Google+ Followers

Tuesday, May 21, 2013

Mencari Shangri-la



Shangri-la adalah negeri fantasi, sebuah desa di lembah yang tersembunyi di balik gunung-gunung tertinggi di dunia. Jauh dan sulit dicapai, ketinggian serta ketiadaan kemudahan untuk mencapainya membebaskannya dari kontaminasi dunia luar. Di sana penghuninya hidup dalam kedamaian dan harmoni, di bawah naungan puncak gunung yang bercahaya seperti perak di malam hari. Bulan biru yang magis terkadang menampakkan sinarnya, penduduk hidup bahagia hingga tak pernah menua.

Semua kebutuhan penghuninya tersedia, mereka tiada berkekurangan, bahkan dapat menikmati kemewahan. Mereka juga disajikan hal-hal yang mereka sukai seperti buku-buku dan musik klasik yang menjadi kenikmatan rohani kaum intelektual. Di sana waktu seolah berhenti, kita pun memiliki waktu seperti yang tak pernah kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Shangri-la membius dan membuai, pesonanya membuat siapa saja yang datang ke sana menjadi lemah dan kehilangan dirinya.

Seperti itulah Shangri-la yang dilukiskan dalam buku klasik (tahun 1933) berjudul Lost Horizon karangan penulis Inggris James Hilton. Buku ini sangat populer di kalangan pejalan, sudah dua kali difilmkan, serta menjadi salah satu buku yang menginspirasi dan mengawali obsesi-obsesi menahun kaum pejalan tentang daerah Himalaya dan sekitarnya. Obsesi pada ketinggian dan keterpencilan. Obsesi tentang dunia timur yang mistik dan eksotis.



Shangri-la pun lalu menginspirasi perusahaan yang mendirikan jaringan hotel internasional dengan nama yang sama. Konsep “heaven on earth” pada nama Shangri-la begitu menarik dan menjual. Pada tahun 2001 China mengganti nama sebuah kota tak jauh dari perbatasan Tibet, yaitu Zhongdian, menjadi Shangri-la. Gagal mendapatkan izin masuk Tibet bulan Maret yang lalu, ke kota inilah kemudian kami berkunjung.

Xiangkelila

Agar dapat ditulis dalam aksara China, kata Shangri-la pun harus mengalami transliterasi menjadi Xiānggélǐlā (香格里拉). Beberapa tahun yang lalu dalam catatan-catatan perjalanan rekan backpacker, masih banyak petunjuk jalan yang belum diganti, masih menggunakan nama sebelumnya yaitu Zhongdian. Tapi kini saya temui kata Xiangkelila sudah merasuk ke mana-mana, tak ada seorang pun yang kami temui yang tidak mengetahuinya. Pejalan maupun lokal (bukan pejalan) mengenal Shangri-la sebagai tujuan wisata tersohor, baik bagi yang sudah pernah ke sana maupun yang belum pernah ke sana. Semua menyebut Shangri-la sebagai tempat yang indah. “Xiangkelila hen mei,” demikan kata orang-orang.

Sebagai salah satu destinasi paling tersohor di China, kunjungan ke Shangrila biasanya dibarengi dengan kunjungan ke beberapa kota menonjol lainnya di propinsi Yunnan. Propinsi di ujung barat China yang berbatasan dengan Tibet serta Asia Tenggara ini sering disebut-sebut sebagai tempat asal nenek moyang bangsa Indonesia.

Karena berada di ketinggian 3200 meter di atas permukaan laut (mdpl), biasanya tidak disarankan untuk kita yang terbiasa bermukim di dataran rendah untuk langsung mendarat di Shangrila. Kami menempuh rute: Jakarta-Kun Ming- Dali-Lijiang-Tiger leaping gorge-Deqin-Shangrila-KunMing-Jakarta. Rute yang luar biasa, ketika saya melihatnya sekarang. Melewati musim semi di pedesaan dan barisan gunung-gemunung berselimutkan salju. Sebagian dari gunung-gunung itu ketinggian puncaknya melebihi 4500 mdpl.

Karena itulah, sebelum berangkat dalam trip ini, rasanya gugup sekali. Banyak kecemasan. Belum pernah saya merasa segugup ini, bagaikan baru pertama kali bepergian. Mau packing pun bingung. Apa yang sebaiknya dibawa, sementara bawaan tidak boleh berlebihan. Membawa bawaan yang terlalu berat hanya akan merepotkan diri sendiri. Haruskah saya bawa koper atau carrier? Membawa carrier dengan baju hangat, betapa beratnya harus menggendong semua beban itu di pundak.. akhirnya aku memutuskan membawa sebuah koper kecil dengan sebuah ransel (backpack).

Walaupun sudah pernah mengalami bagaimana rasanya suhu -20 derajat Celcius (baca: Harbin), masih saja ada kecemasan untuk trip kali ini. Karena kami akan melakukan perjalanan ini ala backpacker serta melewati dan mengunjungi tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 4000. Cemas akan kedinginan, high altitude sickness, cemas akan dataran tinggi yang tipis oksigen sehingga perlu mengenakan masker, dan sebagainya.

Ternyata semua syukurlah telah berlalu dengan baik-baik saja. Kami memasuki Shangrila melalui kota kecil Deqin yang terletak sekitar 80 km dari perbatasan Tibet. Kota Deqin terkenal dengan keindahan Meili Snow Mountain atau Kawa Kerpo dalam bahasa Tibet, sebuah puncak gunung yang disucikan penduduk setempat. Selain itu, keindahan kota Deqin yang sering disebut-sebut dalam catatan perjalanan justru adalah pemandangan dalam perjalanan mencapainya.

Pemandangan dalam road trip Shangrila-Deqin dan sebaliknya Deqin-Shangrila adalah salah satu pemandangan dalam perjalanan terbaik yang pernah saya alami. Lima jam perjalanan tidak terasa sama sekali, dengan suguhan pemandangan gunung-gunung bersalju yang tak ada habisnya. Kamera tak berhenti beraksi, walaupun rasanya lebih puas bila menikmati dengan mata telanjang, tapi rasanya tak tahan untuk ingin mengabadikan dan membawa pulang pemandangan indah ini. Kami juga melintasi gunung Baima yang puncaknya mencapai 4900 mdpl. Sopir mobil sewaan kami bertanya apakah kami mengalami pusing-pusing atau mual atau gejala-gejala high altitude sickness yang lain? Syukurlah, tak seorang pun dari kami merasakannya.



Di antara beberapa tempat wisata favorit di Shangrila akhirnya kami hanya memilih Songzanlin Monastery (it’s a must!), sebuah biara Tibetan yang berdiri megah menggapai langit biru, dan Shika Mountain (ketinggian di atas 4.500 mdpl). Selain itu kami hanya lingering di kota tua Shangrila, menikmati tari-tarian Tibet yang dipertunjukkan setiap malam di Dancing Square, berjalan-jalan santai di kota yang menyenangkan itu, main ke pasar tradisional, naik bus umum... merasakan apa yang dirasakan penduduk setempat.

Walaupun udara dingin (mencapai -4 derajat Celcius di malam hari), tapi di siang hari matahari bersinar sangat terik. Langit sangat biru, udara sangat cerah dan bersih, sinar matahari menusuk tajam bagaikan sangat dekat. Orang-orang tua berwajah legam dan keriput adalah pemandangan picturesque yang mudah ditemui di Shangrila selain biarawan-biarawan (monk) Tibetan yang mengenakan jubah merah marun. Kami bertanya-tanya apakah keriput itu adalah hasil akibat sinar UV yang kuat, entahlah. Masih banyak juga penduduk yang mengenakan pakaian tradisional suku-suku minoritas, menjadikan tempat ini surga bagi para fotografer.

Bersantai di kota tua Shangrila, di salah satu dari guesthouse yang bertebaran, dengan segala kebutuhan ada di sana, buku-buku dan musik serta makanan yang enak dan murah, rasanya memang bisa lupa waktu dan lupa diri. Terbebas dari segala tuntutan, bebas untuk menjadi siapa yang kita inginkan, memiliki waktu yang bebas kita gunakan untuk diri kita sendiri, membuat kita berpikir, yah, mungkin ini memang Shangri-la. Dan ke tempat inilah kita akan selalu kembali. Karena untuk itulah kita bepergian; untuk mencari, dan menemukan dan kemudian mencari lagi, Shangri-la kita.

Thursday, March 21, 2013

Tersengat Pesona Negeri Gurindam


Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Itulah kedua bait yang dicuplik dari Gurindam 12 yang terkenal itu. Gurindam Dua Belas merupakan puisi (yang juga telah dilagukan), hasil karya Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, propinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Propinsi hasil pemekaran dari propinsi Riau itu menaungi lebih dari 2.000 pulau besar dan kecil yang 30% di antaranya belum bernama dan berpenduduk. Luas wilayah Kepri lebih dari 250.000 km2 dan sekitar 95% merupakan lautan. Kepri menjadi propinsi ke-32 pada tahun 2002 yang mencakup kota Tanjungpinang, kota Batam, kabupaten Bintan, kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten kepulauan Anambas, dan kabupaten Lingga.

Dari atas pesawat Jakarta-Batam sebelum mendarat di bandara Hang Nadim kita dapat melihat ribuan pulau-pulau hijau di tengah lautan hijau tosca yang mengilat, sungguh pemandangan yang dramatis. Dari udara ini kita juga bisa melihat kemegahan jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam dengan pulau-pulau di sekitarnya yaitu Pulau Tonton, Pulau Galang, dan Pulau Rempah. Sungguh, dari udara Kepri bagaikan untaian mutiara yang sudah mengundang decak kagum bahkan sebelum kita mendarat.

Kami memasuki Kepri dari Batam karena dari Jakarta paling banyak penerbangan menuju Batam. Walaupun tujuan utama dalam trip kami adalah pulau Bintan dan Pulau Penyengat, namun kota Batam merupakan pintu masuk yang nyaman. Hampir setiap jam ada kapal yang berangkat dari pelabuhan Punggur Batam menuju Tanjungpinang. Kapal bertarif Rp 40.000 sekali jalan ini cukup nyaman, berpendingin udara, dengan waktu penyeberangan kurang-lebih 1 jam. 

Pulau Bintan



Pulau Bintan adalah pulau terbesar di kepulauan Riau, dan di pulau ini pula terletak kota Tanjungpinang yang menjadi ibukota Kepri. Dibandingkan dengan pulau Batam yang terletak di sebelahnya, mungkin kedua pulau ini dapat diibaratkan dua saudara, yang satu lebih kaya tapi kurang tampan, dan yang satunya lagi kurang kaya namun lebih menawan dibanding saudaranya. 

Ya, Bintan memang menawan dengan pantai-pantainya yang berpasir putih di bawah langit yang biru. Breathtaking, yang menjadi slogan pariwisata Bintan, memang tidak berlebihan. Namun dari sisi ekonomi terlihat Batam lebih maju dengan kekuatan industrinya yang terus berkembang sehingga banyak fasilitas dan infrastruktur lebih tersedia di Batam. Memang kedua saudara ini memiliki daya tariknya masing-masing.

Sebagai tujuan wisata, tentulah Bintan lebih menonjol. Ada yang menyebut  pulau Bintan sebagai pulau kedua setelah Bali sebagai daya tarik wisata andalan Indonesia. Namun selama bertahun-tahun, pesona ini bagaikan rahasia yang tersimpan dengan baik yang malah lebih diketahui orang asing dibanding orang Indonesia sendiri. Baru belum lama ini Bintan semakin banyak dikunjungi pelancong domestik, walaupun data dari beberapa resor yang kami tanyai di Bintan lebih dari 90% pengunjungnya adalah turis dari negara tetangga Singapura.

Karena itu, ketika pertama diajak oleh teman untuk trip ke Bintan, saya awalnya menolak. Bintan yang saya tahu adalah resor-resor yang menawarkan kemewahan dan kefanaan sedangkan saya belum merasa ingin berfoya-foya untuk saat ini. Tetapi ternyata setelah saya pelajari lebih lanjut mengenai sejarah dan daya tarik budaya Melayu dan Tionghoa yang mewarnai kehidupan di Bintan, saya pun berubah pikiran.

Mengelilingi pulau Bintan dengan mengemudi sendiri, kita dapat melihat langsung kehidupan yang menggeliat di pulau yang perekonomiannya disokong oleh pariwisata ini. Selain resor-resor yang tergabung dalam Bintan Resor di kawasan Lagoi di Bintan utara, ada juga resor-resor yang lebih terjangkau di Bintan bagian timur (Pantai Trikora). Objek-objek wisata ini dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 1 hingga 2 jam saja dari pusat kota Tanjungpinang.

Panas yang sangat menyengat menyambut kami ketika tiba di pelabuhan Tanjungpinang, dan sepanjang perjalanan kami di Bintan kami dihadiahi cuaca yang sangat cerah. Langit yang sangat biru dan bersih namun udara juga sangat panas. Tidak lama setelah kami berkendara di pulau Bintan, kami menyadari hampir semua mobil dilengkapi kaca film yang sangat gelap bahkan pada kaca depan, sehingga kita tidak dapat melihat wajah pengemudi dari arah depan.

Dari Tanjungpinang kami langsung menuju pantai Trikora yang berjarak kira-kira 1,5 jam perjalanan. Di sepanjang pantai timur ini banyak pilihan resor yang menawarkan berbagai fasilitas relaksasi, restoran, dan juga sebagian menawarkan snorkeling dan diving. Pemandangan pantai khas Bintan adalah pasir yang amat putih, di beberapa tempat ada pantai berkarang yang mirip di Belitung, serta adanya kerambah (kelong dalam bahasa Melayu) yang menghiasi pemandangan pantai.

Ada juga beberapa resor yang khusus menarget pengunjung yang suka memancing, seperti Kolam Kelong Trikora yang secara tidak sengaja kami temukan pada malam hari. Inilah yang saya sukai dengan road trip, seringkali menemukan kejutan yang menyenangkan. Tempat ini menawarkan penginapan yang cukup terjangkau, serta letaknya yang menjorok ke laut memberikan suasana yang sangat berbeda.

Kelong adalah bahasa Melayu untuk menggambarkan struktur lepas pantai yang dibangun dari kayu untuk menangkap ikan. Saat ini banyak kelong yang berubah fungsi karena pemilik kelong membuka kelongnya untuk para pemancing yang ingin memancing di laut dalam, dengan menyediakan penginapan dan fasilitas yang sangat terjangkau (bila dibandingkan dengan tarif resor-resor di Bintan, apalagi resor di daerah Lagoi).







Keesokan harinya kami mengunjungi daerah Bintan Resort di Lagoi. Kami tidak menginap di sini karena tarifnya sebagian besar di atas 150 SGD per malam. Di sini ada resor-resor internasional seperti grup Banyan Tree, Club Med, dan sebagainya. Salah satu yang paling terkenal adalah Bintan Lagoon Resort yang menawarkan sea view golf yang disebut-sebut padang golf terindah di Asia Tenggara.

Sebagian resor ini menawarkan penyeberangan langsung dari dan ke Singapura dengan loket imigrasi tentunya. Penyeberangan dari Singapura ke Lagoi ditempuh kurang dari 1 jam saja, sehingga banyak pula yang menawarkan fasilitas meeting room yang dapat dipakai pada hari kerja oleh pengunjung dari negeri tetangga tersebut. Letak Bintan yang sangat dekat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia ini juga menjadi salah satu aset yang dioptimasi oleh pemerintah setempat. 

Pulau Penyengat



Kunjungan ke Bintan tidak lengkap tanpa kunjungan ke pulau Penyengat, bahkan ada yang bilang belum ke Bintan kalau belum ke Penyengat. Tampaknya tidak berlebihan karena di sinilah dapat kita saksikan sisa-sisa bukti kebesaran kerajaan Melayu di masa lalu. Pulau Penyengat sangat dekat dari Tanjungpinang, dari dermaga tinggal menyeberang dengan perahu angkut (Pongpong) bertarif Rp 5.000 sekali jalan.

Begitu menginjakkan kaki di pulau Penyengat kita seolah dikelilingi nuansa kuning, dan tentu saja destinasi yang paling tersohor di sini adalah Masjid Sultan Riau yang sering juga disebut Mesjid Penyengat. Mesjid ini salah satu kebanggaan bangsa Melayu yang dibangun atas prakarsa Raja Abdurrahman (Yang Dipertuan Muda Riau VII) pada 1 Syawal 1249 H (1832 M). Konon mesjid ini dibangun menggunakan putih telur sebagai perekat dan kuning telur dalam catnya. 



Kunjungan ke mesjid ini sangat penting bagi mereka yang ingin mengagumi kebudayaan Melayu. Di sini masih tersimpan kitab-kitab kuno serta yang paling menarik adalah kitab Alquran tulisan tangan. Kemegahan mesjid kuning yang menjadi ikon pulau Penyengat ini sudah terlihat dari pantai Tanjungpinang.

Wilayah kepulauan Riau pada masa lalu adalah salah satu perairan yang penting dalam lalu lintas perdagangan internasional. Banyak pedagang dari berbagai negera, tidak hanya Asia, tetapi juga Timur Tengah dan Eropa, yang singgah ke pulau Penyengat untuk mengisi persediaan air tawar.

Pulau mungil berukuran 2.500 x 750 meter ini dapat dikelilingi dalam waktu 1 jam dengan becak motor (bemor) yang merupakan fasilitas pariwisata yang tersedia di sana. Tarif naik bemor Rp 25.000 per jam membawa kita ke obyek-obyek wisata seperti Makam Engku Putri Raja Hamidah, Makam Raja Haji Fisabillilah, Makam Raja Jakfar, Makam Raja Abdurrahman, dan Balai Adat Indra Perkasa. Pada dinding Balai Adat ini kita dapat melihat teks lengkap Gurindam Dua Belas serta foto tokoh-tokoh Melayu di masa lalu termasuk yang turut berjuang melawan VOC. Kunjungan yang singkat ke pulau mungil ini adalah kunjungan yang padat dan kaya dengan budaya dan sejarah.

Tanjungpinang



Ibukota propinsi Kepri ini tak kalah menariknya dan penting untuk dikunjungi. Di sini kita dapat melihat pembauran budaya Melayu dan Tionghoa yang kental. Anak-anak mengenakan seragam sekolah khas Melayu dan encim-encim berbahasa Hokkian adalah pemandangan sehari-hari. Mesjid yang agung berpadu dengan wihara nan megah juga tak jarang ditemui.

Karena masih serumpun dengan Malaysia dan Singapura, maka budaya dan kuliner di sini mirip dengan kedua negara tetangga itu. Bahkan istilah yang digunakan untuk teh dan kopi sama dengan di negara jiran. Misalnya ada istilah teh O dan kopi O, teh Obeng, dan teh tarik tentunya. Di sini dapat ditemui kopi dan teh tarik otentik yang rasanya sama seperti di Malaysia atau Singapura.

Karena itu kunjungan ke Akau Potong Lembu adalah keharusan. Ini adalah pusat kuliner terlama dan terbesar di Tanjungpinang, letaknya di jalan Potong Lembu. Tempat ini adalah hawker center yang menyediakan berbagai pilihan makanan (sebagian besar makanan khas Bintan), suasananya mirip pusat kuliner yang ada di Singapura.

Yang wajib dicoba di sini menurut saya adalah siput Gonggong, otak-otak, sop ikan dan teh tarik. Siput gonggong jarang ditemui di tempat-tempat lain, sementara otak-otak juga merupakan salah satu kuliner khas Bintan, terdiri dari berbagai pilihan bahan dari ikan, udang, dan sotong. Dalam perjalanan dari Tanjungpinang ke Pantai Trikora kami juga beruntung menemui penjual durian di sepanjang jalan.
Trip ini menjadi begitu lengkap dan kaya: pemandangan alam, wisata budaya dan sejarah, serta wisata kuliner. Negeri Gurindam ini memang menawan. Hati-hati Anda akan tersengat pesonanya.






Tuesday, November 27, 2012

Susur Pantai Selatan Part 2: Gunung Kidul – Pacitan

Pergilah ke tempat yang jauh
Ke gunung-gunung karang yang tersembunyi
Ke pantai-pantai yang dihempas ombak tinggi
Sunyi manusia, hanya aku dan samudera


(foto1 : Pose bersama ombak Samudera Hindia)

Walaupun judulnya susur pantai selatan, Road Trip kali ini malah dimulai dari pantai utara, tepatnya di kota Semarang. Dari Semarang mengarah ke selatan hingga pantai Drini di Gunung Kidul, membelah pulau Jawa dari atas ke bawah. Dari sana perjalanan baru dilanjutkan menyusuri pantai selatan pulau Jawa hingga Jawa Timur (Pacitan).

Serunya Road Trip memang tidak terbilang. Sepanjang jalan kita bisa menikmati pemandangan alam dan pedesaan. Sesuka hati kita bisa berhenti di tempat mana yang menarik. Dan tak jarang, perjalanan seperti ini memberikan bonus kejutan yang tak terduga, seperti menemukan suatu surga tersembunyi, pantai perawan yang tidak terekspose, keindahan yang terjaga kemurniannya.

Kami dijemput Jeep yang sama seperti yang membawa kami melintasi Taman Nasional Gunung Bromo – Semeru beberapa waktu yang lalu, si Ijo yang tangguh, yang anak gaul karena tergolong Gen Y (lahir tahun 80-an), di suatu tempat di kota Salatiga bernama Pasar Sapi (tips: di sini gak ada sapinya).

Dari Semarang menuju Salatiga petualangan dimulai, kami menumpang bus Taruna jurusan Semarang – Solo yang bertarif Rp 10.000 per orang. Rasanya seperti dalam salah satu show Ultimate Traveller atau reality show race travelling serupa. Libur long weekend menyesaki bus antar kota ini dengan orang-orang yang bepergian dengan barang yang banyak. Termasuk kami yang gendut karena ransel-ransel besar. Tidak ada sisa tempat duduk lagi, dan walau judulnya Patas AC, untuk merasakan hembusan AC dibutuhkan kepekaan super duper tinggi.

Setelah bertemu Jeep barulah Road Trip dimulai. Karena, menurut definisi National Geographic Traveler, Road Trip bukanlah perjalanan yang membawa kita dari titik A ke titik B. Road trip bersifat lebih leluasa dalam waktu dan tempat yang akan kita singgahi. Walaupun sudah memiliki beberapa titik tujuan, namun hal itu bisa berubah dalam perjalanan, pun kita sangat terbuka untuk menerima kejutan.

Dalam perjalanan kali ini, dari Salatiga kami menuju Magelang dan menginap di dekat Candi Borobudur. Sebelum tiba di sini sempat mampir ke sebuah tempat wisata bernama Ketep Pass dan merasakan udara sejuk pegunungan di sana.

Hari Kedua


(foto 2 : Si Ijo yang menemani kami sepanjang perjalanan ini)

Hari kedua dimulai di Punthuk Setumbu, sebuah bukit tempat mendapatkan view Borobodur dari kejauhan, di mana cahaya matahari yang baru terbit akan menghasilkan pemandangan sunrise yang superb pada candi Budha itu. Keagungan stupa candi di bawah naungan kilau langit emas, di atas kabut yang berlapis-lapis, awan yang mencoba menahan sinar matahari namun derai-derai cahaya ini selalu berhasil lepas.

Pemandangan sunrise yang tiada taranya, kalau Anda beruntung. Pemandangan yang ditunggu-tunggu para fotografer dengan peralatan canggih masing-masing. Mereka mendaki bukit (trekking) saat hari masih gelap, saat tanah hutan berbau harum, saat kabut tebal memberi suasana misty morning, udara sejuk dan segar.

Kami membawa lampu senter sebagai sumber penerangan. Ketika tiba di atas bukit sekitar pukul 04.00 belum terlihat apa-apa. Landscape di hadapan masih gelap-gulita namun semua sudah bersiap-siap menyetting kamera masing-masing.

Hingga beberapa saat kemudian langit mulai terang namun tak ada matahari. Matahari fajar memang agak sulit ditemui pada musim penghujan ini. Kabut dan mendung menggantung di awan. Tak apa, kami memotret apa adanya. Apa adanya pun cukup. Tak ada yang bisa mengeluh di pagi yang indah ditemani segelas kopi di atas bukit. (Kopi atau teh disediakan bagi pendaki bukit Punthuk Setumbu, sudah termasuk dalam harga tiket).

Suatu hal yang tak boleh dilupakan bila berkunjung ke pedesaan adalah sarapan di pasar tradisional, mencari sarapan khas daerah yang masih dimasak dengan cara-cara tradisional. Contohnya misalnya bubur gudeg di pasar Borobudur.

Kami menyempatkan mengunjungi Candi Borobudur, yang seperti biasa pada saat liburan, dibanjiri pengunjung. Kami juga sempat menyambangi Resort termahal di sana, Amanjiwo, persiapan untuk masa depan.

Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Gunung Merapi untuk melihat kondisi terbaru sejak meletus di tahun 2010. Letusan gunung api itu ternyata jangkauannya cukup jauh, di beberapa tempat masih dapat dilihat timbunan pasir yang luas, walaupun gunung-gemunung telah menghijau kembali. Tak bisa melihat sisa letusan pada puncak Gunung Merapi karena tertutup awan.

Melalui negosiasi yang memakan waktu cukup lama, para penjaga akhirnya membiarkan kami masuk daerah Gunung Merapi menggunakan jeep kami sendiri. Tempat ini sudah menjadi agak sedikit terlalu komersil, pengunjung yang masuk harus menyewa jeep dari panitia, atau menumpang motor trail.

Salah satu obyek yang banyak dikunjungi orang di sini adalah rumah peninggalan Mbah Marijan, dengan beberapa spanduk dan kata-kata terpasang di sana untuk mengenang beliau. Di sini juga banyak dijual souvenir untuk mengenang juru kunci Gunung Merapi yang tewas dalam letusan tahun 2010 tersebut.

Perjalanan dilanjutkan ke Candi Prambanan, candi cantik tempat bersemayam patung Loro Jonggrang. Kecantikan Prambanan hanya berkurang karena banyaknya pengunjung serta payung berwarna-warni. Untunglah kini para pengunjung candi (Borobudur juga) diberi pinjaman sarung untuk dikenakan ketika berada di area candi. Tiket masuk candi tidak bisa dikatakan murah, Rp 30.000 (sama dengan Borobudur), tetapi pengunjung tetap membludak.

Di kompleks Prambanan kita juga bisa mengunjungi sebuah candi yang tak kalah ayunya, yaitu Candi Sewu. Sewu yang berarti seribu, dipercaya sebagai candi yang dibangun dalam cerita legenda Loro Jonggrang (di mana pelamar Loro Jonggrang diminta membangun seribu candi dalam satu malam).

Tidak sabar menunggu hingga saatnya sunset, kami beranjak dari Prambanan menuju candi Plaosan yang tak jauh dari sana. Di sinilah kami mendapat sebersit sunset di hadapan sawah yang mengelilingi candi peninggalan bersejarah itu.

Dari Plaosan mulai semakin mengarah ke selatan, ke arah Gunung Kidul. Tak jauh dari kota Wonosari kami mampir di sebuah cafe (Bukit indah kalau gak salah) dengan view kota di malam hari yang magnificent. Tempat ini mirip Rindu Alam di Puncak, dan menjadi tempat nongkrong anak-anak muda di sekitar.

Kami tiba di Pantai Drini yang akan menjadi tempat kami bermalam sekitar pukul 20.00. Hidangan makan malam berupa seafood yang segar pun segera disiapkan pemilik warung yang kami datangi. Pesta seafood pun menutup hari ini yang “Full Candi.”

Hari Ketiga



(foto 3: sunrise Pantai Drini, Gunung Kidul)

Apabila kemarin terasa seperti “Full Candi” hari ini akan terasa seperti “Full Pantai” mengingat rute yang akan kami lalui adalah menyusur sepanjang pantai selatan.

Mentari muncul dari balik tebing-tebing karang pantai Drini, mengintip dengan perlahan malu-malu, lalu dengan garang menunjukkan terangnya pada dunia. Pagi ini, terbalas upaya kami bangun pagi, sebelum jam 05.00 pagi matahari pun menyembul untuk diabadikan.

Setelah puas bermain di pantai Drini (baca: foto-foto, sarapan, bengong-bengong, menikmati pagi yang tenang dalam keramahan sang pemilik warung Bapak Suprihatin dan keluarga--- kami bermalam di selasar warung pinggir pantai ini, dibuai debur ombak pantai selatan yang garang), saat berangkat pun tiba sudah. Hari ini kita akan menyusuri pantai selatan Jawa, dengan tujuan akhir Pantai Klayar di Pacitan, Jawa Timur.

Banyak pantai yang dilalui dalam rute ini. Di antara pantai yang relatif lebih terkenal misalnya Pantai Baron, Pantai Kukup dan Pantai Indrayanti. (Relatif lebih terkenal karena setidaknya ada yang pernah mendengar namanya) Pantai Drini terletak di antara Pantai Parangtritis, Yogyakarta (yang jauh lebih terkenal lagi) dan Pantai Baron.
 
Kami mengira akan mendapatkan pengalaman ala film “Cast Away” di Pantai Drini. Pantai ini memang cukup terbilang baru berkembangnya. Listrik PLN saja baru masuk dua bulan yang lalu. Jadi kami cukup beruntung, mendapatkan fasilitas listrik dan air, ada banyak kamar mandi umum yang bersih, yang disediakan pemilik warung sebagai fasilitas yang dapat digunakan orang-orang yang camping di pantai, dan ada beberapa tenda terlihat di pantai hari itu. Full musik, bisa karaoke if you feel like to, dan sinyal HP lumayan, bisa buat internet. Jadi lupakan obsesi petualangan ala film Tom Hanks itu.

Pantai tempat kami mampir adalah Pantai Baron dan Pantai Sepanjang. Pantai Indrayanti agak ramai, sudah banyak fasilitas wisata air di sana.

Selepas siang kami memasuki propinsi Jawa Timur. Menjelang jalan masuk kabupaten Pacitan terdapat spanduk berbunyi “Selamat Datang di Bumi Kelahiran Pak SBY.”
Pacitan selain dikenal sebagai bumi kelahiran presiden kita, juga dikenal sebagai kota 1001 goa. Salah satu goa yang paling terkenal, dan merupakan goa terbesar di Asia Tenggara, adalah Goa Gong.

Kami tiba sekitar pukul 14.00, perut pas lapar, dan kami pun segera mencari makanan. Di sini ada penjual pecel tradisional, pecel dihidangkan dalam pincuk, bisa memilih antara nasi, lontong, atau tiwul.

Tidak disangka di dalam goa udaranya sangat panas. Pengurus tempat ini harus menyediakan kipas-kipas angin besar, namun sayangnya banyak yang tidak berfungsi. Dibandingkan dengan goa di Halong Bay Vietnam yang sangat sejuk, kami merasa heran mengapa dalam goa ini sangat panas. Semua pengunjung yang keluar dari goa basah bagaikan keluar dari ruang sauna.

Padahal, goa ini memang indah, besarnya mengagumkan. Banyak bentuk stalagmit dan stalaktit yang memukau. Salah satunya yang memberikan nama pada goa ini adalah stalaktit (atau stalagmit?) yang bila ditabuh dapat mengeluarkan bunyi seperti gong. Don’t miss this one. (Rasanya akan sulit melewatkan ini karena rute pejalan di dalam goa sudah ditentukan, ada jalan setapak dan tangga-tangga yang dibangun di dalam goa).

Menjelang sore kami lanjut menuju Pantai Klayar. Pantai ini ternyata cukup terkenal di kalangan fotografer. Betapa tidak, di sini banyak obyek menarik, mulai dari karang berbentuk mirip seruling yang disebut seruling laut, ombak yang dramatis menghempas pada karang-karang serupa papan yang menghasilkan pemandangan mirip air terjun, serta laguna yang jelita.

Mengutip Yogyes.com: Di ujung timur Anda akan disapa oleh sebuah laguna yang jelita. Diapit 2 gugusan batu karang, laguna ini terlihat indah dengan gulungan ombak jernih yang menghantam dinding karang dan kemudian memecah dan berputar di hamparan pasir putih.Pemandangan ini seringkali ditunggu barisan fotografer dengan senjata masing-masing.

Di pantai ini terdapat sebuah penginapan, tidak sulit menemukannya karena hanya satu-satunya. Dibangun dengan bentuk rumah joglo limas, disanggah oleh kayu jati yang kokoh, rumah penginapan sederhana ini berdiri gagah di pantai karang tinggi ini.

Pemiliknya adalah pak Sutarno, hanya tersedia 5 kamar. Kita dapat memesan hidangan makan pagi, siang atau malam dengan mbak dan mas yang menjaga penginapan ini. Kami makan malam di sini setelah menikmati sunset di Pantai Karang Bolong. Sambal buatan mbak di sini, maknyusss, bikin nambah dan nambah...

Pantai Karang Bolong. Salah satu surga tersembunyi. Letaknya hanya di sebelah Pantai Klayar. Tak ada sesiapa di sini. Keluasan panorama, keagungan suasana senja, begitu dekat rasanya dengan Samudera Hindia yang maha luas. Kami berdiri di tepian tebing tinggi.

Hari Keempat



(foto 4: team Jeep dan team Fortuner)

Tak puas dengan sunset, keesokan pagi kami kembali lagi ke Pantai Karang Bolong untuk menikmati pemandangan sunrise. Kali ini kami ditemani rombongan lain yang menginap di tempat yang sama, para lelaki yang membawa Fortuner putih yang masih mulus. Mereka tertarik mendengar bualan kami tentang si cantik eksotis Karang Bolong.

Selepas sunrise, sarapan di Klayar, mandi-mandi, saat berkemas pun tiba. Ransel-ransel naik duluan ke Jeep, kami foto-foto dulu di depan rumah joglo, dan bersama pak Sutarno.
Salah satu hal yang menarik ditemukan di daerah sekitar sini adalah masih banyaknya terdapat rumah-rumah tradisional Jawa, atau rumah beratap joglo dengan berbagai bentuk. Pemandangan yang sangat menarik sekaligus menggembirakan.

Perjalanan pulang kami tidak lagi melalui pantai selatan, tetapi ke arah utara, yaitu Wonogiri dan kemudian Solo. Dari Solo naik pesawat ke Jakarta.

Puas rasanya dalam perjalanan yang tanpa terasa telah melintasi 3 propinsi ini: Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Banyak pemandangan pedesaan, pantai dan gunung, semua kuserap sebisanya dalam indera-indera manusia yang terbatas ini.
  
DAN... pada awal perjalanan pulang kami diberikan bonus kejutan menemukan pantai yang tak terduga-duga sangat indah. Pantai ini bernama Banyutibo. Coba saja google, dia disebut the unknown paradise. Sampai kapankah rahasia ini bisa disimpan? Entahlah.

Dalam perjalanan kami mampir untuk makan siang di dekat Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Warung Bu Karni namanya, sederhana, tapi selalu penuh. Botok ikan air tawar adalah khas-nya. Puas... puas... puas...

Tiba di Solo kami disambut hujan deras. Tak banyak lagi yang bisa dilakukan sembari menunggu penerbangan kami ke Jakarta. Akhirnya, sekali lagi harus mengucap selamat berpisah untuk sementara pada perjalanan dan penjelajahan. See you on next trip, ucap kami ketika berpisah.

Semoga selalu ada kesempatan untuk terus menjelajah, dan menemukan, keindahan-keindahan tersembunyi Indonesia.


Baca juga:

Sunday, July 29, 2012

Amazing Bromo - Ranu Kumbolo Trip


Perasaan terbaik adalah pada hari Senin sehabis trip, ketika mengemudi untuk masuk kembali ke kehidupan yang biasa. Badan masih terasa rontok, setiap otot masih menjerit karena overused, betis kencang sehingga cenderung sakit atau berjalan agak pincang sebagai solusinya, tetapi hati bahagia.

Pikiran terasa segar, refreshed, cenderung blank dan masih perlu adaptasi dengan keseharian yang baru saja ditinggalkan beberapa hari, nafsu makan yang sangat sehat untuk mengisi raga yang habis dipaksa bekerja berlebihan, dan mata baru yang melihat warna-warni ketika memandang dunia sehari-hari yang membosankan.

Itulah yang bisa didapat dari sebuah trip yang sukses. Saya menyebut masuk dalam kategori Trip Rate A adalah trip yang memiliki hampir semua elemen berikut: melelahkan tapi puas, awalnya cemas tapi kemudian berhasil menundukkan tantangan, ada unsur adventure, pemandangan alam yang amazing, ada unsur novelty/surprise karena tidak punya gambaran sebelumnya tentang apa yang akan dihadapi, dan suasana travel yang fun (dengan teman-teman yang asyik). Dengan semua elemen di atas, maka bila ada sedikit hal negatif dia akan tereduksi menjadi minor.

It was just over the weekend dan kami berencana untuk mengunjungi Gunung Bromo dan danau Ranu Kumbolo di Gunung Semeru. Perjalanan kami dimulai hari Jumat malam dengan pesawat terakhir (20.45) Jakarta-Surabaya, dan pulang hari Minggu malam dengan pesawat kedua terakhir dari Surabaya ke Jakarta (19.40). Kami dijemput seorang teman di bandara Juanda menggunakan jeep Land Cruiser/Hardtop yang langsung siap untuk perjalanan di daerah taman nasional Bromo dan Semeru.

Perjalanan kami lengkap dimulai dari road trip Surabaya-Bromo lewat Probolinggo dan ditutup dengan road trip Bromo-Surabaya lewat Malang. Di tengah-tengahnya adalah Sunrise view di Bukit Penanjakan Bromo yang dipenuhi turis-turis lokal maupun mancanegara, drive dari Bromo sampai Ranu Pane menyusuri keindahan pasir dan bukit-bukit tandus, dan trekking dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo pp.

Dengan jadwal seperti itu, maka tidak tersisa waktu untuk tidur pada malam pertama. Dari Surabaya hingga Bromo, menembus tengah malam, melewati pergantian hari di sebuah warung kecil di Pasuruan tempat kami mengembungkan perut dengan Indomie. Ketika tiba di Penanjakan (setelah tanya sana-sini) sudah sekitar pukul 03.00 pagi. Sebentar lagi tempat ini akan dipenuhi turis. Kami mampir di sebuah warung untuk minum teh dan menghangatkan badan. Di atas gunung dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl pukul 3 pagi, semua yang sudah berbalut jaket tebal pun masih merasa kedinginan.

Sekitar pukul 04 orang-orang mulai naik ke view point bukit Penanjakan, mencari spot-spot terbaik untuk melihat pemandangan sunrise Gunung Bromo. Padahal dalam kegelapan, masih tak terlihat apa-apa. Hanya yang sudah tahu memberikan informasi, sunrise akan muncul di sebelah kiri, tapi pemandangan gunung Bromo-nya di sebelah kanan. Spot sebelah kiri sudah penuh dengan turis, karena itu kami memilih di sebelah kanan.

Bromo - Ranu Pane

Sekitar pukul 06.00 semuanya berakhir. Kerumunan turis satu per satu meninggalkan tempat, menyerbu warung-warung di bawah mencari sarapan. Kami kembali ke warung teh tadi dan mengisi perut ala kadarnya dengan pisang goreng.

Perjalanan dilanjutkan dengan jeep menuruni bukit Penanjakan, melewati padang pasir yang luas (di sinilah saya mencoba mengemudikan Hardtop tahun 1982 itu) sambil memandang pemandangan amazing di kiri-kanan, hingga mobil mulai menaiki bukit. Kelokan-kelokan petruk (patah) sambil menanjak membuatku ngeri, saat itulah saya mengembalikan kemudi kepada empunya.

Kami tiba di Ranu Pane sekitar pukul 10 pagi. Ranu Pane nama sebuah danau yang indah dan desa yang terletak di sekitarnya. Desa ini sangat hijau dipenuhi perkebunan sayur yang mencetak kotak-kotak di atas tanah berbukit menghasilkan pemandangan landscape yang indah dan permai. Di desa inilah pendakian gunung Semeru dimulai. Di desa inilah para pendaki harus mendaftarkan diri dan minta izin pendakian, termasuk kami (walaupun kami hanya sampai di Ranu Kumbolo). Dan di sinilah masalah bermula.

Setiba di Ranu Pane, kami langsung mencari warung yang menyediakan nasi. Perut yang kembung, masuk angin karena tidak tidur, membuat tak ada yang lain yang bisa memuaskan kecuali nasi. Duduklah kami di sebuah warung sederhana (satu-satunya sejauh mata memandang) dan memesan nasi rawon.

Rencananya di Ranu Pane ini kami akan melakukan segalanya untuk persiapan: makan, bersih-bersih (karena tidak akan ada lagi kamar mandi di gunung), registrasi/minta ijin pendakian, mempersiapkan bekal untuk di atas (rencananya kami akan kemping karena tidak ada penginapan di Ranu Kumbolo), dan mencari porter untuk membantu membawa perlengkapan camping (maklum, manula).

Terkejutlah kami ketika di pos registrasi karena ternyata kami tidak mendapat ijin pendakian, karena tidak membawa surat dokter. Barulah kami mengetahui bahwa untuk pendakian ke Semeru dipersyaratkan sebuah surat yang ditandatangani seorang dokter yang menyatakan bahwa kita dalam keadaan sehat. Terjadilah adu argumentasi yang seru pada saat itu karena kami tidak mau menyerah begitu saja, dan balik lagi setelah sudah sampai sejauh ini. Kabarnya, banyak yang balik lagi karena tidak membawa surat tersebut. Mungkin karena sudah banyak jatuh korban (salah satunya Soe Hok Gie meninggal di Semeru) petugas tidak mau bertanggung jawab apabila ada masalah kesehatan pada pendaki. Meskipun kami hanya sampai di Ranu Kumbolo (tidak sampai puncak Semeru) tetap saja surat itu diperlukan.

Saya hampir menyerah ketika itu, karena peraturan adalah peraturan. Kita harus menghormati peraturan tersebut walaupun kami tidak mendapat informasi tentang itu sebelumnya. Tetapi mungkin memang perjalanan ini direstui oleh YME saat seorang petugas senior datang. Petugas tersebut akhirnya memberikan satu solusi, yaitu kami menandatangani sebuah surat yang menyatakan bahwa kami tidak membawa surat dokter dan apabila terjadi sesuatu kami sepenuhnya bertanggung jawab. Surat tersebut disertai fotokopi KTP kami masing-masing. (Tapi hal ini jangan ditiru ya.. sebaiknya mempersiapkan surat dokter sesuai dengan peraturan karena setiap pendaki Semeru saat ini membawa surat dokter).

Ranu Pane - Ranu Kumbolo


Kami memulai trekking sekitar pukul 12.00, saat matahari tepat berada di atas kepala. Namun udara pegunungan tetap saja sejuk cenderung dingin. Air di kamar mandi Ranu Pane dinginnya bagaikan es. Perjalanan sekitar 13 km jauhnya, yang cepat bisa menempuh dalam 3 jam, bagi kami sekitar 4-5 jam.

Pemandangan selama trekking sangat indah. Diawali perkebunan desa, semakin naik mendekati puncak Semeru. Puncak Semeru (Mahameru) yang gagah dengan gelambir-gelambir kecoklatan itu mengintip dari kejauhan lalu tampak semakin dekat. Di sisi kiri kita dapat melihat lautan awan yang berkilauan di atas negeri yang indah di bawahnya. Matahari yang terik membiaskan sinar keemasan dari balik awan.

Sambil mendaki, sambil memotret pemandangan, itulah trik untuk beristirahat dan tarik napas. Ada kalanya jalan menanjak terus sehingga membuat jantung berdetak sangat cepat dan napas terengah-engah. Ketika turun keesokan harinya kami mengambil rute yang lain, yang menurut saya lebih indah pemandangannya. Sayangnya saya tidak ingat nama-nama rute dan tempat-tempat yang dilalui pada trekking.

Setelah berjalan 4 jam akhirnya kami dapat melihat danau Ranu Kumbolo yang indah itu. Danau yang biru permai dikelilingi bukit-bukit hijau. Langsung kami pun berhenti untuk photo session dulu. Dari sana masih berjalan sekitar 1 jam menyusuri savanah hingga tiba di tempat camping. Beruntunglah saya karena di sana terdapat sebuah rumah/bangsal. Yang penting dapat menahan angin dan kita tidak perlu mendirikan tenda. Udara sangat dingin di Ranu Kumbolo, saya beryukur ada rumah itu karena sempat ngeri bagaimana bisa tidur di tenda di tengah udara sedingin itu.

Di dalam rumah itu terdapat dua sisi dipan panjang tempat hampir semua pendaki menginap. Kami bertemu beberapa rombongan lain, sebagian besar anak-anak muda, Mapala dari perguruan tinggi. Syukurlah kami datang cepat, kalau tidak, rumah ini sudah penuh. Kapasitas sekitar 15-20 orang, tidur berjejeran di atas dipan. Yah, jauh lebih baik daripada di luar, angin kencang dan udara dingin. Ada rombongan yang terpaksa mendirikan beberapa tenda.

Namun mereka semua adalah anak-anak muda yang gagah perkasa. Terpesona saya melihat ada yang mandi di danau yang begitu dingin pada keesokan harinya. Mereka juga tinggal di Ranu Kumbolo selama beberapa hari. Aku teringat ketika masih seusia mereka, ya pantas aku tidak akan pernah diterima masuk Mapala dengan kondisi fisik seperti ini. Lihatlah mereka semua kuat-kuat menghadapi cuaca dingin maupun pendakian. Mereka semua akan lanjut ke Semeru ataupun dalam perjalanan turun. Hanya kami pelancong, petualang nanggung yang hanya sampai Ranu Kumbolo.

Saya pun bersyukur ketika malam cepat berlalu, setelah makan malam nasi Rawon yang dibungkus dari Ranu Pane, kami pun meringkuk dalam sleeping bag masing-masing dan berpamitan pada hari itu.

Ranu Kumbolo – Ranu Pane – Ngadas – Malang

Hari Minggu pagi, badan terasa lebih fit setelah dikasih tidur. Walaupun tidur tak bisa dibilang nyenyak (di atas dipan kayu yang keras, kedinginan, berisik karena rombongan lain mengobrol, dan walaupun lelah ternyata tak mudah tidur), tapi lumayan untuk memberi tenaga baru. Pukul 08 pagi setelah sarapan (nasi yang kemarin lagi + Abon) kami pun trekking lagi dengan jalur berbeda. Jarak tempuh hampir sama, sekitar 4-5 jam. Rute ini lebih ekstrem yaitu awal perjalanan sekitar 1-2 jam pertama nanjak terus, lalu sisanya turun terus. Tapi pemandangannya amazing. Dan perasaannya amazing, setelah berhasil melalui semuanya. Bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi bagi saya, amazing.

Tiba di Ranu Pane perasaan puas itu tak dapat kami sembunyikan. Kami bahkan mendatangi pos registrasi untuk mengabarkan bahwa kami telah pulang dengan selamat. Di Ranu Pane pula kami segera membersihkan diri (mandi). Tubuh mengeluarkan asap ketika terkena air yang sedingin es itu. Luar biasa. Salah satu teman kami bahkan salah satu jarinya membeku dan memucat putih, aliran darah berhenti mengalir ke jari itu karena dingin. Setelah dianget-angetin dengan teh dan dijemur, jari tersebut berangsur normal.

Sekitar pukul 13.00 kami meninggalkan Ranu Pane. Tak bisa berlama-lama karena hendak mengejar flight kami dari Surabaya jam 19.40. Khawatir macet di Porong dekat Lumpur Lapindo itu. Dari Ranu Pane kami akan menuju Malang, menempuh rute yang berbeda dengan saat berangkat. Setelah melewati desa Ngadas yang eksotik dan menjelang kota Malang, kami melewati sebuah desa yang sangat eksotis di mana hampir semua rumah menanam apel di depan rumah. Apel menjuntai-juntai di pohon depan rumah dan tak ada yang mengambil. Di sinilah kami membeli sedikit buah tangan berupa apel Malang.

Tiba di Sidoardjo tepat pada waktunya, masih sempat lagi menikmati Rujak Cingur yang menjadi khas di sini sebelum lanjut ke bandara Juanda. Banyak yang menyangsikan, bahkan saya sendiri mengkhawatirkan, apakah kami mampu, melakukan trip ini sesuai rencana, sesuai jadwal (yang padat) dan juga meragukan stamina untuk trekking. Ternyata semuanya telah berlalu dengan baik, dan itulah salah satu hal yang membuat trip ini terasa, amazing.

Friday, June 15, 2012



Antara Derawan, Wakatobi, dan Karimun Jawa: Cerita tentang Kebangkitan Pariwisata Domestik



Pagi itu hujan turun lamat-lamat, jenis yang senyap dan panjang. Saya terbangun dengan bersemangat, di dalam sebuah rumah panggung yang dibangun di atas laut, tak jauh dari pantai. Sejak sore hari sebelumnya kami telah tiba di Resort Maratua Paradise ini dan langsung jatuh cinta. Pemandangan rumah-rumah penginapan dari kayu di atas air laut yang hijau jernih ini seperti langsung membius kami dan mengingatkan kami pada Maldives, walaupun tak seorang dari kami pernah mengunjungi negara kepulauan yang kesohor dekat Srilanka itu.

Kedamaian yang ditawarkan oleh jauhnya pulau itu dari kehidupan, ketenteraman yang ditawarkan alam, keindahan dan privacy, semua membuat resort di pinggiran pulau terbesar di kepulauan Derawan Kalimantan Timur ini sebuah pilihan getaway yang menyenangkan. Belum lagi menyebut ketika Anda nyebur dan menikmati kekayaan alam di bawah laut, salah satu harta karun Borneo yang belum banyak terekspos.

Kami bercakap-cakap dengan pak Manto, dialah lelaki pemilik boat yang membawa kami all the way dari Berau. Perjalanan ke pulau Maratua dengan speed boat memakan waktu hampir 3 jam dari Berau. Sambil menunggu hujan reda, kami membiarkan Pak Manto, lelaki keturunan suku Bajau kelahiran Maratua asli ini memberikan wawasan baru kepada kami tentang pariwisata di kepulauan Derawan yang mulai menggeliat.

Pak Manto memiliki sendiri speed boat-nya---speedboat kecil yang cukup untuk 12 orang dan setidaknya berharga Rp 100 juta---kongsian dengan beberapa teman. Dia juga memiliki sendiri peralatan snorkeling, sehingga ketika membawa tamu dia sudah bisa membuat paket lengkap yang terdiri dari angkutan dari Berau, island hopping serta snorkeling. Pak Manto lebih maju dari saya, setidaknya dia dan teman-temannya telah memiliki usaha sendiri, mengandalkan modal sendiri serta mengelola bisnis mereka sendiri dengan mengkapitalisasi potensi pariwisata dari kampung halaman mereka.

Keesokan harinya kami pindah menginap di pulau Derawan, salah satu pulau paling ramai yang namanya diambil menjadi nama kepulauan tempatnya berada. Di sini hampir sama dengan Maratua, air laut yang jernih tembus pandang, tetapi yang khas dari Derawan adalah adanya penyu-penyu hijau besar yang bisa kita temui tak jauh dari pantai. Berbeda dengan Maratua Resort yang lebih private, pulau Derawan menawarkan sesuatu yang berbeda. Jalan sedikit dari bibir pantai kita akan menemui sebuah jalan yang kanan kirinya dipenuhi homestay, dan guess what, semua dimiliki dan diusahakan oleh penduduk setempat. Penduduk sini benar-benar menikmati manfaat dari pariwisata di tempat mereka sendiri.

Pak Manto dan keluarga tinggal di sini. Rumahnya tak jauh dari pantai dan deretan homestay bertarif sekitar 100.000-an per malam itu. Dalam hati kami bangga melihat rumah pak Manto, rumah beton yang cukup besar dan bersih, cukup nyaman untuk berdiam dia dan istri serta kedua puteranya yang masih kecil-kecil.

Berjalan-jalan di sini sangat menyenangkan, lingkungan yang penuh homestey berarti juga lingkungan yang penuh turis. Ada juga beberapa café yang menjadi tempat nongkrong para turis, sebagian lokal, sebagian asing. Mereka bercampur dalam satu landscape dengan anak-anak kampung yang sedang bermain di sore hari, di halaman rumah mereka sendiri. Rumah-rumah ini juga bagus-bagus, sebagian besar terbuat dari kayu serta memelihara model tradisionalnya meskipun masih baru.

Sore menjelang malam ketika kami sedang duduk-duduk di café, seorang bule berjalan melewati kami dan mengucapkan “Selamat Pagi,” yang dengan spontan langsung kami jawab “Malam…” yang membuat lelaki itu merasa tidak enak dengan kesalahannya dan buru-buru menjawab, “Oh, sudah malam ya, saya bilang Selamat Pagi karena saya baru bangun,” tentunya dalam bahasa Inggris. Penduduk setempat juga sangat ramah dan melayani dengan baik para pendatang.

Pada trip-trip saya berikutnya (ke Wakatobi, lalu Karimun Jawa belum lama ini) saya bertemu kembali dengan orang-orang yang seperti pak Manto dan merasakan gejolak bangkitnya pariwasata domestik, yang didukung oleh penduduk lokal sendiri. Ini adalah tren yang menggembirakan.

Pak Jufri Penguasa Hoga

Ketika mengunjungi Wakatobi, saya sangat terkesan dengan yang namanya pak Jufri. Pengunjung pulau Hoga pasti pernah mendengar nama ini, salah satu situs web bahkan menyebutnya sebagai penguasa Hoga. Pulau Hoga adalah salah satu pulau di kepulauan Wakatobi yang seringkali menjadi tempat penginapan turis karena di dekat sini banyak diving site.



Pulau Hoga juga merupakan sebuah taman nasional, di sini dulu dikelola Wallace Institute, sebuah lembaga penelitian biodiversity bawah laut. Di suatu sore setelah diving kami sempat mengobrol santai dengan Pak Jufri sambil menunggu sunset.

Pak Juffri memperkenalkan dua bule yang pada waktu itu berkunjung ke Wakatobi bersamaan dengan kami sebagai gurunya. Kedua pasangan bule dari Australia itu kini adalah tamu di pulau Hoga, namun dulunya adalah pengelola tempat itu. Merekalah yang dulu mengajari Jufri diving hingga sekarang menjadi dive master. Mereka juga mengajari Jufri dan istrinya mengelola penginapan yang terdiri dari lebih dari 100 rumah itu. Yang mengejutkan adalah, semua rumah penginapan di Hoga adalah milik penduduk Wakatobi, sebagian besar dari Kaledupa yang merupakan pulau besar terdekat dari Hoga.

Ketika kami berjalan di Kaledupa, pemandu kami berkata “Ini rumah pemilik penginapan yang kalian tinggali” sambil menunjuk sebuah rumah panggung yang mewah. Pada saat masyarakat merasa mampu mengelola sendiri pariwisata di tempat mereka, Wallace Institute pun perlahan melepaskan kepemilikan mereka tentu saja setelah melalui transfer of knowledge. Pemilik penginapan adalah para penduduk, sedangkan yang dipercaya mengelola adalah Jufri dan team-nya. Bapak dan ibu dari Australia itu seringkali datang bila diperlukan, seperti bila ada masalah dengan akunting, website, peralatan diving, dan sebagainya.

Bulan Juni ini mereka akan kedatangan lebih dari 200 pelajar dari seluruh dunia yang merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Wallace Institute. “Kami harus membuktikan bahwa kami mampu mengelola sendiri tempat ini,” ujar Jufri dengan raut yang bijak. Di wajahnya yang hitam pekat tersirat pengalaman mengelola bukan hanya turis yang cerewet, tetapi juga pemilik rumah yang banyak menuntut. Banyak pula di antara mereka yang belum paham tentang pentingnya pelayanan dalam pariwisata, dan sebagainya. Lelaki ini tidak hanya pintar menyelam, tetapi dia juga mengerti sales dan marketing dan pentingnya semua itu untuk kemajuan pariwisata yang berarti kemajuan ekonomi penduduk setempat.

Pada pagi hari ketika kami hendak meninggalkan pulau Hoga, di depan dermaga di hadapan kami sedang bertengger sebuah kapal pesiar yang amat mewah. Kapal itu tampak berkilauan di pagi yang masih remang-remang, bagaikan Titanic kecil. Pak Jufri bercanda bahwa itulah kapal jemputan kami, karena kami sedang menunggu kapal untuk pulang ke Wanci. Kapal seperti itu adalah fasilitas resort-resort mahal, pak Jufri mengenali kapal di hadapan kami sebagai milik salah satu resort di pulau Tomia. Harganya jangan ditanya, membuat saya berpikir mungkin dengan adanya orang-orang seperti pak Jufri inilah pariwisata ke tempat-tempat eksotis seperti Wakatobi, Derawan, dll, akan semakin terjangkau oleh turis domestik.

Tempat-tempat wisata seperti Raja Ampat pun kabarnya sekarang sudah banyak homestay yang dikelola penduduk. Destinasi yang tadinya didominasi asing (baik pengelola maupun turisnya) akan segera berubah. Wisata dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, membuat semuanya lebih terjangkau, dan dengan begini pariwisata Indonesia akan semakin cepat berkembang.

Karimun Jawa

Mungkin di antara ketiga tempat, Derawan, Wakatobi, dan Karimun Jawa, yang terakhir ini adalah yang paling awal ngetop dan paling established sebagai tempat wisata. Pemilihan ketiga destinasi ini kebetulan saja, karena saya baru belum lama ini ke sana. Derawan bulan Januari, Wakatobi Mei dan Karimun Jawa Juni 2012. Pandangan dalam tulisan ini adalah pendapat saya berdasarkan referensi saya yang mungkin terbatas. Di Karimun Jawa kami bertemu dengan seorang pria bernama Alex, seorang pemuda Jawa yang akan sering terlihat mondar-mandir melayani banyak rombongan wisata sekaligus.

Pada akhir pekan biasa seperti ini Karimun Jawa akan dipadati turis. Tempat ini tidak pernah sepi, salah alamat bila Anda mencari tempat sepi, mungkin hanya pada hari biasa (bukan akhir pekan). Kapal Kartini dari Semarang (4 jam perjalanan) selalu penuh pada akhir pekan. Kapalnya dilengkapi air conditioner sehingga cukup nyaman, namun ombak cukup besar sehingga sebaiknya persiapkan antimo. Turis lokal dan muda yang mendominasi pemandangan. Di mana-mana penuh turis: Pulau Menjangan, Pulau Gosong, penangkaran ikan hiu. Sejenak setelah kita meninggalkan sebuah site snorkeling, sedetik kemudian sudah datang rombongan lain dengan kapal lain.

Pemandangan terumbu karang di sini bagus, terumbu besar-besar dan warna-warni, namun ikannya sedikit, dan kecil-kecil, bila dibandingkan dengan kedua destinasi sebelumnya. Secara utuh pengalaman berwisata di sini menyenangkan, serta jauh lebih dekat dan bisa dijangkau over the weekend saja dari Jakarta.

Sama seperti kedua destinasi di atas, di Karimun Jawa saat ini juga sudah banyak sekali homestay. Saya malah cenderung mengusulkan untuk menginap di homestay karena rata-rata homestay ini masih baru, dibanding dengan the so called resort yang usianya sudah tua. Paket wisata Karimun Jawa banyak tersedia di internet, paket ini sudah lengkap dimulai dari kapal dari Semarang atau Jepara, island hopping di Karimun Jawa, snorkeling serta berenang bersama ikan hiu (off course I did it). Karena sudah established tadi, pengelola-pengelola seperti Alex juga sudah sangat established, dan bisa mengelola banyak rombongan sekaligus dan dengan begini dapat menurunkan harga secara signifikan.

Di hari terakhir ketika semua tas sudah dikemas tinggal menunggu boarding ke kapal Kartini, Alex bertanya apakah saya membawa flash disk. “Lho kok gak bilang,” kata saya, karena Alex hendak memberikan semua foto-foto bawah laut yang diambil stafnya ketika kami berwisata dua hari di Karimun Jawa. Mereka sudah dibekali kamera anti air dan memotret para wisatawan yang merupakan bagian dari paket wisata tersebut.

“Kan ada di email,” jawab Alex dengan perasaan tak bersalah.  

Sontak kami langsung melongo dan mengingat-ingat, ternyata kami semua hanya membaca email secara selintas saja dan melewatkan point yang penting itu. Duh.




*Foto1 Maratua Paradise Resort dari borneotourstravel.com, Foto 2 Pemandangan Bawah Laut Wakatobi by Renny Puspita