Google+ Followers

Thursday, June 04, 2015

Persyaratan Visa Rusia


Tulisan ini baru bisa saya tulis setelah visa Rusia sudah di tangan, alias sudah tertempel dengan manis di passport. Biaya visa ini lumayan mahal, US$ 70. Waktu itu kami kena kurs yang ditetapkan Rp 14.000, membayar dengan rupiah, sama dengan Rp 980.000.

Banyak yang bilang visa Rusia termasuk sulit, tetapi setelah kami jalani, syukurlah semua telah berlangsung lancar. Sebenarnya visa Rusia tidak mensyaratkan bukti keuangan atau bahkan surat sponsor dari kantor. Yang unik adalah dia membutuhkan surat undangan dari Rusia, dengan bahasa Rusia. Nah, untuk hal ini Anda bisa minta pada hotel atau hostel tempat Anda booking, namanya visa support. Biayanya 1.000 Rubel per person.

Berikut ini adalah dokumen-dokumen yang perlu disiapkan: (dikutip dari website Kedutaan Rusia di Indonesia)
1.    Fill a completed Visa Application form (enclosed above, available at the Consular Office too);
2.    Original passport and its copy (passport must be valid for at least 6 months);
3.    2 photo, size 3 x 4;
4.    Confirmation letter (Visa Support) from the authorized hotel or travel agency in Russia, with the reference number and confirmation number for visa (the letter should be in Russian language);
5.    Print out ticket to Russia or the booking confirmation;
6.    Letter from the Indonesian travel agency with the name of the tourist group, the itinerary and the name list of all its participants (FOR JOINT GROUPS).
Di website ini juga bisa di-download form aplikasinya.

Kedutaannya terletak di Jalan HR Rasuna Said Kav X-7 no 1-2 Kuningan Jakarta. Dari luar terlihat seperti tertutup, tetapi tidak perlu khawatir, begitu kita tiba di pintu gerbang consular, pintu akan terbuka secara otomatis. Kantor buka Senin-Jumat, jam 9 hingga jam 13.00.

Petugas yang menerima kami pun sangat ramah. Dokumen-dokumen di atas diperiksa, setelah lengkap dia pun memberikan tanda terima dan kita membayar biaya visa. Dalam waktu satu minggu bisa diambil. Pengambilan visa di tempat yang sama, pada jam 12.00 hingga 13.00.


Photo Courtesy: https://twitter.com/RusEmbJakarta

Thursday, May 28, 2015

Raja Ampat 5D4N (2): Painemo, Kabui, Sorong, Makassar

Painemo, the little Wayag, Raja Ampat

Hari kedua di Raja Ampat kami bangun sekitar pukul 05 pagi untuk mengejar sunrise. Boat parkir di tengah-tengah laut dan menunggu hingga matahari muncul. Para fotografer dengan gear masing-masing telah bersiap-siap.

Setelah itu kembali ke homestay untuk sarapan. Air laut di sini sangat bening dan bersih. Dari tempat saya sarapan di dermaga homestay juga bisa dilihat banyak ikan lalu-lalang. Kicau burung menambah indahnya suasana di pagi itu.

Pagi itu kami berangkat ke Arborek. Di sini snorkeling lagi, namun sayangnya arus agak kencang. Kami ke Painemo sekitar pukul 11.00. O ya, ketika kami tidak kami dikabari bahwa kami tidak bisa masuk Wayag. Wayag ditutup untuk publik, karena itu kami pun mengganti ke tempat yang sering disebut Little Wayag, yaitu Painemo.

Kami tiba di Painemo Homestay dulu, untuk buka tenda. Kami tidak menginap di Painemo Homestay, tetapi diberikan tempat untuk buka tenda di sana. Kami juga makan siang di sini, menunya ikan suwir-suwir dan sayur capcay. Kami beristirahat setelah makan siang.

Sekitar jam 14.00 kami jalan lagi. Untuk menikmati keindahan “Little Wayag” berupa gerombolan pulau-pulau kecil yang menjadi ikon Raja Ampat itu kita harus mendaki bukit. Dari atas sini bisa foto dengan background pulau-pulau tersebut di bawah yang sering nampak dalam foto-foto Raja Ampat. Puas foto-foto, acara dilanjutkan dengan nyebur lagi, alias snorkeling.

Setelah snorkeling lanjut naik ke bukit yang satu lagi. Yang ini agak landai. Tadinya mau menunggu sunset tetapi masih jam 5. Sunset di sini sekitar jam 6. Akhirnya kami turun lagi, dan memutuskan untuk sunset di belakang homestay Painemo saja. Malam itu kami makan malam 1 ikan bakar rame-rame.

Makanan kami cukup sederhana bila dibanding rombongan sebelah yang membakar beberapa ikan yang besar-besar. Namun suasana cukup romantis dengan penerangan yang minim di depan tenda membuat makan apa pun jadi enak.

Setelah itu agak sulit tidur karena badan gatel-gatel. Entah digigit apa, seluruh badanku bentol-bentol, dan sejak itulah kesenangan trip ini agak berkurang. Ada yang bilang kena plankton, ada yang bilang ubur-ubur, ada yang bilang alergi. Tetapi hal ini tidak menghentikan saya untuk tetap snorkeling. Anehnya hal ini tidak pernah saya alami sebelumnya ketika snorkeling di tempat yang lain.

Keesokan harinya, pagi dimulai seperti biasa, cukup awal untuk mengejar sunrise. Hari ini naik bukit lagi dan snorkeling lagi, sebelum kembali ke Homestay kami Yenkoranu.

Raja Ampat Sunrise
Kemping di Painemo
Painemo Homestay
Siap2 Nyemplung - Team Raja Ampat


Kabui

Dari sini kami jalan ke Kabui, agak jauh, sekitar satu jam. Teriknya matahari di sini cukup mengerikan. Sementara kapal kami tidak ada tutupnya, jadi saya menutup muka dengan handuk. Kami kembali lagi ke homestay sekitar pukul 16.00.

Sekitar setengah jam kemudian kami berangkat lagi untuk diving dan snorkeling di Yenbuba. Di sini saya enjoy banget. Ikan bergerombolan sejuta banyaknya. Ikannya besar-besar, burbara, ada barakuda bergerombol, ada yang biru dan ada yang warna-warni, serta bisa melihat teman-teman yang diving di bawah.

Setelah puas bermain-main, kami kembali lagi ke homestay. Dinner malam ini telur dan terong. Agak kecewa karena tidak ada ikan, hehehe mungkin jatah ikan sudah habis. Di sini ada penganan gorengan gitu, yang penampakannya mirip pisang goreng membuat anak-anak langsung kelaparan. 
Tetapi ketika dimakan, rasanya hanya tepung saja. Walaupun begitu, enak juga..

Tanpa terasa besok sudah harus berangkat lagi ke Sorong dan seterusnya. Di bawah ini ada beberapa biaya yang sempat saya catat:

  Kelapa Rp 5000/buah
-  Bayar Painemo homestay untuk kemping di sana Rp 200,000 rame2
-  Sewa snorkeling Rp 50,000 per day
-  Diving 450,000
-  Stay (plus makan) Rp 250,000 per day

Karena ferry dari Waisai ke Sorong berangkat pukul 15.00, kami tiba di Sorong pukul 17.00. Kami menginap di Hotel Le Meredien Sorong yang letaknya persis di seberang bandara Sorong. (Rp 450,000 per malam, dibagi tiga). Di Sorong juga sempat makan seafood: Kepiting, cumi goreng tepung, udang, ikan bakar, kangkung dan capcai… Partyyyyy… setelah beberapa hari makan cukup sederhana. (Untuk 12 orang menghabiskan Rp 1,085,000)

Kami juga sempet muter-muter cari oleh-oleh, ada sebuah toko di Jalan Kartini yang menjual kaos-kaos Raja Ampat. Setiba di hotel, senang banget bertemu kembali dengan shower air panas, air yang berlimpah dan listrik. Oya, dan ATM. ATM hanya ada di Sorong, di Waisai dan Raja Ampat harus siap dengan uang cash.

Esoknya kami terbang ke Makassar. Di sini masih sempat mampir ke Bantimurung (tiket masuk Rp 20,000), makan coto Makassar, dan pisang Epe, sebelum sorenya terbang kembali ke Jakarta. Selamat tinggal Paradise… Selain pemandangan indah dan pengalaman baru, keramahan teman-teman di Papua juga adalah suatu faktor yang menambah serunya perjalanan ini. Saya sangat bersyukur atas trip dan pengalaman ini, walaupun harus membawa pulang bentol di badan yang saya yakin akan pulih seiring berjalannya waktu.

Baca juga:

Raja Ampat 5D4N (1)

Tuesday, May 26, 2015

Raja Ampat 5D4N (1): Sorong, Waisai, Yenbuba


Nama Raja Ampat pastinya sudah tersohor, baik karena keindahan bawah lautnya serta keanekaragaman hayatinya. Salah satu kendala yang sering saya dengar dari orang-orang yang ingin mengunjungi surga di Papua ini adalah mahal. Dan karena letaknya yang cukup jauh dari Jakarta serta cukup luas dan banyak untuk di-explore, biasanya trip ke sini juga minimal membutuhkan waktu 5 hari. Ini juga salah satu alasan banyak yang menunda dulu hingga memiliki waktu yang tepat untuk datang.

Untuk menyiasati kendala pertama, tips-nya adalah, mengajak cukup banyak orang untuk satu boat. Biasanya, biaya paling mahal ketika mengunjungi tempat-tempat diving adalah sewa boat. Untuk trip ini bagi saya termasuk trip yang paling ramai anggotanya, 12 orang.

Mahal kedua ada pada tiket pesawat, karena Jakarta-Sorong penerbangan membutuhkan waktu hampir 6 jam, sama seperti ke beberapa kota di luar negeri. Kami menyiasati hal ini dengan terbang melalui Makassar/Ujung Pandang. Air Asia Jakarta-UP waktu itu Rp 1,1 juta (PP) dan UP-Sorong dengan Sriwijaya Rp 1,8 juta (PP).

Tips ketiga penghematan bisa dilakukan di penginapan. Biaya hidup di Raja Ampat memang jauh lebih mahal dibanding diJakarta. Mereka harus membeli semua barang kebutuhan dengan menggunakan boat ke kota terdekat. Harga barang di sini semua berlipat-lipat, seperti air mineral, gas, dll. Menyiasatinya, kita menginap di Homestay. Totalnya biaya trip 6D5N ini Rp 7 jutaan. Silakan Anda nilai sendiri apakah cukup murah, biasa saja, atau mahal?

Itinerary Raja Ampat

Sebelum berangkat teman kami membuat itinerary kasar seperti di bawah ini:
Day 1
Cengkareng -UP

Day 2
UP - Sorong
Sorong - Waisai
Waisai - Mansuar
Snorkeling di Pasir Putih Mansuar
(Sun Set time)
Mansuar
Dinner
Day 3
Snorkeling / Diving di Mansuar
(Sun Rise Time)
Breakfast at Mansuar
Snorkling di Airborek
Ke FAM Island
(Lunch time)
Take a rest in FAM Island atau lgs ke wayag
Snorkeling di FAM Island
Wayag
Day 4
Break Fast
(Sun Rise Time)
Teluk Kabui
Teluk Kabui - Waisai
Waisai Sorong
Day 5
Sorong - Makasar
Free in Makasar
Lalu kami juga diwanti-wanti soal penginapan, seadanya lho ya.. Waktu itu saya juga browsing tentang di sana semuanya serba mahal, penginapan ala kadarnya, listrik dan air sulit… wahh, jadi benarkah demikian? Mari kita simak bersama catatan perjalanan (catper) kami di Raja Ampat.

Penerbangan Jakarta – Makassar – Sorong

Penerbangan Jakarta – Makassar – Sorong adalah penerbangan yang menembus 2 zona waktu, dari WIB ke WITA, ke WIT (waktu Indonesia bagian Timur). Dari Jakarta ke Makassar ada perbedaan waktu satu jam, Makassar dan Sorong satu jam lagi, sehingga Jakarta dan Sorong beda waktu dua jam.

Kami berangkat malam dari Jakarta, tiba di Sorong keesokan harinya pukul 06.45. Dari bandara kami menggunakan 3 mobil Avanza (1 mobil 4 orang), biaya Rp 100,000 yang mengantar kami hingga pelabuhan Sorong. Hari Jumat ada ferry yang jam 09.00. Biasanya ferry Sorong-Waisai setiap pukul 14.00.

Ferry berangkat pukul 09.30, ini adalah kapal penyeberangan kecil yang cukup sibuk. Ferry ini juga membawa sayur-mayur dan segala macam kebutuhan penduduk. Pria-pria Papua pengangkut sayur lalu-lalang untuk mengisi muatan kapal. Segala bau bercampur aduk, sayur dan keringat di pagi menjelang siang yang panas itu.

Ketika ferry bertarif Rp 130,000 per orang tersebut mulai berangkat penumpang diputarkan sebuah film India yang membuat semua penonton menangis. Film dramatis tentang seorang tukang sulap yang cedera ini membuat kami walaupun ngantuk tak rela untuk tidur. Perjalanan lancar, tidak berombak. Kami tiba di Waisai pukul 11.30.

Waisai adalah ibukota kabupaten Raja Ampat. Kami dijemput di sini oleh boat yang dikirim oleh Homestay yang telah kami pesan. Di Waisai kami juga sempat makan (nasi kuning) serta membeli air mineral untuk persiapan.

Perjalanan dengan speedboat ini hanya perlu sekitar 30 menit untuk mencapai pulau Mansuar. Kami tiba di depan homestay sekitar pukul 13.00 WIT. Setiba di sana saya baru tahu bahwa homestay kami bernama Yenkoranu, kami terharu karena mendapat kamar yang VIP, yaitu kamar yang langsung menghadap laut.

Dermaga Yen Koranu Homestay
Deretan VIP room yang menghadap pantai, Yen Koranu Homestay

Yen Koranu Homestay Dining Area

Snorkeling di Yenbuba

Sore itu kami diajak snorkeling ke Yenbuba, lalu main ke desa wisata. Karena kami tiba kepagian (seharusnya ferry biasanya pukul 14.00) maka peralatan snorkeling dan pelambung masih seadanya, belum tiba pesanannya. Kami snorkeling di Chicken Reef, dekat Papua Diving.

Di sini kami snorkeling cukup lama. It was beautiful. Coralnya bagus serta ikannya banyak sekali, besar-besar. Banyak ikan biru, it was amazing. That’s all I can say. Secara bukan divers, saya kurang mengenal nama-nama biota bawah laut. Di sini sempat juga melihat penyu, cukup besar.

Sekitar pukul 16-an kami pulang ke homestay, mandi dll, lalu minum teh sambil menunggu sunset. 
Udara di sini enak, sejuk, tidak terlalu panas. Kami makan malam sekitar pukul 18.30. Makan malam yang disediakan oleh homestay adalah nasi dengan ikan dan sayur (tumis jagung, kacang panjang, terong). Sederhana, tapi enak sekali. Mungkin juga karena lapar.

Sebenarnya ingin nongkrong lebih lama di tempat makan yang berada di outdoor itu, tetapi karena banyak nyamuk, sekitar pukul 20.00 saya sudah masuk kamar dan siap-siap tidur. Lumayan mati gaya di sini karena tidak ada sinyal HP. Hanya Telkomsel yang bagus di sini.

Homestay-nya lumayan. Pelayanannya pun sangat baik. Di sini listrik baru ada jam 18.00. Itu pun kayaknya menggunakan genset. Air juga tidak terus-terusan ada. But overall, not bad-lah. Homestay inilah rumah kita selama beberapa hari, yang menyediakan tidak hanya tempat tidur, tetapi juga makanan serta boat yang membawa kita menjelajah indahnya Raja Ampat !

(bersambung)

Thursday, May 21, 2015

Weekend Getaway: Kawah Ijen

Panorama Kawah Ijen

I miss this kind of trip: mendadak, just over the weekend, tidak perlu cuti, tidak mahal, bahkan sometimes tidak tidur saking short trip-nya. A bit crazy too kalau Anda baca terus cerita ini.

Salah satu weekend pas bulan puasa tahun 2013, tim kami berkumpul lagi bersama si Ijo yang pernah membawa kami ke Bromo dan Ranu Kumbolo serta perjalanan pantai Selatan.

Kami terbang dari Jakarta ke Surabaya hari Jumat malam. Di sana teman kami sudah menjemput bersama si Ijo. Sekitar tengah malam perjalanan dimulai dari bandara Surabaya, melewati Paiton menuju jalur Pantura, ke arah Banyuwangi via Situbondo. Di sana tertulis Banyuwangi 254 km, Bromo 81 km.

Pukul 3 pagi kami mampir di sebuah warung dekat Pantai Pasir Putih Situbondo, warung tepi pantai yang buka jam segini. Ngantuk terutama, bukan lapar, yang mengharuskan kami singgah, terutama untuk sang sopir. Kami pun minta sesuatu yang hangat-hangat, dan kebetulan pemilik warung bisa membuatkan rawon buat kami di tengah malam itu.

Malam itu kami menumpang beristirahat di warung tersebut. Pak sopir kami sudah tidur lelap dengan segera. Kami cewek-cewek masih struggling dengan tempat yang bisa buat rebahan di warung sederhana itu. Yah mau gimana lagi, kami pun berseloroh. Kayaknya tidur di mana aja kita udah pernah. Tidur di airport mungkin udah gak ada apa-apanya, di pinggir pantai di sebuah pondok terbuka waktu di Drini, di warung orang dan dilewatin kucing pun sudah pernah!

Saya gak bisa tidur, pukul 6 kami sudah bangkit dan menuju Pantai Pasir Putih untuk foto-foto. Pantai Pasir Putih adalah salah satu obyek pariwisata di Situbondo, yang berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Surabaya. Letaknya strategis di jalur Pantura antara Surabaya dan Banyuwangi. Pagi itu pantai masih sangat sepi, belum terlihat banyak aktivitas.

Setelah itu perjalanan dilanjut, namun tak lama kemudian si Ijo mogok. Kami menunggu teman kami menelepon mekanik. Sambil menunggu mekanik datang tersebut saya malah terlelap di jok belakang mobil jeep. Serasa tidur di resort dengan jendela yang menghadap pantai.

Taman Nasional Baluran

Sekitar jam 8 mekanik datang. Enak juga di sini pun bisa menemukan mekanik handal yang bisa mengatasi Land Cruiser tahun 80-an itu. Sekitar jam 11 kami tiba di Taman Nasional Baluran.


Harian Kompas pernah menyebut tempat ini Africa van Java. 40% wilayah taman nasional ini terdiri dari savanna, dan iklim-nya cenderung kering. Ketika kami ke sana, cuaca sangat panas dan langit biru sangat cerah. Pemandangan yang dilihat teramat indah dengan background gunung api yang sudah tidak aktif lagi, gunung Baluran (1,247 m).


Terdapat 444 jenis spesies tanaman di taman nasional ini serta 26 jenis mamalia. Kami beruntung melihat banteng dari kejauhan serta banyak rusa Jawa. Pukul 12.30 kami meninggalkan Baluran dan melanjutkan ke Banyuwangi. Kami makan siang di pantai Banyuwangi sekitar pukul 14.00. Dari pantai ini kita bisa melihat pulau Bali.





Sekitar pukul 15.30 kami jalan dari Banyuwangi menuju Kawah Ijen. Pukul 17.00 mendekati Paltuding kabut sangat tebal sampai tak bisa melihat jalan. Teman saya yang baru beli Samsung Galaxy S4 terbaru waktu itu mencoba melihat melalui kamera HP-nya agar bisa melihat lebih jelas di tengah kabut tebal.




The magnificent Kawah Ijen

Kami tiba di Paltuding pukul 18.00an. Syukurlah telah berhasil melalui kabut tebal. Sesampai di sana masih misty afternoon menjelang malam. Kami makan indomie di sebuah warung. Kami juga memesan salah satu guesthouse/pondok di sana yang disediakan untuk pengunjung sebelum trekking ke Kawah Ijen. Saat itu cukup dingin dan gelap (listrik sangat minimal). Kami mencoba tidur sekitar pukul 20.00.

Trekking ke Kawah Ijen biasanya dilakukan pada tengah malam. Karena ingin melihat blue fire biasanya pukul 3 pagi. Trekking sekitar 2 jam untuk mencapai kawah, lalu dibutuhkan 45 menit lagi untuk turun ke tempat Blue Fire. Di sini medannya agak sulit, apalagi gelap dan bebatuannya tidak rata.

Kawah Ijen terletak di sebelah barat Gunung Merapi, tingginya 2,799 m. Jadi cukup dingin di sini. Di atas kawah ada sebuah danau kawah berwarna turquoise yang indah, di sekitar sinilah tempat penambangan sulfur/belerang. Ini salah satu fenomena yang sering ditulis ketika orang-orang mengunjungi Kawah Ijen. Para pekerja yang mendapatkan upah sekitar 50,000 – 75,000 per hari untuk mengambil belerang dari kawah dan membawahnya ke Paltuding untuk mendapatkan upah.

Penambang Belerang Kawah Ijen

Sewaktu kami datang upah untuk 1 kg Rp 780. Dalam sekali pikul bisa membawa 70-90 Kg. Satu hari bisa 2-3 kali bolak-balik. Kami sempat melihat tempat penimbangan belerang di sini. Belerang yang berwarna kuning itu terlihat ringan, tapi coba deh kamu angkat.. lebih berat dari batu.

Menjelang sunrise kami duduk di sebuah tempat tak jauh dari danau, di puncak gunung di mana kita bisa melihat pemandangan lembah di bawahnya. Di sini kami menunggu matahari muncul dari tempat tidurnya. Saya tertidur sambil duduk di atas puncak gunung. Untung tidak menggelinding ke bawah.

It was magnificent. Saat mulai terang, kami melihat pemandangan landscape Kawah Ijen yang luas, yang satu-satu mulai terlihat kecantikannya. Beberapa turis asing bertemu dan menyapa kami di sini. Di antaranya dari Perancis, mereka menuturkan tentang betapa hebatnya tempat ini serta mereka melihatnya di televisi di negara mereka.

salah satu pemandangan waktu trekking Kawah Ijen

Sekitar jam 6 kami trekking turun kembali. Tiba kembali di Paltuding pukul 9. Satu jam kemudian kami meninggalkan Paltuding. Kami lewat Bondowoso, untuk menuju Sidoarjo.

Tiba di Sidoarjo sekitar pukul 16.00. Kami mencari rujak cingur yang terkenal di Tanggulangin. Dan ternyata setiba di sana ternyata tutup, karena bulan puasa. Dan di situlah si Ijo mogok lagi. Sekarang masalahnya kopling masuk angin. Dan yang luar biasa, kebetulan mobil itu mogok di depan rumah seorang pemilik bengkel alias montir. Setelah dibenerin montir tersebut, si Ijo pun jalan lagi.

Kami mampir beli oleh-oleh di Sidoarjo ketika si Ijo ngadat lagi. Akhirnya kami singgah di tempat makan rujak cingur yang terletak di pinggir jalan, di tempat yang pernah kami singgahi persis pada bulan puasa tahun sebelumnya. Karena mobil masih tersendat-sendat/belum lancar, teman kami memutuskan untuk mampir di sini sambil mencari solusi.

Di sana sudah tidak jauh dari Bandara Sidoarjo (Surabaya). Tanpa terasa tiba sudah saatnya kami mengakhiri trip dan berpisah. Sejak itu lama kami tidak bertemu lagi dengan si Ijo…


Tuesday, May 19, 2015

5 Kota Kecil Nan Cantik di New Zealand

Kota-kota kecil yang kami lewati dalam Road Trip New Zealand sempat menarik perhatian kami, bahkan mencuri hati kami. Tiap kali lewat kota-kota ini timbullah khayalan tentang betapa permainya hidup di sini. Ini adalah beberapa kota pilihan saya:

1. Bleinheim
Bleinheim ini kota terbesar di wilayah Marlborough di Pulau Selatan, tempat yang terkenal dengan produksi wine terbesar di seluruh New Zealand. Di sekitar sini paling banyak bisa ditemukan perkebunan anggur, dan menikmati iklim yang paling cerah di NZ. Tak jauh dari pusat kota ini ada sebuah bandara (bukan internasional), Marlborough Airport yang merupakan bandara regional yang cukup sibuk karena Bleinheim menjadi pusat industri anggur.

2. Geraldine
Dalam bahasa Maori, Heratini, Geraldine berada di wilayah Canterbury di Pulau Selatan. Sekitar 140 km di selatan Christchurch, kota ini menyajikan suasana kota kecil yang menyenangkan, dengan hutan-hutan tua yang masih dipelihara, serta ada juga pusat-pusat seni dan kerajinan. Ternyata dulu Geraldine pernah bernama Talbot Forest, serta FitzGerald. Di sini juga cukup banyak penginapan karena telah populer sebagai tujuan wisata serta banyak juga obyek wisata tak jauh dari kota ini.

3. Glenorchy
Kota yang mistik dan sendu ini terletak di ujung utara Lake Wakatipu di Pulau Selatan, tepatnya di wilayah Otago. Kota ini hanya 45 km dari Queenstown, tempat kami menginap. Kecantikan dan suasana Glenorchy yang unik menjadikannya lokasi syuting beberapa film terkenal seperti Lord of The Rings, Vertical Limit, X-men Origins: Wolverine, dan The Chronicles of Narnia: Prince Caspian. Pemandangan di sekitar sini memang bagus-bagus, tak jauh dari sini juga ada kota bernama Paradise.

4. Arrowtown
Arrowtown di musim gugur, seperti inilah wajahnya ketika kami datang. Source: Arrowtown.com
Arrowtown ternyata adalah kota yang historis karena dulunya adalah kota pertambangan emas, terletak di wilayah Otago di Pulau Selatan New Zealand. Kota ini juga tak jauh dicapai dari Queenstown serta merupakan salah satu destinasi wisata populer juga. Mereka juga punya official website www.arrowtown.com.

5. Queenstown
Queenstown di winter, seperti inilah wajahnya ketika kami datang. Source: Queenstown.com

Queenstown, kota tempat kami menginap dua malam ini, mungkin adalah yang terbesar dibanding kota-kota di atas. Kota ini sudah menjadi kota resort serta menyediakan banyak tujuan wisata komersial, seperti Shotover Jet, dan Bungee Jumping yang terkenal di Sungai Kawarau.

Dalam bahasa Maori Tahuna, kota ini berada di wilayah Otago di pulau Selatan New Zealand. Kota ini dibangun di sekitar teluk Queenstown yang menjadi bagian dari Lake Wakatipu, danau yang memanjang berbentuk Z di bawah beberapa pegunungan terkenal, di antaranya The Remarkables, Cecil Peak, Walter Peak, dan Quenstown Hill yang persis di atas kota Queenstown. Kota ini adalah kota ketiga terbesar di wilayah Otago setelah Dunedin dan Oamaru. Official website: www.queenstownnz.co.nz/

Baca juga: Road Trip New Zealand (Catper)

Friday, May 15, 2015

Manisnya Anggur New Zealand

Kesempatan bepergian ke suatu negara adalah kesempatan yang baik untuk mengenal negara tersebut. Saat ini informasi demikian mudah untuk didapat, jadi pada saat yang sama dengan kita bepergian, adalah kesempatan yang baik untuk kita mendapat informasi tambahan tentang tempat yang kita kunjungi sehingga lebih bermakna dan mudah menempel dalam ingatan.

Negara Selandia Baru sering dikatakan sebagai negara yang populasi dombanya melebihi populasi manusia. Total penduduk negeri Kiwi ini hanya 4 jutaan, dan sebagian besar tinggal di kota-kota besar seperti Auckland, Wellington, Hamilton, Christchurch. Sisanya, negara ini dipenuhi pemandangan pedesaan yang indah, kota-kota kecil nan cantik, serta peternakan dan perkebunan anggur. Selain sepanjang negara ini dipenuhi topografi yang unik, ada gunung, danau, pantai, yang memberi kekuatan pada pariwisatanya. Suatu negara yang demikian unik!

Anggur Selandia Baru, saya highlight di sini, karena ternyata tidak hanya perkebunannya yang menambah pada keindahan alam di sini, serta manisnya anggur merah yang bisa kita dapatkan di berbagai penjuru di sini, ternyata anggur juga memegang peranan penting dalam perekonomian New Zealand. Betapa tidak, seperti dikutip dari The Economist, industri anggur di sini telah menjual 1 milyar gelas wine di 100 negara.

Pemandangan yang menyenangkan di supermarket, Wellington.


Tak pelak, anggur adalah bisnis yang serius di sini. Pada tahun 2007, anggur telah mengatasi wol dalam urutan komoditas ekspor New Zealand. Komoditas lain yang merupakan unggulan ekspor negara ini seperti daging sapi, lamb, perikanan, serta buah-buahan. Nah, ketika di sana, jangan sampai melewatkan kesempatan mencoba komoditas-komoditas ini. Karena selain segar dan berkualitas, harganya juga lebih murah dibanding kita beli di Indonesia (produk impor).

Walaupun paling dominan di daerah Marlborough, ternyata perkebunan anggur membentang dari ujung utara hingga selatan New Zealand. Coba google New Zealand wine map. Tujuan utama ekspor wine ini adalah negara-negara besar seperti Amerika, Australia, dan China. Produksi terbesar adalah tipe Sauvignon Blanc. Harga rata-rata di market adalah 13 AUD.

Source: New Zealand Winegrowers Annual Report 2014

Sayangnya, tidak sempat wine tasting di sini, serta sayangnya tidak bisa saya bawa pulang. Namun cukup bersyukur telah mengecap manisnya anggur Selandia Baru di tempatnya.

Baca juga:




Tuesday, May 12, 2015

Backpacker Hostel Pilihan Kami di New Zealand

Bumbles Backpacker Queenstown

Sejak mulai travelling ala backpacker, saya pun mulai familiar dengan backpacker hostel. Ini adalah pilihan yang masuk akal ketika kita bepergian ke negara-negara maju khususnya yang biaya hidupnya sangat tinggi. Biaya hotel pun sangat mahal, apalagi karena kita seringkali hanya sebentar di hotel, tiba sudah malam serta keesokan paginya sudah berangkat.

Hostel backpacker di New Zealand rata-rata sama seperti hostel backpacker lainnya di seluruh dunia. Tersedia kamar-kamar dorm, ada yang dipisahkan antara wanita dan pria, ada juga yang mixed. Selain dorm, seringkali ada juga private room, tapi mostly hanya satu atau dua kamar, dan tentu saja lebih mahal daripada dorm. Untuk dorm di sini, rata-rata harga per person sekitar Rp 300 ribu.

Karena itu tidak usah mengharapkan kenyamanan seperti hotel. Kasurnya seringkali tipis sehingga bila ada yang memberikan kasur empuk pasti langsung akan di-mention di TripAdvisor. Kamar mandi pun seringkali berada di luar kamar, jadi cukup sedikit ruang untuk pribadi, sebagian besar menyediakan ruang duduk untuk digunakan bersama-sama.

Yang menurut saya unik dan menonjol dari hostel-hostel yang kami inapi di NZ ini, adalah dapurnya! Kebanyakan memiliki dapur yang sangat luas, kitchen set yang besar-besar, serta peralatan memasak dan makan yang lengkap. Mulai dari panci, kuali berbagai ukuran, penggorengan, talenan, piring, mangkok dan sendok garpu serta gelas, semua tersedia.

Dapur yang lengkap ini biasanya juga digunakan secara maksimal. Di hostel-hostel yang kami inapi, mostly traveler memasak. Ada yang jago masak seperti teman kami, tapi ada juga yang hanya masak mie instan. Dapur menjadi tempat pertemuan kita dengan traveler-traveler dari berbagai negara, banyak wajah-wajah Barat namun ada juga dari Asia seperti dari Taiwan, China, maupun Korea.

Karena ini adalah public area, maka aturan-aturan untuk kenyamanan bersama pun banyak tertempel di dinding. Misalnya, semua yang menggunakan peralatan dapur harus mencuci sendiri. Semua harus diletakkan sesuai dengan tempat yang telah ditentukan.

Di dapur-dapur itu juga biasanya tersedia rak-rak tempat para penghuni “kos-kosan” menyimpan barang mereka. Selain di kulkas, ada juga rak yang disediakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti roti tawar, mie instan, bumbu masak, minyak goreng, dll. Biasanya tertulis nama pemilik serta duration stay di hostel. Bila pemilik tersebut sudah check out, biasanya bahan makanan miliknya bisa digunakan oleh yang lain. Kita juga sering menggunakan sedikit bumbu masak milik orang lain, serta meninggalkan punya kita pada hostel terakhir yang kita tinggalkan.

Ups, kasih tahu gak ya..

Selain dapur, satu hal lagi yang unik mengenai hostel-hostel ini adalah… hmmm kasih tahu gak ya…
Jadi ada salah seorang teman kami yang kebetulan bisa melihat “penampakan”. Masalahnya, kami diceritain pula! Bahkan di-describe, hantunya wanita berpakaian ala zaman Victoria… nah lho.. orang Inggris kali ya yang dulu datang ke Selandia Baru.

Tenang saja, saya tidak akan kasih tahu yang mana yang ada hantunya. Di bawah ini saya berikan daftar backpacker hostel pilihan kami di kota-kota yang kami singgahi, lengkap juga dengan harganya pada saat kami beli. Silakan kamu tebak sendiri ya mana yang ada penampakan dan mana yang enggak.. hehehhe

Tiki Lodge Lake Taupo

   
1. Tiki lodge Lake Taupo (Foto kedua, dok pribadi), Rp 312.300

“Highly recommended, good choice!”
I like the atmosphere here. It's quite and has an ambiance for adventure and outdoor activities. And I especially like the kitchen, and there's a stove for barbeque.. We really enjoyed our stay here :) -- There's also a supermarket nearby where you can get fresh fruit and vegetables.

2.    Dwellington, Wellington, Rp 260.000

3.    Noah Backpacker, Greymouth, Rp 250.000

4.    YHA Te Anau, Rp 292.000

YHA singkatan dari Youth Hostels Association, merupakan jaringan internasional yang pertama kali berdiri di Jerman, serta banyak cabangnya di negara Eropa , dan kemudian juga di Australia dan New Zealand. Di NZ sendiri sejak berdiri tahun 1932 sekarang mengoperasikan 17 hostel, bekerja sama dengan Hosteling International. Hampir di setiap kota pariwisata akan ada YHA-nya, kita juga bisa mendaftar menjadi member untuk mendapatkan fasilitas khusus member YHA. Salah satu fasilitas yang penting di sini adalah Free Wifi. Jadi kalau kita menginap di YHA dan bukan member, kita tidak dapat free wifi. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

5.    Bumbles Backpackers (foto pertama, dari website Bumble), Rp 322.700

Bagi saya Bumbles ini adalah yang terbaik karena lokasinya yang dekat banget dengan pusat keramaian, serta memberikan view danau yang spektakuler.

Ini review saya di Google:

“One of the best backpacker hostel i've stayed in New Zealand. Highly recommended for the nice location and the affordable price.”

6.    YHA Lake Tekapo, Rp 322.700

7.    Bounce Sydney, (harga hampir sama kok, 300-an juga, sorry catatan hilang :D)
Selain lokasinya yang oke banget (Dekat Central Station), Bounce memiliki ruang publik yang sangat luas, terdiri dari sofa-sofa nyaman, ada yang indoor dan outdoor (bagi yang mau merokok). Malam hari tempat ini bisa berubah menjadi semacam pub hahaha.

Baca juga:

Thursday, May 07, 2015

NZ Trip (8): Day 8 - 10: Mount John Observatory, Christchurch, Sydney

Hari kedelapan kami terbangun di YHA Lake Tekapo, hostel di pinggir danau yang memberi pemandangan danau biru yang damai. Pagi ini cerah sekali, setelah semalam turun salju. Kami sempat menyaksikan salju itu turun dari jendela kamar dorm kami.

Mobil sewaan kami yang terparkir di depan hostel tertutup salju yang cukup tebal. Teman kami memasak air dan menyiramkannya agar salju bisa dibersihkan dari mobil. Pagi ini kami mampir sekali lagi ke chapel Church of the Good Sheperd yang sangat dekat dari hostel, karena kemarin belum puas foto-fotonya.

Dari sini kami menuju Mount John University Observatory (MJUO). Suhu saat itu nol derajat, walaupun dingin tapi tetap saja semua jaket dilepas ketika berfoto agar tampak lebih bagus.

Berpose di Mount John University Observatory

MJUO ini sebenarnya tempat observatory luar angkasa, tetapi kita bisa naik ke sini (tidak perlu masuk ke observatory-nya, lagian waktu kami juga tidak cukup). Tanpa biaya alias gratis, kita bisa menikmati pemandangan yang indah di sini. Dari atas sini kita bisa memandang Lake Tekapo serta Church of the good Sheperd dari kejauhan.

Christchurch, Here We Comes

Walaupun masih berat rasanya, kami harus meninggalkan tempat yang indah itu, daerah Mount Cook dan sekitarnya memang memanjakan mata, entah kenapa kayaknya keindahan itu gak ada habisnya. Berapa GB memory card untuk kamera yang kamu punyai, rasanya gak akan cukup. Sampai di sini, beberapa dari kami sudah harus menghapus foto-foto yang kurang bagus untuk memberi ruang foto yang baru, walaupun memory card yang dibawa sudah cukup banyak.

Sekitar pukul 12.30 kami memulai perjalanan menuju Christchurch, kota persinggahan kami yang terakhir. Sepanjang perjalanan ini cuaca cerah, langit tak berawan sama sekali. Pukul 16 kami sudah tiba di Christchurch, kota yang sangat terdampak gempa bumi pada tahun 2011.

Di sana-sini masih terlihat pembangunan besar-besaran yang dilakukan untuk memperbaiki dampak gempa bumi tersebut. Dari desa kami masuk ke kota, mulailah kembali ada lampu merah, jalan-jalan yang besar, lalu lintas yang lumayan ramai, bahkan sedikit macet.

Christchurch adalah kota terbesar di Pulau Selatan serta merupakan kawasan urban terbesar di Selandia Baru setelah Auckland. Di sini terdapat bandara internasional, tempat kami akan menaiki pesawat menuju Sydney.

Kami masih punya waktu beberapa jam, karena itu kami memutuskan untuk mengunjungi Christchurch Botanical Garden, karena kota ini terkenal juga sebagai Garden City. Setelah itu kami sempat juga muter-muter kota berhubung bensin yang kami isikan ke mobil sewaan masih penuh, sementara sebentar lagi mobil sudah harus dikembalikan ke Omega Rental. Bensin di sini harganya 2,17 – 2,25 NZD per liter. Sekali ngisi biasanya sekitar 60 NZD, total perjalanan ini kami 9 kali mengisi bensin.

Kami didrop di airport pukul 21.30 bersama semua bawaan, lalu kedua teman kami mengembalikan mobil ke Omega dan menumpang bis ke airport. Sebelum ke airport kami masih sempat makan Fish and Chips di sebuah restoran yang dibuka oleh orang Korea. Selamat tinggal Middle Earth…

Beruntung di Sydney


Kami tiba di Sydney pukul 10 pagi, karena ada delay Jetstar Christchurch-Sydney. Pukul 11 kami check in di Bounce, hostel yang terletak tak jauh dari Central Station. Hari ini adalah hari Sabtu, suasana Sydney di pusat kota maupun kemudian di tempat-tempat wisata cukup ramai. Bagaikan orang yang baru datang dari desa, mata kami perlu penyesuaian dari tempat yang sepi ke tempat yang ramai.

Setelah menaruh barang, kami pun jalan ke Mainly Beach. Untuk mencapai Mainly Beach bisa naik ferry dari Circular Quay. Tarif ferry 14,80 AUD PP, lama perjalanan sekitar 30 menit. Hari ini kami beruntung karena sedang ada Food and Wine Festival di sana.

Malam itu keberuntungan kami berlanjut karena di pusat kota Sydney sedang digelar Vivid Sydney. Acara tahunan ini akan kembali digelar tanggal 22 Mei tahun ini. Foto di atas diambil dari vividsydney.com.

Sydney Opera House yang menjadi icon Sydney akan disulap menjadi teater pertunjukan lampu, dengan berbagai ide yang mentransformasikan bangunan tersebut menjadi berbeda dari bentuk aslinya.

Pertunjukan lampu dapat dinikmati di Circular Quay atau sekitarnya, yang ditembakkan pada gedung-gedung bertingkat di sana. Di seluruh pusat kota banyak sekali acara, pertunjukan seni, serta pameran seni rupa, sehingga malam itu seolah seluruh penduduk Sydney keluar semua. Tumpah-ruah. Sejak sore hari jalan-jalan utama telah ditutup untuk kendaraan, sehingga lautan manusia bebas berjalan di antara gedung-gedung perkantoran. Wow, kapan lagi bisa berjalan-jalan sambil foto-foto seenaknya di jalanan utama Sydney?

Keesokan harinya saya bangun pukul 7. Berbeda dengan di New Zealand, pukul 7 di sini sudah terang. Hari ini masih ada waktu untuk mengunjungi beberapa tempat destinasi populer di Sydney seperti Sydney Fish Market, Paddy Market, Bondi Beach, serta ke Darling Harbour. Ke Sydney Fish Market kami naik trem, harganya 6,2 AUD PP. Ke Bondi Beach naik bis no 333, tiket bis bisa dibeli di convenience store, harganya pada waktu itu 9,2 AUD. Di Bondi Beach jangan lupa mencoba deep fries Mars, coklat bar yang digoreng tepung seperti seafood. Dijualnya pun di toko seafood.

Bondi Beach di musim gugur agak sepi, walau ada juga beberapa group terlihat bermain di pantai. Coast guard atau penjaga pantai seperti yang ada di acara Bondi Rescue terlihat cukup santai, sehingga ketika kami naik ke sana, sempat mendapat kesempatan foto bersama, walau hanya diperkenankan sebentar saja. Tentu saja karena mereka harus selalu mengawasi pantai.

Dari sana kami menyempatkan diri mengunjungi Darling Harbour. Tidak bisa berlama-lama, karena setelah itu kami harus langsung bergegas menuju bandara. Tidak lupa mengambil titipan koper di Central Station, lalu naik kereta menuju bandara international Sydney. Hanya sekitar 10 menit, dengan tarif 16,40 AUD, tibalah kami di ujung perjalanan ini. Dan tanpa terasa pula, perjalanan pertama saya ke negeri Oceania, New Zealand dan Australia, akan segera berakhir. Sampai bertemu di perjalanan-perjalanan berikutnya!

(The end of Catper)