Google+ Followers

Monday, December 28, 2009

Taipei, my kind of city

Taipei is one of the cities I’ll always miss. When you finish reading this post, you’ll see why. Apart from any personal reasons, I think this is a city to love.

Tidak seperti Hongkong di mana semua orang selalu terburu-buru, atau Seoul di mana semua berdandan cantik (dan sedikit menor), Taipei adalah kota yang menyenangkan, lebih santai meskipun sudah sangat modern, dan orang-orangnya lebih casual dalam penampilan.

Dengan mudah kamu akan tahu, di MRT dan tempat-tempat umum, kebanyakan berbusana santai dan nyaman. Kontras dengan Seoul dimana kebanyakan lelaki mengenakan setelan suit dan wanita berdandan ala boneka Korea pada hari kerja. Di Taipei terlihat lebih banyak orang yang berbusana santai, dandanan pun biasa. Mereka terlihat sama seperti kita-kita, seperti ayi-ayi kita, mengobrol santai di kampung kita.

Dan ini satu lagi, di kota besar modern yang menjadi ibukota Taiwan itu, banyak berkeliaran orang-orang tua. These senior citizens dengan mudah terlihat di café-café sedang nongkrong bersama teman, di bis umum, MRT, seolah sebagai bukti hidup bahwa kota ini sangat nyaman, mudah, dan aman. Maksudnya, saking aman dan mudahnya sampai orang tua dengan tongkat pun bisa bepergian sendiri dan ngumpul-ngumpul seperti anak muda. Mereka tidak perlu takut nyasar, dirampok atau ditodong, misalnya. Tidak perlu diantar oleh anak-anak mereka.

Itulah one thing about Taipei yang akan membuatmu betah: highly convenient, dan aman. Sampai sekarang, untuk hal ini, saya belum menemukan kota lain yang setara, mungkin juga karena saya belum banyak bepergian.

Fasilitas transportasi di Taipei adalah salah satu yang paling convenient di dunia. MRT yang menjadi kebanggaan warganya, selalu on time dan dapat diandalkan. Setiap hari di sinilah ribuan warga Taipei masuk dan keluar dari pintu-pintu kereta listrik itu dengan gerakan cepat, namun tertib. Nah inilah yang menurut saya susah dicari di tempat-tempat lain. Masyarakat Taipei yang sangat tertib, hampir mendekati robotic, apalagi kalau dibandingkan dengan perilaku masyarakat Jakarta, wah, bagai surga dan neraka kali ya.

Misalnya, semua keluar dari MRT sesuai dengan tanda di lantai, jalur keluar dan jalur masuk (tidak ada pemisah), hanya sebuah gambar di lantai. Semua membayar dengan tertib kalau naik bis, padahal tidak dijagain. Tidak ada yang berani makan atau minum di MRT, atau duduk di kursi prioritas (yaitu diprioritaskan untuk orang tua dan wanita hamil). Bila kamu berani duduk, puluhan tatapan tidak ramah seolah menghukum kamu. Motor-motor berhenti di kotaknya di jalan bila lampu merah. Kota yang sangat-sangat patuh. Kalau mengingat perilaku masyarakat Jakarta yang selalu nyerobot, ini seperti surga, tapi kalau dipikir lagi, agak-agak terlalu neurotic gak sih? I mean, apa enaknya hidup ini kalau kita tidak melanggar aturan?

Saya mencoba menganalisa mengapa mereka begitu patuh. Mungkin ada hubungannya dengan teori Tipping Point, bila kepatuhan dan ketertiban itu sudah menjadi trend (mungkin awalnya dipicu oleh para influencer tokoh-tokoh masyarakat atau tetangga), maka kamu juga akan cenderung mengikuti. Siapa pun yang datang ke Taipei akan ikut-ikutan jadi neurotik, mungkin robotik. In a good way, tapi ya.

Teori kedua mungkin berkaitan dengan banyaknya kamera di tempat-tempat umum, di MRT sudah pasti ada, di lampu-lampu merah, dan di tempat-tempat umum lainnya. Sehingga, misalnya, kalau kamu parkir di tempat yang dilarang parkir, meskipun sudah lihat sekitar tidak ada polisi, bisa saja tiba-tiba kamu mendapat surat yang dikirim ke alamat kamu, dan kamu harus membayar denda sekian ratus ribu. Denda, itulah sepertinya yang sering ditakuti. Sehingga, mudah untuk melarang orang-orang Taiwan, misalnya, pada waktu naik boat di Sun Moon Lake, ada yang ingin naik ke lantai atas boat. Petugas melarangnya. Dia tanya kenapa gak boleh? Petugas tinggal jawab, karena kalau naik denda 60.000 NT, maka orang itu langsung “oh” lalu mengurungkan niatnya. Apakah kepatuhan itu terpicu karena denda? Mungkin juga iya, mungkin juga tidak. Karena pada banyak kepatuhan itu, hanya himbauan, tidak ada hukuman yang jelas (seperti tidak duduk di MRT), di sini terlihat bahwa mereka adalah masyarakat kota besar yang memiliki kesadaran tinggi. Yang menghormati orang lain. Ini pastinya adalah hasil didikan massa selama puluhan tahun, sehingga sebuah kota bisa menjadi begini.

Kembali ke angkutan tadi, biaya pun relatif tidak mahal. Naik MRT 15 NT-45 NT tergantung jarak. (1 NT saat ini sekitar Rp 300 rupiah). Dengan 45 NT kita sudah bisa sampai di tempat yang cukup jauh, seperti misalnya Dan Shui, salah satu tempat wisata menarik di Taipei. Mengenai tempat-tempat wisata ini nanti saya ceritakan di tulisan terpisah deh ya, kayaknya yang ini bakalan panjang. :D

Selain MRT, ada pula pilihan transportasi lain, yaitu bis kota yang juga sangat convenient dan aman. Di sini juga kamu bisa melihat kepatuhan dan ketertiban tingkat tinggi itu. Bis kota selalu berhenti di tempat yang sudah ditentukan, kamu harus menunggu di halte, kalau tidak, sampai mati pun tidak ada bis yang berhenti menjemputmu. Di semua halte informasi nomor-nomor bis dan jurusan sangat jelas. Sayangnya, semua dalam bahasa Mandarin tentunya. Nah, inilah yang sedikit merepotkan untuk turis.

Bicara soal turis, Taipei atau Taiwan secara umum sebenarnya cukup memudahkan buat turis. Banyak informasi untuk turis yang bisa diperoleh di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun kereta, stasiun MRT, dan tempat-tempat wisata. Brosur wisata amatlah sangat banyak, ini juga salah satu yang perlu diacungkan jempol tentang Taiwan. Ada yang bahasa Inggris, Jepang, dan Korea. Sayangnya bahasa Indonesia belum ada. Kalau ada, bukan jempol lagi, kita akan mengacungkan semua jari hahahaha.

Nah masalahnya ya itu. Untuk wisata mungkin belum cukup banyak alasan bagi turis Indonesia untuk ke Taiwan. Pemandangan alam termasuk mediocre. Apalagi dibandingkan dengan China misalnya, mostly tempat wisata alam berskala kecil. Namun yang hebat adalah pengelolaannya. Segala fasilitas yang dibuat oleh pemerintah sehingga tempat wisatanya lebih menarik, lebih nyaman dan aman, menyenangkan untuk dikunjungi. Masyarakat Taiwan banyak yang travelling. Tidak sulit bagi mereka bepergian dari kota ke kota, naik gunung, mengunjungi pelosok-pelosok Taiwan. Jalan-jalan fenomenal yang dibangun pemerintah Taiwan melintasi gunung-gunung (Taiwan is a mountainous place, banyak sekali gunung) cukup mengagumkan.

Bersambung


No comments:

Post a Comment