Google+ Followers

Thursday, August 07, 2003



Beberapa jam setelah Bom Mariott

Tak terasa udah pukul 16.16 pas aku melirik arloji di tanganku. Sudah tiga jam lebih dari saat aku mendengar suara ledakan itu. Mengapa aku masih gemetaran ya? Ini teh manisku yang kedua. Agak membuatku tenang, tapi, seperti kata Aldie, emangnya teh manis anti bom?

Sekitar pukul 12.15 kami meninggalkan kantor Indocement di Sudirman, lalu menuju Graha XL di Mega Kuningan untuk mengantar mas Happy yang akan meeting di sana pukul 13.30. Kami memutuskan untuk makan siang di kantin Graha XL. Ketika ingin membelok masuk ke areal Mega Kuningan, Apey, sang sopir memilih untuk membelok di pintu gerbang Mega Kuningan (lewat kedutaan RRC) dan tidak mengambil belokan pertama setelah putaran dan melewati JW Mariott. Kita sempat bertanya, kok tidak mengambil belokan pertama saja? Tetapi pertanyaan itu tidak dijawab, karena toh sama saja.

Setelah tiba di kantin Graha XL itu, kami baru akan memesan makanan. Apey sedang memarkir mobil, aku tidak tahu di mana dia memarkir. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara seperti ledakan yang keras sekali. Aku tidak tahu suara apa itu. Keras sekali. Dan lantai pun berguncang. Orang-orang di dalam kantin itu langsung bilang "Keluar." Aku pun ikut berlarian keluar gedung itu.

Gedung Graha XL terletak di belakang hotel JW Marriott. Dari belakang aku hanya melihat asap mengepul dari atas hotel bintang lima itu. Aku pikir tidak apa-apa karena dari belakang hotel itu masih utuh. Tiba-tiba Apey berlarian datang menghampiri kami di depan kantin dan menceritakan apa yang baru saja dilihatnya dari depan. Aku dan Avi pun berlari ke arah depan hotel itu.

Sedikit demi sedikit mulai terlihat kehancuran gedung itu sambil aku semakin mendekat. Begitu melihat dari depan aku langsung mengutuk, "Anjing." Sepertinya aku tidak pernah menggunakan kata-kata itu sebelumnya. Rasanya marah sekali. Gedung itu hancur sangat parah. Kalian bisa melihat di TV. Kaca jendela plaza Mutiara di sebelah Mariott hancur semua sampai ke lantai atas. Jw Mariott juga kaca pecah hingga lantai atas. Beberapa kaca juga pecah di Menara Rajawali sebelahnya. Kami hanya bilang, sayang gak bawa kamera.

Pada saat itu aku langsung mengajak mereka menjauh dari JW Mariott dan menuju lapangan kosong di depannya. Yang aku pikirkan hanya, aku belum ingin mati. Aku khawatir akan ada ledakan susulan. Setelah itu memang orang-orang dihalau menjauh dari tempat kejadian, dan police line pun dipasang. Di jalan di sekitar kami berdiri bisa dilihat darah berceceran. Masih ada beberapa orang yang lewat terlihat luka-luka atau ada tetesan darah di baju mereka. Korban yang luka parah sudah diangkut dengan beberapa mobil kijang yang lewat tadi. Untung aku tidak melihatnya. Aku tidak ingin mendekat. Khawatir tidak bisa tidur nanti malam. Mengerikan.

Mas Happy yang pada waktu itu langsung menghubungi Redaksi Detikcom. Alhasil dia pun harus selalu berada di dekat lokasi kejadian dan memberikan laporan ekslusif. Aku duduk dengan Avi di atas lapangan rumput (lapangan parkir di depan hotel Mariott). Kami mengobrol tentang bom, dan beberapa kali menelepon beberapa teman.

Tidak setiap hari bisa menyaksikan suatu peristiwa bersejarah dari jarak dekat. Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Senang karena aku selamat. Kini pertanyaan mengapa kita tidak mengambil belokan pertama tadi sudah terjawab. Senang karena aku begitu dekat dengan lokasi kejadian, tetapi aku selamat, dan boleh melanjutkan kehidupan seperti semula. Sedih, karena ini peristiwa yang mengerikan. Aku tidak tahu bagaimana akan tidur malam ini. Aku hanya perlu pelukan.


No comments:

Post a Comment