The Real Salesperson
Seorang teman mengeluh tentang sulitnya mencari tenaga sales. Katanya, lulusan-lulusan perguruan tinggi keren saat ini tidak ada yang mau menjadi sales. Sales dianggap sebagai pekerjaan “kotor” yang harus mengejar target, mengetuk-ketuk pintu calon klien, menelepon orang-orang, menawar-tawarkan sesuatu.
Hal ini mengusik saya, dan terutama ketika saya bertemu dengan seorang CEO sebuah perusahaan otomotif besar di Indonesia hari ini. Entah mengapa sehabis bertemu seorang CEO selalu bagaikan terinspirasi. Ada saja yang bisa kita petik dari seorang leader.
Sang CEO tersebut adalah mantan orang sales. Kemudian saya jadi teringat juga dengan beberapa orang yang saya kenal yang telah menjadi pucuk pimpinan, yang tadinya adalah orang sales.
Hal ini membuat saya merenung, mengapa banyak yang tidak mau menjadi sales? Jangan-jangan karena menjadi sales memang tidak mudah. Tetapi seorang sales yang berhasil berpotensi menjadi CEO/pucuk pimpinan. Kalau dipikir-pikir memang kualitas seorang sales banyak yang sama dengan kualitas yang diperlukan untuk menjadi CEO, misalnya saja:
1. Customer oriented
Sales yang baik harus menempatkan pelanggan dan pelayanan sebagai prioritasnya. Hal ini juga harus dilakukan seorang CEO. Sang CEO yang tadi saya ceritakan di atas bahkan memberian nomor HP nya kepada saya (kebetulan saya pemakai produk yang dia jual) untuk dapat menghubungi dia langsung apabila ada masalah dengan produk. Sales sejati, demikian pula CEO, tahu bahwa customer adalah segalanya yang membuat bisnis bertumbuh.
2. Ulet
Sales sejati pantang menyerah, ulet mencari celah bagaimana mendapatkan sales/closing. Bagaimana membuka pintu untuk bertemu dengan potential customer, mempunyai berbagai trik untuk mendapatkan contact person, dan tak pernah menyerah
3. Kemampuan berkomunikasi, seperti mempengaruhi orang lain, meyakinkan orang lain.
Salah satu kepuasan seorang sales adalah ketika berhasil membuat audience yang mendengarkan yakin pada apa yang kita sampaikan. Berhasil mempengaruhi audience agar percaya pada apa yang kita percaya adalah langkah awal untuk mendapatkan persetujuan penjualan. Ini adalah kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki seorang CEO juga.
Setidaknya itu adalah 3 kualitas yang bisa saya point out, barangkali masih ada lagi. Kualitas di atas malah seharusnya dimiliki oleh semua divisi, tidak hanya sales. Semua divisi harus punya kualitas seorang sales, dan terlebih adalah pucuk pimpinan. Apalagi di era yang amat kompetitif saat ini, seorang CEO semakin dituntut untuk bisa jualan. Mereka harus bisa menangkap sales / prospek di mana saja mereka berada, dengan siapa pun mereka bertemu. “Kalau enggak jualan, kita enggak idup,” mengutip seorang CEO muda perusahaan digital.
Jadi apakah masih merasa Sales pekerjaan yang tidak keren? Pikirkan ulang.
Friday, December 23, 2011
Thursday, December 01, 2011
3 Model Bisnis Linkedin

Mungkin Anda, seperti juga saya, sudah menggunakan fasilitas gratis dari situs jejaring profesional Linkedin.com dan banyak merasakan manfaatnya. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana Linkedin memperoleh penghasilan (income) apabila semua jasanya gratis?
Berikut ini adalah 3 model bisnis (business model) Linkedin seperti dijelaskan langsung oleh Clifford Rosenberg, Managing Director Linkedin S.E. Asia & Australia NZ. Hari ini saya berkesempatan bertemu dengan orang yang sangat spesial tersebut dalam kapasitas saya sebagai Editor in Chief PortalHR.com.
Bagi yang belum mengerti apa itu model bisnis, model bisnis menjawab pertanyaan di atas tadi, yaitu dari mana datangnya uang.
Yaitu, dari 3 hal berikut:
1. Para rekruter dapat menggunakan jasa Linkedin untuk mengakses talent yang mereka minati secara global. Dengan menggunakan Linkedin, perusahaan bisa memperoleh passive candidate, yaitu orang-orang yang tidak sedang aktif mencari pekerjaan.
2. Marketing Solution, yaitu beriklan kepada target yang tepat (Linkedin mempunyai audience yang sangat spesifik. Profesional, sebagian besar high level, dan rata-rata usia secara global adalah 40 tahun).
3. Premium user. Linkedin mempunyai fitur premium (berbayar) dengan fasilitas-fasilitas yang tidak dimiliki user biasa (gratis). Salah satu fasilitas adalah dapat mengirim in- mail.
Rosenberg hadir di Jakarta dalam rangka peluncuran Linkedin versi Bahasa Indonesia. Ketika ditanya mengenai rencana bisnis di Indonesia, Rosenberg hanya menjawab bahwa peluncuran versi Bahasa Indonesia ini adalah langkah awal Linkedin untuk mengenal pasar Indonesia. Setelah mendengarkan (listen) dan mendapatkan insight pasar, barulah mereka akan meluncurkan strategi-strategi bisnis yang cocok dengan pasar Indonesia. Waw... kita tunggu saja.

Mungkin Anda, seperti juga saya, sudah menggunakan fasilitas gratis dari situs jejaring profesional Linkedin.com dan banyak merasakan manfaatnya. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana Linkedin memperoleh penghasilan (income) apabila semua jasanya gratis?
Berikut ini adalah 3 model bisnis (business model) Linkedin seperti dijelaskan langsung oleh Clifford Rosenberg, Managing Director Linkedin S.E. Asia & Australia NZ. Hari ini saya berkesempatan bertemu dengan orang yang sangat spesial tersebut dalam kapasitas saya sebagai Editor in Chief PortalHR.com.
Bagi yang belum mengerti apa itu model bisnis, model bisnis menjawab pertanyaan di atas tadi, yaitu dari mana datangnya uang.
Yaitu, dari 3 hal berikut:
1. Para rekruter dapat menggunakan jasa Linkedin untuk mengakses talent yang mereka minati secara global. Dengan menggunakan Linkedin, perusahaan bisa memperoleh passive candidate, yaitu orang-orang yang tidak sedang aktif mencari pekerjaan.
2. Marketing Solution, yaitu beriklan kepada target yang tepat (Linkedin mempunyai audience yang sangat spesifik. Profesional, sebagian besar high level, dan rata-rata usia secara global adalah 40 tahun).
3. Premium user. Linkedin mempunyai fitur premium (berbayar) dengan fasilitas-fasilitas yang tidak dimiliki user biasa (gratis). Salah satu fasilitas adalah dapat mengirim in- mail.
Rosenberg hadir di Jakarta dalam rangka peluncuran Linkedin versi Bahasa Indonesia. Ketika ditanya mengenai rencana bisnis di Indonesia, Rosenberg hanya menjawab bahwa peluncuran versi Bahasa Indonesia ini adalah langkah awal Linkedin untuk mengenal pasar Indonesia. Setelah mendengarkan (listen) dan mendapatkan insight pasar, barulah mereka akan meluncurkan strategi-strategi bisnis yang cocok dengan pasar Indonesia. Waw... kita tunggu saja.
Tuesday, November 22, 2011
Ketika Josef Bataona Mulai Ngeblog

Saya mengenal pak Josef Bataona sudah lama, atau lebih tepatnya: mendengar namanya dan beberapa kali bertemu dengannya pada event-event HR. Jika Anda orang HR, besar kemungkinan setidaknya Anda pernah mendengar namanya.
Pria yang lembut tutur katanya ini adalah salah satu tokoh HR yang penting di Indonesia. Namanya saja sudah cukup “menjual” untuk dipasang sebagai promosi event-event HR, entah itu sebagai keynote speaker ataupun pembawa materi utama seminar. Berbagai penghargaan di bidang HR telah diraihnya. (simak profil singkatnya di Josefbataona.com). Berbagai hal positif sudah banyak saya dengar tentang dirinya.
Maka ketika berkesempatan bertemu dan mengenal lebih dekat dengan pak Josef saya pun sangat bersemangat. Setelah dua kali pertemuan kami pun sepakat untuk membuat blog pak Josef di Portalhr.com. Ide untuk sharing cerita dan wisdom dari pak Josef Bataona kami sambut dengan sangat antusias hingga pada pertemuan kedua kami sudah langsung datang membawa konsep blog.
Pada saat itu saya dibuat amat sangat terkejut karena pak Josef mengatakan ingin belajar menulis dari saya! Hah, siapakah saya ini, sehingga seorang tokoh besar HR ingin belajar dari saya? Ilmu apa yang bisa saya bagikan? Mendadak panik menyerang.
Namun pulang dari pertemuan itu saya mulai membuat dan menyusun beberapa materi untuk saya sharing-kan kepada pak Josef. Meskipun saya bukan pakarnya, tetapi mungkin ada hal-hal yang saya lebih tahu dan belajar duluan dibanding pak Josef sehingga saya bisa berbagi padanya. Terlepas dari hal itu, saya melihat adalah sesuatu yang luar biasa seorang selevel pak Josef begitu ingin belajar, dari siapa saja.
Itu adalah suatu hal yang saya catat dan ingin saya pelajari dari beliau. Ternyata ini sesuai dengan motto dirinya “Be yourself, but better everyday” yang dijelaskannya dalam beberapa posting di blognya.
Kami di PortalHR.com sangat gembira melihat semangat dan antusiasme pak Josef yang sangat tinggi dalam meng-update blog-nya. Setiap jam makan siang serta pada akhir pekan disisihkannya waktu untuk membuat postingan baru, atau sekadar memberi masukan pada design, ataupun membalas komentar di blog.
Satu hal lagi yang penting bahwa bahkan untuk postingan blog, pak Josef Bataona cukup rendah hati untuk meminta saya mengedit. Tulisan-tulisan beliau sebagian besar ditulisnya dengan ipad, mungkin sambil dalam perjalanan ataupun melakukan aktivitas yang lain, sehingga beliau merasa perlu untuk diperiksa sebelum di-upload. Dari seorang yang mengaku tidak bisa menulis, ternyata sebagian besar “corat-coret” pak Josef di ipad ini sudah siap untuk dipublish di blog, sebagian besar hanya saya edit sangat sedikit, mostly hanya untuk merapikan saja.
Baru satu minggu blog Josefbataona.com diluncurkan, sudah banyak sambutan positif berupa kunjungan ke blog, komentar di blog maupun di Facebook, Twitter, dan lain-lain. Isi blog ini menyegarkan karena menyampaikan wisdom tanpa menggurui. Kita bisa terinspirasi melalui cerita-cerita yang merupakan pengalaman pak Josef sendiri. Semuanya juga disampaikan dengan gaya bertutur yang khas pak Josef, mengingatkan kita pada pak Josef sendiri yang bercerita langsung kepada kita.
Beberapa postingan dan ide postingan saat ini sudah disiapkan pak Josef dengan penuh semangat. Secara rutin kami bertemu dengan beliau dan ini merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dalam pekerjaan saya.
Inilah sedikit cerita di balik mulai ngeblog-nya pak Josef Bataona. Awal mula inisiatif blog pernah saya tulis di sini. Tidak hanya blog, pak Josef juga akan aktif di social media lainnya. Akun Twitter dibuatnya pada hari yang sama kami meluncurkan blog (11-11-2011). Semangatnya untuk belajar hal baru memang luar biasa, setelah sebelumnya sudah aktif di Facebook dan Linkedin.
Ketika Josef Bataona mulai ngeblog, saya sangat yakin ini hanyalah langkah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Kita tunggu saja.

Saya mengenal pak Josef Bataona sudah lama, atau lebih tepatnya: mendengar namanya dan beberapa kali bertemu dengannya pada event-event HR. Jika Anda orang HR, besar kemungkinan setidaknya Anda pernah mendengar namanya.
Pria yang lembut tutur katanya ini adalah salah satu tokoh HR yang penting di Indonesia. Namanya saja sudah cukup “menjual” untuk dipasang sebagai promosi event-event HR, entah itu sebagai keynote speaker ataupun pembawa materi utama seminar. Berbagai penghargaan di bidang HR telah diraihnya. (simak profil singkatnya di Josefbataona.com). Berbagai hal positif sudah banyak saya dengar tentang dirinya.
Maka ketika berkesempatan bertemu dan mengenal lebih dekat dengan pak Josef saya pun sangat bersemangat. Setelah dua kali pertemuan kami pun sepakat untuk membuat blog pak Josef di Portalhr.com. Ide untuk sharing cerita dan wisdom dari pak Josef Bataona kami sambut dengan sangat antusias hingga pada pertemuan kedua kami sudah langsung datang membawa konsep blog.
Pada saat itu saya dibuat amat sangat terkejut karena pak Josef mengatakan ingin belajar menulis dari saya! Hah, siapakah saya ini, sehingga seorang tokoh besar HR ingin belajar dari saya? Ilmu apa yang bisa saya bagikan? Mendadak panik menyerang.
Namun pulang dari pertemuan itu saya mulai membuat dan menyusun beberapa materi untuk saya sharing-kan kepada pak Josef. Meskipun saya bukan pakarnya, tetapi mungkin ada hal-hal yang saya lebih tahu dan belajar duluan dibanding pak Josef sehingga saya bisa berbagi padanya. Terlepas dari hal itu, saya melihat adalah sesuatu yang luar biasa seorang selevel pak Josef begitu ingin belajar, dari siapa saja.
Itu adalah suatu hal yang saya catat dan ingin saya pelajari dari beliau. Ternyata ini sesuai dengan motto dirinya “Be yourself, but better everyday” yang dijelaskannya dalam beberapa posting di blognya.
Kami di PortalHR.com sangat gembira melihat semangat dan antusiasme pak Josef yang sangat tinggi dalam meng-update blog-nya. Setiap jam makan siang serta pada akhir pekan disisihkannya waktu untuk membuat postingan baru, atau sekadar memberi masukan pada design, ataupun membalas komentar di blog.
Satu hal lagi yang penting bahwa bahkan untuk postingan blog, pak Josef Bataona cukup rendah hati untuk meminta saya mengedit. Tulisan-tulisan beliau sebagian besar ditulisnya dengan ipad, mungkin sambil dalam perjalanan ataupun melakukan aktivitas yang lain, sehingga beliau merasa perlu untuk diperiksa sebelum di-upload. Dari seorang yang mengaku tidak bisa menulis, ternyata sebagian besar “corat-coret” pak Josef di ipad ini sudah siap untuk dipublish di blog, sebagian besar hanya saya edit sangat sedikit, mostly hanya untuk merapikan saja.
Baru satu minggu blog Josefbataona.com diluncurkan, sudah banyak sambutan positif berupa kunjungan ke blog, komentar di blog maupun di Facebook, Twitter, dan lain-lain. Isi blog ini menyegarkan karena menyampaikan wisdom tanpa menggurui. Kita bisa terinspirasi melalui cerita-cerita yang merupakan pengalaman pak Josef sendiri. Semuanya juga disampaikan dengan gaya bertutur yang khas pak Josef, mengingatkan kita pada pak Josef sendiri yang bercerita langsung kepada kita.
Beberapa postingan dan ide postingan saat ini sudah disiapkan pak Josef dengan penuh semangat. Secara rutin kami bertemu dengan beliau dan ini merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dalam pekerjaan saya.
Inilah sedikit cerita di balik mulai ngeblog-nya pak Josef Bataona. Awal mula inisiatif blog pernah saya tulis di sini. Tidak hanya blog, pak Josef juga akan aktif di social media lainnya. Akun Twitter dibuatnya pada hari yang sama kami meluncurkan blog (11-11-2011). Semangatnya untuk belajar hal baru memang luar biasa, setelah sebelumnya sudah aktif di Facebook dan Linkedin.
Ketika Josef Bataona mulai ngeblog, saya sangat yakin ini hanyalah langkah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Kita tunggu saja.
Saturday, October 08, 2011
Social Media
Social Media adalah jembatan yang menghubungkan digital dengan mainstream, eskalator yang menurunkan digital dari langit. Digital telah menjadi mainstream berkat social media.
Sebenarnya social media bukanlah hal baru. Social media adalah jargon marketing belaka, istilah yang dibuat untuk membungkus fenomena situs-situs jejaring sosial yang semakin besar.
Besarnya social media membuat sebagian kalangan (awam) melihat digital hanya sebagai social media. Hanya social media yang kemudian asyik untuk dipercakapkan, seksi untuk dijual. Orang-orang keren, orang-orang asyik ada di social media. Orang-orang iklan, orang-orang PR menguasai social media.
Hingga kemudian, agency digital pun di-hire, almost merely about social media. Padahal yang namanya digital tidak sama dengan social media. Social media adalah sebagian saja dari media digital. Social media kemudian lebih banyak dikawinkan dengan kegiatan offline daripada dengan kegiatan online lainnya.
But that’s OK karena cepat atau lambat batas antara online dan offline akan semakin tipis. Social media dan digital bukan such a big deal lagi, bukan hal yang perlu digembar-gemborkan karena sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.
Dia menjadi cara baru kita berkomunikasi, cara baru kita berkolaborasi, cara baru kita berkomunitas, cara baru bagi kita untuk menampilkan diri. Suatu hari dia akan menjadi sangat biasa sehingga kita lupa telah pernah terjadi sebuah revolusi.
Meskipun sudah begitu, masih akan ada orang yang setia dengan cara lama. Seperti dulu waktu saya masih kecil, ketika softlens hadir untuk pertama kalinya, saya sempat mengira kaca mata akan punah. Semua orang akan ganti menggunakan softlens. Ternyata, hingga kini masih banyak juga yang mengenakan kaca mata. Begitu juga halnya dengan social media.
Orang-orang akan menggunakannya sesuai kebutuhan. Orang-orang akan menemukan cara mereka sendiri dalam bersosial media, sama seperti dengan tools-tools lain dalam hidup ini.
Social media adalah salah satu tools juga untuk membantu kita melihat dunia. Meski pada awalnya ketika masih baru semua ingin mencoba, tetapi kemudian akan terlihat pola yang berbeda-beda pada setiap orang dalam penggunaan tools-tools social media. Seperti halnya ada yang memilih pindah total ke softlens, ada yang tetap setia pada kaca mata, ada juga yang menggunakan dua-duanya. Semua itu oke-oke saja.
Social media bukan dibuat untuk merumitkan hidup kita, tapi sebaliknya. So, enjoy aja...
Social Media adalah jembatan yang menghubungkan digital dengan mainstream, eskalator yang menurunkan digital dari langit. Digital telah menjadi mainstream berkat social media.
Sebenarnya social media bukanlah hal baru. Social media adalah jargon marketing belaka, istilah yang dibuat untuk membungkus fenomena situs-situs jejaring sosial yang semakin besar.
Besarnya social media membuat sebagian kalangan (awam) melihat digital hanya sebagai social media. Hanya social media yang kemudian asyik untuk dipercakapkan, seksi untuk dijual. Orang-orang keren, orang-orang asyik ada di social media. Orang-orang iklan, orang-orang PR menguasai social media.
Hingga kemudian, agency digital pun di-hire, almost merely about social media. Padahal yang namanya digital tidak sama dengan social media. Social media adalah sebagian saja dari media digital. Social media kemudian lebih banyak dikawinkan dengan kegiatan offline daripada dengan kegiatan online lainnya.
But that’s OK karena cepat atau lambat batas antara online dan offline akan semakin tipis. Social media dan digital bukan such a big deal lagi, bukan hal yang perlu digembar-gemborkan karena sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.
Dia menjadi cara baru kita berkomunikasi, cara baru kita berkolaborasi, cara baru kita berkomunitas, cara baru bagi kita untuk menampilkan diri. Suatu hari dia akan menjadi sangat biasa sehingga kita lupa telah pernah terjadi sebuah revolusi.
Meskipun sudah begitu, masih akan ada orang yang setia dengan cara lama. Seperti dulu waktu saya masih kecil, ketika softlens hadir untuk pertama kalinya, saya sempat mengira kaca mata akan punah. Semua orang akan ganti menggunakan softlens. Ternyata, hingga kini masih banyak juga yang mengenakan kaca mata. Begitu juga halnya dengan social media.
Orang-orang akan menggunakannya sesuai kebutuhan. Orang-orang akan menemukan cara mereka sendiri dalam bersosial media, sama seperti dengan tools-tools lain dalam hidup ini.
Social media adalah salah satu tools juga untuk membantu kita melihat dunia. Meski pada awalnya ketika masih baru semua ingin mencoba, tetapi kemudian akan terlihat pola yang berbeda-beda pada setiap orang dalam penggunaan tools-tools social media. Seperti halnya ada yang memilih pindah total ke softlens, ada yang tetap setia pada kaca mata, ada juga yang menggunakan dua-duanya. Semua itu oke-oke saja.
Social media bukan dibuat untuk merumitkan hidup kita, tapi sebaliknya. So, enjoy aja...
Tuesday, May 10, 2011
Merayakan Paskah di Manado (3)
Prosesi Jalan Salib di Tataaran, Tondano, Sulut
Lagi coba slideshow dari Tripadvisor, hope you like it!
Atau ke sini biar lebih jelas: Prosesi Jalan Salib Tondano, Sulut
Prosesi Jalan Salib di Tataaran, Tondano, Sulut
Lagi coba slideshow dari Tripadvisor, hope you like it!
Prosesi Jalan Salib Tondano, Sulut Slideshow: Meisia’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Manado was created by TripAdvisor. See another Manado slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.
Atau ke sini biar lebih jelas: Prosesi Jalan Salib Tondano, Sulut
Wednesday, May 04, 2011
Merayakan Paskah di Manado

Sungguh beruntung bisa berkunjung ke kota Manado pada saat Paskah. Barangkali dapat juga dikatakan, inilah saat terbaik untuk mengunjungi ibukota Sulawesi Utara itu.
Kami mendarat di bandara internasional Sam Ratulangi hari Rabu (20/4/2011) siang, empat hari sebelum hari raya Paskah (Minggu). Saya bersama rombongan tour ziarah dari gereja. Setelah dipikir kemudian, mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk merasakan suasana perayaan Paskah dengan lebih mendalam selain mengikuti rombongan tour ziarah.
Kota Manado (dan beberapa kota lain yang kami kunjungi di Sulut) menampilkan wajah yang berbeda untuk menyambut Paskah. Suasana seperti ini tidak pernah saya jumpai di kota mana pun di Indonesia.
Meriahnya perayaan Paskah bagaikan perayaan tujuhbelasan, di mana setiap gang menghias dirinya. Di gerbang setiap gang terdapat papan ucapan besar-besar bertuliskan “Selamat Paskah.” Partai-partai politik berlomba memasang reklame berisi foto dirinya mengucapkan selamat Paskah.
Anda bisa menemukan salib hampir di mana-mana, di depan gereja, di depan rumah orang, di pinggir jalan. Ukuran dan tampilan salib berbeda-beda, ada yang besar berwarna putih, ada yang berwarna merah. Ada yang simple saja dari kayu kecil berwarna hitam.
Yang paling unik dan menyentuh adalah di depan rumah-rumah penduduk dipasang lampion berbentuk salib berwarna merah yang dirangkai dari botol air mineral bekas yang dicat warna merah. Pada malam hari lampion-lampion ini akan dinyalakan sehingga memberi nuansa yang sangat indah dan meriah.
Coba bayangkan di setiap gang yang kita lewati di kota ini, ada deretan lampion salib berwarna merah, ada juga yang berwarna kuning, dan biasanya dalam satu gang itu kompak warnanya. Sungguh meriah bagaikan perayaan Tahun Baru!
Di desa Kawatak, sebuah desa yang kami singgahi antara Tomohon dengan Manado, pemandangan yang langsung mencolok mata adalah banyaknya gereja yang kami lewati di sepanjang jalan. Baru sekitar 15 meter, ada sebuah gereja lagi, dan gerejanya bukanlah kecil-kecil, tetapi cukup besar. Tidak heran, ternyata di sana masyarakatnya 98% beragama Katolik.
Di pinggir jalan di desa ini (begitu pula beberapa tempat lain yang mayoritas Kristen/Katolik), penduduk memasang tanda salib dari kayu hitam yang sederhana dan melingkarkan sebuah selendang ungu di tangan salib tersebut. Selendang ungu adalah lambang masa prapaskah di gereja Katolik.
Di desa Kawatak inilah kami mengadakan misa Kamis Putih bersama penduduk setempat. Gerejanya sangat unik, eksotik, berada di tengah sawah, dan ditopang kayu-kayu besar sebagai tiang di sisi kanan dan kiri. Gereja itu hanya tertutup di bagian atas/atapnya saja, sisi kanan kirinya terbuka, hanya ditopang dinding dari kayu-kayu besar yang langsung dari pohon itu (tidak dipoles atau diolah terlebih dahulu).
Ketika kami mengadakan misa, hujan turun, lalu disusul mati lampu ketika misa hampir selesai, wah benar-benar menambah suasana dramatis, tak terlupakan!
Perayaan Jumat Agung tak kalah istimewa. Kami mengadakan misa Jumat Agung di Paroki St Antonius Padua, di Tataaran, Tondano. Di gereja ini perayaan Jumat Agung sangat special dimana terdapat prosesi jalan salib Yesus yang benar-benar dipentaskan. Dimulai dari sebuah panggung dekat gereja, prosesi itu kemudian berkeliling kota sepanjang kira-kira 3 km yang diikuti oleh hampir seluruh masyarakat kota tersebut.
Dimulai pukul 12 siang, saat matahari sedang terik-teriknya, sekelompok orang memerankan drama penyaliban Yesus, dimulai dari pengadilan Pilatus. Dari sana sang pemeran Yesus memanggul salibnya, benar-benar berjalan selama 3 jam dalam prosesi jalan salib (14 perhentian). Prosesi ini diikuti hampir satu kampung, sambil berdoa dan bernyanyi sesuai alur jalan salib. Perhentian-perhentian dibuat di rumah penduduk. Tentu saja kami sebagai turis dan peziarah ikut serta dalam prosesi.
Prosesi diakhiri dengan misa Jumat Agung pukul 15.00 di gereja yang penuh sesak. Belum pernah aku melihat gereja yang begitu penuh, berdesak-desakan, suasana menjadi tambah panas karena hampir semua mengenakan pakaian hitam-hitam dan ungu (mewakili perasaan duka karena mengenang wafatnya Yesus Kristus).
Keesokan harinya, koran Manado Post menurunkan berita utama dengan foto yang sangat besar, foto seorang pemeran Yesus yang benar-benar dipaku tangan dan kakinya, di Manila, Filipina. Di Tataaran kemarin dalam prosesi, Yesus benar-benar dicambuk dan berdarah-darah, namun bukan dengan cambuk dan darah sungguhan. Meskipun begitu, tidak mengurangi emosi yang ditimbulkan pada penonton dan peserta prosesi.
Misa Malam Paskah berlangsung di Katedral Manado, sebuah katedral yang megah di tengah kota Manado. Misa ini berlangsung Sabtu malam pukul 23.00 hingga pukul 02 pagi hari Minggunya. Kami semua kelelahan dan mengantuk saat misa ini gara-gara rekreasi pagi harinya di Bunaken.
Yang berbeda dalam misa Malam Paskah ini---setidaknya dibanding di Jakarta---setelah selesai misa, umat berbaris mengantri untuk mengucapkan Selamat Paskah kepada pastor satu per satu. Setelah itu masing-masing mendapatkan satu botol air mineral dan sebuah lilin yang telah diberkati. Barulah kami tahu pada saat itu mengapa ada banyak kotak-kotak air mineral di setiap gereja yang kami datangi sejak beberapa hari yang lalu.
Itulah kegiatan rohani yang kami lakukan, selain satu sesi lagi---terdiri dari doa pagi dan jalan salib---di rumah retret JSSM Tomohon yang sangat keren. Sisanya, jalan-jalan ke tempat wisata.
Tulisan ini sudah telat, sudah lewat moment-nya, karena itu saya tulis buru-buru. Well, better late than never, saya sempatkan nulis di tengah kesibukan dan ketegangan mempersiapkan seminar besok. Moga-moga dalam postingan berikutnya bisa bercerita lebih banyak melalui foto-foto. Tunggu ya!

Sungguh beruntung bisa berkunjung ke kota Manado pada saat Paskah. Barangkali dapat juga dikatakan, inilah saat terbaik untuk mengunjungi ibukota Sulawesi Utara itu.
Kami mendarat di bandara internasional Sam Ratulangi hari Rabu (20/4/2011) siang, empat hari sebelum hari raya Paskah (Minggu). Saya bersama rombongan tour ziarah dari gereja. Setelah dipikir kemudian, mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk merasakan suasana perayaan Paskah dengan lebih mendalam selain mengikuti rombongan tour ziarah.
Kota Manado (dan beberapa kota lain yang kami kunjungi di Sulut) menampilkan wajah yang berbeda untuk menyambut Paskah. Suasana seperti ini tidak pernah saya jumpai di kota mana pun di Indonesia.
Meriahnya perayaan Paskah bagaikan perayaan tujuhbelasan, di mana setiap gang menghias dirinya. Di gerbang setiap gang terdapat papan ucapan besar-besar bertuliskan “Selamat Paskah.” Partai-partai politik berlomba memasang reklame berisi foto dirinya mengucapkan selamat Paskah.
Anda bisa menemukan salib hampir di mana-mana, di depan gereja, di depan rumah orang, di pinggir jalan. Ukuran dan tampilan salib berbeda-beda, ada yang besar berwarna putih, ada yang berwarna merah. Ada yang simple saja dari kayu kecil berwarna hitam.
Yang paling unik dan menyentuh adalah di depan rumah-rumah penduduk dipasang lampion berbentuk salib berwarna merah yang dirangkai dari botol air mineral bekas yang dicat warna merah. Pada malam hari lampion-lampion ini akan dinyalakan sehingga memberi nuansa yang sangat indah dan meriah.
Coba bayangkan di setiap gang yang kita lewati di kota ini, ada deretan lampion salib berwarna merah, ada juga yang berwarna kuning, dan biasanya dalam satu gang itu kompak warnanya. Sungguh meriah bagaikan perayaan Tahun Baru!
Di desa Kawatak, sebuah desa yang kami singgahi antara Tomohon dengan Manado, pemandangan yang langsung mencolok mata adalah banyaknya gereja yang kami lewati di sepanjang jalan. Baru sekitar 15 meter, ada sebuah gereja lagi, dan gerejanya bukanlah kecil-kecil, tetapi cukup besar. Tidak heran, ternyata di sana masyarakatnya 98% beragama Katolik.
Di pinggir jalan di desa ini (begitu pula beberapa tempat lain yang mayoritas Kristen/Katolik), penduduk memasang tanda salib dari kayu hitam yang sederhana dan melingkarkan sebuah selendang ungu di tangan salib tersebut. Selendang ungu adalah lambang masa prapaskah di gereja Katolik.
Di desa Kawatak inilah kami mengadakan misa Kamis Putih bersama penduduk setempat. Gerejanya sangat unik, eksotik, berada di tengah sawah, dan ditopang kayu-kayu besar sebagai tiang di sisi kanan dan kiri. Gereja itu hanya tertutup di bagian atas/atapnya saja, sisi kanan kirinya terbuka, hanya ditopang dinding dari kayu-kayu besar yang langsung dari pohon itu (tidak dipoles atau diolah terlebih dahulu).
Ketika kami mengadakan misa, hujan turun, lalu disusul mati lampu ketika misa hampir selesai, wah benar-benar menambah suasana dramatis, tak terlupakan!
Perayaan Jumat Agung tak kalah istimewa. Kami mengadakan misa Jumat Agung di Paroki St Antonius Padua, di Tataaran, Tondano. Di gereja ini perayaan Jumat Agung sangat special dimana terdapat prosesi jalan salib Yesus yang benar-benar dipentaskan. Dimulai dari sebuah panggung dekat gereja, prosesi itu kemudian berkeliling kota sepanjang kira-kira 3 km yang diikuti oleh hampir seluruh masyarakat kota tersebut.
Dimulai pukul 12 siang, saat matahari sedang terik-teriknya, sekelompok orang memerankan drama penyaliban Yesus, dimulai dari pengadilan Pilatus. Dari sana sang pemeran Yesus memanggul salibnya, benar-benar berjalan selama 3 jam dalam prosesi jalan salib (14 perhentian). Prosesi ini diikuti hampir satu kampung, sambil berdoa dan bernyanyi sesuai alur jalan salib. Perhentian-perhentian dibuat di rumah penduduk. Tentu saja kami sebagai turis dan peziarah ikut serta dalam prosesi.
Prosesi diakhiri dengan misa Jumat Agung pukul 15.00 di gereja yang penuh sesak. Belum pernah aku melihat gereja yang begitu penuh, berdesak-desakan, suasana menjadi tambah panas karena hampir semua mengenakan pakaian hitam-hitam dan ungu (mewakili perasaan duka karena mengenang wafatnya Yesus Kristus).
Keesokan harinya, koran Manado Post menurunkan berita utama dengan foto yang sangat besar, foto seorang pemeran Yesus yang benar-benar dipaku tangan dan kakinya, di Manila, Filipina. Di Tataaran kemarin dalam prosesi, Yesus benar-benar dicambuk dan berdarah-darah, namun bukan dengan cambuk dan darah sungguhan. Meskipun begitu, tidak mengurangi emosi yang ditimbulkan pada penonton dan peserta prosesi.
Misa Malam Paskah berlangsung di Katedral Manado, sebuah katedral yang megah di tengah kota Manado. Misa ini berlangsung Sabtu malam pukul 23.00 hingga pukul 02 pagi hari Minggunya. Kami semua kelelahan dan mengantuk saat misa ini gara-gara rekreasi pagi harinya di Bunaken.
Yang berbeda dalam misa Malam Paskah ini---setidaknya dibanding di Jakarta---setelah selesai misa, umat berbaris mengantri untuk mengucapkan Selamat Paskah kepada pastor satu per satu. Setelah itu masing-masing mendapatkan satu botol air mineral dan sebuah lilin yang telah diberkati. Barulah kami tahu pada saat itu mengapa ada banyak kotak-kotak air mineral di setiap gereja yang kami datangi sejak beberapa hari yang lalu.
Itulah kegiatan rohani yang kami lakukan, selain satu sesi lagi---terdiri dari doa pagi dan jalan salib---di rumah retret JSSM Tomohon yang sangat keren. Sisanya, jalan-jalan ke tempat wisata.
Tulisan ini sudah telat, sudah lewat moment-nya, karena itu saya tulis buru-buru. Well, better late than never, saya sempatkan nulis di tengah kesibukan dan ketegangan mempersiapkan seminar besok. Moga-moga dalam postingan berikutnya bisa bercerita lebih banyak melalui foto-foto. Tunggu ya!
Tuesday, April 12, 2011
Around Taiwan in 9 Days
(1) The First Time Flying with Phillipines Airlines

Berawal dari undangan pernikahan seorang teman, trip ini kemudian berubah menjadi backpacking keliling pulau Taiwan. Kali ini melibatkan kedua orangtuaku tercinta. Seru!
Itenerary-nya adalah seperti berikut: Taipei, Hualien, Kaoshiung, Sun Moon Lake, Taichung, Taipei. Kalau dilihat di peta, akan terlihat rute kami benar-benar mengelilingi pulau kecil berbentuk seperti kacang di pinggir lautan Pasifik itu. Apa saja yang dilakukan di kota-kota/daerah tersebut? Mohon ditunggu dalam postingan-postingan selanjutnya, karena tidak mungkin semua diceritakan dalam 1 postingan.
Dalam trip kali ini untuk pertama kalinya saya menggunakan Phillipines Airlines, dengan transit di Manila. Biasanya direct dari Jakarta ke Taipei (5 jam) naik Eva Air.
Karena itu saya akan memulai cerita ini dengan penerbangan bersama Phillipines Airlines (PR). Awalnya kami sempat worry, seperti apa sih Phillipines Airlines, karena bahkan teman-teman yang sering travel tidak pernah naik pesawat itu, bahkan mendengar namanya pun jarang.
Kami memilih PR karena harganya yang lebih murah dibanding Eva Air (BR). Jakarta-Taipei dengan Eva Air waktu itu 535-550 USD, harga yang cukup mahal, karena spring (musim semi) ternyata banyak yang ke Taiwan. Tiket PR Jakarta-Taipei (via Manila) 430 USD, beda 100 USD, dengan kondisi berangkatnya tengah malam dan pake transit di Manila sekitar 2 jam. Yah, sesuai dengan semangat backpacker, maka kita harus memilih alternatif yang paling murah.
Menjelang keberangkatan, saya mulai search tentang PR. Hal ini karena teman saya ragu, apakah kita akan dikasih makanan di PR, mengingat harganya yang murah. Kalau tidak dapat makanan, kita perlu mempersiapkan setidaknya roti buat sarapan karena kita akan berangkat tengah malam. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya pun mencoba melakukan pencarian gambar (google image).
Menarik sekali ketika saya coba google image dengan keyword "Phillipines Airlines," yang keluar gambar-gambar yang mengerikan, pesawat jatuh dll. Beda sekali dengan ketika google image dengan keyword "Eva Air" gambarnya interior pesawat yang bagus dengan pramugari yang ramah yang sedang melayani penumpang. Hasil search ini bikin deg-degan juga tapi saya yakin ini hanya karena manajemen PR belum menyadari dan tidak pernah melakukan audit keberadaan mereka di hasil search.

Setelah naik PR, ternyata pengalaman kami naik PR cukup memuaskan kok. Pesawat kami berangkat pukul 01.00 waktu Jakarta, tiba di Manila sekitar pukul 05.30 waktu Manila (lebih cepat satu jam dibanding Jakarta). Sampai di bandara Manila kami langsung diantar ke gate berikutnya untuk boarding ke Taipei. Hebatnya, untuk transit ini ada escort-nya! Biasanya kita harus mencari-cari sendiri gate kita di bandara yang asing ketika kita transit dan ganti pesawat.
Karena jaraknya pendek-pendek, kita tidak naik pesawat besar. Pesawat Jakarta-Manila maupun Manila-Taipei adalah pesawat kecil. Maaf, karena tidak paham jenis-jenis pesawat, maka saya menggunakan istilah awam pesawat kecil untuk menggambarkan pesawat yang biasa digunakan untuk jarak pendek (biasanya dalam negeri), yaitu yang tempat duduknya 3-3 (tiga di kiri dan tiga di kanan).
Sedangkan yang saya maksud pesawat besar adalah pesawat yang biasa digunakan untuk penerbangan jarak jauh, yang tempat duduknya biasanya 2-4-2, atau ada yang lebih besar lagi 3-5-3. Dalam pesawat besar juga tersedia layar monitor untuk setiap tempat duduk sehingga kita bisa menonton banyak film sepanjang perjalanan.
Nah, di Phillipines Airlines karena jaraknya pendek-pendek, kita tidak mendapat fasilitas entertainment on board. Meskipun begitu, penerbangan tetap menyenangkan, dan tidak seperti yang dikhawatirkan oleh teman saya, dalam penerbangan ini kita mendapatkan hidangan makanan on board yang enak. Pada penerbangan pertama mendapatkan menu late supper dan penerbangan kedua mendapatkan menu breakfast. Cukup menyenangkan!
Kami tiba di Taoyuan International Airport keesokan paginya sekitar pukul 09.00 pagi dan disambut udara yang cukup ramah. Sejuk, tidak begitu dingin. Suhu udara sekitar 17-18 derajat Celcius. Beberapa hari sebelumnya di Taipei dan Taoyuan sempat sangat dingin, suhu mencapai 10-12 derajat Celcius disertai angin yang dingin. Cuaca ternyata menjadi satu hal yang amat penting selama perjalanan kami di Taiwan, perubahan temperatur bisa sangat drastis antara pagi dan malam, antara hari ini dan besok. Tidak heran acara favorit di televisi setiap hari adalah prakiraan cuaca.
Setelah tiba di Taipei kami langsung check-in ke hotel kami di daerah Ximending. Setelah itu mulailah menjalankan itenerary kami yaitu sebagai berikut:
(FYI, itenerary kami ini telah mengalami revisi beberapa kali, untunglah dalam perjalanan hanya sedikit yang meleset dari rencana. So this is the actual itenerary)
Day 1: National Palace Museum, Shilin Night Market, Taipei
Day 2: Wulai, Taipei 101
Day 3: Taipei Flora Expo, Taipei-Hualien
Day 4: Hualien-Taroko Gorge Park
Day 5: Hualien-Kaoshiung, Kaoshiung City Tour (Central Park, Love River, Liuhe Night Market)
Day 6: Kaoshiung-Taichung, Sun Moon Lake
Day 7: Sun Moon Lake-Taipei, Shida Night Market
Day 8: Yang Ming Shan, Beitou (Hot Spring)
Day 9: Di xia jie, Taipei Main Station, Taipei-Jakarta
(Bersambung)
(1) The First Time Flying with Phillipines Airlines

Berawal dari undangan pernikahan seorang teman, trip ini kemudian berubah menjadi backpacking keliling pulau Taiwan. Kali ini melibatkan kedua orangtuaku tercinta. Seru!
Itenerary-nya adalah seperti berikut: Taipei, Hualien, Kaoshiung, Sun Moon Lake, Taichung, Taipei. Kalau dilihat di peta, akan terlihat rute kami benar-benar mengelilingi pulau kecil berbentuk seperti kacang di pinggir lautan Pasifik itu. Apa saja yang dilakukan di kota-kota/daerah tersebut? Mohon ditunggu dalam postingan-postingan selanjutnya, karena tidak mungkin semua diceritakan dalam 1 postingan.
Dalam trip kali ini untuk pertama kalinya saya menggunakan Phillipines Airlines, dengan transit di Manila. Biasanya direct dari Jakarta ke Taipei (5 jam) naik Eva Air.
Karena itu saya akan memulai cerita ini dengan penerbangan bersama Phillipines Airlines (PR). Awalnya kami sempat worry, seperti apa sih Phillipines Airlines, karena bahkan teman-teman yang sering travel tidak pernah naik pesawat itu, bahkan mendengar namanya pun jarang.
Kami memilih PR karena harganya yang lebih murah dibanding Eva Air (BR). Jakarta-Taipei dengan Eva Air waktu itu 535-550 USD, harga yang cukup mahal, karena spring (musim semi) ternyata banyak yang ke Taiwan. Tiket PR Jakarta-Taipei (via Manila) 430 USD, beda 100 USD, dengan kondisi berangkatnya tengah malam dan pake transit di Manila sekitar 2 jam. Yah, sesuai dengan semangat backpacker, maka kita harus memilih alternatif yang paling murah.
Menjelang keberangkatan, saya mulai search tentang PR. Hal ini karena teman saya ragu, apakah kita akan dikasih makanan di PR, mengingat harganya yang murah. Kalau tidak dapat makanan, kita perlu mempersiapkan setidaknya roti buat sarapan karena kita akan berangkat tengah malam. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya pun mencoba melakukan pencarian gambar (google image).
Menarik sekali ketika saya coba google image dengan keyword "Phillipines Airlines," yang keluar gambar-gambar yang mengerikan, pesawat jatuh dll. Beda sekali dengan ketika google image dengan keyword "Eva Air" gambarnya interior pesawat yang bagus dengan pramugari yang ramah yang sedang melayani penumpang. Hasil search ini bikin deg-degan juga tapi saya yakin ini hanya karena manajemen PR belum menyadari dan tidak pernah melakukan audit keberadaan mereka di hasil search.

Setelah naik PR, ternyata pengalaman kami naik PR cukup memuaskan kok. Pesawat kami berangkat pukul 01.00 waktu Jakarta, tiba di Manila sekitar pukul 05.30 waktu Manila (lebih cepat satu jam dibanding Jakarta). Sampai di bandara Manila kami langsung diantar ke gate berikutnya untuk boarding ke Taipei. Hebatnya, untuk transit ini ada escort-nya! Biasanya kita harus mencari-cari sendiri gate kita di bandara yang asing ketika kita transit dan ganti pesawat.
Karena jaraknya pendek-pendek, kita tidak naik pesawat besar. Pesawat Jakarta-Manila maupun Manila-Taipei adalah pesawat kecil. Maaf, karena tidak paham jenis-jenis pesawat, maka saya menggunakan istilah awam pesawat kecil untuk menggambarkan pesawat yang biasa digunakan untuk jarak pendek (biasanya dalam negeri), yaitu yang tempat duduknya 3-3 (tiga di kiri dan tiga di kanan).
Sedangkan yang saya maksud pesawat besar adalah pesawat yang biasa digunakan untuk penerbangan jarak jauh, yang tempat duduknya biasanya 2-4-2, atau ada yang lebih besar lagi 3-5-3. Dalam pesawat besar juga tersedia layar monitor untuk setiap tempat duduk sehingga kita bisa menonton banyak film sepanjang perjalanan.
Nah, di Phillipines Airlines karena jaraknya pendek-pendek, kita tidak mendapat fasilitas entertainment on board. Meskipun begitu, penerbangan tetap menyenangkan, dan tidak seperti yang dikhawatirkan oleh teman saya, dalam penerbangan ini kita mendapatkan hidangan makanan on board yang enak. Pada penerbangan pertama mendapatkan menu late supper dan penerbangan kedua mendapatkan menu breakfast. Cukup menyenangkan!
Kami tiba di Taoyuan International Airport keesokan paginya sekitar pukul 09.00 pagi dan disambut udara yang cukup ramah. Sejuk, tidak begitu dingin. Suhu udara sekitar 17-18 derajat Celcius. Beberapa hari sebelumnya di Taipei dan Taoyuan sempat sangat dingin, suhu mencapai 10-12 derajat Celcius disertai angin yang dingin. Cuaca ternyata menjadi satu hal yang amat penting selama perjalanan kami di Taiwan, perubahan temperatur bisa sangat drastis antara pagi dan malam, antara hari ini dan besok. Tidak heran acara favorit di televisi setiap hari adalah prakiraan cuaca.
Setelah tiba di Taipei kami langsung check-in ke hotel kami di daerah Ximending. Setelah itu mulailah menjalankan itenerary kami yaitu sebagai berikut:
(FYI, itenerary kami ini telah mengalami revisi beberapa kali, untunglah dalam perjalanan hanya sedikit yang meleset dari rencana. So this is the actual itenerary)
Day 1: National Palace Museum, Shilin Night Market, Taipei
Day 2: Wulai, Taipei 101
Day 3: Taipei Flora Expo, Taipei-Hualien
Day 4: Hualien-Taroko Gorge Park
Day 5: Hualien-Kaoshiung, Kaoshiung City Tour (Central Park, Love River, Liuhe Night Market)
Day 6: Kaoshiung-Taichung, Sun Moon Lake
Day 7: Sun Moon Lake-Taipei, Shida Night Market
Day 8: Yang Ming Shan, Beitou (Hot Spring)
Day 9: Di xia jie, Taipei Main Station, Taipei-Jakarta
(Bersambung)
Thursday, February 24, 2011
Black Swan: Melihat Dunia dalam Kepala Seorang Balerina Neurotik

Dunia dalam kepala Nina---seorang balerina di New York City yang diperankan dengan sangat baik oleh Natalie Portman---adalah tentang mencari kesempurnaan. Baginya, semua harus dilakukan dengan baik dan benar. Semua harus mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri untuk mencapai tujuan. Demi mencapai tujuan itu dia rela mengorbankan dirinya sendiri, seringkali mengesampingkan naluri dan insting-insting pribadinya sendiri.
Hasrat-hasrat primitif dan naluriah yang terkurung sejak lama---sejak kecil dalam kungkungan seorang ibu yang terlalu mengontrol---akhirnya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang mengganggu kestabilan jiwa gadis muda yang sedang mengejar puncak karier itu.
Kecantikan dan keanggunan, serta disiplin keras, mengantar Nina terpilih menjadi pemeran utama yang menarikan White Swan sekaligus Black Swan, peran yang katanya diincar semua balerina di seluruh dunia. Pelatihnya (Thomas) sebelumnya agak ragu memilih Nina karena kepribadiannya yang kaku dan tampak kurang menampilkan gairah dan greget dalam tariannya.
Dunia dalam kepala Nina berwarna kelam. Sejak awal suasana film muram dan mencekam. Didukung dengan musik dan cara penggambaran adegan, seolah penonton pelan-pelan digiring masuk ke dunia dalam kepala Nina, dunia yang gelap, penuh tuntutan, tekanan, tujuan, ambisi, dimana tak tersisa lagi ruang untuk bersantai dan bersenang-senang.
Banyak lorong gelap dalam adegan film: lorong-lorong rumah Nina, lorong-lorong stasiun MRT, lorong-lorong di tempat latihan ballet Nina, seolah menggambarkan secara puitis lorong-lorong hati Nina yang gelap.
"Relax," kata Lily, rekan sesama penari kepada Nina, menggambarkan apa yang rasanya ingin kita katakan ketika melihat Nina yang perfectionist.
Namun jangan khawatir. Jangan dulu mematikan DVD Anda dan menyalakan Cityville yang menawarkan kesenangan dan kesantaian sehabis Anda bekerja seharian di kantor. Sabar sedikit, Anda juga akan menikmati film ini seperti halnya saya.
Dunia dalam kepala Nina dilukiskan dengan indah. Bagaimana tidak, sepanjang film dihiasi musik kelas tinggi, penari-penari cantik berbadan bagus, tarian-tarian indah, dan bahkan dunia halusinasi Nina pun dilukiskan dengan puitis.
Batas antara mana yang nyata dan mana yang khayal menjadi tipis. (Apakah Nina benar-benar tidur dengan temannya, Lily? Apakah Nina benar-benar menikam Lily pada hari pertunjukan? Apakah Beth, si penari senior, benar-benar menusuk wajahnya sendiri dengan sadis, dan masih banyak lagi). Semua itu kemudian menjadi tidak penting. Dunia nyata dan metafora menjadi satu.
Semua melebur dalam puncak adegan yang klimaks. Pada malam pertunjukan yang ditunggu-tunggu dimana semua impian Nina menjadi kenyataan. Dan tujuan hidupnya pun tercapai sudah. Sebuah film yang, indeed, indah.

Dunia dalam kepala Nina---seorang balerina di New York City yang diperankan dengan sangat baik oleh Natalie Portman---adalah tentang mencari kesempurnaan. Baginya, semua harus dilakukan dengan baik dan benar. Semua harus mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri untuk mencapai tujuan. Demi mencapai tujuan itu dia rela mengorbankan dirinya sendiri, seringkali mengesampingkan naluri dan insting-insting pribadinya sendiri.
Hasrat-hasrat primitif dan naluriah yang terkurung sejak lama---sejak kecil dalam kungkungan seorang ibu yang terlalu mengontrol---akhirnya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang mengganggu kestabilan jiwa gadis muda yang sedang mengejar puncak karier itu.
Kecantikan dan keanggunan, serta disiplin keras, mengantar Nina terpilih menjadi pemeran utama yang menarikan White Swan sekaligus Black Swan, peran yang katanya diincar semua balerina di seluruh dunia. Pelatihnya (Thomas) sebelumnya agak ragu memilih Nina karena kepribadiannya yang kaku dan tampak kurang menampilkan gairah dan greget dalam tariannya.
Dunia dalam kepala Nina berwarna kelam. Sejak awal suasana film muram dan mencekam. Didukung dengan musik dan cara penggambaran adegan, seolah penonton pelan-pelan digiring masuk ke dunia dalam kepala Nina, dunia yang gelap, penuh tuntutan, tekanan, tujuan, ambisi, dimana tak tersisa lagi ruang untuk bersantai dan bersenang-senang.
Banyak lorong gelap dalam adegan film: lorong-lorong rumah Nina, lorong-lorong stasiun MRT, lorong-lorong di tempat latihan ballet Nina, seolah menggambarkan secara puitis lorong-lorong hati Nina yang gelap.
"Relax," kata Lily, rekan sesama penari kepada Nina, menggambarkan apa yang rasanya ingin kita katakan ketika melihat Nina yang perfectionist.
Namun jangan khawatir. Jangan dulu mematikan DVD Anda dan menyalakan Cityville yang menawarkan kesenangan dan kesantaian sehabis Anda bekerja seharian di kantor. Sabar sedikit, Anda juga akan menikmati film ini seperti halnya saya.
Dunia dalam kepala Nina dilukiskan dengan indah. Bagaimana tidak, sepanjang film dihiasi musik kelas tinggi, penari-penari cantik berbadan bagus, tarian-tarian indah, dan bahkan dunia halusinasi Nina pun dilukiskan dengan puitis.
Batas antara mana yang nyata dan mana yang khayal menjadi tipis. (Apakah Nina benar-benar tidur dengan temannya, Lily? Apakah Nina benar-benar menikam Lily pada hari pertunjukan? Apakah Beth, si penari senior, benar-benar menusuk wajahnya sendiri dengan sadis, dan masih banyak lagi). Semua itu kemudian menjadi tidak penting. Dunia nyata dan metafora menjadi satu.
Semua melebur dalam puncak adegan yang klimaks. Pada malam pertunjukan yang ditunggu-tunggu dimana semua impian Nina menjadi kenyataan. Dan tujuan hidupnya pun tercapai sudah. Sebuah film yang, indeed, indah.
Friday, February 18, 2011
From train to train

Isn't it wonderful to be on the train ride again? Betapa menyenangkan, naik kereta lagi. Menikmati buaian angin yang terus-menerus diterjang badan kereta secara konstan. Mendengar suara desingan roda kereta yang berpacu keras pada rel. Suara deru nan abadi itu... suara yang begitu akrab dengan kita dulu.
Dari kaca jendela (yang kadang sudah tidak berkaca lagi itu) biasan kehidupan kota yang kita lalui bergerak cepat tertinggal di belakang kita. Dari stasiun ke stasiun kita dapat melihat orang-orang menawarkan jajanan khas perjalanan. Pop Mie, kopi, dan termos air panas.
Goyangan dan getaran yang akrab itu seharusnya membuat aku mengantuk dan tertidur. Tetapi aku tidak bisa tidur dalam perjalanan kereta 3 jam dari Cirebon ke Jakarta malam itu.
Asap rokok dan kipas angin yang persis di atasku membuat aku tidak bisa terlelap sama sekali padahal sudah lelah jalan-jalan seharian. Aku dikepung dari segala arah, 5 pria sekaligus yang bersebelahan dan yang duduk persis di depan dan belakangku, semua merokok tanpa belas kasihan. Aku sudah menutup hidung dan mulutku dengan sapu tangan, namun tak ada yang peduli.
Aku tidak berkutik. Tidak ada tanda dilarang merokok. Kereta pun tidak tertutup, kaca-kaca terbuka, mungkin itu adalah tanda yang dibaca sebagai "silakan merokok." Semua lelah dalam perjalanan ini, hidup semua orang berat. Tidak ada yang peduli pada seorang perempuan yang terganggu dengan asap rokok yang tiada henti.
Sementara, di sebelahku, temanku tertidur dengan pulasnya. Dia sudah sangat lelah dalam perjalanan ini, dan tempat duduknya di kereta membuatnya relatif lebih terlindungi dari kedua musuh terdekatku: asap rokok dan kipas angin. Karena temanku tertidur pulas, aku tidak mungkin pindah tempat duduk dan meninggalkannya sendiri. Jadilah aku stuck dengan penderitaan itu.
Terbayanglah olehku gerbong sebelah, gerbong yang tadi kita lewati ketika naik ke kereta ini. Gerbong itu adalah gerbong kelas eksekutif. Aku baru tahu saat itu bahwa antara kelas eksekutif dan kelas bisnis kereta Cirebon Ekspress yang selisih harganya Rp 15.000 itu terdapat perbedaan yang bagaikan bumi dan langit. (Eksekutif 75.000 Bisnis Rp 60.000)
Kami mencatat setidaknya lima perbedaan berikut ini: 1. AC vs kipas angin. 2. tempat duduk yang jauh bedanya, lebih empuk dan bersih, juga lebih luas dan bisa direbahkan. 3. ada bantal. 4. ada colokan listrik! (buat yang mau charge HP atau notebook) dan 5. ada ruang tunggu khusus buat penumpang eksekutif di stasiun kereta.
Betapa jauh bedanya ya? Kalau tahu begini sudah pasti memilih merogoh kocek dan menambahkan selisih 15.000. Tetapi kalau sedang beruntung sebenarnya kelas bisnis tidak begitu buruk. Seperti pada saat pagi harinya ketika kami berangkat dari Jakarta ke Cirebon.
Malah perjalanan 3 jam itu sangat menyenangkan. Di pagi hari tidak ada yang merokok. Kami bisa mengobrol santai sambil ngopi dan menikmati pemandangan desa dari jendela, saling meng-update kabar masing-masing selama ini. Tidak terasa, kita pun sampai di Cirebon.
Sebaliknya, dalam perjalanan pulang, terasa sangat lama. Di tengah penderitaanku itulah aku teringat pada perjalanan-perjalanan dengan kereta yang pernah aku lakukan.
Yang paling heroik dan tidak terlupakan tentu saja adalah perjalanan kereta 32 jam dari Hanoi ke Ho Chi Minh City. Karena jarak tempuh yang panjang, tempat duduk dalam kereta ini berbentuk kompartemen berisi enam tempat tidur yang disusun tiga tingkat-tiga tingkat.
Pada tahun 2003 pertama kalinya aku naik kereta sleeper (kereta dengan tempat tidur), yaitu kereta dari Bangkok ke Chiang Mai (sekitar 12 jam). Selama di tanah air tidak pernah melihat tempat "duduk" di kereta seperti itu. Maka ketika naik kereta kami sangat terpesona dan merasa lucu. Untuk yang posisi upper tidak ada pilihan untuk melipat tempat tidur menjadi tempat duduk/kursi. Jadi selama perjalanan kita stuck aja dalam posisi berbaring, atau paling-paling duduk tetapi langit-langitnya sangat rendah, pas di kepala kalau kita duduk. Bisa dilihat gambar lengkapnya di sini.

Ceritanya waktu itu kami kehabisan tiket lower. Kami juga heran kenapa semua orang membeli tiket lower dan lebih jarang yang mau upper. Setelah naik kereta barulah paham alasannya.
Yang lower bisa diatur menurut kehendak kita, kalau mau duduk, tempat duduknya bisa menjadi kursi, kalau mau tidur, tinggal diubah menjadi kasur. Seorang mbak yang gesit akan membantu kita mengubah kursi menjadi kasur dalam waktu singkat, begitu pula sebaliknya. Namun, untuk tiket upper tidak ada pilihan itu. Begitu naik, mbak yang baik itu akan mempersiapkan kasur kita seolah begitu naik kereta kita sudah cuci kaki dan sikat gigi dan siap tidur. Pengalaman yang lucu juga bila dikenang.
Kereta paling cantik tentu saja adalah kereta panoramic Golden Pass yang membawaku dari Montreaux ke Lucern (Switzerland). Karena ini adalah kereta panoramic atau kereta yang memang dirancang untuk menikmati pemandangan, maka jendelanya besar-besar. Tempat duduknya nyaman dan jalannya lebih perlahan. Mantapp dah...
Beruntung aku juga sudah pernah mencoba kereta supercepat waktu di Korea dan di Taiwan. Kereta dengan kecepatan hampir 300 km/jam ini luar biasa. Duduk di atasnya tidak terasa apa-apa namun begitu melihat ke jendela barulah terasa kecepatannya. Wonderful...
Memikirkan kereta-kereta ini membantuku tidak fokus pada penderitaan kecil yang sedang aku alami. Asap rokok dan semuanya pun terlupakan ketika pikiranku melayang ke mana-mana.
Kali ini mari kita ke Italia. Kereta Tren Italia sebenarnya hampir sama dengan kereta-kereta Argo kita. Mungkin karena perawatannya jadi terlihat lebih mewah
dan bersih. Prosedurnya pun hampir sama. Kita membeli tiket, tiket diperiksa di depan, lalu kita masuk dan mencari kereta kita di peron yang mana, kita naik kereta, lalu di tengah perjalanan kemudian baru ada pemeriksaan tiket di dalam kereta. Tiket tidak diperiksa pada saat naik ke kereta tertentu. Sepertinya hal ini berlaku di mana-mana, sehingga penumpang seringkali ragu-ragu apakah benar kereta yang dinaikinya karena pada saat naik kereta tidak ada petugas.
Ketika bapak-bapak yang mengenakan setelan jas rapi dan bertopi datang meminta tiket aku pun teringat ketika naik Tren Italia dan dibangunkan oleh petugas tampan pemeriksa tiket. Setelannya hampir sama, hanya berbeda dalam level ketampanannya saja.
Pikiranku melanglang buana lagi. Kembali ke KRL Jabotabek tercinta. Mirip dengan kereta commuter yang dulu sering aku naiki dari Taipei ke Taoyuan. Apabila sedang sepi dan melesat di atas daerah perkotaan, naik KRL Jabotabek itu serasa naik MRT di negara-negara maju.
Akhirnya, tidak terasa, pemandangan dari jendela menampakkan sebuah stasiun yang sangat familiar, yang dulu setiap hari kulewati. Stasiun Manggarai pukul 23.00 menampilkan wajah yang berbeda. Tidak pernah aku melihat wajah seperti ini.
Stasiun sudah gelap dan tenda-tenda jualan telah dibereskan. Tidak terlihat adanya calon penumpang lagi. Namun yang sangat mencolok mata adalah adanya bungkusan-bungkusan berjejeran di lantai. Tampak jelas bahwa itu adalah orang-orang yang tidur di sana dan membungkus dirinya rapat-rapat bagaikan mumi. Udara malam pastilah dingin sekali di "hotel" alam terbuka itu. Ternyata beginilah wajah stasiun Manggarai di atas pukul 23.00.
Itulah perjalanan Cirebon Ekspress dari Cirebon ke Jakarta yang membawaku dari kereta ke kereta di berbagai tempat di dunia, hingga mendarat lagi di stasiun Gambir, Jakarta. Betapa menyenangkan, naik kereta lagi.

Isn't it wonderful to be on the train ride again? Betapa menyenangkan, naik kereta lagi. Menikmati buaian angin yang terus-menerus diterjang badan kereta secara konstan. Mendengar suara desingan roda kereta yang berpacu keras pada rel. Suara deru nan abadi itu... suara yang begitu akrab dengan kita dulu.
Dari kaca jendela (yang kadang sudah tidak berkaca lagi itu) biasan kehidupan kota yang kita lalui bergerak cepat tertinggal di belakang kita. Dari stasiun ke stasiun kita dapat melihat orang-orang menawarkan jajanan khas perjalanan. Pop Mie, kopi, dan termos air panas.
Goyangan dan getaran yang akrab itu seharusnya membuat aku mengantuk dan tertidur. Tetapi aku tidak bisa tidur dalam perjalanan kereta 3 jam dari Cirebon ke Jakarta malam itu.
Asap rokok dan kipas angin yang persis di atasku membuat aku tidak bisa terlelap sama sekali padahal sudah lelah jalan-jalan seharian. Aku dikepung dari segala arah, 5 pria sekaligus yang bersebelahan dan yang duduk persis di depan dan belakangku, semua merokok tanpa belas kasihan. Aku sudah menutup hidung dan mulutku dengan sapu tangan, namun tak ada yang peduli.
Aku tidak berkutik. Tidak ada tanda dilarang merokok. Kereta pun tidak tertutup, kaca-kaca terbuka, mungkin itu adalah tanda yang dibaca sebagai "silakan merokok." Semua lelah dalam perjalanan ini, hidup semua orang berat. Tidak ada yang peduli pada seorang perempuan yang terganggu dengan asap rokok yang tiada henti.
Sementara, di sebelahku, temanku tertidur dengan pulasnya. Dia sudah sangat lelah dalam perjalanan ini, dan tempat duduknya di kereta membuatnya relatif lebih terlindungi dari kedua musuh terdekatku: asap rokok dan kipas angin. Karena temanku tertidur pulas, aku tidak mungkin pindah tempat duduk dan meninggalkannya sendiri. Jadilah aku stuck dengan penderitaan itu.
Terbayanglah olehku gerbong sebelah, gerbong yang tadi kita lewati ketika naik ke kereta ini. Gerbong itu adalah gerbong kelas eksekutif. Aku baru tahu saat itu bahwa antara kelas eksekutif dan kelas bisnis kereta Cirebon Ekspress yang selisih harganya Rp 15.000 itu terdapat perbedaan yang bagaikan bumi dan langit. (Eksekutif 75.000 Bisnis Rp 60.000)
Kami mencatat setidaknya lima perbedaan berikut ini: 1. AC vs kipas angin. 2. tempat duduk yang jauh bedanya, lebih empuk dan bersih, juga lebih luas dan bisa direbahkan. 3. ada bantal. 4. ada colokan listrik! (buat yang mau charge HP atau notebook) dan 5. ada ruang tunggu khusus buat penumpang eksekutif di stasiun kereta.
Betapa jauh bedanya ya? Kalau tahu begini sudah pasti memilih merogoh kocek dan menambahkan selisih 15.000. Tetapi kalau sedang beruntung sebenarnya kelas bisnis tidak begitu buruk. Seperti pada saat pagi harinya ketika kami berangkat dari Jakarta ke Cirebon.
Malah perjalanan 3 jam itu sangat menyenangkan. Di pagi hari tidak ada yang merokok. Kami bisa mengobrol santai sambil ngopi dan menikmati pemandangan desa dari jendela, saling meng-update kabar masing-masing selama ini. Tidak terasa, kita pun sampai di Cirebon.
Sebaliknya, dalam perjalanan pulang, terasa sangat lama. Di tengah penderitaanku itulah aku teringat pada perjalanan-perjalanan dengan kereta yang pernah aku lakukan.
Yang paling heroik dan tidak terlupakan tentu saja adalah perjalanan kereta 32 jam dari Hanoi ke Ho Chi Minh City. Karena jarak tempuh yang panjang, tempat duduk dalam kereta ini berbentuk kompartemen berisi enam tempat tidur yang disusun tiga tingkat-tiga tingkat.
Pada tahun 2003 pertama kalinya aku naik kereta sleeper (kereta dengan tempat tidur), yaitu kereta dari Bangkok ke Chiang Mai (sekitar 12 jam). Selama di tanah air tidak pernah melihat tempat "duduk" di kereta seperti itu. Maka ketika naik kereta kami sangat terpesona dan merasa lucu. Untuk yang posisi upper tidak ada pilihan untuk melipat tempat tidur menjadi tempat duduk/kursi. Jadi selama perjalanan kita stuck aja dalam posisi berbaring, atau paling-paling duduk tetapi langit-langitnya sangat rendah, pas di kepala kalau kita duduk. Bisa dilihat gambar lengkapnya di sini.

Ceritanya waktu itu kami kehabisan tiket lower. Kami juga heran kenapa semua orang membeli tiket lower dan lebih jarang yang mau upper. Setelah naik kereta barulah paham alasannya.
Yang lower bisa diatur menurut kehendak kita, kalau mau duduk, tempat duduknya bisa menjadi kursi, kalau mau tidur, tinggal diubah menjadi kasur. Seorang mbak yang gesit akan membantu kita mengubah kursi menjadi kasur dalam waktu singkat, begitu pula sebaliknya. Namun, untuk tiket upper tidak ada pilihan itu. Begitu naik, mbak yang baik itu akan mempersiapkan kasur kita seolah begitu naik kereta kita sudah cuci kaki dan sikat gigi dan siap tidur. Pengalaman yang lucu juga bila dikenang.
Kereta paling cantik tentu saja adalah kereta panoramic Golden Pass yang membawaku dari Montreaux ke Lucern (Switzerland). Karena ini adalah kereta panoramic atau kereta yang memang dirancang untuk menikmati pemandangan, maka jendelanya besar-besar. Tempat duduknya nyaman dan jalannya lebih perlahan. Mantapp dah...
Beruntung aku juga sudah pernah mencoba kereta supercepat waktu di Korea dan di Taiwan. Kereta dengan kecepatan hampir 300 km/jam ini luar biasa. Duduk di atasnya tidak terasa apa-apa namun begitu melihat ke jendela barulah terasa kecepatannya. Wonderful...
Memikirkan kereta-kereta ini membantuku tidak fokus pada penderitaan kecil yang sedang aku alami. Asap rokok dan semuanya pun terlupakan ketika pikiranku melayang ke mana-mana.
Kali ini mari kita ke Italia. Kereta Tren Italia sebenarnya hampir sama dengan kereta-kereta Argo kita. Mungkin karena perawatannya jadi terlihat lebih mewah
dan bersih. Prosedurnya pun hampir sama. Kita membeli tiket, tiket diperiksa di depan, lalu kita masuk dan mencari kereta kita di peron yang mana, kita naik kereta, lalu di tengah perjalanan kemudian baru ada pemeriksaan tiket di dalam kereta. Tiket tidak diperiksa pada saat naik ke kereta tertentu. Sepertinya hal ini berlaku di mana-mana, sehingga penumpang seringkali ragu-ragu apakah benar kereta yang dinaikinya karena pada saat naik kereta tidak ada petugas.
Ketika bapak-bapak yang mengenakan setelan jas rapi dan bertopi datang meminta tiket aku pun teringat ketika naik Tren Italia dan dibangunkan oleh petugas tampan pemeriksa tiket. Setelannya hampir sama, hanya berbeda dalam level ketampanannya saja.
Pikiranku melanglang buana lagi. Kembali ke KRL Jabotabek tercinta. Mirip dengan kereta commuter yang dulu sering aku naiki dari Taipei ke Taoyuan. Apabila sedang sepi dan melesat di atas daerah perkotaan, naik KRL Jabotabek itu serasa naik MRT di negara-negara maju.
Akhirnya, tidak terasa, pemandangan dari jendela menampakkan sebuah stasiun yang sangat familiar, yang dulu setiap hari kulewati. Stasiun Manggarai pukul 23.00 menampilkan wajah yang berbeda. Tidak pernah aku melihat wajah seperti ini.
Stasiun sudah gelap dan tenda-tenda jualan telah dibereskan. Tidak terlihat adanya calon penumpang lagi. Namun yang sangat mencolok mata adalah adanya bungkusan-bungkusan berjejeran di lantai. Tampak jelas bahwa itu adalah orang-orang yang tidur di sana dan membungkus dirinya rapat-rapat bagaikan mumi. Udara malam pastilah dingin sekali di "hotel" alam terbuka itu. Ternyata beginilah wajah stasiun Manggarai di atas pukul 23.00.
Itulah perjalanan Cirebon Ekspress dari Cirebon ke Jakarta yang membawaku dari kereta ke kereta di berbagai tempat di dunia, hingga mendarat lagi di stasiun Gambir, Jakarta. Betapa menyenangkan, naik kereta lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
