Google+ Followers

Thursday, July 30, 2015

Bawa Duit Apa Ke Rusia?



Penampakan salah satu money changer di kota Moscow


Menjawab pertanyaan dalam judul di atas: ya tentu saja bawa mata uang Rusia, yaitu Rubel. Tetapi kenapa perlu ditanyakan? Karena di Jakarta ini cukup sulit mendapatkan uang Rubel. (Saran saya, kalau bertemu Rubel di money changer, boleh dibeli dan dikumpulkan sedikit demi sedikit, apabila memang punya rencana untuk pergi ke Rusia). Di forum-forum traveler ternyata juga ada yang menanyakan, misalnya bawa US Dollar atau Euro? Hal ini apakah menandakan di negara-negara mereka juga tidak umum atau tidak mudah mendapatkan Rubel? Entahlah. Trip saya dilakukan pada bulan Juni 2015, dan saya yakin hal ini akan berubah dalam waktu beberapa tahun kemudian, karena akan semakin banyak orang yang bepergian ke Rusia, sehingga tidak akan terlalu sulit lagi menukar uang Rubel di Jakarta.

Mungkin juga ada faktor lain, seperti volatility Rubel saat ini. Atau memang faktor mudahnya menukar uang US Dollar atau Euro di Rusia, jadi banyak traveler di forum menyarankan bawa US Dollar (yang mungkin memang adalah mata uang mereka sendiri). Akhirnya memang itu yang saya lakukan. Walaupun kemudian hal ini jadi membuat segalanya membingungkan. Karena kita jadi kena dua kali kurs, Rupiah terhadap US Dollar, lalu US Dollar terhadap Rubel. Selain itu beberapa kali menukar uang, mendapat kurs yang berbeda. Karena itu, bila ditanya sesuatu itu harganya berapa dalam Rupiah, saya jadi agak bingung, karena kurs yang berbeda-beda. Karena itu biar tidak ribet di sana kita gunakan patokan 1 Rubel = 300 rupiah untuk harga barang-barang. Misalnya harga makan di McD sekitar 270 Rubel, maka kira-kira rupiahnya Rp 81,000 gitu.

Salah satu teman kami membeli Rubel di Jakarta seharga 290. Kami membeli US Dollar dengan harga 13,200. Lalu tuker di sana dapat beda-beda kurs. Di bandara 1 US Dollar hanya 39 Rubel. Di kota 51 koma sekian. Beberapa hari kemudian 52 koma sekian karena Rubel melemah. See what I mean? Karena itu, biar lebih mudah, dan yang terbaik memang kita siapkan Rubel sebelum berangkat.

Baca juga:

Rusia 2015. Pengalaman tak terlupakan

Persyaratan visa Rusia

Tuesday, July 28, 2015

Cuaca Rusia di Bulan Juni



Kazan Cathedral, St. Petersburg, pukul 21.00

Cuaca di tempat tujuan adalah suatu yang penting untuk diketahui sebelum berangkat. Hal ini karena cuaca akan menentukan pakaian dan perlengkapan yang akan kita bawa. Besar kemungkinan manusia-manusia yang hidup di era internet seperti Anda dan saya akan mencari di search engine dengan keyword “cuaca Rusia di bulan Juni” atau “Russia weather in June” or “Moscow weather” dll. Kita yang hidup di era ini sangatlah dimanjakan dengan banyaknya informasi yang akan mempersiapkan kita dalam perjalanan.

Saat ini apabila kita melakukan pencarian di Google tentang cuaca, hasilnya cukup lengkap. Khususnya di kota-kota yang saya cari, seperti Moscow, St. Petersburg, Irkutsk, dan Ulan Ude, cuaca dari hari ke hari cukup detil, bahkan dari pagi, siang, sore, malam, menampilkan suhu yang berbeda-beda. Google Now juga membuat saya terkesan kali ini. Entahlah siapa yang memberitahu padanya, tapi tahu-tahu dia sudah mencatat jadwal penerbangan saya (saya tidak ingat mendaftarkan email saat memesan tiket pesawat. Tiket pesawat pun di-book dengan bantuan teman saya). Google Now saya menampilkan informasi cuaca, tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, di Bangkok dan Moscow yang tercatat dalam tiket pesawat saya.

Bulan Juni di Rusia adalah awal musim panas. Berdasarkan informasi yang saya cari, musim panas di Rusia tidaklah panjang. Sepanjang tahun mereka menghadapi cuaca yang dingin, di tempat-tempat tertentu bahkan sangat dingin (merupakan tempat terdingin di dunia). Musim panas (summer) yang datang pada bulan Juni, Juli, dan Agustus disambut dengan gembira. Musim panas ini juga merupakan musim liburan alias high season bagi traveler. Banyak orang kota memiliki rumah musim panas di desa, yang memiliki kebun sayuran, yang mereka kunjungi pada musim panas. Siang hari lebih panjang pada musim panas, langit masih terang hingga pukul 21.00. Orang-orang duduk di depan rumah membaca koran pada pukul 21.00. Sunset dapat dilihat pada pukul 22.00. Di St. Petersburg fenomena ini terkenal dengan nama White Night (Malam putih).

Namun pada awal bulan Juni, summer belum-lah genap. Di Moscow di pagi dan malam masih bisa mencapai suhu 11 atau 12 derajat Celcius. Siang hari terik sekitar 24 derajat. Yang paling panas kami alami di Irkutsk dan Ulan Ude, mencapai 28 derajat Celcius. (di bulan Juli mungkin suhu mencapai 30-an). Dengan suhu yang galau seperti ini tidak heran kalau kita bertemu di jalanan dengan fashion yang bervariasi: ada yang pakai you can see, tetapi ada yang memakai jaket. Paling aman adalah mengenakan kaos, tetapi membawa jaket, karena terkadang angin datang dan cukup dingin. Paling dingin saya rasakan di pulau Olkhon di danau Baikal. Pada musim dingin danau di Siberia ini akan membeku dan dapat dilalui mobil, pada musim panas matahari sangat terik, tetapi angin yang berhembus menusuk-nusuk tulang.

Pada saat packing untuk trip ini saya sempat bingung juga. Mau bawa jaket tebal atau jaket tipis? Mau bawa tangan panjang atau pendek? Mengingat Juni disebut musim panas, tetapi kok suhu 12 derajat? Itu kan mayan dingin… Akhirnya saya hanya bawa jaket yang biasa (tidak tebal), asal bisa menahan angin. Bila kurang dapat ditambahkan peralatan lain seperti syal, sarung tangan, dan topi kupluk. Peralatan ini biasanya dibawa pada waktu jalan-jalan, baru dikenakan pada malam hari. Payung juga penting, karena di awal musim panas ini beberapa kali kami bertemu dengan hujan. Bila tidak hujan, payung juga dapat melindungi kita dari panas yang terik. Saran saya, periksalah informasi cuaca sedetil mungkin, dan bawalah pakaian yang sesuai dengan Anda sendiri. Setiap orang tentu memiliki daya tahan yang berbeda terhadap dingin atau panas, jadi tak perlu malu, misalnya, untuk mengenakan jaket tebal, karena percayalah, fashion di bulan Juni ini benar-benar beragam. Ada yang mengenakan celana pendek tetapi ada juga yang mengenakan topi kupluk, syal dan jaket tebal. Yang penting Anda merasa nyaman, dan jangan sampai jatuh sakit di negeri orang. Cuaca di sini juga mudah berubah-ubah, karena itu periksalah dengan detil kota tujuan, dan tanggal Anda berada di sana. Cerita saya ini di awal Juni 2015, di akhir bulan Juni bisa saja cuaca semakin panas.

Baca juga:


Thursday, July 23, 2015

Rusia 2015. Pengalaman Tak Terlupakan



St Basil's Cathedral, Moscow

Inilah Rusia yang ingin kuceritakan padamu---bukan jalan-jalan lebar di Moscow dengan sembilan jalur mobil dan gedung-gedung megah ala Eropa di kanan-kirinya, bukan gemerlap Malam Minggu di St Petersburg dimana muda-mudi berpesta hingga subuh dengan musik Barat merayakan malam yang terang di musim panas---bukan itu. Itulah barangkali yang sering kamu dengar tentang Rusia, perjalanan ke Rusia setelah melewati kedua kota Eropa itu lalu berbelok ke Eropa Timur. Itu bukan jalur yang kami ambil. Kami memilih mengunjungi jantung Rusia di Siberia, propinsi yang menempati wilayah paling luas di Rusia, yang sering disebut the real Russia. Tapi entahlah mana yang menjadi Rusia sejati, perjalanan ke Rusia ini menjadi sangat menarik karena keragaman ini. Suatu hari kita berada di Eropa, hari berikutnya kita di Asia. Wajah yang ditemui pun beragam, namun mereka adalah satu Rusia. Rusia adalah negara terbesar di dunia, yang daratannya membentang dari Eropa hingga Asia, dan terbagi menjadi 9 zona waktu. Bahkan di dalam Rusia sendiri kamu bisa mengalami jet lag. Kalau bepergian dari kota ke kota rasanya capek harus mengatur jam di kota yang berbeda waktunya.

Inilah Rusia yang ingin kuceritakan padamu: padang rumput dengan bunga-bunga liar yang cantik di sepanjang jalan yang seakan tak ada habisnya. Pemandangan desa dengan rumah-rumah kecil dari kayu yang semuanya memiliki halaman yang ditanami sayuran. Bunga-bunga lavender di sisi rel kereta. Bunga-bunga putih dan kuning di perbukitan seperti taman Teletubbies. Gerbong-gerbong kereta yang sangaaat panjang, mengangkut berbagai barang komoditas seperti kayu, batubara, dll. Petugas-petugas di pintu kereta dan orang-orang yang menunggu di kereta. Ibu-ibu yang menjual makanan kepada penumpang kereta di setiap kereta berhenti. Orang-orang Rusia, yang, sama seperti kita. Mereka bepergian naik kereta bersama keluarga, bersama pacar, bersama teman-teman satu rombongan. Ada yang baik, ada yang culas, ada yang matere. Ada yang berbadan besar, ada yang kecil. Ada yang berambut pirang, ada yang berambut hitam. Ada yang tua, ada yang muda. Oya, dan mereka juga beragama kok.. Mereka juga punya sopir angkot yang nakal yang berusaha menaikkan harga karena koper-koper kami. Mereka juga punya tukang jualan di kereta yang mencoba membohongi karena tahu kami orang asing. Selain orang-orang desa yang menanam sayuran, mereka juga punya manusia-manusia jetset yang mengendarai Porche di jalanan mulus Moscow, banyak malah. Tapi satu hal yang menyamakan mereka semua: mereka ramah dan ingin menolong, pejalan dari jauh yang sama sekali tak bisa berbicara bahasa mereka. Ketulusan seperti ini tak perlu bahasa untuk mengkomunikasikannya.

Inilah Rusia yang ingin selalu kukenang: orang-orang yang mencoba membantu kami walaupun mereka sendiri tidak tahu, mereka berusaha mencari alamat dengan google maps, dengan google translate, dan segala usaha. Keramahan Rusia, keragaman Rusia, kebesaran negara adidaya ini dengan segala permasalahannya. Keunikan Rusia, dengan “mesjid-mesjid bersalib”--- istilah temanku untuk gereja-gereja di sana yang terlihat seperti mesjid karena kubah-kubahnya yang besar. Cuaca yang seperti anak ABG yang moody. Galau, berubah-ubah. Siang bisa sangat panas, lalu malam dingin dan berangin.

Ini juga Rusia yang tak ingin aku lupakan: Hangatnya roti isi daging yang baru selesai dipanggang di restoran kereta TransSiberia. Roti isi kentang (yang menurut kami aneh karena karbo dipasang dengan karbo, tapi enak juga). Bubur yang dilumuri susu kental manis! (nah lho) yang ternyata adalah makanan yang cukup umum. Bir yang dijual secara bergalon-galon. Udara yang berbau vodka. Segelas vodka dingin di siang Musim panas yang menyengat di St Peterburg. Hostel kami di Moscow yang bernuansa vintage dengan tamu-tamu imigran selain para traveler. Stasiun-stasiun MRT yang seperti istana, dengan patung-patung, yang tetap megah walaupun sudah berusia tua. Ibu-ibu penjaga loket MRT yang berbadan besar dan berwajah suntuk. Mengantri di depan pintu stasiun MRT yang belum buka pukul 5 pagi. Kepadatan di stasiun-stasiun MRT tertentu di mana kami turut menjejalkan diri. Stasiun MRT yang bersusun-susun dengan huruf-huruf asing sebagai petunjuknya. Langit yang biru di malam hari, di Moscow dan St Petersburg. Orang-orang yang kami temui di kereta, cowok-cowok yang naik ke kereta hanya mengenakan celana pendek lalu pada membuka baju begitu masuk ke dalam kereta (ini akan saya ceritakan pada bagian TransSiberia). Semua ini adalah pengalaman yang baru, yang menarik bagiku, dan tak ingin aku lupakan.

Karena itulah aku menulis catper ini. Catper akan coba saya susun sesuai dengan itinerary kami, ditambah hal-hal lain yang mungkin berguna. Kira-kira seperti ini:

-      - Cuaca Rusia di Bulan Juni
-      - Bawa Duit Apa ke Rusia?
-      - Penerbangan Jakarta-Moscow (via Bangkok) dengan Aeroflot
-      - Moscow
-      - St Petersburg
-      - Irkutsk, Lake Baikal, Khuzir
-      - Ulan Ude
-      - Kereta Trans Siberia Ulan Ude-Moscow

So, ditunggu ya ceritanya… (saya akan coba update secara teratur pada hari Selasa dan Kamis)

Thursday, June 04, 2015

Persyaratan Visa Rusia


Tulisan ini baru bisa saya tulis setelah visa Rusia sudah di tangan, alias sudah tertempel dengan manis di passport. Biaya visa ini lumayan mahal, US$ 70. Waktu itu kami kena kurs yang ditetapkan Rp 14.000, membayar dengan rupiah, sama dengan Rp 980.000.

Banyak yang bilang visa Rusia termasuk sulit, tetapi setelah kami jalani, syukurlah semua telah berlangsung lancar. Sebenarnya visa Rusia tidak mensyaratkan bukti keuangan atau bahkan surat sponsor dari kantor. Yang unik adalah dia membutuhkan surat undangan dari Rusia, dengan bahasa Rusia. Nah, untuk hal ini Anda bisa minta pada hotel atau hostel tempat Anda booking, namanya visa support. Biayanya 1.000 Rubel per person.

Berikut ini adalah dokumen-dokumen yang perlu disiapkan: (dikutip dari website Kedutaan Rusia di Indonesia)
1.    Fill a completed Visa Application form (enclosed above, available at the Consular Office too);
2.    Original passport and its copy (passport must be valid for at least 6 months);
3.    2 photo, size 3 x 4;
4.    Confirmation letter (Visa Support) from the authorized hotel or travel agency in Russia, with the reference number and confirmation number for visa (the letter should be in Russian language);
5.    Print out ticket to Russia or the booking confirmation;
6.    Letter from the Indonesian travel agency with the name of the tourist group, the itinerary and the name list of all its participants (FOR JOINT GROUPS).
Di website ini juga bisa di-download form aplikasinya.

Kedutaannya terletak di Jalan HR Rasuna Said Kav X-7 no 1-2 Kuningan Jakarta. Dari luar terlihat seperti tertutup, tetapi tidak perlu khawatir, begitu kita tiba di pintu gerbang consular, pintu akan terbuka secara otomatis. Kantor buka Senin-Jumat, jam 9 hingga jam 13.00.

Petugas yang menerima kami pun sangat ramah. Dokumen-dokumen di atas diperiksa, setelah lengkap dia pun memberikan tanda terima dan kita membayar biaya visa. Dalam waktu satu minggu bisa diambil. Pengambilan visa di tempat yang sama, pada jam 12.00 hingga 13.00.


Photo Courtesy: https://twitter.com/RusEmbJakarta

Thursday, May 28, 2015

Raja Ampat 5D4N (2): Painemo, Kabui, Sorong, Makassar

Painemo, the little Wayag, Raja Ampat

Hari kedua di Raja Ampat kami bangun sekitar pukul 05 pagi untuk mengejar sunrise. Boat parkir di tengah-tengah laut dan menunggu hingga matahari muncul. Para fotografer dengan gear masing-masing telah bersiap-siap.

Setelah itu kembali ke homestay untuk sarapan. Air laut di sini sangat bening dan bersih. Dari tempat saya sarapan di dermaga homestay juga bisa dilihat banyak ikan lalu-lalang. Kicau burung menambah indahnya suasana di pagi itu.

Pagi itu kami berangkat ke Arborek. Di sini snorkeling lagi, namun sayangnya arus agak kencang. Kami ke Painemo sekitar pukul 11.00. O ya, ketika kami tidak kami dikabari bahwa kami tidak bisa masuk Wayag. Wayag ditutup untuk publik, karena itu kami pun mengganti ke tempat yang sering disebut Little Wayag, yaitu Painemo.

Kami tiba di Painemo Homestay dulu, untuk buka tenda. Kami tidak menginap di Painemo Homestay, tetapi diberikan tempat untuk buka tenda di sana. Kami juga makan siang di sini, menunya ikan suwir-suwir dan sayur capcay. Kami beristirahat setelah makan siang.

Sekitar jam 14.00 kami jalan lagi. Untuk menikmati keindahan “Little Wayag” berupa gerombolan pulau-pulau kecil yang menjadi ikon Raja Ampat itu kita harus mendaki bukit. Dari atas sini bisa foto dengan background pulau-pulau tersebut di bawah yang sering nampak dalam foto-foto Raja Ampat. Puas foto-foto, acara dilanjutkan dengan nyebur lagi, alias snorkeling.

Setelah snorkeling lanjut naik ke bukit yang satu lagi. Yang ini agak landai. Tadinya mau menunggu sunset tetapi masih jam 5. Sunset di sini sekitar jam 6. Akhirnya kami turun lagi, dan memutuskan untuk sunset di belakang homestay Painemo saja. Malam itu kami makan malam 1 ikan bakar rame-rame.

Makanan kami cukup sederhana bila dibanding rombongan sebelah yang membakar beberapa ikan yang besar-besar. Namun suasana cukup romantis dengan penerangan yang minim di depan tenda membuat makan apa pun jadi enak.

Setelah itu agak sulit tidur karena badan gatel-gatel. Entah digigit apa, seluruh badanku bentol-bentol, dan sejak itulah kesenangan trip ini agak berkurang. Ada yang bilang kena plankton, ada yang bilang ubur-ubur, ada yang bilang alergi. Tetapi hal ini tidak menghentikan saya untuk tetap snorkeling. Anehnya hal ini tidak pernah saya alami sebelumnya ketika snorkeling di tempat yang lain.

Keesokan harinya, pagi dimulai seperti biasa, cukup awal untuk mengejar sunrise. Hari ini naik bukit lagi dan snorkeling lagi, sebelum kembali ke Homestay kami Yenkoranu.

Raja Ampat Sunrise
Kemping di Painemo
Painemo Homestay
Siap2 Nyemplung - Team Raja Ampat


Kabui

Dari sini kami jalan ke Kabui, agak jauh, sekitar satu jam. Teriknya matahari di sini cukup mengerikan. Sementara kapal kami tidak ada tutupnya, jadi saya menutup muka dengan handuk. Kami kembali lagi ke homestay sekitar pukul 16.00.

Sekitar setengah jam kemudian kami berangkat lagi untuk diving dan snorkeling di Yenbuba. Di sini saya enjoy banget. Ikan bergerombolan sejuta banyaknya. Ikannya besar-besar, burbara, ada barakuda bergerombol, ada yang biru dan ada yang warna-warni, serta bisa melihat teman-teman yang diving di bawah.

Setelah puas bermain-main, kami kembali lagi ke homestay. Dinner malam ini telur dan terong. Agak kecewa karena tidak ada ikan, hehehe mungkin jatah ikan sudah habis. Di sini ada penganan gorengan gitu, yang penampakannya mirip pisang goreng membuat anak-anak langsung kelaparan. 
Tetapi ketika dimakan, rasanya hanya tepung saja. Walaupun begitu, enak juga..

Tanpa terasa besok sudah harus berangkat lagi ke Sorong dan seterusnya. Di bawah ini ada beberapa biaya yang sempat saya catat:

  Kelapa Rp 5000/buah
-  Bayar Painemo homestay untuk kemping di sana Rp 200,000 rame2
-  Sewa snorkeling Rp 50,000 per day
-  Diving 450,000
-  Stay (plus makan) Rp 250,000 per day

Karena ferry dari Waisai ke Sorong berangkat pukul 15.00, kami tiba di Sorong pukul 17.00. Kami menginap di Hotel Le Meredien Sorong yang letaknya persis di seberang bandara Sorong. (Rp 450,000 per malam, dibagi tiga). Di Sorong juga sempat makan seafood: Kepiting, cumi goreng tepung, udang, ikan bakar, kangkung dan capcai… Partyyyyy… setelah beberapa hari makan cukup sederhana. (Untuk 12 orang menghabiskan Rp 1,085,000)

Kami juga sempet muter-muter cari oleh-oleh, ada sebuah toko di Jalan Kartini yang menjual kaos-kaos Raja Ampat. Setiba di hotel, senang banget bertemu kembali dengan shower air panas, air yang berlimpah dan listrik. Oya, dan ATM. ATM hanya ada di Sorong, di Waisai dan Raja Ampat harus siap dengan uang cash.

Esoknya kami terbang ke Makassar. Di sini masih sempat mampir ke Bantimurung (tiket masuk Rp 20,000), makan coto Makassar, dan pisang Epe, sebelum sorenya terbang kembali ke Jakarta. Selamat tinggal Paradise… Selain pemandangan indah dan pengalaman baru, keramahan teman-teman di Papua juga adalah suatu faktor yang menambah serunya perjalanan ini. Saya sangat bersyukur atas trip dan pengalaman ini, walaupun harus membawa pulang bentol di badan yang saya yakin akan pulih seiring berjalannya waktu.

Baca juga:

Raja Ampat 5D4N (1)

Tuesday, May 26, 2015

Raja Ampat 5D4N (1): Sorong, Waisai, Yenbuba


Nama Raja Ampat pastinya sudah tersohor, baik karena keindahan bawah lautnya serta keanekaragaman hayatinya. Salah satu kendala yang sering saya dengar dari orang-orang yang ingin mengunjungi surga di Papua ini adalah mahal. Dan karena letaknya yang cukup jauh dari Jakarta serta cukup luas dan banyak untuk di-explore, biasanya trip ke sini juga minimal membutuhkan waktu 5 hari. Ini juga salah satu alasan banyak yang menunda dulu hingga memiliki waktu yang tepat untuk datang.

Untuk menyiasati kendala pertama, tips-nya adalah, mengajak cukup banyak orang untuk satu boat. Biasanya, biaya paling mahal ketika mengunjungi tempat-tempat diving adalah sewa boat. Untuk trip ini bagi saya termasuk trip yang paling ramai anggotanya, 12 orang.

Mahal kedua ada pada tiket pesawat, karena Jakarta-Sorong penerbangan membutuhkan waktu hampir 6 jam, sama seperti ke beberapa kota di luar negeri. Kami menyiasati hal ini dengan terbang melalui Makassar/Ujung Pandang. Air Asia Jakarta-UP waktu itu Rp 1,1 juta (PP) dan UP-Sorong dengan Sriwijaya Rp 1,8 juta (PP).

Tips ketiga penghematan bisa dilakukan di penginapan. Biaya hidup di Raja Ampat memang jauh lebih mahal dibanding diJakarta. Mereka harus membeli semua barang kebutuhan dengan menggunakan boat ke kota terdekat. Harga barang di sini semua berlipat-lipat, seperti air mineral, gas, dll. Menyiasatinya, kita menginap di Homestay. Totalnya biaya trip 6D5N ini Rp 7 jutaan. Silakan Anda nilai sendiri apakah cukup murah, biasa saja, atau mahal?

Itinerary Raja Ampat

Sebelum berangkat teman kami membuat itinerary kasar seperti di bawah ini:
Day 1
Cengkareng -UP

Day 2
UP - Sorong
Sorong - Waisai
Waisai - Mansuar
Snorkeling di Pasir Putih Mansuar
(Sun Set time)
Mansuar
Dinner
Day 3
Snorkeling / Diving di Mansuar
(Sun Rise Time)
Breakfast at Mansuar
Snorkling di Airborek
Ke FAM Island
(Lunch time)
Take a rest in FAM Island atau lgs ke wayag
Snorkeling di FAM Island
Wayag
Day 4
Break Fast
(Sun Rise Time)
Teluk Kabui
Teluk Kabui - Waisai
Waisai Sorong
Day 5
Sorong - Makasar
Free in Makasar
Lalu kami juga diwanti-wanti soal penginapan, seadanya lho ya.. Waktu itu saya juga browsing tentang di sana semuanya serba mahal, penginapan ala kadarnya, listrik dan air sulit… wahh, jadi benarkah demikian? Mari kita simak bersama catatan perjalanan (catper) kami di Raja Ampat.

Penerbangan Jakarta – Makassar – Sorong

Penerbangan Jakarta – Makassar – Sorong adalah penerbangan yang menembus 2 zona waktu, dari WIB ke WITA, ke WIT (waktu Indonesia bagian Timur). Dari Jakarta ke Makassar ada perbedaan waktu satu jam, Makassar dan Sorong satu jam lagi, sehingga Jakarta dan Sorong beda waktu dua jam.

Kami berangkat malam dari Jakarta, tiba di Sorong keesokan harinya pukul 06.45. Dari bandara kami menggunakan 3 mobil Avanza (1 mobil 4 orang), biaya Rp 100,000 yang mengantar kami hingga pelabuhan Sorong. Hari Jumat ada ferry yang jam 09.00. Biasanya ferry Sorong-Waisai setiap pukul 14.00.

Ferry berangkat pukul 09.30, ini adalah kapal penyeberangan kecil yang cukup sibuk. Ferry ini juga membawa sayur-mayur dan segala macam kebutuhan penduduk. Pria-pria Papua pengangkut sayur lalu-lalang untuk mengisi muatan kapal. Segala bau bercampur aduk, sayur dan keringat di pagi menjelang siang yang panas itu.

Ketika ferry bertarif Rp 130,000 per orang tersebut mulai berangkat penumpang diputarkan sebuah film India yang membuat semua penonton menangis. Film dramatis tentang seorang tukang sulap yang cedera ini membuat kami walaupun ngantuk tak rela untuk tidur. Perjalanan lancar, tidak berombak. Kami tiba di Waisai pukul 11.30.

Waisai adalah ibukota kabupaten Raja Ampat. Kami dijemput di sini oleh boat yang dikirim oleh Homestay yang telah kami pesan. Di Waisai kami juga sempat makan (nasi kuning) serta membeli air mineral untuk persiapan.

Perjalanan dengan speedboat ini hanya perlu sekitar 30 menit untuk mencapai pulau Mansuar. Kami tiba di depan homestay sekitar pukul 13.00 WIT. Setiba di sana saya baru tahu bahwa homestay kami bernama Yenkoranu, kami terharu karena mendapat kamar yang VIP, yaitu kamar yang langsung menghadap laut.

Dermaga Yen Koranu Homestay
Deretan VIP room yang menghadap pantai, Yen Koranu Homestay

Yen Koranu Homestay Dining Area

Snorkeling di Yenbuba

Sore itu kami diajak snorkeling ke Yenbuba, lalu main ke desa wisata. Karena kami tiba kepagian (seharusnya ferry biasanya pukul 14.00) maka peralatan snorkeling dan pelambung masih seadanya, belum tiba pesanannya. Kami snorkeling di Chicken Reef, dekat Papua Diving.

Di sini kami snorkeling cukup lama. It was beautiful. Coralnya bagus serta ikannya banyak sekali, besar-besar. Banyak ikan biru, it was amazing. That’s all I can say. Secara bukan divers, saya kurang mengenal nama-nama biota bawah laut. Di sini sempat juga melihat penyu, cukup besar.

Sekitar pukul 16-an kami pulang ke homestay, mandi dll, lalu minum teh sambil menunggu sunset. 
Udara di sini enak, sejuk, tidak terlalu panas. Kami makan malam sekitar pukul 18.30. Makan malam yang disediakan oleh homestay adalah nasi dengan ikan dan sayur (tumis jagung, kacang panjang, terong). Sederhana, tapi enak sekali. Mungkin juga karena lapar.

Sebenarnya ingin nongkrong lebih lama di tempat makan yang berada di outdoor itu, tetapi karena banyak nyamuk, sekitar pukul 20.00 saya sudah masuk kamar dan siap-siap tidur. Lumayan mati gaya di sini karena tidak ada sinyal HP. Hanya Telkomsel yang bagus di sini.

Homestay-nya lumayan. Pelayanannya pun sangat baik. Di sini listrik baru ada jam 18.00. Itu pun kayaknya menggunakan genset. Air juga tidak terus-terusan ada. But overall, not bad-lah. Homestay inilah rumah kita selama beberapa hari, yang menyediakan tidak hanya tempat tidur, tetapi juga makanan serta boat yang membawa kita menjelajah indahnya Raja Ampat !

(bersambung)

Thursday, May 21, 2015

Weekend Getaway: Kawah Ijen

Panorama Kawah Ijen

I miss this kind of trip: mendadak, just over the weekend, tidak perlu cuti, tidak mahal, bahkan sometimes tidak tidur saking short trip-nya. A bit crazy too kalau Anda baca terus cerita ini.

Salah satu weekend pas bulan puasa tahun 2013, tim kami berkumpul lagi bersama si Ijo yang pernah membawa kami ke Bromo dan Ranu Kumbolo serta perjalanan pantai Selatan.

Kami terbang dari Jakarta ke Surabaya hari Jumat malam. Di sana teman kami sudah menjemput bersama si Ijo. Sekitar tengah malam perjalanan dimulai dari bandara Surabaya, melewati Paiton menuju jalur Pantura, ke arah Banyuwangi via Situbondo. Di sana tertulis Banyuwangi 254 km, Bromo 81 km.

Pukul 3 pagi kami mampir di sebuah warung dekat Pantai Pasir Putih Situbondo, warung tepi pantai yang buka jam segini. Ngantuk terutama, bukan lapar, yang mengharuskan kami singgah, terutama untuk sang sopir. Kami pun minta sesuatu yang hangat-hangat, dan kebetulan pemilik warung bisa membuatkan rawon buat kami di tengah malam itu.

Malam itu kami menumpang beristirahat di warung tersebut. Pak sopir kami sudah tidur lelap dengan segera. Kami cewek-cewek masih struggling dengan tempat yang bisa buat rebahan di warung sederhana itu. Yah mau gimana lagi, kami pun berseloroh. Kayaknya tidur di mana aja kita udah pernah. Tidur di airport mungkin udah gak ada apa-apanya, di pinggir pantai di sebuah pondok terbuka waktu di Drini, di warung orang dan dilewatin kucing pun sudah pernah!

Saya gak bisa tidur, pukul 6 kami sudah bangkit dan menuju Pantai Pasir Putih untuk foto-foto. Pantai Pasir Putih adalah salah satu obyek pariwisata di Situbondo, yang berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Surabaya. Letaknya strategis di jalur Pantura antara Surabaya dan Banyuwangi. Pagi itu pantai masih sangat sepi, belum terlihat banyak aktivitas.

Setelah itu perjalanan dilanjut, namun tak lama kemudian si Ijo mogok. Kami menunggu teman kami menelepon mekanik. Sambil menunggu mekanik datang tersebut saya malah terlelap di jok belakang mobil jeep. Serasa tidur di resort dengan jendela yang menghadap pantai.

Taman Nasional Baluran

Sekitar jam 8 mekanik datang. Enak juga di sini pun bisa menemukan mekanik handal yang bisa mengatasi Land Cruiser tahun 80-an itu. Sekitar jam 11 kami tiba di Taman Nasional Baluran.


Harian Kompas pernah menyebut tempat ini Africa van Java. 40% wilayah taman nasional ini terdiri dari savanna, dan iklim-nya cenderung kering. Ketika kami ke sana, cuaca sangat panas dan langit biru sangat cerah. Pemandangan yang dilihat teramat indah dengan background gunung api yang sudah tidak aktif lagi, gunung Baluran (1,247 m).


Terdapat 444 jenis spesies tanaman di taman nasional ini serta 26 jenis mamalia. Kami beruntung melihat banteng dari kejauhan serta banyak rusa Jawa. Pukul 12.30 kami meninggalkan Baluran dan melanjutkan ke Banyuwangi. Kami makan siang di pantai Banyuwangi sekitar pukul 14.00. Dari pantai ini kita bisa melihat pulau Bali.





Sekitar pukul 15.30 kami jalan dari Banyuwangi menuju Kawah Ijen. Pukul 17.00 mendekati Paltuding kabut sangat tebal sampai tak bisa melihat jalan. Teman saya yang baru beli Samsung Galaxy S4 terbaru waktu itu mencoba melihat melalui kamera HP-nya agar bisa melihat lebih jelas di tengah kabut tebal.




The magnificent Kawah Ijen

Kami tiba di Paltuding pukul 18.00an. Syukurlah telah berhasil melalui kabut tebal. Sesampai di sana masih misty afternoon menjelang malam. Kami makan indomie di sebuah warung. Kami juga memesan salah satu guesthouse/pondok di sana yang disediakan untuk pengunjung sebelum trekking ke Kawah Ijen. Saat itu cukup dingin dan gelap (listrik sangat minimal). Kami mencoba tidur sekitar pukul 20.00.

Trekking ke Kawah Ijen biasanya dilakukan pada tengah malam. Karena ingin melihat blue fire biasanya pukul 3 pagi. Trekking sekitar 2 jam untuk mencapai kawah, lalu dibutuhkan 45 menit lagi untuk turun ke tempat Blue Fire. Di sini medannya agak sulit, apalagi gelap dan bebatuannya tidak rata.

Kawah Ijen terletak di sebelah barat Gunung Merapi, tingginya 2,799 m. Jadi cukup dingin di sini. Di atas kawah ada sebuah danau kawah berwarna turquoise yang indah, di sekitar sinilah tempat penambangan sulfur/belerang. Ini salah satu fenomena yang sering ditulis ketika orang-orang mengunjungi Kawah Ijen. Para pekerja yang mendapatkan upah sekitar 50,000 – 75,000 per hari untuk mengambil belerang dari kawah dan membawahnya ke Paltuding untuk mendapatkan upah.

Penambang Belerang Kawah Ijen

Sewaktu kami datang upah untuk 1 kg Rp 780. Dalam sekali pikul bisa membawa 70-90 Kg. Satu hari bisa 2-3 kali bolak-balik. Kami sempat melihat tempat penimbangan belerang di sini. Belerang yang berwarna kuning itu terlihat ringan, tapi coba deh kamu angkat.. lebih berat dari batu.

Menjelang sunrise kami duduk di sebuah tempat tak jauh dari danau, di puncak gunung di mana kita bisa melihat pemandangan lembah di bawahnya. Di sini kami menunggu matahari muncul dari tempat tidurnya. Saya tertidur sambil duduk di atas puncak gunung. Untung tidak menggelinding ke bawah.

It was magnificent. Saat mulai terang, kami melihat pemandangan landscape Kawah Ijen yang luas, yang satu-satu mulai terlihat kecantikannya. Beberapa turis asing bertemu dan menyapa kami di sini. Di antaranya dari Perancis, mereka menuturkan tentang betapa hebatnya tempat ini serta mereka melihatnya di televisi di negara mereka.

salah satu pemandangan waktu trekking Kawah Ijen

Sekitar jam 6 kami trekking turun kembali. Tiba kembali di Paltuding pukul 9. Satu jam kemudian kami meninggalkan Paltuding. Kami lewat Bondowoso, untuk menuju Sidoarjo.

Tiba di Sidoarjo sekitar pukul 16.00. Kami mencari rujak cingur yang terkenal di Tanggulangin. Dan ternyata setiba di sana ternyata tutup, karena bulan puasa. Dan di situlah si Ijo mogok lagi. Sekarang masalahnya kopling masuk angin. Dan yang luar biasa, kebetulan mobil itu mogok di depan rumah seorang pemilik bengkel alias montir. Setelah dibenerin montir tersebut, si Ijo pun jalan lagi.

Kami mampir beli oleh-oleh di Sidoarjo ketika si Ijo ngadat lagi. Akhirnya kami singgah di tempat makan rujak cingur yang terletak di pinggir jalan, di tempat yang pernah kami singgahi persis pada bulan puasa tahun sebelumnya. Karena mobil masih tersendat-sendat/belum lancar, teman kami memutuskan untuk mampir di sini sambil mencari solusi.

Di sana sudah tidak jauh dari Bandara Sidoarjo (Surabaya). Tanpa terasa tiba sudah saatnya kami mengakhiri trip dan berpisah. Sejak itu lama kami tidak bertemu lagi dengan si Ijo…


Tuesday, May 19, 2015

5 Kota Kecil Nan Cantik di New Zealand

Kota-kota kecil yang kami lewati dalam Road Trip New Zealand sempat menarik perhatian kami, bahkan mencuri hati kami. Tiap kali lewat kota-kota ini timbullah khayalan tentang betapa permainya hidup di sini. Ini adalah beberapa kota pilihan saya:

1. Bleinheim
Bleinheim ini kota terbesar di wilayah Marlborough di Pulau Selatan, tempat yang terkenal dengan produksi wine terbesar di seluruh New Zealand. Di sekitar sini paling banyak bisa ditemukan perkebunan anggur, dan menikmati iklim yang paling cerah di NZ. Tak jauh dari pusat kota ini ada sebuah bandara (bukan internasional), Marlborough Airport yang merupakan bandara regional yang cukup sibuk karena Bleinheim menjadi pusat industri anggur.

2. Geraldine
Dalam bahasa Maori, Heratini, Geraldine berada di wilayah Canterbury di Pulau Selatan. Sekitar 140 km di selatan Christchurch, kota ini menyajikan suasana kota kecil yang menyenangkan, dengan hutan-hutan tua yang masih dipelihara, serta ada juga pusat-pusat seni dan kerajinan. Ternyata dulu Geraldine pernah bernama Talbot Forest, serta FitzGerald. Di sini juga cukup banyak penginapan karena telah populer sebagai tujuan wisata serta banyak juga obyek wisata tak jauh dari kota ini.

3. Glenorchy
Kota yang mistik dan sendu ini terletak di ujung utara Lake Wakatipu di Pulau Selatan, tepatnya di wilayah Otago. Kota ini hanya 45 km dari Queenstown, tempat kami menginap. Kecantikan dan suasana Glenorchy yang unik menjadikannya lokasi syuting beberapa film terkenal seperti Lord of The Rings, Vertical Limit, X-men Origins: Wolverine, dan The Chronicles of Narnia: Prince Caspian. Pemandangan di sekitar sini memang bagus-bagus, tak jauh dari sini juga ada kota bernama Paradise.

4. Arrowtown
Arrowtown di musim gugur, seperti inilah wajahnya ketika kami datang. Source: Arrowtown.com
Arrowtown ternyata adalah kota yang historis karena dulunya adalah kota pertambangan emas, terletak di wilayah Otago di Pulau Selatan New Zealand. Kota ini juga tak jauh dicapai dari Queenstown serta merupakan salah satu destinasi wisata populer juga. Mereka juga punya official website www.arrowtown.com.

5. Queenstown
Queenstown di winter, seperti inilah wajahnya ketika kami datang. Source: Queenstown.com

Queenstown, kota tempat kami menginap dua malam ini, mungkin adalah yang terbesar dibanding kota-kota di atas. Kota ini sudah menjadi kota resort serta menyediakan banyak tujuan wisata komersial, seperti Shotover Jet, dan Bungee Jumping yang terkenal di Sungai Kawarau.

Dalam bahasa Maori Tahuna, kota ini berada di wilayah Otago di pulau Selatan New Zealand. Kota ini dibangun di sekitar teluk Queenstown yang menjadi bagian dari Lake Wakatipu, danau yang memanjang berbentuk Z di bawah beberapa pegunungan terkenal, di antaranya The Remarkables, Cecil Peak, Walter Peak, dan Quenstown Hill yang persis di atas kota Queenstown. Kota ini adalah kota ketiga terbesar di wilayah Otago setelah Dunedin dan Oamaru. Official website: www.queenstownnz.co.nz/

Baca juga: Road Trip New Zealand (Catper)

Friday, May 15, 2015

Manisnya Anggur New Zealand

Kesempatan bepergian ke suatu negara adalah kesempatan yang baik untuk mengenal negara tersebut. Saat ini informasi demikian mudah untuk didapat, jadi pada saat yang sama dengan kita bepergian, adalah kesempatan yang baik untuk kita mendapat informasi tambahan tentang tempat yang kita kunjungi sehingga lebih bermakna dan mudah menempel dalam ingatan.

Negara Selandia Baru sering dikatakan sebagai negara yang populasi dombanya melebihi populasi manusia. Total penduduk negeri Kiwi ini hanya 4 jutaan, dan sebagian besar tinggal di kota-kota besar seperti Auckland, Wellington, Hamilton, Christchurch. Sisanya, negara ini dipenuhi pemandangan pedesaan yang indah, kota-kota kecil nan cantik, serta peternakan dan perkebunan anggur. Selain sepanjang negara ini dipenuhi topografi yang unik, ada gunung, danau, pantai, yang memberi kekuatan pada pariwisatanya. Suatu negara yang demikian unik!

Anggur Selandia Baru, saya highlight di sini, karena ternyata tidak hanya perkebunannya yang menambah pada keindahan alam di sini, serta manisnya anggur merah yang bisa kita dapatkan di berbagai penjuru di sini, ternyata anggur juga memegang peranan penting dalam perekonomian New Zealand. Betapa tidak, seperti dikutip dari The Economist, industri anggur di sini telah menjual 1 milyar gelas wine di 100 negara.

Pemandangan yang menyenangkan di supermarket, Wellington.


Tak pelak, anggur adalah bisnis yang serius di sini. Pada tahun 2007, anggur telah mengatasi wol dalam urutan komoditas ekspor New Zealand. Komoditas lain yang merupakan unggulan ekspor negara ini seperti daging sapi, lamb, perikanan, serta buah-buahan. Nah, ketika di sana, jangan sampai melewatkan kesempatan mencoba komoditas-komoditas ini. Karena selain segar dan berkualitas, harganya juga lebih murah dibanding kita beli di Indonesia (produk impor).

Walaupun paling dominan di daerah Marlborough, ternyata perkebunan anggur membentang dari ujung utara hingga selatan New Zealand. Coba google New Zealand wine map. Tujuan utama ekspor wine ini adalah negara-negara besar seperti Amerika, Australia, dan China. Produksi terbesar adalah tipe Sauvignon Blanc. Harga rata-rata di market adalah 13 AUD.

Source: New Zealand Winegrowers Annual Report 2014

Sayangnya, tidak sempat wine tasting di sini, serta sayangnya tidak bisa saya bawa pulang. Namun cukup bersyukur telah mengecap manisnya anggur Selandia Baru di tempatnya.

Baca juga:




Tuesday, May 12, 2015

Backpacker Hostel Pilihan Kami di New Zealand

Bumbles Backpacker Queenstown

Sejak mulai travelling ala backpacker, saya pun mulai familiar dengan backpacker hostel. Ini adalah pilihan yang masuk akal ketika kita bepergian ke negara-negara maju khususnya yang biaya hidupnya sangat tinggi. Biaya hotel pun sangat mahal, apalagi karena kita seringkali hanya sebentar di hotel, tiba sudah malam serta keesokan paginya sudah berangkat.

Hostel backpacker di New Zealand rata-rata sama seperti hostel backpacker lainnya di seluruh dunia. Tersedia kamar-kamar dorm, ada yang dipisahkan antara wanita dan pria, ada juga yang mixed. Selain dorm, seringkali ada juga private room, tapi mostly hanya satu atau dua kamar, dan tentu saja lebih mahal daripada dorm. Untuk dorm di sini, rata-rata harga per person sekitar Rp 300 ribu.

Karena itu tidak usah mengharapkan kenyamanan seperti hotel. Kasurnya seringkali tipis sehingga bila ada yang memberikan kasur empuk pasti langsung akan di-mention di TripAdvisor. Kamar mandi pun seringkali berada di luar kamar, jadi cukup sedikit ruang untuk pribadi, sebagian besar menyediakan ruang duduk untuk digunakan bersama-sama.

Yang menurut saya unik dan menonjol dari hostel-hostel yang kami inapi di NZ ini, adalah dapurnya! Kebanyakan memiliki dapur yang sangat luas, kitchen set yang besar-besar, serta peralatan memasak dan makan yang lengkap. Mulai dari panci, kuali berbagai ukuran, penggorengan, talenan, piring, mangkok dan sendok garpu serta gelas, semua tersedia.

Dapur yang lengkap ini biasanya juga digunakan secara maksimal. Di hostel-hostel yang kami inapi, mostly traveler memasak. Ada yang jago masak seperti teman kami, tapi ada juga yang hanya masak mie instan. Dapur menjadi tempat pertemuan kita dengan traveler-traveler dari berbagai negara, banyak wajah-wajah Barat namun ada juga dari Asia seperti dari Taiwan, China, maupun Korea.

Karena ini adalah public area, maka aturan-aturan untuk kenyamanan bersama pun banyak tertempel di dinding. Misalnya, semua yang menggunakan peralatan dapur harus mencuci sendiri. Semua harus diletakkan sesuai dengan tempat yang telah ditentukan.

Di dapur-dapur itu juga biasanya tersedia rak-rak tempat para penghuni “kos-kosan” menyimpan barang mereka. Selain di kulkas, ada juga rak yang disediakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti roti tawar, mie instan, bumbu masak, minyak goreng, dll. Biasanya tertulis nama pemilik serta duration stay di hostel. Bila pemilik tersebut sudah check out, biasanya bahan makanan miliknya bisa digunakan oleh yang lain. Kita juga sering menggunakan sedikit bumbu masak milik orang lain, serta meninggalkan punya kita pada hostel terakhir yang kita tinggalkan.

Ups, kasih tahu gak ya..

Selain dapur, satu hal lagi yang unik mengenai hostel-hostel ini adalah… hmmm kasih tahu gak ya…
Jadi ada salah seorang teman kami yang kebetulan bisa melihat “penampakan”. Masalahnya, kami diceritain pula! Bahkan di-describe, hantunya wanita berpakaian ala zaman Victoria… nah lho.. orang Inggris kali ya yang dulu datang ke Selandia Baru.

Tenang saja, saya tidak akan kasih tahu yang mana yang ada hantunya. Di bawah ini saya berikan daftar backpacker hostel pilihan kami di kota-kota yang kami singgahi, lengkap juga dengan harganya pada saat kami beli. Silakan kamu tebak sendiri ya mana yang ada penampakan dan mana yang enggak.. hehehhe

Tiki Lodge Lake Taupo

   
1. Tiki lodge Lake Taupo (Foto kedua, dok pribadi), Rp 312.300

“Highly recommended, good choice!”
I like the atmosphere here. It's quite and has an ambiance for adventure and outdoor activities. And I especially like the kitchen, and there's a stove for barbeque.. We really enjoyed our stay here :) -- There's also a supermarket nearby where you can get fresh fruit and vegetables.

2.    Dwellington, Wellington, Rp 260.000

3.    Noah Backpacker, Greymouth, Rp 250.000

4.    YHA Te Anau, Rp 292.000

YHA singkatan dari Youth Hostels Association, merupakan jaringan internasional yang pertama kali berdiri di Jerman, serta banyak cabangnya di negara Eropa , dan kemudian juga di Australia dan New Zealand. Di NZ sendiri sejak berdiri tahun 1932 sekarang mengoperasikan 17 hostel, bekerja sama dengan Hosteling International. Hampir di setiap kota pariwisata akan ada YHA-nya, kita juga bisa mendaftar menjadi member untuk mendapatkan fasilitas khusus member YHA. Salah satu fasilitas yang penting di sini adalah Free Wifi. Jadi kalau kita menginap di YHA dan bukan member, kita tidak dapat free wifi. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

5.    Bumbles Backpackers (foto pertama, dari website Bumble), Rp 322.700

Bagi saya Bumbles ini adalah yang terbaik karena lokasinya yang dekat banget dengan pusat keramaian, serta memberikan view danau yang spektakuler.

Ini review saya di Google:

“One of the best backpacker hostel i've stayed in New Zealand. Highly recommended for the nice location and the affordable price.”

6.    YHA Lake Tekapo, Rp 322.700

7.    Bounce Sydney, (harga hampir sama kok, 300-an juga, sorry catatan hilang :D)
Selain lokasinya yang oke banget (Dekat Central Station), Bounce memiliki ruang publik yang sangat luas, terdiri dari sofa-sofa nyaman, ada yang indoor dan outdoor (bagi yang mau merokok). Malam hari tempat ini bisa berubah menjadi semacam pub hahaha.

Baca juga: