Google+ Followers

Friday, April 10, 2009

Kematian Yang Manis

Dikelilingi teman-teman terdekat, dan melakukan hal-hal gila yang tidak sempat kita lakukan, kira-kira itulah gambaran banyak orang tentang bagaimana menghabiskan saat-saat terakhir hidup di dunia.



Secara kebetulan, atau mungkin juga tidak, aku menonton dua film ini dalam waktu berdekatan. Bucket List (2007) dan Les Invasions Barbares, sebuah film berbahasa Perancis yang memenangkan Best Foreign Film pada Oscar 2003. Heran kenapa baru sekarang kutonton, padahal DVD itu sudah enam tahun yang lalu aku beli.

Dalam Bucket List (Jack Nicholson, Morgan Freeman) dua orang penderita kanker yang sisa waktunya di dunia ini tidak sampai setahun, memutuskan untuk melakukan hal-hal yang selalu ingin dilakukan sebelum di-kicked in the bucket (meninggal). Carter (Morgan Freeman) seorang biasa bertemu dengan Edward Cole (Jack Nicholson) seorang milyarder yang kemudian bersedia membiayai seluruh perjalanan dalam list.

Dalam Les Invasions Barbares, Remy, seorang dosen, profesor flamboyan yang sangat mencintai hidup, menderita kanker yang sangat parah dan juga tinggal menunggu kematian. Di sini diceritakan bagaimana putranya---seorang agen kapitalis yang sangat sukses yang hubungannya tidak baik dengannya---kemudian memberikan sang ayah saat-saat terindah dalam hidupnya dengan menghadirkan teman-teman terdekatnya.



Apabila dalam Bucket List kedua tokoh setelah perawatan cukup segar dan kuat untuk menjalankan hal-hal dalam list, dalam Les Invasions Remy sudah sakit parah, harus terus berbaring ataupun diusung dengan kursi roda. Meskipun begitu, setiap hari teman-teman terdekatnya (yang datang dari berbagai daerah di dunia) datang mengunjunginya, dan mereka pun setiap hari berkelakar, soal seks, soal perempuan, soal hidup, soal perang, filsafat, aliran-aliran isme di dunia ini, dll percakapan kotor kaum terpelajar.



Ketika Remy meninggalkan kelas untuk terakhir kalinya untuk digantikan dengan dosen yang lebih muda, tampak sambutan dari mahasiswanya biasa-biasa saja. Dia juga tak sempat memenangkan penghargaan internasional yang katanya selalu jatuh pada orang Amerika. Pada akhir hidupnya Remy merasa gagal. Namun putranya tidak membiarkan dia meninggal dengan perasaan seperti itu.

Hari-hari terakhir Remy dihabiskan di sebuah rumah di pinggir danau yang sangat tenang, dengan dikelilingi teman-teman dekat yang setiap hari membuat dia tertawa, mereka bercanda pada malam-malam dengan api unggun. Betapa manisnya.

Banyak dialog yang cerdas dalam film ini, seperti juga halnya dengan Bucket List. Film-film tentang kematian memang selalu sarat pesan tentang kehidupan.

Aku menonton Bucket List dua kali (soalnya di HBO sih) dan tidak pernah bosan, khususnya dengan Jack Nicholson. Nicholson adalah kekuatan utama film ini, seperti film-film dia yang lain. Gaya bicaranya, bahasanya, kharismanya, never tired of Jack Nicholson. Khas Nicholson, dialog dalam film ini bagus-bagus, lucu-lucu.

Apa saja yang ada dalam Bucket List yang dibuat bersama Carter dan Cole?

The "Bucket List"

1. Witness something truly majestic
2. Help a complete stranger for a common good
3. Laugh till I cry
4. Drive a Shelby Mustang
5. Kiss the most beautiful girl in the world
6. Get a tattoo
7. Skydiving
8. Visit Stonehenge
9. Spend a week at the Louvre
10. See Rome
11. Dinner at La Cherie d'Or
12. See the Pyramids
13. Get back in touch (previously "Hunt the big cat")
14. Visit Taj Mahal, India
15. Hong Kong
16. Victoria Falls
17. Serengeti
18. Ride the Great Wall of China

Menarik kan listnya? Dalam film diceritakan bagaimana mereka mewujudkan list itu satu per satu dalam waktu yang singkat. Dan sambil melakukan itu, mereka berdua telah saling memahami dan saling belajar mengenai hidup.

Bukankah menyenangkan dapat mewujudkan semuanya sebelum kita meninggal? Begitu juga dikelilingi teman-teman terdekat dan orang-orang yang kita cintai dan telah mengisi hidup kita dengan keindahan. Kira-kira begitulah gambaranku, dan mungkin juga banyak orang, tentang, kematian yang manis.

No comments:

Post a Comment