Google+ Followers

Friday, February 28, 2003


"Lonely in a bad company"

"Lonely in a bad company" adalah judul sebuah lukisan. Lukisan itu memperlihatkan suasana di sebuah perusahaan yang membuat sang pelukis merasa kesepian.

Dalam lukisan itu dia menggunakan banyak warna yang gelap. Oh, bukan gelap. Tapi warna-warna yang berteriak. Seperti seorang yang sedang marah atau kecewa. Gloomy, tetapi penuh emosi.

Terdapat beberapa orang di sana. Orang-orang itu sepertinya adalah karyawan di perusahaan itu. Mereka tiba di kantor sudah siang. Hari sudah panas. Dengan muka yang lesu mereka menyalakan komputer. Lalu ada teman yang menyapa.

Sambil menunggu komputer menyala, mereka pun bercanda. Membicarakan acara akhir pekan, membicarakan teman wanita, membicarakan makanan, dan membicarakan kondisi perusahaan juga. Bila menyinggung yang terakhir nada bicara mereka mulai sinis. Mereka dipenuhi emosi yang mewarnai lukisan itu.

Interaksi mereka terlihat luwes, mereka bergaul dengan luar biasa baik. Tetapi di wajah mereka tidak ada cita-cita. Tidak ada motivasi untuk memberikan yang lebih banyak kepada perusahaan. Yang ada, lebih mirip... kekecewaan.

Mereka orang-orang pintar semua. Lihatlah wajah mereka. Perusahaan penyedia jasa ini adalah perusahaan baru, yang mengajak anak-anak muda berprestasi ini menyumbangkan talentanya.

Para pemimpin yang terlihat dalam lukisan itu juga masih muda. Mereka baru pertama kalinya menjadi pemimpin perusahaan. Mereka belum pernah punya pengalaman mengatur ratusan karyawan. Ratusan karyawan yang masih muda, masih hijau, belum berpengalaman, masih penuh harapan yang muluk-muluk, dan perasaan mereka sensitif.

Dalam lukisan itu terlihat sepertinya para karyawan itu sedang mengalami masalah. Terlihat seolah-olah mereka sedang menyalahkan seseorang. Mungkin bagian Sumber Daya Manusia. Mungkin juga atasan mereka. Mungkin juga rekan mereka. Siapa pun itu, yang jelas mereka bukan menunjuk bagian mereka sendiri.

Lukisan yang berwarna gelap---oh bukan gelap, tapi penuh emosi itu---sangat indah. Indah karena bisa mewakili kesepian sang pelukis. Kesepian itu terasa semakin kuat karena adanya berbagai emosi dan kondisi yang bercampur aduk sehingga membuat sang pelukis kebingungan.

Sayangnya, banyak hal tidak terlukis dalam secarik kertas kanvas itu. Banyak hal, seperti: mengapa mereka begitu marah? Mengapa mereka kecewa? Mengapa mereka tampak begitu tidak termotivasi?

Siapa yang mereka salahkan? Siapa yang harus disalahkan? Para pemimpin juga terlihat bingung. Mungkin mereka menunggu seorang penyelamat.

No comments:

Post a Comment