Google+ Followers

Wednesday, March 19, 2003


Catatonic Lover

Ray melepaskan sandalnya, dan membiarkan telapak kakinya merasakan pasir nan lembut yang hangat diterpa sinar matahari Bali. "Ayo kita berjalan-jalan," katanya kepada Sinta, istrinya yang sudah tiga tahun dinikahinya. Mereka berdua sedang mengambil cuti beberapa hari dan berlibur di Bali.

Sinta melepaskan sandal jepitnya, mengulurkan tangannya kepada Ray dan membiarkan Ray menggandeng tangannya, dan mereka pun mulai berjalan menyusuri Pantai Kuta.

Meski banyak yang berubah setelah peristiwa bom Bali setahun yang lalu, banyak hal yang masih sama, pikir Ray. Meski pantai ini lebih sepi, matahari Bali tetap bersinar dengan penuh percaya diri; angin tetap semilir menghembus kulit wajah mereka, banyak turis tetap berjemur dengan santai, dan laut tetap biru sebiru langit yang melingkupinya.

Dan Ray, setelah tiga tahun, masihlah bersama Sinta. Bagaikan film yang membosankan, mereka terus kembali ke episode itu. Episode di mana Sinta menjadi catatonic. Bahkan pada saat mereka sedang berlibur.

Sinta adalah seorang dengan suasana hati yang sangat ekstrim. Semalam dia mengajak Ray ke sebuah acara pertunjukan di kota. Di sana dia bertemu beberapa teman lamanya yang kebetulan juga sedang berada di Bali. Sinta senang bukan kepalang. Bagaikan anak kecil yang melompat-lompat setelah dibelikan es krim, seperti itulah Sinta.

Dia sangat kegirangan. Wajahnya selalu berhiaskan senyumnya yang lebar dan memperlihatkan giginya yang putih. Matanya selalu terbelalak penuh perhatian. Tangannya bergerak-gerak bila dia bicara; bukan hanya tangan, tetapi seluruh tubuhnya ikut bergerak. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berbicara, untuk bergembira, untuk menunjukkan kegembiraannya, untuk memberikan kegembiraan kepada orang lain.

"Lu excited banget sih, Sin," komentar salah seorang temannya. Bahkan Ray tidak tahu nama teman itu, karena Sinta lupa mengenalkan mereka.

Begitulah orang-orang mengenal Sinta. Dulu seorang wartawan, sekarang seorang fotografer. Semua mengenalnya sebagai seorang yang lucu, pandai bergaul, senang bergaul, dan selalu penuh semangat. Tetapi mereka semua tidak tahu. Hanya Ray yang tahu, itu hanya salah satu sisi dari dua ekstrim yang saling berlawanan dalam suasana hati Sinta. Hanya Ray, dan beberapa anggota keluarga yang tahu.

Malamnya, seusai acara, ketika mereka tiba di rumah, Sinta mulai kelelahan. Bila dia lelah, dia menjadi mudah marah. Sedikit saja salah Ray, dia akan memulai episode yang disebut Ray sebagai catatonic itu.

Baru saja dia luar biasa semangat; kini dia luar biasa diam. Bahkan Ray tidak bisa mengajaknya berkomunikasi. Bagaimana mau berkomunikasi, setiap perkataan dijawabnya dengan malas. Seringkali dia tidak menjawab. Atau dia hanya mencibir. Kalau dia kesal, dia malah menjadi autis. Seolah tidak mendengar sama sekali.

Bukan hanya tidak ingin berbicara, dia bahkan tidak ingin bergerak sama sekali. Bila dia marah, dia menjadi catatonic. Dia bisa duduk diam dalam posisi yang sama selama beberapa jam. Tidak bergerak sama sekali. Paling-paling hanya ibu jari kakinya yang bergeser sedikit.

Marah? Mengapa dia begitu marah? Ray tidak mengerti, seolah dia bukan hanya marah pada Ray saja.

Itulah bagian yang paling sulit diterima Ray selama tiga tahun ini. Itulah bagian yang paling menyiksa Ray selama ini. Dia merasa ditinggalkan. Dalam kedua kasus, dia ditinggalkan. Ketika Sinta semangat, dia ditinggalkan. Ketika Sinta terdiam, dia lebih ditinggalkan lagi.

Dan episode itu selalu berulang. Setelah puas memainkan episode catatonic yang tidak bisa diganggu gugat itu, Sinta biasanya menormal sendiri. Kadang-kadang Ray yang mendekatinya, merayunya, menyelesaikan semua masalah dan memecahkan kebekuan di atas ranjang.

Lalu mereka akan kembali seperti semula. Bergembira seperti siang ini. Berjalan bergandengan tangan menikmati kebersamaan mereka. Menikmati persahabatan mereka yang sudah berlangsung selama sepuluh tahun.

"Menikahlah denganku," kata Ray tiba-tiba, tanpa pikir panjang sebelumnya, suatu malam ketika mereka sedang makan berdua di restoran. Ray dan Sinta sudah lama bersahabat, tetapi baru pada malam itu tiba-tiba gagasan untuk menikah muncul.

"Menikah denganmu? Kau gila!" bentak Sinta pada waktu itu. Tetapi satu bulan setelahnya, Sinta mendapati dirinya mengucapkan janji pernikahan di hadapan altar gereja, bersama Ray.

Ray. Pintar, tidak terlalu tampan. Sudah lima kali berganti pasangan. Sinta. Pintar, tidak terlalu cantik. Tiga mantan pacar.

Ray tidak mencintai Sinta. Sinta tidak mencintai Ray. Tetapi usia mereka sudah 32 tahun. Semua mantan pacar mereka sudah menikah. Mereka tidak tahu siapa yang mereka cintai dan siapa yang akan mereka cintai. Mereka sudah bersahabat selama tujuh tahun, saling menyukai, dan mempunyai minat yang sama. Tampaknya begitu logis mereka pun bekerjasama mengatasi kesepian mereka di jagat nan luas ini.

Bukankah hidup ini begitu menyedihkan?

Ray mengambil sebuah batu karang kecil dan melemparkannya ke arah laut. Sinta hanya menyaksikan dengan sedih. Lalu mereka berjalan lagi. Bergandengan tangan.

Di belakang mereka ada masa lalu masing-masing. Ada saat ketika mereka jatuh cinta, ada saat ketika mereka patah hati. Ada saat ketika mereka menang, ada saat ketika mereka kalah. Ada saat ketika mereka tersenyum-senyum sendiri ketika bangun tidur, ada saat ketika mereka bahkan tidak ingin meninggalkan tempat tidur mereka.

Kini semua itu mereka tinggalkan di belakang mereka. Bahkan jejak mereka pun hilang disapu ombak. Tidak ada gunanya menyesali cita-cita yang tidak tercapai; cinta yang tidak teraih. Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah dilakukan dan apa yang tidak dilakukan. Ray memiliki Sinta. Sinta memiliki Ray. Dunia ini tidak sempurna. Tetapi mereka tidak sendiri.

No comments:

Post a Comment