Google+ Followers

Friday, November 08, 2002


40 Hari

Empat puluh hari telah berlalu setelah kematian adik kami. Kami menggelar sebuah perayaan misa kudus untuknya. Kami mengundang seorang pastor ke rumah kami. Kami mencari pastor dari seluruh Jakarta; karena kebetulan sedang ada konggres para pastor, akhirnya kami mendapat seorang pastor tamu dari Ambon.

Sebuah meja kecil kami lapisi dengan taplak putih bergambar tanda salib merah. Di atasnya kami letakkan dua buah lilin dan sebuah patung salib. Peralatan-peralatan misa kami pinjam dari gereja terdekat, seperti jubah untuk pastor, hosti, dan anggur. Kami mengundang teman-teman dan tetangga untuk menghadiri misa kudus itu.

Kami berdoa untuk adik kami: mendoakan arwahnya, agar dosa-dosanya selama hidup di dunia ini diampuni. Kami juga berdoa untuk diri kami sendiri: orang-orang yang ditinggalkannya, orang-orang yang juga dengan cara ajaib telah diingatkannya.

Hodie mihi, cras tibi. Hari ini aku, besok giliranmu. Setiap orang pasti mati, dan justru karena itulah setiap kematian adalah sebuah pertanyaan yang sangat sunyi.

Kami duduk di sana, memandangi foto adik kami sambil mengenangkan kematiannya. Kini kami dipisahkan oleh jarak yang tak dapat dijabarkan. Sebuah dimensi ruang dan waktu yang tidak kami mengerti. Apakah dia telah hilang begitu saja, ataukah dia berada di sana, di suatu tempat di alam yang lain, seperti yang diceritakan oleh pastor.

Di pentas kematian ini tidak ada ruang bagi seorang agnostik, karena mereka tidak punya jawaban ke mana setelah kehidupan di atas dunia ini berakhir. Setiap agama mempunyai jawaban sendiri-sendiri di atas pentas ini, terpulang kepada kita kemudian untuk meyakini salah satu di antaranya.

Jawaban-jawaban sementara yang ditawarkan itu, setidaknya, memberi kita ketenangan, dan sedikit gambaran, apa yang terjadi pada orang-orang yang kita kasihi, ketika mereka tidak lagi bersama kita di dunia ini.

Jawaban-jawaban yang diberikan itu, setidaknya, memberi kita penghiburan, bahwa kematian orang-orang yang kita kasihi bukanlah suatu kecelakaan yang konyol, bagaimana pun cara kematiannya.

Kematian bukanlah suatu akhir, tetapi adalah sebuah gerbang menuju suatu dunia yang baru---yang dijanjikan; atau merupakan tempat penghakiman.

Lebih nyaman rasanya memiliki jawaban, meski hanya jawaban sementara. Kematian tetaplah misteri.

No comments:

Post a Comment