Wednesday, September 18, 2019

Road Trip Jakarta-Surabaya September 2019



Sunset in the rear view mirror (by: Duo)


Seperti bertemu teman lama yang sudah lama tidak bertemu, lalu ketika bertemu lagi teman baru itu berubah menjadi jauh lebih cantik dan menarik dibanding dulu, itulah yang kurasakan ketika mengunjungi kota Surabaya baru-baru ini. Kali ini perjalanan dari Jakarta ke Surabaya ditempuh dengan road trip alias perjalanan darat, menempuh jarak sekitar 785 km, dan melewati tujuh ruas tol Trans Jawa yang masih terbilang baru.

Tujuh ruas tol Trans Jawa yang diresmikan presiden Jokowi pada tanggal 20 Desember 2018 itu adalah tol Pemalang-Batang (34 km), tol Batang-Semarang (75 km), tol Semarang-Solo (33 km), tol Ngawi-Kertosono (38 km), tol Kertosono-Mojokerto (1 km), tol Porong-Gempol (6 km) dan tol Gempol-Pasuruan (14 km). Walaupun terdapat 7 ruas tol dengan nama masing-masing, pada waktu kita melewatinya, kita tidak terlalu sadar akan perbedaan ruas-ruas ini kecuali diinfokan oleh Google Maps. Dengan petunjuk dari Google Maps, kami berhasil menempuh jarak Jakarta-Surabaya dalam waktu sekitar 12 jam, dan biaya tol sekali perjalanan sekitar Rp 600.000. Detail perjalanan akan saya ceritakan berikutnya.

Kembali pada “si cantik” Surabaya yang saya ceritakan di atas, sebelumnya saya sudah beberapa kali ke Surabaya, tapi memang tidak pernah menjadikan Surabaya sebagai tujuan wisata, namun hanya untuk transit, misalnya untuk ke Malang, Batu, Bromo, atau ke Banyuwangi. Selain itu juga visit Surabaya untuk keperluan bisnis sehingga tidak sempat terlalu memperhatikan kecantikannya. Atau memang ia belum begitu bersolek, sehingga belum terlalu menonjol keindahannya. Dalam kunjungan kali ini terasa banget, Surabaya itu bagus.

Banyak taman yang dibuat dengan serius, sehingga tampak asri. Jembatan-jembatan yang membelah sungai dihias dengan lampu-lampu maupun dekorasi lainnya. Di sepanjang jalan terlihat rapi dan asri. Bahkan Surabaya sudah tidak sepanas dulu lagi. Lalu lintasnya pun tertib dan tidak macet. Ditambah dukungan kulinernya yang enak-enak banget, rupanya tidak rugi menempuh road trip 10-12 jam untuk mengunjungi kota ini.

Kami berangkat pada tanggal 14 September yang lalu dengan menggunakan Nissan Livina. Kami berangkat pukul 08.00 dari daerah Sentul Bogor. Karena membawa anak kecil berusia 4 tahun, kami cukup banyak berhenti di rest area. Apabila tidak banyak berhenti maka mungkin dalam waktu 10 jam sudah sampai Surabaya.

Dalam perjalanan ke Surabaya kami mampir makan sate di Tegal. Katanya sate di Tegal ini terkenal banget, karena itu harus dicoba. Penelusuran di Google membawa kami memilih sebuah warung sate special kambing muda bernama Sari Mendo di Tegal. Satenya cukup enak, dagingnya empuk, sayangnya komposisi gajihnya terlalu banyak, sehingga untuk yang tidak menyukai gajih seperti saya, kenikmatannya jadi berkurang.



Di sini teh pocinya enak banget. Campuran teh dan gula batunya pas, rasa tehnya jadi pas, antara pahit teh dan manis gula takarannya pas. Jadi ingat filosofi minum teh poci, yaitu teh poci tidak boleh diaduk. Biarkan gula batu mencair pada saatnya sehingga rasa manis akan datang dengan sendirinya, tidak perlu diburu-buru. Ketika pertama minum, mungkin rasanya masih dominan pahit, namun perlahan-lahan rasa manis mulai datang. Seperti kehidupan ini, mungkin juga perlu bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.

Dari Tegal perjalanan dilanjutkan, masuk lagi ke tol Trans Jawa. Ternyata masih agak jauh ya sebelum mencapai Semarang. Kami bergantian mengemudi agar tidak terlalu lelah. Bila sudah mengemudi dua jam pastinya kondisi pengemudi mulai agak lelah dan konsentrasi menurun karena itu adalah gagasan yang baik untuk ganti pengemudi setiap 2-3 jam.

Setelah beberapa kali stops di rest area, untuk gantian pengemudi dan ke toilet, kami tiba di Surabaya sekitar pukul 20.30. Di sini tempat singgah pertama adalah toko oleh-oleh karena salah seorang teman harus kembali ke Jakarta keesokan paginya menggunakan pesawat. Setelah puas memborong oleh-oleh di toko oleh-oleh yang tutup pukul 21.00 tersebut, kami pun mencari rumah makan untuk makan malam (yang terlambat). Syukur beribu syukur, ternyata salah satu dari list makanan Surabaya yang direkomendasikan, yaitu Soto Lamongan Cak Har, buka 24 jam. Kami pun menuju ke sana.



Dalam waktu singkat semangkok soto yang lezat telah tersedia di atas meja makan. Syukurlah karena kami sudah lapar berat, merupakan pilihan yang tepat untuk makan soto karena termasuk “very fast food”, tinggal menyendok saja dan menyediakan di mangkok kita.

Soto lamongan ini enak banget. Rasanya fresh, segar, dan ditambah kremesan yang membuatnya semakin gurih. Anda bisa memilih soto campur atau pisah (nasi dan sotonya). Kami pun menutup hari itu dan tidur dengan perut yang bahagia.

Day 2: Surabaya


Keesokan harinya kami punya waktu satu hari untuk menjelajah “teman lama yang berubah menjadi cantik,” kami menelusuri beberapa tempat seperti daerah Tunjungan sampai ke pelabuhan (Surabaya North Quay). Tapi paling banyak yang kami lakukan adalah melompat dari satu tempat makan ke tempat makan lainnya.

Untuk persinggahan makan siang kami memilih Rawon Setan di jalan Embong Malang. Pilihan ini juga sangat tepat mengingat rasa sop hitam ini sangat otentik. Ditambah telor asin yang enak, membuat rawon ini juara banget. Jangan terkecoh dengan istilah “setan” yang membuat teman-teman pada khawatir akan kepedasan makanan ini. Ternyata begitu kami tanyakan, petugasnya malah bilang “Tidak ada yang pedas di sini. Sambelnya terpisah.”



Kelezatan rawon setan ini adalah yang kami perlukan untuk menghibur teman kami yang baru saja distop polisi dalam perjalanan ke Rawon Setan. Ternyata ada marka jalan yang tidak kami perhatikan. Apabila ada garis lurus (bukan putus-putus) maka kita tidak boleh pindah jalur. Ini hal baru yang kami pelajari di Surabaya.

Dari Rawon Setan kami lanjut makan es krim di Zangrandi, toko es krim yang sudah ada sejak tahun 1930. Tempat ini mengingatkan saya pada es krim Ragusa di Pecenongan, akan tetapi menurut saya masih enakan Ragusa. Untuk makan malam kami memilih Bebek Sinjay. Bebek ini juga enak dan saya suka sambel mangganya yang segar.

Makanan, kecantikan kota, dan persahabatan, itulah intisari trip Surabaya ini. Di antara kuliner yang saya ceritakan di atas terdapat juga kebersamaan, dengan keluarga dan sahabat. Obrolan seru antara sahabat yang telah saling mengenal selama 25 tahun, hingga malam mulai larut dan badan pun mulai meminta untuk beristirahat.

Day 3: Road Trip Surabaya-Jakarta


Keesokan paginya tibalah saatnya untuk pulang. Kami berangkat sepagi mungkin yang kami bisa, yaitu pukul 08 pagi. (cukup siang mungkin ya untuk ukuran orang-orang yang bangun pagi). Perjalanan pulang berbeda dengan perjalanan pergi, dalam hal kalau pergi kita dari barat menuju timur. Nah kalau pulang, dari timur menuju ke arah barat. Ini berarti, sepanjang perjalanan kita sepertinya menghadap matahari, rasanya lebih panas dan silau daripada saat perjalanan pergi.

Dalam perjalanan yang panjang ini, pemandangan yang dapat dilihat cukup menghibur. Tidak seperti kata orang-orang bahwa mengemudi di tol ini bisa ngantuk karena lurus terus, saya cukup terhibur dengan pemandangan yang disuguhkan dalam perjalanan ini. Ada siluet gunung di kejauhan, ada sawah, ada pohon-pohon kurus yang kering, dan kami juga mendapat bonus sunset.

Yang paling menyenangkan dalam perjalanan ini adalah hampir tidak ada macet. Kemacetan hanya terjadi di jalur Jakarta-Cikampek, selebihnya lancar jaya. Pada ruas-ruas tol yang panjang dan kosong, kecepatan bisa mencapai 120 km/jam, atau bahkan 140 km/jam. Namun hati-hati karena di beberapa tempat ada batas kecepatan dan dimonitor dengan CCTV.

Jalan yang lowong, panjang, masih baru, melewati pegunungan, sedikit mengingatkan teman saya akan road trip di USA. Teman saya yang baru pulang dari Amerika berkata berulang-ulang, Indonesia bagus ya.. Indonesia sudah tidak kalah lagi, road trip di sini sudah seperti road trip di negara-negara maju.

Dalam perjalanan pulang ini kami mampir di Semarang untuk makan siang. Kami memilih Soto Kudus Mbak Lin. Soto ini sesuai kriteria yang pernah disebutkan oleh teman saya, yaitu makanannya gak banyak pilihan, hanya satu. Itu berarti specialty dia. Ini yang kami pelajari di Soto Lamongan Cak Har maupun di Rawon Setan, gak pake menu. Pilihan makanannya cuman satu: soto lamongan. Atau rawon. Itu most likely enak. Dan ternyata soto kudus ini juga enak banget.


Dalam perjalanan pulang ini juga jangan lupa mampir di Rest Area 260 yang keren banget. Rest area ini adalah bekas pabrik gula yang disulap menjadi rest area kekinian, lokasinya sekitar Brebes.

Sama halnya dengan perjalanan pergi, dalam perjalanan pulang pun kami mampir beberapa kali, sehingga total waktu perjalanan sekitar 12 jam. Road trip yang sangat berkesan dan refreshing. Terima kasih sahabat-sahabatku. 

Saturday, April 01, 2017

Cruising with Royal Carribean’s Mariner of the Seas February 2017


WOW. Pengalaman pertama naik cruise. Dan harus diakui, bikin pengen lagi!

Ada sesuatu tentang suasananya yang rilex, fasilitas dan kenyamanan, pelayanan Royal Carribean yang memanjakan, yang membuat kita senantiasa merasa “Wow!” Tidak terlalu berlebihan bila slogan “Wow” ini banyak terlihat dalam materi promosi Royal Carribean, mungkin itu adalah tujuan mereka dalam industri hospitality ini, membuat konsumen merasa “Wow.”

Membuat konsumen merasa puas, terkesan, ingin mengulang dan merekomendasikan kepada teman adalah hasil dari sebuah rancangan/design pengalaman konsumen yang dimulai dari pemesanan tiket, check-in, naik ke kapal, berada di dalam kapal, makanan dan pengalaman selama di kapal, ketika turun naik bila kapal singgah di beberapa tempat wisata, hingga akhirnya perjalanan selesai dan kembali ke pelabuhan.

Saya merasa Royal Carribean sangat berpengalaman dan sangat profesional sehingga dalam semua proses itu berjalan sangat lancar serta mudah. Salah satunya di sini juga melibatkan penggunaan sebuah kartu yang disebut Sea Pass Card, yang sangat memudahkan kita, sehingga ketika naik turun kapal dan berwisata di tempat wisata kita bahkan tidak perlu melalui imigrasi. Ini hal yang perlu Anda ketahui juga, karena saya juga baru tahu, bahwa ketika kita naik kapal cruise, passport kita akan disimpan oleh petugas. Hanya berbekal Sea Pass Card, kita dapat naik turun di negara tujuan, dan tahu-tahu ketika pulang (selesai cruise) sudah ada cap dari imigrasi negara tersebut. Keren kan... Kartu ini selain berfungsi sebagai kunci kamar, juga berfungsi sebagai alat pembayaran selama di kapal. Cukup gesekkan kartu, lalu tagihan akan dikirimkan melalui kartu kredit kita.

Kami mengambil Cruise 6D5N dengan tujuan Penang, Langkawi, Phuket bersama Mariner of the Seas yang berangkat dari Singapura. Awalnya sempat khawatir enam hari lima malam di kapal itu kelamaan, karena baca di internet orang menganjurkan untuk pertama kali naik cruise, pilihlah yang singkat saja, misalnya 3-4 hari. Tapi ternyata... lima malam di kapal itu tidak terasa, berlalu dengan sangat cepat, bahkan terasa masih kurang!
Saya telah menyiapkan bacaan khawatir akan bosan dalam perjalanan ini (di kapal tidak ada free wifi, wifi harus bayar 20 USD per hari), ternyata tidak disangka kita begitu sibuk, banyak yang bisa dilakukan, serta kita juga sibuk meng-eksplore kapal yang luas ini.

Royal Carribean’s Mariner of the Seas panjangnya 306 meter dan lebar 47 meter. Terdapat 15 tingkat (deck) dengan total jumlah cabin 1,775. Kapal ini dilengkapi 16 buah elevator (lift) yang memudahkan penumpang naik turun deck. Total penumpang yang dapat diangkut adalah 3,807 orang ditambah 1,185 kru. Kapal ini terbilang cukup baru, dengan last renovation bulan April 2012. Untuk jadwal Mariner of the Seas dapat dilihat di website Royal Carribean.

Karena merupakan pengalaman pertama, banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui. Cukup deg-degan juga karena saya mengajak keluarga dalam trip ini, khawatir ada yang tidak lancar sesuai rencana. Sempat khawatir juga membayangkan penumpang 3,600 orang, bagaimana rasanya, dan bagaimana mengaturnya. Ternyata semua telah berjalan dengan lancar. Di sini akan saya bagikan cerita saya untuk membantu Anda yang sedang mencari informasi seperti saya sebelumnya. Cerita ini akan dibuat dalam tulisan bersambung. Ditunggu ya!

Photo Courtesy: Royal Carribean

Thursday, February 23, 2017

Cara Perubahan Faskes Tingkat I BPJS Kesehatan

Bagi Anda yang ingin mengubah fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat I BPJS Kesehatan, karena alasan-alasan tertentu, caranya mudah. Saya baru saja melakukannya, dan saya akan membagikan cerita saya di sini.

Tahapan perubahan faskes tingkat I BPJS Kesehatan:

1. Siapkan dokumen yang diperlukan
Dokumen yang diperlukan adalah:
- Fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan asli
- Fotokopi KTP dan asli
- Kartu BPJS (kebetulan saya menggunakan electronic-ID jadi tinggal print saja)
- Isi formulir perubahan data (formulir dapat di-download ataupun dapat diperoleh langsung di kantor BPJS)

Formulirnya simple, seperti di gambar berikut ini:



Cukup mengisi Faskes lama Anda, dan kemudian Faskes baru yang diinginkan. Anda akan memerlukan kode faskes, karena itu saya menelepon Hotline BPJS Kesehatan dan petugasnya dengan sangat baik dan cekatan membantu saya.

2. Datang ke Kantor KCU tempat domisili. Kebetulan domisili saya di Jakarta Barat, karena itu saya datang ke Kantor KCU BPJS Kesehatan Jakarta Barat. Alamatnya di bawah ini:

Komplek Kampus Widuri, Jl. Palmerah Barat 353 Blok B No.4, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.3/RW.5, Grogol Utara, Kby. Lama, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 11220

Sesuai saran yang akan banyak Anda baca di internet, sebaiknya kita datang pagi-pagi untuk menghindari antrian yang panjang.
 
Petugas di kantor KCU ini sudah cukup profesional. Ketika tiba di depan ruko yang ada di kompleks Kampus Widuri tersebut, sudah terbentuk dua antrian, yaitu antrian untuk loket 1 (untuk pendaftaran baru dll) dan loket 3 dan 4 (untuk mutasi, cetak kartu, perubahan faskes, pendaftaran calon bayi). Maka saya pun mengantri di antrian loket 3 dan 4.

Ini adalah antrian pertama sebelum masuk ke dalam kantor. Di sini petugas memeriksa dulu kelengkapan dokumen yang dibawa oleh para peserta. O ya kebetulan saya datang sendiri untuk melakukan perubahan faskes yang berlaku bagi semua anggota keluarga dalam satu kartu keluarga (KK). Petugas memeriksa KTP asli saja, KK asli tidak diperiksa. Lalu petugas yang di depan memberikan nomor antrian. Saat itu sekitar pukul 9 pagi, saya mendapat antrian nomor 40.

Barulah kemudian kita masuk ke kantor dan menunggu nomor dipanggil untuk ke loket. Tidak menunggu terlalu lama, sudah giliran saya dipanggil ke loket. Petugas loket sangat ramah dan cekatan melayani saya. Hanya dalam hitungan beberapa menit, permintaan perubahan faskes saya sudah selesai. Bahkan langsung dicetakkan ke dalam kartu. Dan saya mendapat kartu BPJS untuk seluruh anggota keluarga dalam KK saya. (Sebelumnya menggunakan e-ID jadi tidak memiliki kartu). Perubahan faskes pun langsung efektif saat itu juga. Wow...

Jangan lupa pastikan Anda telah melunasi tagihan bulanan BPJS Kesehatan Anda. Walau tidak ditanyakan, hal ini menjadi salah satu persyaratan untuk perubahan data. Semoga membantu.

Wednesday, November 16, 2016

Pokhara 2016: a heaven on earth


On a sunny October day we drove from Nagarkot to Pokhara, which took us around 7 hours totally. We passed Kathmandu on our way, and made one fortunate stop at Kathmandu Tribhuvan airport to get my lost luggage. The drive on bus was enjoyable, with our group of 19 fun people from Indonesia, which continously joking and cheering along the way. We requested our guide to play us some Nepali music, I enjoyed so much watching the view of Nepal countryside along the way with Nepali folk songs as a background. The road was quite bumpy in some places, and seating in the back of the bus actually would shake the whole of your body, but that's fine for me. I still managed to take pictures, although not very good, of people and lives we saw from our tourist bus window.

Rest Area On The Way to Pokhara where we stopped to eat. Nice Place

Playing in Nepal countryside.
Lazy afternoon in the countryside - Nepal, on the way to Pokhara.

When we arrived in Pokhara it was dark. We stopped at one place where we have to continue our journey walking because our bus won't fit the small alley. It was around 7 PM and it was raining softly, there were so minimum lighting around, so we don't get a clear picture of what's on our surrounding. All we know is we have to walk around 30 minutes to get to the hotel. For local people it probably only take around 10 minutes. But for us, the walk was not easy. The evening was dark, no light, the mountainous air was chilly, the rain makes the earth wet and we have to be careful not to step on pool of water. Everything make the ascending trek to the hotel seemed like endless.

The hotel name was Himalayan Deurali Resort. We arrived in a dining hall (which was in seperated building with the rooms) with very minimum lighting. It's time for dinner so we feast ourselves with another Dal Bhat dishes. The light went out, then it came again. For several times. We had like this also in Nagarkot. Electricity is a luxury, especially in the mountain area. We ate quietly, and then go to the rooms. Some of us are still lamenting about the difficult walk we just had, but the hotel owner told one of our friends that tomorrow you will forget about all the difficulties.

Himalayan Deurali Resort




When we woke up in the morning and opened the window, it was like "Wow" and no other words can describe that feeling. The white-topped mountains was right in front of us. It was the Anapurna range of Himalaya. The hotel owner was right. Today, we forgot all the difficulties of walking, of transporting our luggage, and of the lack of electricity. The view was just amazing, and it stays right in front of us. We directly run outside our room, and went to a field for better view. We wait for sunrise, the sun coming from the east carefully glisten the peaks of Annapurna. One by one, the east-facing peak glistened like gold, and it only happen for a short time before the day is getting brighter. 

We had breakfast in the outdoor. Under the morning sun and the beauty of the Annapurna range, it was one of the best breakfast in my life.



From the mountainous Himalayan Deurali Resort we descend to the lake area of Pokhara. Here we are at the heart of Pokhara tourist area. Near the Fewa lake, there were many stores, restaurants, and souvenir shops. After boating in the Fewa lake, we had our lunch in Gurkha restaurant nearby. After lunch we have time for strolling and shopping around the area. It was a nice stroll along beautiful shops. Here it was a lot calmer, quieter, and cleaner than Kathmandu, although the capital has it's own unique charm.


Pokhara has everything to constitute a beautiful place. It has mountains and hills, and it has lake. Pokhara is the second largest city of Nepal and is a popular tourist destination. Located around 200 km west of the capital Kathmandu, Pokhara is the starting point for most of the treks in the Annapurna area. Three out of ten highest mountains in the world---Dhaulagiri, Annapurna I and Manaslu---are within approximately 15-35 miles of Pokhara valley.

Besides boating in Fewa Lake which was one of the most popular activities by tourist, we also visit World Peace Stupa, Devil's Falls, and Sarangkot (for Paragliding). 

On the second night in Pokhara we stayed at Hotel Crystal Palace, near the lake. It was considered the best hotel so far in our trip, merely because the electricity never fail, the hot water are abundant, and wifi is fast. A very mundane reason.

Paragliding in Pokhara



Once in your life, if you want to know how it feels to fly and soar above the sky, you should try paragliding. One of the best place to do this once in a lifetime, is in Pokhara. In the Sarangkot hill, it has the best take off place, so there won't be any problem for a beginner, like me. It was my first time doing paragliding, and I did it in Pokhara. The view of Himalaya range above and Fewa lake below is just the temptation you can not resist. Although you have to fight the fear and the nervousness that creeping inside you before you take off and soar. We paid 81 US$ including photo and video, for about 30 minutes in the sky, it's gonna be an experience you'll not regret.


Thursday, November 10, 2016

Wisata Dunia Terbalik dan Hotel Bintang 5 di Bandung yang Akan Membuat Momen Liburan Tak Terlupakan!

Sumber: codepos.xyz

Bandung, terkenal sebagai kota belanja dan oleh-oleh khasnya, yaitu Kartika Sari, merupakan salah satu kota yang terus berbenah diri dengan beragam wisata dan penginapan berbintang 5. Salah satu hotel berbintang 5, Sheraton Bandung Hotel and Tower, saat ini tengah menjadi incaran wisatawan. Hotel ini juga terdaftar di website Online Travel Agent ternama, seperti website traveloka, sehingga booking kamar menjadi praktis dan mudah.

Menginap di Sheraton Bandung Hotel and Tower dijamin akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Pemandangan pegunungan yang ditawarkan hotel ini bisa Anda dapatkan langsung dari balkon kamar. Suasana rileks berkat hamparan taman dan sejuknya udara pegunungan menjadi pilihan tepat bagi Anda yang hendak berlibur dari suasana kota besar. Berkonsep artistik, hotel ini lengkap dengan fasilitas untuk anak-anak dan orang dewasa, bahkan untuk pebisnis. 

Sumber: smartypans.com

Sumber: sheratonbandung.com

Anda juga bisa memiliki waktu me time berkualitas dengan memanfaatkan layanan pijat, sauna, Jacuzzi, mandi uap, spa, kolam renang, dan pusat kebugaran. Tersedianya WiFi di area umum dan di setiap kamar menjadi pelengkap bagi siapa pun yang ingin berselancar di internet.

Mobilisasi ke bandara juga menjadi mudah dengan layanan antar-jemput bandara di hotel ini. Jika ingin menjelajahi wisata dan kota Bandung, Anda juga bisa menyewa mobil. Sungguh lengkap fasilitas yang bisa Anda dapatkan.


Sumber: kartupos.co.id

Tak hanya itu, taman yang rapi dengan pandangan langsung menghadap pegununungan menjadikan Sheraton Bandung recommended pula untuk dijadikan tempat berlangsungnya acara pernikahan. Hotel ini juga pas sekali jika Anda ingin mengunjungi wisata terbaru di Bandung, Upside Down World. Cukup berkendara ±10 menit dengan jarak tempuh sekitar 3,1 km, Anda bisa menjejal keseruan di Upside Down World. 

Sumber: destinasibandung.co.id

Yap, tak kalah menarik dari tempat wisata lain yang sudah ada, Upside Down World akhirnya hadir juga di kota Bandung. Upside Down World, adalah salah satu tempat wisata yang sedang digandrungi dan menjadi perbincangan banyak orang, terutama di sosial media. Banyaknya hasil foto  menarik yang diunggah ketika berada di tempat wisata ini membuat siapa pun tergoda untuk mencoba datang langsung.

Saya pernah melihat museum terbalik seperti ini waktu berkunjung ke Penang beberapa saat yang lalu. Kini tidak perlu pergi jauh-jauh, dan ternyata selain di Bandung, Upside Down World sebelumnya sudah hadir di kota lain seperti Yogyakarta dan Bali. Berkat keunikan konsep wisatanya, wisata ini mulai bermunculan di kota tujuan wisata andalan lainnya. Pada tahun 2016, Upside Down World pun dihadirkan di kota Bandung. Penasaran ingin berkunjung? Anda bisa langsung meluncur ke lokasi yang berada di Jalan Haji Wasid nomor 31, Lebakgede.

Bertambahnya tempat wisata di Bandung, tentu membuat daya tarik kota Bandung semakin kuat untuk mengundang banyak wisatawan berlibur ke sini. Ditambah dengan lokasinya yang dekat dengan hotel berbintang 5, Sheraton Bandung Hotel and Tower, menjadikan tempat wisata Upside Down World mudah dijangkau wisatawan. 

Harga tiket masuk ke Upside Down World pun terjangkau. Dibandrol dengan harga sekitar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Terjangkaunya harga tiket masuk ke tempat wisata ini menjadi salah satu faktor yang membuat wisata ini terus ramai. Kisaran harga tiket yang tergolong murah tersebut membuat berbagai kalangan dapat berwisata ke sini.

Mengusung konsep dunia terbalik 180 ͦ, tempat wisata Upside Down World memiliki beberapa studio yang bisa dimanfaatkan untuk berfoto. Masing-masing studio didekor berbeda dan menciptakan berbagai ruangan, seperti ruang makan, dapur, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruangan mencuci baju, garasi kendaraan, dan ruangan bermain anak. Terdapat juga gang yang penuh desain mural, ruang makan ala Jepang, dan tempat penyimpanan minuman keras. Dijamin, Anda tak ingin melewatkan satu studio pun untuk berfoto. 

Sumber: facebook @upsidedownworldbandung

Sumber: facebook @upsidedownworldbandung

Juru foto pun dihadirkan di setiap studionya untuk mengarahkan gaya dan membantu setiap wisatawan yang datang dan ingin berfoto. Tidak hanya muda-mudi, tapi juga anak-anak, bahkan orang dewasa dan orang tua pun tergoda untuk berfoto di dalam studio Upside Down World ini. Setiap studio dilengkapi juga dengan properti penunjang yang bisa digunakan para pengunjung untuk memaksimalkan hasil foto.
 
Jam buka tempat wisata Upside Down World adalah hari Senin-hari Minggu, pukul 10.00 hingga pukul 20.00. Jangan lupa membawa kamera andalan dan mengajak orang terdekat supaya Anda bisa totalitas mengekspresikan diri tanpa ragu dan perjalanan pun terasa menyenangkan.

Jadi, apakah Anda tergoda untuk berfoto di Upside Down World ini? Jangan lupa, pastikan juga Anda memilih penginapan terbaik, seperti Sheraton Bandung Hotel and Tower, untuk melengkapi kesenangan di momen liburan Anda. 

Thursday, November 03, 2016

Cuaca Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, Chitwan Oktober 2016

Weather in Kathmandu, Pokhara, Nagarkot, Chitwan on October 2016

Google Now menunjukkan suhu hari ini dan beberapa hari ke depan.

Pagi itu mengandalkan wifi dari Hotel Holy Himalaya Kathmandu saya membuka Google Now yang memberi saya informasi cuaca hari ini serta ramalan cuaca beberapa hari kemudian. "Ternyata panas ya," komentar beberapa teman. Saya hanya mengenakan celana pendek (pinjaman) dan kaos yang saya beli semalam dari toko souvenir.

Menjelang siang cuaca menjadi semakin panas. Tanggal 9 Oktober memasuki pertengahan Oktober yang katanya akan memasuki musim dingin, ternyata di sini masih panas. Cuaca adalah salah satu faktor yang sempat membuat galau sebelum berangkat. Cuaca adalah hal yang sangat penting dicari tahu sebelum berangkat karena berkaitan dengan packing (pakaian apa saja yang akan dibawa).

Sebelum berangkat tour leader kami memberitahu bahwa pada bulan Oktober di Nepal akan mulai dingin karena akan memasuki winter. Tetapi pada waktu saya melakukan pencarian, suhu rata-rata di tempat-tempat yang akan saya kunjungi adalah:

Kathmandu: 20 derajat Celcius
Chitwan: 25 derajat Celcius
Pokhara: 19 derajat Celcius

Jadi, tidak dingin-dingin amat kan? Saya pun bingung, tetapi karena sudah dipesan bahwa akan cukup dingin, terutama di daerah gunung-gunung, karena itu saya pun mempersiapkan baju hangat, syal dll. Dan saya tidak sendirian. Karena itulah pas di sana, banyak yang berkomentar, "Ternyata panas ya..."

Di Nagarkot agak dingin, tetapi hanya seperti dinginnya Puncak aja.. Cukup dengan jaket saja. Di Pokhara bagian dekat danau panas, tetapi di bagian pegunungan agak dingin, tetapi juga tidak terlalu dingin kok. Jaket biasa saja cukup, tidak perlu jaket winter.

Namun bisa juga cuaca berubah-ubah setiap tahun, bahkan dalam beberapa hari. Jadi, semoga sharing ini membantu apabila Anda sedang packing untuk berangkat ke Nepal.