Google+ Followers

Thursday, April 03, 2003


Guru

Dia sudah bisa menjadi seorang guru. Usianya empat puluh tahun. Pengalamannya sudah cukup banyak. Suatu hari aku akan duduk di posisinya, di sebuah cafe, bersama dua rekan kerja yang masih muda dan mempunyai semangat belajar tinggi.

Cara dia mengajar dapat dibagi menjadi dua kategori besar. Kategori pertama adalah teori dan diskusi. Kategori kedua---sebanyak delapan puluh persen dari waktu belajar---adalah praktek.

Berbeda dengan metode pengajaran pada umumnya, dia memberikan teori setelah praktek. Jadi praktek dulu, baru teori. Bukan teori dulu, baru praktek.

Pada saat praktek dia memberikan contoh. Contoh akan apa? Murid-murid mengamati sambil bekerja, tetapi mereka tidak terlalu mengerti apa yang sedang diajarkan gurunya.

Pada sesi akhir masa praktek, murid-murid dibiarkan belajar (bekerja) sendiri. Tanpa guru. Tanpa seorang pemimpin yang selalu bisa diandalkan. Tanpa contoh. Tanpa penuntun bila mereka mulai kebingungan.

Dalam masa itu, pelan-pelan satu demi satu murid-muridnya mulai melihat satu demi satu pelajaran yang selama ini diajarkan gurunya. Mereka diharapkan untuk menuliskan apa yang telah mereka pelajari selama ini dan kemudian mencocokkannya serta mendiskusikannya dalam sesi teori dan diskusi.

Sesi teori dan diskusi dilakukan di tempat-tempat yang nyaman seperti di cafe ini, dengan hanya masing-masing dua murid. Dia akan menceritakan bab demi bab pelajaran yang penting untuk berhasil dalam karir maupun hidup.

Bab pertama mengenai melihat sesuatu justru setelah sesuatu tersebut tidak di hadapan kita.

Bab kedua mengenai bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Pemimipin yang baik adalah pemimpin yang memberi contoh, dengan perbuatan, bukan kata-kata. Pemimpin yang baik tidak menghakimi bawahannya, tetapi melihat potensi bawahannya dan membantunya untuk maju. Pemimpin yang baik memberikan arahan; ke mana tujuan sebuah institusi yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik mendengarkan bawahannya, membantu memecahkan kesulitan yang dihadapi bawahannya.

Pemimpin yang baik mungkin juga harus bisa tetap optimis meski lingkungan sekitarnya pesimis. Karena dia adalah motivator. Dia adalah kekuatan, tempat semua bersandar.

Bab ketiga mengenai bagaimana mengelola emosi. Mengelola emosi penting dalam berbagai situasi, tetapi terutama dalam pekerjaan. Untuk tetap profesional lupakanlah masalah emosi pada jam kerja. Bukan untuk menjadi tidak punya emosi sama sekali, tetapi bagaimana supaya masalah emosional tidak menurunkan kualitas pekerjaan kita.

Bab keempat: tetap hargailah dirimu meski tidak ada yang menghargai dirimu. Bila kau bekerja dengan baik, maka kau pantas dihargai. Tetapi keadaan tidak selalu begitu. Terkadang kondisi perusahaan begitu buruk sehingga perusahaan tidak bisa menghargaimu dengan pantas. Gaji yang kecil. Gaji yang terlambat dibayarkan. Tidak ada penghargaan dari rekan kerja dan atasan. Tetapi kau tetap menghargai dirimu, karena kau pantas dihargai.

Kau bekerja dengan baik: Kau melayani klien dengan sepenuh hati, tidak ada klienmu yang mengeluh. Kau mendapatkan klien untuk perusahaanmu. Kau menjalankan kewajibanmu terhadap perusahaan. Kau selalu menjaga nama baik perusahaan. Bahkan pada saat kondisi perusahaan sedang buruk. Kau pantas dihargai.

Bila penghargaan itu belum datang, tak usah mengeluh. Tak perlu sinis. Tak perlu menyindir di belakang. Tak perlu emosi. Memang tidak mudah. Tetapi semua itu kelak akan membuahkan hasil.

Bab kelima, intinya kita tidak perlu menjelek-jelekkan orang lain untuk merasa bahwa kita baik. Hanya orang yang tidak percaya diri yang suka menjelek-jelekkan orang lain.

Bab keenam, tentang membaca pasar yang tidak terbaca. Pasar yang sesungguhnya tidak bisa dibaca di koran-koran, tidak bisa didengar dari obrolan dengan teman-teman yang pesimis. Pasar selalu ada untuk seorang marketer yang tangguh.

Teori dan diskusi hari ini hanya sampai enam bab. Enam bab sudah banyak sekali untuk dihafalkan. Aku tertegun.

Aku selalu menantang guru dengan berbagai pertanyaan. Semua pertanyaanku seolah begitu tak berarti, karena dia selalu punya jawaban yang baik.

Aku jadi takut dengan kekagumanku padanya. Aku takut akan menjadi seperti dia. Murid yang bodoh adalah murid yang melakukan persis seperti yang dilakukan gurunya.

Aku---untuk tidak mengatakan akan melakukan yang lebih dari yang dia lakukan---akan melakukan sesuatu yang khas diriku. Aku memetik semua pelajaran yang baik darinya, termasuk belajar dari kesalahannya, dan mempraktekkan pelajaran itu sesuai dengan kelebihan dan kekuranganku sendiri.

Bagaimanapun, menyadari kekuatan dan kelemahan diri sendiri adalah kekuatan yang luar biasa.


No comments:

Post a Comment