Google+ Followers

Tuesday, September 25, 2007

Virtual Business, Real Money?

Kalau Anda bekerja di kantor saya, Anda akan merasakan degup bisnis Virtual yang sangat kencang. Tidak berlebihan jika saya menyebut kami adalah salah satu pemain yang diperhitungkan di bisnis yang kami percaya sebagai bisnis masa depan ini. Sembari di luar sana media sibuk memberitakan politik, kasus korupsi; dan kamar-kamar di Bursa Efek Jakarta sibuk dengan pertambangan dan perbankan sebagai satu-satunya saham yang pantas dibicarakan, di berbagai tempat di Indonesia mulai bermunculan sumbu-sumbu kecil bisnis Virtual yang menyala secara konsisten.

Kami mengamati sumbu-sumbu itu setiap hari. Kami juga adalah salah satu dari sumbu yang semakin hari nyalanya semakin terang dan semakin mudah terlihat di jagat maya yang super luas. Para pemain lain sering datang mengunjungi kami dan sharing informasi. Kami saling mengamati pertumbuhan yang lain. Berbagai ide pun bermunculan. Berbagai perkembangan dilakukan. Setiap hari kami merasakan perubahan. Setiap hari kami merasakan kehidupan. Denyut jantung ”ekonomi kecil” ini sungguh terasa di sini.

Sayangnya, kegairahan itu hanya milik kami. Di luar sulit kami rasakan gaungnya. Suatu hari rekan kerja saya yang lebih junior mempertanyakan hal itu kepada saya. ”Emang segitu hebatnya kah bisnis virtual ini? Kok di luar adem-adem aja?”

Dia tidak salah. Meskipun semua pemain di bisnis ini bermimpi untuk menjadi Google---yang berhasil mengguncang dunia saham dan sahamnya meroket dengan cepat menjadi saham paling hot di Amerika---pada kenyataannya belum ada pemain yang cukup layak untuk diperhitungkan di layar bursa.

Ketika saya iseng bertanya kepada teman yang bekerja sebagai analyst di bursa tentang prospek bila perusahaan kami IPO, dia langsung bertanya, ”Berapa assetmu?”

Meskipun bukan satu-satunya ukuran, asset adalah salah satu cara kita mengukur suatu bisnis. Kegairahan yang disebut bos saya sebagai kebangkitan dotcom kedua itu, belum sampai ke telinga bursa. Bahkan gaungnya pun belum terdengar dari jauh. Karena UUD, ujung-ujungnya duit. Menurut saya, uang yang kita bicarakan dalam bisnis ini, masih kecil. Masih belum berarti. Belum bergaung.

Bandingkan dengan uang yang mengalir dalam pertambangan, perbankan, ekspor-impor, betapa tidak berartinya kita. Sementara saya ”hanya” mengelola portal, adik saya misalnya, mewakili perusahaan tempat dia bekerja untuk mengaudit investasi bosnya di sejumlah kota di China. Nilai uang yang kita bicarakan di sini sungguh berbeda. You know what I mean... (kok jadi curhat colongan :P)

Tapi kami tetap percaya pada sinar-sinar di kejauhan yang semakin hari semakin terang. Kami bisa merasakan pertumbuhan-pertumbuhan kecil setiap hari dan denyut-denyut tadi, yang tidak bisa dirasakan sebuah bisnis yang telah mapan. Setiap hari begitu banyak yang kita pelajari, dan terkadang kita merasa kita duluan tiba sebelum orang-orang lain untuk beberapa skill dan teknologi yang berhubungan dengan IT. Itulah yang membuat kami bertahan dan itulah juga yang dulu membuat saya rela untuk tersesat di bidang ini.

Rekan saya tadi, beberapa hari kemudian bercerita kepada saya yang membuat saya terharu mendengarnya. Usianya masih muda, 25 tahun, dalam persimpangan jalan, dan dia telah dengan yakin memutuskan “I want to be in this field.”
Mulai sekarang dia akan fokus di sini dan belajar sebisanya hingga dia menjadi apa yang telah dicita-citakannya. Dia menceritakan padaku visi masa depannya. Sungguh saya terharu karena tidak banyak orang yang mempunyai visi yang begitu jelas dan juga berani menceritakannya kepada orang lain.

Dia mengalami pertentangan seperti yang saya alami pada waktu seusianya. Untuk orang-orang dengan background IT, terjun ke dunia ini memang sudah layaknya. Tapi bagi kami yang “tersesat” ini, keputusan ini tidak mudah. Jika memang tidak cocok, bagi dia sekaranglah saatnya untuk memutar haluan, sebelum terlambat.

Seperti yang diceritakan rekan saya, banyak pengorbanan yang dia lakukan. Di luar sana, bukan tidak banyak tawaran pekerjaan lain. Bekerja di perusahaan yang mapan dan besar yang tak pernah harus khawatir soal cashflow dan di mana jenjang karir sudah pasti dan tiap tahun pasti ada kenaikan karir. Kami bisa saja bekerja di sana. Seandainya bekerja di sana, mungkin sudah lain jabatan dan penghasilan kami. Tapi sayangnya, jiwa kami tidak di sana.

Saya sudah melewati masa penuh dilema itu. Sekarang saya bersyukur dengan kebangkitan kembali bisnis dotcom. Tanda-tandanya, mungkin di tulisan yang lain. Saya sangat yakin peluang untuk bisnis ini masih sangat, sangat besar. Sekaranglah saatnya untuk kita grab. Banyak orang sudah merasakan peluang ini sehingga siapa cepat dialah yang dapat. Maka percayalah semua “pengorbanan” akan terbayar pada waktunya.

2 comments:

  1. komen yang tadi masuk ga ya?

    ReplyDelete
  2. huweeee....mari pasang kacamata kuda...supaya pandangan matanya tetap ke depan..

    ReplyDelete