Google+ Followers

Saturday, February 21, 2009

Membayangkan Senja di Himalaya melalui The Inheritance of Loss

Cerita dalam novel ini berpusat di sebuah rumah di kaki gunung Kanchenjunga. Gunung Kanchenjunga di Himalaya adalah gunung ketiga tertinggi di dunia, dan sebelum ditemukan Puncak Everest sempat diyakini sebagai puncak yang tertinggi di dunia.

Kota kecil bernama Kalimpong tempat rumah itu berdiri, berada di daearah perbatasan yang bermasalah antara India-Nepal. Sebuah rumah tua yang akan dipotret secara sangat eksotis oleh majalah-majalah seperti National Geographic, menyimpan seribu cerita menarik dan mengharukan tentang umat manusia.


Kiran Desai, seorang penulis kelahiran India telah memberikan semuanya dalam buku ini: cinta, pergolakan politik, konflik rasialisme dan kenegaraan, humanisme, perjalanan manusia mengejar mimpi, kehidupan masyarakat post colonial (India setelah jajahan Inggris), serta kesenjangan dunia ketiga dengan dunia mapan.

Semua diramu dengan bahasa dan deskripsi yang sangat cerdas. Cara Desai melukiskan berbagai hal dan perasaan begitu orisinil, bahasanya kadang terasa aneh. Sampai-sampai aku merasa harus mencari buku aslinya dalam bahasa Inggris, khawatir kalau-kalau ada yang hilang dalam penerjemahan. Tetapi meskipun ada bahasa yang terasa janggal karena tidak biasa, buku versi bahasa Indonesianya tetap sangat keren dan justru malah menurutku bahasanya sangat antik, menarik.

Di rumah tua itu tinggallah tokoh-tokoh sentral dalam cerita: sang hakim dan cucunya Sai, serta seorang juru masak yang menjadi pelayan mereka selama puluhan tahun. Semua menyimpan cerita sendiri-sendiri yang tak lebih hebat dari yang lain. Masing-masing mempunyai warisan. Warisan perasaan kehilangan yang menjadi judul asli bukunya. Dalam versi Indonesianya lalu diterjemahkan dengan bebas menjadi Senja di Himalaya.

Sai seorang gadis muda yang telah kehilangan kedua orangtuanya sejak masih berusia sangat muda. Dia pun dipindahkan dari sebuah asrama Katolik dan tinggal bersama kakeknya, sang hakim, yang terpaksa menerimanya. Sai jatuh cinta pada Gyan, guru matematikanya yang mempunyai latar belakang yang sangat berbeda dengan dirinya. Gyan berasal dari keluarga miskin yang dengan susah payah mengusahakan pendidikan padanya, dan kemudian bergabung menjadi aktivis politik ketika kondisi negara dalam pergolakan.

Sang hakim mempunyai cerita sendiri tentang perjuangannya belajar di Inggris, pencarian identitasnya ketika kembali ke tanah airnya, bagaimana perlakuan orang Eropa yang keras terhadap seorang India telah menjadikan dirinya seorang yang pahit, kekejaman terhadap istrinya, hingga akhirnya dia menemukan cinta dan kenyamanan pada Mutt, anjing kesayangannya.

Sang juru masak yang mempunyai impian besar terhadap anaknya, Biju. Setelah beberapa kali menguji nasib dengan melamar visa ke Amerika, akhirnya Biju mendapatkan visa yang membukakan pintu Amerika kepadanya tetapi kemudian tidaklah bisa dengan leluasa dia pulang. Cerita tentang Biju kemudian membawa kita pada ratusan cerita lainnya tentang imigran gelap dari dunia ketiga yang mencoba membangun kehidupan yang lebih baik di negara impian Amerika. Orang-orang yang tak pernah dianggap penting oleh siapa pun dan bahkan tidak pernah terlihat.

Cerita ini dibuka dengan kacau. Opening yang berantakan membuat seorang pembaca yang tidak sabar dapat meletakkan buku ini dan melupakannya. Padahal, apabila Anda cukup sabar membaca cerita yang cukup datar tentang beberapa orang itu, serta cerita yang melompat-lompat tidak berurutan, maka Anda akan menemukan sebuah cerita yang sangat menakjubkan.

Kiran Desai menulis dengan sangat jujur, itulah yang menjadi kekuatan novel ini. Dia tidak menutup-nutupi cerita tentang India, tentang kemiskinan, tentang kengerian pernikahan yang dipaksakan, tentang kesepian seorang imigran, dan masih banyak lagi kejutan mencengangkan karena demikian apa adanya. Yesus dapat menjadi orang Hindu dan Budha bisa meninggal karena kebanyakan makan babi!!! Obrolan-obrolan yang akan membuat Anda tertawa terpingkal-pingkal.

Buku ini mendapat penghargaan Man Booker Prize for Fiction untuk tahun 2006. Penerimaannya di kalangan internasional begitu dahsyat. Jadi terpikir, bagaimana orang-orang di India sendiri menerimanya? Mungkin saja India tidak akan begitu sensi lagi karena saat ini India sudah semakin maju dan eksistensi serta kebesaran bangsa ini tidak bisa dianggap remeh.

Apabila openingnya kacau, bersiaplah untuk sebuah ending yang tragis.

No comments:

Post a Comment