Google+ Followers

Thursday, March 13, 2008

Pindahan

Pindahan ini adalah sesuatu yang biasa. Tidak perlu ditanggapi dengan emosi. Tidak perlu tangisan atau syukuran. Hanya perlu doa dan harapan agar kita menjadi lebih baik.

Tidak perlu merasa rindu pada ruang segiempat ini. Kotak kecil tempat kita selalu bertemu setiap hari pada jam yang sama ini juga tak peduli ke mana kita akan pergi. Bagaikan anak yang tumbuh dengan cepat sehingga pakaiannya tidak muat lagi, begitu pula kita bertumbuh sehingga kotak ini menjadi semakin kecil dan sempit.

Ruangan ini terasa bagaikan akan pecah...
dengan suara-suara yang tak mampu lagi ditampungnya. Dinding-dinding pun tak kuasa lagi membendung emosi yang berputar di dalamnya. Gelombang energi yang terpancar dari tatapan mata yang dingin, yang hangat, yang bergelora, yang jatuh cinta, yang marah, semua terlalu pekat untuk ruangan sekecil ini.

Kita juga tidak perlu merasa nostalgic dengan gedung ini. Dengan paginya yang indah dipandang dari kaca mobil. Pukul 6.30 saat semuanya masih belum siap dan kamu harus menunggu, sambil melihat mbak-mbak Cleaning Service mengobrol di tangga selasar di dekat pohon-pohon yang meneduhi mobil-mobil parkir. Terdengar suara kresek-kresek mas-mas yang menyapu daun-daun jatuh. Pagi itu berwarna kuning kadang-kadang merah.

Dan sorenya yang berwarna jingga, kadang-kadang abu-abu gelap, yang terlihat dari kaca jendela. Di seberang kaca berpapasan dengan kaca-kaca hotel Maharaja, namun sayang kita tidak bisa meneropong ke dalamnya.

Dan juga siangnya yang selalu kita habiskan di kantin. Mulai dari kantin yang indah dengan meja-meja berpayung di antara taman tempat kita bisa mengobrol lama meskipun makanannya tidak enak dan mahal-mahal, lalu pindah ke kantin yang murah-meriah yang kemudian digusur, hingga kantin baru yang sekarang yang agak permanen dan kita mulai menyukainya. Lengkap dengan mas-masnya yang manis dan juice yang sedap.

Tidak perlu merasa sentimentil.

Di tempat baru akan lebih banyak ruang untuk bernapas. Di tempat baru ada kotak yang lebih besar untuk menampung mimpi-mimpi kita yang tinggi. Di tempat baru ada koridor yang panjang dan remang yang mengingatkan kita pada hotel entah di mana. Akan ada banyak tempat untuk kita menyendiri, berduaan, bertigaan, atau beramai-ramai.

Walaupun alamat yang akan tercetak di kartu nama kita tidak sekeren dulu lagi, dan terkadang kita khawatir apakah kita perlu menambahkan peta di atas kartu nama itu, namun minimal tidak akan ada lagi 3 in 1. Dan jangan lupa kita hidup di dunia virtual, yang lebih penting untuk kita adalah mudah ditemukan secara online melalui search engine, daripada secara offline.

Selamat tinggal gedung Cyber.

11 comments:

  1. dan, yg penting, di tempat baru itu, belakangnya perumahan warga dan ada smu juga, jadi bisa sering2 ngeceng di depan jendela hauahahaha

    ReplyDelete
  2. Hihihi benerrr Mas Mumu, paling demen deh ama brondongzzz bikin awet muda tanpa susuk kekekek.
    Syukuran itu pentingg, karena makan-makan gratisss heheheh

    ReplyDelete
  3. dan bisa mengacuhkan tatapan-tatapan dingin dan suara-suara arogan yang menggerogoti telinga dan jiwa...hahaha secara ruangannya luas bo'

    ReplyDelete
  4. Tenang hu, makan-makan akan tetep ada kok, yaitu sambil berdoa dan berharap itu... Tapi ceremonial seperti pasang iklan di Kompas gak perlu lahh! Hahahaha

    ReplyDelete
  5. hu hu hu.. kita akan kangen dengan jus nya aceng, condong raos, sop iga, soto padang, sop gurame, gurame goreng, yamin, bubur ayam yang TOP MARKOTOP, kacang ijo, suga, kayanya ga ada abis2nya euy nyebutinnya..
    Hueeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee..... T_T

    ReplyDelete
  6. hiks, apakah nanti bakal seperti orang dewasa yang merindukan masa kecilnya :D ?
    tapi dengan pernah menjadi anak kecil seseorang bisa jd dewasa kan ;> .
    gpp deh mba mei, walaupun mesti kehilangan sesuatu, tp tuk mendapatkan sesuatu yg lebih baik, it's okay, walaupun agak2 gak rela melepasnya, ihihihi

    ReplyDelete
  7. gita, gak perlu sentimentil hehehe

    ReplyDelete
  8. Katanya deket sana banyak makanan manado, jangan kawatir, tempat baru menu baru hahahaha

    ReplyDelete
  9. Lhah....???
    Lha sayah kan belom sempat sebulan megang kartu nama situ, kok malah udah pindah....

    :roll:

    ReplyDelete
  10. Anonymous2:34 PM

    ketika beberapa taun lalu aku pindah dari (kawasan elit) pondok indah ke (kawasan macet) buncit, rasanya agak berat. harus ninggalin PIM 2 yang baru berdiri, ninggalin kantin berjejer-jejer 10 meter dari kantor...

    tapi setelah beberapa hari menikmati kepindahan, aku justru bersyukur. jarak rumah dan kantorku lebih deket. dompetku juga hemat karena nggak sering ke mall. kalo bosen makanan di sekitar, tinggal delivery saja. ada busway di depan kantor, ada bus-bus reguler yang lewat tiap menit, tanpa perlu menyeberang perempatan yang jauh seperti di pdk indah.

    tidak ada secure parking rp 2.000/jam bagi mobil-mobil. suasananya pun tidak sekaku/seformil di PI (baca: nggak malu pake sandal jepit).

    tempat baru kadang memang bikin bete awalnya, tapi lama-lama jadi luar biasa.

    ReplyDelete
  11. iya kamu benar soal sandal jepitnya hehehe.. tapi soal PIM, aku kangen banget sama PIM. Dan di kantor baru ini pengeluaranku nambah, bukan berkurang hehehe

    ReplyDelete