Google+ Followers

Thursday, February 24, 2011

Black Swan: Melihat Dunia dalam Kepala Seorang Balerina Neurotik





Dunia dalam kepala Nina---seorang balerina di New York City yang diperankan dengan sangat baik oleh Natalie Portman---adalah tentang mencari kesempurnaan. Baginya, semua harus dilakukan dengan baik dan benar. Semua harus mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri untuk mencapai tujuan. Demi mencapai tujuan itu dia rela mengorbankan dirinya sendiri, seringkali mengesampingkan naluri dan insting-insting pribadinya sendiri.

Hasrat-hasrat primitif dan naluriah yang terkurung sejak lama---sejak kecil dalam kungkungan seorang ibu yang terlalu mengontrol---akhirnya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang mengganggu kestabilan jiwa gadis muda yang sedang mengejar puncak karier itu.

Kecantikan dan keanggunan, serta disiplin keras, mengantar Nina terpilih menjadi pemeran utama yang menarikan White Swan sekaligus Black Swan, peran yang katanya diincar semua balerina di seluruh dunia. Pelatihnya (Thomas) sebelumnya agak ragu memilih Nina karena kepribadiannya yang kaku dan tampak kurang menampilkan gairah dan greget dalam tariannya.

Dunia dalam kepala Nina berwarna kelam. Sejak awal suasana film muram dan mencekam. Didukung dengan musik dan cara penggambaran adegan, seolah penonton pelan-pelan digiring masuk ke dunia dalam kepala Nina, dunia yang gelap, penuh tuntutan, tekanan, tujuan, ambisi, dimana tak tersisa lagi ruang untuk bersantai dan bersenang-senang.

Banyak lorong gelap dalam adegan film: lorong-lorong rumah Nina, lorong-lorong stasiun MRT, lorong-lorong di tempat latihan ballet Nina, seolah menggambarkan secara puitis lorong-lorong hati Nina yang gelap.

"Relax," kata Lily, rekan sesama penari kepada Nina, menggambarkan apa yang rasanya ingin kita katakan ketika melihat Nina yang perfectionist.

Namun jangan khawatir. Jangan dulu mematikan DVD Anda dan menyalakan Cityville yang menawarkan kesenangan dan kesantaian sehabis Anda bekerja seharian di kantor. Sabar sedikit, Anda juga akan menikmati film ini seperti halnya saya.

Dunia dalam kepala Nina dilukiskan dengan indah. Bagaimana tidak, sepanjang film dihiasi musik kelas tinggi, penari-penari cantik berbadan bagus, tarian-tarian indah, dan bahkan dunia halusinasi Nina pun dilukiskan dengan puitis.

Batas antara mana yang nyata dan mana yang khayal menjadi tipis. (Apakah Nina benar-benar tidur dengan temannya, Lily? Apakah Nina benar-benar menikam Lily pada hari pertunjukan? Apakah Beth, si penari senior, benar-benar menusuk wajahnya sendiri dengan sadis, dan masih banyak lagi). Semua itu kemudian menjadi tidak penting. Dunia nyata dan metafora menjadi satu.

Semua melebur dalam puncak adegan yang klimaks. Pada malam pertunjukan yang ditunggu-tunggu dimana semua impian Nina menjadi kenyataan. Dan tujuan hidupnya pun tercapai sudah. Sebuah film yang, indeed, indah.

1 comment:

  1. yep, a very good review, like always. i found my back stiff from the beginning to the end of the movie. Natalie really deserves the oscar

    ReplyDelete