Google+ Followers

Wednesday, December 30, 2009

Several Other Things about Taipei (Taiwan) (2)

Melanjutkan tulisan yang sebelumnya, berikut ini adalah daftar hal ke enam dan seterusnya mengenai Taipei, atau Taiwan secara umum.

6. Lotre: Di seluruh penjuru kota dan desa di Taiwan kamu akan melihat kios-kios yang menjual nomor undian (lotre) ini. Setiap minggu, bahkan satu minggu beberapa kali diadakan pengundian, yang merupakan salah satu acara dengan rating tertinggi di televisi.

7. Surga jajanan: Yup. Taiwan is the heaven of snack (xiao chi). Penjual makanan di pinggir jalan (street vendor) mudah dijumpai di mana-mana. Selain itu, di sana banyak pasar malam. Di pasar malam inilah pusatnya jajanan khas Taiwan. Mau apa juga ada: mulai dari makanan sejenis mie, sejenis goreng-gorengan, sejenis sop, macam-macam deh. Kalau ke sini, rasanya kurang afdol kalau tidak mengunjungi pasar malam atau ye shi dalam bahasa sananya. Saya pernah menulis untuk Majalah Tamasya mengenai hal ini, saya fokuskan tulisan saya pada pasar-pasar malam Taiwan dan juga jajanannya. Mengapa, karena bicara tentang Taiwan tidak akan lengkap tanpa membicarakan jajanan khas yang telah menjadi salah satu icon pariwisatanya.

8. They are highly creative: Ini berhubungan dengan makanan tadi, dan juga bisa ditarik lebih luas ke area-area yang lain. Menurut saya, orang-orang Taiwan kreatif sekali dalam menciptakan makanan baru. Kalau jalan di sana, akan ketemu makanan-makanan yang menurut kita aneh, seperti misalnya es krim yang ada sayurnya, atau semacam lumpia yang membungkus eskrim dan kacang, di dalamnya juga ada sayur. Café-café di sana pun designnya unik-unik, tempatnya kecil-kecil tapi terlihat asri dan menyenangkan. Bisa dibayangkan karena negara mereka kecil dan tidak punya banyak natural resources, maka kreativitas tinggi dan inovasi selalu dibutuhkan untuk survive.

9. Hot spring: Karena daerahnya yang mountainous, maka di Taiwan juga banyak tempat-tempat hot spring alami. Ini adalah salah satu yang harus dicoba kalau jalan-jalan ke sana. Tidak mahal, tariff mulai dari 150 NT sudah bisa berendam.

10. News is boring: Lagi-lagi, ini menurut saya. Berdasarkan pengalaman saya tinggal di sana, berita-berita di sana lebih santai. Tidak seperti kita yang selalu heboh, masalah politik, kriminal, dll. Di sebuah masyarakat makmur dan developed, tidak terlalu banyak kasus kriminal. Tidak ada huru-hara atau bom. Yang membahayakan mostly terkait dengan cuaca, seperti gempa atau longsor. Berita yang selalu diikuti semua orang adalah ramalan cuaca, terutama akan datangnya typhoon (taifung).

11. Mild weather: Di sini cuacanya asik. Musim dingin tidak terlalu dingin, masuk kategori Mild Winter. Paling dingin mungkin sekitar 10 derajat Celcius. Paling asyik adalah autumn, sekitar bulan Oktober pada saat saya berkunjung belum lama ini. Suhu rata-rata 20-25 derajat Celcius, sangat nyaman. Tidak panas dan tidak dingin. Perubahan cuaca agak ekstrem antara pagi dan malam. Kalau Spring banyak hujan, payung warna-warni membuat kota terlihat sangat cantik. Summer cukup panas, bisa mencapai 38 derajat Celcius. Tank top terlihat di mana-mana, dan orang-orang pun mengungsi ke tempat-tempat ber-AC seperti mal dan café.

12. Toko buku: Saya pernah menonton sebuah liputan di televisi tentang pertumbuhan toko buku di Taiwan yang sangat pesat. Liputan itu mengkonfirmasi dugaan saya, ternyata memang tingkat literacy di Taiwan sangat tinggi, dan masyarakatnya sangat suka membaca. Karena itu, toko bukunya besar-besar dan tidak jarang buka 24 jam. Kalau saya bandingkan dengan toko buku di tempat kita misalnya, ambil saja contoh Gramedia di Grand Indonesia yang termasuk paling besar, koleksi bukunya tidak banyak. Kalau diperhatikan, banyak koleksi yang diletakkan di beberapa tempat sehingga terlihat banyak. Padahal, bukunya itu-itu saja. Buku bahasa Inggris pun tidak banyak. Ya, mungkin kamu akan bilang, gak usah dibandingin kali, kan masyarakat kita masih berkembang, minat baca pun masih rendah. Well, itulah salah satu enaknya di negara maju.

Selain toko buku, perpustakaan umum pun banyak sehingga tidak perlu selalu membeli buku untuk mendapatkan pengetahuan. Sayangnya, tentu saja, sebagian besar buku berbahasa Mandarin. Buku English tidak banyak. Sebuah toko yang memfokuskan pada buku bahasa Inggris bernama Page One yang berdiri gagah di salah satu lantai di Taipei 101, kini harus menyusut lebih dari 50% size sebelumnya. Buku Mandarinnya pun akhirnya diperbanyak. Hal ini menunjukkan buku bahasa Inggris memang sulit, mungkin sama seperti di Indonesia, QB world tutup dan juga Kinokuniya di sini amatlah menyedihkan, size-nya tidak ada artinya dibanding Kinokuniya Kuala Lumpur misalnya. Para penerbit juga bekerja lebih cepat, misalnya tidak lama setelah heboh buku Free (Chris Anderson), sudah ada terjemahan Mandarinnya. What the Dog Saw (Malcolm Gladwell) dan Dan Brown yang baru (Lost Symbol) sampai saat ini kita masih tunggu terjemahan Indonesianya, tapi di sana sudah lama beredar di toko dalam versi Bahasa Mandarin. Ini beberapa contoh saja, lagi pula belum tentu buku-buku yang saya sebut akan diterjemahkan penerbit di Indonesia … hehehe

Sampai di sini dulu daftar saya, ada yang mau menambahkan? Silakan.

Tulisan selanjutnya akan membahas tentang tempat-tempat wisata di Taiwan, khususnya yang pernah saya kunjungi.

Bersambung


No comments:

Post a Comment