Google+ Followers

Wednesday, February 02, 2011

Wisata Cirebon (3)



Dari Keraton Kasepuhan kami berjalan ke Mesjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak persis di depannya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon yang dibangun sekitar tahun 1480 M atau pada masa Wali Songo. Di dalam mesjid ini ada sembilan tiang yang masih asli peninggalan dari jaman Wali Songo.

Era Walisongo (yang merupakan simbol penyebaran Islam di Indonesia) adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Karena itulah dalam arsitektur keraton maupun benda-benda peninggalan sejarah, kita dapat melihat sisa-sisa kebudayaan Hindu-Budha.

Setelah mendapat suasana kurang nyaman karena “ditodong” bapak guide dan juga peminta-minta di dalam museum keraton Kasepuhan, kami agak was-was ketika memasuki mesjid. Aku tidak masuk karena tidak tahu tata cara masuk mesjid. Teman saya masuk sendiri tetapi sebentar kemudian keluar lagi karena sudah waktunya shalat Lohor, pengunjung yang tidak berkepentingan pun harus meninggalkan mesjid.

“Bisa bahasa Indonesia?” tanya seorang bapak-bapak ketika melihat saya. Bukan pertama kalinya saya disangka turis Jepang. Apakah jarang turis Indonesia sendiri datang ke obyek wisata seperti ini?

Setelah tahu saya bisa bahasa Indonesia, si bapak menambahkan, “Kenapa tidak masuk? Masuk saja, gak papa kok.”

Iya, sih pak, males aja, kataku dalam hati. Soalnya sebentar lagi juga sudah harus keluar, pikirku.

Bapak yang ramah itu menceritakan tentang Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang menikah dengan putri dari Tionghoa, sehingga masih ada arsitektur keraton yang bergaya Tionghoa. Serta hingga kini masyarakat Tionghoa dengan suku-suku lain hidup berdampingan dengan damai di Cirebon.

Pada saat itu sahabat saya sudah keluar dari dalam mesjid. Karena sudah waktunya shalat Lohor maka kami pun harus meninggalkan mesjid.

Teman saya bercerita, karena penasaran dengan tiang-tiang mesjid yang katanya masih asli dari jaman Wali Songo, maka dia masuk hingga ke dalam dan memotret. Ketika selesai, orang-orang yang berada di sana meminta sumbangan, dengan cara yang sama, yaitu menunjuk ke kotak sumbangan. Wah...

Dari sana kami melanjutkan dengan mencari makan siang. Kami mendarat di nasi jamblang dekat pelabuhan Cirebon.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke gua Sunyaragi. Dari pelabuhan naik becak Rp 15.000.

Gua Sunyaragi sebuah cagar budaya yang unik. Dari jauh terlihat seperti candi, dengan halaman rumputnya yang luas memberi kontras yang cantik pada warna sisa gua yang kelam. Sekilas tempat ini mengingatkan saya pada Angkor Wat di Kamboja.

Gua Sunyaragi dibangun sebagai tempat beristirahat dan meditasi para sultan Cirebon dan keluarganya. Saat ini dibuka sebagai tempat wisata budaya, yang, maaf, tidak terlalu terawat.

Tarif masuk gua Sunyaragi per orang Rp 3.000. Di depan pintu masuk terdapat sebuah spanduk yang menghimbau para pengunjung menggunakan jasa guide agar mendapatkan informasi sejarah yang lebih detil. Well, sekali lagi, kami tidak merasa perlu guide, karena informasi dapat dicari di Google. Selain itu, kalau jalan diikuti guide rasanya kurang bebas kalau mau sesi foto-fotoan yang lama.

Kami memutuskan untuk duduk dulu di depan pintu masuk gua sambil bersantai minum teh botol. Duduk di atas tikar yang disediakan ibu penjual kami memesan salah satu makanan khas Cirebon yaitu kerupuk melarat, sambil memandang gua dari jauh dan berkhayal kami sedang berada di Kamboja.

Dari ibu-ibu penjual itu kami menggali informasi bagaimana cara ke makam Sunan Gunung Jati maupun ke gedung perundingan Linggarjati. Ternyata agak repot, karena harus pergi ke terminal, naik bus, dan cukup jauh. Karena kami berdua sangat tidak berpengalaman di kota yang tampaknya kurang ramah terhadap turis bodoh ini, selain waktu kami juga mepet, kami memutuskan untuk menyisakan kedua tempat bersejarah itu untuk kunjungan berikutnya.

Karena masih punya banyak waktu, maka kami pun leyeh-leyeh di atas tikar itu. Sambil mencari informasi, selanjutnya yang dapat dilakukan adalah berbelanja, mencari oleh-oleh khas Cirebon. Sms sana sini ke teman yang orang Cirebon, kami memperoleh informasi bahwa oleh-oleh Cirebon dapat dibeli di dekat PGC (Pusat Grosir Cirebon). Oke, berarti destinasi selanjutnya adalah PGC setelah menjelajah gua Sunyaragi.

(bersambung)

2 comments:

  1. mungkin bakal lebih seru kalau tempat wisata cirebon dilengkapi gambar :) ... being better

    ReplyDelete
  2. Betul, sorry blm sempat upload fotonya. Foto di blog Arham bagus tuh...

    ReplyDelete