Google+ Followers

Sunday, April 05, 2009

Cape No. 7: Benarkah Layak Sebagai Fenomena?


Cape No. 7 (海角七號) adalah salah satu fenomena Taiwan. Film ini adalah film kedua terlaris sepanjang masa setelah Titanic di Taiwan. Dia juga menyabet sejumlah penghargaan, di antaranya Best Narrative Film Award pada Louis Vuitton Hawaii International Film Festival 2008, penghargaan pertama Asian Marine Film Festival di Makuhari Jpeang, dan memenangkan tiga penghargaan---Grand Prize, best Music, dan Best Cinematography---pada Taipei Film Festival Juni 2008.

Film ini tentang dua kisah cinta yang terjadi pada waktu yang berbeda. Yang satu pada tahun 1945 ketika akhir masa penjajahan Jepang di Taiwan, dan satu lagi terjadi pada masa kini. Setting cerita di sebuah desa eksotis yang memiliki pantai dan resort yang indah, yaitu Hengchun.


Hubungan Jepang-Taiwan hingga kini selalu manis meskipun pernah terjadi penjajahan. Terjadi banyak pertukaran budaya di antara kedua negara tersebut. Musik, gaya berpakaian, bahasa, segalanya tentang Jepang terasa keren di Taiwan, terutama bagi kawula muda yang tidak pernah mengalami masa penjajahan. Bahasa Jepang bagi orang Taiwan nyaris seperti bahasa Perancis di New York, sebuah bahasa di tataran elit.

Kedua negara selalu saling menarik juga dalam hal pariwisata. Cape No. 7 salah satu film yang menurut saya secara tidak langsung menjual pariwisata Taiwan kepada Jepang. Dengan memasukkan percintaan antara pemuda Taiwan dan Jepang dari dua generasi, serta menyelipkan beberapa unsur Jepang di dalamnya: narasi surat cinta super romantis berbahasa Jepang (yang saya yakin romantis abis, meski terjemahannya lemah) dan aktor Jepang---sebagai salah satu daya tarik bagi penonton Jepang.

Sambil menikmati alur cerita film yang penuh cela di mana-mana, penonton disuguhkan keindahan Hengchun, pantai pasir putih dengan laut hijau muda yang permai. Ceritanya sebuah resort hendak mendatangkan penyanyi dari Jepang, namun unsur muspida kota tersebut menginginkan adanya bakat lokal yang tampil. Di situlah masalah dimulai, desa itu kekurangan bakat yang layak tampil, khususnya bagi penonton muda dan level internasional.

Akhirnya, si walikota/bupati/DPR/whatever itu mengadakan sebuah kontes pencarian bakat. Seorang pemuda pemarah yang ceritanya putus cinta atau apa, pulang dari Taipei ke ibunya yang tinggal di Hengchun. Singkat cerita, dialah yang terpilih menjadi vokalis band lokal tersebut. Panitia pencari bakat adalah seorang gadis Jepang bernama Tomoko, yang secara kebetulan yang tidak penting, bernama sama dengan seorang wanita Jepang lainnya yang 60 tahun yang lalu menjalin kisah cinta dengan seorang pemuda Jepang.

Film dibuka dengan narasi surat-surat yang ditujukan kepada Tomoko (tua), yang ditemukan oleh Aga, pemuda pemarah dari Taipei itu, karena selama di Hengchun dia bekerja mengantar surat menggantikan seorang tukang pos yang sudah tua. Karena alamat Tomoko tidak ditemukan, akhirnya Aga menikmati membuka satu per satu surat yang, pastinya, indah-indah itu. Saya yakin terjemahan yang saya baca dalam subtitles Inggris dari DVD bajakan pastilah sangat jauh dari aslinya apabila dipahami langsung dalam bahasa Jepang.

Surat-surat itu menyatakan penyesalan si pemuda, karena tidak pernah berani mengungkapkan cintanya kepada Tomoko. Surat itu baru dikirim oleh putrinya setelah dia meninggal. Tujuh surat yang bagaikan jatuh dari langit itu pun menemani hari-hari Aga yang berkutat dalam dateline yang diberikan Tomoko (muda) untuk menciptakan lagu serta mempersiapkan band yang dibentuk dadakan itu untuk siap pada saat pentas.

Tentu saja itu bukan tugas yang mudah. Aga yang tukang ngambek, ditambah dengan anggota band lain yang semuanya aneh-aneh, harus bekerjasama dan siap dalam waktu yang singkat. Di sinilah lucunya. Film ini seharusnya komedi, tetapi enggak lucu-lucu amat. Seharusnya kisah cinta, tapi juga tidak romantis-romantis amat. Yang unik dan kuat dari film ini adalah multikulturalnya (selain pemandangan pantainya).

Karakternya ada suku Hakka (tokoh Malasun), Hokkien/Taiwan (banyak sekali tokoh suku ini), suku asli (aborigin) Taiwan (tokoh Rauma), Jepang (Tomoko) yang masing-masing membawa ciri khas budayanya. Misalnya, orang-orang di kota kecil di Taiwan yang hobi mengunyah pinang. Kalau melihat cara negosiasi aparat Hengchun dengan pengelola hotel, atau melihat suasana pada waktu kontes pencarian bakat, Ya Tuhan, kita akan bilang, kampungan banget sih hehehehhe... tapi begitulah potret yang ada di kota-kota kecil Taiwan. Begitu juga gadis Jepang Tomoko, digambarkan agresif dan terlalu mudah untuk naik ranjang bersama Aga. Hmmm, mungkin memang begitu kawula muda Jepang saat ini?

Terlepas dari semua kekurangannya, film ini lumayan manis. Terutama ditutup dengan (tentu saja) akhir yang bahagia serta akhirnya grup band aneh itu berhasil menciptakan lagu-lagu yang manis. Buat yang suka film yang kuat musikalnya, pasti suka dengan film ini. Namun apabila sudah terlanjur mendengar kehebohannya, siap-siap untuk kecewa. Hah, gini doang? Kok heboh banget... Hehehe.

Meskipun setelah saya lihat lagi, dari penghargaan-penghargaan yang didapat, memang film ini kuat pada kategori-kategori tersebut: narasi, musik, sinematografi. Tetapi tetap saja, kalau dilihat angka penjualannya yang untung besar dari budget pembuatan yang rendah, pasti membuat kita ngiler dan ngiri kepada orang-orang yang terlibat dalam film ini.

5 comments:

  1. Liat dimana buuuu...
    Cari bajakannya gak nemu-nemu

    ReplyDelete
  2. Liat dimana buuuu...
    Cari bajakannya gak nemu-nemu

    ReplyDelete
  3. hallo gilasinema...
    ada kok di toko-toko dvd, aku sih nitip temen

    ReplyDelete
  4. Aku pernah nonton film ini, memang sih untuk mengerti cerita nya kita harus menyambungkan scene2 yg agak susah di pahami, tapi overall film ini menarik buat di tonton...

    ReplyDelete
  5. kayaknya seru...ada link.download nya kah?

    ReplyDelete