Google+ Followers

Wednesday, September 15, 2010

Susur Pantai Selatan September 2010 #2 (Pelabuhan Ratu - Pemeungpeuk - Cilacap - Nusakambangan)


10 September 2010

Setelah Tegal Beleud tibalah giliran saya yang mengemudi. Di antara kami semua tidak ada yang tahu bahwa setelah ini ternyata kami memasuki daerah yang lebih sepi, jalan yang lebih jelek, desa-desa yang less-developed. Bahkan jalan yang kami lalui begitu sepi, tidak banyak kendaraan lain yang lewat, sehingga kami selalu ragu dan kemudian bertanya bila ada yang bisa ditanyai, apakah benar ini jalannya? "Betul, cuman ini jalannya kok," begitu jawab orang-orang yang kami tanyai. Semua orang yang kami tanyai sangatlah baik dan tampak senang menolong orang asing yang butuh informasi.

Entah kenapa aku jadi teringat sebuah artikel di National Geographic Indonesia bulan Agustus tentang pulau Jawa pasca perang (1949). Dalam artikel itu ada tertulis tentang betapa ramahnya penduduk Indonesia. Ternyata sejak dulu bangsa kita adalah bangsa yang ramah, sangat baik kepada pendatang/tamu, tidak ada kecurigaan. Tidak seperti di negara-negara lain yang pernah aku datangi, memang mereka memberikan informasi apabila kita bertanya, tetapi tidak ada yang seramah penduduk Indonesia. Orang-orang kita ini tampak seperti sangat senang membantu dan menunjukkan empati yang tinggi kepada pejalan yang butuh informasi.

Karena jalan yang dilalui menjauhi Tegal Beleud semakin lama semakin jelek, akhirnya saya digantikan oleh teman yang lebih pandai menyetir. Jalan yang dilalui adalah jalan pasir yang tidak rata, banyak sekali kubangan. Di tengah daerah antah-berantah ini---kami pun tidak jelas apa nama desa tempat kami berada ini, rumah terlihat jarang-jarang, yang lewat pun jarang---kami bersyukur cuaca cerah. Langit sedang terang. Jalan yang sangat buruk, terlalu buruk untuk Livina kami yang malang. Saya deg-degan sepanjang jalan. Akhirnya, Livina kami terperosok. Salah satu roda masuk lubang yang cukup dalam, sehingga stuck di sana, tidak bisa bergerak ke mana-mana.

Somewhere di antara Tegal Beleud - Agra Binta, tidak banyak yang lewat. Beberapa motor lewat begitu saja ketika melihat kami yang sedang kebingungan, bagaimana cara menjalankan mobil ini. Akhirnya ada seorang pengendara motor yang berhenti dan menanyakan kenapa. Namun tampaknya dia juga tidak kuasa menolong, hanya memberikan saran agar didongkrak. Kami mencoba saran itu, tapi dongkrak yang tersedia di mobil hanya dongkrak kecil dan kami tidak kuat mengangkat mobil.

Akhirnya, seorang bapak-bapak pekerja perkebunan karet membantu kami. Dia bersama teman-temannya mengumpulkan batu untuk ditimbun di bawah roda. Namun cara itu tidak berhasil juga. Sebuah mobil akhirnya lewat, sebuah mobil Carry bak terbuka. Dengan menggoyang-goyangkan badan mobil serta sedikit dipaksa, dia berhasil melewati jalan rusak itu... kemudian pak sopir yang baik hati itu turun dari mobilnya dan membantu kami. Dia tampak mengamat-amati keadaan mobil, lalu dia pun menawarkan untuk mengemudikannya. Akhirnya, dengan kepiawaian tingkat tinggi dia berhasil mengeluarkan Livina 1.500 cc yang malang itu keluar dari keterperosokannya. Lumpur beterbangan ke mana-mana, beberapa orang yang menolong kami terciprat lumpur di muka, kasian... :(

Mereka semua terheran-heran, kami mau ke mana? Kalau menjawab "mau ke Dieng" mungkin mereka akan tambah heran lagi... jadi kami melihat salah satu kota yang cukup besar di peta adalah Sindangbarang, maka kami selalu menjawab tujuan kami adalah Sindangbarang. "Oh, Sindangbarang masih jauuuhh," demikian reaksi mereka.



Selanjutnya yang kami tanyakan adalah, apakah jalanan sepanjang jalan ke sana begini terus? Untunglah tidak. Mereka menjawab tempat kami terperosok itu sudah yang terburuk. Sisanya masih jelek, tapi tidak sejelek ini. Begitulah. Seandainya kami tahu begini kondisinya, tentu saja kami tidak akan memilih jalan ini, karena jalan ini bukanlah jalan untuk city car dengan cc kecil, seharusnya mobil yang digunakan adalah 4 wheel drive yang cocok untuk offroad. Yah, namanya juga kami tidak tahu sebelumnya...

Setelah lolos dari lubang yang dibilang terburuk itu, jalanan masih buruk. Kami semua deg-degan tingkat tinggi sepanjang jalan. Pak sopir yang menolong kami mengajarkan "jangan pakai gigi satu, pakai gigi dua, dan agak cepat." Begitulah cara teman kami berhasil lolos dari jalan-jalan pasir yang jelek. Pertanyaan yang selalu ada di kepala, jalan jelek ini sampai kapan ya? Rasanya seperti never ending, ada lagi dan ada lagi. Setiap bertemu lagi, kami berteriak "Again????" sambil menahan napas, berdoa, dan merasakan Livina kami dipaksa melewati jalan berpasir yang bukan jalan yang cocok untuk dirinya itu... Kasian... :(

Setelah jalan berpasir masih juga ada tantangan baru, jalan berbatu yang basah (sudah mulai hujan). Banyak kubangan di mana-mana. Di beberapa tempat sudah dibangun jalan baru dari beton, namun pendek-pendek dan letaknya ada yang di kanan ada yang di kiri. Sepertinya sudah ada rencana pemerintah daerah membangun jalan di tempat ini, namun entah bagaimana perencanaannya sepertinya sporadis, mungkin menutup bagian-bagian yang terburuk dulu. Hal itu menyulitkan kita yang lewat, karena kadang jalan beton itu terlalu tinggi dari jalan, tidak bisa naik-turun dengan leluasa.

Kira-kira satu jam kemudian (satu jam dari lubang terburuk) barulah ada harapan ketika memasuki kota kecamatan Agra Binta. Kami berhenti di Alfamart depan kantor camat Agra Binta. Baru pada saat itu kami tahu nama tempatnya, karena di peta tidak ada. Di peta tertulis Ciagra, jangan-jangan mereka ganti nama menjadi Agra Binta? Karena Ciagra terlalu mirip Viagra? Enggak tahu deh.

Orang yang melihat mobil kami langsung terpesona. "Dari mana, mbak?" Soalnya mobil kami bermandi lumpur di mana-mana. Sayangnya tidak difoto. Bahkan seorang bapak-bapak memberitahu kami tempat cuci mobil. Yah, sayang sekali pak, kami tidak punya waktu untuk cuci mobil.

Kami menumpang buang air di Alfamart. Sepanjang perjalanan Alfamart dan Indomaret selalu menjadi andalan kami, untuk mampir pipis, belanja seperlunya, dan bertanya jalan. Tampang kami stress semua setelah melewati jalanan buruk itu. Apakah selanjutnya jalan masih buruk? Itu yang selalu kami tanyakan. Alfamart dan Indomaret sangatlah friendly dan helpful kepada para traveler. Thank God for them.

Jalan Agra Binta - Sindangbarang sudah lebih baik, tapi masih tidak terlalu menggembirakan. Tetap stress karena di mana-mana masih ada kubangan. Hujan mulai turun menjelang sore. Hati terasa cemas khawatir mobil tidak dapat melalui jalan yang terlalu rusak. Sepanjang jalan kami tidak menemui Nissan Livina satu pun. Boro-boro Nissan Livina, mobil lain pun jarang. Kebanyakan yang lewat adalah motor. Aku jadi teringat sebuah judul buku, The Road Less Travelled...

Belakangan, setelah tiba di Jakarta, saya melakukan pencarian tentang tempat-tempat yang kami lalui. Ternyata Kompas pernah mengadakan ekspedisi Susur Pantai Selatan pada tahun 2009, dari Pandeglang, Banten hingga Banyuwangi, Jawa Timur. Ekspedisi ini salah satunya berhasil memotret ketertinggalan pantai selatan dibanding kota-kota di pantai utara Jawa. Yah, no wonder kalau kota-kota di sini tertinggal, apabila infrastrukturnya kayak begini.

Ketika memasuki desa-desa antah-berantah (yang jalannya jelek itu) tidak lagi terlihat pemandangan Lebaran yang meriah. Tidak ada pakaian bagus atau dandanan yang ngejreng. Hanya beberapa motor terlihat membawa rantangan. Mereka mengenakan pakaian biasa, kaos-kaos kumal (tidak tampak baru). Salah satu bapak yang menolong kami masih membawa parang dan pada pinggangnya dikalungkan sebuah botol berisi cairan berwarna putih. Sepertinya dia adalah pekerja perkebunan karet dan cairan di botol plastik itu adalah getah karet. Hari ini hari Lebaran, si bapak tetap bekerja. Mungkin tidak ada Lebaran buat si miskin? Hiks.

(bersambung)

7 comments:

  1. Anonymous5:25 PM

    seru banget ceritanya.... mei ak tunggu kelanjutannya....

    ReplyDelete
  2. @Anonymous, tuh udah aku upload the whole story hehehe nulisnya langsung semua sih, dikebut... kejar setoran... jadi sorry kalau bahasanya kacau hihihi

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:48 PM

    ayik euy bacanya soalah-olah saya ikut dalam adegan film petualangan ini,hehehehehehehe......,

    ReplyDelete
  4. Thank you for reading

    ReplyDelete
  5. Thank you for reading

    ReplyDelete
  6. Hi Mei
    I have just read your blog of the Sept 2010 trip and enjoyed it very much. At the end of January, myself and 2 friends will cycle from U. Genteng to P'daran. Do you know if the road from T.Beleud to Agrabinta is better now and if there any penginapan in that area ?
    Nigel H.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Nigel, thanks for reading my story (which is in Bahasa Indonesia). I'm sorry i'm not getting updated with the road T.Beleud-Agrabintana and about the lodging. I hope you find the information by now.

      Delete