Google+ Followers

Thursday, January 10, 2019

Fact about Hepatitis A (Penting)
dikutip dari Infohidupsehat.com

Pengertian

Hepatitis A atau kita kenal “Sakit kuning” adalah penyakit berupa infeksi pada hati yang disebabkan “Virus Hepatitis A” ( VHA ) yang disebarkan oleh kotoran/tinja penderita. Bagi penderita Hepatitis A, masih bisa bersyukur karena dibanding Hepatitis B atau C yang resiko meninggalnya lebih tinggi. Perbandingan penderita Hepatitis A yang meninggal kira-kira 3-5 orang dari 1000 kasusnya.

Diagnosis

Untuk memastikan seseorang mengidap VHA, dilakukan tes darah yang menunjukkan positif terhadap antibodi virus tersebut. Tes lebih tepat bila kadar ALT (serum alanine aminitransferase)dan AST (asparaten aminotransferase) menunjukkan angka di atas normal.

Penyebab

Terinfeksi Hepatitis A biasanya dari orang dekat atau konsumsi makanan dan minuman yang mengandung VHA (Virus Hepatitis A). Biasanya yang paling sering adalah buah-buahan dan sayuran yang masih mentah sehingga terkontaminasi Hepatitis A. Lingkungan yang tidak higienis juga sangat berpengaruh. Kelompok yang rawan terinfeksi Hepatitis A adalah pecandu narkoba, penderita kronis hati yang berkepanjangan, dan peneliti yang bekerja di laboratorium. Asia Tenggara termasuk wilayah berisiko tinggi. Sedangkan di AS 1/3 penduduk pernah terinfeksi virus hepatitis A, termasuk anak-anak di pusat penitipan anak yang tertular lewat alat makan yang dipakai bersama.
Konsentrasi virus dalam kotoran penderita masih tetap tinggi 2 - 3 minggu setelah gejala penyakit muncul. Sedangkan air ludah dan cairan tubuh penderita mempunyai konsentrasi rendah. Virus hepatitis A /VHA bertahan hidup 3 - 4 jam dalam ruang suhu normal. Di sini peralatan makan atau makanan yang tercemar VHA dengan sendirinya akan mudah menularkan penyakit ini. Tapi tidak menutup kemungkinan, Hepatitis A bisa juga menular melalui kontak langsung, seperti melalui ciuman atau hubungan seksual.

Gejala

Gejala Hepatitis A biasanya muncul antara 2 – 6 minggu, seperti gejala flu, mual, diare, demam yang tinggi, kepucatan, lemah, lesu, pusing, air seni kemerahan, bagian bola mata dan kulit menjadi kekuningan, tinja pucat, dan perut sebelah kanan atas terasa sakit atau bebal. Pada beberapa kasus, seringkali terjadi muntah-muntah yang terus menerus sehingga menyebabkan seluruh badan terasa lemas. Namun, pada anak-anak kadang kala tidak timbul gejala yang mencolok.

Pencegahan

Lingkungan yang bersih akan mengurangi resiko terkena penyakit ini. Makanan yang direbus atau dimasak yang mencapai suhu 185°F (85°C) setidaknya selama 1 menit membuat virus menjadi tidak aktif. Makanan dan minuman tersebut tidak akan lagi mengandung virus Hepatitis A, kecuali sudah terkontaminasi setelah dipanaskan. Hepatitis A dapat mudah dicegah dengan menjadi kondisi badan tetap fit dan pembuangan lancar.

Langkah-langkah agar tidak terkena Hepatitis A :

1. Minum dari sumber yang sudah jelas

2. Tidak memakan masakan yang masih mentah

3. Buah-buahan dan sayuran yang belum dimasak

4. Menjaga kebersihan bak mandi, dan cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makan dan minum atau sesudah melakukan sex.

5. Orang yang dekat mungkin harus menerima injeksi immunoglobulin

Sekarang ada vaksin yang diberi nama Twinrix keluaran SmithKline Beecham Inc, AS, terbuat dari VHA nonaktif yang diendapkan dalam larutan steril. Jadi bukan terbuat dari darah yang terinfeksi. Tubuh akan bereaksi terhadap virus nonaktif tersebut sehingga melindungi serangan VHA. Dapat mengurangi frekuensi kunjungan dokter dan mempertinggi angka cakupan vaksin, sehingga dapat menekan penyebaran virus hepatitis A dan B. Twinrix adalah vaksin kombinasi pertama di Indonesia yang diproduksi oleh GlaxoSmithKline.

Bagi wanita hamil, vaksinasi untuk Hepatitis A keamanannya belum diketahui. Namun, tidak ada bukti nyata yang dapat membahayakan janin atau pun ibu hamil. Jadi, resikonya sangat rendah.

Hasil penelitian menyatakan, vaksin ini efektif pada lebih dari 90% orang. Efek samping yang dialami sampai sakit parah atau kematian sangatlah kecil. Hanya sekitar 10% yang merasa kurang enak badan sehabis disuntik. Lebih aman mendapat vaksinasi daripada mendapat penyakit Hepatitis A. ”Vaksin ini untuk memberikan perlindungan terhadap dua penyakit sekaligus. Diberikan pada usia 2-15 tahun sebanyak 2 kali dengan interval bulan 0 ke 6. Orang dewasa diatas 15 tahun membutuhkan 3 dosis penyuntikan dengan interval waktu penyuntikan 0 bulan, 1 bulan dan 6 bulan kemudian,” jelas Medical Advisor GlaxoSmithKline, Dr. Hendrajied. Efek proteksi baru terjadi paling tidak dua minggu setelah suntikan. Namun, belum diketahui berapa lama suntikan ini dapat memberikan proteksi terhadap VHA.Disarankan untuk melakukan vaksinasi jika berada pada lingkungan yang jumlah penderitanya banyak.

Perawatan

Selama 2 minggu setelah gejala pertama atau 1 minggu setelah penyakit kuning muncul. jangan terlalu banyak melakukan aktivitas.

Bagi penderita tidak ada pengobatan secara khusus pada Hepatitis A. Penderita harus beristirahat total ( 1 – 4 minggu) dan disarankan untuk memenuhi nutrisi tubuh bisa dengan cara mengkonsumsi vitamin, sehingga mereka tidak mendapat kerusakan hati yang terus-menerus. Menghindari kontak badan dengan nonpenderita dan diberi makanan cukup protein, tapi rendah lemak. Ketika menjadi enggan makanan, mereka bisa diberikan snack-snack atau makanan ringan untuk beberapa waktu pengganti makanan berat yang dapat membuat mereka menjadi sakit. Makanan yang mudah dicerna merupakan makanan paling aman. Pada umumnya, penderita biasanya lebih tidak memilih-milih makanan pada pagi hari daripada di siang hari.

Biasanya dokter menyarankan agar pasien mereka tidak meminum minuman beralkohol baik masa pemulihan. Bahkan sudah sembuh sekalipun, mereka diberitahukan agar jangan minuman alkohol jangan dicampur dengan obat, terutama Tylenol, karena ini akan menyebabkan kerusakan hati yang parah. Jenis-jenis minuman lainnya seperti kopi dan teh sebaiknya dihindari juga, karena kopi dan teh yang mengandung kafein secara kimia dimasukkan dalam kategori ‘obat’ yang akan mengalami proses detoksifikasi di hati (fungsi hati adalah menetralisir racun).

Bila dirawat di rumah, semua pakaian bekas dipakai, alat makan dan minum harus dicuci secara terpisah. WC sehabis digunakan penderita, dibersihkan dengan antiseptik. Mitos yang menyatakan, penderita sakit kuning harus makan banyak gula, tidak seluruhnya benar. Fungsi gula sebenarnya hanya menambah energi, agar kekuatan cepat pulih.

Obat tradisional yang disarankan adalah temulawak karena dapat mengobati gangguan hati, akan lebih baik lagi jika Anda bersedia mengolah sendiri rimpang temulawak dengan cara mengirisnya tipis-tipis setelah dibersihkan, lalu direbus dengan air. Rebusan inilah yang nanti diminum, bisa ditambahkan madu untuk memperbaiki rasa.

Komplikasi akibat hepatitis A hampir tidak ada, kecuali pada para lansia atau seseorang yang memang sudah mengidap penyakit kronis hati atau sirosis.
Seperti apa sih Hepatitis A itu?

Ini sudah hari ke... sekian dalam periode istirahat saya yang cukup panjang karena Hepatitis A. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menyalakan komputer dan menghadapi derasnya aliran email yang bagaikan banjir ketika katub bendungan dibuka. Dan juga untuk menulis tulisan ini karena saya anggap penting.

Kalau mendengar kata Hepatitis, entah itu A, atau B, atau C, saya yakin banyak orang yang tidak mengerti seperti apa sebenarnya penyakit itu. Kecuali tentu saja apabila
dia berkarir di bidang medis ataupun punya kerabat yang pernah menderita penyakit tersebut. Yang ada dalam pikiran kebanyakan orang, seperti yang ada dalam pikiran
saya sendiri sebelum terkena penyakit ini adalah bahwa ini adalah salah satu penyakit yang serius. Serem. Ngeri.

Padahal yang saya alami sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Banyak teman yang SMS dan telepon, tetapi saya yakin, karena ceritanya terpotong-potong, mereka tidak mendapatkan gambaran yang utuh dari apa yang saya alami. Lagipula, memang satu per satu misteri terkuak melalui test darah yang dilakukan beberapa kali.

Hepatitis A ini pun baru saya konfirmasikan dengan dokter tanggal 11 Oktober yang lalu (Kamis). Padahal sudah mendapat hasil test darahnya sejak hari Senin, tetapi belum berani yakin.

Anggaplah dengan membaca cerita ini Anda bagaikan menjenguk saya secara virtual di rumah maya saya. Karena kita hidup di Jakarta yang macet dan sibuk, saya mendukung semua aktivitas yang bisa dilakukan secara virtual, sebaiknya dilakukan secara virtual saja. Tidak perlu membuang banyak waktu dan biaya dan enerji untuk transportasi.

Saya menduga penyakit ini sudah dimulai sejak saya merasa tidak enak badan hari Rabu tanggal 26 September. Hari itu saya meeting di TAM dan teman yang bersama saya Gita dan Lina mengatakan, muka saya pucat dan tangan saya dingin banget. Tapi setelah meeting masih saya paksakan untuk ke kantor, karena saya ingin ke KSEI jam 14.00, dan setelah itu kebetulan ada acara buka puasa bersama teman-teman yang tidak boleh saya lewatkan.

Sejak hari itu saya mendapat gejala seperti flu yang tidak selesai-selesai. Demam, mual, tidak napsu makan, capek. Kadang-kadang badan panas, terutama pada malam hari. Awalnya saya kira flu biasa. Saya masih masuk kantor. Lalu saya kira karena haid ketika haid saya datang. Hari Selasa tanggal 2 Oktober saya untuk pertama kalinya
cuti haid karena saya tidak tahan dengan kondisi badan saya dan perlu istirahat.

Namun keesokan harinya gejala itu masih berlanjut. Saya sudah siap-siap mau ke kantor tapi rasanya kok masih mual. Akhirnya saya tidak jadi ke kantor hari itu. Malam itu saya putuskan untuk segera ke dokter. Kebetulan hanya ke dokter umum yang ada di apartemen karena tidak ada dalam pikiran saya bahwa saya akan menderita penyakit yang serius.

Malam itu dokter Elly memberi pernyataan yang sangat mengejutkan. Dia punya alasan untuk khawatir saya menderita hepatitis, karena itu dianjurkan untuk periksa darah ke Prodia.

Saya benar-benar tidak percaya. Besoknya saya masih online dengan teman-teman kantor dan merasa saya tidak apa-apa. Saya masih mengira saya tidak perlu test darah, tetapi setelah didorong-dorong oleh teman saya, cek saja... biar yakin... ya sudah akhirnya saya pergi ke Prodia. Setelah dari Prodia, masih pergi ke supermarket dan belanja kebutuhan sehari-hari. Bahkan sangat yakin bahwa besok saya sudah bisa ke kantor.

Malamnya, ketika terima hasil test, saya sangat terkejut. Hasil test fungsi hati GOT dan GPT saya sangat tinggi. GOT yang harusnya di bawah 27, angka saya mencapai 793 ! GPT 237, normalnya di bawah 34. Kata petugas di Prodia muka saya kuning banget. Dan itu memang dikonfirmasikan oleh angka Bilirubin Total saya 6,13. Normalnya di bawah 1,1. Bilirubin Total yang tinggi berarti kulit pasien dan juga mata akan menjadi kuning. Semakin tinggi maka semakin kuning.

Awalnya saya tidak tahu dan merasa saya sudah baikan karena gejala-gejala seperti flu tadi sudah hilang. Tetapi setelah saya cari di Internet, ternyata untuk hepatitis A
memang mengalami fase-fase:

a. Masa prodromal. Gejala klinis hepatitis virus akut diawali dengan gejala infeksi virus lainnya seperti demam, lesu, mual, tidak nafsu makan, bisa juga
muntah-muntah, bahkan bisa juga disertai dengan diare, serta sakit perut khususnya di bagian kanan atas.
b. Masa ikterik. Setelah itu, si pasien akan memasuki tahapan kedua yaitu timbulnya gejala kuning ... Pada saat ini, si pasien justru merasa kondisinya secara
umum lebih baik, rasa nyeri hilang, demam reda, nafsu makan muncul kembali.
c. Masa penyembuhan. Semua keluhan hilang, pasien tidak lagi tampak kuning dan pemeriksaan laboratorium fungsi hati kembali menuju nilai normal.
d.. Fulminant hepatitis. Bila kematian sel hati berlangsung luar biasa hebatnya sehingga melampaui kapasitas hati untuk melakukan regenerasi... maka hati
pun tidak mampu mengatasi kebutuhan metabolisme tubuh alias GAGAL HATI ... alias ... LIVER FAILURE.

Berarti saya sedang dalam fase ikterik di mana kulit dan mata kuning. Dan juga kencing berwarna kuning cenderung kecoklatan. BAB juga serem, warnanya putih, pucat.

Setelah dari Prodia malam itu saya pergi ke dokter Elly lagi dan mendapatkan resep obat: HP Pro. Setelah saya search, ini semacam supplemen penguat hati saja. Dokter
mengatakan penyembuhan untuk hepatitis adalah istirahat. Saat itu belum dicek virusnya hepatitis A, ataukah B atau yang lain, karena menurut dokter treatment-nya sama saja.

Besoknya (5/10) mbak Mercy menganjurkan agar saya ke dokter internis. Biar dicek sekalian. Memang itu jalur yang harus ditempuh, katanya. Ya udah. Hari Sabtu malam
saya minta diantar ke RS PIK (kebetulan keluarga kami selalu langganan di sini), dengan dokter internis yang ada malam itu, dr Riki Tenggara.

Apa yang dikatakan dokter Riki sama saja dengan dokter Elly. Hanya saja internis lebih berani memberi obat. Saya diberi resep Lesichol dan Hepamax. Selain itu juga
diberi pengantar untuk test darah untuk mengetahui virus apa. Selain itu, satu minggu setelah test darah yang pertama (tgl 11/10) saya harus kembali dengan hasil test darah untuk mengecek fungsi hati.

Ya sudah. Setelah melewati apa yang harus dilewati saya bisa beristirahat dengan tenang. Hari-hari saya setiap hari diisi dengan makan dan tidur dan melamun saja.
Nonton TV dan baca-baca juga. Hari Senin (8/10) hasil test virus sudah diambil, kayaknya sih Hepatitis A, tetapi belum dikonfirmasikan dengan dokter. Sekalian saja hari Kamis (11/10) setelah saya test darah yang kedua.

Hari Kamis yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Pagi-pagi saya pergi ke Prodia untuk test darah. Lalu malam ke dokter Riki. Pertama, confirmed hepatitis A. Kedua, hasil
GOT saya sudah turun drastis, menjadi hanya 87. GPT malah naik menjadi 291. Dan beberapa unsur kimia lain juga masih di atas normal. Saya tanya dokter apa artinya,
dia cuman bilang, saya masih perlu istirahat lagi.

Dokter di Indonesia memang suka begitu deh. Enggak memberi banyak info kalau tidak ditanya. Tahunya ngasih resep doang dan suruh test darah. Habis itu hasil test-nya
tidak diceritain, dia cuman ngasih resep lagi berdasarkan itu. Untuk banyak pertanyaan yang ada, kita harus cari sendiri di Internet. Untunglah saya sudah hidup di zaman Internet. Teringat dulu waktu kakak saya sakit hepatitis B, saya disuruh cari info di perpustakaan kampus. Wah repot sekali.

Kondisi saya hari ini sudah sangat baik. Wajah masih sedikit kuning, mata juga masih ada sedikit kekuningan. Oya, bilirubin total saya tadi sudah turun jadi 3,79. Masih
belum normal, tapi udah turun banyak. Saya yakin saya sudah memasuki masa penyembuhan. Bahkan saya merasa saya sudah sembuh!!

Hanya saja, seperti kata dokter, saya masih harus istirahat. Karena itu, saya minta maaf, terutama pada teman-teman kantor, bahwa saya masih harus istirahat hingga
tanggal 20. Sayangnya kantor saya tidak mengikuti cuti bersama dari pemerintah yang diperpanjang hingga tanggal 19. Kalau ikut kan saya tidak perlu terlalu banyak madol.

Meskipun begitu, saya bersyukur kena penyakit ini pada masa Lebaran. Karena pada saat-saat ini sudah banyak yang cuti dan kesibukan kantor menurun. Saya bisa istirahat tanpa banyak gangguan dari kantor.

Biaya

Biaya untuk penyakit ini cukup banyak:

1. Dokter umum (2 kali) Rp 100.000
2. Prodia cek penyebab demam Rp 190.000
3. Obat dari dokter umum Rp 110.000
4. Internis Rp 125.000
5. Cek darah (virus Hepatitis) Rp 575.000
6. Obat dari internis Rp 292.000
7. Prodia cek fungsi hati Rp 252.000
8. Internis (2) Rp 125.000
9. Obat (2) Rp 417.000

So far sudah habis Rp 2,176,000 belum termasuk cek ke Prodia yang harus saya lakukan nanti tanggal 18/10 untuk kontrol fungsi hati sudah normal atau belum. Diperkirakan total biaya Rp 2,5 juta belum termasuk transportasi ke dokter, makanan sehat, dll. Untung saya bisa istirahat di rumah, sehingga tidak perlu rawat inap.

Bayangkan berapa biayanya ditambah rawat inap huhuhu... Untunglah saya baru terima THR sehingga tidak ada masalah keuangan.

Biaya kerugian yang tidak langsung kemungkinan jauh lebih besar dari itu. Cost of absence saya dari tempat kerja, salah satunya. Makanya, jangan sampai sakit deh. Dan
saya juga sarankan untuk kantor-kantor yang mampu agar melakukan vaksinasi hepatitis kepada karyawannya.

Jadi seperti apa sih Hepatitis A itu? Now I know.

Saturday, April 01, 2017

Cruising with Royal Carribean’s Mariner of the Seas February 2017


WOW. Pengalaman pertama naik cruise. Dan harus diakui, bikin pengen lagi!

Ada sesuatu tentang suasananya yang rilex, fasilitas dan kenyamanan, pelayanan Royal Carribean yang memanjakan, yang membuat kita senantiasa merasa “Wow!” Tidak terlalu berlebihan bila slogan “Wow” ini banyak terlihat dalam materi promosi Royal Carribean, mungkin itu adalah tujuan mereka dalam industri hospitality ini, membuat konsumen merasa “Wow.”

Membuat konsumen merasa puas, terkesan, ingin mengulang dan merekomendasikan kepada teman adalah hasil dari sebuah rancangan/design pengalaman konsumen yang dimulai dari pemesanan tiket, check-in, naik ke kapal, berada di dalam kapal, makanan dan pengalaman selama di kapal, ketika turun naik bila kapal singgah di beberapa tempat wisata, hingga akhirnya perjalanan selesai dan kembali ke pelabuhan.

Saya merasa Royal Carribean sangat berpengalaman dan sangat profesional sehingga dalam semua proses itu berjalan sangat lancar serta mudah. Salah satunya di sini juga melibatkan penggunaan sebuah kartu yang disebut Sea Pass Card, yang sangat memudahkan kita, sehingga ketika naik turun kapal dan berwisata di tempat wisata kita bahkan tidak perlu melalui imigrasi. Ini hal yang perlu Anda ketahui juga, karena saya juga baru tahu, bahwa ketika kita naik kapal cruise, passport kita akan disimpan oleh petugas. Hanya berbekal Sea Pass Card, kita dapat naik turun di negara tujuan, dan tahu-tahu ketika pulang (selesai cruise) sudah ada cap dari imigrasi negara tersebut. Keren kan... Kartu ini selain berfungsi sebagai kunci kamar, juga berfungsi sebagai alat pembayaran selama di kapal. Cukup gesekkan kartu, lalu tagihan akan dikirimkan melalui kartu kredit kita.

Kami mengambil Cruise 6D5N dengan tujuan Penang, Langkawi, Phuket bersama Mariner of the Seas yang berangkat dari Singapura. Awalnya sempat khawatir enam hari lima malam di kapal itu kelamaan, karena baca di internet orang menganjurkan untuk pertama kali naik cruise, pilihlah yang singkat saja, misalnya 3-4 hari. Tapi ternyata... lima malam di kapal itu tidak terasa, berlalu dengan sangat cepat, bahkan terasa masih kurang!
Saya telah menyiapkan bacaan khawatir akan bosan dalam perjalanan ini (di kapal tidak ada free wifi, wifi harus bayar 20 USD per hari), ternyata tidak disangka kita begitu sibuk, banyak yang bisa dilakukan, serta kita juga sibuk meng-eksplore kapal yang luas ini.

Royal Carribean’s Mariner of the Seas panjangnya 306 meter dan lebar 47 meter. Terdapat 15 tingkat (deck) dengan total jumlah cabin 1,775. Kapal ini dilengkapi 16 buah elevator (lift) yang memudahkan penumpang naik turun deck. Total penumpang yang dapat diangkut adalah 3,807 orang ditambah 1,185 kru. Kapal ini terbilang cukup baru, dengan last renovation bulan April 2012. Untuk jadwal Mariner of the Seas dapat dilihat di website Royal Carribean.

Karena merupakan pengalaman pertama, banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui. Cukup deg-degan juga karena saya mengajak keluarga dalam trip ini, khawatir ada yang tidak lancar sesuai rencana. Sempat khawatir juga membayangkan penumpang 3,600 orang, bagaimana rasanya, dan bagaimana mengaturnya. Ternyata semua telah berjalan dengan lancar. Di sini akan saya bagikan cerita saya untuk membantu Anda yang sedang mencari informasi seperti saya sebelumnya. Cerita ini akan dibuat dalam tulisan bersambung. Ditunggu ya!

Photo Courtesy: Royal Carribean

Thursday, February 23, 2017

Cara Perubahan Faskes Tingkat I BPJS Kesehatan

Bagi Anda yang ingin mengubah fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat I BPJS Kesehatan, karena alasan-alasan tertentu, caranya mudah. Saya baru saja melakukannya, dan saya akan membagikan cerita saya di sini.

Tahapan perubahan faskes tingkat I BPJS Kesehatan:

1. Siapkan dokumen yang diperlukan
Dokumen yang diperlukan adalah:
- Fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan asli
- Fotokopi KTP dan asli
- Kartu BPJS (kebetulan saya menggunakan electronic-ID jadi tinggal print saja)
- Isi formulir perubahan data (formulir dapat di-download ataupun dapat diperoleh langsung di kantor BPJS)

Formulirnya simple, seperti di gambar berikut ini:



Cukup mengisi Faskes lama Anda, dan kemudian Faskes baru yang diinginkan. Anda akan memerlukan kode faskes, karena itu saya menelepon Hotline BPJS Kesehatan dan petugasnya dengan sangat baik dan cekatan membantu saya.

2. Datang ke Kantor KCU tempat domisili. Kebetulan domisili saya di Jakarta Barat, karena itu saya datang ke Kantor KCU BPJS Kesehatan Jakarta Barat. Alamatnya di bawah ini:

Komplek Kampus Widuri, Jl. Palmerah Barat 353 Blok B No.4, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.3/RW.5, Grogol Utara, Kby. Lama, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 11220

Sesuai saran yang akan banyak Anda baca di internet, sebaiknya kita datang pagi-pagi untuk menghindari antrian yang panjang.
 
Petugas di kantor KCU ini sudah cukup profesional. Ketika tiba di depan ruko yang ada di kompleks Kampus Widuri tersebut, sudah terbentuk dua antrian, yaitu antrian untuk loket 1 (untuk pendaftaran baru dll) dan loket 3 dan 4 (untuk mutasi, cetak kartu, perubahan faskes, pendaftaran calon bayi). Maka saya pun mengantri di antrian loket 3 dan 4.

Ini adalah antrian pertama sebelum masuk ke dalam kantor. Di sini petugas memeriksa dulu kelengkapan dokumen yang dibawa oleh para peserta. O ya kebetulan saya datang sendiri untuk melakukan perubahan faskes yang berlaku bagi semua anggota keluarga dalam satu kartu keluarga (KK). Petugas memeriksa KTP asli saja, KK asli tidak diperiksa. Lalu petugas yang di depan memberikan nomor antrian. Saat itu sekitar pukul 9 pagi, saya mendapat antrian nomor 40.

Barulah kemudian kita masuk ke kantor dan menunggu nomor dipanggil untuk ke loket. Tidak menunggu terlalu lama, sudah giliran saya dipanggil ke loket. Petugas loket sangat ramah dan cekatan melayani saya. Hanya dalam hitungan beberapa menit, permintaan perubahan faskes saya sudah selesai. Bahkan langsung dicetakkan ke dalam kartu. Dan saya mendapat kartu BPJS untuk seluruh anggota keluarga dalam KK saya. (Sebelumnya menggunakan e-ID jadi tidak memiliki kartu). Perubahan faskes pun langsung efektif saat itu juga. Wow...

Jangan lupa pastikan Anda telah melunasi tagihan bulanan BPJS Kesehatan Anda. Walau tidak ditanyakan, hal ini menjadi salah satu persyaratan untuk perubahan data. Semoga membantu.

Wednesday, November 16, 2016

Pokhara 2016: a heaven on earth


On a sunny October day we drove from Nagarkot to Pokhara, which took us around 7 hours totally. We passed Kathmandu on our way, and made one fortunate stop at Kathmandu Tribhuvan airport to get my lost luggage. The drive on bus was enjoyable, with our group of 19 fun people from Indonesia, which continously joking and cheering along the way. We requested our guide to play us some Nepali music, I enjoyed so much watching the view of Nepal countryside along the way with Nepali folk songs as a background. The road was quite bumpy in some places, and seating in the back of the bus actually would shake the whole of your body, but that's fine for me. I still managed to take pictures, although not very good, of people and lives we saw from our tourist bus window.

Rest Area On The Way to Pokhara where we stopped to eat. Nice Place

Playing in Nepal countryside.
Lazy afternoon in the countryside - Nepal, on the way to Pokhara.

When we arrived in Pokhara it was dark. We stopped at one place where we have to continue our journey walking because our bus won't fit the small alley. It was around 7 PM and it was raining softly, there were so minimum lighting around, so we don't get a clear picture of what's on our surrounding. All we know is we have to walk around 30 minutes to get to the hotel. For local people it probably only take around 10 minutes. But for us, the walk was not easy. The evening was dark, no light, the mountainous air was chilly, the rain makes the earth wet and we have to be careful not to step on pool of water. Everything make the ascending trek to the hotel seemed like endless.

The hotel name was Himalayan Deurali Resort. We arrived in a dining hall (which was in seperated building with the rooms) with very minimum lighting. It's time for dinner so we feast ourselves with another Dal Bhat dishes. The light went out, then it came again. For several times. We had like this also in Nagarkot. Electricity is a luxury, especially in the mountain area. We ate quietly, and then go to the rooms. Some of us are still lamenting about the difficult walk we just had, but the hotel owner told one of our friends that tomorrow you will forget about all the difficulties.

Himalayan Deurali Resort




When we woke up in the morning and opened the window, it was like "Wow" and no other words can describe that feeling. The white-topped mountains was right in front of us. It was the Anapurna range of Himalaya. The hotel owner was right. Today, we forgot all the difficulties of walking, of transporting our luggage, and of the lack of electricity. The view was just amazing, and it stays right in front of us. We directly run outside our room, and went to a field for better view. We wait for sunrise, the sun coming from the east carefully glisten the peaks of Annapurna. One by one, the east-facing peak glistened like gold, and it only happen for a short time before the day is getting brighter. 

We had breakfast in the outdoor. Under the morning sun and the beauty of the Annapurna range, it was one of the best breakfast in my life.



From the mountainous Himalayan Deurali Resort we descend to the lake area of Pokhara. Here we are at the heart of Pokhara tourist area. Near the Fewa lake, there were many stores, restaurants, and souvenir shops. After boating in the Fewa lake, we had our lunch in Gurkha restaurant nearby. After lunch we have time for strolling and shopping around the area. It was a nice stroll along beautiful shops. Here it was a lot calmer, quieter, and cleaner than Kathmandu, although the capital has it's own unique charm.


Pokhara has everything to constitute a beautiful place. It has mountains and hills, and it has lake. Pokhara is the second largest city of Nepal and is a popular tourist destination. Located around 200 km west of the capital Kathmandu, Pokhara is the starting point for most of the treks in the Annapurna area. Three out of ten highest mountains in the world---Dhaulagiri, Annapurna I and Manaslu---are within approximately 15-35 miles of Pokhara valley.

Besides boating in Fewa Lake which was one of the most popular activities by tourist, we also visit World Peace Stupa, Devil's Falls, and Sarangkot (for Paragliding). 

On the second night in Pokhara we stayed at Hotel Crystal Palace, near the lake. It was considered the best hotel so far in our trip, merely because the electricity never fail, the hot water are abundant, and wifi is fast. A very mundane reason.

Paragliding in Pokhara



Once in your life, if you want to know how it feels to fly and soar above the sky, you should try paragliding. One of the best place to do this once in a lifetime, is in Pokhara. In the Sarangkot hill, it has the best take off place, so there won't be any problem for a beginner, like me. It was my first time doing paragliding, and I did it in Pokhara. The view of Himalaya range above and Fewa lake below is just the temptation you can not resist. Although you have to fight the fear and the nervousness that creeping inside you before you take off and soar. We paid 81 US$ including photo and video, for about 30 minutes in the sky, it's gonna be an experience you'll not regret.


Thursday, November 10, 2016

Wisata Dunia Terbalik dan Hotel Bintang 5 di Bandung yang Akan Membuat Momen Liburan Tak Terlupakan!

Sumber: codepos.xyz

Bandung, terkenal sebagai kota belanja dan oleh-oleh khasnya, yaitu Kartika Sari, merupakan salah satu kota yang terus berbenah diri dengan beragam wisata dan penginapan berbintang 5. Salah satu hotel berbintang 5, Sheraton Bandung Hotel and Tower, saat ini tengah menjadi incaran wisatawan. Hotel ini juga terdaftar di website Online Travel Agent ternama, seperti website traveloka, sehingga booking kamar menjadi praktis dan mudah.

Menginap di Sheraton Bandung Hotel and Tower dijamin akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Pemandangan pegunungan yang ditawarkan hotel ini bisa Anda dapatkan langsung dari balkon kamar. Suasana rileks berkat hamparan taman dan sejuknya udara pegunungan menjadi pilihan tepat bagi Anda yang hendak berlibur dari suasana kota besar. Berkonsep artistik, hotel ini lengkap dengan fasilitas untuk anak-anak dan orang dewasa, bahkan untuk pebisnis. 

Sumber: smartypans.com

Sumber: sheratonbandung.com

Anda juga bisa memiliki waktu me time berkualitas dengan memanfaatkan layanan pijat, sauna, Jacuzzi, mandi uap, spa, kolam renang, dan pusat kebugaran. Tersedianya WiFi di area umum dan di setiap kamar menjadi pelengkap bagi siapa pun yang ingin berselancar di internet.

Mobilisasi ke bandara juga menjadi mudah dengan layanan antar-jemput bandara di hotel ini. Jika ingin menjelajahi wisata dan kota Bandung, Anda juga bisa menyewa mobil. Sungguh lengkap fasilitas yang bisa Anda dapatkan.


Sumber: kartupos.co.id

Tak hanya itu, taman yang rapi dengan pandangan langsung menghadap pegununungan menjadikan Sheraton Bandung recommended pula untuk dijadikan tempat berlangsungnya acara pernikahan. Hotel ini juga pas sekali jika Anda ingin mengunjungi wisata terbaru di Bandung, Upside Down World. Cukup berkendara ±10 menit dengan jarak tempuh sekitar 3,1 km, Anda bisa menjejal keseruan di Upside Down World. 

Sumber: destinasibandung.co.id

Yap, tak kalah menarik dari tempat wisata lain yang sudah ada, Upside Down World akhirnya hadir juga di kota Bandung. Upside Down World, adalah salah satu tempat wisata yang sedang digandrungi dan menjadi perbincangan banyak orang, terutama di sosial media. Banyaknya hasil foto  menarik yang diunggah ketika berada di tempat wisata ini membuat siapa pun tergoda untuk mencoba datang langsung.

Saya pernah melihat museum terbalik seperti ini waktu berkunjung ke Penang beberapa saat yang lalu. Kini tidak perlu pergi jauh-jauh, dan ternyata selain di Bandung, Upside Down World sebelumnya sudah hadir di kota lain seperti Yogyakarta dan Bali. Berkat keunikan konsep wisatanya, wisata ini mulai bermunculan di kota tujuan wisata andalan lainnya. Pada tahun 2016, Upside Down World pun dihadirkan di kota Bandung. Penasaran ingin berkunjung? Anda bisa langsung meluncur ke lokasi yang berada di Jalan Haji Wasid nomor 31, Lebakgede.

Bertambahnya tempat wisata di Bandung, tentu membuat daya tarik kota Bandung semakin kuat untuk mengundang banyak wisatawan berlibur ke sini. Ditambah dengan lokasinya yang dekat dengan hotel berbintang 5, Sheraton Bandung Hotel and Tower, menjadikan tempat wisata Upside Down World mudah dijangkau wisatawan. 

Harga tiket masuk ke Upside Down World pun terjangkau. Dibandrol dengan harga sekitar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Terjangkaunya harga tiket masuk ke tempat wisata ini menjadi salah satu faktor yang membuat wisata ini terus ramai. Kisaran harga tiket yang tergolong murah tersebut membuat berbagai kalangan dapat berwisata ke sini.

Mengusung konsep dunia terbalik 180 ͦ, tempat wisata Upside Down World memiliki beberapa studio yang bisa dimanfaatkan untuk berfoto. Masing-masing studio didekor berbeda dan menciptakan berbagai ruangan, seperti ruang makan, dapur, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruangan mencuci baju, garasi kendaraan, dan ruangan bermain anak. Terdapat juga gang yang penuh desain mural, ruang makan ala Jepang, dan tempat penyimpanan minuman keras. Dijamin, Anda tak ingin melewatkan satu studio pun untuk berfoto. 

Sumber: facebook @upsidedownworldbandung

Sumber: facebook @upsidedownworldbandung

Juru foto pun dihadirkan di setiap studionya untuk mengarahkan gaya dan membantu setiap wisatawan yang datang dan ingin berfoto. Tidak hanya muda-mudi, tapi juga anak-anak, bahkan orang dewasa dan orang tua pun tergoda untuk berfoto di dalam studio Upside Down World ini. Setiap studio dilengkapi juga dengan properti penunjang yang bisa digunakan para pengunjung untuk memaksimalkan hasil foto.
 
Jam buka tempat wisata Upside Down World adalah hari Senin-hari Minggu, pukul 10.00 hingga pukul 20.00. Jangan lupa membawa kamera andalan dan mengajak orang terdekat supaya Anda bisa totalitas mengekspresikan diri tanpa ragu dan perjalanan pun terasa menyenangkan.

Jadi, apakah Anda tergoda untuk berfoto di Upside Down World ini? Jangan lupa, pastikan juga Anda memilih penginapan terbaik, seperti Sheraton Bandung Hotel and Tower, untuk melengkapi kesenangan di momen liburan Anda. 

Thursday, November 03, 2016

Cuaca Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, Chitwan Oktober 2016

Weather in Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, Chitwan on October 2016

Google Now menunjukkan suhu hari ini dan beberapa hari ke depan.

Pagi itu mengandalkan wifi dari Hotel Holy Himalaya Kathmandu saya membuka Google Now yang memberi saya informasi cuaca hari ini serta ramalan cuaca beberapa hari kemudian. "Ternyata panas ya," komentar beberapa teman. Saya hanya mengenakan celana pendek (pinjaman) dan kaos yang saya beli semalam dari toko souvenir.

Menjelang siang cuaca menjadi semakin panas. Tanggal 9 Oktober memasuki pertengahan Oktober yang katanya akan memasuki musim dingin, ternyata di sini masih panas. Cuaca adalah salah satu faktor yang sempat membuat galau sebelum berangkat. Cuaca adalah hal yang sangat penting dicari tahu sebelum berangkat karena berkaitan dengan packing (pakaian apa saja yang akan dibawa).

Sebelum berangkat tour leader kami memberitahu bahwa pada bulan Oktober di Nepal akan mulai dingin karena akan memasuki winter. Tetapi pada waktu saya melakukan pencarian, suhu rata-rata di tempat-tempat yang akan saya kunjungi adalah:

Kathmandu: 20 derajat Celcius
Chitwan: 25 derajat Celcius
Pokhara: 19 derajat Celcius

Jadi, tidak dingin-dingin amat kan? Saya pun bingung, tetapi karena sudah dipesan bahwa akan cukup dingin, terutama di daerah gunung-gunung, karena itu saya pun mempersiapkan baju hangat, syal dll. Dan saya tidak sendirian. Karena itulah pas di sana, banyak yang berkomentar, "Ternyata panas ya..."

Di Nagarkot agak dingin, tetapi hanya seperti dinginnya Puncak aja.. Cukup dengan jaket saja. Di Pokhara bagian dekat danau panas, tetapi di bagian pegunungan agak dingin, tetapi juga tidak terlalu dingin kok. Jaket biasa saja cukup, tidak perlu jaket winter.

Namun bisa juga cuaca berubah-ubah setiap tahun, bahkan dalam beberapa hari. Jadi, semoga sharing ini membantu apabila Anda sedang packing untuk berangkat ke Nepal.

Wednesday, November 02, 2016

Makanan Khas Nepal Yang Perlu Dicoba

Jika Anda melakukan pencarian di Google tentang makanan khas Nepal, maka besar kemungkinan Anda akan menemukan momo dan dal bhat talkari sebagai makanan yang paling dominan.

Kebetulan dalam trip kali ini kami tidak banyak berkesempatan mencoba kuliner khas Nepal, namun bersyukur kedua makanan paling populer di atas sudah dicicipi.

1. Momo

Momo berisi sayuran
Momo cukup mudah dijumpai pada berbagai restoran, di tempat-tempat yang kami kunjungi di Nepal, yaitu Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, dan Chitwan, maupun tempat-tempat yang dilewati dalam perjalanan. Momo adalah semacam dumpling (pangsit rebus) khas Nepal. Momo diperkirakan bukan makanan asli Nepal, tetapi merupakan pengaruh dari luar yang sudah populer sejak 200 tahun yang lalu. Seperti banyak makanan lainnya di Nepal yang beraroma kari, momo pun tak ketinggalan, dihidangkan dengan kuah kari. Ada momo isi sayuran, atau daging ayam. Rasanya, enak!

2. Dal Bhat dan Dal Bhat Tarkari

Dal Bhat Tarkari
Dalam trip ini beberapa kali kami disuguhi Dal Bhat, yang bisa dibilang makanan pokok orang Nepal. Ia semacam nasi rames dengan pilihan sayuran dan daging, serta ada juga sop kacang-kacangan. Dal adalah sejenis miju-miju, sedangkan bhat adalah nasi. Untuk tambahannya, seringkali kami mendapat papadum dan juga acar. Karena seringkali dal bhat ditambahkan sayuran kari, maka disebut Dal Bhat Tarkari. Rasanya? Yah lumayan lah, tetapi di beberapa tempat terkadang bumbunya terlalu menyengat. Saya gak tahu bumbunya apa, apakah ini yang dinamakan masala (spice mix yang terkenal dalam makanan India)? 


Dal Bhat




Papadum


Jangan khawatir karena banyak restoran yang menjual makanan Western maupun Chinese. Sebagai selingan kami makan chicken steak, atau pizza. Ada juga nasi goreng. 


Contoh restoran di daerah Thamel


Contoh menu makanan dan minuman di sebuah rest area yang kami singgahi dalam perjalanan di Nepal.
Chicken Steak di sebuah Restaurant di Bhaktapur Durbar Square

Nasi goreng di Restoran Gurkha Pokhara. Salah satu makanan terenak selama di Nepal :) karena sama dengan nasi goreng di Indonesia.

Yang paling mantap adalah buah-buahan dan juice. Buah yang paling banyak terlihat dijual di jalanan yaitu apel, jeruk dan pisang. Semua sepertinya langsung dari kebun dan tidak menggunakan pengawet maupun wax. Tour guide kami kebetulan cukup royal dan sering membelikan kami buah-buahan terutama dalam perjalanan dengan bis yang cukup jauh. Saya paling suka jajan jus delima, yang mudah ditemui di pasar-pasar ataupun warung.

Friday, October 28, 2016

Kathmandu October 2016



Kathmandu stays on my mind as a colorful city although dusty. People are out wearing red mostly for the Dashain Festival when we were there. There are red beads on the forehead of most people. Many stores were closed but it doesn't kill the livelihood of the city. Kathmandu is like no other cities I'd ever visited. It is a country capital, it is a center and a starting point of many things, but it is also rich in itself. Rich in culture and history, colorful with religious and ancient kingdom heritage, everything in one place.

Kathmandu stands at an elevation of 1,400 metres above sea level, situated in the bowl-shaped Kathmandu Valley at the center of Nepal. It is surrounded by four major hills: Shivapuri, Phulchoki, Nagarjun, and Chandragiri. Kathmandu Valley consists of three districts: Kathmandu, Lalitpur, and Bhaktapur, it has the highest population density in the country.

Kathmandu is the gateway to tourism in Nepal. Tourism is the lifeblood of Nepalese economy, is the largest industry in Nepal and largest source of foreign exchange and revenue. Possessing eight of the ten highest mountains in the world, Nepal is a hotspot destination for mountaineers, rock climbers and people seeking adventure. The Hindu and Buddhist heritage of Nepal and its cool weather are also strong attractions, according to Wikipedia.






Around 500,000 - 800,000 tourists come to Nepal in a year, with the highest come from India and China, the neighboring countries. Recently Nepal was chosen by Lonely Planet as "Best Value Destination" and ranked 5th on the "Top Ten Destinations Guidebook."

In its “Best in Travel” list, Lonely Planet commented, “Even natural disasters can’t keep Nepal down for long. The 2015 earthquakes caused devastation, but what is most striking from a traveller’s perspective is not how much was lost but how much remains.”

More than a year now from the devastating earthquake, according to BBC, the country is still struggling to recover. Tourism is still hard.

However, that's not what I see when I arrived in Tribhuvan Kathmandu international airport. The queue for the Visa on Arrival was so long it take me more than one hour to pass imigration. (see: Mengurus Visa On Arrival di Bandara Kathmandu).

Although the crowd in the airport might be the effect of the Dashain Festival, but the foreigners queue means other things. It means many people come from abroad, and I see hope in the bounce back and the growth of Nepal tourism. It's really worth a visit (see: Namaste Nepal, Negeri Sejuta Inspirasi).







Top Kathmandu and Nearby Tourist Attractions

Now, back to Kathmandu, here are the top tourist attractions in the country capital according to my own personal view:

1. Swayambhunath Temple 
Beware of the monkeys here, but luckily they don't like glasses or our belongings, they are more into food. They can smell from far away, for example when I ate apple.

2. Boudhanath (Stupa)
The largest Tibetan Budha site. The site is still under reconstruction when we went there, but did not stop people from visiting.

3. Pashupatinath Temple
This is the best according to me. The sacredness is more easily felt here, perhaps because elsewhere were so crowded with tourists. This is a very sacred temple of Hindu faith, dedicated to the national deity Lord Pashupatinath, on the bank of the Bagmati river. Don't miss this site, it's very near from the Kathmandu airport.

4. Bhaktapur Durbar Square
Not exactly in Kathmandu, but only around 15 km from Kathmandu. It's a very large and interesting complex.
Bhaktapur Durbar Square

5. Thamel
It's best that you stay in one of the hotel or hostels here in Thamel. Thamel is a very lively area, filled with stores selling souvenirs, travel agents, mountaining geers, etc. It's a must visit even when you only have a short time in Kathmandu.

6. Kathmandu Durbar Square
From Thamel, take a nice walk to Kathmandu Durbar Square. You will pass a traditional market, it was very interesting. Kathmandu Durbar Square was badly hit by the 2015 earthquake, but there has been many works of reconstruction so that we don't feel something is missing. The majestic of ancient kingdom still can be felt, and if you're lucky, you can see Kumari, the living Goddess, coming out of her window, in one of the building here.

Thursday, October 27, 2016

Lost and Found My Luggage in Kathmandu Airport

Orang-orang menunggu kedatangan kerabat di Bandara Tribhuvan International Airport Kathmandu Nepal

Foto di atas menggambarkan keramaian di bandara Tribhuvan International Airport Kathmandu pada malam saya tiba. Suasana di bandara malam itu sangat ramai, karena banyak pekerja Nepal yang pulang dari luar negeri untuk merayakan Festival Dashain. Saya sedang panik pada malam itu karena kehilangan bagasi sehingga hanya sempat mengambil foto di atas, yang menunjukkan orang-orang yang menunggu kerabat yang datang di bandara. 

Pada waktu hendak mengambil bagasi setelah keluar dari imigrasi, terkejutlah saya, karena koper saya tidak ada. (Koper teman saya ada). Saya curiga apakah karena suasana bandara yang sangat ramai sehingga ada yang salah mengambil koper saya atau tercecer ke mana? Saya pun melapor ke bagian lost and found. Di sana ternyata tidak hanya saya, ada beberapa orang juga melaporkan hal yang sama. Mostly mereka adalah penumpang transit, bukan direct flight untuk mencapai Kathmandu. Saya berpikir mungkin banyak kejadian seperti ini, karena itu saya membagikan cerita ini.

Di bagian Lost and Found saya sempat diminta melihat-lihat lagi ke seluruh airport, apakah ada koper saya, mungkin terselip atau teronggok. Kebetulan di sebuah sudut di bandara terdapat tumpukan koper-koper, saya tidak tahu apakah itu koper yang tertinggal, tidak diambil, atau bagaimana. Saya sudah cari ke setiap sudut dan tidak menemukan koper saya. Maka saya pun mengisi form kehilangan di bagian Lost and Found tersebut.

Penerbangan kami adalah Malindo Air, Jakarta - Kathmandu, dengan transit di Kuala Lumpur. Hanya satu jam lebih transit di Kuala Lumpur, diduga karena singkatnya masa transit menjadi penyebab tercecernya koper saya. Petugas Malindo menyuruh kami menelepon atau kembali lagi besok sore setelah pukul 16.00. Tetapi pada waktu itu, kami tidak bisa kembali lagi ke bandara, karena besok acara tour kami adalah menuju Nagarkot.

Dengan pasrah malam itu kami pun menuju ke hotel, hotel kami Holy Himalaya ada di daerah Thamel yang ramai. Untunglah masih ada toko yang buka, karena itu saya membeli beberapa kaos, untuk baju ganti. Semua hal lain yang saya perlukan pun dipinjamkan oleh teman saya.

Keesokan harinya kami mengunjungi Bhaktapur Durbar Square sebelum bertolak ke Nagarkot. Sesuai permintaan petugas Malindo, saya mencoba menelepon setelah pukul 16.00 pada hari itu, dibantu tour leader kami, Pradip dan Shekhar dari Alpine Asian Trek. No answer. Berkali-kali ditelepon, tak ada yang mengangkat.

Mungkin saja mereka terlalu sibuk. Melihat kesibukan di bandara pada malam itu, sebenarnya saya sudah pesimis. Tetapi menurut petugas, tidak mungkin koper terbawa oleh orang lain karena mereka selalu memeriksa setiap bagasi yang keluar apakah sesuai dengan nomor pada boarding pass.

"Iklasin aja, biasanya nanti malah balik," nasihat seorang teman. Saya sudah iklas. Saya sudah belanja baju, kaos kaki, sikat gigi, dan lain-lain karena bersiap kehilangan koper. Tetapi bukan berarti kami berhenti berusaha. Untunglah tour organizer kami sangat baik. Ketika dari Nagarkot kami akan menuju ke Pokhara, kami melewati Kathmandu. Kami pun menyempatkan diri mampir ke bandara Tribhuvan.

Strategi ternyata telah disiapkan. Tour leader kami sangat baik membantu saya. Ada yang mencari ke bagian belakang tempat koper-koper suka tertinggal, sementara saya kembali ke bagian Lost and Found tempat saya melapor. Saya hanya boleh masuk sendiri. 

Setelah menyampaikan form yang saya isi dua malam sebelumnya kepada petugas, mereka lalu meminta saya mencari di antara koper-koper yang tergeletak, dan... ternyata.... adaaaa !!! Koper saya yang hitam berbungkus cover warna biru.... 

Ketika saya kembali teman-teman bertanya, "jadi ceritanya gimana?" Jawaban saya, "Engga tahu" . Yah begitulah ceritanya. Apa yang terjadi pada si koper, tak ada yang menjelaskan pada saya. Pokoknya dia telah lost, dan kemudian found, seperti judul tulisan ini.

Teman lain yang pernah kehilangan koper menceritakan airline mengantarkan kopernya pada malam hari ke hotel ketika telah ditemukan. Saya berharap hal yang sama dengan meninggalkan kartu nama yang berisi alamat lengkap dan nomor telepon hotel saya di Kathmandu. Tetapi tidak ada kabar. Yah begitu saja, syukur saya tidak jadi kehilangan koper.