Google+ Followers

Friday, July 03, 2009

Yes, Internet changes the world, but when it's gonna happen here?

Mr. Nakka, bukan nama sebenarnya, baru saja datang dari Tokyo ke sebuah kota yang not-so-remote di Indonesia. One of the things he first learned about Indonesia, among other things, sayangnya adalah, koneksi internetnya yang, very, damn, slow.

"Could you help me check this page," kata Mr. Nakka suatu hari di telepon kepada saya, "Coz my internet connection is terribly slow here."

Wah... sama dong, dalam hati saya. Bedanya, saya yang sudah lama tinggal di daerah yang supposed to be not so remote itu, sudah terlatih, dengan speed internet seperti itu. Kami biasa melakukan seperti ini: Klik, lalu tunggu... beberapa detik, atau kadang beberapa menit. Lalu, in order to stay productive (karena kami tidak dibayar untuk duduk dan menunggu hingga page-page itu terbuka), maka kami pun melakukan pekerjaan lain. Membuka page yang lain, atau membuka beberapa task yang lain, yang saking banyaknya, hingga kami sering lupa apa yang sedang kami kerjakan atau page apa yang kami buka tadi. Tidak jarang hingga mendekati jam pulang, ketika kita mulai menutup jendela-jendela itu, barulah kita sadar, oh iya, gue lagi ngerjain ini.

Itulah salah satu gambaran survival mode yang kami lakukan untuk mengatasi internet di daerah yang not-so-remote ini.

Jadi, kembali ke Mr. Nakka, aku pun meng-klik page yang diminta si ganteng, yang menurut teman-teman mirip bintang film porno Jepang tapi kami biasa menyebutnya sebagai Takeshi Kaneshiro biar lebih gampang aja dalam sebuah percakapan. Setelah klik, aku pun menunggu. Bagi seorang yang sudah terlatih seperti aku, menunggu seperti ini bukan suatu hal yang aneh.

Terbayang olehku, Mr. Nakka pasti terus mengumpat menghadapi kecepatan internet seperti ini. Kami tahu bagaimana rasanya. Kami pernah tinggal di suatu tempat dengan koneksi internet yang lebih manusiawi. Koneksi internet yang wajar karena kita bisa membuka gmail, facebook, youtube, dan penyedot-penyedot bandwidth lain yang datang dari luar negeri itu, tanpa mendapatkan pesan "Network Timeout" berulang-ulang. Apabila kecepatan internet seperti ini adalah kondisi mainstream di Indonesia, maka aku merasa seperti seorang raja yang turun melihat kondisi kehidupan rakyat jelata ketika pindah dari koneksi cepat (baca: wajar) ke dalam koneksi internet yang seperti sekarang ini.

Aku dapat membayangkan apa kata Mr. Nakka meski dia terlalu sopan untuk mengatakannya. "Is this what you called internet??????" I think this is more like a training machine (for patience). I think I would have to go to yoga class or anger management training if everyday I have to confront this "speed" of Internet.

Demikianlah. Dengan sopan Mr. Nakka hanya bilang, ya, koneksi, itulah masalah dengan perkembangan internet di Indonesia. Dari tempat dia datang, misalnya, membeli barang di Internet sudah menjadi hal yang sangat biasa. Hampir sama dengan nonton TV di sini. Situs-situs e-commerce bertebaran dan memberikan persaingan yang layak untuk membuat sebuah ekonomi berputar. Nilai transaksi sudah tinggi, sehingga mereka pun mampu membayar iklan, yang juga nilainya sudah tinggi ketika yang kita maksud adalah iklan online.

Sampai ke point seperti inilah, kurasa baru bisa disebut bahwa internet telah mengubah dunia. Karena secara total perilaku konsumen, perilaku masyarakat, budaya, telah berubah. Di sini, meskipun telah terjadi banyak perubahaan/kemajuan, sudah banyak orang yang online setiap hari, minimal satu jam misalnya, tapi perubahannya belum cukup fundamental untuk menjangkau hingga ke akar-akar masyarakat. Maksud saya, dengan kecepatan rata-rata download 0,46 mbps dan upload 0,61 mbps, bagaimana kamu mengharapkan internet dapat mengubah dunia???

Masyarakat kita secara umum, budaya kita, sayangnya, masih didominasi oleh televisi. Televisi, yang penuh drama, masihlah influencer terbesar. Internet belum bisa menggeser kedigdayaan televisi. Itulah sebabnya, as much as I hate it, I have to watch television. Karena pekerjaanku yang berhubungan dengan marketing, aku tidak bisa menyuekin televisi. Sebab dari situlah kita bisa belajar tentang perilaku market secara umum.

Sebelum ada perubahan infrastruktur internet kita, saya rasa "internet changes the world" hanyalah term yang terlalu berlebihan untuk kita. I think we're gonna have to stuck with TV for a while.



3 comments:

  1. agree...damn! internet connection in Indonesia is so damn slow. I just convert my internet package from 1 GB quota (speed 1 Mbps) to unlimited but limited speed up to 512 kbps. And the result is I get damn not-so-average speed internet connection.
    The reason why I convert it is for each of month I always exceeded the quota about 500 MB but I have to pay the same amount as for 1 GB. Damn!

    ReplyDelete
  2. Hahahaha... gw banget tuh mbak Mei.
    gw srg ga fokus, krn sibuk ngecek satu2 window/tab yg gw buka, mn yg udah kelar loading. srgnya sih isi windownya putih doang :D

    internet memang mengubah gaya kerja kita dan bener2 sbg ujian kesabaran bagi org2 yg beriman. huehuehuehehe

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:46 PM

    org2 yg beriman --> orang beriman pun makin bertambah keimanannya dnegan internet heheheh...:D

    ReplyDelete