Google+ Followers

Wednesday, January 14, 2009

Back to Korea



Jangan terkecoh dengan judulnya. Bukannya aku pergi lagi ke Korea, tapi maksudnya aku baru sekarang menulis soal trip Korea-ku yang sudah lewat beberapa waktu yang lalu itu.

Selain sibuk, gak mood, tulisan ini juga tertunda-tunda karena, jujur saja, trip kali ini memang tidak seheroik trip yang lalu---untuk tidak dikatakan tidak seseru trip backpacking tahun lalu. Hal ini memang sudah disadari sejak sebelum berangkat, bahwa tantangannya pasti kalah dengan ketika kita backpacking ke beberapa negara di
Asia Tenggara. Kali ini hanya satu negara, dengan satu tujuan yang sederhana: ingin melihat musim gugur.

Lho, melihat musim gugur kok ke Korea?



Yahhh. Pengennya sih ke Eropa. Tapi mampunya baru ke Korea. Ya mudah-mudahan mimpi untuk ke Eropa tidak lama lagi dapat diwujudkan.

Karena itulah kami berangkat pada bulan Oktober. Bulan ini mungkin adalah saat terbaik untuk melihat musim gugur. Kita dapat melihat pegunungan berganti warna,
hijau berubah menjadi merah marun atau kuning. Dedaunan di pinggir jalan berguguran, berkilauan dengan warna kecoklatan. Kami pun memilih tempat-tempat terbaik untuk menikmati pemandangan musim gugur terbaik di Korea.

Trip itu dimulai dengan merencanakan tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjungi. Setelah browsing, kami memutuskan beberapa destinasi, yaitu: Seoul, Busan, Gyeongju, Nami som (pulau Nami), dan Mount Seorak (Seorak san).

Seoul dipilih karena yah sudah pasti dong. Dia kan ibukotanya. Dan kota Seoul sendiri memang indah di musim gugur. Lalu banyak sekali museum yang dapat dikunjungi
serta lokasi-lokasi syuting film Korea.

Busan dipilih karena merupakan kota kedua di Korsel yang merupakan kota industri. Kota pelabuhan yang agak boring, namun akhirnya tetap kami pilih juga, karena dari sisi rute dia memang searah dan dapat dimasukkan ke dalam salah satu destinasi.

Gyeongju adalah harta karun milik Korsel, mutiara yang tersimpan di dasar laut, kota kecil yang cantik dan masih relatif jarang dijamah. Dia adalah ibukota Korea di masa kerajaan Silla (sekitar tahun 1600-an?) dan hingga kini masih terjaga nuansa masa silamnya dengan sangat baik. Gyeongju sudah pernah saya tulis di posting sebelumnya.

Pulau Nami adalah destinasi wisata Korsel yang sangat terkenal karena menjadi lokasi syuting Winter Sonata yang kepopulerannya telah mendunia.

Mount Seorak adalah salah satu pegunungan di Korsel yang disebut-sebut sebagai salah satu tempat terbaik juga untuk menikmati pemandangan musim gugur Korea. Penduduk
Korea sering melewatkan akhir pekan dengan mendaki gunung dan salah satu yang paling banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara adalah Mount Seorak.

Setelah semuanya akur dengan destinasi di atas, kami pun mulai meriset mengenai transportasi dan akomodasi di tempat-tempat tersebut. Singkat cerita, sebuah itenary pun disusun.

Sambil merancang rencana trip di atas, tantangan yang harus dilalui adalah permohonan visa. Sebenarnya, sebelum berangkat kami mengalami banyak tantangan. Pada
saat itu mulai terjadi kehebohan soal krisis ekonomi global. Lehman Brothers baru saja bangkrut, teman-teman yang bekerja di sekuritas mengkhawatirkan masa depannya,
US dollar melejit. Hampir saja saya sudah putus asa dan merasa yakin trip yang sudah direncanakan sejak lama ini harus dibatalkan.

Ternyata, menjelang tanggal keberangkatan yang telah direncanakan, tekad kami tiba-tiba saja menjadi bulat. Bukannya apa, trip ini sudah lama direncanakan. Uang
sudah lama ditabung. Visa pun dengan "susah payah" telah didapat. Sayang kalau tidak berangkat. Kalau tidak berangkat sekarang, entah kapan lagi.

Bicara soal visa, memperoleh visa Korea Selatan gampang-gampang susah. Persyaratannya adalah: surat referensi dari perusahaan (yang menerangkan bahwa kita adalah karyawan di perusahaan itu dan hanya ingin berlibur di Korsel dan tidak bermaksud untuk menetap di sana), surat referensi bank (yang menerangkan kita memang benar punya rekening di bank itu), bukti print out rekening bank kita 3 bulan terakhir (yang menerangkan bahwa kita cukup mampu untuk berlibur ke sana dan tidak bermaksud mencari pekerjaan di sana), foto, surat-surat perusahaan, paspor, KTP, dan mengisi formulir permohonan visa. Sebaiknya kita sudah mempunyai address tempat tinggal kita di sana, tetapi kalau belum juga kita bisa mengisi salah satu nama hotel yang kita ketahui saja.

Nah, di antara sekian persyaratan itu, kami berempat, ada yang lengkap ada yang tidak. Ada yang kurang di sini, ada yang kurang di sana. Ada yang surat company tidak lengkap, ada yang rekeningnya tidak cukup (minimal 30 juta), dll. Kami pasrah aja ketika mengajukan visa dan harus menunggu 2-3 hari. Dapat ya dapat, tidak ya sudah. Biaya aplikasi visa Rp 288.000.

Dan akhirnya, ternyata semuanya dapat visa! Kami gembira sekali saat itu, karena petugasnya pada waktu aplikasi sempat mengatakan sebaiknya kami melengkapi dokumen yang kurang. Tapi karena emang gak ada, mau diapain lagi, ya udah kita pasrah aja. Beberapa dokumen seperti surat referensi bank harus datang ke bank tempat buka rekening dan harus membayar Rp 50.000, dan menurut saya itu merepotkan. Bukankah sudah cukup dengan bukti print out rekening 3 bulan terakhir? Mungkin karena print out dapat dikelabui, siapa tahu aja setelah itu dananya terkuras atau tidak menjadi nasabah lagi. Kalau surat dari bank adalah bukti nyata bahwa kita adalah dan masih nasabah di sana.

Mungkin juga karena satu group, jadi kekurangan yang satu dapat dilengkapi dengan kelebihan yang lain, dan akhirnya semuanya dapat. Petugas di kedutaaan Korsel itu ada-ada saja pertanyaannya. Masa kami ditanya "kalian ini teman apa?" Karena kantornya berbeda-beda, bidangnya berbeda-beda mungkin dia bingung, ini rombongan apaan? Jangan-jangan mau jadi TKI semua hehehe. Yah, bapak gimana ya, sekarang kan zaman internet, bisa aja dong kami kenal di internet hahahaha... apa gak boleh berteman dengan orang-orang yang kantor beda dan bidang pekerjaan beda? Satu hal yang menyatukan kami adalah passion for travelling, dan kami kenal dari perjalanan
ke perjalanan, ada yang sudah kenal lama, ada juga yang belum lama. Tapi wajar, petugas di kedutaan dan semua birokrasi lainnya memang harus selalu curiga.

Oke, cukup mengenai visa. Akhirnya kami berangkat!! Dengan segala konsekuensi. Salah satu teman kami bekerja di bursa, kekayaannya berkurang banyak karena investasinya di saham, dan dia tidak tahu apakah pulang-pulang dari Korea dia masih punya pekerjaan. Namun, tetap go ahead biar dibilang sinting sama temen-temannya jalan-jalan pada saat seperti itu... Dan seorang lagi teman yang lain mobilnya mogok, harus diganti apanya gitu, tetapi uangnya telah habis untuk membeli tiket ke
Korsel yang tidak murah (780 USD). Dia naik umum dulu sementara, tunggu nanti gajian lagi baru benerin mobilnya. Seperti inilah semangat teman-temanku yang luar biasa. Semua demi travelling. Pokoknya jalan!


to be continued

4 comments:

  1. hai2...makasih yaaa dah mampir2 hehehe...

    btw, mau dunk di-share foto2 di Korea-nya ;D

    btw, aku mirip Hana ya? hihihi...

    ReplyDelete
  2. hai mbak Nad.. makasih juga udah mampir di sini...foto-foto aku upload ke Facebook, tapi itu juga gak banyak, soalnya koneksi internet kurang mendukung untuk buka facebook hehehehe.. btw bukan dirimu mirip Hana, tapi Hana yang mirip dirimu...:)

    ReplyDelete
  3. halo mbak.. kok kita sama yah.. pengen ke eropa ngga jadi akhirnya memilih ke korea.. (tapi aku belum berangkat nih.. masih rencana)

    ada trip2 khusus ngga buat backpaker?

    terus kira2 habisnya berapa kah?
    tiket yang murah naek apa sih..
    hihihi maap ya banyak tanya :D

    ReplyDelete
  4. Halo Ghaya, salam kenal, aku mampir ke blog-mu, keren deh. Trip-trip khusus buat backpacker? Wah itu bisa jadi tulisan baru sendiri tuh heheheh. Sorry belum sempet untuk nyambungin cerita Koreanya. Actually untuk backpacker, kami udah coba mencari yang semurah mungkin, tapi kondisinya masih nyaman banget hehehe. Waktu itu sih habisnya gak sampai 15 juta. Tiket yang paling murah kami dapat waktu itu Malaysia Airlines, transit di Malaysia. Dan itu pun gak murah2 amat, 700-an. Good luck ya untuk perjalanannya, kalau butuh tips2 lagi mungkin bisa japri aja.

    salam,
    mei

    ReplyDelete