Google+ Followers

Thursday, May 01, 2003


Hujan

Hujan selalu lebih deras di tempat Reni. Atap seng disambung dengan plastik di ujung-ujungnya memberi efek suara menggelegar yang menakutkan setiap hujan turun. Reni mendekap bantalnya makin erat, sendirian di kamar kosnya---kamar paling ujung di lantai dua sebuah kos-kosan untuk karyawan/karyawati.

Hari sudah siang. Sebuah jam beker kecil di atas meja kecil di kamar Reni menunjukkan pukul sepuluh kurang lima. Suara dari tetangga-tetangga kamar Reni pun mulai gaduh. Hari Sabtu pagi di kos biasanya keramaian berpusat di kamar mandi. Anak-anak kos menggunakan hari libur ini untuk mencuci pakaian mereka.

Suara percakapan mereka cukup jelas terdengar; hanya tersamar oleh suara hujan. Dinding-dinding ini sangat tipis, pikir Reni. Kemungkinan hanya tripleks yang dibungkus semen tipis. Dan cat tipis. Suara air mengalir dari kamar mandi pun sampai ke telinga Reni.

Hari Sabtu ini telah mulai sejak tadi. Tapi tetap saja Reni enggan beranjak. Dia menyalakan radio untuk menyamarkan suara-suara yang lain. Tetapi ternyata suara hujan tetap tak terkalahkan. Semakin lama semakin deras. Semakin lama semakin dingin. Reni memeluk bantalnya makin erat.

When you love some one
you'll do anything
you'll do all the crazy things
that you can't explain...


Sayup-sayup terdengar suara Bryan Adams dari radio, diiringi musik lembut yang sangat bergaya Skotlandia. Reni langsung menambah volumenya. When you love someone, lagu ini menjelaskan perasaan Reni kepada Mike, pria yang dikenalnya sejak satu tahun yang lalu. Tiba-tiba saja Reni menitikkan air mata.

Reni yang dikenal selalu bercanda dan menghibur teman-temannya. Reni yang tak pernah menangis---atau sendirian dan merasa sendu di kamarnya seperti ini. Reni yang itu, kini menitikkan air mata sendirian. Tak ada yang tahu.

Kemarin adalah hari yang paling menyedihkan yang tercatat dalam sejarah hidup Reni yang ceria itu. Kesedihan itu terasa semakin sedih pagi ini. Di tengah-tengah hujan begini. Dengan lagu ini...

Masih sangat jelas wajah Mike dalam bayangan Reni seolah Mike benar-benar ada di hadapannya. Wajah yang lembut itu tampak begitu sedih ketika selesai memeluk tubuh kecil Reni di bandara kemarin siang. Mike harus pergi---tanpa alasan yang cukup logis---dia harus pergi, meninggalkan Reni, meninggalkan Jakarta. Entah sampai kapan.

Meski lengan Mike sudah terlepas dari tubuh Reni, kedua pasang mata mereka seolah tak bisa lepas. Tatapan mata Mike mengikat erat mata Reni yang basah oleh air mata. Mereka sudah membahas perpisahan ini malam sebelumnya. Tetapi rasanya pembahasan itu seolah tak pernah cukup. Pertengkaran yang tak ada habis-habisnya. Mereka memang harus melakukan ini. Berpisah.

Emosi Reni meluap-luap tak bisa dibendung. Tak bisa pula dia menahan kekasihnya yang harus pergi. Ingin dia berteriak, "Aku benar-benar mencintaimu" tapi dia tak tahu apakah ada gunanya lagi. Dan kata-kata itu terasa terlalu dahsyat untuk diucapkan dalam bahasa Indonesia.

"I love you," katanya hampir tak terdengar.

Mike menciumnya.

"I love you even more," kata Mike. "Karena itulah aku harus pergi."

Mereka berpelukan lagi, dan dengan berat Mike memutar badannya dan mulai berjalan meninggalkan Reni yang masih terpaku, kebingungan mencerna kata-kata Mike yang terakhir. Dia menatap punggung Mike yang semakin lama semakin kecil, dan lama-lama hilang. Hilang entah sampai kapan.

Kini bagaimana Reni harus hidup dengan bayangan itu, dengan kata-kata yang masih tak dimengertinya itu. Dengan hujan yang dingin dan menakutkan ini. Dan lagu ini...


No comments:

Post a Comment