Google+ Followers

Sunday, December 23, 2007

Libur yang tidak Gratis

Libur 20-25 Desember ini tidak gratis, karena kita harus membayarnya. Pemerintah menyebut tanggal 21 dan 24 Desember (yang bukan tanggal merah) sebagai cuti bersama dan itu berarti memotong jatah cuti karyawan.

Meskipun saya ikut memutuskan “libur” ini, bukan berarti saya senang sepenuhnya.

Selama tahun 2007, saya cuti total 7 hari. Cuti bersama yang “dipaksakan” pemerintah 9 hari. Jatah cuti satu tahun di perusahaan saya 12 hari. Saya sudah cuti 16 hari dan itu berarti saya punya hutang 4 hari untuk dibayar di tahun 2008. Dengan adanya cuti bersama tahun 2008 sebanyak 8 hari, berarti sisa cuti yang bisa saya ambil sama dengan nol.

Saya pun kaget dan menyesali "libur-libur" selama 2007 itu. Kalau tahu begini mendingan saya gak ikut cuti-cuti bersama itu. Tapi memang kalau semua orang "libur" masa kita mau masuk? Masuk juga tidak ada pekerjaan.

Kalau begini, perusahaan harus memilih, memberikan pilihan kepada karyawan (karena libur ini tidak gratis, karyawan menanggung konsekuensinya dan karena itu berhak memilih sendiri) atau dengan murah hati memberikan libur (tanpa memotong cuti). Karena toh masuk pun tidak ada pekerjaan apabila kantor yang lain libur. Kantor yang bijaksana mungkin akan memilih libur saja daripada beberapa orang saja yang masuk.

Biar bagaimana pun, cuti adalah hak karyawan dan cuti adalah penting. Cuti jangan dibayangkan sebagai karyawan bermalas-malasan saja, tetapi cuti penting untuk mengembalikan semangat bekerja karyawan. Untuk sebagian besar pekerjaan, mustahil rasanya kalau tanpa cuti.

Untuk saya sendiri, sulit bagi saya membayangkan melalui tahun 2008---sepanjang tahun---tanpa cuti.

Karyawan hidup untuk akhir pekan, dan seperti setiap muslim menjadikan Mekkah sebagai impian yang memompa semangat bekerja, seorang yang suka bepergian mengumpulkan uang sepeser demi sepeser untuk mewujudkan kesenangannya itu.

Membayangkan sepanjang tahun tanpa cuti pasti akan meruntuhkan semangat kerja karyawan.

Dan perusahaan pun harus mengambil keputusan yang tegas, dan mempunyai prinsip sehingga keputusan libur atau cuti bersama tidak diambil pada last minute. Kalau "libur" baru diumumkan 2 hari sebelum-nya, sudah pasti kita tidak bisa ke mana-mana, karena semua tiket sudah habis. Seperti sekarang ini, rasanya saya rela masuk daripada tidak bisa cuti di tahun depan. Hiks.

No comments:

Post a Comment