Google+ Followers

Wednesday, February 26, 2003


Sang Penjual

Dia tersenyum, membaca doa dalam hati, dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Ketika dia keluar dari ruangan itu, dia seorang pemenang. Wajahnya berseri-seri dan penuh kebanggaan. Setiap presentasi seperti ini adalah pertunjukannya, setiap ruang presentasi adalah panggungnya. Dialah bintangnya.

Orang-orang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Dia selalu memastikan suaranya cukup lantang agar terdengar oleh semua orang dalam ruangan. Dia selalu memastikan ada cukup keyakinan dan kepercayaan diri dalam setiap kalimat yang diucapkannya sehingga tidak mudah meremehkan apa yang dipresentasikannya dan mengalihkan perhatian ke hal lain. Kadang-kadang dia melucu, dan semua yang hadir tertawa.

Hadirin menyukainya. Dia sombong, wajahnya angkuh. Gerakan tubuhnya hampir terlalu percaya diri. Tetapi lihat pandangan matanya; dia begitu tulus. Dia menatap mata setiap hadirin dengan berani, dengan pandangan yang lembut, seolah tidak takut-takut membuka dirinya yang jujur.

Begitulah cara dia menuntaskan tahap pertama dengan baik. Sebelum saat pertunjukan semua telah dipersiapkannya dengan matang, meski itu tidak berarti memerlukan waktu persiapan yang lama. Biasanya hanya beberapa jam; karena semua sudah tersimpan di dalam kepalanya. Beberapa jam dia menuangkan isi kepalanya dalam sebuah alat bantu pertunjukan yang menarik---ini juga keahliannya; melengkapi kemampuannya sebagai seorang performan. Setelah itu, saat yang paling disukainya adalah saat pementasan. Saat dia menjadi bintang.

Tahap kedua dan tahap-tahap seterusnya tidak terlalu menggairahkannya. Biasanya dia menyerahkan kepada bawahannya. Meskipun begitu dia tetap bertanggung jawab kepada orang-orang yang sebelumnya adalah para hadirin yang terpukau olehnya itu dan kini menjadi orang-orang yang membayar kepada perusahaan tempat dia bekerja. Dia tetap memonitor perkembangan pekerjaan; dia selalu ada bila diperlukan dalam rapat dengan orang-orang yang kemudian disebut sebagai klien itu.

Telepon genggamnya tak pernah mati. Di kantor dan di luar kantor dia selalu menerima telepon dari klien. Jam kerja dan di luar jam kerja, dia tetap melayani. Dia tidak hitung-hitungan. Kadang-kadang dia merasa sebal, tetapi tidak pernah ditampakkannya. Di hadapan para klien, dia seorang pelayan yang tulus.

Klien menyukainya. Dia cerdas, selalu memberikan solusi, dan solusinya mengena bagi klien karena dia membuat mereka mengira dia berpikir untuk kepentingan mereka. Dan dia tak pernah menampakkan ada masalah dengan permintaan klien---misalnya masalah biaya---dengan terang-terangan. Dia melakukannya dengan cerdas. Dengan caranya sendiri, dia membuat mereka membayar atas permintaan mereka.

Jalan tidak selalu mudah di tahap kedua. Tetapi dia tidak pernah mengeluh. Dia menganggap semua kesulitan sebagai tantangan yang menyenangkan. Tantangan untuk membuktikan kemampuan dirinya.

Terhadap bawahan, dia sabar. Ketulusannya bukan hanya untuk merebut hati calon klien, tetapi juga merebut hati bawahannya. Dia jarang mengajari mereka, karena banyak hal memang tidak bisa diajarkan. Hal-hal yang hanya bisa diamati, dan dipelajari sendiri.

Bila ada masalah, dia terbuka mendengarkan bawahannya. Dia tidak merasa lebih tinggi dari bawahannya, dia berteman dengan bawahannya, karena itu mereka pun mudah terbuka bila ada masalah dalam pekerjaan.

Kadang-kadang tidak mudah memahami dia, karena dia selalu merasa lebih unggul dan benar. Tetapi dia seorang yang bersedia melanggar aturan demi kebaikan. Dia mendekati bawahan yang bermasalah; bukan langsung menerapkan aturan yang kaku kepada bawahan itu.

Sang Penjual cepat melesat dalam karirnya; dengan mudah dia mencapai posisi puncak. Tidak selalu berarti dia bisa memimpin, tetapi dia bisa menjual. Perusahaan perlu seseorang yang bisa menghasilkan uang.

Dan Sang Penjual tak pernah puas. Suatu hari dia memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat dia bekerja, perusahaan yang selama ini menggajinya dan telah dibesarkan olehnya. Seorang direktur berhenti, dan memilih untuk mencari tantangan baru: tantangan untuk menunjukkan dirinya sebagai pemilik perusahaan.

Dia bercita-cita memiliki dunianya sendiri: dunia yang dikelolanya sendiri, tempat dia bisa mementaskan kepiawaiannya tanpa campur tangan orang lain, tanpa kendala aturan dan tetek bengek administrasi. Sebuah dunia miliknya sendiri.

Tertatih-tatih dia memulai dari awal: mencari kantor, mencari klien, merekrut karyawan, menentukan arah bisnis, menentukan tujuan, menentukan strategi. Semua dilakukan sendiri. Dan semua dinikmatinya. Usaha lebih berarti daripada hasil. Cita-cita lebih mulia daripada pencapaian.

Semoga sukses di dunia yang baru.

No comments:

Post a Comment