Google+ Followers

Friday, December 14, 2007

KPI untuk situs web community

Munculnya beberapa situs web community yang disponsori pemilik brand, sebut saja beberapa misalnya: Yaris www.groovynations.com, Citibank Clear Card Holder www.clearafterhours.com, Sunsilk http://circleofbeauty.net/?show=convidentyou dan nokia.co.id/iac menunjukkan gejala yang agak mengkhawatirkan.

Beberapa contoh web yang saya sebut di atas mempunyai ciri-ciri yang mirip: looks good, cool, keren, nice, dengan penggunaan image dan warna yang bagus-bagus. Tapi setelah itu apa? Tidak ada sesuatu yang ... "errgh" ---apa ya?---sehingga terkesan
perusahaan memiliki web seperti itu hanya sekedar untuk nice to have. Ikut-ikutan trend web 2.0? Atau mereka sebenarnya punya konsep yang jelas hanya saja tidak terlihat?

Daripada sibuk menuduh tanpa bukti, sebaiknya saya menganalisa pencapaian situs-situs tersebut berdasarkan KPI yang jelas. KPI (Key Performance Indicator) yang saya gunakan berikut ini adalah KPI untuk situs web pada umumnya, tetapi berlaku juga
untuk situs web community.



Sebuah situs web yang hidup harus melalui siklus mulai dari Attract (menarik pengunjung untuk datang ke situs web), Engage (pengunjung melakukan sesuatu lebih dari hanya melihat halaman pertama web), Retain (pengunjung datang tidak hanya satu kali, tapi kembali lagi setelah kunjungan pertama), Learn (di mana pemilik/pengelola situs web terus belajar mengenai pengunjungnya seperti content apa saja yang mereka sukai. Dengan begitu situs web akan terus berkembang berdasarkan masukan data-data itu), Relate (suatu tahapan di mana sebuah situs web, biasanya yang sudah sangat lama exist, mempunyai ikatan yang kuat dengan pengunjungnya)

Dilihat dari siklus itu, maka KPI yang saya gunakan adalah:

1. Berapa banyak pengunjung yang masuk ke situs. Ada 3 sumber kunjungan pada sebuah situs web. Satu, direct access atau pengunjung yang mengetik langsung alamat situs web pada browser mereka. Apabila nama situs web sulit diingat, besar kemungkinan pengunjung yang direct ini sudah melakukan bookmark pada browser-nya. Yang kedua, melalui Search Engine. Ketiga, melalui referral dari situs lain. Salah satu contoh yang ketiga ini adalah apabila kita memasang iklan di situs-situs web yang ramai pengunjungnya.

Sebuah situs web baru biasanya harus berpromosi untuk menarik pengunjung. Cara yang paling populer dilakukan adalah memasang iklan (banner) di situs populer seperti Detik.com atau Kompas.com. Padahal, banyak yang tidak tahu, cara ini ternyata tidak
terlalu efektif. Karena sebagian besar traffic ke situs web bersumber dari search engine, maka pemilik/pengelola situs web harus memperhatikan berbagai faktor agar situs webnya mudah ditemukan. Kita juga bisa menilai situs-situs web itu dari sisi
search engine friendliness-nya.

2. Berapa banyak pengunjung yang explore halaman dalam? Berapa prosentasi dari total pengunjung yang tidak berhenti di halaman pertama tetapi masuk lebih dalam. Saya yakin banyak yang tidak tahu, sebagian besar untuk situs-situs web korporat, bounce rate-nya lebih dari 70%. Artinya lebih dari 70% pengunjung setelah melihat halaman pertama langsung menutup situs web.

Itu berarti content halaman pertama tidak membuat pengunjung tertarik untuk mengeksplor lebih jauh. Pengunjung tidak mendapatkan alasan mereka harus klik dan membaca halaman dalam.

3. Berapa banyak halaman/visit --- berapa rata-rata jumlah page yang dilihat pengunjung dalam setiap kali visit.

4. Berapa banyak return visitor --- berapa persen pengunjung yang kembali setelah kunjungan pertama

5. Berapa banyak yang register --- nah ini khusus buat situs web community yang biasanya menyediakan fasilitas atau fitur pendaftaran, berapa persen dari pengunjung yang mendaftar?

6. Berapa banyak komentar/input yang masuk --- bila banyak pengunjung yang meninggalkan komentar, mengirim email ke pengelola situs, atau melakukan misalnya print artikel atau kirim ke teman, itu berarti tingkat interaktivitas dan keterlibatan pengunjung lebih tinggi

7. Tone of input --- ini juga sangat penting dalam situs web community khususnya, karena menunjukkan ikatan (bonding) pengunjung terhadap brand. Tone input yang positif menunjukkan keberhasilan pemilik brand menciptakan persepsi terhadap brand-nya.

Sayangnya, data-data di atas hanya dimiliki oleh pengelola masing-masing situs web. Namun apabila pemilik situs web hanya ingin menghambur-hamburkan uang saja atau hanya ingin punya situs web untuk komunitas pengguna produknya karena perusahaan lain juga punya, maka ada kemungkinan mereka tidak mempunyai data di atas sama sekali.

Bila demikian, sulit bagi kita untuk mengukur keberhasilan sebuah situs web. Lebih canggih lagi, saat ini sudah ada perusahaan yang membandingkan data-data di atas itu dengan rupiah yang dikeluarkan, untuk benar-benar menghitung ROI. Sebelum sampai ke sana, sebaiknya perusahaan mempunyai dulu data-data tersebut untuk mengukur setidaknya pertumbuhan situs web dari waktu ke waktu.

1 comment:

  1. Anonymous1:27 PM

    Mei yang cantik, usul boleh ya.. gimana kalo artikel-artikel kamu ditulis padat, ringkas, dan to the point.

    Maksudnya begini:
    Kalo terlalu panjang and teoritis, bacanya capek dan cepet bosen. bukan berarti gak berguna, tapi orang pasti akan cari informasi sendiri dari web atau google jika ingin tahu lebih banyak tentang topik tertentu.

    Jadi artikel kamu, aku sarankan lebih kepada mengguncang dan bukan mengocok pikiran (maksudnya apa ya?:))

    makin pendek makin baik, tapi bisa membuat orang jadi langsung berpikir: 'wow' benar juga ya, kenapa ga kepikiran.. itu yang asyik. seperti orgasme, sebentar tapi mengguncang hehehe

    venus

    ReplyDelete