Google+ Followers

Wednesday, November 05, 2008

Gyeongju, the museum without walls





Ketika bis yang kami tumpangi dari Chuncheon mulai memasuki Gyeongju sekitar pukul 7 malam itu, mulai terasa suasana yang beda. Kota kecil ini berdenyut dengan ritme yang berbeda dibanding kota-kota lainnya di Korea Selatan. Keunikan warna dan rupa yang ditampilkan langsung terasa, seolah kita perlahan-lahan mulai memasuki masa lalu.

Bahkan pada malam hari, kita bisa melihat bangunan-bangunan tua yang terjaga wibawa kekunoannya. Atap-atap model Hanok yang menjadi ciri khas istana-istana Korea masa silam, dapat dijumpai di kota ini sebagai penaung rumah-rumah penduduk biasa maupun toko-toko. Tidak banyak bangunan tinggi, tidak ada neon sign Starbucks, Dunkin Donut, ataupun KFC. Masih banyak lapangan terbuka, sawah-sawah dan rumah pedesaan ala Korea di tengah-tengahnya. Rumah dengan atap Hanok dan pintu serta jendela yang seperti kotak-kotak kecil itu.



Apabila kamu menyukai bangunan kuno dan sejarah, dengan segera kamu akan jatuh cinta pada Gyeongju. Keesokan paginya ketika kami mulai mengeksplor kota ini, dengan mudah dapat bertemu dengan gundukan-gundukan tanah yang ditumbuhi rumput di dalam kota di antara rumah-rumah maupun dalam kompleks taman nasional yang tersebar di seluruh kota.



Gundukan-gundukan ini adalah landmark kota Gyeongju yang pernah menjadi ibukota Korea di masa Kerajaan Silla. Apabila Mesir mempunyai piramid, maka Korea punya gundukan-gundukan ini. Gundukan tanah yang menjulang tinggi melebihi pepohonan itu adalah makam raja-raja Silla.

Kota Gyeongju telah di-preserve sedemikian rupa sehingga makam-makam seperti ini menyebar di mana-mana, sisa-sisa masa silam sangat mudah dijumpai di dalam kota. Banyak sekali tempat yang disebut sebagai taman nasional. Di antaranya hutan tempat bermukim pepohonan yang ratusan tahun umurnya. Tidak heran apabila Gyeongju disebut museum tanpa dinding. Di mana pun kamu berada di dalam Gyeongju, kamu berada di dalam museum.

Maka bepergian ke Gyeongju seperti menaiki mesin waktu dan mendarat di masa silam. Karena keunikannya (dan juga kecantikannya, I can say) Gyeongju menjadi salah satu tujuan wisata paling populer di Korea Selatan. Di sini masyarakatnya terlihat lebih siap menghadapi turis asing dibanding di kota lain. Informasi wisata juga tersedia di booth Tourist Information, salah satunya di dekat terminal. Di dekat terminal ini juga terdapat banyak motel dengan harga 30.000-50.000 won per malam dengan fasilitas internet (1 won waktu saya beli = 8,9 rupiah).

Wisata Gyeongju berpusat di Gyeongju National Park yang terletak di downtown Gyeongju. Di dalam taman nasional ini terdapat Gyeongju National Museum, kompleks makam raja alias gundukan-gundukan menyerupai payudara menyembul dari tanah itu, Cheomseongdae observatory, kolam Anapji, serta hutan Gyerim.

Untuk tour ke luar area downtown disarankan pemerintah Korsel untuk mengambil tour yang disediakan dekat pusat informasi wisata tersebut. Situs yang bisa dikunjungi meliputi Seokguram grotto dan Bulguksa temple. Keduanya adalah situs Korea pertama yang dimasukkan dalam UNESCO World Heritage List, pada tahun 1995. Peninggalan kerajaan Silla juga menunjukkan agama yang dianut pada waktu itu, yaitu agama Buddha. Kebanyakan temple berada di atas bukit, harus ditempuh dengan menaiki tangga yang tinggi, di antaranya di Namsan.



Kami beruntung mendapatkan langit yang biru cerah di atas pemandangan musim gugur yang memikat. Dedaunan merah dan kuning yang sangat cantik di antara atap-atap rumah abu-abu. Semuanya begitu mengundang tangan untuk terus menjepret, untuk memperkuat kenangan yang akan tersimpan untuk selamanya.

Ketika kami meninggalkan Gyeongju 2 hari kemudian untuk bertolak ke destinasi selanjutnya, Busan, aku merasa sebagian hatiku telah tertinggal di sana.

3 comments:

  1. wahhh penginnnnnnnnnn ksana, gw kan pecinta sejarahhhh dan budaya

    ReplyDelete
  2. Oleh-olehnya manaaaa???

    ReplyDelete
  3. kalo gak mampu jalan2 ke Korsel, di Jakarta juga ada kuburan cantik yang jadi museum. Dateng aja ke Museum Taman Prasasti di Jl Tanah Abang :-) Aku cinta sejarah Indonesia!

    ReplyDelete