Google+ Followers

Thursday, May 22, 2008

Ziarah 9 Goa Maria di Jatim dan Jateng



Ini pertama kalinya aku mengikuti ziarah seperti ini: menziarahi 9 goa Maria untuk menggenapi novena tiga salam Maria. Bagi yang belum tahu, novena kira-kira berarti berdoa yang sama sembilan kali. Karena itu di setiap goa Maria yang kami singgahi, acaranya adalah berdoa novena tiga salam Maria itu dan beberapa kali ditambahi dengan jalan salib.

Teman-teman yang mendengar aku mau pergi ziarah pada terheran-heran. Tumben, mau bertobat ya? Dll komentarnya. Aku sendiri juga heran dan tidak tahu apa yang aku harapkan dari ziarah ini. Alasan sebenarnya adalah aku diajak oleh teman. Kebetulan ada tempat kosong karena ada peserta yang batal beberapa hari sebelum berangkat. Sementara aku sedang tidak punya acara untuk mengisi libur yang cukup panjang karena ada satu hari Senin yang terjepit. Beberapa klien besarku libur, dan aku pikir mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan ini?

Dengan biaya yang cukup murah, Rp 550 ribu, sudah termasuk transport dan penginapan, serta beberapa kali makan. Aku bisa melihat-lihat kota-kota di Jatim dan Jateng, meskipun hanya untuk melihat goa-goa Maria, yang aku pikir pasti membosankan karena bentuknya begitu-begitu saja. (Kalimatku yang terakhir ini ternyata salah)

Akhirnya pada Jumat malam muncullah aku di tempat pemberangkatan kami di belakang Setiabudi Building. Aku baru tahu kalau acara itu sejatinya adalah acara milik wilayah Bernardinus 123, yaitu yang gerejanya di Kuningan, dekat Pasar Rumput. Nama parokinya adalah Ignatius Loyola.

Begitu naik ke bis aku kaget kok pesertanya orang-orang tua semua? Kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 50-an. Ada juga bahkan nenek-nenek berusia 85 tahun! Wah aku salah bis nih. Untunglah di antara mereka ada juga geng anak-anak muda yang seusia aku maupun yang lebih muda. Setelah itu aku juga baru tahu bahwa yang biasanya berminat mengikuti ziarah, apalagi itu acara wilayah/lingkungan, memang lebih banyak orang-orang tua.
Baca mengenai satu per satu goa Maria-nya...klik Read More.


Goa Maria Ratu Besokor, Weleri

Tepat pukul 20.00 bis kami berangkat. Setelah menempuh perjalanan panjang sambil (seharusnya) tidur di bis, akhirnya tibalah kami di Goa Maria pertama, yaitu Goa Maria Ratu Besokor, Weleri, Jawa Tengah. Kira-kira pukul 08.00 hari Sabtu pagi tanggal 17 itu kami memulai ziarah kami yang pertama.

Di sana kami berdoa novena tiga Salam Maria dan juga doa Rosario yang lengkap. Doa pertama yang panjang dan lamanya kira-kira setengah jam ini sempat membuatku ngeri. Setelah di bis kami berdoa setiap jam 6, jam 12, dan bahkan jam 3 pagi, aku sempat merasa sedikit horror dengan ziarah ini. Cukup kuatkah stamina kami untuk berdoa marathon dan tetap khusyuk, apalagi setelah perjalanan dengan bis yang melelahkan?

Ternyata hanya di Goa Maria yang ini kami sempat berdoa Rosario. Di tempat-tempat selanjutnya kami hanya berdoa novena dan di beberapa tempat saja menyempatkan untuk jalan salib. Dan ternyata hanya pada hari pertama saja aku melihat semangat yang luar biasa untuk berdoa, pada hari-hari berikutnya terlihat mulai lelah dan kekhusukan menurun. Khususnya aku.

Goa Maria Sendang Harjo, Rembang

Perjalanan dilanjutkan ke Goa Maria Sendang Harjo di Rembang. Perjalanan dari Weleri ke Rembang ternyata cukup jauh, sekitar 5 jam. Goa Maria ini unik karena dibangun di desa penampungan penderita kusta. Dulu sebelum ada Goa Maria ini setiap bulan pastor menyantuni para penderita kusta tersebut. Setelah itu seorang pastor (lupa namanya) berinisiatif membuat Goa Maria di gunung-gunung kapur yang ada di desa itu. Setelah Goa Maria ini menjadi salah satu tujuan perziarahan Katolik, maka penduduk desa yang menderita kusta itu pun mendapatkan penghasilan dari penjualan lilin yang sebagian mereka buat sendiri.

Goa Maria Poh Sarang, Kediri


Perjalanan dilanjutkan semakin menuju ke timur. Tiba di Kediri sekitar pukul 21.00. Kami sudah kelaparan dan kelelahan. Dan belum mandi sejak semalam. Namun malam itu masih menyempatkan untuk mengikuti misa mingguan yang diadakan khusus untuk peziarah, pukul 21.30.

Di Poh Sarang ini terdapat wisma yang biasa digunakan untuk retret, karena itu tersedia kamar-kamar yang tenang, yang dikelola oleh para suster. Di sinilah kami menginap malam itu.

Keesokan paginya ketika matahari bersinar barulah kami bisa melihat keindahan tempat itu. Pagi-pagi sebelum sarapan kami sudah berkumpul untuk memulai jalan salib. Di sini trek untuk jalan salibnya cukup luas dan di setiap perhentian tidak hanya menggunakan gambar untuk melukiskan sengsara Yesus tetapi dengan patung-patung yang cukup besar.

Pagi itu sambil mengikuti jalan salib bukannya wangi parfum atau wangi sabun mandi (karena semua sudah mandi pagi ini) yang tercium dari orang-orang di sekitar kita, tetapi adalah bau balsem/minyak angin/dan sejenisnya. Rupanya banyak yang masuk angin karena perjalanan yang panjang.

Goa Maria Ratu Kenya, Wonogiri


Kira-kira pukul 10.00 kami dan semua koper kami naik ke bis dan memulai perjalanan hari kedua. Perjalanan kali ini sudah berbalik arah menuju ke barat. Goa Maria Ratu Kenya terletak di Wonogiri, Jawa Tengah. Kira-kira pukul 16.00 kami tiba. Ketika pimpinan rombongan mengatakan kita akan mengadakan jalan salib lagi, aku langsung terkejut. “AGAIN?” kataku, tapi ternyata jalan salib di sini tidak membosankan, karena jalannya menanjak, sebagian dikasih tangga sebagian tidak, sehingga hampir menyerupai trekking. Kebetulan sekali aku mengenakan sandal yang cocok untuk trekking, jadi aku tidak mengeluh, malah kupikir jalan salib seperti ini lebih berkesan.

Goa Maria Tritis

Goa Maria Tritis yang menjadi pengganti Goa maria Sendang Rosario yang tidak jadi kami kunjungi karena alasan teknis, ternyata juga sangat memukau. Bahkan sangat unik karena goa ini adalah goa yang alami, alias goa benaran, dengan staglagmit dan staglagtitnya.

Menurut Guamaria.com, sebelum digunakan untuk kebaktian kepada Bunda Maria, tempat ini merupakan tempat yang sepi dan angker. Namun sekarang, Goa Maria yang termasuk dalam Paroki Wonosari, Gunung Kidul dan dapat menampug 100 peziarah ini terlihat tertib, teratur dan bersih.

Ketika kami tiba, karena sudah malam, jalan menuju ke goa cukup gelap sehingga sebaiknya menyiapkan senter. Apabila tidak membawa senter juga tidak apa-apa, karena dengan demikian memberi penghasilan kepada masyarakat sekitar yang langsung mengerubungi para peziarah untuk menawarkan jasa peminjaman senter.

Goa Maria yang kami kunjungi kebanyakan berada di kota-kota kecil yang masyarakatnya miskin. Di Gunung Kidul ini bahkan masyarakatnya sulit mendapatkan air bersih. Kehadiran Goa Maria yang mendatangkan peziarah dari seluruh Indonesia dapat memberikan mereka penghasilan tambahan. Terutama pada bulan Mei dan Oktober yang merupakan Bulan Maria dalam kalender agama Katolik, banyak yang melakukan ziarah ke tempat-tempat peziarahan ini.

Setelah selesai di Tritis, kami bertolak ke Yogyakarta dan cek ini di hotel Wisnugaraha di jalan Kusumanegara.

Goa Maria Marganingsih, Bayat, Klaten

Hari ketiga terasa agak santai karena lokasi goa-goa Maria yang akan kami kunjungi ada di Yogyakarta dan sekitarnya, sehingga target 3 goa Maria dalam sehari dapat tercapai, bahkan masih sempat untuk berbelanja di Malioboro.

Goa Maria pertama hari ini adalah Goa Maria Marganingsih di Bayat, Klaten. Untuk mencapai tempat ini melewati desa-desa eksotis dengan hamparan sawah yang menghijau. Pemandangan pedesaan ini tak pernah gagal membuat aku terpesona.

Sepanjang perjalanan dalam dua hari ini aku puas sekali melihat: sawah hijau yang subur, sawah kering berwarna krem, sawah yang retak, sawah hijau yang di atasnya ada lapisan kabut berwarna putih sehingga bagaikan kue lapis, sawah yang bertingkat-tingkat, sawah yang menghampar di kaki bukit-bukit menghijau, pohon-pohon tebu di sela-sela sawah, gubuk tempat petani mengobrol, dan masih banyak lagi pemandangan yang tentu saja tidak ada di Jakarta.

Keinginan untuk melihat yang hijau-hijau kesampaian sudah. Sebelumnya dalam hari-hari menjenuhkan di kantor memang aku sedang butuh yang seperti ini. Aku bisa membayangkan Srintil (tokoh dalam Ronggeng Dukuh Paruk) tinggal di desa di balik sawah-sawah yang luas itu…

Setelah melakukan jalan salib di sini, kami pun masuk lagi ke bis untuk destinasi selanjutnya.

Salib Suci Gunung Sempu, Bantul

Di sini tidak terdapat goa Maria, hanya ada sebuah gereja yang sangat sederhana, dan sebuah salib yang unik. Unik karena salib dibentuk oleh kayu apa adanya (tidak dipelitur) dan tidak terdapat tubuh Yesus seperti biasanya salib pada gereja Katolik. Karena itulah salib ini disebut salib suci karena maksudnya adalah bahwa Yesus sudah diturunkan dari kayu salib dan dimakamkan. Tempat ini juga seringkali disebut sebagai Golgota Yogyakarta.

Di depan gereja di Gunung Sempu ini terdapat sebuah sumur yang dalamnya hingga 33 meter. Tidak semua orang yang menimba dapat memperoleh air suci.

Candi Hati Kudus Yesus, Ganjuran, Bantul


Puncak ziarah ini menurut aku pribadi---yang paling berkesan dan paling amazing---adalah tempat yang ke-delapan. Candi Hati Kudus Yesus, Ganjuran, Bantul merupakan satu-satunya peziarahan Katolik berbentuk candi Hindu Jawa. Di dalam candi bersemayam patung Yesus yang sedang duduk mengenakan pakaian kebesaran Raja Jawa, dengan wajah yang sangat berwibawa. Tangan kanannya memegang hati kudusnya yang menyala. Setiap hari puluhan umat mengantri menunggu giliran untuk naik ke candi untuk berdoa di hadapan patung Yesus itu.

Menurut GuaMaria.com pada bulan Mei 1997 ditemukan sumber air di bawah candi yang diyakini sebagai rahmat Allah yang mengalir bagi siapa saja yang datang ziarah ke Candi dan berdoa di hadapan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Banyak orang yang telah sakit bertahun-tahun disembuhkan setelah minum air dari candi tersebut, baik umat Katolik maupun yang beragama lainnya.

Karena itu yang khas ketika kita mengunjungi candi di Ganjuran ini adalah disediakannya kamar-kamar mandi dimana air mandi dipercaya adalah air suci yang mempunyai kuasa penyembuhan. Selain mandi, banyak yang datang dengan membawa gallon-galon kosong untuk mengisi air tersebut.

Cara mandinya tidak seperti mandi biasa: tidak boleh memakai sabun, sampo, dan tidak boleh pipis pada saat mandi. Seluruh tubuh dibasahi, tetapi kemudian tidak boleh dilap dengan handuk. Biarkan tubuh kering sendiri lalu mengenakan pakaian. Ucapkan doa-doa sebelum mandi agar mendapatkan penyembuhan.

Rasanya luar biasa ketika aku mandi. Airnya sangat menyegarkan dan perasaanku sangat luar biasa. Bagaikan disentuh oleh kuatnya getaran dari langit. Bagaikan diangkat dari semua beban menjenuhkan. Sesaat aku merasakan kesucian. Bagaikan lahir dengan kekuatan baru.

Keluar dari kamar mandi itu adalah sebuah pelataran yang luas. Terdapat sebuah gereja darurat yang dibangun setelah gempa meluluh-lantakkan bangunan gereja yang sebelumnya. Aku mendengar cerita bahwa sebenarnya gereja sudah mendapatkan sumbangan dana dari Jerman, tetapi pastor paroki tidak mau menerimanya sebelum rumah-rumah di sekitar gereja dibangun dulu, baru gereja dibangun. Daerah Bantul adalah salah satu daerah yang paling parah terkena gempa Yogya tahun lalu.

Goa Maria Jatiningsih, Godean, Yogyakarta

Hari terakhir (hari keempat) sesuai dengan jadwal seharusnya kami langsung bertolak pulang ke Jakarta, tetapi karena masih kurang satu goa Maria, maka kami memutuskan untuk menziarahi Goa Maria Sendangsono yang dilewati dalam perjalanan pulang. Namun karena hari ini bertepatan dengan hari raya Waisak, dimana banyak umat Budha mengunjungi Borobudur, jalan menuju Sendangsono dipastikan akan macet parah. Karena itulah destinasi diganti ke Goa Maria Jatiningsih, Godean.

Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang goa Maria ini selain bahwa hari itu di sana ramai sekali karena banyak juga peziarah yang berputar haluan ke sana, tidak jadi ke Sendang Sono.

Tak terasa, selesai sudah ziarah kali ini. Tak disangka, tour de goa (meminjam istilah Airin) ini sangat refreshing. Pulang dari sana aku merasa seperti habis dari sebuah liburan yang sangat menyenangkan. Aku berharap energy ini dapat aku pertahankan selama mungkin.

Mohon maaf karena tulisannya panjang. Foto-foto akan menyusul dalam postingan berikutnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Goa Maria:
www.guamaria.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Goa_Maria

2 comments:

  1. Anonymous5:34 PM

    heheh...seru mei! selain refreshing, apa kesanmu secara spiritual (maksudku, hubungan ama Tuhan)? :D

    ReplyDelete
  2. Dear Anonymous... betul sekali elemen itu yang belum masuk dalam tulisan panjang di atas. Mungkin menyusul dalam tulisan berikutnya ya, masalah yang pribadi itu hehehe.

    ReplyDelete