Google+ Followers

Sunday, October 01, 2006

Lumpur Hutang

Hutang yang besar itu bagaikan mendung tebal yang menggelayuti harinya di mana pun dia berada. Bagaikan kabut yang tak kunjung pergi meski hari telah siang.
Bagaikan lumpur Lapindo yang terus menyembur, memberatkan langkahnya.

Tidak ada orang yang dihutangi sebesar itu yang akan membiarkanmu hidup tenang.
Dia dihujani SMS dan telepon penagihan dan maki-makian, dan ancaman.
Dia diteror.

Hutang telah mengambil darinya udara yang bersih dan kebebasan untuk menghirupnya. Hutang telah membawa pergi matahari yang membuat harinya ceria dan yang
memberinya kekuatan.

Dia menjadi takut-takut. Tidak percaya diri.Lalu melarikan diri ke hal lain. Ke awang-awang. Matanya tidak lagi mengarah pada setumpuk masalah yang di depan mata. Tapi dia menoleh ke arah lain, ke arah tumpukan mutiara di seberang lautan, di negara yang lain, di alam yang lain. Dia hanya duduk diam mengharapkan turun hujan emas di atasnya.

Hutang yang besar itu bagaikan sesak napas yang terus melilit. Hutang yang besar itu mengajarinya untuk berhati-hati. Hutang yang besar itu telah mengubah dirinya. Kini
dia tahu, hidup tidak selalu berpihak padanya. Hidup tidak selalu mudah dan menuruti kata hatinya.

Ada kalanya kamu harus turun dari singgasana. Ada kalanya, kamu harus menderita.

1 comment:

  1. Aduh, utang memang mengerikan. Saking mengerikannya, Nabi Muhammad mengajari kami doa agar terhindar dari utang, bunyinya:

    Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain.

    ReplyDelete