Google+ Followers

Tuesday, July 24, 2007

Seberapa Pantasnya Kita Digaji?

Suatu malam minggu yagn indah ketika saya sedang menghabiskan waktu yang menyenangkan di salah satu gerai Starbucks di Jakarta Utara sambil mendengarkan live music dari panggung yang dekat dengan gerai tersebut, saya melihat dan mendengar seorang pegawai Starbucks pamitan dengan temannya. "Saya pulang dulu ya. Capek," kata wanita muda itu dengan mimik yang kelihatan benar-benar kelelahan. Rambutnya pun berantakan sehingga kita yang melihat pun percaya bahwa dia benar-benar lelah.

Saya jadi ingat ketika saya bekerja di sebuah cafe di Taipei untuk mengisi waktu dan mencari pengalaman sambil saya studi di sana. Bekerja di restoran dan cafe itu memang sangat melelahkan. Kita harus berdiri sepanjang jam kerja, membersihkan meja, mempersilakan tamu, menghidangkan pesanan, dan pada malam hari ketika toko sudah tutup kita harus membersihkan meja dan lantai, mencuci piring dan lain-lain.

Tetapi saya melihat perbedaan yang sangat signifikan antara bekerja di cafe/resto di sini dengan di negara maju. Pada waktu baru pulang dari Taipei, terasa sekali perbedaan ketika kita masuk mal-mal, ke toko, makan di restoran, di toko buku,
dll. Sangat terasa bahwa di sini itu pegawainya banyak sekali, kalau di mall yang jaga banyak sekali mas-mas dan mbak-mbak-nya ada di segala penjuru dan siap untuk membantu kita. Begitu juga di restoran, tinggal panggil dan banyak bantuan. Di toko buku ada mas-mas atau mbak-mbak yang mondar-mandir dan sering sengaja merapikan buku-buku yang kita baca (biar kita gak enak kali ya...), dan yang terutama di jalan-jalan. Ada saja orang yang kerjaannya hanya berdiri di jalan dan melambai menyuruh kita lewat, atau menjalankan kendaraan lebih cepat. Ataupun di tempat-tempat parkir, banyak bantuan di mana-mana.

Hal tersebut tidak terjadi di negara maju. Mudah untuk membayangkan di negara maju semuanya sudah lebih banyak yang dilakukan oleh mesin. Sehingga penggunaan tenaga
manusia di sana pun jadi semakin sedikit. Sehingga tenaga kerja di sana pun jauh lebih mahal. Atau, tenaga kerja di sana memang sudah mahal karena standar hidup yang lebih tinggi. Sehingga untuk mengurangi cost produksi, maka lebih baik menggunakan mesin. Hal ini bagaikan ayam dan telur, saya tidak tahu tepatnya mana yang duluan.

Yang jelas, suatu hari saya mendapat keluhan dari seorang teman di bidang HR, katanya: "SDM di Indonesia ini paling mahal." Saya sangat kaget. Bukannya standar gaji kita paling kecil apabila dibandingkan negara-negara maju?

Tetapi kata teman saya di bidang HR itu, memang murah SDM Indonesia, tetapi produktivitasnya sangat rendah. Dibanding di negara lain.

Berarti memang benar kalau dilihat dari contoh di atas, untuk sebuah restoran misalnya, teman saya yang lain pernah memberi sebuah perbandingan kasar, kalau di Amerika itu, satu orang bisa mengerjakan pekerjaan 5 orang di sini.

Ketika saya sempat bercerita kepada seorang teman yang lain lagi tentang perbandingan produktivitas dan jumlah pekerja di Indonesia dengan di negara maju, teman saya itu malah mengajukan sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. "Pengusaha kita juga sih, tidak mau mengedukasi."

Iya, benar juga ya.. kalau dipikir-pikir. Pengusaha/Employer bisa meningkatkan mutu produktivitas karyawannya kalau dia mau mengedukasi. Mengapa karyawan Starbucks saya pakai sebagai contoh di atas, karena menurut saya Starbucks cukup berhasil dalam "edukasi" tersebut, dan dia membawa pola-pola dari luar terhadap karyawan. Yaitu: karyawan tidak banyak, tetapi diberi fasilitas yang baik, training dll diperhatikan, dan juga mereka juga dituntut untuk berkontribusi yang sepadan.

Yang menarik di Starbucks adalah pembeli harus mengambil sendiri minumannya. Dengan begini setidaknya satu pekerjaan sudah dikurangi dari si pegawai. Di luar negeri di banyak restoran fast food kita harus membuang sendiri bekas makanan kita. Hal ini sudah menjadi habit di negara maju, tapi sepertinya di Indonesia masih sulit diterapkan.

Sama halnya misalnya dengan yang diterapkan Starbucks di atas. Apakah bisa diterapkan juga di tempat-tempat lain, apa lagi mengingat di Indonesia semua industri harus padat karya?

Kembali lagi, menurut saya edukasi itu memang diperlukan. Sehingga tenaga kerja kita juga bisa bersaing secara global, sehingga perusahaan-perusahaan asing seperti Adidas dan Nike tidak akan hengkang dari kita bila SDM kita produktif dan memberikan kontribusi yang sepadan dengan kompensasi yang didapat.

Bicara soal kompensasi, mengukur seberapa pantasnya kita digaji, itu adalah hal yang sangat menarik. Dan tidak mudah. Itu adalah bagian dari sebuah seni dan cabang dari ilmu HR yang bertajuk Compensation and Benefit. Saat ini di Indonesia sudah ada beberapa pakarnya yang bisa kita sebut Compensation and Benefit Specialist.

Seni Compensation and Benefit ini secara sederhananya adalah mengukur seberapa pantasnya seorang karyawan digaji, sehingga dia bisa bekerja dengan produktif tertinggi, dan organisasi tetap menikmati profit tertinggi yang bisa didapat.

Orang-orang sering mengukur kepantasan gaji itu dari standar yang ada di pasaran. Salary survey kemudian menjadi laku, dan juga kebetulan kami di PortalHR.com banyak mendapat pertanyaan, mengenai: standar gaji untuk posisi-posisi tertentu. Informasi ini dijadikan basis untuk bagian HR untuk menentukan gaji karyawan.

Menurut saya sendiri yang paling penting dalam menghitung gaji yang pantas adalah seberapa besar yang dikontribusikan oleh seorang karyawan. Cara menghitung hal ini juga tidak sederhana. Intinya, ketika kita ingin mengajukan kenaikan gaji, kita harus mengukur dulu, seberapa besar kontribusi kita terhadap profitabilitas perusahaan.

No comments:

Post a Comment