Google+ Followers

Thursday, January 29, 2009

Art of War in Red Cliff 2


"It's art, not war," tertulis di pendahuluan buku Art of War for Women karya Chingning-Chu, tiba-tiba kata-kata itu terlintas di benakku ketika menonton Red Cliff 2 ini. Bukan perangnya, tapi seninya yang ingin kita lihat, dan John Woo, sutradara kawakan Hollywood tahu benar bahwa ketika membuat film tentang peperangan seperti ini, bukan perangnya itu sendiri yang menarik, tetapi strategi, trik-trik serta humanisme di balik sebuah peperangan yang menarik.

Berkat pembuat film yang rela menggelontorkan dana yang katanya mencapai 80 juta USD (Wikipedia menulis bahwa ini adalah film Asia termahal hingga hari ini), sebuah epik kepahlawanan yang sangat terkenal di negeri Tiongkok dapat dibawa ke panggung dunia dengan menyesuaikan selera modern yang telah dididik oleh Hollywood. Peperangan di daerah Karang Merah (Red Cliff) adalah salah satu perang paling terkenal dalam cerita Tiga Negara (Sam Kok). Terkenal karena sebuah pasukan dengan jumlah kecil, mampu mengalahkan pasukan Perdana Menteri Cao Cao yang jauh lebih besar jumlahnya.



Bagaimana caranya? Sesuatu yang awalnya tampak tidak mungkin, telah menjadi kenyataan. Bagaimana cara pasukan kecil dapat mengalahkan pasukan yang puluhan kali lipat lebih besar? Itulah yang dijawab dengan film ini. Buat yang belum tahu cerita Sam Kok, tulisan ini menjadi spoiler alert karena sudah tahu pada akhirnya siapa yang menang. Namun sekali lagi, yang seru bukan lagi siapa yang menang, tetapi bagaimana caranya bisa menang. Lagipula dalam semua cerita kepahlawanan pastilah kita sudah tahu pada akhirnya the good guys win.

Cerita Red Cliff mengambil setting abad pertengahan di Cina, ketika pada waktu itu terjadi kekacauan di negeri yang besar itu. Negara tercerai-berai dan korupsi serta kemiskinan terjadi di mana-mana. Cao Cao seorang tentara yang ambisius pun mengambil kesempatan menggunakan kekuatan militernya untuk memaksa Kaisar mengakuinya menjadi Perdana Menteri.

Banyak negara kecil yang sebenarnya tidak mengakui Cao Cao namun kekuatan mereka tidak penting. Salah satu kekuatan penting yang ditakuti Cao Cao adalah pasukan Liu Bei yang menguasai negera Shu, salah satu dari tiga negara itu. Di sisi Liu Bei ada pahlawan-pahlawan yang sangat terkenal di Cina: Guan Yu, Zhang Fei, Cao Ci Long, serta ahli strategis yang sangat terkenal, Zhuge-Liang (diperankan Takeshi Kaneshiro).

Di Red Cliff 1 telah diceritakan bagaimana Zhuge-Liang mengusulkan kepada Liu Bei untuk bersatu dengan Zhao Yu (diperankan Tony Leong), seorang pangeran sebuah negara kecil yang menurut Zhuge-Liang mempunyai misi yang sama dengan pasukan mereka. Sehingga apabila Liu Bei dan Zhao Yu bersatu, mereka akan dapat mengalahkan Cao Cao.

Red Cliff 1 diakhiri dengan persiapan pasukan Cao Cao yang kapal-kapalnya memenuhi lautan dan siap untuk menghancurkan sepasukan kecil di seberang, yaitu di Karang Merah. Tony Leong dan Takeshi Kaneshiro berdiri memandang pasukan besar itu. Apa yang ada dalam pikiran kedua wise man itu, apa yang akan mereka lakukan, bagaimana rencana mereka, itulah yang membuat penonton penasaran.

Sutradara berhasil menggiring penonton untuk terlibat berpikir dengan syut-syut jarak pendek wajah-wajah serius Tony Leong, wajah seorang yang sangat kompeten dan santai Takeshi Kaneshiro, adegan-adegan lambat yang terkadang menyakitkan untuk dilihat, namun dengan begitulah kurasa sutradara melibatkan penonton.

Beautiful, keren, kesan yang timbul sambil menonton Red Cliff 2. Bagian yang kedua ini lebih seru dan indah dibanding bagian pertamanya. Ini salah satu film yang membuat kita pengen nonton lagi setelah selesai. Bahkan aku jadi pengen mencari buku Sam Kok untuk lebih memahami cerita yang dahsyat ini. Sayangnya edisi bahasa Indonesia untuk cerita ini tidak banyak yang bagus.

Bagian paling menyenangkan dari film ini adalah ketika Zhao Yu bertaruh dengan Zhuge-Liang. Karena mereka kekurangan panah, Zhuge-Liang menjamin dia dapat mendapatkan seratus ribu panah dalam waktu 3 hari. Apabila tidak tercapai, kepalanya taruhannya. Sementara Zhao Yu tidak mau kalah mempertaruhkan kepalanya juga apabila dia tidak berhasil memenggal kepala admiral Cai Mao dan Zhang Yun, dua jenderal angkatan laut andalan Cao Cao.

Strategi yang digunakan Zhuge-Liang sangatlah cerdas, dengan memanfaatkan kabut yang diprediksikannya akan datang dalam waktu dua hari. Zhuge-Liang selain ahli strategi perang juga seorang yang mengerti masalah kesehatan/penyakit, serta cuaca. Seorang tokoh yang sangat pintar. Bagaimana strateginya, kayaknya lihat aja sendiri deh film-nya.

Dan bagaimana Zhao Yu memenangkan taruhannya juga? Dengan memanfaatkan pengkhianatan seorang sahabatnya. Lalu ketika mereka harus mempertangggung jawabkan taruhan masing-masing, mereka membuat para serdadu mereka merasa terkecoh. "Prajurit tidak bercanda," kata Zhao Yu. Mereka serius dengan taruhan itu, namun di antara Zhao Yu dan Zhuge-Liang seperti terbentuk sebuah telepati yang tidak perlu dikomunikasikan langsung, tiba-tiba nyambung aja gitu pemikiran mereka.

Itulah yang menyenangkan dalam sebuah team yang solid. Di mana suatu kontak batin terjadi secara otomatis tanpa perlu kita rencanakan sebelumnya, kita bisa mengeluarkan manuver jitu yang bertujuan sama. Semua karena sebuah visi bersama dan pengertian yang mendalam karena telah saling mengenal.

Di akhir cerita ketika Zhao Yu mengucapkan perpisahan kepada Zhuge-Liang, mereka menyadari, saat ini mereka bersekutu, tetapi tidak menutup kemungkinan di masa depan mereka akan berperang. Di dunia ini banyak pahlawan, tetapi kamulah yang paling saya takuti, kata Zhuge-Liang kepada Zhao Yu. Kalau tidak salah, dijawab hal yang sama oleh Zhao Yu. (Nah itulah kenapa gw pengen nonton lagi hahahaha lupa detilnya euy)

Film ini juga banyak mengutip Sun Tzu "Art of War" buku strategi perang yang dibaca dan dilatih keras oleh Zhao Yu. Tony Leong kelihatan tidak begitu lincah ketika berlatih pedang, namun adegan itu cukup indah dengan mengutip bait-bait Sun Tzu yang powerful.

Istri Zhao Yu, xiao Qiao, diceritakan sebagai wanita yang sangat cantik dalam sejarah. Kecantikan inilah yang ceritanya menjadi salah satu alasan Cao Cao meluncurkan perang yang menewaskan ribuan orang. Diam-diam Cao Cao telah mengagumi wanita ini sejak dulu. Banyak syut yang berlebihan terhadap Lin chi ling pemeran xiao Qiao, aku menduga sutradara bertujuan memberitahu penonton bahwa gadis ini sangat cantik lho!!! Cantiknya sih biasa-biasa saja, mungkin seperti ini kecantikan pada abad pertengahan, wanita yang lembut dan pandai bermain musik serta membuat teh.

Dengan sedikit kekurangan di sana-sini, film ini keren. Beautiful.

No comments:

Post a Comment