Google+ Followers

Monday, September 23, 2002


Aku mendengarkan pernikahanku melalui telepon


Aku mengenakan celana jins dan t-shirt. Kuundang beberapa teman dekat dan saudara ke apartemen kecilku di sudut kota Amsterdam. Kusediakan kopi dan teh dan makanan kecil, juga beberapa jenis minuman dingin. Hari ini adalah hari pernikahanku.

Pukul 09.00 pagi di sini. Pukul 15.00 di Jakarta. Telepon sudah kusiapkan di tengah-tengah ruangan. Aku tidak bisa tidur dan tidak bisa makan menunggu saat ini. Sebentar lagi mereka akan meneleponku.

"Ring..ring..ring..." teleponku berdering. Inilah saatnya. Aku menekan speaker phone.

Aku mendengar suara MC membuka acara. Kemudian suara pengajian yang merdu yang telah lama kurindukan mengalun. Mereka sedang mengadakan akad nikahku, dan aku tidak berada di sana.

Aku berdebar-debar menantikan saat calon suamiku membacakan sumpahnya, bahwa dia akan selalu menjagaku, memberi nafkah padaku, dan tidak akan meninggalkanku sendirian dalam waktu lebih dari dua tahun.

Dengan suaranya yang menghanyutkan hatiku, pria yang kucintai itu melafalkan semua yang perlu dilafalkannya. Setelah itu dia menyerahkan mas kawin kepada waliku. Semua berjalan begitu cepat, dan lancar-lancar saja.

Aku menutup telepon. Aku sudah menikah.

Aku menghempaskan diriku pada sofa ruang tamuku yang empuk. Teman-temanku pun memberi selamat dan memelukku. "Selamat menempuh hidup baru."

Aku membayangkan suasana di sana, di kampung halamanku, di rumahku yang teduh. Aku membayangkan mantan pacarku, suamiku kini. Aku membayangkan ayahku, aku membayangkan ibuku. Dan aku pun menitikkan air mata.

Ibuku pasti sedang menangis. Pernikahan anak perempuan satu-satunya adalah puncak kehidupan seorang ibu. Dia akan menelepon semua teman dan saudaranya. Tetapi dia tidak akan mampu bercerita, karena dia hanya bisa menangis.

Putri satu-satunya, pernikahan satu-satunya, terjadi dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Aku mengambil segelas bir. Tiga tahun di Eropa telah mengajariku meneguk minuman keras ini. Perutku terasa mulas. Aku sudah menikah.

No comments:

Post a Comment