Google+ Followers

Monday, September 23, 2002


Wilde


Wilde, film produksi tahun 1996 hasil karya Sutradara Brian Gilbert akhirnya berani mengangkat salah satu sisi kehidupan Oscar Wilde yang jarang diangkat ke permukaan, perilaku homoseksualnya.

Oscar (diperankan oleh Stephen Fry) yang digambarkan sebagai seorang pria yang penuh bakat, penuh gairah, pada masa kejayaannya, menikah dengan Constance Lloyd yang sangat cantik, sepulang dari tur panjangnya di Amerika Serikat dan Kanada.

Pada saat yang sama popularitas Oscar terus menanjak di London, Oscar dan Constance memiliki dua orang putra yang sangat mereka cintai. Tetapi, pernikahan mereka tidaklah hangat, dan hal itu mulai tercium oleh teman-teman dekat Oscar.

Suatu malam, seorang tamu yang menginap di rumah Oscar, Robert Ross, memberanikan diri merayu Oscar dan memaksa penulis kelahiran Irlandia itu mengakui perasaan homoseksual yang dirasakannya sejak usia sekolah.

Sejak itulah, Oscar yang flamboyan mulai memiliki hubungan dengan beberapa pria-pria muda, yang hadir dan memberikan selamat dengan mesra kepadanya setiap selesai pertunjukan-pertunjukan teaternya yang spektakuler.

Hingga suatu malam pada tahun 1892, pada malam pertama pertunjukan hasil karyanya "Lady Windermere's Fan", Oscar diperkenalkan dengan seorang pemuda tampan lulusan Oxford, Lord Alfred Douglas. Putra bangsawan kaya-raya Inggris yang diperankan aktor muda Jude Law ini mempunyai nama panggilan "Bosie".

Perkenalan dengan Bosie yang penuh gairah dan cerdas ini semakin menarik Oscar ke dalam gaya hidup homoseksual yang berapi-api dan membuatnya semakin jarang memberi perhatian kepada istri dan anak-anaknya.

Di tengah-tengah masyarakat anti-homosexual pada era Victoria, dan dengan popularitas Oscar yang terus menanjak, perilaku homoseksual yang ditunjukkan Oscar sangat beresiko menjadi sebuah skandal besar.

Gosip-gosip tentang perilaku Oscar itu sudah mulai terdengar ketika ayah Bosie mengetahui hubungan putranya dengan Oscar. Pria yang jahat dan memiliki kekuasaan di kalangan bangsawan Inggris itu langsung menentang hubungan itu dengan sengit.

Berbagai usaha dilakukan sang ayah, mulai dari mendatangi rumah Oscar, hingga mencapai puncaknya ketika dia mengajukan tuntutan ke pengadilan bahwa Oscar Wilde, penulis drama ternama itu, meracuni pikiran anak muda dengan karya dan perilakunya.

Tibalah saatnya bagi Oscar yang piawai dengan kata-kata, yang membuat anak-anak maupun orang tua terkesima dengan kejeniusannya mengolah kata-kata, untuk membuktikan dirinya menjawab ketakutan dan kepicikan masyarakat di sekitarnya yang diwujudkan dalam pertanyaan-pertanyaan jaksa penuntut di pengadilan.

Tanpa gentar Oscar menghadapi semua itu, dengan tenang dan berani Oscar menjelaskan tentang perasaan yang alami, yang disadarinya memang tidak bisa diterima masyarakat yang sedang menghakiminya.

Oscar pun menerima hukuman penjara dua tahun. Bukan hanya itu, semua hasil karyanya dilarang dan namanya menjadi celaan masyarakat. Bahkan istrinya didorong untuk menceraikannya.

Tetapi istri yang terkasih tidak melakukannya. Dia tetap mengunjungi Oscar di penjara dan membesarkan anaknya dengan nama belakang Oscar. Sang penulis pun merasa bersalah dan semua itu dituangkan dalam dalam karyanya "The Selfish Giant." Dia pun berjanji tidak akan menemui Bosie lagi, asal diperbolehkan menemui kedua putra yang dicintainya.

Namun ketika Oscar keluar dari penjara dua tahun kemudian, Constance telah meninggal dunia dan kedua putranya pun telah diasuh oleh orang lain. Merasa tidak memiliki apa-apa lagi, Oscar memutuskan untuk menemui Bosie kembali.

Pertemuan kedua kekasih itu terjadi di salah satu jalan di London. Akhirnya Oscar mendapatkan apa yang diinginkannya. Tetapi dua tahun di penjara telah menghancurkan kesehatannya secara total. Oscar meninggal dunia tidak lama setelah itu, pada usia 46 tahun.

Film ditutup dengan salah satu kalimat dari Oscar Wilde sendiri.
"In this world there are only two tragedies. One is not getting what one wants, and the other is getting it."




No comments:

Post a Comment