Google+ Followers

Friday, August 07, 2009

Pencak Silat Plus Jacky Chan dalam Merantau



Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah artikel yang sangat mengesankan di majalah National Geographic Indonesia tahun lalu tentang pencak silat. Dalam artikel berjudul Bertahan dalam Peradaban itu, Seno menceritakan bagaimana sulitnya pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia bertahan dalam gerusan gelombang globalisasi.

Membaca artikel itu membuat saya terkagum-kagum, betapa Indonesia memiliki warisan budaya yang demikian hebat. Ilmu silat ini bila ditelusuri telah diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita sejak ratusan tahun silam. Meski ada kemiripan dengan ilmu silat Tiongkok, ilmu silat tradisional yang tumbuh di Indonesia telah mengalami banyak perkembangan dan telah digubah kembali oleh para guru pencak silat tradisional sehingga telah menjadi milik bangsa Indonesia.

Gerakan-gerakan pencak silat sangat khas: cara memposisikan tangan, posisi kuda-kuda, cara melompat dan menendang, sebagian digambarkan dalam artikel itu. Namun lebih dari itu, pencak silat bukanlah semata tentang gerakan-gerakan untuk membela diri saja, di balik itu pencak silat mengajarkan banyak falsafah kehidupan dan sangat spiritual.

Betapa amat disayangkan apabila warisan budaya yang begitu luar biasa itu perlahan-lahan tergerus oleh perubahan zaman. Zaman yang berbeda memang menuntut perilaku yang berbeda. Definisi yang secara total berbeda tentang apa yang hebat dan apa yang tidak, apa yang keren dan apa yang tidak. Semakin hari semakin sedikit murid yang mempelajari pencak silat, perguruan-perguruan silat yang dulu pernah berjaya sulit bertahan karena masalah dana. Pemerintah pun tidak berbuat banyak untuk melestarikan kekayaan budaya yang satu ini.

Maka ketika menonton Merantau, terlepas dari segala kekurangannya, saya katakan, film ini bagus! Gerakan-gerakan pencak silat yang diperagakan oleh Iko Uwais (sebagai Yuda) kelihatannya bagus dan sangat menghibur. Adegan-adegan perkelahian tidak membosankan, bahkan keren. Tidak ada kesan dibuat-buat, malahan sangat kreatif dan smart. Dalam beberapa adegan penonton memberikan applause, termasuk saya, misalnya ketika adegan kejar-kejaran dengan motor, serta melumpuhkan beberapa penjahat di atas container. Koreografer adegan perkelahiannya mungkin sudah belajar dari Jacky Chan untuk membuat adegan perkelahian yang menyenangkan untuk ditonton, sehingga bisa saya katakan, mutu adegan-adegan ini tidak kalah dari film Hongkong maupun Barat. Tidak lebay ala Matrix, tapi tampak sangat powerful dan real, dengan segala sound effect yang mendukung.



Film ini bercerita tentang petualangan Yuda, seorang pemuda Sumatera Barat, yang harus berhadapan dengan sindikat penjualan manusia dalam “perantauannya” (yang singkat) di Jakarta. Sejak dari persiapan berangkat merantau hingga hari-hari Yuda di Jakarta dan juga setelahnya, semua adegan (kecuali adegan berantem) berjalan dengan terlalu lambat dan telalu banyak yang lebay ala sinetron. Itulah kekurangan film ini dan juga yang menyebabkan durasi film ini terlalu panjang (135 menit). Dengan mengurangi banyak adegan yang bertele-tele itu---seperti misalnya pandang-pandangan yang terlalu lama---film ini akan menjadi jauh lebih baik.

No comments:

Post a Comment