitri, Sasha, dan Timur. Hampir semua terlihat ramah dan mencoba berkenalan dengan kami, tetapi tak lama kemudian ternyata mereka mengeluarkan vodka dan mulai minum. Padahal hal itu dilarang di kereta dan berkali-kali telah diperingatkan oleh petugas kereta. Kami pun kemudian menjaga jarak. Ternyata mereka adalah para pekerja offshore mining yang ditugaskan ke Moscow.

Keesokan paginya kami tiba di Moscow pukul 04.42 sesuai dengan jadwal. Pagi hari cowok-cowok ini telah sober dan lebih behave daripada semalam. Semalam ada yang minum vodka banyak sekali hingga mabuk dan muntah. Syukurlah tidak ada kejadian yang parah atau merugikan padahal penumpang-penumpang kereta yang lain tampak mulai was-was memperhatikan rombongan ini. Biar bagaimana pun kehadiran mereka telah menambah cerita dalam perjalanan panjang kami dari Ulan Ude menuju Moscow.

Baca juga: 



Tuesday, August 25, 2015

Penting: Registrasi Visa Selama di Rusia


Setiap pengunjung ke Rusia harus mendaftarkan visanya dalam waktu 7 hari kerja setelah kedatangannya. Sebelum tahun 2011 lebih parah, yaitu dalam waktu 72 jam. Waktu kami baca soal ini tentu saja kaget, dan merasa itu merepotkan banget. Apalagi setiap kali registrasi itu berarti ada biayanya.

Tak perlu khawatir, karena hostel tempat kita menginap dapat membantu melakukan registrasi ini. Cukup menyerahkan paspor dan membayar. Fee yang diterapkan masing-masing hostel atau hotel mungkin berbeda. Kami membayar kalau gak salah 250 rubel (di Nikita Homestead). Di hostel lain mostly kami hanya satu malam, jadi tidak perlu mendaftar. Selain itu kami banyak menginap dalam perjalanan, alias tidur di kereta. Apalagi Trans Siberia dari Ulan Ude ke Moscow saja sudah empat hari. Nah, apabila demikian, sebaiknya semua tiket perjalanan disimpan untuk membuktikan perjalanan kita tersebut, kalau-kalau diperiksa.

Karena perubahan aturan baru pada tahun 2011, masih ada petugas yang belum familiar, karena itu dinasihatkan agar kita mendaftar dalam waktu 72 jam setelah kedatangan. Karena pendaftaran ini adalah tanggung jawab tempat akomodasi kita, mereka pastinya akan membantu, karena bila kita tidak mendaftar, mereka juga akan mendapat kesulitan.

Bagaimana kalau kita tidak mendaftar? Kita bisa dikenakan denda karena melanggar aturan, sehingga akan mengurangi peluang kita untuk mendapatkan visa Rusia di kemudian hari.

Dalam perjalanan kami selama total 15 hari kami hanya mendaftar sekali. Dan untunglah kami tidak pernah bertemu petugas yang memeriksa.


bukti sudah registrasi visa, halaman belakang. Halaman depan nama dan nomor paspor


 Baca juga:



Thursday, August 20, 2015

Taste of Asia di Ulan Ude

Pemandangan Ulan Ude dari Rinpoche Bagsha Datsan

Ulan Ude adalah kota yang menarik. Selain Irkutsk, kota ini juga merupakan salah satu pemberhentian Trans Siberia yang populer di daerah Baikal. Merupakan ibu kota wilayah Buryatia, Ulan Ude adalah pusat industri dan komersial yang penting di Siberia Timur. Kedekatannya dengan Mongolia memberi kota ini nuansa yang sangat Asia, serta sebagian besar penduduknya adalah suku Buryat. Di kota ini juga mudah ditemukan tempat beribadah agama Budha Tibetan.

Pagi tanggal 12 juni 2015 di Ulan Ude Traveler House, kami mendengar lagu-lagu seperti lagu perjuangan bernuansa komunis yang seolah mengingatkan kami sedang berada di Rusia. Hostel kami memang dekat dengan alun-alun yang ada patung kepala Lenin itu. Rupanya di sana sedang ada acara, dan lagu-lagunya terdengar dari kamar kami. Kami baru tahu kemudian bahwa hari itu adalah hari libur nasional.

Kami pun buru-buru bersiap-siap untuk pergi ke alun-alun itu. Di sana sedang ada acara semacam pemberian penghargaan dan banyak yang mengenakan pakaian tradisional. Kesempatan yang baik untuk foto-foto. Tak jauh dari alun-alun itu ada pedestrian street yang mirip Arbat street di Moscow di mana terdapat banyak café, pertokoan, maupun seniman jalanan. Dari sini juga cukup convenient untuk naik bis ke tempat-tempat wisata seperti Rinpoche Bagsha Datsan dan Etnographic Museum. Untuk makan dan berbelanja pun sangat convenient, inilah yang menjadikan kota ini menyenangkan, selain penduduknya ramah serta tidak sulit mendapatkan makanan Asia seperti nasi.

Di Ulan Ude jangan lupa mencoba makanan khas di sini, namanya Buza. Semacam dumpling, tetapi ukurannya lebih besar dari rata-rata xiao long bao, isinya lebih banyak serta kulit pembungkusnya lebih tebal. Rasanya, bagi saya, tidak seenak xiao long bao, tetapi cukup menghibur daripada makan roti terus.

Acara di Alun-Alun Lenin Head

Melanjutkan cerita sebelumnya, sesuai dengan rencana, dari Irkutsk kami naik kereta ke Ulan Ude. Kereta ini juga sudah dibeli sebelumnya dan berangkat pada malam hari. Sepertinya tidur di kereta sudah menjadi hal yang biasa bagi kami, walaupun kereta Irkutsk-Ulan Ude ini berbeda dengan yang lain, karena tidak ada bed, tetapi hanya tempat duduk biasa (kami memilih kelas yang paling murah, yaitu sitting). Untung bisa tidur juga, dan saya bersyukur sejauh ini semua berjalan sesuai dengan rencana.

Tempat wisata yang saya kunjungi adalah kedua yang saya sebutkan di atas. Tidak terlalu istimewa sih, di Rinpoche (yang merupakan temple Tibetan Buddhism) kita bisa melihat view panorama kota Ulan Ude dari atas. Di Etnographic Museum ada gereja Kristen orthodox tua yang unik. Letak keduanya tidak jauh dari pusat kota, dari alun-alun Lenin tinggal naik bus nomor 97 ke Rinpoche, dan nomor 37 untuk ke Etnographic Museum. Saya paling enjoy jalan-jalan di Arbat Street itu, sambil mencari jajanan. Tak jauh dari sini (within walking distance) jangan lupa mengunjungi Odigitrievsky Cathedral, gereja Kristen Ortodhox yang bersejarah dan juga masih digunakan sebagai tempat beribadah. Di sekitar gereja ini banyak rumah-rumah tradisional tua yang terbuat dari kayu.

Di hostel kami berkenalan dengan beberapa pejalan lain, ada yang dari Korea, Perancis, Italia, dan Hong Kong. Banyak yang singgah di Ulan Ude, untuk kemudian masuk ke Mongolia (orang Korea bebas visa ke Mongolia). Bagi kami, Ulan Ude adalah titik terjauh yang kami capai dari Moscow dalam rangkaian Trans Siberia. Setelah ini, saatnya naik kereta empat hari dari Ulan-Ude ke Moscow yang akan menjadi pengalaman once in a lifetime journey with Trans Siberia.

Kami diantar ke stasiun kereta oleh taksi Yandex (semacam Uber), seorang opa-opa dengan Toyota Corolla. Setelah menurunkan koper-koper kami sang opa melambaikan tangan melepas kepergian kami. Rasanya seperti diantar ke stasiun oleh opa sendiri.

Baca juga:






Tuesday, August 18, 2015

Intermezzo: Privet, Spasiba, Some Useful Phrases


Sebelum berkunjung ke Rusia, pelajarilah satu dua kata atau frase yang mungkin berguna dalam perjalanan. Saya mendownload aplikasi Learn Russian Phrasebook di Ipad saya. Aplikasi ini bisa digunakan secara offline, dan ternyata sangat berguna dalam membuka percakapan kami dengan orang-orang Rusia yang kami temui.

Berikut ini saya berikan hasil scan some useful phrases yang saya ambil dari guidebook, kata-kata seperti “Hello, terima kasih, selamat pagi, saya tidak mengerti,” bisa cukup berguna. Sebaiknya juga mengakrabkan diri dengan huruf Rusia, serta mempersiapkan beberapa kata-kata bahasa Rusia yang mungkin berguna, seperti nasi, ikan, ayam, daging sapi, dan lain-lain. Anda akan terkejut dengan keramahan orang Rusia J


Baca juga:




Thursday, August 13, 2015

Irkutsk, Lake Baikal, Khuzir


Danau Baikal adalah danau dengan volume air tawar terbesar di dunia dan juga sekaligus paling dalam. Disebut “Pearl of Siberia” danau yang terletak di antara wilayah Irkutsk Oblast dengan Buryat Republik, termasuk danau paling jernih dan paling tua di dunia. Usianya mencapai 25 juta tahun. Kota terdekat untuk mengunjungi danau Baikal yang menjadi salah satu pemberhentian Trans Siberia yang paling populer adalah Irkutsk. Dulu saya pernah menonton acara adventure di televisi dimana seseorang naik kereta Trans Siberia dari Moscow ke Irkutsk (kereta Trans Siberia jurusan Moscow-Vladivostok). Dari Irkutsk ia melanjutkan perjalanan dengan mobil four wheel drive ke danau Baikal. Pemandangan pegunungan dengan landscape yang luas terlihat sepi dan bernuansa adventurous. Waktu itu saya tidak menyangka bahwa suatu hari saya akan sampai juga ke Irkutsk dan danau Baikal. Sama halnya saya tidak mengira bahwa tempat ini sudah menjadi demikian touristic, sehingga nuansa adventour agak berkurang.

Danau Baikal dikelilingi oleh pegunungan. Ada juga pulau-pulau di dalam dan di sekitarnya, pulau terbesar adalah pulau Olkhon. Sepanjang 72 km, pulau Olkhon adalah pulau di dalam danau yang ketiga terbesar di dunia. Dengan keunikan dan keragaman landscape-nya, pulau ini menjadi tempat yang harus dikunjungi di Danau Baikal. Desa terbesar di pulau ini adalah Khuzir, dimana kami menginap dua malam di penginapan paling terkenal di sana, yaitu Nikita Homestead.

Melanjutkan cerita sebelumnya, dari St Petersburg perjalanan dilanjutkan dengan pesawat S7 ke Irkutsk. Penerbangan ini dilakukan pada malam hari, dan tiba besok paginya di Irkutsk, dengan transit di Moscow. Penerbangan St Petersburg ke Moscow hanya satu jam, dan tidak ada perbedaan waktu di antara keduanya. Kami tiba di bandara Irkutsk pukul 09.30. Perbedaan waktu Irkutsk dan Moscow/St Petersburg adalah 5 jam (lebih maju).

Bandara Irkutsk cukup sederhana, hanya ada beberapa ruang conveyor belt untuk pengambilan bagasi yang hanya dibuka ketika pesawat tiba dan ada petugas yang menjaga. Terdapat pusat informasi di sini, yang menjadi tempat pertama kami setelah selesai mengambil bagasi. Petugas informasi di sini tidak bisa bahasa Inggris, tetapi sangat ingin membantu. Ia mengeluarkan handphone-nya dan meminta kami mengetik di Google Translate. Dari sini kami mengetahui informasi bagaimana mencapai Khuzir.

Kami naik angkot nomor 20 dari bandara ke pusat kota, yang ternyata tidak jauh. Tarif naik angkot ini sebenarnya 12 rubel, tapi kami di-charge 50, karena membawa koper. Tak apalah daripada tidak diterima naik angkot, seperti angkot sebelumnya yang menolak kami.



Kami diturunkan di suatu tempat dimana kami masih harus berjalan kaki untuk mencapai stasiun bis. Sepanjang perjalanan ini kami melihat banyak rumah tradisional dari kayu dengan jendela yang cantik-cantik. Ketika diturunkan dari angkot nomor 20, kami agak bingung. Untunglah ada seorang pemuda (yang kemudian kami tahu bernama Roma) yang mengantar kami hingga ke stasiun bis. Bahasa Inggris dia juga terbatas, namun sudah cukup untuk menjadi penerjemah kami. Ia yang membantu kami membeli tiket minivan sampai Khuzir, dan juga ia memastikan kami naik ke minivan tersebut sebelum meninggalkan kami. Sungguh kami beruntung, karena selain menerima pertolongan di saat membutuhkan, juga minivan akan berangkat segera, kalau tidak salah waktu itu pukul 11 siang.

“Minivan Lokal” vs “Minivan Turis”

Perjalanan ke Khuzir memakan waktu 5-6 jam (sudah termasuk penyeberangan ke pulau Olkhon dengan ferry). Sepanjang perjalanan pemandangannya perbukitan yang tandus dan terlihat seperti kering/gersang. Kami baru tahu kemudian bahwa minivan yang kami tumpangi ini adalah angkutan penduduk lokal, maksudnya bukan yang biasanya digunakan turis. Pantas saja tarifnya murah, 475 (yang turis 800). Saya sempat khawatir jangan-jangan ini tidak sampai Khuzir (mengingat kendala bahasa serta tiketnya pun semua menggunakan bahasa Rusia). Tapi untunglah ternyata angkutan ini memang benar mengantar kami hingga desa Khuzir. Kami dimintai tambahan 125 untuk koper kami (karena ini bukan angkutan turis tadi), karena itu kami negosiasi untuk diantar hingga ke Nikita dengan tambahan tersebut. Pada saat pulang ke Irkutsk kami memesan minivan dari hostel dengan tarif 800. Minivan ini ternyata tempat duduknya lebih lega, tidak ada charge tambahan untuk koper, dan juga melewati rute yang berbeda dibanding “minivan lokal”.

Pada “minivan lokal” kami berhenti di sebuah “rest area” yang sangat eksotis dengan pemandangan pedesaan yang indah mirip New Zealand. “Warung” nya pun eksotis, rumahnya dari kayu dan menjual roti-roti daging serta minuman. Namun, toiletnya berada di luar rumah, dari kayu juga, dan… sangat horror. Toilet seadanya model begini juga saya temui nanti di pulau Olkhon, yang hanya terdiri dari sebuah lubang tempat pembuangan macam-macam barang. Tak ada flush, tak ada air, dan perlengkapan lainnya, sehingga di atas lubang itu masih berserakan benda-benda yang tak sedap dipandang mata. Sebaiknya siapkan peralatan penutup hidung daripada tidak pipis sepanjang 5-6 jam.

Perjalanan pulang ke Irkutsk dengan “minivan turis” melewati rute yang lain. Sepertinya rute ini lebih panjang dan melewati jalan-jalan yang lebih bagus (lebih perkotaan). Saya menduga “minivan lokal” kami itu mengambil jalan pintas, entahlah. Karena itu “rest area” dengan “minivan turis” juga lebih baik. Sebuah restoran dengan toilet yang decent. Jangan khawatir karena ternyata kami tidak perlu lagi menghadapi toilet horror di sepanjang perjalanan kami berikutnya.

Di resto inilah kami berkesempatan mencoba sop Rusia, yaitu Borscht atau Solyanka. Kedua soup ini sepertinya memang soup yang common, yang disediakan di resto-resto Rusia, yang dimakan bersama dengan roti. Kami pun melakukan hal yang sama, mencoba mengikuti apa yang dilakukan orang lokal. Saya lebih suka Borscht yang lebih segar dengan rasa asam, solyanka lebih creamy, namun saya sarankan untuk mencoba keduanya, karena resep kedua soup ini bisa bermacam-macam, sehingga resto yang berbeda mungkin akan memberikan rasa soup yang berbeda.



Nikita Homestead dan One Day Excursion pulau Olkhon
Nikita Guesthouse adalah penginapan pertama di desa Khuzir. Tak heran lokasinya amatlah bagus, di belakang Nikita ini mungkin salah satu tempat melihat view danau Baikal yang terbaik. Saya membayangkan mungkin dulu ketika Nikita baru membuka guesthouse ini, tempat ini begitu sepi dan misterius. Suasana mystical danau Baikal dengan segala keheningannya masih bisa terasa hingga di guesthouse. Tapi hari ini, guesthouse ini sangat ramai, kamarnya demikian banyak, begitu pula tamunya.

Saya membaca bahwa guesthouse ini selalu fully booked, karena itu kami merasa beruntung mendapat kamar di sini. Ketika tiba, kami diberitahu oleh petugasnya bahwa belum pernah ada orang Indonesia yang menginap di sini. Wow.. ah masa sih.. Berarti penulis blog yang saya baca tersebut tidak mendapat kamar di sini, tetapi mungkin dia hanya melihat dari luarnya saja, atau membaca tentangnya. Tidak seperti yang saya bayangkan, karena tempat ini cukup ramai. Kami berbarengan dengan rombongan dari Korea dan Cina. Pada makan malam hari pertama kami belum tahu bahwa kami sebaiknya datang early ke ruang makan, karena ternyata pada saat kami datang makan, banyak makanan telah habis. Soup berwarna merah (mungkin borscht) habis. Ikan omul yang menjadi juara di danau Baikal, habis juga. Kecewa sekali rasanya karena makanan enak merupakan satu hal yang sering ditulis orang tentang Nikita. Beruntung saya sempat menyapa bos Nikita pada sore tadi, sehingga ketika menyampaikan kekecewaan saya, sang pemilik Nikita ini langsung memerintahkan stafnya untuk menggorengkan ikan lagi buat kami. Walaupun ikannya seadanya, hanya digoreng buru-buru, tapi lumayanlah daripada tidak ada. Sejak itu kami selalu datang early di ruang makan, tidak ingin kehabisan lagi.

Di Nikita ini tarif menginap 1300 per person per malam, sudah termasuk makan pagi dan malam. Sepanjang hari disediakan kopi dan teh gratis. Makan malam biasanya ada salad, dan saladnya enak banget. Makan pagi yang kami temui seperti pancake, telur, dan.. di sinilah pertama kali berkenalan dengan bubur dengan susu kental manis. Pasalnya, salah seorang teman kami me-request “rice” karena sudah lama tidak makan nasi. Ternyata yang disebut “rice” atau pronounced “riz” dalam bahasa Rusia, ya itu: bubur dengan susu kental manis. Pada saat lain ketika kami hendak memesan nasi, kami tidak mengatakan “riz” karena kalau kita bilang riz keluarnya ya si bubur itu. Untunglah saya pernah memotret nasi beneran dan foto itulah yang biasanya kami jadikan alat untuk mengkomunikasikan maksud kami untuk memesan nasi.

Nikita, demikian pula penginapan lain, dapat membantu memesankan one day excursion, atau tour Pulau Olkhon (biaya 800 sudah termasuk lunch, tapi belum termasuk tiket masuk taman nasional 60). Dengan mobil semacam jeep buatan Rusia yang tangguh melewati jalan berpasir di pulau Olkhon, kita dapat menikmati view danau Baikal dari berbagai penjuru pulau Olkhon. Landscape-nya cukup beragam, vegetasinya khas, dan udara dingin walaupun matahari bersinar terik di atas. Yang paling mantap buat saya adalah makan siangnya. Makan siang ini dipersiapkan oleh Sergey, sopir jeep kami dengan peralatan seadanya seperti sedang camping. Siang itu Sergey memasak soup ikan. Kami menyantap soup itu bersama roti berwarna coklat yang dilapisi bongkahan keju yang cukup besar. Luar biasa lezat, sambil memandang danau Baikal yang biru dan tenang, sesekali sekawanan burung camar lewat di depan pondok tempat kami makan.

banyak yang meninggalkan kertas doa dan uang receh persembahan di sini.

      
Sore itu setelah excursion (selesai pukul 17.00), saya berjalan-jalan sendiri di “main street” desa Khuzir. Desa tak beraspal ini baru dialiri listrik tahun 2004, tapi saat ini terlihat cukup banyak penginapan, toko, café, dan supermarket. Sekitar 1500 penduduk mendiami rumah-rumah dari kayu di desa ini. Saya bertanya-tanya apa pekerjaan mereka sehari-hari di tempat yang jauh dan dingin ini.

Baca juga: 

Tuesday, August 11, 2015

Cantiknya St Petersburg

The breath taking Church of Savior on Blood

6 Juni 2015, pukul 12.49. Matahari sangat terik di St Petersburg. Suhu di HP saya menunjukkan angka 16 derajat Celcius. Saya duduk di McD Nevsky Prospekt, salah satu jalan utama yang paling penting di St Petersburg. Boleh diumpamakan seperti Champ Ellyse di Paris, tempat banyak café dan pertokoan, serta orang-orang yang berjalan di trotoar.
Hostel kami sendiri berada di Nevsky Prospekt, tinggal jalan kaki ke beberapa objek wisata. Saya malah bisa kembali tidur siang (I mean at 17.00), setelah capek jalan kaki, lalu keluar lagi di malam hari.

Melanjutkan cerita sebelumnya, dari Moscow (Москва) kami naik kereta malam ke St Peterburg (Санкт Петербург). Di sinilah kami pertama kali berkenalan dengan Russian Railway, semacam PT KAI-nya Rusia, yang kemudian akan menjadi teman akrab kami dalam perjalanan ini. Semua tiket kereta sudah kami pesan sebelumnya, dan berbeda dengan yang saya baca di blog-blog orang, pemesanan tiket secara online ini sama sekali tidak ribet. Mungkin dulu sistemnya masih belum canggih sehingga kita harus melakukan registrasi di stasiun kereta, tetapi kini yang kami alami, sangat convenient dan efficient. Nama kita sudah dicatat berdasarkan gerbong, ketika kita datang tinggal menunjukkan paspor.

Gerbong paling murah (biasanya paling belakang) kalau gak salah kelas tiga, adalah gerbong tanpa kompartemen. Kami di gerbong 16, masih beruntung dapat tempat walau agak terpisah-pisah sedikit, karena sepertinya bulan Juni itu high season di sini. Ada sekitar 50an bed dalam satu gerbong yang disusun per empat bed yang saling berhadapan kemudian dua bed di pinggir aisle. Bed yang atas agak tinggi, untunglah saya bisa memanjat. Pertama kali kami terpesona, tapi lama-lama kami jadi sangat familiar dengan kereta seperti ini.

Kereta dari Moscow ke St Petersburg berangkat dari stasiun Leningradsky. Stasiun kereta ini bisa dicapai dari MRT Komsomolskaya, tinggal berjalan kaki. Di MRT Komsomolskaya ini ada tiga stasiun kereta, yaitu: Leningradsky, Yaroslavsky, dan Kazansky (nanti kita akan ke sini ketika naik kereta Trans Siberia). Website Russian Railway terkadang agak membingungkan, untunglah ada staf hostel kami yang sangat membantu dan informative dalam hal ini.

Tiba di St Peterburg di stasiun kereta Moskovsky. (alias Moscow. Di Moscow stasiunnya Leningradsky. Leningrad adalah nama lain St Petersburg). Dari stasiun ini tinggal berjalan kaki ke Nevsky Prospekt. Kami check in dulu, naruh barang, mandi, dll, sebelum meng-explore kota yang cantik ini.

Hermitage, Church of the Savior on Blood, Kazan Cathedral


Hermitage yang megah di sisi Sungai Neva
St Petersburg memang kota yang cantik. Suasananya berbeda dengan Moscow yang kerasa banget suasana metropolis, sementara di sini lebih terasa nuansa touristiknya. Mungkin karena kami lebih banyak menghabiskan waktu di Nevsky Prospekt dan sekitarnya. Di sini memang sangat dekat dengan sebagian besar objek wisata penting seperti Hermitage, Church of the Savior on Blood, Kazan Cathedral, St Isaac Cathedral, dan juga sungai Neva.

St Petersburg sering disebut “Venice of the East”, karena ternyata, bentuknya berkanal-kanal juga. Kalau dilihat di peta, sungai Neva membagi kota ini dan juga ada banyak sungai-sungai kecil lainnya. Tidak sebanyak Venice mungkin, tapi ada pulau-pulau yang cukup besar di Gulf of Finland, menjadikan kota ini unik secara geografis.

Pada musim panas, St Petersburg berpesta merayakan malam yang terang (White Night). Ada juga pertunjukan “opening bridge” di Sungai Neva pada pukul 01.30 midnight, dimana ada jembatan-jembatan yang membuka dan kita melihatnya dari kapal, atau melintasinya. Atraksi ini menjadi salah satu jualan pariwisata di sekitar sungai Neva. Kami beruntung datang ke sini pada saat malam minggu (atau jangan-jangan setiap malam begini?) karena sepertinya kota ini tak pernah tidur. Pukul 03.00 pagi masih banyak mobil lewat di Nevsky Prospekt dengan musik berdentum-dentum dari mobil mereka.

Benar-benar kota yang menyenangkan. Belum lagi objek-objek wisata yang tadi saya sebutkan, semuanya bagus-bagus. Breath taking. Worth visiting.

Berikut ini saya share beberapa biaya yang mungkin berguna bagi Anda yang sedang merencanakan perjalanan:
  •    Tiket masuk Hermitage: 600
  •      Tiket masuk Church of Savior on Blood: 250
  •       Boat Cruise: 900
  •      Naik bus: 28
  •      Hostel: 450
  •     Taksi ke airport: 600 (pake Yandex, semacam Uber)


Baca juga: 

Thursday, August 06, 2015

3 Hal Tentang Moscow


5 Juni 2015. Saya terbangun pukul 05.30 di bunk bed Moscow Home Hostel. Sepagi itu udah bangun, mungkin masih masa adaptasi, karena kalau di Jakarta itu sudah pukul 09.30. Pagi itu handphone saya menunjukkan suhu 8 derajat Celcius. Agak siangan sekitar pukul 8, suhu sudah naik menjadi 12 derajat Celcius.

Pada saat sarapan di dapur hostel kami berkenalan dengan Sergey dari Belarusia, Constantine dari Altai, dan Jafar dari Afganistan. Mereka bertiga berbahasa Rusia, dan tidak seperti traveler yang sering kami temui di backpacker hostel. Memang sejak tiba kami merasakan ada yang berbeda dengan hostel ini, dimana sepertinya yang menginap juga ada orang yang bekerja, tidak hanya traveler. Suasana pagi itu jadi seru dengan tiga laki-laki yang mencoba berkomunikasi dengan tiga perempuan tanpa bahasa pemersatu. Kami tidak bisa bahasa Rusia, mereka tidak bisa bahasa Inggris. Google Translate pun hadir membantu, selain bantuan Jafar dari Afganistan yang lebih fasih bahasa Inggris dibanding yang lain. Entahlah bagaimana ceritanya mereka bisa berada di Moscow, agaknya masalah bahasa membuat kami memilih topik yang lebih mudah saja, seperti destinasi wisata.

Kemarin, setelah mendarat dengan selamat di bandara Sheremetyevo, kami menumpang kereta cepat bandara Aeroexpress hingga ke pusat kota. Sesampai di kota, kami berjalan sedikit ke stasiun MRT Bellorusky, dari sana naik MRT menuju stasiun Park Kultury, untuk menuju ke hostel. Saya baru tahu di sini nama stasiun MRT adalah nama exit. Jadi satu stasiun yang sama bisa memiliki nama yang berbeda karena dinamai dengan nama pintu keluar (exit)-nya.

Inilah hal pertama tentang Moscow yang ingin saya ceritakan, yaitu tentang stasiun-stasiun MRT-nya. Selain perkara pintu exit tadi, MRT Moscow menurut saya sangat keren, karena mereka memiliki satu jalur yang melingkar/memutar (jalur coklat) yang tersambung dengan hampir semua jalur yang lain. Di tengah-tengah jalur coklat ini, atau sama dengan di tengah-tengah kota Moscow, terletak istana Kremlin.

Ini adalah hal kedua yang ingin saya ceritakan, yang menurut saya merupakan fakta yang unik tentang kota metropolitan ini. Red Square (Lapangan Merah) tempat museum Kremlin serta istana Kremlin ini berada persis di tengah-tengah kota. Pusat kekuasaan ini memang dibangun di sisi sungai Moskva, yang menjadi asal muasal nama kota Moskva (Moscow), dari sinilah kota dibangun selama bertahun-tahun, berabad-abad, hingga saat ini menjadi salah satu metropolitan paling padat dengan jumlah penduduk lebih dari 12 juta.

Mall mewah di dalam kompleks Kremlin Moscow

Kami telah mengunjungi Red Square pada hari pertama kami tiba. Perjalanan dengan Aeroexpress + MRT + jalan kali, tak terasa sudah pukul 19.00 ketika tiba di hostel. Kami mulai jalan sekitar pukul 20.00, untung hari masih terang. Kami menyusuri Arbat Street, sepanjang jalan banyak menanyakan arah kepada orang-orang. Kami berjalan kaki dari hostel hingga Red Square, lumayan bikin kaki gempor, tetapi sambil jalan sambil foto-foto, jadi tidak terasa.

Pada hari kedua, kami kembali lagi ke Kremlin, kali ini naik MRT. Kembali lagi ke hal pertama tadi, pengalaman naik MRT di Moscow memang sesuatu banget. Jangan sampai kamu tidak mencobanya. Nama-nama stasiun MRT dengan huruf Rusia, cukup membingungkan, jalur yang berbeda dengan warna yang berbeda di peta sehingga kita sebaiknya bertanya untuk memastikan kita tidak salah jalur atau salah arah. Beberapa stasiun MRT juga memukau dengan kemegahannya, tiang-tiang yang besar serta patung-patung perunggu.

Setelah puas dengan museum Kremlin, kami naik boat menyusuri Moskva River. Sore ini kami sudah harus bergegas ke stasiun kereta, untuk naik kereta malam menuju St. Peterburg. Cepat sekali ya harus berpindah kota, namun jangan khawatir, karena pada hari terakhir kami masih akan kembali ke Moscow, dan masih punya satu hari untuk menikmati keindahan kota ini.

Which bring us to hal ketiga yang ingin saya ceritakan di sini, yaitu Pasar Ismaylovo. Di hari terakhir (setelah naik kereta Trans Siberia selama 4 hari) kami memilih berbelanja di Pasar Ismaylovo yang menjadi pusat souvenir dan barang antik. Oleh-oleh Rusia yang paling populer, tentu saja adalah boneka Matrioska, boneka kayu yang digambar gadis cantik dengan ukuran kecil hingga besar. Ada yang berisi 5, 7, bahkan 12. Selain itu ada juga tempelan kulkas, kaos, dan lain-lain.

Sebenarnya di Arbat Street (ini jalan yang menarik dan wajib dikunjungi!) kita juga bisa membeli souvenir, tetapi di Ismaylovo mostly harga lebih murah dan bisa ditawar. Mereka juga ternyata sudah sangat familiar dengan pembeli dari Indonesia. Sebagian beragama Islam, dan ketika tahu kami dari Indonesia, pertanyaan mereka yang pertama adalah “Are you Moslem?”

Tulisan di sisi tanda panah itu bacanya: Kremlin Izmaylovo


Salah satu pedagang itu bernama Abdul Azis. Dia bisa menghitung dan tawar-menawar dalam bahasa Indonesia. Karena itu tawar-menawar pun rasanya lebih santai dan bisa sambil bercanda. Azis juga menjual boneka Matrioska bergambar presiden Jokowi dan presiden-presiden sebelumnya dalam boneka-boneka yang lebih kecil. Dia memberi alasan mengapa membuat boneka Jokowi, katanya semua orang Indonesia suka Jokowi, makanya mereka membuat bonekanya. Hmm, dalam hati kami berkata, iya, mungkin, pada waktu itu. Sekarang, entahlah.

Itulah a glimpse of Moscow, kota metropolitan yang sibuk tempat berjuta orang yang berbeda-beda mencari nafkah dan mengejar impian. Kota ini juga kaya dengan sejarah serta tempat-tempat wisata historis. Tempat-tempat yang kami kunjungi adalah Red Square, Museum Kremlin, Gereja Katedral Basil, Arbat Street, Moscow River Boat Cruise, dan pasar Ismaylovo.

Di bawah ini saya share biaya-biayanya, barangkali berguna untuk Anda yang sedang merencanakan perjalanan:

  •     Aeroexpress train dari bandara ke kota: 470
  •    Tiket MRT sekali jalan: 50
  •   Tiket masuk Kremlin: 500
  •     Tiket masuk gereja Basil: 350
  •      Boat Cruise Moskva River: 500
  •      Makan di Glow Sub (semacam Subway): 250
  •      Hostel: 490
Baca juga: