Google+ Followers

Wednesday, November 16, 2016

Pokhara 2016: a heaven on earth


On a sunny October day we drove from Nagarkot to Pokhara, which took us around 7 hours totally. We passed Kathmandu on our way, and made one fortunate stop at Kathmandu Tribhuvan airport to get my lost luggage. The drive on bus was enjoyable, with our group of 19 fun people from Indonesia, which continously joking and cheering along the way. We requested our guide to play us some Nepali music, I enjoyed so much watching the view of Nepal countryside along the way with Nepali folk songs as a background. The road was quite bumpy in some places, and seating in the back of the bus actually would shake the whole of your body, but that's fine for me. I still managed to take pictures, although not very good, of people and lives we saw from our tourist bus window.

Rest Area On The Way to Pokhara where we stopped to eat. Nice Place

Playing in Nepal countryside.
Lazy afternoon in the countryside - Nepal, on the way to Pokhara.

When we arrived in Pokhara it was dark. We stopped at one place where we have to continue our journey walking because our bus won't fit the small alley. It was around 7 PM and it was raining softly, there were so minimum lighting around, so we don't get a clear picture of what's on our surrounding. All we know is we have to walk around 30 minutes to get to the hotel. For local people it probably only take around 10 minutes. But for us, the walk was not easy. The evening was dark, no light, the mountainous air was chilly, the rain makes the earth wet and we have to be careful not to step on pool of water. Everything make the ascending trek to the hotel seemed like endless.

The hotel name was Himalayan Deurali Resort. We arrived in a dining hall (which was in seperated building with the rooms) with very minimum lighting. It's time for dinner so we feast ourselves with another Dal Bhat dishes. The light went out, then it came again. For several times. We had like this also in Nagarkot. Electricity is a luxury, especially in the mountain area. We ate quietly, and then go to the rooms. Some of us are still lamenting about the difficult walk we just had, but the hotel owner told one of our friends that tomorrow you will forget about all the difficulties.

Himalayan Deurali Resort




When we woke up in the morning and opened the window, it was like "Wow" and no other words can describe that feeling. The white-topped mountains was right in front of us. It was the Anapurna range of Himalaya. The hotel owner was right. Today, we forgot all the difficulties of walking, of transporting our luggage, and of the lack of electricity. The view was just amazing, and it stays right in front of us. We directly run outside our room, and went to a field for better view. We wait for sunrise, the sun coming from the east carefully glisten the peaks of Annapurna. One by one, the east-facing peak glistened like gold, and it only happen for a short time before the day is getting brighter. 

We had breakfast in the outdoor. Under the morning sun and the beauty of the Annapurna range, it was one of the best breakfast in my life.



From the mountainous Himalayan Deurali Resort we descend to the lake area of Pokhara. Here we are at the heart of Pokhara tourist area. Near the Fewa lake, there were many stores, restaurants, and souvenir shops. After boating in the Fewa lake, we had our lunch in Gurkha restaurant nearby. After lunch we have time for strolling and shopping around the area. It was a nice stroll along beautiful shops. Here it was a lot calmer, quieter, and cleaner than Kathmandu, although the capital has it's own unique charm.


Pokhara has everything to constitute a beautiful place. It has mountains and hills, and it has lake. Pokhara is the second largest city of Nepal and is a popular tourist destination. Located around 200 km west of the capital Kathmandu, Pokhara is the starting point for most of the treks in the Annapurna area. Three out of ten highest mountains in the world---Dhaulagiri, Annapurna I and Manaslu---are within approximately 15-35 miles of Pokhara valley.

Besides boating in Fewa Lake which was one of the most popular activities by tourist, we also visit World Peace Stupa, Devil's Falls, and Sarangkot (for Paragliding). 

On the second night in Pokhara we stayed at Hotel Crystal Palace, near the lake. It was considered the best hotel so far in our trip, merely because the electricity never fail, the hot water are abundant, and wifi is fast. A very mundane reason.

Paragliding in Pokhara



Once in your life, if you want to know how it feels to fly and soar above the sky, you should try paragliding. One of the best place to do this once in a lifetime, is in Pokhara. In the Sarangkot hill, it has the best take off place, so there won't be any problem for a beginner, like me. It was my first time doing paragliding, and I did it in Pokhara. The view of Himalaya range above and Fewa lake below is just the temptation you can not resist. Although you have to fight the fear and the nervousness that creeping inside you before you take off and soar. We paid 81 US$ including photo and video, for about 30 minutes in the sky, it's gonna be an experience you'll not regret.


Thursday, November 10, 2016

Wisata Dunia Terbalik dan Hotel Bintang 5 di Bandung yang Akan Membuat Momen Liburan Tak Terlupakan!

Sumber: codepos.xyz

Bandung, terkenal sebagai kota belanja dan oleh-oleh khasnya, yaitu Kartika Sari, merupakan salah satu kota yang terus berbenah diri dengan beragam wisata dan penginapan berbintang 5. Salah satu hotel berbintang 5, Sheraton Bandung Hotel and Tower, saat ini tengah menjadi incaran wisatawan. Hotel ini juga terdaftar di website Online Travel Agent ternama, seperti website traveloka, sehingga booking kamar menjadi praktis dan mudah.

Menginap di Sheraton Bandung Hotel and Tower dijamin akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Pemandangan pegunungan yang ditawarkan hotel ini bisa Anda dapatkan langsung dari balkon kamar. Suasana rileks berkat hamparan taman dan sejuknya udara pegunungan menjadi pilihan tepat bagi Anda yang hendak berlibur dari suasana kota besar. Berkonsep artistik, hotel ini lengkap dengan fasilitas untuk anak-anak dan orang dewasa, bahkan untuk pebisnis. 

Sumber: smartypans.com

Sumber: sheratonbandung.com

Anda juga bisa memiliki waktu me time berkualitas dengan memanfaatkan layanan pijat, sauna, Jacuzzi, mandi uap, spa, kolam renang, dan pusat kebugaran. Tersedianya WiFi di area umum dan di setiap kamar menjadi pelengkap bagi siapa pun yang ingin berselancar di internet.

Mobilisasi ke bandara juga menjadi mudah dengan layanan antar-jemput bandara di hotel ini. Jika ingin menjelajahi wisata dan kota Bandung, Anda juga bisa menyewa mobil. Sungguh lengkap fasilitas yang bisa Anda dapatkan.


Sumber: kartupos.co.id

Tak hanya itu, taman yang rapi dengan pandangan langsung menghadap pegununungan menjadikan Sheraton Bandung recommended pula untuk dijadikan tempat berlangsungnya acara pernikahan. Hotel ini juga pas sekali jika Anda ingin mengunjungi wisata terbaru di Bandung, Upside Down World. Cukup berkendara ±10 menit dengan jarak tempuh sekitar 3,1 km, Anda bisa menjejal keseruan di Upside Down World. 

Sumber: destinasibandung.co.id

Yap, tak kalah menarik dari tempat wisata lain yang sudah ada, Upside Down World akhirnya hadir juga di kota Bandung. Upside Down World, adalah salah satu tempat wisata yang sedang digandrungi dan menjadi perbincangan banyak orang, terutama di sosial media. Banyaknya hasil foto  menarik yang diunggah ketika berada di tempat wisata ini membuat siapa pun tergoda untuk mencoba datang langsung.

Saya pernah melihat museum terbalik seperti ini waktu berkunjung ke Penang beberapa saat yang lalu. Kini tidak perlu pergi jauh-jauh, dan ternyata selain di Bandung, Upside Down World sebelumnya sudah hadir di kota lain seperti Yogyakarta dan Bali. Berkat keunikan konsep wisatanya, wisata ini mulai bermunculan di kota tujuan wisata andalan lainnya. Pada tahun 2016, Upside Down World pun dihadirkan di kota Bandung. Penasaran ingin berkunjung? Anda bisa langsung meluncur ke lokasi yang berada di Jalan Haji Wasid nomor 31, Lebakgede.

Bertambahnya tempat wisata di Bandung, tentu membuat daya tarik kota Bandung semakin kuat untuk mengundang banyak wisatawan berlibur ke sini. Ditambah dengan lokasinya yang dekat dengan hotel berbintang 5, Sheraton Bandung Hotel and Tower, menjadikan tempat wisata Upside Down World mudah dijangkau wisatawan. 

Harga tiket masuk ke Upside Down World pun terjangkau. Dibandrol dengan harga sekitar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Terjangkaunya harga tiket masuk ke tempat wisata ini menjadi salah satu faktor yang membuat wisata ini terus ramai. Kisaran harga tiket yang tergolong murah tersebut membuat berbagai kalangan dapat berwisata ke sini.

Mengusung konsep dunia terbalik 180 ͦ, tempat wisata Upside Down World memiliki beberapa studio yang bisa dimanfaatkan untuk berfoto. Masing-masing studio didekor berbeda dan menciptakan berbagai ruangan, seperti ruang makan, dapur, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruangan mencuci baju, garasi kendaraan, dan ruangan bermain anak. Terdapat juga gang yang penuh desain mural, ruang makan ala Jepang, dan tempat penyimpanan minuman keras. Dijamin, Anda tak ingin melewatkan satu studio pun untuk berfoto. 

Sumber: facebook @upsidedownworldbandung

Sumber: facebook @upsidedownworldbandung

Juru foto pun dihadirkan di setiap studionya untuk mengarahkan gaya dan membantu setiap wisatawan yang datang dan ingin berfoto. Tidak hanya muda-mudi, tapi juga anak-anak, bahkan orang dewasa dan orang tua pun tergoda untuk berfoto di dalam studio Upside Down World ini. Setiap studio dilengkapi juga dengan properti penunjang yang bisa digunakan para pengunjung untuk memaksimalkan hasil foto.
 
Jam buka tempat wisata Upside Down World adalah hari Senin-hari Minggu, pukul 10.00 hingga pukul 20.00. Jangan lupa membawa kamera andalan dan mengajak orang terdekat supaya Anda bisa totalitas mengekspresikan diri tanpa ragu dan perjalanan pun terasa menyenangkan.

Jadi, apakah Anda tergoda untuk berfoto di Upside Down World ini? Jangan lupa, pastikan juga Anda memilih penginapan terbaik, seperti Sheraton Bandung Hotel and Tower, untuk melengkapi kesenangan di momen liburan Anda. 

Thursday, November 03, 2016

Cuaca Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, Chitwan Oktober 2016

Weather in Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, Chitwan on October 2016

Google Now menunjukkan suhu hari ini dan beberapa hari ke depan.

Pagi itu mengandalkan wifi dari Hotel Holy Himalaya Kathmandu saya membuka Google Now yang memberi saya informasi cuaca hari ini serta ramalan cuaca beberapa hari kemudian. "Ternyata panas ya," komentar beberapa teman. Saya hanya mengenakan celana pendek (pinjaman) dan kaos yang saya beli semalam dari toko souvenir.

Menjelang siang cuaca menjadi semakin panas. Tanggal 9 Oktober memasuki pertengahan Oktober yang katanya akan memasuki musim dingin, ternyata di sini masih panas. Cuaca adalah salah satu faktor yang sempat membuat galau sebelum berangkat. Cuaca adalah hal yang sangat penting dicari tahu sebelum berangkat karena berkaitan dengan packing (pakaian apa saja yang akan dibawa).

Sebelum berangkat tour leader kami memberitahu bahwa pada bulan Oktober di Nepal akan mulai dingin karena akan memasuki winter. Tetapi pada waktu saya melakukan pencarian, suhu rata-rata di tempat-tempat yang akan saya kunjungi adalah:

Kathmandu: 20 derajat Celcius
Chitwan: 25 derajat Celcius
Pokhara: 19 derajat Celcius

Jadi, tidak dingin-dingin amat kan? Saya pun bingung, tetapi karena sudah dipesan bahwa akan cukup dingin, terutama di daerah gunung-gunung, karena itu saya pun mempersiapkan baju hangat, syal dll. Dan saya tidak sendirian. Karena itulah pas di sana, banyak yang berkomentar, "Ternyata panas ya..."

Di Nagarkot agak dingin, tetapi hanya seperti dinginnya Puncak aja.. Cukup dengan jaket saja. Di Pokhara bagian dekat danau panas, tetapi di bagian pegunungan agak dingin, tetapi juga tidak terlalu dingin kok. Jaket biasa saja cukup, tidak perlu jaket winter.

Namun bisa juga cuaca berubah-ubah setiap tahun, bahkan dalam beberapa hari. Jadi, semoga sharing ini membantu apabila Anda sedang packing untuk berangkat ke Nepal.

Wednesday, November 02, 2016

Makanan Khas Nepal Yang Perlu Dicoba

Jika Anda melakukan pencarian di Google tentang makanan khas Nepal, maka besar kemungkinan Anda akan menemukan momo dan dal bhat talkari sebagai makanan yang paling dominan.

Kebetulan dalam trip kali ini kami tidak banyak berkesempatan mencoba kuliner khas Nepal, namun bersyukur kedua makanan paling populer di atas sudah dicicipi.

1. Momo

Momo berisi sayuran
Momo cukup mudah dijumpai pada berbagai restoran, di tempat-tempat yang kami kunjungi di Nepal, yaitu Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, dan Chitwan, maupun tempat-tempat yang dilewati dalam perjalanan. Momo adalah semacam dumpling (pangsit rebus) khas Nepal. Momo diperkirakan bukan makanan asli Nepal, tetapi merupakan pengaruh dari luar yang sudah populer sejak 200 tahun yang lalu. Seperti banyak makanan lainnya di Nepal yang beraroma kari, momo pun tak ketinggalan, dihidangkan dengan kuah kari. Ada momo isi sayuran, atau daging ayam. Rasanya, enak!

2. Dal Bhat dan Dal Bhat Tarkari

Dal Bhat Tarkari
Dalam trip ini beberapa kali kami disuguhi Dal Bhat, yang bisa dibilang makanan pokok orang Nepal. Ia semacam nasi rames dengan pilihan sayuran dan daging, serta ada juga sop kacang-kacangan. Dal adalah sejenis miju-miju, sedangkan bhat adalah nasi. Untuk tambahannya, seringkali kami mendapat papadum dan juga acar. Karena seringkali dal bhat ditambahkan sayuran kari, maka disebut Dal Bhat Tarkari. Rasanya? Yah lumayan lah, tetapi di beberapa tempat terkadang bumbunya terlalu menyengat. Saya gak tahu bumbunya apa, apakah ini yang dinamakan masala (spice mix yang terkenal dalam makanan India)? 


Dal Bhat




Papadum


Jangan khawatir karena banyak restoran yang menjual makanan Western maupun Chinese. Sebagai selingan kami makan chicken steak, atau pizza. Ada juga nasi goreng. 


Contoh restoran di daerah Thamel


Contoh menu makanan dan minuman di sebuah rest area yang kami singgahi dalam perjalanan di Nepal.
Chicken Steak di sebuah Restaurant di Bhaktapur Durbar Square

Nasi goreng di Restoran Gurkha Pokhara. Salah satu makanan terenak selama di Nepal :) karena sama dengan nasi goreng di Indonesia.

Yang paling mantap adalah buah-buahan dan juice. Buah yang paling banyak terlihat dijual di jalanan yaitu apel, jeruk dan pisang. Semua sepertinya langsung dari kebun dan tidak menggunakan pengawet maupun wax. Tour guide kami kebetulan cukup royal dan sering membelikan kami buah-buahan terutama dalam perjalanan dengan bis yang cukup jauh. Saya paling suka jajan jus delima, yang mudah ditemui di pasar-pasar ataupun warung.

Friday, October 28, 2016

Kathmandu October 2016



Kathmandu stays on my mind as a colorful city although dusty. People are out wearing red mostly for the Dashain Festival when we were there. There are red beads on the forehead of most people. Many stores were closed but it doesn't kill the livelihood of the city. Kathmandu is like no other cities I'd ever visited. It is a country capital, it is a center and a starting point of many things, but it is also rich in itself. Rich in culture and history, colorful with religious and ancient kingdom heritage, everything in one place.

Kathmandu stands at an elevation of 1,400 metres above sea level, situated in the bowl-shaped Kathmandu Valley at the center of Nepal. It is surrounded by four major hills: Shivapuri, Phulchoki, Nagarjun, and Chandragiri. Kathmandu Valley consists of three districts: Kathmandu, Lalitpur, and Bhaktapur, it has the highest population density in the country.

Kathmandu is the gateway to tourism in Nepal. Tourism is the lifeblood of Nepalese economy, is the largest industry in Nepal and largest source of foreign exchange and revenue. Possessing eight of the ten highest mountains in the world, Nepal is a hotspot destination for mountaineers, rock climbers and people seeking adventure. The Hindu and Buddhist heritage of Nepal and its cool weather are also strong attractions, according to Wikipedia.






Around 500,000 - 800,000 tourists come to Nepal in a year, with the highest come from India and China, the neighboring countries. Recently Nepal was chosen by Lonely Planet as "Best Value Destination" and ranked 5th on the "Top Ten Destinations Guidebook."

In its “Best in Travel” list, Lonely Planet commented, “Even natural disasters can’t keep Nepal down for long. The 2015 earthquakes caused devastation, but what is most striking from a traveller’s perspective is not how much was lost but how much remains.”

More than a year now from the devastating earthquake, according to BBC, the country is still struggling to recover. Tourism is still hard.

However, that's not what I see when I arrived in Tribhuvan Kathmandu international airport. The queue for the Visa on Arrival was so long it take me more than one hour to pass imigration. (see: Mengurus Visa On Arrival di Bandara Kathmandu).

Although the crowd in the airport might be the effect of the Dashain Festival, but the foreigners queue means other things. It means many people come from abroad, and I see hope in the bounce back and the growth of Nepal tourism. It's really worth a visit (see: Namaste Nepal, Negeri Sejuta Inspirasi).







Top Kathmandu and Nearby Tourist Attractions

Now, back to Kathmandu, here are the top tourist attractions in the country capital according to my own personal view:

1. Swayambhunath Temple 
Beware of the monkeys here, but luckily they don't like glasses or our belongings, they are more into food. They can smell from far away, for example when I ate apple.

2. Boudhanath (Stupa)
The largest Tibetan Budha site. The site is still under reconstruction when we went there, but did not stop people from visiting.

3. Pashupatinath Temple
This is the best according to me. The sacredness is more easily felt here, perhaps because elsewhere were so crowded with tourists. This is a very sacred temple of Hindu faith, dedicated to the national deity Lord Pashupatinath, on the bank of the Bagmati river. Don't miss this site, it's very near from the Kathmandu airport.

4. Bhaktapur Durbar Square
Not exactly in Kathmandu, but only around 15 km from Kathmandu. It's a very large and interesting complex.
Bhaktapur Durbar Square

5. Thamel
It's best that you stay in one of the hotel or hostels here in Thamel. Thamel is a very lively area, filled with stores selling souvenirs, travel agents, mountaining geers, etc. It's a must visit even when you only have a short time in Kathmandu.

6. Kathmandu Durbar Square
From Thamel, take a nice walk to Kathmandu Durbar Square. You will pass a traditional market, it was very interesting. Kathmandu Durbar Square was badly hit by the 2015 earthquake, but there has been many works of reconstruction so that we don't feel something is missing. The majestic of ancient kingdom still can be felt, and if you're lucky, you can see Kumari, the living Goddess, coming out of her window, in one of the building here.

Thursday, October 27, 2016

Lost and Found My Luggage in Kathmandu Airport

Orang-orang menunggu kedatangan kerabat di Bandara Tribhuvan International Airport Kathmandu Nepal

Foto di atas menggambarkan keramaian di bandara Tribhuvan International Airport Kathmandu pada malam saya tiba. Suasana di bandara malam itu sangat ramai, karena banyak pekerja Nepal yang pulang dari luar negeri untuk merayakan Festival Dashain. Saya sedang panik pada malam itu karena kehilangan bagasi sehingga hanya sempat mengambil foto di atas, yang menunjukkan orang-orang yang menunggu kerabat yang datang di bandara. 

Pada waktu hendak mengambil bagasi setelah keluar dari imigrasi, terkejutlah saya, karena koper saya tidak ada. (Koper teman saya ada). Saya curiga apakah karena suasana bandara yang sangat ramai sehingga ada yang salah mengambil koper saya atau tercecer ke mana? Saya pun melapor ke bagian lost and found. Di sana ternyata tidak hanya saya, ada beberapa orang juga melaporkan hal yang sama. Mostly mereka adalah penumpang transit, bukan direct flight untuk mencapai Kathmandu. Saya berpikir mungkin banyak kejadian seperti ini, karena itu saya membagikan cerita ini.

Di bagian Lost and Found saya sempat diminta melihat-lihat lagi ke seluruh airport, apakah ada koper saya, mungkin terselip atau teronggok. Kebetulan di sebuah sudut di bandara terdapat tumpukan koper-koper, saya tidak tahu apakah itu koper yang tertinggal, tidak diambil, atau bagaimana. Saya sudah cari ke setiap sudut dan tidak menemukan koper saya. Maka saya pun mengisi form kehilangan di bagian Lost and Found tersebut.

Penerbangan kami adalah Malindo Air, Jakarta - Kathmandu, dengan transit di Kuala Lumpur. Hanya satu jam lebih transit di Kuala Lumpur, diduga karena singkatnya masa transit menjadi penyebab tercecernya koper saya. Petugas Malindo menyuruh kami menelepon atau kembali lagi besok sore setelah pukul 16.00. Tetapi pada waktu itu, kami tidak bisa kembali lagi ke bandara, karena besok acara tour kami adalah menuju Nagarkot.

Dengan pasrah malam itu kami pun menuju ke hotel, hotel kami Holy Himalaya ada di daerah Thamel yang ramai. Untunglah masih ada toko yang buka, karena itu saya membeli beberapa kaos, untuk baju ganti. Semua hal lain yang saya perlukan pun dipinjamkan oleh teman saya.

Keesokan harinya kami mengunjungi Bhaktapur Durbar Square sebelum bertolak ke Nagarkot. Sesuai permintaan petugas Malindo, saya mencoba menelepon setelah pukul 16.00 pada hari itu, dibantu tour leader kami, Pradip dan Shekhar dari Alpine Asian Trek. No answer. Berkali-kali ditelepon, tak ada yang mengangkat.

Mungkin saja mereka terlalu sibuk. Melihat kesibukan di bandara pada malam itu, sebenarnya saya sudah pesimis. Tetapi menurut petugas, tidak mungkin koper terbawa oleh orang lain karena mereka selalu memeriksa setiap bagasi yang keluar apakah sesuai dengan nomor pada boarding pass.

"Iklasin aja, biasanya nanti malah balik," nasihat seorang teman. Saya sudah iklas. Saya sudah belanja baju, kaos kaki, sikat gigi, dan lain-lain karena bersiap kehilangan koper. Tetapi bukan berarti kami berhenti berusaha. Untunglah tour organizer kami sangat baik. Ketika dari Nagarkot kami akan menuju ke Pokhara, kami melewati Kathmandu. Kami pun menyempatkan diri mampir ke bandara Tribhuvan.

Strategi ternyata telah disiapkan. Tour leader kami sangat baik membantu saya. Ada yang mencari ke bagian belakang tempat koper-koper suka tertinggal, sementara saya kembali ke bagian Lost and Found tempat saya melapor. Saya hanya boleh masuk sendiri. 

Setelah menyampaikan form yang saya isi dua malam sebelumnya kepada petugas, mereka lalu meminta saya mencari di antara koper-koper yang tergeletak, dan... ternyata.... adaaaa !!! Koper saya yang hitam berbungkus cover warna biru.... 

Ketika saya kembali teman-teman bertanya, "jadi ceritanya gimana?" Jawaban saya, "Engga tahu" . Yah begitulah ceritanya. Apa yang terjadi pada si koper, tak ada yang menjelaskan pada saya. Pokoknya dia telah lost, dan kemudian found, seperti judul tulisan ini.

Teman lain yang pernah kehilangan koper menceritakan airline mengantarkan kopernya pada malam hari ke hotel ketika telah ditemukan. Saya berharap hal yang sama dengan meninggalkan kartu nama yang berisi alamat lengkap dan nomor telepon hotel saya di Kathmandu. Tetapi tidak ada kabar. Yah begitu saja, syukur saya tidak jadi kehilangan koper. 


Mengurus Visa On Arrival Nepal di Bandara Kathmandu

Welcome to Nepal

Dear All, kabar gembira untuk kita semua... ya, ke Nepal kita tidak perlu apply visa. Warga Negara Indonesia bisa datang ke Nepal dengan visa on arrival (VOA), karena itu kita bisa langsung cab cus beli tiket begitu kita melihat ada promo tiket murah. Untuk penerbangan dari Jakarta ke Kathmandu bisa menggunakan Air Asia, atau mengikuti jejak saya, menggunakan Malindo Air.

Sebelum berangkat, saya sempat search dan berbagai informasi yang saya temukan cukup simpang siur mengenai Visa on Arrival ini. Kenyataannya adalah begini. Anda tidak perlu bingung-bingung. Siapkan saja foto berwarna 3x4 (walaupun sepertinya ukuran berapa pun diterima, serta tidak terlalu dipermasalahkan), dan uang 25 US Dollar (siapkan uang pas karena tidak ada kembalian) untuk Anda yang perlu berada di Nepal 1 hingga 15 hari.  

Begitu tiba di bandara Tribhuvan International Airport Kathmandu, para foreigners dapat segera mengisi formulir serta membayar Visa on Arrival (VOA) di tempat yang telah disediakan sebelum ke meja imigrasi. Sebenarnya kita juga bisa membayar melalui mesin-mesin elektronik yang tersedia, tetapi pada saat saya tiba di sini, mesin-mesin tersebut tidak berfungsi. 


Ini adalah formulir kedatangan yang harus kita isi:




Ini adalah tarif VOA:

1 Day US$ 5
15 Days US$ 25
30 Days US$ 40
90 Days US$ 100

Beberapa mata uang selain US Dollar juga diterima untuk pembayaran VOA ini, seperti Australian Dollar, Canadian Dollar, Singapore Dollar, Malaysian Ringgit, Euro, South Korea Won, Japanese Yen, Chinese Yuan, dan Hongkong Dollar, tetapi saya tidak tahu berapa tarifnya dalam masing-masing mata uang tersebut.

Ketika membayar VOA kita menyerahkan formulir yang sudah diisi dengan foto untuk diperiksa petugas VOA tersebut. Setelah membayar VOA (yang antriannya sangat panjang pada saat saya di sana, sekitar satu jam) barulah kita mengantri di meja imigrasi untuk mendapatkan stempel visa.

Antrian untuk membayar VOA pada malam itu


Setelah itu, baru deh... Selamat Datang di Nepal, keluarlah saya dan alhasil bagasi sudah keluar semua karena lamanya mengurus VOA. Dan di tempat bagasi Malindo Air penerbangan saya malam itu, ternyata, tak ada koper saya, sementara koper teman saya ada. Baca tulisan berikutnya: Lost and Found My Luggage in Kathmandu Airport.



Wednesday, October 26, 2016

Namaste Nepal, Negeri Sejuta Inspirasi


Sulit move on. Itulah yang dirasakan kami semua setelah pulang dari Nepal. Bahkan setelah beberapa hari, lagu Maya Meri Maya masih saja terngiang.

Maya Meri Maya
Hamro Milan Kahile Hunchha
Maya Meri Maya
Hamro Milan Kahile Hunchha

My Love, oh my dear love, when will we be together again. Kira-kira begitu artinya. Lagu ini begitu cepat menjadi akrab di telinga, segera setelah kami mendengarnya, kami langsung bisa ikut menyanyikannya. Adalah moment yang tak terlupakan itu, ketika kami berlima naik jeep ke bukit Sarangkot untuk Paragliding bersama kelima pilot kami, ketika lagu ini terdengar dari tape mobil, eh mereka serentak bernyanyi bersama. Lalu karena lagunya cukup simple, kami pun ikut bernyanyi bersama.

Kesederhanaan orang-orang Nepal, suasananya, mungkin pegunungan Himalaya yang magis, seolah menghipnotis semua yang datang ke sana. Rasanya sebagian jiwaku masih tertinggal di sudut-sudut jalan sempit di Thamel, entah kapan aku akan kembali untuk mengambilnya.

Kupikir hanya diriku yang merasa demikian, ternyata tidak. Temanku yang ikut ke Nepal mengirim Whatsapp, mengatakan masih sulit move on. Pengen balik ke sana lagi. Lalu kami membahas, ada apa ya dengan Nepal sehingga begitu membius?

Kami berangkat dengan tidak banyak ekspektasi. Mungkin itulah yang terbaik. Nepal terkenal buat orang-orang dengan hobby khusus, seperti naik gunung. Rasanya ada yang kurang bila ke sana tanpa trekking ke Base Camp. Tetapi ternyata bisa juga kita enjoy hanya dengan mengunjungi tempat-tempat wisata.

My advice, go there and be inspired. Nepal yang penuh warna, orang-orangnya yang sangat baik, kecantikan gunung dan danaunya, serta tak terlupakan adalah surga belanja juga, semua adalah paket yang lengkap untuk membuat sebuah liburan seru, menyenangkan, dan tak terlupakan.

Namaste




Dimulai dari kata sapaan “Namaste” yang biasa diucapkan bila bertemu orang lain. Kata Namaste ternyata bukan sekadar Hello, tetapi mengandung arti, “I bow to you.” Biasa diucapkan sambil kedua tangan dikatupkan di depan dada, tradisi ini menunjukkan mereka sangat respect dan juga saling mendoakan. Saya disambut sebuah kejadian kecil ketika tiba di bandara Tribhuvan Kathmandu yaitu kehilangan koper, tetapi justru dari situlah saya belajar tentang betapa baiknya orang-orang Nepal. Dan ketika hendak pulang, kami semua dikalungkan bendara doa berwarna merah, yang berisi doa dalam perjalanan agar perjalanan kami selamat sampai tujuan.


7 Things I Like The Most about my Nepal Trip

Nah, gue ngapain aja di sana? Kebetulan untuk first timer ke Nepal ini saya ikut dengan tour teman saya mbak Sophie Nurbani. Di sana kami dipandu oleh tour organizer lokal Alpine Asian Treks, both are very recommended.


Highlight tour kami adalah Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, dan Chitwan, yang merupakan pilihan yang tepat untuk berkenalan dengan Nepal, negeri yang cantik misterius ini. Saya sangat enjoy serta kebetulan bertemu dengan teman-teman yang asyik dalam perjalanan, namun mungkin tidak bisa saya ceritakan semua destinasi satu per satu di blog ini.


Pashupatinath Temple

Ini adalah 7 hal yang paling saya sukai dari Nepal, dan ini bersifat sangat, sangat personal, serta mungkin sebagian tidak terlalu penting.

1. Jus delima, alias pomegranade juice. Cairan berwarna merah yang sangat menyegarkan ini mudah diperoleh sebagai jajanan di pasar atau street food. I miss it.

2. Kesederhanaan dan keramahan penduduk lokal. Tempat ini seolah abadi terkurung dalam mesin waktu. There's something exotic about it.

3. Thamel, off course. Everyone will love Thamel. Surga belanja. Colorful. Rame. Pusat segalanya. Seru.

4. Keagungan kerajaan di masa lalu, seperti dapat dilihat di sisa-sisanya di Bhaktapur Durbar Square misalnya. Suasana spiritual dan relijius sangat terasa.

5. Momo. Seperti sui ciao (dumpling), tapi ada kuah karinya buat dicocolin. Enak. Apalagi kalau ditemani beer Everest... tiada duanya.

6. Himalaya, tentu saja. Entah kapan gue berharap bisa kembali lagi untuk melihat lebih dekat puncak-puncak tertinggi di dunia ini.

7. Pashupatinath Temple. Kompleks kuil Hindu yang sangat suci. Tempat orang Hindu melarungkan jenazah di sungai Bagmati yang bermura ke Sungai Gangga. Kompleks ini luas, dibelah oleh sungai Bagmati, dan sangat megah. Beruntung saya mengunjungi tempat ini.

Ada yang ingin ditambahkan? Feel free untuk ditambahkan di komentar.