Google+ Followers

Monday, February 18, 2008

Mengapa di Dunia ini Ada Headhunter



Headhunter ada di dunia ini bukan untuk mencarikan pekerjaan kepada orang yang membutuhkan. Headhunter tercipta karena adanya orang-orang seperti Sari, yang sangat berprestasi dalam pekerjaannya, sekaligus juga sangat nyaman sehingga sulit diajak berpindah ke perusahaan lain.

Sari (bukan nama sebenarnya) adalah seorang marketing handal yang telah lama bekerja di sebuah perusahaan kecil, sebut saja PT X. Banyak klien maupun calon klien yang pernah melihat cara kerja Sari ingin merekrut Sari menjadi karyawan mereka. Tetapi Sari tidak berminat. Orang-orang yang menginginkan Sari itu sampai heran, apa yang didapat Sari dari perusahaan kecil itu? Sampai-sampai ada yang curiga, jangan-jangan Sari adalah kekasih si Bos PT X?

Seandainya orang-orang itu punya cukup banyak uang, maka mereka akan menyewa jasa Headhunter. Sesuai dengan namanya, Headhunter adalah para pengincar kepala. Dalam hal ini, pengincar talent.

Ke mana pun seorang Headhunter pergi, dia akan senantiasa awas terhadap adanya talent yang dibutuhkan suatu perusahaan. Mereka akan senang mengumpulkan CV, membaca majalah dan koran untuk senantiasa mencari talent. Apabila Anda kompeten, maka pastikanlah kompetensi Anda itu cukup terlihat (visible), misalnya dengan menulis blog atau bersedia diwawancara media. Dan apabila Anda bahagia dalam pekerjaan Anda, maka siap-siaplah ditelepon Headhunter.

Dalam suatu acara seminar, seorang executive dari perusahaan Headhunter ternama di Indonesia pernah bercerita tentang sulitnya membajak direktur-direktur dari sebuah grup otomotif. "Entah mereka itu dikasih makan apa di sana, ditawarin apa pun enggak mempan," kata executive itu.

Headhunter bekerja dengan cara mencari tahu tentang latar belakang seorang talent yang diinginkan. Apa yang disukai dan apa yang tidak diberikan perusahaan saat ini menjadi kuncinya. Apakah si talent menginginkan uang, maka tawarannya adalah gaji yang jauh lebih tinggi. Apakah si talent menginginkan balanced work-life, tawarannya mungkin adalah flexi time. Apakah si talent mendambakan hari tua yang terjamin, tawarannya bisa jadi adalah tunjangan pensiun, house ownership, dan lain-lain.

Perusahaan rela membayar mahal untuk jasa Headhunter karena mereka tidak perlu pusing dalam proses seleksi. Memasang iklan lowongan di koran katanya efektivitasnya kurang dari 18%. Artinya, dari segudang CV yang diterima (kata segudang di sini bukan kiasan lho, tapi benar-benar satu ruangan gudang), hanya 18% yang short-listed atau layak diteruskan lebih lanjut.

Tidak jarang juga dari semua pelamar sama sekali tidak ada yang cocok. Di sisi lain ada orang-orang tertentu yang diinginkan perusahaan, namun orang tersebut sudah nyaman di perusahaan tempat mereka bekerja sehingga tentu saja mereka tidak mengirim CV (melamar). Daripada pusing-pusing meriset dan merayu orang tersebut, lebih baik perusahaan menyerahkan semuanya kepada Headhunter.

Headhunter yang piawai mempunyai keahlian tinggi dalam mendekati talent yang diinginkan. Di sini tentu dibutuhkan seni bergaul yang sangat tinggi, agar si talent tidak merasa terancam. Bisa dibayangkan orang-orang yang bahagia seperti Sari pastilah anti apabila dibujuk-bujuk untuk pindah. "Saya sudah senang bekerja di sini. Tolong jangan telepon saya lagi," pastilah kata-kata seperti ini sering diterima oleh Headhunter.

Saya jadi teringat Pursued, sebuah film tentang Headhunter yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Ceritanya si Headhunter mengincar seorang executive kelas atas. Sulitnya si executive untuk didekati (sama sekali menolak bertemu atau ditelepon) membuat Headhunter pun mendekati keluarganya. Dengan canggih si Headhunter bisa menjadi akrab dengan keluarga si executive dan membuat keluarga si executive berpikir bahwa seharusnya si executive meninggalkan pekerjaannya sekarang.

Headhunter tersebut bertindak sejauh menyadap semua pembicaraan telepon si executive, baik di rumah maupun di kantor. Dia tahu segala hal mengenai executive ini, dan bahkan sampai memfitnah sekretarisnya. Tindakan-tindakan keji si Headhunter inilah yang membangun thriller film ini.

Dalam kehidupan nyata saya belum pernah mendengar cerita seperti itu dan saya yakin memang tidak ada. Namun ilustrasi di atas menunjukkan betapa menariknya dunia Headhunter. Di satu sisi dia tidak disukai, di sisi lain banyak yang membutuhkan. Saya yakin membangun dan mempertahankan reputasi sebuah perusahaan Headhunter yang disegani selama puluhan tahun pastilah bukan pekerjaan mudah.
I think it's interesting.

No comments:

Post a Comment