Google+ Followers

Tuesday, April 21, 2009

Melancong ke Negeri Jiran



Mungkin sama seperti kamu, aku juga tidak pernah kepengen pergi ke Malaysia. Entah kenapa, sepertinya tidak ada yang menarik untuk dikunjungi. Tetapi karena mendapat ajakan dari teman, dengan tiket Airasia pulang pergi ke Kuala Lumpur hanya Rp 500.000, aku pun tidak mampu menolak. Ya, itung-itung refreshing dan tengok-tengok negeri jiran.

Step selanjutnya adalah menentukan tempat mana saja yang mau dikunjungi dan menghitung perkiraan biayanya. Untuk lima hari empat malam, destinasi yang kami pilih adalah: Melaka, Langkawi, Genting, dan KL tentu saja. Mengapa pilihan tempat-tempat ini? Well, nanti akan aku ceritakan satu per satu.

Dari hasil brosing-brosing, diperkirakan biaya sekitar 2 juta rupiah. Dan perkiraan itu ternyata tidak banyak meleset. Ya, bahkan tidak sampai segitu sudah cukup. Thanks to jemaat blogosphere tempat kami mendapatkan informasi tentang biaya-biaya tersebut. Karena itulah, maka aku juga mau share soal trip kami, barangkali bisa berguna buat yang mau trip ke Malaysia juga.

Hari pertama: KL-Melaka-KL-Kuala Perlis

Kami tiba di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal), terminal khusus airline-airline murah seperti Air Asia---bukan KLIA yang super keren---sekitar pukul 10.00 waktu Malaysia. Penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur memakan waktu 2 jam, dan ada beda waktu 1 jam, KL lebih cepat satu jam daripada Jakarta.

Dari LCCT banyak bus menuju downtown KL, letak bandaranya sekitar 1 jam perjalanan dari kota. Kami memilih tujuan Puduraya, sebuah terminal di pusat kota KL, tempat kita akan naik bus menuju Melaka. Dari airport ke Puduraya naik bus Star Shuttle 8 RM (Ringgit Malaysia).

Tiba di Puduraya, wahhh suasananya kayak terminal blok M. Gaduh dan penuh calo. Begitu turun bus langsung banyak aja yang nawarin. Tempatnya gak keren deh, jauh dari elit. Cukup membingungkan di mana harus membeli tiket dll, jadi harus banyak menggunakan mulut untuk bertanya.

Singkat cerita, kami pun telah membeli tiket bus menuju Melaka (yang perlu 2 jam perjalanan dari KL). Harga tiket 12,40 RM. Kami memilih bus Transnasional karena membaca rekomendasi dari internet, bus ini milik pemerintah, dan paling banyak pilihan trayeknya. Karena nanti malam langsung berangkat lagi ke Kuala Perlis (untuk menuju destinasi kedua: Langkawi) maka kami pun langsung membeli tiket pulang ke KL serta membeli tiket menuju Kuala Perlis.

Di terminal ini kita bisa menitipkan tas, tidak perlu membawa tas pakaian, bawa saja tas kecil seperlunya untuk jalan-jalan di Melaka. Toh nanti malam kembali lagi ke terminal ini untuk berangkat ke Kuala Perlis. Biaya penitipan tas 2 RM untuk satu hari.

Melaka

Mengapa memilih Melaka? Melaka adalah salah satu kota tua di Malaysia yang kaya dengan peninggalan bersejarah. Tagline dalam brosur wisata Melaka "Visit Melaka means visit Malaysia" karena di sini masih terpelihara dengan baik bangunan-bangunan kuno. Mirip-mirip daerah kota di Jakarta, tetapi di sini skalanya jauh lebih besar dan rumah-rumahnya terpelihara dengan baik. Tak heran bila dia dinobatkan sebagai salah satu World Heritage City oleh Unesco.

Pusat wisata Melaka adalah daerah Chinatown, di sini terdapat gereja merah yang terkenal itu, Christ Church Melaka. Dari terminal bus, kita naik bus lagi nomor 17 tujuan Chinatown. Di sekitar sini banyak yang bisa dilihat, kalau punya waktu bisa jalan-jalan mengeksplore bangunan-bangunan kuno di sekitarnya. Tetapi bila waktu terbatas saja, pastikan mengunjungi Jonker Street. Di jalan ini penuh dengan toko-toko eksotis serta makanan yang enak.

Yang enggak boleh dilewatkan adalah restoran Jonker88 yang menamakan dirinya The Museum Cafe. Di dalamnya udah kayak museum, penuh dengan barang-barang antik, foto-foto jaman baheula, dan yang terpenting: makanannya enak banget. Jangan heran kalau pas Anda datang sedang terjadi antrian panjang.

Di sini sistemnya self-service, bukan duduk dan memesan. Anda harus mengantri dan menunggu makanan selesai dibikin, lalu dibawa ke tempat duduk. Makanan yang spesial adalah laksa Baba (laksa dengan kuah kari berisi seafood, kulit tahu, dll, yummy banget) dan cendol (cobain cendol durian). Masih banyak pilihan desert lainnya, tergantung selera masing-masing sih. Yang jelas, enggak rugi deh pergi jauh-jauh hanya untuk nyobain laksa dan cendolnya. Laksa, karinya berasa banget. Dan cendolnya, bahan-bahannya semua terasa sangat asli dan tradisional, gula jawa yang digunakan (namanya adalah gula melaka, dan merupakan salah satu komoditas terkenal juga), kacang merah serta cendolnya, dan esnya menggunakan snow, mantep deh.

Sayangnya, waktu kami di Melaka tidak banyak. Mengingat bus ke Kuala Perlis jam 21.30, maka kami harus mengambil bus Melaka-KL yang pukul 18.00. Itu berarti kami hanya punya waktu 2 jam di Melaka, karena tiba di Melaka sudah pukul 16.00. Sayang banget deh, waktunya sangat singkat. Jadinya ya, aku memotret seperti orang gila. Apa aja dijepret, abis pemandangannya tidak sempat dinikmati, ya udah dibawa pulang aja dalam bentuk foto. Hihihi.

(Bersambung)

4 comments:

  1. Hai mbak,,nanya dong, kira2 kalo jalan2 sendiri di melaka itu aman ga ya untuk seorang cewek? aku sama temen2ku mau ke malaysia tp temen2ku pada mau ke genting instead of melaka, padahal aku pengen banget ke melaka dan rencanya mau coba jalan2 sendiri selama teman2ku yg laen ke genting, cuma sehari aja sih
    thx ya atas infonya,,,

    ReplyDelete
  2. Hallo mbak Nian, Wah aku belum pernah sendiri ke Melaka. Tetapi kalau dilihat suasananya sih, kayaknya cukup aman, apalagi cuman sehari, kayaknya gak papa deh. Asal jangan ke tempat2 yang sepi atau keluar malem2... kalau ke tempat wisata sih menurut aku relatif aman, tukang taksinya juga baik. Lagipula gak jauh kok dari KL, bisa bolak-balik setelah jalan-jalan di sana.

    ReplyDelete
  3. Mbak boleh mnt link jemaat blogosphere yg katanya menyediakan informasi ttg perkiraan biaya kl k KL?
    Thanks y^^.

    ReplyDelete
  4. Hallo cha, yang saya maksud jemaat blogosphere itu adalah blog-blog yang saya temukan waktu search tentang KL, banyak sekali, kebetulan tidak saya simpan.

    ReplyDelete