Google+ Followers

Friday, June 23, 2006

Tensimeter




Saya membeli sebuah alat pengukur tensi darah (tensimeter?) produksi Taiwan untuk dihadiahkan kepada orang tua. Katanya, alat ini cukup populer di negara-negara maju. Hampir semua rumah tangga memilikinya, minimal satu. Ada yang punya dua dalam satu rumah, karena alat itu menjadi alat yang cukup populer sebagai hadiah, terutama hadiah kepada orang tua dan kerabat yang sudah berusia senja. Karena itu, ada yang sudah membeli dan kemudian dihadiahkan oleh kerabat, sehingga di dalam satu rumah tidak hanya memiliki satu.

Yang dijual di toko-toko pun banyak jenisnya. Tidak seperti di Indonesia, hanya ada beberapa produsen, katanya, di negara-negara maju alat yang beredar di pasaran mencapai 20 jenis, dari Taiwan, Jepang, Jerman, Amerika dan Cina. Sementara penjualan di Indonesia masih sangat kecil, mungkin karena kesadaran akan kebutuhan alat pengukur seperti ini masih rendah.

Apakah penting untuk bisa mengukur tensi darah setiap saat di rumah? Mungkin buat orang tua perlu, jadi bisa memonitor apakah tensi masih normal atau tidak, sebab untuk orang tua lebih mudah tensi menjadi tinggi. Ikut-ikutan trend di negara maju, aku juga membeli seperangkat buat orangtuaku. Di negara maju, di rumah-rumah tersedia alat pengukur tensi darah, glukosa, dan yang pasti termometer badan. Hmm.

Kita mungkin membayangkan produsen alat ini adalah sebuah perusahaan besar, dengan pabrik yang besar dan ratusan karyawan. Tidak. Di Taiwan, alat seperti ini diproduksi oleh perusahaan kecil, yang hanya mempunyai 5 orang karyawan. Dua orang sales, satu di dalam dan satu di luar negeri, dua orang assembly dan satu orang quality control.


Produksi mereka tidak sedikit. Bisa mencapai 1000 pieces dalam satu bulan. Nah bagaimana caranya? Inilah kekuatan industri UKM yang membuat ekonomi Taiwan demikian maju. Jangan membayangkan satu pabrik besar untuk memproduksi suatu alat elektronik. Di Indonesia mungkin yang bisa bikin pabrik hanya orang-orang kaya banget dan orang-orang yang punya koneksi, harus ada bekingan dan lain-lain.

Siapa sangka, bos perusahaan produsen alat tensi meter ini, masih seorang yang santai dan setiap hari menjemput istrinya dan menjemput anaknya dari sekolah. Karyawannya tidak banyak, dia hanya memproduksi tensimeter. Caranya, masing-masing komponen alat itu sudah ada orang lain yang mengerjakan. Ada perusahaan yang membuat spare-part, ada yang membuat casing, dll, sehingga tiba di perusahaan yang mempunyai brand, hanya tinggal assembly. Dan bila ada pesanan yang luar biasa banyak, perusahaan ini bisa outsource untuk assembly. Waw, keren juga ya. Sehingga perusahaan kecil, perusahaan baru, tidak perlu mempunyai modal yang luar biasa besar, sudah bisa mulai memproduksi.

Makanya jangan heran kalau di Taiwan itu banyak perusahaan yang hanya terdiri dari satu dua orang. Tetapi jangan heran bila mereka sudah menjual ke mana-mana, dan semua tenaga kerja di sana sangat efektif. Boleh dibilang di mana-mana tidak ada yang tidak perlu, tidak ada tenaga kerja berlebihan seperti di Indonesia. Di Jakarta
kalau kita ke mall dan dept store akan terasa sekali banyak sekali karyawan, yang bagi kita adalah pemandangan yang biasa.

6 comments:

  1. Memang paradikma berpikir kita sering kali meremehkan hal yang penting dan mengkerdilkan hal yang besar........

    ReplyDelete
  2. ayo mei cepet bikin. biar tidak jadi orang gajian mulu. :)

    ReplyDelete
  3. elly.s5:45 AM

    orang Indonesia barangkali patut diberi julukan'Orang paling ribet sedunia" ya

    ReplyDelete
  4. yah ... endonesa .... :(

    ReplyDelete
  5. Biaraja4:54 PM

    Hai mei, ini pertamakalinya gua masuk blog, dan itupun tidak sengaja. Gua lagi serching tensimeter digital eh...tau-taunya nyasar ke blog lu mei. Maaf ya mei. Tapi setelah gua baca artikel lu ternyata menarik juga, ide yang bagus tuh. Mendingan lu juga bikin mei biar gua ga pusing nyari-nyari tensimeter digital yang susahnya gokil banget. Tau ga mei, gua sampai hampir mampus kecapaian, tujuannya sih buat mama gua, eh....gara2 kecapaian ini, gua jadi sakit. Sedih juga yah...
    eh mei mei udah dulu yah, gua udah cape nih. Besok lagilah gua ngobrol-ngobrol lagi, jangan bosen ya mei..spada....

    ReplyDelete
  6. Hai Biaraja, wah seru sekali ceritamu. Mudah-mudahan aku bisa bikin perusahaan kecil seperti itu juga. Amin...

    ReplyDelete