Google+ Followers

Tuesday, June 17, 2008

Love in the time of Cholera


Apakah ini cinta ataukah hanya ilusi? Tentu saja pada akhirnya cinta yang menang karena kita hidup di dunia fiksi. Meskipun itu harus menunggu 51 tahun.

Film ini dimulai dengan pembukaan yang dahsyat: Sebuah kematian. Sebuah pemakaman. Lalu seusai pemakaman seorang pria tua bernama Florentino Ariza mendatangi si janda yang baru saja ditinggalkan dan menyatakan cintanya.

Tentu saja si janda yang juga sudah tua itu marah besar. Sungguh lancang mendatangi seorang yang baru saja ditinggal oleh suami dan menyatakan cinta yang sudah dipendam selama 51 tahun lebih sekian bulan dan sekian hari. Namun setelah kemudian penonton dibawa ke masa 51 tahun yang lalu, barulah dapat dipahami alasan semua itu.

Cerita yang diangkat dari novel berjudul sama karangan penulis peraih Nobel Gabriel Garcia Marquez ini mengambil setting abad 19, tepatnya tahun 1879 dengan lokasi di kota Cartagena, Colombia, Amerika Selatan.

Pada saat itu negara Colombia dilanda wabah kolera yang hebat. Hingga banyak gejala penyakit lain dengan gejala yang mirip dikhawatirkan adalah kolera. Termasuk misalnya sakit panas dingin karena jatuh cinta dengan mudahnya dibingungkan dengan kolera.

Tokoh utama, Florentino Ariza (Javier Bardem) adalah tokoh yang luar biasa. Seorang penyair sinting yang sehari-hari bekerja sebagai operator telegram, yang langsung mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mencintai seorang gadis yang dilihatnya ketika mengantar telegram.

Gadis itu adalah putri seorang pedagang yang baru saja pindah ke kota itu. Setelah itu penonton dipuaskan dengan balas-balasan surat cinta antara Ariza dan si gadis. Maklum lah pada saat itu mungkin semua kegiatan PDKT dilakukan dengan surat-suratan. Surat-surat Ariza sangat dahsyat dan panjang, kertasnya berlembar-lembar bahkan hampir setebal buku novel.

Namun tentu saja cinta Ariza ditolak karena orang tua si gadis mempunyai harapan yang besar pada putrinya yang cantik itu. Putrinya harus menikah dengan orang kaya, bukan seorang operator telegram.

Kesempatan itu pun datang ketika sang putri bernama Fermina (Giovanna Mezzogiorno) sakit. Karena khawatir Fermina terjangkit kolera yang mewabah saat itu, maka sang ayah langsung memanggil dokter yang paling terkenal di Cartegena dan telah merawat ratusan pasien kolera, dokter Juvenal Urbino (Benjamin Bratt).

Adegan pertemuan dokter dengan Fermina digambarkan dengan sangat manis dan sejak pertemuan itu dokter jatuh cinta pada Fermina, yang ternyata hanya infeksi ringan. Bukan kolera. Sang ayah sangat mendukung hubungan tersebut meskipun Fermina sebenarnya tidak menyukai pria yang charming itu. Hati Fermina sudah terlanjur terpaut pada si penulis surat yang kemudian tidak berhenti menjadi bayang-bayang dalam kehidupan Fermina.

Meskipun tidak berminat pada awalnya, akhirnya, karena berbagai usaha keras dokter Juvenal, dan karena Fermina meragukan apakah perasaannya pada Ariza hanyalah ilusi, Fermina pun bersedia menerima lamaran pernikahan dokter Juvenal.

Sejak itulah dimulai penderitaan panjang dan patah hati yang berusaha disembuhkan Florentino Ariza dengan segala cara. (Termasuk menambah daftar panjang wanita yang tidur dengannya hingga mencapai angka mencengangkan, lebih dari 622). Sambil menunggu hingga saatnya tiba ketika Fermina dapat dimilikinya.

Kisah cinta yang luar biasa. Film yang puitis. Penuh dengan kata-kata romantis, gambar-gambar yang indah, dan tokoh-tokoh yang berkarakter. Sungguh kamu akan menyesal mengapa baru sekarang menontonnya. Atau kamu akan berharap seandainya kamulah yang telah menulis ceritanya. Atau jangan-jangan berharap seandainya kamu menjadi Florentino Ariza, yang tidur dengan ratusan wanita...

3 comments:

  1. film yang bagus..sinematografinya sangat indah..

    jadi ngejer2x DVD nya gara2x baca resensi novelnya di Kompas. Cuman agak kecewa juga abis nonton filmnya.

    Soalnya ekspektasi ku terhadap keindahan cintanya antara film dan dari baca resensi ga sesuai..

    but it's ok..secara gambar nya indah, skrip kalimat2x yg digunakan juga indah..i still like it.

    ReplyDelete
  2. wah aku dah sering sekali liat film ini di lapak bajakan tp gak pernah tergerak utk beli. ternyata bagus ya hmmm...tar cari lagi deh hihi

    ReplyDelete
  3. gw sih suka mu... gak tahu deh kalau elu...

    ReplyDelete