Google+ Followers

Wednesday, February 05, 2003


Menulis itu Indah

Menulislah apabila kau tak bisa berkata-kata ketika menatap wajahnya. Menulislah apabila perlu waktu untuk mewujudkan pikiranmu dengan kata-kata.

Aku kenal dia belum lama. Baru satu tahun. Mungkin satu tahun tidak cukup untuk suatu komunikasi yang sesungguhnya. Mungkin aku tidak cukup memberinya rasa aman. Mungkin dia memang pendiam dan tertutup. Mungkin dia memang lebih suka menyimpan segalanya untuk dirinya sendiri. Mungkin.

Setiap kali kita hanya tinggal berdua saja dia tidak tahu harus berkata apa; dia hanya menyentuh. Bila aku menghindar dia hanya bisa merasa kesal dalam hati. Dalam dengusan nafasnya yang keras seperti bunyi pintu bis kota yang ditutup kembali. Dalam batuknya yang berdahak kental seperti kopi.

"Kenapa?" tanyaku.

Dia hanya diam. Wajahnya hitam dan pucat seperti mayat. Tak ada rona kehidupan di sana.

Aku menjadi ngeri. Tak ada yang lebih mengerikan daripada teman yang diam. Tak ada yang lebih menakutkan daripada diam yang meledak-ledak.

"Menulislah," kataku. Mungkin dia takut menangis di tengah malam karena kesedihan yang mendalam. Mungkin dia takut berteriak di saat orang-orang terlelap, karena kemarahan yang lama terpendam.

Memendam rasa bagaikan melempar bumerang yang akhirnya kembali pada diri sendiri. Rasa yang tersimpan akan membusuk bagaikan racun yang mendatangkan penyakit.

Menulislah, karena menulis itu indah. Dan sehat.



No comments:

Post a Comment