Google+ Followers

Tuesday, September 04, 2007

Hari Kereta Nasional (Nah ini baru Backpacking …)



Traveling by train can be very romantic. Aku sering punya gambaran ini dalam benakku: naik kereta yang nyaman dengan jendela yang terbuka lebar-lebar. Memandangi pemandangan sepanjang jalan: desa-desa yang hijau, pegunungan, pantai, sawah, kota-kota kecil, dan orang-orang di sekitar …

Masih ingatkah dulu ketika kau masih kecil, ayah dan ibu membawamu ke Solo atau ke Yogya. Naik kereta malam dan mereka mendekapmu hingga kau tertidur pulas. Ketika pagi tiba kita membuka bekal sarapan bersama-sama...

Itulah bayangan yang ada di benakku ketika kami menyetujui naik kereta 32 jam dari Hanoi ke Ho Chi Minh City alias Saigon. It’s gonna be fun. Kita akan dapat satu kompartemen berenam. Lagipula, perasaan dari kemarin-kemarin, belum berasa backpacking-nya. Nah inilah saatnya kita benar-benar backpacking toh?

Dari Halong Bay kami tiba di Hanoi sekitar pukul 20.30. Perjalanan dengan mobil sangat pelan, karena mereka terlalu mematuhi speed limit. Dengan speed limit 80 km/jam, mereka mengemudikan mobil dengan kecepatan 40-50 km/jam saja. Huh...

Kami sudah keringatan karena keasyikan main di Halong Bay. Pemandangan yang spektakuler membuat kami lupa akan panasnya cuaca. Bajuku sampai basah kuyup. Mungkin yang lain juga mengalami hal yang sama. Yang kami butuhkan adalah mandi.

Namun malam itu, tak ada tempat untuk enam dara ini menumpang mandi. Hotel udah check out, di stasiun kereta gak ada MCK. Di rumah siapa kita boleh menumpang mandi?

Akhirnya, karena tidak ada waktu juga, malam itu kami semua enggak mandi. (Pssssssstttt ... jangan bilang-bilang ya). Malam itu kami harus membeli stok makanan selama di kereta dan juga perjalanan ke stasiun kereta yang kami belum tahu tempatnya. Untunglah di stasiun itu (Ga Ha Noi) ada tempat menitipkan tas. Sehingga, tas yang berat-berat bisa kami tinggalkan sembari pergi berbelanja.

Kami masing-masing membeli air mineral kemasan 1 liter, satu orang membawa satu. Di botol itu ada cantelan buat menenteng, kami berjalan beriringan dengan masing-masing membawa 1 botol air mineral, persis kayak anak TK yang karya wisata.

Pukul 22.00 kami check-in (boarding, tepatnya) ke dalam kereta. Setelah melihat tiket kami, petugas menunjukkan pada kami kereta mana yang harus kami naiki. Ternyata kereta kami tidak secantik/seganteng yang kami harapkan. Kami melihat gambar iklan untuk kereta tersebut adalah kereta kapsul mirip Argo gede. Kok yang di hadapan kami ini seperti KRL Jabotabek?

Setelah naik dan masuk ke dalam gerbong yang sudah ditunjukkan, kami terbengong-bengong sekali lagi. Satu gerbong itu terdiri dari kalau gak salah 5 kabin, setiap kabin terdiri dari 6 tempat tidur, yang disusun tiga. Jadi satu tempat tidur kira-kira hanya tingginya 50 cm, panjang dan lebarnya hanya sepanjang dan selebaran tubuh manusia normal.

”Seperti di kamar mayat nih,” komentar Renny. Ini lebih parah dibanding kereta Bangkok-ChiangMai yang pernah aku tumpangi yang hanya bersusun dua tempat tidurnya. Ini ada level 2 dan level 3. Yang level 3 ini naiknya harus seperti memanjat tebing. Aku gak berani deh. Untunglah ada Jolie dan Elly yang mengalah dan mau tidur di level 3.

Aku hampir menangis ketika melihat kondisi toiletnya. Ya Tuhan, aku belum mandi. Bagaimana bisa ke toilet kalau begini caranya? Bagaimana kalau nanti mau pipis. Aku langsung pucat. 32 jam. Saat itu juga aku merasa ingin pulang. Mommy, i want to go homeeeee ...

Lalu kami mencoba menghibur diri. “Ahhh, katanya mau backpacking. Masa segitu aja langsung pada cengeng.” We have to be strong.

Pertama, tempat tidur itu ternyata bisa dilipat. Sehingga, kita bisa duduk di tempat paling bawah dan membuka meja untuk main kartu, atau makan. Tapi malam itu kami memutuskan untuk langsung tidur karena sudah pada kelelahan. Tempat tidur yang sempit dan selimut yang bau yang sebelumnya membuat kami teriak-teriak, akhirnya berhasil membawa kami terlena juga dalam tidur yang nyenyak. Apalagi ditemani lagu-lagu perjuangan sosialis ...

Keesokan paginya kami terbangun oleh suara orang berjualan. ”Cao...blah blah blah...” (vietnamese). Renny yang paling sigap membuka pintu kamar untuk melihat jualan apakah gerangan. Ternyata jualan bubur. Langsung deh tawar-tawaran lagi dengan bahasa Tarzan.

Tak lama setelah kami membeli bubur, petugas kereta datang membawakan enam bungkus mie instant. Ternyata dapat makan toh kereta ini. Kami tidak tahu sebelumnya. Makanya kemarin sibuk membeli bekal makanan dan minuman.

Pada siang hari juga diantar makanan-makanan box. Makanan di kereta ini sangat buruk, lauknya didominasi oleh pork, baunya didominasi oleh bau rebung. Satu-satunya yang bisa dimakan adalah sup daun katup yang katanya menyehatkan dan memperlancar ASI. Hahahahaha.

Khawatir rasanya kurang, di dalam box makanan itu kami juga mendapat sebungkus tambahan bumbu yang terlihat seperti MSG campur garam. Hiiiiihhh...

Di sinilah bawaan seperti abon sangat berguna. Kalau tidak, kita hanya bisa makan nasi putih dengan daun katup. Selain abon, yang sangat berguna dalam kereta adalah tissue basah dan kartu remi. Tissue basah untuk mandi, dan kartu untuk bermain mengisi waktu.

Begitulah kami mengisi jam demi jam yang berlalu sambil jendela menampilkan pemandangan yang sebagian besar mirip dengan di Indonesia. Kami baru tahu mbak Elly bekas penjudi kelas kakap dari Macau yang tak pernah kalah di meja judi kereta itu. Aturan yang kami terapkan adalah, bagi yang kalah akan dicoret dengan ramuan dari bedak dan air. Satu-satunya yang mukanya bersih malam itu adalah mbak Elly.

Fam dan kamera
Satu lagi kejutan dalam perjalanan yang tidak kami rencanakan sebelumnya adalah seorang pria bernama Fam. Dia adalah petugas di kereta yang sering mendatangi kamar kami. Maklum, kamar ini isinya cewek semua, cantik-cantik lagi. Awalnya dia mengaku masih singel, tapi kami memergoki cincin di jarinya. Akhirnya, dia memamerkan juga foto anaknya yang cute banget.


Dalam perjalanan kami banyak dibantu oleh Fam, karena kebetulan dia cukup bisa berbahasa Inggris. Kalau perlu apa-apa, kami cukup mencari Fam di ruangnya. Di setiap pemberhentian kami bisa menanyakan ini daerah mana, dll. Kami juga mendapatkan info mengenai Ho Chi Minh City dari dia. Dia bahkan membelikan kami es krim, namun kami memutuskan untuk mengembalikan uangnya, karena enggak enak ditraktir. Lalu kami juga meninggalkan sedikit souvenir berupa bubur instant dari Indonesia.

Untuk kesekian kalinya Elly bertemu dengan orang Vietnam yang tertarik pada kameranya. Dia membawa kamera SLR Digital Canon seri terbaru. Mulai dari van, kameranya dilihat dan ditanya-tanyai si Happy Budha. Lalu di tempat pemberhentian bus dalam perjalanan Hanoi-Halong Bay, dia ditanyai oleh petugasnya. Bahkan si petugas itu mau menawar kameranya bila dia mau menjual. Yang terakhir, di kereta, Fam juga meminjam, memegang dan melihat-lihat dengan penuh hasrat. (Jadi bukan hanya gw yang mupeng ama kamera itu).

Ternyata, menurut obrolan Renny dengan petugas di tempat pemberhentian bus, kamera buatan Jepang cukup sulit diperoleh di Vietnam. Pasar mereka didominasi oleh produk China sehingga mereka sangat mengagung-agungkan produk Jepang. Oh.. begitu.

Sekitar pukul 4 sore kereta melewati Da Nang, kami sempat melihat pemandangan pantai dan tebing-tebing yang sangat indah. Sebelum pukul 6 makanan box makan malam sudah diantar. Setelah makan malam kami main kartu. Setelah itu malam datang dan tiba saatnya untuk tidur lagi. Besok pagi pukul 9 kita sudah akan tiba di Saigon.

Tidak seperti dugaan kita, ternyata perjalanan ini wasn’t so bac after all. 32 jam ini sama sekali tidak sulit dilalui. Dengan teman-teman yang rame dan lucu-lucu, waktu terasa sangat cepat berlalu. Aku ingat ketawa-ketawa terus sampai gak kuat. Sampai gw minta tolong deh jangan pada becanda lagi, soalnya gw dah sakit perut... hahahahaah

Padahal gw sudah siap dengan buku bacaan dan juga buku tulis in case gw lonely dan perlu membaca atau menulis. Ternyata keduanya sama sekali tidak terpakai. Kami bertemu seorang bule di hotel di Hanoi yang kaget mendengar kami akan naik kereta 32 jam. ”32 jam? Saya pernah naik kereta dari Beijing ke Shanghai selama 13 jam saja saya tidak tahan. Boring banget,” katanya.

”Maybe you’re bored because you’re alone,” kata Jolie.

Yes. Maybe you’re right, aku dia.

Coming up: Crazy HCMC and the Strong Coffee

No comments:

Post a Comment