Google+ Followers

Monday, April 06, 2009

the day the old evangelist retired

Hari ini si pewarta agama yang sudah mulai kelelahan itu mengemasi barang-barangnya. Dunia tidak lagi membutuhkannya sebagai pemain utama. Dia sudah digantikan oleh tokoh-tokoh yang lebih muda dan dia mulai disebut dengan kata-kata seperti "... kita perlu mengenang jasa-jasa dia yang sejak dulu telah...dst dst"

Pastilah itu tanda-tanda alam, bahwa sudah saatnya dia pensiun, dan pergi ke daerah-daerah lebih kecil, yang mungkin masih membutuhkannya. Yang mungkin masih dapat menyorongkan lampu sorot ke arah dia.

Dahulu, bagaimana dia menerima pekerjaan ini bukanlah suatu kebetulan nasib. Dia memilih bekerja sebagai seorang pewarta agama karena dia suka berpikir bahwa dia berada sedikit lebih di masa depan daripada sebagian besar orang.

Pekerjaan itu titelnya pewarta agama/evangelist. Dan agamanya bernama internet. Pesan yang diwartakan adalah keselamatan hanya bagi mereka yang percaya. Barangsiapa tidak percaya, maka dia tidak akan selamat.

Agama itu menyebar dengan kecepatan badai. Tanpa disadarinya, kini agama itu sudah menjadi mainstream, bukan lagi trend masa depan. Seorang office boy di kantornya berkirim pesan melalui Yahoo Messenger mengenai titipan lontong sayur yang menjadi
sarapannya pagi ini. Kantornya baru-baru ini mempekerjakan seorang karyawan baru khusus untuk membuka Facebook tiap hari.

Dunia bergerak dengan cepat menyerap agama yang beberapa tahun yang lalu dikira baru, namun sesungguhnya hanyalah refleksi dari sebuah kebutuhan yang primitif. Tanpa disadarinya, segala di luar dirinya berubah secepat kilat sembari dia menjalankan pekerjaannya sehari-hari.

Dia masih ingat moment-moment berjaya itu, ketika dulu begitu sulitnya dia mengetuk pintu bagi orang-orang yang masih sinis terhadap internet, melecehkan internet, menomorsekiankan internet sebagai agama yang tidak diperlukan, belum saatnya, masih belum terlihat impact-nya, dan sebagainya, lalu ketika dia berhasil meyakinkan mereka dengan segala kompetensi evangelist-nya, dan membuat mereka percaya, itulah moment-moment tak terlupakan. Momen kejayaan seorang evangelist.

Hari ini tidak sulit lagi membuat orang percaya. Kehadiran internet telah begitu menguasai aspek-aspek kehidupan, sehingga orang-orang yang belum tahu dan belum percaya dibuat merasa hina dina dan malu, mereka bagaikan dinosaurus yang menunggu
kepunahan. Hingga hari ini, si evangelist tua masih menemukan orang-orang seperti ini. Terkadang membuat hatinya iba dan tak tega dengan orang-orang ini, namun selalu dia menghibur mereka, karena tidak ada kata terlambat untuk bertobat dan menerima agama ini.

Sambil merenungkan saat-saat jaya itulah si evangelist tua mendengar suara berkata padanya, "jangan mundur dulu." Masih banyak yang membutuhkanmu. Evangelist sejati tidak selalu membutuhkan lampu sorot. Keberhasilannya adalah penyebaran dan penerimaan agama ini sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya, hingga tidak diperlukan lagi fungsi evangelisasi, maka itulah saatnya untuk pensiun.

"Aku hanya pergi untuk sementara. Aku akan segera kembali," jawab si evangelist tua kepada suara itu.


No comments:

Post a Comment