Google+ Followers

Thursday, August 29, 2002


Cerita dari Biskota

Suatu pagi...


Tiba-tiba saja bis yang kutumpangi menepi setelah melewati beberapa polisi yang sedang patroli di Jalan Sudirman. Dimulai dari para penumpang yang duduk di jalur kanan, semua penumpang bis itu pun berdiri dan melongok keluar melalui jendela sebelah kanan, termasuk aku.

“Ada apa sih?” seru wajah-wajah penasaran itu, termasuk aku, tetapi hanya dalam hati.

Lalu seorang pria berjaket hitam naik ke dalam bis bersama dua orang polisi patroli dan mulai memeriksa penumpang.

“Tadi ada ibu yang kecopetan. Ibu yang duduk di belakang itu ya Bu?” tanya pria berjaket hitam itu dengan keras. Para penumpang terlihat bingung dan takut.

Lalu seorang ibu yang duduk di belakang, yang merasa dirinya ditunjuk mengiyakan bahwa dia dicopet, dan menerangkan dompetnya yang hilang tersebut berwarna hitam dan bentuknya panjang.

Sementara itu kedua polisi yang di dalam bis berjalan dari depan ke belakang sambil mengamati para penumpang. Mereka lalu kembali ke bangku kedua dari depan di jalur kiri tempat pria berjaket itu berdiri.

“Kamu yang nyopet tadi ya? Saya lihat kok. Kamu jangan sembarangan ya. Kamu gak tahu siapa saya?” Kata pria berjaket hitam itu kepada penumpang yang duduk di bangku kedua tersebut.

Aku mengamati dari tempat dudukku, kira-kira berjarak empat bangku di belakang tempat duduk penumpang yang tertuduh itu. Mungkin karena pemuda itu menyangkal, lalu pria berjaket itu pun mulai memukulnya.

“Ayo ngaku aja, mana tasnya saya periksa. Saya lihat kamu kok. Kamu sama teman kamu.” Pria berjaket hitam itu menampar pemuda itu, menonjoknya, lalu merenggut tasnya dengan paksa.

Di dalam tasnya itu memang benar ditemukan sebuah dompet hitam yang panjang, persis seperti deskripsi ibu yang menjadi korban. Ibu itu pun berteriak mengiyakan bahwa itulah dompetnya yang hilang.

Lalu pemuda yang membawa tas tadi bersama temannya yang duduk di sebelahnya pun diseret turun dengan paksa oleh kedua polisi tersebut. Sambil turun dari bis, pria yang berjaket hitam masih terus memukul kedua pemuda itu bergantian. Mungkin dia begitu senang menghibur para penonton yang menonton dengan antusias. Saking semangatnya, hingga kondektur bis yang berdiri di dekatnya pun terkena satu jotosan.

Setelah di pinggir jalan, kedua polisi memborgol kedua pemuda itu. Pria yang berjaket hitam masih saja memukul mereka dengan ganas, menendang dan menampar. Para penumpang yang menonton berteriak sambil meringis, “Udah dong…”

Pria berjaket hitam itu lalu naik kembali ke bis dan memanggil sang ibu yang menjadi korban.

“Ibu ikut ya, untuk memberikan keterangan,” katanya.

Ibu itu pun menurut, dia bangkit sambil menggendong seorang anak bayinya dan berjalan turun dari bis diikuti seorang laki-laki yang tampak seperti suaminya.

Setelah itu para penumpang pun diminta duduk kembali pada tempatnya dan tenang kembali.

“Wah, hebat ya. Kok bisa tahu sih ada copet?” tanya gadis manis yang duduk di lajur kanan pada baris yang sama dengan bangkuku.

“Iya ya, aku juga heran.,” kataku.

Kami yang duduk agak di tengah memang tidak tahu-menahu. Apalagi aku yang baru saja naik ke bis.

Bis sudah kembali berjalan dengan normal. Aku melongok kembali ke depan. Tiba-tiba kulihat pria yang berjaket hitam itu. Oh, ternyata dia juga salah seorang kondektur bis. Dia sedang bercerita kepada penumpang-penumpang yang duduk di depan.

“Nyopetnya pada waktu naik, mereka naik bareng-bareng dengan ibu itu, ibu itu enggak sadar. Pas mau bayar ongkos, baru tahu kalau dompetnya sudah hilang. Untung saya lihat, saya diem aja, sampai ketemu polisi patroli, saya lapor,” begitu kira-kira ceritanya.

Hebat juga, gumamku dalam hati.






No comments:

Post a Comment