Google+ Followers

Tuesday, December 22, 2009

Bagaimana supaya tidak menjadi ayam kalkun



Tulisan ini bukan tentang ayam kalkun---yang belum lama ini terhidang di meja-meja makan di Amerika dalam perayaan Thanksgiving. Tulisan ini---lagi-lagi---tentang Black Swan. Maaf buat yang bosan, bukannya aku seneng banget dengan Black Swan, yang hebohnya juga udah lama, tapi kebetulan karena aku baru selesai membaca bukunya. Itu pun lama sekali baru kelar, karena itu aku pikir, dengan menuliskan sari-sarinya adalah salah satu cara aku belajar dan menyerap apa yang disampaikan penulis. Selain menulis untuk aku sendiri, aku juga menulis untuk seorang sahabat, yang menurutku dia perlu tahu mengenai beberapa point dalam buku ini, tetapi dia malas membacanya.



Dalam tulisan sebelumnya aku mengaitkan Black Swan dengan kekayaan. Aku khawatir bila ada teman yang tidak membaca bukunya, akan mengira Black Swan adalah tentang kekayaan. Padahal bukan. Black Swan tidak hanya untuk yang positif dan baik saja, tetapi juga sebaliknya. Sesungguhnya, Black Swan lebih tentang ayam kalkun.

Perhatikan kehidupan ayam kalkun. Setiap hari mereka diberi makan oleh makhluk baik hati bernama manusia sehingga mereka percaya, bahwa manusia ada untuk membahagiakan mereka. Namun pada suatu petang di hari Rabu sebelum Thanksgiving, datanglah makhluk yang sama dan sesuatu yang "tak terduga" akan terjadi pada sang kalkun, sesuatu yang akan membuatnya mengoreksi kepercayaannya yang terdahulu (tapi tentu saja sudah terlambat).

Pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan kalkun adalah: bagaimana kita dapat mengetahui masa mendatang, dari pengetahuan kita tentang masa lalu, atau, bagaimana kita dapat menggambarkan sifat-sifat sesuatu yang tidak kita ketahui (tanpa batas) berdasarkan hal-hal yang kita ketahui (terbatas)?

Keseluruhan bagian satu memaparkan keterbatasan kita, sehingga kita sama saja seperti ayam kalkun, kita tidak mungkin dapat mengetahui akan munculnya suatu Black Swan, seperti Google, peristiwa WTC, dll. Ini berkaitan dengan bagaimana cara kita memandang peristiwa-peristiwa masa lampau dan peristiwa masa sekarang serta distorsi yang muncul dalam persepsi itu.

Hal ini dilanjutkan lagi dalam bagian dua "Kita cuma tidak dapat membuat prediksi" di mana Taleb (sang penulis) membahas tentang kesalahan-kesalahan kita dalam berurusan dengan masa mendatang dan keterbatasan "ilmu-ilmu" yang kita pelajari.

Salah satu hal yang menarik pada bagian ini, Taleb membagi disiplin ilmu menjadi dua, yaitu yang mempunyai pakar dan yang tidak. Psikolog James Shanteau pernah dengan serius mencari tahu tentang hal ini dan menemukan adanya keteraturan: ada profesi dengan pakar yang berperan, ada juga profesi yang tanpa bukti bahwa di situ ada keterampilan. Mana saja itu?

Saya kutip dari bukunya:

Pakar yang cenderung menjadi pakar: penilik pertanian, astronom, pilot penguji, ahli tanah, master catur, fisikawan, matematikawan, akuntan, pemeriksa gabah, penafsir foto, dan analis asuransi.

Pakar yang cenderung menjadi ... bukan pakar: pialang saham, psikolog klinis, psikiater, petugas penerimaan mahasiswa, hakim pengadilan, konselor, penerima
pegawai, dan ini ditambahkan oleh Taleb: ekonom, peramal keuangan, dosen keuangan, ilmuwan ilmu politik, "pakar risiko", dan penasihat keuangan pribadi.

Apakah Anda melihat perbedaannya? Bisa dikatakan profesi yang pertama lebih banyak berhubungan dengan keterampilan. Profesi yang kedua lebih banyak berhubungan dengan pengetahuan.

Disiplin yang memerlukan pengetahuan, biasanya tidak memerlukan pakar. Dengan kata lain, profesi yang berurusan dengan masa depan dan mendasarkan studi pada masa lalu yang tak dapat diulang mempunyai masalah pakar. Lebih ekstrem-nya Taleb memberi contoh, dalam urusan-urusan tertentu, seorang profesor universitas atau seorang pakar di bidang ilmu tertentu, tidak lebih baik dibanding seorang pembaca rata-rata koran New York Times dalam mendeteksi perubahan-perubahan di dunia sekitar mereka.

Salah satu kebiasaan orang-orang di dunia korporat adalah membuat ramalan, prakiraan, atau semacam prediksi. Yang menyedihkan adalah, menurut Taleb, semakin
banyak pengetahuan kita maka kemampuan meramal kita semakin berkurang. Taleb malah menasihatkan agar kita berhenti membaca koran.

Nah apa yang harus dilakukan agar kita tidak menjadi ayam kalkun?

Taleb menasihatkan agar kita berhenti berusaha memprediksi segala sesuatu dan justru mengambil keuntungan dari ketidakpastian.

Contohnya: penulis skenario legendaris William Goldman konon pernah beseru: "Tak seorang pun tahu segalanya!" ketika sedang membicarakan prediksi tentang penjualan film. Goldman tidak suka membuat prediksi, tetapi dia tahu apa yang harus diperbuatnya agar filmnya sukses. Ia tahu bahwa ia tidak dapat meramalkan kejadian satu demi satu, tetapi ia sadar sekali bahwa yang tidak dapat diramalkan, yakni perubahan sebuah film menjadi film laris, akan sangat bermanfaat baginya.

Buku ini bukan buku panduan self-help yang penuh dengan nasihat praktis. Namun Anda harus memahami keseluruhan konsep Black Swan dan akhirnya dapat mengambil manfaatnya buat Anda sendiri. Buku ini komplit: ada nuansa sastra, ilmiah, psikologi, ekonomi. Membaca buku ini bagaikan menyelam ke dalam samudera pengetahuan sang penulis yang sangat dalam dan luas. Benar-benar sangat nikmat, sekaligus mengguncang iman!


No comments:

Post a Comment