Google+ Followers

Thursday, May 21, 2015

Weekend Getaway: Kawah Ijen

Panorama Kawah Ijen

I miss this kind of trip: mendadak, just over the weekend, tidak perlu cuti, tidak mahal, bahkan sometimes tidak tidur saking short trip-nya. A bit crazy too kalau Anda baca terus cerita ini.

Salah satu weekend pas bulan puasa tahun 2013, tim kami berkumpul lagi bersama si Ijo yang pernah membawa kami ke Bromo dan Ranu Kumbolo serta perjalanan pantai Selatan.

Kami terbang dari Jakarta ke Surabaya hari Jumat malam. Di sana teman kami sudah menjemput bersama si Ijo. Sekitar tengah malam perjalanan dimulai dari bandara Surabaya, melewati Paiton menuju jalur Pantura, ke arah Banyuwangi via Situbondo. Di sana tertulis Banyuwangi 254 km, Bromo 81 km.

Pukul 3 pagi kami mampir di sebuah warung dekat Pantai Pasir Putih Situbondo, warung tepi pantai yang buka jam segini. Ngantuk terutama, bukan lapar, yang mengharuskan kami singgah, terutama untuk sang sopir. Kami pun minta sesuatu yang hangat-hangat, dan kebetulan pemilik warung bisa membuatkan rawon buat kami di tengah malam itu.

Malam itu kami menumpang beristirahat di warung tersebut. Pak sopir kami sudah tidur lelap dengan segera. Kami cewek-cewek masih struggling dengan tempat yang bisa buat rebahan di warung sederhana itu. Yah mau gimana lagi, kami pun berseloroh. Kayaknya tidur di mana aja kita udah pernah. Tidur di airport mungkin udah gak ada apa-apanya, di pinggir pantai di sebuah pondok terbuka waktu di Drini, di warung orang dan dilewatin kucing pun sudah pernah!

Saya gak bisa tidur, pukul 6 kami sudah bangkit dan menuju Pantai Pasir Putih untuk foto-foto. Pantai Pasir Putih adalah salah satu obyek pariwisata di Situbondo, yang berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Surabaya. Letaknya strategis di jalur Pantura antara Surabaya dan Banyuwangi. Pagi itu pantai masih sangat sepi, belum terlihat banyak aktivitas.

Setelah itu perjalanan dilanjut, namun tak lama kemudian si Ijo mogok. Kami menunggu teman kami menelepon mekanik. Sambil menunggu mekanik datang tersebut saya malah terlelap di jok belakang mobil jeep. Serasa tidur di resort dengan jendela yang menghadap pantai.

Taman Nasional Baluran

Sekitar jam 8 mekanik datang. Enak juga di sini pun bisa menemukan mekanik handal yang bisa mengatasi Land Cruiser tahun 80-an itu. Sekitar jam 11 kami tiba di Taman Nasional Baluran.


Harian Kompas pernah menyebut tempat ini Africa van Java. 40% wilayah taman nasional ini terdiri dari savanna, dan iklim-nya cenderung kering. Ketika kami ke sana, cuaca sangat panas dan langit biru sangat cerah. Pemandangan yang dilihat teramat indah dengan background gunung api yang sudah tidak aktif lagi, gunung Baluran (1,247 m).


Terdapat 444 jenis spesies tanaman di taman nasional ini serta 26 jenis mamalia. Kami beruntung melihat banteng dari kejauhan serta banyak rusa Jawa. Pukul 12.30 kami meninggalkan Baluran dan melanjutkan ke Banyuwangi. Kami makan siang di pantai Banyuwangi sekitar pukul 14.00. Dari pantai ini kita bisa melihat pulau Bali.





Sekitar pukul 15.30 kami jalan dari Banyuwangi menuju Kawah Ijen. Pukul 17.00 mendekati Paltuding kabut sangat tebal sampai tak bisa melihat jalan. Teman saya yang baru beli Samsung Galaxy S4 terbaru waktu itu mencoba melihat melalui kamera HP-nya agar bisa melihat lebih jelas di tengah kabut tebal.




The magnificent Kawah Ijen

Kami tiba di Paltuding pukul 18.00an. Syukurlah telah berhasil melalui kabut tebal. Sesampai di sana masih misty afternoon menjelang malam. Kami makan indomie di sebuah warung. Kami juga memesan salah satu guesthouse/pondok di sana yang disediakan untuk pengunjung sebelum trekking ke Kawah Ijen. Saat itu cukup dingin dan gelap (listrik sangat minimal). Kami mencoba tidur sekitar pukul 20.00.

Trekking ke Kawah Ijen biasanya dilakukan pada tengah malam. Karena ingin melihat blue fire biasanya pukul 3 pagi. Trekking sekitar 2 jam untuk mencapai kawah, lalu dibutuhkan 45 menit lagi untuk turun ke tempat Blue Fire. Di sini medannya agak sulit, apalagi gelap dan bebatuannya tidak rata.

Kawah Ijen terletak di sebelah barat Gunung Merapi, tingginya 2,799 m. Jadi cukup dingin di sini. Di atas kawah ada sebuah danau kawah berwarna turquoise yang indah, di sekitar sinilah tempat penambangan sulfur/belerang. Ini salah satu fenomena yang sering ditulis ketika orang-orang mengunjungi Kawah Ijen. Para pekerja yang mendapatkan upah sekitar 50,000 – 75,000 per hari untuk mengambil belerang dari kawah dan membawahnya ke Paltuding untuk mendapatkan upah.

Penambang Belerang Kawah Ijen

Sewaktu kami datang upah untuk 1 kg Rp 780. Dalam sekali pikul bisa membawa 70-90 Kg. Satu hari bisa 2-3 kali bolak-balik. Kami sempat melihat tempat penimbangan belerang di sini. Belerang yang berwarna kuning itu terlihat ringan, tapi coba deh kamu angkat.. lebih berat dari batu.

Menjelang sunrise kami duduk di sebuah tempat tak jauh dari danau, di puncak gunung di mana kita bisa melihat pemandangan lembah di bawahnya. Di sini kami menunggu matahari muncul dari tempat tidurnya. Saya tertidur sambil duduk di atas puncak gunung. Untung tidak menggelinding ke bawah.

It was magnificent. Saat mulai terang, kami melihat pemandangan landscape Kawah Ijen yang luas, yang satu-satu mulai terlihat kecantikannya. Beberapa turis asing bertemu dan menyapa kami di sini. Di antaranya dari Perancis, mereka menuturkan tentang betapa hebatnya tempat ini serta mereka melihatnya di televisi di negara mereka.

salah satu pemandangan waktu trekking Kawah Ijen

Sekitar jam 6 kami trekking turun kembali. Tiba kembali di Paltuding pukul 9. Satu jam kemudian kami meninggalkan Paltuding. Kami lewat Bondowoso, untuk menuju Sidoarjo.

Tiba di Sidoarjo sekitar pukul 16.00. Kami mencari rujak cingur yang terkenal di Tanggulangin. Dan ternyata setiba di sana ternyata tutup, karena bulan puasa. Dan di situlah si Ijo mogok lagi. Sekarang masalahnya kopling masuk angin. Dan yang luar biasa, kebetulan mobil itu mogok di depan rumah seorang pemilik bengkel alias montir. Setelah dibenerin montir tersebut, si Ijo pun jalan lagi.

Kami mampir beli oleh-oleh di Sidoarjo ketika si Ijo ngadat lagi. Akhirnya kami singgah di tempat makan rujak cingur yang terletak di pinggir jalan, di tempat yang pernah kami singgahi persis pada bulan puasa tahun sebelumnya. Karena mobil masih tersendat-sendat/belum lancar, teman kami memutuskan untuk mampir di sini sambil mencari solusi.

Di sana sudah tidak jauh dari Bandara Sidoarjo (Surabaya). Tanpa terasa tiba sudah saatnya kami mengakhiri trip dan berpisah. Sejak itu lama kami tidak bertemu lagi dengan si Ijo…


Tuesday, May 19, 2015

5 Kota Kecil Nan Cantik di New Zealand

Kota-kota kecil yang kami lewati dalam Road Trip New Zealand sempat menarik perhatian kami, bahkan mencuri hati kami. Tiap kali lewat kota-kota ini timbullah khayalan tentang betapa permainya hidup di sini. Ini adalah beberapa kota pilihan saya:

1. Bleinheim
Bleinheim ini kota terbesar di wilayah Marlborough di Pulau Selatan, tempat yang terkenal dengan produksi wine terbesar di seluruh New Zealand. Di sekitar sini paling banyak bisa ditemukan perkebunan anggur, dan menikmati iklim yang paling cerah di NZ. Tak jauh dari pusat kota ini ada sebuah bandara (bukan internasional), Marlborough Airport yang merupakan bandara regional yang cukup sibuk karena Bleinheim menjadi pusat industri anggur.

2. Geraldine
Dalam bahasa Maori, Heratini, Geraldine berada di wilayah Canterbury di Pulau Selatan. Sekitar 140 km di selatan Christchurch, kota ini menyajikan suasana kota kecil yang menyenangkan, dengan hutan-hutan tua yang masih dipelihara, serta ada juga pusat-pusat seni dan kerajinan. Ternyata dulu Geraldine pernah bernama Talbot Forest, serta FitzGerald. Di sini juga cukup banyak penginapan karena telah populer sebagai tujuan wisata serta banyak juga obyek wisata tak jauh dari kota ini.

3. Glenorchy
Kota yang mistik dan sendu ini terletak di ujung utara Lake Wakatipu di Pulau Selatan, tepatnya di wilayah Otago. Kota ini hanya 45 km dari Queenstown, tempat kami menginap. Kecantikan dan suasana Glenorchy yang unik menjadikannya lokasi syuting beberapa film terkenal seperti Lord of The Rings, Vertical Limit, X-men Origins: Wolverine, dan The Chronicles of Narnia: Prince Caspian. Pemandangan di sekitar sini memang bagus-bagus, tak jauh dari sini juga ada kota bernama Paradise.

4. Arrowtown
Arrowtown di musim gugur, seperti inilah wajahnya ketika kami datang. Source: Arrowtown.com
Arrowtown ternyata adalah kota yang historis karena dulunya adalah kota pertambangan emas, terletak di wilayah Otago di Pulau Selatan New Zealand. Kota ini juga tak jauh dicapai dari Queenstown serta merupakan salah satu destinasi wisata populer juga. Mereka juga punya official website www.arrowtown.com.

5. Queenstown
Queenstown di winter, seperti inilah wajahnya ketika kami datang. Source: Queenstown.com

Queenstown, kota tempat kami menginap dua malam ini, mungkin adalah yang terbesar dibanding kota-kota di atas. Kota ini sudah menjadi kota resort serta menyediakan banyak tujuan wisata komersial, seperti Shotover Jet, dan Bungee Jumping yang terkenal di Sungai Kawarau.

Dalam bahasa Maori Tahuna, kota ini berada di wilayah Otago di pulau Selatan New Zealand. Kota ini dibangun di sekitar teluk Queenstown yang menjadi bagian dari Lake Wakatipu, danau yang memanjang berbentuk Z di bawah beberapa pegunungan terkenal, di antaranya The Remarkables, Cecil Peak, Walter Peak, dan Quenstown Hill yang persis di atas kota Queenstown. Kota ini adalah kota ketiga terbesar di wilayah Otago setelah Dunedin dan Oamaru. Official website: www.queenstownnz.co.nz/

Baca juga: Road Trip New Zealand (Catper)

Friday, May 15, 2015

Manisnya Anggur New Zealand

Kesempatan bepergian ke suatu negara adalah kesempatan yang baik untuk mengenal negara tersebut. Saat ini informasi demikian mudah untuk didapat, jadi pada saat yang sama dengan kita bepergian, adalah kesempatan yang baik untuk kita mendapat informasi tambahan tentang tempat yang kita kunjungi sehingga lebih bermakna dan mudah menempel dalam ingatan.

Negara Selandia Baru sering dikatakan sebagai negara yang populasi dombanya melebihi populasi manusia. Total penduduk negeri Kiwi ini hanya 4 jutaan, dan sebagian besar tinggal di kota-kota besar seperti Auckland, Wellington, Hamilton, Christchurch. Sisanya, negara ini dipenuhi pemandangan pedesaan yang indah, kota-kota kecil nan cantik, serta peternakan dan perkebunan anggur. Selain sepanjang negara ini dipenuhi topografi yang unik, ada gunung, danau, pantai, yang memberi kekuatan pada pariwisatanya. Suatu negara yang demikian unik!

Anggur Selandia Baru, saya highlight di sini, karena ternyata tidak hanya perkebunannya yang menambah pada keindahan alam di sini, serta manisnya anggur merah yang bisa kita dapatkan di berbagai penjuru di sini, ternyata anggur juga memegang peranan penting dalam perekonomian New Zealand. Betapa tidak, seperti dikutip dari The Economist, industri anggur di sini telah menjual 1 milyar gelas wine di 100 negara.

Pemandangan yang menyenangkan di supermarket, Wellington.


Tak pelak, anggur adalah bisnis yang serius di sini. Pada tahun 2007, anggur telah mengatasi wol dalam urutan komoditas ekspor New Zealand. Komoditas lain yang merupakan unggulan ekspor negara ini seperti daging sapi, lamb, perikanan, serta buah-buahan. Nah, ketika di sana, jangan sampai melewatkan kesempatan mencoba komoditas-komoditas ini. Karena selain segar dan berkualitas, harganya juga lebih murah dibanding kita beli di Indonesia (produk impor).

Walaupun paling dominan di daerah Marlborough, ternyata perkebunan anggur membentang dari ujung utara hingga selatan New Zealand. Coba google New Zealand wine map. Tujuan utama ekspor wine ini adalah negara-negara besar seperti Amerika, Australia, dan China. Produksi terbesar adalah tipe Sauvignon Blanc. Harga rata-rata di market adalah 13 AUD.

Source: New Zealand Winegrowers Annual Report 2014

Sayangnya, tidak sempat wine tasting di sini, serta sayangnya tidak bisa saya bawa pulang. Namun cukup bersyukur telah mengecap manisnya anggur Selandia Baru di tempatnya.

Baca juga:




Tuesday, May 12, 2015

Backpacker Hostel Pilihan Kami di New Zealand

Bumbles Backpacker Queenstown

Sejak mulai travelling ala backpacker, saya pun mulai familiar dengan backpacker hostel. Ini adalah pilihan yang masuk akal ketika kita bepergian ke negara-negara maju khususnya yang biaya hidupnya sangat tinggi. Biaya hotel pun sangat mahal, apalagi karena kita seringkali hanya sebentar di hotel, tiba sudah malam serta keesokan paginya sudah berangkat.

Hostel backpacker di New Zealand rata-rata sama seperti hostel backpacker lainnya di seluruh dunia. Tersedia kamar-kamar dorm, ada yang dipisahkan antara wanita dan pria, ada juga yang mixed. Selain dorm, seringkali ada juga private room, tapi mostly hanya satu atau dua kamar, dan tentu saja lebih mahal daripada dorm. Untuk dorm di sini, rata-rata harga per person sekitar Rp 300 ribu.

Karena itu tidak usah mengharapkan kenyamanan seperti hotel. Kasurnya seringkali tipis sehingga bila ada yang memberikan kasur empuk pasti langsung akan di-mention di TripAdvisor. Kamar mandi pun seringkali berada di luar kamar, jadi cukup sedikit ruang untuk pribadi, sebagian besar menyediakan ruang duduk untuk digunakan bersama-sama.

Yang menurut saya unik dan menonjol dari hostel-hostel yang kami inapi di NZ ini, adalah dapurnya! Kebanyakan memiliki dapur yang sangat luas, kitchen set yang besar-besar, serta peralatan memasak dan makan yang lengkap. Mulai dari panci, kuali berbagai ukuran, penggorengan, talenan, piring, mangkok dan sendok garpu serta gelas, semua tersedia.

Dapur yang lengkap ini biasanya juga digunakan secara maksimal. Di hostel-hostel yang kami inapi, mostly traveler memasak. Ada yang jago masak seperti teman kami, tapi ada juga yang hanya masak mie instan. Dapur menjadi tempat pertemuan kita dengan traveler-traveler dari berbagai negara, banyak wajah-wajah Barat namun ada juga dari Asia seperti dari Taiwan, China, maupun Korea.

Karena ini adalah public area, maka aturan-aturan untuk kenyamanan bersama pun banyak tertempel di dinding. Misalnya, semua yang menggunakan peralatan dapur harus mencuci sendiri. Semua harus diletakkan sesuai dengan tempat yang telah ditentukan.

Di dapur-dapur itu juga biasanya tersedia rak-rak tempat para penghuni “kos-kosan” menyimpan barang mereka. Selain di kulkas, ada juga rak yang disediakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti roti tawar, mie instan, bumbu masak, minyak goreng, dll. Biasanya tertulis nama pemilik serta duration stay di hostel. Bila pemilik tersebut sudah check out, biasanya bahan makanan miliknya bisa digunakan oleh yang lain. Kita juga sering menggunakan sedikit bumbu masak milik orang lain, serta meninggalkan punya kita pada hostel terakhir yang kita tinggalkan.

Ups, kasih tahu gak ya..

Selain dapur, satu hal lagi yang unik mengenai hostel-hostel ini adalah… hmmm kasih tahu gak ya…
Jadi ada salah seorang teman kami yang kebetulan bisa melihat “penampakan”. Masalahnya, kami diceritain pula! Bahkan di-describe, hantunya wanita berpakaian ala zaman Victoria… nah lho.. orang Inggris kali ya yang dulu datang ke Selandia Baru.

Tenang saja, saya tidak akan kasih tahu yang mana yang ada hantunya. Di bawah ini saya berikan daftar backpacker hostel pilihan kami di kota-kota yang kami singgahi, lengkap juga dengan harganya pada saat kami beli. Silakan kamu tebak sendiri ya mana yang ada penampakan dan mana yang enggak.. hehehhe

Tiki Lodge Lake Taupo

   
1. Tiki lodge Lake Taupo (Foto kedua, dok pribadi), Rp 312.300

“Highly recommended, good choice!”
I like the atmosphere here. It's quite and has an ambiance for adventure and outdoor activities. And I especially like the kitchen, and there's a stove for barbeque.. We really enjoyed our stay here :) -- There's also a supermarket nearby where you can get fresh fruit and vegetables.

2.    Dwellington, Wellington, Rp 260.000

3.    Noah Backpacker, Greymouth, Rp 250.000

4.    YHA Te Anau, Rp 292.000

YHA singkatan dari Youth Hostels Association, merupakan jaringan internasional yang pertama kali berdiri di Jerman, serta banyak cabangnya di negara Eropa , dan kemudian juga di Australia dan New Zealand. Di NZ sendiri sejak berdiri tahun 1932 sekarang mengoperasikan 17 hostel, bekerja sama dengan Hosteling International. Hampir di setiap kota pariwisata akan ada YHA-nya, kita juga bisa mendaftar menjadi member untuk mendapatkan fasilitas khusus member YHA. Salah satu fasilitas yang penting di sini adalah Free Wifi. Jadi kalau kita menginap di YHA dan bukan member, kita tidak dapat free wifi. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

5.    Bumbles Backpackers (foto pertama, dari website Bumble), Rp 322.700

Bagi saya Bumbles ini adalah yang terbaik karena lokasinya yang dekat banget dengan pusat keramaian, serta memberikan view danau yang spektakuler.

Ini review saya di Google:

“One of the best backpacker hostel i've stayed in New Zealand. Highly recommended for the nice location and the affordable price.”

6.    YHA Lake Tekapo, Rp 322.700

7.    Bounce Sydney, (harga hampir sama kok, 300-an juga, sorry catatan hilang :D)
Selain lokasinya yang oke banget (Dekat Central Station), Bounce memiliki ruang publik yang sangat luas, terdiri dari sofa-sofa nyaman, ada yang indoor dan outdoor (bagi yang mau merokok). Malam hari tempat ini bisa berubah menjadi semacam pub hahaha.

Baca juga:

Thursday, May 07, 2015

NZ Trip (8): Day 8 - 10: Mount John Observatory, Christchurch, Sydney

Hari kedelapan kami terbangun di YHA Lake Tekapo, hostel di pinggir danau yang memberi pemandangan danau biru yang damai. Pagi ini cerah sekali, setelah semalam turun salju. Kami sempat menyaksikan salju itu turun dari jendela kamar dorm kami.

Mobil sewaan kami yang terparkir di depan hostel tertutup salju yang cukup tebal. Teman kami memasak air dan menyiramkannya agar salju bisa dibersihkan dari mobil. Pagi ini kami mampir sekali lagi ke chapel Church of the Good Sheperd yang sangat dekat dari hostel, karena kemarin belum puas foto-fotonya.

Dari sini kami menuju Mount John University Observatory (MJUO). Suhu saat itu nol derajat, walaupun dingin tapi tetap saja semua jaket dilepas ketika berfoto agar tampak lebih bagus.

Berpose di Mount John University Observatory

MJUO ini sebenarnya tempat observatory luar angkasa, tetapi kita bisa naik ke sini (tidak perlu masuk ke observatory-nya, lagian waktu kami juga tidak cukup). Tanpa biaya alias gratis, kita bisa menikmati pemandangan yang indah di sini. Dari atas sini kita bisa memandang Lake Tekapo serta Church of the good Sheperd dari kejauhan.

Christchurch, Here We Comes

Walaupun masih berat rasanya, kami harus meninggalkan tempat yang indah itu, daerah Mount Cook dan sekitarnya memang memanjakan mata, entah kenapa kayaknya keindahan itu gak ada habisnya. Berapa GB memory card untuk kamera yang kamu punyai, rasanya gak akan cukup. Sampai di sini, beberapa dari kami sudah harus menghapus foto-foto yang kurang bagus untuk memberi ruang foto yang baru, walaupun memory card yang dibawa sudah cukup banyak.

Sekitar pukul 12.30 kami memulai perjalanan menuju Christchurch, kota persinggahan kami yang terakhir. Sepanjang perjalanan ini cuaca cerah, langit tak berawan sama sekali. Pukul 16 kami sudah tiba di Christchurch, kota yang sangat terdampak gempa bumi pada tahun 2011.

Di sana-sini masih terlihat pembangunan besar-besaran yang dilakukan untuk memperbaiki dampak gempa bumi tersebut. Dari desa kami masuk ke kota, mulailah kembali ada lampu merah, jalan-jalan yang besar, lalu lintas yang lumayan ramai, bahkan sedikit macet.

Christchurch adalah kota terbesar di Pulau Selatan serta merupakan kawasan urban terbesar di Selandia Baru setelah Auckland. Di sini terdapat bandara internasional, tempat kami akan menaiki pesawat menuju Sydney.

Kami masih punya waktu beberapa jam, karena itu kami memutuskan untuk mengunjungi Christchurch Botanical Garden, karena kota ini terkenal juga sebagai Garden City. Setelah itu kami sempat juga muter-muter kota berhubung bensin yang kami isikan ke mobil sewaan masih penuh, sementara sebentar lagi mobil sudah harus dikembalikan ke Omega Rental. Bensin di sini harganya 2,17 – 2,25 NZD per liter. Sekali ngisi biasanya sekitar 60 NZD, total perjalanan ini kami 9 kali mengisi bensin.

Kami didrop di airport pukul 21.30 bersama semua bawaan, lalu kedua teman kami mengembalikan mobil ke Omega dan menumpang bis ke airport. Sebelum ke airport kami masih sempat makan Fish and Chips di sebuah restoran yang dibuka oleh orang Korea. Selamat tinggal Middle Earth…

Beruntung di Sydney


Kami tiba di Sydney pukul 10 pagi, karena ada delay Jetstar Christchurch-Sydney. Pukul 11 kami check in di Bounce, hostel yang terletak tak jauh dari Central Station. Hari ini adalah hari Sabtu, suasana Sydney di pusat kota maupun kemudian di tempat-tempat wisata cukup ramai. Bagaikan orang yang baru datang dari desa, mata kami perlu penyesuaian dari tempat yang sepi ke tempat yang ramai.

Setelah menaruh barang, kami pun jalan ke Mainly Beach. Untuk mencapai Mainly Beach bisa naik ferry dari Circular Quay. Tarif ferry 14,80 AUD PP, lama perjalanan sekitar 30 menit. Hari ini kami beruntung karena sedang ada Food and Wine Festival di sana.

Malam itu keberuntungan kami berlanjut karena di pusat kota Sydney sedang digelar Vivid Sydney. Acara tahunan ini akan kembali digelar tanggal 22 Mei tahun ini. Foto di atas diambil dari vividsydney.com.

Sydney Opera House yang menjadi icon Sydney akan disulap menjadi teater pertunjukan lampu, dengan berbagai ide yang mentransformasikan bangunan tersebut menjadi berbeda dari bentuk aslinya.

Pertunjukan lampu dapat dinikmati di Circular Quay atau sekitarnya, yang ditembakkan pada gedung-gedung bertingkat di sana. Di seluruh pusat kota banyak sekali acara, pertunjukan seni, serta pameran seni rupa, sehingga malam itu seolah seluruh penduduk Sydney keluar semua. Tumpah-ruah. Sejak sore hari jalan-jalan utama telah ditutup untuk kendaraan, sehingga lautan manusia bebas berjalan di antara gedung-gedung perkantoran. Wow, kapan lagi bisa berjalan-jalan sambil foto-foto seenaknya di jalanan utama Sydney?

Keesokan harinya saya bangun pukul 7. Berbeda dengan di New Zealand, pukul 7 di sini sudah terang. Hari ini masih ada waktu untuk mengunjungi beberapa tempat destinasi populer di Sydney seperti Sydney Fish Market, Paddy Market, Bondi Beach, serta ke Darling Harbour. Ke Sydney Fish Market kami naik trem, harganya 6,2 AUD PP. Ke Bondi Beach naik bis no 333, tiket bis bisa dibeli di convenience store, harganya pada waktu itu 9,2 AUD. Di Bondi Beach jangan lupa mencoba deep fries Mars, coklat bar yang digoreng tepung seperti seafood. Dijualnya pun di toko seafood.

Bondi Beach di musim gugur agak sepi, walau ada juga beberapa group terlihat bermain di pantai. Coast guard atau penjaga pantai seperti yang ada di acara Bondi Rescue terlihat cukup santai, sehingga ketika kami naik ke sana, sempat mendapat kesempatan foto bersama, walau hanya diperkenankan sebentar saja. Tentu saja karena mereka harus selalu mengawasi pantai.

Dari sana kami menyempatkan diri mengunjungi Darling Harbour. Tidak bisa berlama-lama, karena setelah itu kami harus langsung bergegas menuju bandara. Tidak lupa mengambil titipan koper di Central Station, lalu naik kereta menuju bandara international Sydney. Hanya sekitar 10 menit, dengan tarif 16,40 AUD, tibalah kami di ujung perjalanan ini. Dan tanpa terasa pula, perjalanan pertama saya ke negeri Oceania, New Zealand dan Australia, akan segera berakhir. Sampai bertemu di perjalanan-perjalanan berikutnya!

(The end of Catper)



Tuesday, May 05, 2015

NZ Trip (7): Day 7: Mount Cook, Lake Tekapo

view point / gardu pandang Mount Cook

Negara New Zealand atau Selandia Baru dalam bahasa suku Maori disebut Aotearoa, yang diterjemahkan menjadi “The land of the long white cloud”. Sepanjang perjalanan kami mencari mana awan putih yang panjang ini. Rasanya, tempat dengan cakrawala terluas dengan hamparan pemandangan indah nan luas itu berada di daerah Aoraki (Mount Cook) dan sekitarnya. Tempat ini salah satu tempat terindah di New Zealand.

Setelah menginap di Queenstown dua malam (link), pagi ini kami berangkat sekitar pukul 9 pagi, melambaikan selamat tinggal pada danau Esplanade yang cantik ketika hujan pun mulai turun lagi.

Kami sempat mampir di sebuah kota kecil bernama Arrowtown yang indah sekali pada musim gugur ini. Dedaunan berwarna merah dan kuning menghiasi hutan di latar belakang permukiman yang tampak permai itu. Kota-kota kecil ini mendapat tempat khusus di hatiku, dan rasanya akan saya buatkan tempat khusus juga di postingan blog ini.

Dekat Omarama ada beberapa tempat peternakan salmon, kami mampir di salah satu tempat yang pernah kami mampir sebelumnya. Enak juga makan salmon ternak, harganya lebih murah, walau tak seenak salmon laut.

Perjalanan ke Mount Cook melewati Lake Tekapo. Antara Queenstown dan Tekapo kami kembali melintasi Lindis Pass. Di sinilah beberapa hari yang lalu putih semua, hari ini kuning kecoklatan, terlihat tandus dan panas. Amazing banget, bagaikan dua tempat yang berbeda. Teman-teman segera berpose di tempat yang sama kita sempat berpose saat tertutup salju tebal, kini salju itu lenyap menguak rerumputan tandus berwarna kecoklatan kering. Matahari amatlah terik saat itu dan langit berwarna biru cerah.

Mount Cook National Park

Kami tiba di Mount Cook National Park sekitar pukul 14.00. Taman nasional ini adalah rumah bagi gunung-gunung tertinggi di Selandia baru serta glacier terpanjang. Kita bebas mengitari area ini karena membawa kendaraan sendiri, jadi tidak ada rute yang sudah ditentukan.

serasa jalan milik sendiri..

Kami mampir di sebuah pondok karena hujan. Sepertinya ini adalah pondok yang disediakan untuk para pendaki beristirahat, tersedia fasilitas toilet, kamar mandi, dll.

Mengikuti rombongan beberapa turis Jepang, walaupun hujan gerimis, kami melakukan trekking kecil di sini, dan tanpa disangka menemukan tempat view point Mount Cook yang teramat indah. Trekking kecil ini sangat menyenangkan, kita bagaikan semut-semut kecil di dalam landscape nan luas dengan pegunungan menjulang tinggi.

Puncak Mount Cook sendiri adalah yang tertinggi (3.724 m) di antara 23 gunung lainnya di area ini yang tingginya lebih dari 3.000 meter. Well, kapan-kapan mungkin bisa climbing ke sini. For the mean time, cukup menikmati saja dari kejauhan.

Kembali ke Lake Tekapo, di sini ada sebuah tempat yang tak boleh dilewatkan, yaitu Church of the Good Sheperd. Gereja kecil di tepi danau ini dikunjungi ribuan pelancong setiap tahunnya, tak jarang pula yang memesan untuk misa pernikahan.

Puas banget deh rasanya foto-foto dengan berbagai gaya. “This is New Zealand,” teriak teman kami yang dipanggil Babeh dengan gayanya yang khas ketika berfoto. Ada juga Emak yang tak kalah hebohnya dengan pose tertiup angin pegunungan Alpen selatan yang kencang itu. Kapan lagi bisa melupakan umur hahahaha…

Hari ini kami menginap di YHA Lake Tekapo, kami tiba setelah pukul 18. Tak lupa kami juga membeli sedikit sayur untuk salad serta pasta. Kami akan menyantap salmon yang tadi telah dibeli dalam perjalanan.

Photo Courtesy: Renny Puspita


Thursday, April 30, 2015

NZ Trip (6): Day 5 & 6: Milford Sound and Queenstown

Milford Sound Cruise

Hari ini kami akan mengunjungi salah satu tempat wisata yang paling populer di New Zealand, Milford Sound. Milford Sound tidak terlalu jauh dari Te Anau, jaraknya 118,7 km, ditempuh kira-kira dalam waktu dua jam. Kami berangkat pukul tujuh pagi saat masih gelap. Yup, jam 7 di sini masih gelap. Terangnya sekitar 8.30. Malamnya pun tiba lebih cepat, sekitar pukul 18.00 sudah gelap.

Jadinya kami bahkan tidak sempat melihat wajah YHA Te Anau tempat kami menginap saat terang. Bagaimana pemandangan di sekitar hostel, bahkan wajah kota Te Anau sendiri tidak sempat terlihat, karena semalam tiba di sini sudah pukul 9 malam.

Dalam perjalanan ke Milford Sound kami disuguhi pemandangan spektakuler yang rasanya tidak habis-habis. Para fotografer di dalam mobil pun berebutan memotret.

Tiba di Milford Sound Terminal, di sini tempat membeli tiket cruise yang disediakan oleh beberapa operator. Kami memilih cruise yang paling standar, lama sekitar 1,5 jam memutari Sound, tariff 80 NZD per orang. Mendapat free coffee atau tea di atas kapal, serta ada café yang menjual makanan.

Dikutip dari website Newzealand.com:

Digambarkan oleh Rudyard Kipling sebagai "keajaiban dunia kedelapan," Milford Sound dipahat oleh gletser selama zaman es. Milford Sound memesona dalam cuaca apa saja. Tebing fyord menjulang vertikal dari perairan gelap, puncak-puncak gunung menggapai langit dan air terjun bergemuruh ke bawah, beberapa di antaranya mencapai ketinggian 1000 meter. Saat hujan turun di Milford Sound, dan di sana sering turun hujan, air terjun itu menggandakan diri dengan efek menakjubkan. 

Saya tidak menemukan kata-kata yang lebih baik untuk mendeskripsikannya. Mungkin itulah yang menjadi alasan trip ke New Zealand tidak bisa melewatkan tempat yang satu ini. Semua yang ke sini, apalagi untuk pertama kalinya, pasti akan mengunjungi Milford Sound. Di sinilah kami bertemu keluarga dari Indonesia yang membawa camper van.

Baca juga: Berkendara di New Zealand

Sekitar pukul 3 sore kami jalan dari Milford Sound, pukul 5 kami tiba di Te Anau. Nah, akhirnya bisa lihat wajah kota kecil di dekat danau Te Anau ini. Kami mampir di sini untuk makan fish and chips sepuasnya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Queenstown.

Queenstown

Keindahan kota Queenstown sudah tidak diragukan lagi. Kami pun sudah tahu tentang hal ini sebelum berangkat, karena itu kami memesan penginapan di sini dua malam. Di kota ini satu-satunya kota tempat kami stay lebih dari satu malam. Memasuki kota Queenstown di malam hari, kepercayaan kami itu pun telah dikonfirmasi. Memang indah kota Queenstown, bagaikan untaian mutiara berkilauan di tepi laut.

Malam itu kami jalan-jalan tak jauh dari hostel kami Dumble Backpacker yang lokasinya menghadap danau Esplanade. Seperti halnya kunjungan ke kota Queenstown sangat direkomendasikan, Dumble Backpacker juga sebuah hostel backpacker yang highly recommended. Kami beruntung dapat tempat di sini. Walaupun cuaca saat itu cukup dingin (sekitar 3 derajat Celcius), tidak mencegah kami untuk keluar jalan-jalan menikmati kota yang indah itu.

Kami makan malam di restoran Asia bernama Noodle Canteen. Makanan Asia/Chinese di sini mostly lebih terjangkau harganya dibanding makanan Western, selain kebetulan cocok dengan selera kita. Malam itu teman kami yang dipanggil Babeh menraktir kami sebotol wine yang diminum rame-rame.

Shotover Jet, Ferg Burger, Queenstown Gondola, Glenorchy

Foto Keluarga Setelah Main Shotover Jet

Keesokan harinya adalah jadwal kami untuk naik Shotover Jet. Tiket untuk permainan ini telah kami pesan sebelumnya melalui online. Karena itu kami bersyukur semuanya berjalan sesuai schedule. Tiket untuk Shotover Jet adalah 129 NZD per orang. Wah cukup mahal ya.. sebenarnya, itu permainan apa sih?

Dari hostel kami cukup berjalan kaki ke kantor operator Shotover Jet ini, kalau ketika tiba giliran kita pun naik bus menuju lokasi. Tak sampai 30 menit (belum puas rasanya menikmati indahnya kota Queenstown sambil naik bus), eh sudah sampai.

Di sini peserta pun harus mengenakan jas hujan khusus yang sangat tebal, serta menitipkan semua peralatan seperti tas, kamera, topi, jaket dll. Dengan jas khusus dari Shotover ini maka tak perlu khawatir, tidak akan basah.

Inti dari permainan ini adalah menikmati perjalanan jet boat dengan kecepatan tinggi melewati sungai yang landai dengan tebing-tebing yang sempit, merasakan kelihaian sang supir membelok-belokkan boat, bahkan sampai 360 derajat. Karena itu, walaupun sibuk berteriak sepanjang perjalanan boat, jangan lupa untuk tetap berhati-hati dan pegangan. Bagi saya sih, perjalanan sekitar 30 menitan saja ini agak overpriced, tapi ya mungkin segalanya di sini memang agak mahal untuk ukuran kita. Terus terang saya malah lebih menikmati pemandangan indah Sungai Shotover daripada perjalanan dengan boat itu sendiri.

Setelah diguncang-guncang dengan boat, kini saatnya mengisi perut. Ini salah satu yang tak boleh dilewatkan ketika mengunjungi Queenstown, yaitu mencoba Fergburger yang terkenal itu. Letaknya di Shotover Street, tak jauh dari tempat kita naik bus menuju sungai Shotover.

Cuaca hari ini agak warm, siang mungkin sekitar 15 derajat Celcius. Setelah makan jangan lupa mencoba Queenstown gondola. Naik gondola dari sini ke Bob’s Peak, bisa menikmati indahnya kota Quenstown dari atas. Di sini kita juga bisa naik luge, dengan track yang menyajikan mungkin salah satu pemandangan terbaik di dunia. Selengkapnya, bisa dilihat di website Skyline Queenstown

Setelah puas bermain dan foto-foto, masih ada sedikit waktu pada sore hari, maka kami pun memutuskan untuk pergi ke kota kecil Glenorchy. Malam itu kami berjalan-jalan dekat Queenstown Mall, dan sebuah restoran bernama Prime Waterfront Restaurant and Bar akhirnya memanggil kami untuk dinner di sana. Pertama kalinya kami dinner di restoran (restoran beneran lho, bukan kantin noodle) dalam trip ini, karena Chef kami bosan memasak hahaha…

Photos by Renny Puspita