Google+ Followers

Monday, October 14, 2002


Oktober 2002

Suatu hari di pertengahan bulan Oktober. Masih ibu-ibu muda yang sama yang duduk menemaniku membaca di Daily Bread Mal Pondok Indah. Hari masih pagi, terlalu pagi untuk ke kantor. Aku pun masih duduk di tempat yang sama, di salah satu bangku paling depan di bakery cafe itu. Biar matahari pagi menghangatkan kulit tubuhku, dan merangsang otakku yang sedang menyerap bacaanku.

Dua buku tentang masa depan bisnis dotcom ada di atas meja di hadapanku. Satu majalah Asiaweek terbaru di tanganku. Masih bacaan yang sama. Tidak ada yang berbeda meski tidak ada yang akan sama lagi.

Lampu-lampu yang menerangi ruangan cafe kecil itu terasa lebih remang. Kesibukan mal di pagi hari yang cerah itu pun terasa lebih lamban. Bahkan matahari yang menyinari diriku terasa kurang hangat.

Kami telah melewati hari-hari yang sangat menyedihkan. Tak akan pernah terbayangkan sebelumnya, memilih disain batu nisan untuk seorang adik. Mengarang kata-kata untuk dipahatkan di atasnya. Membungkus jasad seorang adik dengan pakaian terbaik, lalu memakamkannya. Seorang adik yang masih amat sangat muda.

Kami telah melewati tiga minggu dengan hati yang hancur. Tiga minggu telah berlalu sejak pencarian yang melelahkan dengan akhir yang amat menyedihkan itu. Tiga minggu telah berlalu sejak ratusan foto sang adik kami sebar dengan penuh harap. Tiga minggu telah berlalu sejak kakak kami membuat laporan di kantor polisi. Tiga minggu telah berlalu sejak para kerabat dan tetangga pun ikut membantu pencarian itu. Tiga minggu telah berlalu sejak kami menunggu di rumah sambil berdoa tanpa henti.

Tiga minggu telah berlalu sejak isak tangis mengharu-biru di ruang rumah duka tempat adik disemayamkan. Tangis yang datang dari orang tua, orang dewasa dan remaja. Tiga minggu telah berlalu sejak teman dari berbagai penjuru datang memenuhi ruang rumah duka yang kecil itu.

Tiga minggu telah berlalu sejak tiada kata yang mampu diucapkan, untuk menghibur hati sang ibu yang terkoyak-koyak.

Tiga minggu telah berlalu sejak beberapa koran lokal dan media online memuat berita kejadian itu dengan judul-judul yang cukup dramatis.

"Dua Hari Tidak Pulang, Siswa SMU Ternyata Tewas Dianiaya."

"Hanya Pamit Pergi Sebentar, Siswa SMU Ditemukan Tewas Mengenaskan."

"Pelajar SMU Jakarta Ditemukan Tewas."

Membaca judulnya saja cukup membuat merinding. Kami tak ingin mengetahui isinya. Beberapa televisi juga meliput kejadian itu. Tak sanggup kami menontonnya.

Kini hari-hari itu telah berlalu. Sejak seminggu yang lalu kami telah kembali ke dunia kami masing-masing. Kembali ke dunia yang sama. Namun tidak ada yang akan sama lagi.

Kini tiada hari berlalu tanpa kenangan akan dirinya. Ke mana pun kami pergi, ingatan akan dirinya terus mengikuti. Dia yang selalu bercanda dan selalu penuh semangat. Dia yang paling muda dan paling disayangi.

Kehadirannya di dunia ini setelah delapan tahun orang tuaku menanti, bagaikan sebuah berkah turun dari langit. Setelah kedatangannya, ayah dan ibuku memutuskan bahwa dialah anak mereka yang paling bungsu. Kami semua memanggilnya "Adek" atau "Dek."

Hingga hari ini, masih sulit dipercaya dia telah tiada. Kami masih terus menunggunya, mengharap kepulangannya, memimpikannya. Berharap suatu hari dia akan pulang, mengenakan seragam SMA dengan rambutnya yang baru saja dipotong sangat pendek, mengetuk pintu, dan memanggil-manggil dengan suaranya yang lirih.

"Hi, Dek."

Adikku. Dia telah kembali. Kami semua memeluknya.

"Kamu baik-baik saja, Dek?"

"Apa yang terjadi, Dek? Kamu ke mana aja, Dek?"

"Kamu mau ke mana sebenarnya Selasa malam itu naik motor?"

Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab hingga sekarang. Akankah kami mengetahui jawabannya?


No comments:

Post a Comment