Google+ Followers

Thursday, April 16, 2015

NZ Trip (2): Day 1: Auckland, Hobbiton, Lake Taupo

Melanjutkan postingan sebelumnya, pesawat Jetstar kami mendarat di Auckland menjelang tengah malam. Setelah beres dari imigrasi, waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 waktu Auckland. Mau ke mana tengah malam begini? No choice but to sleep in the airport.

foodcourt Bandara Auckland

Kami pun mulai mencari posisi-posisi enak buat tidur, di food court banyak sofa yang empuk, namun ternyata banyak juga saingan. Banyak juga penghuni airport, orang-orang yang transit mungkin, atau orang-orang seperti kami yang mendarat di jam-jam yang aneh dan tidak ada yang jemput (tidak ada transportasi umum lagi jam segitu).

Di airport ini maupun airport Sydney, dan juga airport KL, tersedia wifi mostly di ruang boarding, serta tempat-tempat menunggu.

Setiba di Auckland, mulai terasa dingin. Pukul 01.30 waktu Auckland waktu itu saya mencatat suhu 8 derajat Celcius. Cukup kontras dengan kemarin di Sydney yang panas.

Beberapa jam berlalu, dan gue tidak bisa tidur sama sekali. Jam 4 pagi waktu itu toko-toko mulai bersiap-siap buka, sehingga kami pun harus segera bangun, walaupun rasanya belum berhasil tidur.

Jam 5 pun kami bangun, sikat gigi, dan sarapan. (jam 5 di sini = jam 00 waktu Jakarta, adalah jam tidur saya. Pantas saja dari tadi gak tidur-tidur, mungkin karena belum jam-nya). Jam 7 kami dijemput mobil shuttle Omega Rental. Kami diantar ke kantornya untuk register, bayar, dan ambil mobil. Biaya sewa mobil sekitar 7 jutaan rupiah, selama trip kami 9 hari. (biaya dibagi 7 orang). Saya pun mendaftarkan diri menjadi salah seorang driver di sini.

breakfast


Dari kantor Omega perjalanan pun dimulai, menuju pusat kota Auckland. Di sini kami menjemput dua orang teman kami yang sudah duluan menginap di Auckland. Driving di Auckland untuk pemula, banyak aturan yang sebaiknya diketahui, seperti di mana tidak boleh parkir, dsbnya. Sempat agak tegang di sini ketika nyari-nyari alamat, namun kemudian setelah bertemu semua, kembali rame lagi deh.. :)

Bertujuh telah berkumpul, kita pun menuju obyek wisata pertama, yaitu Hobbiton. GPS pun diset, untuk menjadi guide kami. Sepanjang perjalanan ke sana (dan kemudian hampir sepanjang pulau utara), pemandangan yang dilihat mostly adalah padang rumput, dan ternak domba atau sapi.



Pemandangan bernuansa autumn, dimana hijaunya terlihat segar, dan pohon-pohon berwarna kuning dan merah, serta dedaunan yang gugur di mana-mana. Rumah di sini bagus-bagus, membuat kami semua serentak berkhayal bisa tinggal di sini. Rata-rata satu lantai, ada halaman dan taman, dengan jendela kotak-kotak, serta berpohon sehingga terlihat semakin cantik pada musim gugur.

Hobbiton Movie Set

Hobbiton movie set dibuat di sebuah peternakan domba, nama daerahnya adalah Matamata. Hobbiton tour biayanya 80 NZD, lama tour sekitar 2 jam. Tiketnya bisa dibeli langsung ketika tiba di sini, ada sebuah café dan toko yang menjual souvenir khas Lord of The Ring dan The Hobbit. Dari sini menunggu bus yang akan membawa kita dalam tour Hobbiton tersebut.



Sewaktu di sini, hujan turun beberapa kali, dan ternyata hujannya memang begitu, turun sebentar-sebentar. Pengunjung diberi payung oleh Hobbiton-nya.



Kami meninggalkan Hobbiton sekitar 3.30, menuju Lake Taupo, tempat kami akan menginap hari pertama. Jam 5 kami sudah tiba di Tiki Lodge. Tak jauh dari sana ada supermarket yang cukup besar seperti Makro, namanya Pak and Save. Di sini pada kalap belanja karena harga jauh lebih murah dibanding di airport.



Malam pertama, langsung makan enak. Untung bawa teman yang pinter masak. Di Tiki Lodge ada stove buat barbeque. Kami beli lamb dan beef. Lamb di sini enakkk, benar-benar tidak bau, dan lembut. Wine juga murah, sekitar 7-8 NZD sudah dapat, lumayan untuk menghangatkan badan. Dagingnya pun sepertinya tidak mahal, karena ini beli di tempat produksinya, kalau kita beli di Jakarta kan mostly dagin impor dari Australia/New Zealand. Sayur-sayurannya juga semua segar-segar, dan banyak yang sudah dikemas dalam satu kemasan untuk salad sehingga sangat mudah.

Setelah makan, tak sabar rasanya untuk mandi dan tidur. Udah cukup lama lho gak mandi (hitung sendiri deh) dan dua malam gak tidur di kasur. Untunglah di sini kami dapat satu kamar yang isinya team kami semua (cewek berlima) dengan kamar mandi dalam, jadi seolah private room. Yang cowok terpisah dan menyatu dengan traveler lain di dorm berbeda. Good night, New Zealand…

(bersambung)


Tuesday, April 14, 2015

NZ Trip (1): Terbang ke Negeri Kiwi, Mampir di Negeri Kangguru

Tibalah saat yang dinanti-nantikan, dan bikin deg-degan itu. Yaitu saat memulai perjalanan. Walaupun bukan pertama kalinya bepergian, tetapi masih juga sering merasa deg-degan dan tidak bisa tidur. Berbagai perasaan kadang bercampur aduk. Excited, senang, seru, bercampur sedih dan guilty juga, karena meninggalkan yang kita tinggalkan. Pekerjaan, teman, rekan kerja, orang tua, orang-orang terdekat.

Dalam perjalanan ke bandara biasanya masih tersisa di pikiran urusan-urusan pekerjaan yang baru saja kita tinggalkan, hal-hal keseharian, dll, tetapi, ketika tiba di bandara, dan ini salah satu hal yang paling saya senangi, adalah ketika bertemu kembali dengan teman-teman jalanku ini. I’m so lucky to have them.

Jakarta - KL - Sydney - Auckland


Penerbangan Jakarta-Auckland memerlukan waktu 10-12 jam kalau langsung. Di kasus kami, lebih dari 12 jam. Agak tricky menghitung lama perjalanan dalam hal seperti ini. Belum lagi ditambah perbedaan waktu dan transit. Mari kita hitung.

Pesawat Air Asia QZ 206 berangkat sekitar pukul 18.30 dari Jakarta. Dua jam kemudian tiba di KL. Ada perbedaan waktu, jadi ketika tiba, keluar dari pesawat dll  sudah hampir pukul 22.00. Sekitar pukul 23.30 kami berangkat dari KL ke Sydney dengan Air Asia D7 222. Tidak banyak waktu yang kita miliki di bandara KL yang cukup besar, dan kita harus ke counter transfer dulu.

Air Asia D7 222 KL-Sydney menggunakan pesawat yang lebih besar dibanding Air Asia QZ 206. Pesawatnya ada 3 deret, lama perjalanan 7 jam. Dan, gak dapat makan tentu saja. Tempat duduknya saja kami terpisah-pisah. Saat itu sudah tengah malam, semua penumpang menyiapkan posisi enak untuk tidur. Mau jajan juga sudah malas.

Karena itu besok paginya pun pada kelaparan. Tanpa terasa ketika tiba di Sydney sudah jam 9.45. (Ada perbedaan waktu lagi antara KL dan Sydney, 2 jam) Keluar-keluar, urus imigrasi dll, sudah pukul 10.30. Di sini sempat men-declare makanan kita (kacang) dan obat-obatan, ternyata oke tuh, lolos.


Horeee.. masuk Australia

Lega dan senang rasanya setelah melewati imigrasi dan custom yang ramai, dan pemeriksaan yang cukup ketat, dan memasuki Australiaaaa…!!! (for me, it’s the first time J) Cap Australia pun menempel di paspor… walaupun tidak dengan visa, soalnya kami menggunakan visa transit.


Setiba di daratan, masing-masing memiliki kesibukan sendiri, gue kelaperan dan butuh kopi, langsung mencari McD. Ada yang sibuk ke Vodafone untuk memberi kehidupan pada HP-nya, ada yang ke toilet, dll.

Rasanya aneh juga. Bangun tidur (sepertinya ada tidur walaupun tidak banyak, di pesawat) dan hari sudah siang. Saat itu sudah pukul 11 ketika kami makan di McD. Yah, paket breakfast McD udah gak ada.. L Saya memesan cheese burger dan kopi, total sekitar 6 dolar Australia.

Di sini kami menitipkan koper (biaya 9 AUD per koper kalau gak salah), dan naik airport train (32 AUD per person) menuju kota. Sydney, here we comes…

Sydney Airport Train

Sydney Opera House & Free Sydney CBD Shuttle 555

Kami turun di Circular Quay, dari sini kami berjalan hingga Opera House, lalu ke Macquarie. We enjoyed walking in the park here, menyusuri pantai dari Circular Quay, ke arah Opera House, dan seterusnya sampai Macquarie. Siang itu panas, banyak orang berolahraga pada siang hari (mungkin bagi kita aneh ada lari jam 12 siang), banyak juga yang bersantai di taman dengan anak-anaknya, ada juga yang hanya membaca buku di taman sambil berjemur, serta banyak burung camar di tepi laut memperindah pemandangan.

Kami terkagum-kagum dengan tamannya yang indah, terpelihara, dengan pohon-pohon yang besar serta ada juga yang unik. Dari sana kami balik lagi ke Circulay Quay untuk naik bus 555. Kami sudah mendengar bahwa bus 555 adalah bus gratis yang melewati CBD Sydney, berangkat setiap 10 menit, melingkari pusat kota, dari Central Station ke Circular Quay. Di sini banyak melewati obyek-obyek wisata populer di Sydney, karena itu merupakan pilihan yang tepat bagi kami melewati beberapa jam yang kami miliki di Sydney.


a Sydney afternoon on May

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, sekitar jam 3.30 kami bergegas ke Central untuk naik kereta ke bandara. Sempat beli makanan cepat di Central, Asian Food yang lagi sale, cuman 5 AUD, untuk dimakan di bandara.

makan dulu di airport Sydney
Penerbangan dari Sydney ke Auckland dengan Jetstar berangkat 6.30 PM dan tiba 11.35 PM waktu Auckland. Lama perjalanan 3 jam, ditambah perbedaan waktu 2 jam. Yuk, sekarang kita totalin. Jakarta-KL 2 jam +1, KL-Sydney 7 jam +2, Sydney-Auckland 3 jam +2. Total waktu penerbangan 12 jam, ditambah total perbedaan waktu antara Jakarta dan Auckland 5 jam. Ditambah mampir ke Sydney sekitar 4-5 jam, gak terasa kita udah melalui 2 hari aja. Berangkat tanggal 21 Mei sore, tiba tanggal 23 mei pagi. Such a long flight kan…

Karena perbedaan waktu kita kehilangan 5 jam, tapi jangan khawatir, we’ll get it back later.

(bersambung)

Baca juga tulisan sebelumnya:



Thursday, April 09, 2015

Merencanakan Perjalanan ke New Zealand (Hal-hal Yang Perlu Diketahui)



Setelah mendapatkan visa, langkah selanjutnya biasanya adalah memburu tiket. Kenapa kata-katanya “memburu”, karena terkadang dibutuhkan waktu serta ketajaman pemburu dan sedikit keberuntungan, untuk mendapatkan tiket dengan best price.

Tidak jarang kami men-secure tiket jauh-jauh hari agar mendapat harga promo. Dengan penerbangan Air Asia ke Sydney (transit di KL), penerbangan Jet Star Sydney-Auckland, dan penerbangan pulang Christchurch-Sydney (Jet Star) dilanjutkan dengan Sydney- Jakarta (lewat KL) sudah terjadwal, maka tugas selanjutya adalah mengisi hari-hari dengan itinerary yang menarik dan disepakati satu team.

Team kami biasanya mengadakan pertemuan, setidaknya satu kali untuk merencanakan dan mempersiapkan perjalanan. Biasanya yang dilakukan adalah:
Menentukan itinerary day to day
Booking hotel (eh hostel tepatnya)
Booking transport lokal (bila ada), atau memesan rental mobil dalam hal ini.
Booking tempat wisata yang perlu tiket masuk
Dll

Idealnya kita ngumpul lalu membagi tugas, misalnya di Auckland tugas siapa, di Wellington siapa, Mount Cook siapa, di Sydney siapa, dstnya. Tapi dalam trip kali ini kayaknya kita keenakan, karena sudah ada satu teman yang pernah ke sana, sehingga dia yang menyarankan sekaligus melakukan pemesanan. Hostel yang kami pilih pun kebetulan bagus-bagus, nanti akan saya ceritakan satu per satu. Tentu saja yang saya bicarakan di sini adalah backpacker hostel.

Dua hal yang waktu itu menjadi concern saya dalam persiapan ke New Zealand adalah:
1. Barang yang boleh dibawa dan tidak (peraturan karantina New Zealand dan Australia cukup ketat), dan
2. Bagaimana menyiasati bawaan (karena tidak membeli bagasi, bawaan tidak boleh melebihi 7 kg carry on baggage)

Kebetulan dalam perjalanan kali ini kami harus melewati 3 custom, di KL, Sydney, dan Auckland (perginya) dan Christchurch (pulangnya). Setiap kali harus melepas sepatu dan ikat pinggang serta diperiksa petugas.

Yang menjadi masalah ketika keluar masuk custom ini adalah gue tidak bisa membeli duty free favorit gw deh jadinya. Padahal harga wine di Australia dan New Zealand lumayan murah, waktu itu salah seorang teman mencoba membawa liquor ini, tercegat waktu di bandara Sydney… terpaksa deh direlain.. hiks… Ini sih tidak berlaku buat kalian kalau direct flight, karena tidak perlu keluar masuk custom.

Apa yang Tidak Boleh Dibawa Masuk ke New Zealand?

Oke, kembali ke nomor 1 di atas, seperti dikutip dari situs web custom New Zealand, karena New Zealand sangat bergantung pada perdagangan produk agricultural, maka mereka sangat memastikan segala jenis hama dan penyakit yang dapat mengancam industri agrikultur dan hortikultura mereka tidak masuk ke negaranya.



Karena itu aturan ketat ditegakkan untuk barang yang boleh dibawa masuk ke negara ini, pelanggaran hal ini akan didenda $400, bahkan hingga $100,000 atau 5 tahun penjara. Wah ngeri gak tuh..

Makanya, waktu di NZ, maupun Australia, kami memastikan, sesuai anjuran orang-orang juga, untuk men-declare barang bawaan kami yang berpotensi termasuk dalam barang yang tidak boleh dibawa.
Ini termasuk makanan seperti kacang-kacangan, obat (tolak angin, teman setia dalam perjalananku diambil waktu mau masuk Auckland. Di Sydney malah lolos... :D). Jadi, hal ini penting ketika Anda merencanakan perjalanan ke New Zealand maupun Australia.

Saya kutip dari web Customs.gov.nz berikut ini:

It is illegal to import most foodstuffs. This could be something as simple as a piece of fruit, a sandwich, preserved sausage or a cheese snack.High risk items include fresh fruit and vegetables, egg cartons, all honey and bee products, straw, dried flowers, seeds, cane/bamboo/rattan items, pine cones, potpourri and other organic matter. Restricted items you must declare include feathers, bones, tusks, furs, skins, hunting trophies, stuffed animals and reptiles, unprocessed wool and animal hair, items made from animal skin (eg, crocodile handbags) and equipment used on animals including riding equipment. You will not be allowed to bring into New Zealand coral, clam, turtle and tortoise shells, products of endangered species or ivory in any form, unless you have a CITES certificate to allow you to do so.
You must also take care when importing wood products, golf clubs, sports equipment, camping gear and any other items such as shoes and boots that might have soil and dirt on them. Generally, all items that would normally be used outdoors will be examined to make sure they are free from soil and other contaminants. 
It is best to make sure they are thoroughly cleaned before entering the country. 

Kalimat terakhir juga cukup mengkhawatirkan. Karena sepatu kita tidak boleh kotor, karena kalau ada soil akan dilakukan pemeriksaan khusus untuk memastikan tidak ada bahaya. Ini mengkhawatirkan ketika kami masuk Australia, dari New Zealand. Ya, tau sendiri NZ itu kan tempat yang alamiah banget, kami ke gunung juga ke danau.. lah tapi sepatu gak boleh ada soil… Seorang teman bahkan membeli sepatu baru sebelum trip ini, atau pastikan sepatu Anda dicuci dengan sebersih-bersihnya….

Info selengkapnya bisa dicek di sini. 

Cuaca New Zealand pada Bulan Mei

Nomor dua, soal bawaan. Kalau saya biasanya mempersiapkan pakaian disesuaikan dengan acara apa saja hari itu, serta cuacanya bagaimana. Australia dan New Zealand berada di southern hemisphere, karena itu cuacanya kebalikan dari sebagian besar negara di dunia ini (yang berada di belahan bumi utara). Jadi, kalau saat ini di Eropa musim dingin, Australia dan NZ musim panas.

Untuk mengecek cuaca, bisa menggunakan AccuWeather. Bulan Maret hingga Mei di New Zealand masih masuk musim gugur. Suhu cukup sejuk, sekitar belasan derajat Celcius, namun saat dingin bisa mencapai minus. Di setiap kota juga berbeda-beda suhunya, bisa dicek menggunakan AccuWeather.
Dalam menyusun itinerary juga diperkirakan jarak antara kota, waktu yang diperlukan dari satu tujuan ke tujuan yang lain sehingga kita dapat memperkirakan menginap di kota mana.

Syukurlah, perjalanan ini telah berlangsung lancar. Paling-paling ada sedikit insiden kecil seperti makanan dan obat-obatan yang tidak bisa dibawa, selain itu lancar... Sebelum berangkat pastikan kita cukup informasi dan ketika di sana bertindaklah sesuai aturan di negara tersebut, maka hopefully semua akan lancar.

Photo Courtesy: NewZealand.com (atas), Mpi.govt.nz (bawah)

Baca juga tulisan sebelumnya: 


Tuesday, April 07, 2015

Berkendara di New Zealand: Sewa Mobil Atau Camper Van?


Salah satu hal menarik tentang New Zealand buat pengunjung dari Indonesia, adalah bahwa kita dapat menyewa kendaraan dengan lepas kunci. Artinya, kita sendiri yang mengemudi. Setir mobil di sini juga sama dengan di tanah air, alias berada di sebelah kanan. Persyaratan yang diperlukan pun hanyalah SIM (Surat Izin Mengemudi) kita yang ada tulisan Inggris-nya “Driving Licence” sehingga bule-bule di sana bisa mengerti. Kecuali untuk mengemudi Camper Van, diperlukan tambahan ijin.

Pada waktu merencanakan perjalanan, sempat dilemma antara menyewa mobil biasa atau camper van. Bukankah perjalanan adventure ke New Zealand identik dengan camper van, sebuah mobil besar yang bisa berfungsi seperti rumah, dengan perlengkapan yang lengkap seperti dapur, toilet, lemari, dll itu? Di mana lagi bisa naik camper van selain di negara dengan jalanan yang sepi ini? Bayangkan bisa berhenti dan tidur di mana saja tempat-tempat indah yang kita temukan, di kaki gunung maupun di pinggir danau. Keluarkan dua kursi dan meja atau gelar tikar piknik, lalu tinggal duduk deh menikmati kopi/teh dan cemilan dengan pemandangan indah terhampar di depan mata…



Tapi… bayangan romantis itu terpaksa tinggal bayangan saja. Hehheee… Hitung-menghitung dan consider ini itu, akhirnya kami memilih menyewa mobil. Selain menyewa camper van jatuhnya lebih mahal (padahal tidak perlu sewa penginapan), untuk tidur di camper van juga kurang nyaman karena kami bertujuh (mungkin dengan lebih sedikit peserta bisa, misalnya keluarga kecil, pas deh tuh satu camper van). Fuel pastinya lebih mahal, serta repotnya adalah camper van tidak seleluasa mobil biasa dalam hal parkir. Berapa hari sekali camper van harus ke suatu tempat untuk mengosongkan isi pembuangan (toilet) dll. Ada tempat-tempat khusus yang disediakan untuk tongkrongan camper van lengkap dengan fasilitasnya.

Pilihan kami jatuh pada Omega Rental. Di webnya bisa dilihat langsung harganya, bisa booking juga secara online, serta menentukan tempat pick up. Kalau tidak salah biaya yang kami habiskan sekitar sejutaan per hari untuk satu mobil, dibagi tujuh orang.



Kami dijemput di bandara Auckland ketika tiba, lalu diantar ke kantor Omega yang tak jauh dari bandara. Di sana kami melakukan registrasi, setiap pengemudi harus didaftarkan di database Omega. Kami juga mendapat brief singkat tentang hal-hal yang harus diketahui seorang pengemudi di New Zealand. Misalnya, rambu jalan yang menandakan batas kecepatan, dan sebagainya.

Setelah itu, dengan disaksikan oleh kami, petugas Omega memeriksa kondisi mobil sebelum diserahterimakan ke kita. Apabila terjadi masalah, kita dapat menghubungi nomor telepon Omega. Selain itu, kantor Omega juga terdapat di berbagai kota besar di New Zealand. Tidak salah pilih, kami puas dengan pelayanan Omega. Mobil Toyota Previa yang kami sewa pun tidak ada masalah sepanjang total perjalanan kami selama 8-9 hari dan menempuh lebih dari 3.400 km. Kecuali sedikit insiden kecil yang akan saya ceritakan dalam catper nanti. Baru pertama kali juga, kena tilang polisi NZ… (yang menambah list unexpected things dalam trip ini), tapi ini tidak ada hubungannya dengan kendaraan sewaan kami.

Mobil bisa dikembalikan di kota terakhir kami, Christchurch, tidak perlu kembali lagi ke Auckland, itulah salah satu kelebihan menyewa di Omega.

Di Milford Sound, kami beruntung bertemu sebuah keluarga muda dari Indonesia yang kebetulan menyewa camper van. Maka saat itu pun kami dengan noraknya masuk dan mengintip “rumah” keluarga tersebut yang dengan malu-malu mengatakan rumahnya sedang berantakan. Tak hanya mengintip, kami juga numpang foto-foto, bahkan duduk di belakang kemudi camper van.. Akhirnya bisa “nyicipin” juga camper van walaupun tidak jadi menyewa hahaha..

(Bersambung)

Photo Courtesy: Google Image (search "camper van"), Omega Rental

Baca juga tulisan sebelumnya:




Thursday, April 02, 2015

Aplikasi Visa New Zealand dan Visa Transit Australia


Untuk melakukan perjalanan ke negara yang membutuhkan visa, action pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan yang lain-lain adalah aplikasi visa. Bahkan kalau belum dapat visa, rasanya belum pede untuk mengabarkan ke orang lain, minta ijin, mengajukan cuti, atau membeli tiket pesawat. Soalnya visa belum tentu di-approve. Nah, bagaimana cara aplikasi visa New Zealand? Apa saja persyaratan visa New Zealand?


Kebetulan kami juga memerlukan visa transit Australia, karena kami akan terbang dengan Air Asia ke Sydney. Penerbangan selanjutnya dari Sydney ke Auckland menggunakan Jetstar. Beruntung pada waktu itu sudah ada salah seorang teman kami yang sudah memiliki visa (tahun lalu dia dapat visa yang berlaku 2 tahun, dan sudah pernah pergi namun belum puas), sehingga dia sudah meriset dulu dan mencari penerbangan paling murah. Karena itu yang perlu kami siapkan adalah visa sebelum kami dapat melakukan pembelian tiket.

Proses aplikasi visa NZ maupun Australia saat ini sudah dipermudah dalam arti kita tidak perlu datang ke kedutaan, namun melalui agent yang ditunjuk, dalam hal ini adalah VFS Global. Kantornya dulu di jalan Sudirman Plasa Asia/Plasa ABDA (Sebelah CIMB Niaga) tetapi kabarnya kini sudah pindah ke Kuningan City.

Persyaratan visa New Zealand:
1. Isi lengkap form aply visa NZ 
2. Paspor asli (msh berlaku 6 bulan)
3. 2 lbr photo berwarna terbaru ukuran 3,5 x 4,5
4. Surat keterangan bekerja (utk Karyawan) atau bukti kepemilikan perusahaan (utk pemilik perushaan)
5. Bukti keuangan (print buku rekening bank selama 3 bulan)
6. KK (copy)
7. Itynerary
8. Bookingan tiket pesawat

Formulir dapat di download di web :http://www.immigration.govt.nz/

Setelah itu tinggal datang ke kantor VFS, mengambil nomor antrian, menunggu hingga dipanggil petugas, dan menyerahkan dokumen ke petugas ketika dipanggil. Walaupun ketika masuk terasa agak ketat pengamanan, HP dll harus dititipkan, namun di dalam petugas sangat ramah. Mereka akan memeriksa dokumen kita, memastikan sudah lengkap, lalu menerima pembayaran visa.

Biaya pengajuan visa New Zealand adalah Rp 1,250,000. Ditambah Rp 220,000 untuk fee agent (logistic). Setelah membayar biaya tersebut, mulailah penantian dengan deg deg an dimulai. Pelayanan VFS cukup baik, kita pun dapat melacak status pengajuan visa melalui SMS, email, call center dll. Anda juga bisa memilih mengambil sendiri paspor atau dikirim.

Visa Transit Australia

Sekitar satu minggu kemudian, kami pun kembali ke VFS untuk mengambil visa. Kebetulan tempat aplikasi visa Australia juga berada di tempat yang sama, karena itu kami langsung mengajukan visa transit Australia. Ternyata eh ternyata, kita bisa lho mengajukan visa transit Australia, dengan membawa visa NZ kita, hanya dengan membayar Rp 180,000. (Sebenarnya free, tetapi ini hanyalah untuk service charge VFS, yang sangat make sense mengingat layanan kita membuat kita terfasilitasi). Mengutip dari web kedutaan Australia:

Siapa yang seharusnya mengajukan visa transit?
Jika anda adalah pemegang paspor Indonesia, transit visa tidak diperlukan jika anda berangkat dari Australia dalam waktu 8 jam dari waktu anda tiba. Ini juga berlaku untuk pemegang paspor dari beberapa negara-lihat portal website di bawah ini.
Anda harus mengajukan visa ini jika:
  • anda akan berada di Australia lebih dari 8 jam dan kurang dari 72 jam (jika anda akan berada di Australia lebih dari 72 jam, anda harus mengajukan jenis visa yang lainnya).
  • Tujuan anda masuk Australia karena anda:
    • dalam perjalanan ke Negara lain (dalam kondisi transit); atau
    • akan bergabung dalam kapal non-militer sebagai anggota awak.
Apakah detail dari transit visa?
  • Tidak ada biaya visa aplikasi untuk visa jenis ini
  • Visa ini harus diajukan sebelum keberangkatan anda ke Australia
  • Visa transit memperbolehkan anda untuk keluar area bandara. Tetapi, transit visa juga diperlukan jika anda tidak meninggalkan area bandara dan tetap berada di ruang tunggu transit.
Selengkapnya: di sini.

Visa transit ini kemudian hanya berupa satu halaman surat yang dikirim via email, yang memberi kita ijin untuk keluar dari bandara Sydney dan menikmati indahnya kota pelabuhan yang merupakan salah satu kota paling terkenal di Australia itu. Surat satu halaman itu kita cetak sendiri dan jangan sampai hilang ketika melakukan perjalanan. Berbekal itu kita bisa mendapatkan cap di imigrasi Australia, walaupun tidak ada tempelan visa Australia di paspor.. :D
Legalah rasanya ketika sudah memiliki visa. Selanjutnya, persiapan trip masih banyak di depan mata… Ciayooo (bersambung)


Tuesday, March 31, 2015

Road Trip New Zealand


Pengalaman pertama selalu sesuatu banget. Dari yang tidak pernah---dan karena itu khawatir, cemas, dan antisipasi---kemudian menjadi pernah, itu sebuah sensasi yang menyenangkan. Itu saja sudah cukup, belum lagi ditambah kesenangan dari pengalaman itu sendiri.

Pertama kali melakukan trip backpacking, pertama kali melihat kecantikan musim gugur, pertama kali menyentuh salju, pertama kali berada di ketinggian di atas 4.500 M, pertama kali merasakan suhu -20 derajat Celcius, pertama kali tidur di airport (beneran tidur) dan masih banyak pertama kali lainnya. Dalam trip kali ini ke New Zealand, adalah pertama kalinya gue nyetir sendiri di negeri orang. Yup, you can do that in New Zealand.

Bayangkan how fun it is. The best part is when you’re back, to Jakarta, and drive in Jakarta, barulah kamu akan terus terkenang, bagaimana rasanya menyetir di jalan yang mulus, panjang, dan nyaris gak ada kendaraan lain. The only thing yang harus kamu waspadai adalah adanya hewan yang menyeberang. Beberapa tempat ada sign board bergambar hewan, tandanya harus hati-hati kalau-kalau ada sapi atau domba yang mau lewat.

Dengan sebuah alat pengontrol kecepatan (yang baru pertama kali saya alami juga) di mobil, kita bahkan tidak perlu ngegas. Kecepatan diset sesuai aturan, misal, tidak melebihi 100 km/jam, trus ya sudah, kita biarkan mobil meluncur. Pandangan supir lurus ke depan, untuk menjaga setir, di sinilah gw sering dimarahin, karena sulit menahan godaan untuk melirik kiri kanan.

Di depan kita terhampar landscape yang sangat luas. Dari kaca depan Toyota Previa yang luas ini kubiarkan keindahan masuk ke inderaku. Pegunungan di kejauhan, bukit rerumputan hijau dipenuhi domba-domba putih maupun domba seperti Shaun the Sheep, kebun-kebun anggur yang luas berwarna kemerahan, dan tak jarang juga gunung-gunung bersalju. Soal landscape New Zealand (NZ) memang juara. Sudah sering saya baca di blog-blog para traveler berpengalaman yang sudah ke mana-mana, menyebut NZ sebagai tempat dengan landscape terindah. Kemurnian alam sangat terjaga di negara yang sepi dan tertib ini.

Trip kami ini dilakukan pada bulan Mei tahun lalu. Saya tidak tahu apakah ini terjadi juga pada bulan-bulan lain, tetapi cuaca dan landscape memberikan banyak kejutan kepada kami. Nanti akan saya ceritakan. Seperti halnya trip ke NZ yang sebenarnya unexpected bagi kami, dalam perjalanan juga terjadi banyak hal-hal unexpected. Kami disuguhi keajaiban alam, misalnya saat melewati Lindis Pass yang putih semua tertutup salju. Salju demikian tebal hingga sulit dilewati sebuah mobil turis dari Taiwan yang meminta bantuan kami. Beberapa hari kemudian saat kembali melewati jalan yang sama, kami disuguhi gunung-gunung kecoklatan yang kering dan panas.. It’s amazing.



Perjalanan ini totally an eye opener for me. Bagi saya pribadi perjalan ini sangat enriching. Kami terbang melalui KL (dengan Airasia), transit di Sydney (bisa keluar jalan-jalan juga dengan visa transit), tiba di Auckland (perjalanan yang cukup panjang). Pulang melalui Christchurch – Sydney – KL – Jakarta. Dari Auckland hingga Christchurch kami menyewa mobil dari Omega Rental, menempuh jarak lebih dari 3,400 km dari pulau utara ke pulau Selatan, dengan landscape yang breathtaking di sepanjang jalan, dan teman-teman yang menyenangkan.

Saya akan coba menceritakan perjalanan ini dengan informasi yang cukup detail, mulai dari: 

1. Persiapan Trip
-      Bagaimana proses aplikasi Visa New Zealand?
-      Bagaimana proses aplikasi visa transit Australia?
-      Sewa mobil atau Camper van? Mengapa kami memilih sewa mobil? Persyaratan menyetir di New Zealand, cara menyewa mobil
-      Merencanakan perjalanan ke New Zealand

2. Catatan Perjalanan (Catper)/ Itenerary New Zealand
-      The long flight: Jakarta-KL-Sydney-Aucland
-      Day 1: Auckland, Hobbiton, Lake Taupo
-      Day 2: Tongariro National Park, Wellington
-      Day 3: Picton, Greymouth
-      Day 4: Greymouth – Te Anau
-      Day 5: Milford Sound, Queenstown
-      Day 6: Shotover Jet, and Enjoying Queenstown
-      Day 7: Mount Cook, Lake Tekapo
-      Day 8: Christchurch, Sydney

Dari pulau utara ke pulau selatan, semua ditempuh bersama Toyota Previa yang membawa kami bertujuh. Akhirnya, mereka tidak membiarkan gue lama di belakang setir, karena gue termasuk pengemudi yang gak kuat iman, gak bisa kayak kuda hanya melihat ke depan saja hehehe.. Akhirnya pengalaman pertama yang sesuatu banget itu harus kuakhiri… 

Ditunggu cerita selanjutnya di blog ini.

Photo courtesy: Lonely Planet (map New Zealand), Edi Zhen (Lindis Pass)

Tuesday, May 21, 2013

Mencari Shangri-la





Shangri-la adalah negeri fantasi, sebuah desa di lembah yang tersembunyi di balik gunung-gunung tertinggi di dunia. Jauh dan sulit dicapai, ketinggian serta ketiadaan kemudahan untuk mencapainya membebaskannya dari kontaminasi dunia luar. Di sana penghuninya hidup dalam kedamaian dan harmoni, di bawah naungan puncak gunung yang bercahaya seperti perak di malam hari. Bulan biru yang magis terkadang menampakkan sinarnya, penduduk hidup bahagia hingga tak pernah menua.

Semua kebutuhan penghuninya tersedia, mereka tiada berkekurangan, bahkan dapat menikmati kemewahan. Mereka juga disajikan hal-hal yang mereka sukai seperti buku-buku dan musik klasik yang menjadi kenikmatan rohani kaum intelektual. Di sana waktu seolah berhenti, kita pun memiliki waktu seperti yang tak pernah kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Shangri-la membius dan membuai, pesonanya membuat siapa saja yang datang ke sana menjadi lemah dan kehilangan dirinya.

Seperti itulah Shangri-la yang dilukiskan dalam buku klasik (tahun 1933) berjudul Lost Horizon karangan penulis Inggris James Hilton. Buku ini sangat populer di kalangan pejalan, sudah dua kali difilmkan, serta menjadi salah satu buku yang menginspirasi dan mengawali obsesi-obsesi menahun kaum pejalan tentang daerah Himalaya dan sekitarnya. Obsesi pada ketinggian dan keterpencilan. Obsesi tentang dunia timur yang mistik dan eksotis.



Shangri-la pun lalu menginspirasi perusahaan yang mendirikan jaringan hotel internasional dengan nama yang sama. Konsep “heaven on earth” pada nama Shangri-la begitu menarik dan menjual. Pada tahun 2001 China mengganti nama sebuah kota tak jauh dari perbatasan Tibet, yaitu Zhongdian, menjadi Shangri-la. Gagal mendapatkan izin masuk Tibet bulan Maret yang lalu, ke kota inilah kemudian kami berkunjung.

Xiangkelila

Agar dapat ditulis dalam aksara China, kata Shangri-la pun harus mengalami transliterasi menjadi Xiānggélǐlā (香格里拉). Beberapa tahun yang lalu dalam catatan-catatan perjalanan rekan backpacker, masih banyak petunjuk jalan yang belum diganti, masih menggunakan nama sebelumnya yaitu Zhongdian. Tapi kini saya temui kata Xiangkelila sudah merasuk ke mana-mana, tak ada seorang pun yang kami temui yang tidak mengetahuinya. Pejalan maupun lokal (bukan pejalan) mengenal Shangri-la sebagai tujuan wisata tersohor, baik bagi yang sudah pernah ke sana maupun yang belum pernah ke sana. Semua menyebut Shangri-la sebagai tempat yang indah. “Xiangkelila hen mei,” demikan kata orang-orang.

Sebagai salah satu destinasi paling tersohor di China, kunjungan ke Shangrila biasanya dibarengi dengan kunjungan ke beberapa kota menonjol lainnya di propinsi Yunnan. Propinsi di ujung barat China yang berbatasan dengan Tibet serta Asia Tenggara ini sering disebut-sebut sebagai tempat asal nenek moyang bangsa Indonesia.

Karena berada di ketinggian 3200 meter di atas permukaan laut (mdpl), biasanya tidak disarankan untuk kita yang terbiasa bermukim di dataran rendah untuk langsung mendarat di Shangrila. Kami menempuh rute: Jakarta-Kun Ming- Dali-Lijiang-Tiger leaping gorge-Deqin-Shangrila-KunMing-Jakarta. Rute yang luar biasa, ketika saya melihatnya sekarang. Melewati musim semi di pedesaan dan barisan gunung-gemunung berselimutkan salju. Sebagian dari gunung-gunung itu ketinggian puncaknya melebihi 4500 mdpl.

Karena itulah, sebelum berangkat dalam trip ini, rasanya gugup sekali. Banyak kecemasan. Belum pernah saya merasa segugup ini, bagaikan baru pertama kali bepergian. Mau packing pun bingung. Apa yang sebaiknya dibawa, sementara bawaan tidak boleh berlebihan. Membawa bawaan yang terlalu berat hanya akan merepotkan diri sendiri. Haruskah saya bawa koper atau carrier? Membawa carrier dengan baju hangat, betapa beratnya harus menggendong semua beban itu di pundak.. akhirnya aku memutuskan membawa sebuah koper kecil dengan sebuah ransel (backpack).

Walaupun sudah pernah mengalami bagaimana rasanya suhu -20 derajat Celcius (baca: Harbin), masih saja ada kecemasan untuk trip kali ini. Karena kami akan melakukan perjalanan ini ala backpacker serta melewati dan mengunjungi tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 4000. Cemas akan kedinginan, high altitude sickness, cemas akan dataran tinggi yang tipis oksigen sehingga perlu mengenakan masker, dan sebagainya.

Ternyata semua syukurlah telah berlalu dengan baik-baik saja. Kami memasuki Shangrila melalui kota kecil Deqin yang terletak sekitar 80 km dari perbatasan Tibet. Kota Deqin terkenal dengan keindahan Meili Snow Mountain atau Kawa Kerpo dalam bahasa Tibet, sebuah puncak gunung yang disucikan penduduk setempat. Selain itu, keindahan kota Deqin yang sering disebut-sebut dalam catatan perjalanan justru adalah pemandangan dalam perjalanan mencapainya.

Pemandangan dalam road trip Shangrila-Deqin dan sebaliknya Deqin-Shangrila adalah salah satu pemandangan dalam perjalanan terbaik yang pernah saya alami. Lima jam perjalanan tidak terasa sama sekali, dengan suguhan pemandangan gunung-gunung bersalju yang tak ada habisnya. Kamera tak berhenti beraksi, walaupun rasanya lebih puas bila menikmati dengan mata telanjang, tapi rasanya tak tahan untuk ingin mengabadikan dan membawa pulang pemandangan indah ini. Kami juga melintasi gunung Baima yang puncaknya mencapai 4900 mdpl. Sopir mobil sewaan kami bertanya apakah kami mengalami pusing-pusing atau mual atau gejala-gejala high altitude sickness yang lain? Syukurlah, tak seorang pun dari kami merasakannya.



Di antara beberapa tempat wisata favorit di Shangrila akhirnya kami hanya memilih Songzanlin Monastery (it’s a must!), sebuah biara Tibetan yang berdiri megah menggapai langit biru, dan Shika Mountain (ketinggian di atas 4.500 mdpl). Selain itu kami hanya lingering di kota tua Shangrila, menikmati tari-tarian Tibet yang dipertunjukkan setiap malam di Dancing Square, berjalan-jalan santai di kota yang menyenangkan itu, main ke pasar tradisional, naik bus umum... merasakan apa yang dirasakan penduduk setempat.

Walaupun udara dingin (mencapai -4 derajat Celcius di malam hari), tapi di siang hari matahari bersinar sangat terik. Langit sangat biru, udara sangat cerah dan bersih, sinar matahari menusuk tajam bagaikan sangat dekat. Orang-orang tua berwajah legam dan keriput adalah pemandangan picturesque yang mudah ditemui di Shangrila selain biarawan-biarawan (monk) Tibetan yang mengenakan jubah merah marun. Kami bertanya-tanya apakah keriput itu adalah hasil akibat sinar UV yang kuat, entahlah. Masih banyak juga penduduk yang mengenakan pakaian tradisional suku-suku minoritas, menjadikan tempat ini surga bagi para fotografer.

Bersantai di kota tua Shangrila, di salah satu dari guesthouse yang bertebaran, dengan segala kebutuhan ada di sana, buku-buku dan musik serta makanan yang enak dan murah, rasanya memang bisa lupa waktu dan lupa diri. Terbebas dari segala tuntutan, bebas untuk menjadi siapa yang kita inginkan, memiliki waktu yang bebas kita gunakan untuk diri kita sendiri, membuat kita berpikir, yah, mungkin ini memang Shangri-la. Dan ke tempat inilah kita akan selalu kembali. Karena untuk itulah kita bepergian; untuk mencari, dan menemukan dan kemudian mencari lagi, Shangri-la kita.

Thursday, March 21, 2013

Tersengat Pesona Negeri Gurindam


Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Itulah kedua bait yang dicuplik dari Gurindam 12 yang terkenal itu. Gurindam Dua Belas merupakan puisi (yang juga telah dilagukan), hasil karya Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, propinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Propinsi hasil pemekaran dari propinsi Riau itu menaungi lebih dari 2.000 pulau besar dan kecil yang 30% di antaranya belum bernama dan berpenduduk. Luas wilayah Kepri lebih dari 250.000 km2 dan sekitar 95% merupakan lautan. Kepri menjadi propinsi ke-32 pada tahun 2002 yang mencakup kota Tanjungpinang, kota Batam, kabupaten Bintan, kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten kepulauan Anambas, dan kabupaten Lingga.

Dari atas pesawat Jakarta-Batam sebelum mendarat di bandara Hang Nadim kita dapat melihat ribuan pulau-pulau hijau di tengah lautan hijau tosca yang mengilat, sungguh pemandangan yang dramatis. Dari udara ini kita juga bisa melihat kemegahan jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam dengan pulau-pulau di sekitarnya yaitu Pulau Tonton, Pulau Galang, dan Pulau Rempah. Sungguh, dari udara Kepri bagaikan untaian mutiara yang sudah mengundang decak kagum bahkan sebelum kita mendarat.

Kami memasuki Kepri dari Batam karena dari Jakarta paling banyak penerbangan menuju Batam. Walaupun tujuan utama dalam trip kami adalah pulau Bintan dan Pulau Penyengat, namun kota Batam merupakan pintu masuk yang nyaman. Hampir setiap jam ada kapal yang berangkat dari pelabuhan Punggur Batam menuju Tanjungpinang. Kapal bertarif Rp 40.000 sekali jalan ini cukup nyaman, berpendingin udara, dengan waktu penyeberangan kurang-lebih 1 jam. 

Pulau Bintan



Pulau Bintan adalah pulau terbesar di kepulauan Riau, dan di pulau ini pula terletak kota Tanjungpinang yang menjadi ibukota Kepri. Dibandingkan dengan pulau Batam yang terletak di sebelahnya, mungkin kedua pulau ini dapat diibaratkan dua saudara, yang satu lebih kaya tapi kurang tampan, dan yang satunya lagi kurang kaya namun lebih menawan dibanding saudaranya. 

Ya, Bintan memang menawan dengan pantai-pantainya yang berpasir putih di bawah langit yang biru. Breathtaking, yang menjadi slogan pariwisata Bintan, memang tidak berlebihan. Namun dari sisi ekonomi terlihat Batam lebih maju dengan kekuatan industrinya yang terus berkembang sehingga banyak fasilitas dan infrastruktur lebih tersedia di Batam. Memang kedua saudara ini memiliki daya tariknya masing-masing.

Sebagai tujuan wisata, tentulah Bintan lebih menonjol. Ada yang menyebut  pulau Bintan sebagai pulau kedua setelah Bali sebagai daya tarik wisata andalan Indonesia. Namun selama bertahun-tahun, pesona ini bagaikan rahasia yang tersimpan dengan baik yang malah lebih diketahui orang asing dibanding orang Indonesia sendiri. Baru belum lama ini Bintan semakin banyak dikunjungi pelancong domestik, walaupun data dari beberapa resor yang kami tanyai di Bintan lebih dari 90% pengunjungnya adalah turis dari negara tetangga Singapura.

Karena itu, ketika pertama diajak oleh teman untuk trip ke Bintan, saya awalnya menolak. Bintan yang saya tahu adalah resor-resor yang menawarkan kemewahan dan kefanaan sedangkan saya belum merasa ingin berfoya-foya untuk saat ini. Tetapi ternyata setelah saya pelajari lebih lanjut mengenai sejarah dan daya tarik budaya Melayu dan Tionghoa yang mewarnai kehidupan di Bintan, saya pun berubah pikiran.

Mengelilingi pulau Bintan dengan mengemudi sendiri, kita dapat melihat langsung kehidupan yang menggeliat di pulau yang perekonomiannya disokong oleh pariwisata ini. Selain resor-resor yang tergabung dalam Bintan Resor di kawasan Lagoi di Bintan utara, ada juga resor-resor yang lebih terjangkau di Bintan bagian timur (Pantai Trikora). Objek-objek wisata ini dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 1 hingga 2 jam saja dari pusat kota Tanjungpinang.

Panas yang sangat menyengat menyambut kami ketika tiba di pelabuhan Tanjungpinang, dan sepanjang perjalanan kami di Bintan kami dihadiahi cuaca yang sangat cerah. Langit yang sangat biru dan bersih namun udara juga sangat panas. Tidak lama setelah kami berkendara di pulau Bintan, kami menyadari hampir semua mobil dilengkapi kaca film yang sangat gelap bahkan pada kaca depan, sehingga kita tidak dapat melihat wajah pengemudi dari arah depan.

Dari Tanjungpinang kami langsung menuju pantai Trikora yang berjarak kira-kira 1,5 jam perjalanan. Di sepanjang pantai timur ini banyak pilihan resor yang menawarkan berbagai fasilitas relaksasi, restoran, dan juga sebagian menawarkan snorkeling dan diving. Pemandangan pantai khas Bintan adalah pasir yang amat putih, di beberapa tempat ada pantai berkarang yang mirip di Belitung, serta adanya kerambah (kelong dalam bahasa Melayu) yang menghiasi pemandangan pantai.

Ada juga beberapa resor yang khusus menarget pengunjung yang suka memancing, seperti Kolam Kelong Trikora yang secara tidak sengaja kami temukan pada malam hari. Inilah yang saya sukai dengan road trip, seringkali menemukan kejutan yang menyenangkan. Tempat ini menawarkan penginapan yang cukup terjangkau, serta letaknya yang menjorok ke laut memberikan suasana yang sangat berbeda.

Kelong adalah bahasa Melayu untuk menggambarkan struktur lepas pantai yang dibangun dari kayu untuk menangkap ikan. Saat ini banyak kelong yang berubah fungsi karena pemilik kelong membuka kelongnya untuk para pemancing yang ingin memancing di laut dalam, dengan menyediakan penginapan dan fasilitas yang sangat terjangkau (bila dibandingkan dengan tarif resor-resor di Bintan, apalagi resor di daerah Lagoi).







Keesokan harinya kami mengunjungi daerah Bintan Resort di Lagoi. Kami tidak menginap di sini karena tarifnya sebagian besar di atas 150 SGD per malam. Di sini ada resor-resor internasional seperti grup Banyan Tree, Club Med, dan sebagainya. Salah satu yang paling terkenal adalah Bintan Lagoon Resort yang menawarkan sea view golf yang disebut-sebut padang golf terindah di Asia Tenggara.

Sebagian resor ini menawarkan penyeberangan langsung dari dan ke Singapura dengan loket imigrasi tentunya. Penyeberangan dari Singapura ke Lagoi ditempuh kurang dari 1 jam saja, sehingga banyak pula yang menawarkan fasilitas meeting room yang dapat dipakai pada hari kerja oleh pengunjung dari negeri tetangga tersebut. Letak Bintan yang sangat dekat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia ini juga menjadi salah satu aset yang dioptimasi oleh pemerintah setempat. 

Pulau Penyengat



Kunjungan ke Bintan tidak lengkap tanpa kunjungan ke pulau Penyengat, bahkan ada yang bilang belum ke Bintan kalau belum ke Penyengat. Tampaknya tidak berlebihan karena di sinilah dapat kita saksikan sisa-sisa bukti kebesaran kerajaan Melayu di masa lalu. Pulau Penyengat sangat dekat dari Tanjungpinang, dari dermaga tinggal menyeberang dengan perahu angkut (Pongpong) bertarif Rp 5.000 sekali jalan.

Begitu menginjakkan kaki di pulau Penyengat kita seolah dikelilingi nuansa kuning, dan tentu saja destinasi yang paling tersohor di sini adalah Masjid Sultan Riau yang sering juga disebut Mesjid Penyengat. Mesjid ini salah satu kebanggaan bangsa Melayu yang dibangun atas prakarsa Raja Abdurrahman (Yang Dipertuan Muda Riau VII) pada 1 Syawal 1249 H (1832 M). Konon mesjid ini dibangun menggunakan putih telur sebagai perekat dan kuning telur dalam catnya. 



Kunjungan ke mesjid ini sangat penting bagi mereka yang ingin mengagumi kebudayaan Melayu. Di sini masih tersimpan kitab-kitab kuno serta yang paling menarik adalah kitab Alquran tulisan tangan. Kemegahan mesjid kuning yang menjadi ikon pulau Penyengat ini sudah terlihat dari pantai Tanjungpinang.

Wilayah kepulauan Riau pada masa lalu adalah salah satu perairan yang penting dalam lalu lintas perdagangan internasional. Banyak pedagang dari berbagai negera, tidak hanya Asia, tetapi juga Timur Tengah dan Eropa, yang singgah ke pulau Penyengat untuk mengisi persediaan air tawar.

Pulau mungil berukuran 2.500 x 750 meter ini dapat dikelilingi dalam waktu 1 jam dengan becak motor (bemor) yang merupakan fasilitas pariwisata yang tersedia di sana. Tarif naik bemor Rp 25.000 per jam membawa kita ke obyek-obyek wisata seperti Makam Engku Putri Raja Hamidah, Makam Raja Haji Fisabillilah, Makam Raja Jakfar, Makam Raja Abdurrahman, dan Balai Adat Indra Perkasa. Pada dinding Balai Adat ini kita dapat melihat teks lengkap Gurindam Dua Belas serta foto tokoh-tokoh Melayu di masa lalu termasuk yang turut berjuang melawan VOC. Kunjungan yang singkat ke pulau mungil ini adalah kunjungan yang padat dan kaya dengan budaya dan sejarah.

Tanjungpinang



Ibukota propinsi Kepri ini tak kalah menariknya dan penting untuk dikunjungi. Di sini kita dapat melihat pembauran budaya Melayu dan Tionghoa yang kental. Anak-anak mengenakan seragam sekolah khas Melayu dan encim-encim berbahasa Hokkian adalah pemandangan sehari-hari. Mesjid yang agung berpadu dengan wihara nan megah juga tak jarang ditemui.

Karena masih serumpun dengan Malaysia dan Singapura, maka budaya dan kuliner di sini mirip dengan kedua negara tetangga itu. Bahkan istilah yang digunakan untuk teh dan kopi sama dengan di negara jiran. Misalnya ada istilah teh O dan kopi O, teh Obeng, dan teh tarik tentunya. Di sini dapat ditemui kopi dan teh tarik otentik yang rasanya sama seperti di Malaysia atau Singapura.

Karena itu kunjungan ke Akau Potong Lembu adalah keharusan. Ini adalah pusat kuliner terlama dan terbesar di Tanjungpinang, letaknya di jalan Potong Lembu. Tempat ini adalah hawker center yang menyediakan berbagai pilihan makanan (sebagian besar makanan khas Bintan), suasananya mirip pusat kuliner yang ada di Singapura.

Yang wajib dicoba di sini menurut saya adalah siput Gonggong, otak-otak, sop ikan dan teh tarik. Siput gonggong jarang ditemui di tempat-tempat lain, sementara otak-otak juga merupakan salah satu kuliner khas Bintan, terdiri dari berbagai pilihan bahan dari ikan, udang, dan sotong. Dalam perjalanan dari Tanjungpinang ke Pantai Trikora kami juga beruntung menemui penjual durian di sepanjang jalan.

Trip ini menjadi begitu lengkap dan kaya: pemandangan alam, wisata budaya dan sejarah, serta wisata kuliner. Negeri Gurindam ini memang menawan. Hati-hati Anda akan tersengat pesonanya.