Google+ Followers

Monday, October 30, 2006

Belinyu 2006 - Still Have Nothing to Show

Hari Lebaran yang manis di kota Belinyu. Turunlah hujan deras setelah kemarau panjang yang membuat sumur-sumur kering. Hujan itu disambut dengan suka cita meskipun kami tidak bisa ke mana-mana.

Aku duduk menyeruput kopi lokal yang wangi. Kupandangi hujan hingga merintik sambil mengenang masa kecil. Inilah rumah tempatku lahir 30 tahun yang lalu. Di kamarku yang dulu masih tergantung sebuah gambar Yesus memerintahkan beberapa orang mengisi guci dengan air dan kemudian Yesus mengubahnya menjadi anggur dalam sebuah pesta.
Semua masih sama namun semua juga sudah berbeda.

Ketika hujan reda ada pemandangan baru di depan rumahku. Lembaran-lembaran uang bersayap berwarna hitam beterbangan di depan hotel-hotel dengan lubang-lubang kecil yang dikenal dengan nama Hotel Walet.
Hotel-hotel seperti itu bertebaran. Rumahku sempat dibikin menjadi hotel, namun karena dollar-dollar bersayap itu enggan singgah, lalu dibongkar lagi. Rumahku dikelilingi gedung-gedung tinggi berlubang bagaikan benteng di jaman perang; yang mengambil sinar matahari kami.

Tak heran semua sayuran mahal. Tak ada lagi yang mau menanam. Tak ada tanah yang bisa ditanami.

Bumi yang sedang kududuki bagaikan nenek tua penuh koreng di seluruh wajahnya. Di masa lalu dia adalah gadis cantik yang menjadi incaran semua orang. Bukan saja karena kecantikannya, tetapi karena dia mewarisi harta yang luar biasa dari orangtuanya. Para pemuda itu hanya peduli pada hartanya. Mereka mengurasnya dengan tanpa ampun. Hingga, sekarang, gadis itu sudah tua dan hartanya hampir habis. Para pria pergi begitu saja, meninggalkan lubang-lubang besar yang buruk rupa.

Tanya saja kepada siapa pun yang tinggal di Pulau Timah ini. Setiap orang bisa menceritakan padamu tentang pasir-pasir hitam mengilat yang mengubah hidup banyak orang itu. Ada cerita tentang orang-orang kaya baru, ada pula cerita tentang kegagalan bertubi-tubi. Beratus-ratus juta yang hangus. Bahkan ada juga cerita tentang kematian-kematian.

Rumah-rumah baru didirikan, mobil-mobil mewah, motor baru berseliweran, seakan bercerita sendiri, bahwa sesuatu telah terjadi di sini. Sesuatu telah berubah.

Aku masih memikirkan tentang pantai-pantai yang eksotis. Makanan-makanan yang enak. Liburan ini sungguh sangat mengasyikkan bila tanpa sisipan-sisipan rohani. Wejangan-wejangan tentang sudah waktunya. Cerita-cerita tentang siapa yang sudah dan siapa yang belum. Adik-adik yang sudah mendahului.
Beban untuk menjadi sesuatu dan menunjukkan sesuatu.
Teman-teman seusia yang sudah berhasil.
Segala hal tentang kota ini mudah membuatmu merasa tua.

Aku pun bangkit dari lamunan. Buat apa membebankan diri dalam liburan. Aku akan menikmati hari-hariku. Aku akan bergerak. Aku akan terbang. Aku akan terus merantau. Aku tidak ingin tinggal di kota yang membuatku merasa tua.

3 comments:

  1. tulisan yang indah.

    ReplyDelete
  2. Anonymous3:43 PM

    COOL! VNS

    ReplyDelete
  3. yuhuwwww keren mei. apalagi dapat pujian dari mumu. dia kan sangat jarang memuji tulisan :)

    ReplyDelete