Google+ Followers

Tuesday, November 11, 2008

Welcome to Planet Seoul, All the Beautiful People


Di dunia dimana urusan perut tidak menjadi masalah lagi dan tidak ada UU Pornografi, maka tidak ada alasan untuk tidak menggeber fashion. Duduk di depan Doosan Tower di daerah Dongdaemun market, Seoul pada hari Sabtu sore, serasa bagaikan duduk menghadap sebuah panggung fashion show.

Ramai orang yang berlalu lalang, semuanya cantik-cantik, ganteng-ganteng, langsing-langsing. Mereka mementaskan fashion musim gugur yang berwarna dominan abu-abu, hitam, coklat dengan segala turunannya. Syal warna-warni melilit di leher mereka, cewek ataupun cowok. Coat dari berbagai bahan, sepatu dengan berbagai model. Tas LV kelihatan mendominasi di jinjingan para wanita, sayangnya tidak bisa terlihat apakah asli atau palsu dari jarak aku mengamati.



Inilah Planet Seoul, dimana para inhabitant-nya harus tampil cantik, chic, modis. Sepertinya itu adalah sebuah norma tidak tertulis yang telah dipatuhi bersama. "Fashion is Passion" demikian tertulis di umbul-umbul di daerah pertokoan, di antara
huruf-huruf Korea yang tidak aku mengerti. Mungkin inilah agama di planet ini. Mereka memuja kecantikan.

Berbeda sekali misalnya ketika aku tiba di bandara suatu planet lain di mana agama mengharuskan pakaian yang sangat tertutup dari kepala hingga kaki serta tubuh yang langsing tidak menjadi prasyarat untuk menjadi pramugari. Di planet Seoul, jarang terlihat yang tidak langsing. Mungkin bertubuh gemuk akan mendapat kutukan yang sangat parah.

Wanita-wanita yang keluar rumah harus dandan sedandan mungkin. Kebanyakan dari mereka dandanannya cukup menor khas Korea. Pria pun tidak luput. Mereka menggunakan produk kosmetik pria. Rambut mereka selalu rapi, dengan model rambut terbaru ala Rain, dan selalu basah oleh gel. Bila melewati kaca di pertokoan mereka akan berhenti untuk membetulkan rambut atau pakaian mereka. Bagi kita yang berasal dari planet lain mungkin cowok-cowok itu kita anggap genit atau kecewek-cewekan, tetapi mereka menyebutnya metrosexual.

Maka dengan agama seperti itu aku pun akhirnya bisa memahami ketika bertemu dengan cewek-cewek mengenakan high heels di atas gunung. Ketika mendaki Mount Seorak (memang sih telah disediakan hiking trail yang cukup baik, namun tetap berliku-liku dan berbatu-batu), betapa kami terpana melihat high heels di sana. Yup, high heels. Sepatu tumit tinggi yang tumitnya kecil runcing dan panjang itu...

Betapa hebatnya wanita-wanita ini. Betapa terlatih ilmu mereka. Setiap hari mereka telah latihan dengan mengejar bis dan subway dengan high heels-high heels itu. Sehingga ketika dibawa ke atas gunung pun high heels bukan masalah lagi. Sepatu tak tok tak tok itu seolah telah menyatu dengan tubuh mereka.

Yang pria juga tidak mau kalah. Mereka mengenakan setelan jas dengan dasi ketika naik gunung. Agak-agak aneh sih, tetapi banyak yang begitu. Ini menimbulkan banyak asumsi di benak kami, apakah mereka sehabis dari gunung mau dilanjutkan meeting, atau mereka membolos dari kantor, atau mereka memang terbiasa memakai pakaian seresmi itu untuk ke gunung. Memang pakaian itu dapat melindungi mereka dari dingin, tapi... bukankah akan lebih nyaman mengenakan pakaian yang cocok buat ke gunung.

Sama seperti kasus high heels di atas, mereka rela mengorbankan kenyamanan demi kecantikan. Semua demi looking good.

Sejak kecil pun mereka telah terbiasa tampil cantik. Seragam sekolah mereka bagus-bagus. Seperti yang mungkin pernah kamu lihat di komik-komik Jepang. Dan ternyata komik-komik itu tidak bohong. Untuk seragam anak putri, roknya memang pendek-pendek seperti di komik. Jauh di atas lutut. Wah... kalau ketahuan suster-suster Santa Ursula mereka semua bisa dihukum tuh...

Itulah. Welcome to Planet Seoul. Only for you all the beautiful people. Pakaian benar-benar telah menjadi soal seperti yang tertulis dalam brosur-brosur fashion autumn: "it's all about staying stylish while keeping you warm."

No comments:

Post a Comment