Google+ Followers

Tuesday, September 18, 2007

Berbisnis Sesuai Syariah

Bos saya menjalankan bisnisnya dengan cara syariah. Itu bukan berarti saya harus mengenakan jilbab seperti karyawan-karyawan bank syariah. (Meskipun memang banyak teman-teman wanita di kantor saya yang berjilbab). Dan juga bukan berarti saya harus dihukum cambuk bila ketahuan bermesraan dengan lelaki yang bukan muhrim.

Kalau saya tidak salah, syariah yang dimaksud di sini adalah mengutamakan prinsip-prinsip Islami, seperti keadilan, dan sifat yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri dan merugikan pihak lain. Kalau dalam bisnis, itu berarti tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri sementara membuat pihak lain merugi, entah itu supplier, buyer, vendor, maupun internal (karyawan).

Kalau begini definisinya, berarti berbisnis secara syariah bukan hanya monopoli orang Islam. Banyak pebisnis non-muslim (diam-diam) menerapkan prinsip syariah tanpa mereka sadari. Bersamaan dengan boomingnya ekonomi syariah (produk perbankan syariah, kartu kredit syariah, asuransi syariah) kesadaran untuk berbisnis dengan etika juga terasa semakin tinggi di kancah bisnis nasional maupun internasional. Hal ini ditandai dengan misalnya semakin berkembangnya kegiatan CSR di perusahaan-perusahaan. Para pebisnis semakin menyadari pentingnya etika untuk kelangsungan bisnis.

Contoh lain misalnya Google, raksasa search engine yang mempunyai motto "don't be evil." Para pendiri Google mengatakan motivasi mereka (dalam berbisnis) bukanlah keuntungan semata tetapi untuk membuat dunia ini lebih baik.

Google mempunyai 10 hal yang menjadi filosofinya. Salah satu dari kesepuluh hal itu adalah: You can make money
without doing evil. Uraiannya seperti saya kutip dari URL di atas adalah:

Google is a business. The revenue the company generates is derived from offering its search technology to companies and from the sale of advertising displayed on Google and on other sites across the web. However, you may have never seen an ad on Google. That's because Google does not allow ads to be displayed on our results pages unless they're relevant to the results page on which they're shown. So, only certain searches produce sponsored links above or to the right of the results. Google firmly
believes that ads can provide useful information if, and only if, they are relevant to what you wish to find.

Google has also proven that advertising can be effective without being flashy. Google does not accept pop-up advertising, which interferes with your ability to see the content you've requested. We've found that text ads (AdWords) that are relevant to the person reading them draw much higher clickthrough rates than ads appearing randomly.

Google's maximization group works with advertisers to improve clickthrough rates over the life of a campaign, because high clickthrough rates are an indication that ads are relevant to a user's interests. Any advertiser, no matter how small or how large, can take advantage of this highly targeted medium, whether through our self-service
advertising program that puts ads online within minutes, or with the assistance of a Google advertising representative.

Advertising on Google is always clearly identified as a "Sponsored Link." It is a core value for Google that there be no compromising of the integrity of our results. We never manipulate rankings to put our partners higher in our search results. No one can buy better PageRank. Our users trust Google's objectivity and no short-term gain could ever justify breaching that trust.

Thousands of advertisers use our Google AdWords program to promote their products; we believe AdWords is the largest program of its kind. In addition, thousands of web site managers take advantage of our Google AdSense program to deliver ads relevant to the content on their sites, improving their ability to generate revenue and enhancing
the experience for their users.


Uraian di atas menjelaskan cara Google menghasilkan uang (dari iklan), dengan tetap mengutamakan hasil yang diterima oleh pengguna (hasil search). Secara terbuka Google menunjuk mana yang iklan dan mana yang hasil search. Cara beriklan dan pembayaran iklan semua bisa dibaca di situs webnya. Apa yang harus dibayar konsumen pun fair, karena konsumen hanya membayar sesuai dengan berapa yang klik iklannya.

Karena teman sering berguyon tentang Google "Syariah banget ya dia," maka saya pun mencoba mencari apa sebenarnya yang disebut dengan berbisnis secara syariah itu.

Mengutip Halal Guide Juni 2006:

Al Quran dan Hadist telah memberikan resep tertentu dalam tatakrama demi kebaikan seorang pelaku bisnis. Seorang pelaku bisnis diwajibkan berperilaku dengan etika bisnis sesuai dengan yang dianjurkan oleh Al Quran dan Sunnah yang terangkum dalam 3 (tiga) garis besar, yakni :

1. Murah Hati

2. Motivasi untuk Berbakti

3. Ingat Allah dan Prioritas Utama-Nya

Manifestasi dari sikap-sikap di atas dalam berbisnis, antara lain:

a. Mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan orang lain;

b. Memberikan bantuan yang bebas bea dan menginfakkannya kepada orang yang membutuhkannya;

c. Memberikan dukungan dan kerjasama untuk hal-hal yang baik.

d. Mendahulukan mencari pahala yang besar dan abadi di akhirat ketimbang keuntungan kecil dan terbatas yang ada di dunia;

e. Mendahulukan sesuatu yang secara moral bersih daripada sesuatu yang secara moral kotor, meskipun akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar;

f. Mendahulukan pekerjaan yang halal daripada yang haram;

g. Mendahulukan bisnis yang bermanfaat bagi alam dan lingkungan sekitarnya daripada bisnis yang merusak tatanan yang telah baik.

Selanjutnya dalam artikel lain di situs itu tertulis, kompetensi dan kejujuran adalah dua sifat yang membuat seseorang dianggap sebagai pekerja handalan seperti yang dinyatakan dalam Surah Al Qashash ayat 26. Mengutip Republika Online, untuk menjadi profesional dalam bisnis syariah, setidaknya mengacu pada dua sifat di atas, yaitu
kejujuran dan keahlian.

Apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah, tak perlu kita merasa seram bila mendengar kata-kata syariah. Berbisnis sesuai syariah dengan mudahnya menimbulkan konotasi yang seram-seram seperti hukum cambuk dan lain-lain.

Tak perlu juga kita merasa asing karena banyak mendapati istilah-istilah dalam bahasa Arab yang membuat kita merasa kita bukan target audience. Prinsip-prinsip syariah pada dasarnya adalah prinsip etika dalam berbisnis yang paling mendasar.

Kembali ke perusahaan kami tadi. Bos saya menjalankan bisnisnya secara syariah berarti dia mempertimbangkan hal-hal di atas dan dia akan selalu memberikan keuntungan yang adil bagi karyawan yang telah bekerja keras bersamanya.

*)Berbisnis Sesuai Syariah adalah slogan portal bisnis syariah Niriah.com

No comments:

Post a Comment