Google+ Followers

Tuesday, December 23, 2008

Meraba-raba Model Bisnis Internet

Akhir-akhir ini pemberitaan tentang bisnis internet di dunia internasional tidaklah terlalu menggembirakan. CNET News (16 Desember, 2008) menulis tentang beberapa social network terkemuka (Facebook, Twitter dan MySpace) yang masih sulit mendapatkan keuntungan. Pada tanggal yang sama iMedia Connection memberitakan nilai Facebook yang turun 87% dari valuasi pasar sebelumnya. Yang terbaru (19 Desember 2008) Black Holes menulis tentang Digg yang masih bleeding (5 juta USD per tahun) untuk menghidupi situsnya di internet.



Semua nama yang saya sebut di atas adalah nama-nama besar. Ikon-ikon web 2.0 yang telah menjadi jargon paling hot beberapa tahun terakhir ini. Mereka semua sukses menjadi komunitas besar dan mapan. Komunitas yang disegani pengguna internet. Komunitas yang telah begitu mengakar dalam kehidupan pengguna internet sehingga para pengguna internet ini tidak dapat membayangkan hidupnya, misalnya, tanpa Facebook.

Ketagihan dan kemelekatan terhadap beberapa nama itu telah begitu dahsyatnya. Namun ternyata tantangan bisnis internet tidak selesai sampai di sana. Setelah berhasil membangun content yang baik, community yang baik, engagement (dengan pengunjung) yang baik, membuat sebuah situs melewati siklus hidupnya sehingga semakin membesar, tantangan selanjutnya adalah menjadikan semua itu menjadi uang. Uang diperlukan untuk terus menggerakkan, mempertahankan, dan memperbesar siklus itu.

Belum lama ini di Markplus Conference saya mendengarkan salah satu sesi di mana pembicara dari Kompas.com menceritakan sedikit tentang bisnis model mereka, di mana saat ini mereka sedang masuk konvergensi media.

Konvergensi media juga salah satu jargon paling hot dua tahun terakhir ini. Media harus berkonvergensi, bahasa sederhananya adalah informasi tidak hanya diakses melalui satu media saja, tetapi sesuai dengan perkembangan jaman internet dan mobile, informasi harus bisa disajikan sesuai dengan media yang digunakan oleh konsumen.

Untuk survive di zaman internet, media harus memandang dirinya sebagai penyedia informasi, bukan sebagai, misalnya: media cetak, media TV, atau pun media internet. Informasi harus dapat disajikan dalam berbagai format sesuai dengan perubahan perilaku konsumen.

Itulah yang telah dilakukan beberapa media besar, seperti Kompas (kompas cetak, kompas.com, kompas mobile, kompas.tv, dll), dan baru-baru ini pemilik TVOne meluncurkan Vivanews. Namun, siapakah yang sudah tepat melakukan konvergensi media? Belum ketahuan. Siapakah yang model bisnisnya sudah benar? Belum ketahuan juga.

Itu berarti, dari sisi model bisnis, semua masih dalam tahap meraba-raba. Tidak perlu berkecil hati, karena bahkan nama-nama besar seperti saya sebut di awal tulisan pun masih meraba. Yang jelas, selain dibutuhkan orang-orang yang mampu membesarkan sebuah situs web, diperlukan juga para ahli penjualan yang mampu meng-convert semua keberhasilan itu dalam bentuk uang.

Dengan sifat zaman internet yang demikian dinamis, saya khawatir kita memang tidak akan berhenti meraba. Di sinilah peran para visioner, early adopter, orang-orang yang mampu berpikir melampaui zamannya menjadi sangat penting. Dan mungkin juga, modal besar, penting agar bisa bernapas panjang sementara kita masih meraba.

Tugas kita, orang-orang yang bekerja di industri web, adalah terus membesarkan kue industri web yang saat ini masih kecil, dibandingkan dengan penggunaan internet yang sudah berkembang sangat pesat. Karena itulah kita menyambut baik kehadiran para pemain besar dengan modal besar di industri ini. Dan karena dunia kita berevolusi dengan cepat, jadilah yang pertama dan jangan takut untuk terus meraba dan mencoba.

No comments:

Post a Comment