Google+ Followers

Tuesday, February 25, 2003


Misteri

Entah bagaimana aku membuatmu mengerti, bahwa bahkan bagiku, seorang yang nista menurut pandanganmu, Tuhan itu tetaplah baik.

Seorang teman bertanya, "Apakah kau percaya Tuhan itu baik?" "Ya," kujawab tanpa perlu berpikir. "Kalau begitu, mengapa Dia menciptakan begitu banyak penderitaan?" Pertanyaan yang berat, sekaligus pertanyaan yang bagus. Aku sedang menyetir mobil Timor untuk pertama kalinya. Aku perlu berkonsentrasi pada apa yang sedang kulakukan. Aku tidak menjawab pertanyaan temanku itu. Tapi, sampai di rumah aku terus merenungkannya.

Menurutku, itulah pertanyaan iman yang paling indah. Itulah warna kehidupan. Itulah misteri Tuhan. Setiap orang dilempar ke dunia ini dengan jalan hidup masing-masing, dengan masalah-masalah yang unik. Dalam agama Kristen disebut, bahwa setiap orang memanggul salibnya sendiri-sendiri. Tiba di sini, aku merasakan keindahan misteri itu, dengan kehadiran teman-teman yang mendukung dalam berbagai kondisi hidup yang aku alami.

Adanya perhatian dan kasih sayang dan kepedulian, seringkali baru disadari pada saat-saat kita mengalami masalah. Di situlah kita menyadari indahnya misteri Tuhan.

Pada saat adikku yang masih muda dipanggil oleh Tuhan, banyak orang-orang tua menangis dan bertanya, "Mengapa bukan aku yang dipanggil? Mengapa justru anak semuda ini, yang masih mempunyai harapan akan masa depan yang cerah, yang masih dipenuhi dengan semangat dan kehidupan?" Pastor berkata, inilah misteri hidup itu. Inilah misteri Tuhan.

Apakah kita cukup kuat untuk terus percaya? Apakah kita cukup kuat untuk terus berharap? Karena iman dan harapan, itulah satu-satunya kekuatan kita untuk terus hidup. Siapakah kita? Kita adalah hasil dari sesuatu yang bersifat bawaan dan faktor lingkungan. Bukan pilihan kita terlahir sebagai apa, sebagai siapa, sebagai anak siapa, sebagai suku apa. Bukan sepenuhnya pilihan kita pula terlahir dan besar dalam lingkungan apa.

Sebagian masa hidup kita yang paling krusial ditentukan oleh situasi orang tua dan keluarga kita. Jadi, kita adalah kita. Kita bukan kakak kita yang pintar mencari uang. Kita bukan teman kita yang taat menjalankan ibadah. Kita bukan siapa pun yang mereka katakan. Kita adalah kita, sangat unik.

Itulah juga misteri hidup ini. Apakah kita mampu menerima keadaan kita apa adanya -keadaan apa pun, yang kita hadapi? Dalam keadaan apa pun, apakah kita tetap percaya Tuhan itu baik? Itulah iman.

Aku, sebagai juga kau, mungkin- percaya pencarian diri kita yang sebenarnya, itulah tujuan hidup ini. Aku percaya bila kita mati nanti, kita tidak akan ditanya, mengapa kita tidak menjadi Musa atau siapa pun. Tapi, kita akan ditanya, mengapa kau tidak menjadi dirimu sendiri?

Itulah bagian yang tersulit. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu persis tentang kebenaran yang sebenar-benarnya. Semua masih merupakan misteri kehidupan. Misteri Tuhan. Di situlah iman berperan. Iman yang membuat kita hidup.

No comments:

Post a Comment