Google+ Followers

Wednesday, May 04, 2011

Merayakan Paskah di Manado





Sungguh beruntung bisa berkunjung ke kota Manado pada saat Paskah. Barangkali dapat juga dikatakan, inilah saat terbaik untuk mengunjungi ibukota Sulawesi Utara itu.

Kami mendarat di bandara internasional Sam Ratulangi hari Rabu (20/4/2011) siang, empat hari sebelum hari raya Paskah (Minggu). Saya bersama rombongan tour ziarah dari gereja. Setelah dipikir kemudian, mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk merasakan suasana perayaan Paskah dengan lebih mendalam selain mengikuti rombongan tour ziarah.

Kota Manado (dan beberapa kota lain yang kami kunjungi di Sulut) menampilkan wajah yang berbeda untuk menyambut Paskah. Suasana seperti ini tidak pernah saya jumpai di kota mana pun di Indonesia.

Meriahnya perayaan Paskah bagaikan perayaan tujuhbelasan, di mana setiap gang menghias dirinya. Di gerbang setiap gang terdapat papan ucapan besar-besar bertuliskan “Selamat Paskah.” Partai-partai politik berlomba memasang reklame berisi foto dirinya mengucapkan selamat Paskah.

Anda bisa menemukan salib hampir di mana-mana, di depan gereja, di depan rumah orang, di pinggir jalan. Ukuran dan tampilan salib berbeda-beda, ada yang besar berwarna putih, ada yang berwarna merah. Ada yang simple saja dari kayu kecil berwarna hitam.

Yang paling unik dan menyentuh adalah di depan rumah-rumah penduduk dipasang lampion berbentuk salib berwarna merah yang dirangkai dari botol air mineral bekas yang dicat warna merah. Pada malam hari lampion-lampion ini akan dinyalakan sehingga memberi nuansa yang sangat indah dan meriah.

Coba bayangkan di setiap gang yang kita lewati di kota ini, ada deretan lampion salib berwarna merah, ada juga yang berwarna kuning, dan biasanya dalam satu gang itu kompak warnanya. Sungguh meriah bagaikan perayaan Tahun Baru!

Di desa Kawatak, sebuah desa yang kami singgahi antara Tomohon dengan Manado, pemandangan yang langsung mencolok mata adalah banyaknya gereja yang kami lewati di sepanjang jalan. Baru sekitar 15 meter, ada sebuah gereja lagi, dan gerejanya bukanlah kecil-kecil, tetapi cukup besar. Tidak heran, ternyata di sana masyarakatnya 98% beragama Katolik.

Di pinggir jalan di desa ini (begitu pula beberapa tempat lain yang mayoritas Kristen/Katolik), penduduk memasang tanda salib dari kayu hitam yang sederhana dan melingkarkan sebuah selendang ungu di tangan salib tersebut. Selendang ungu adalah lambang masa prapaskah di gereja Katolik.

Di desa Kawatak inilah kami mengadakan misa Kamis Putih bersama penduduk setempat. Gerejanya sangat unik, eksotik, berada di tengah sawah, dan ditopang kayu-kayu besar sebagai tiang di sisi kanan dan kiri. Gereja itu hanya tertutup di bagian atas/atapnya saja, sisi kanan kirinya terbuka, hanya ditopang dinding dari kayu-kayu besar yang langsung dari pohon itu (tidak dipoles atau diolah terlebih dahulu).

Ketika kami mengadakan misa, hujan turun, lalu disusul mati lampu ketika misa hampir selesai, wah benar-benar menambah suasana dramatis, tak terlupakan!

Perayaan Jumat Agung tak kalah istimewa. Kami mengadakan misa Jumat Agung di Paroki St Antonius Padua, di Tataaran, Tondano. Di gereja ini perayaan Jumat Agung sangat special dimana terdapat prosesi jalan salib Yesus yang benar-benar dipentaskan. Dimulai dari sebuah panggung dekat gereja, prosesi itu kemudian berkeliling kota sepanjang kira-kira 3 km yang diikuti oleh hampir seluruh masyarakat kota tersebut.

Dimulai pukul 12 siang, saat matahari sedang terik-teriknya, sekelompok orang memerankan drama penyaliban Yesus, dimulai dari pengadilan Pilatus. Dari sana sang pemeran Yesus memanggul salibnya, benar-benar berjalan selama 3 jam dalam prosesi jalan salib (14 perhentian). Prosesi ini diikuti hampir satu kampung, sambil berdoa dan bernyanyi sesuai alur jalan salib. Perhentian-perhentian dibuat di rumah penduduk. Tentu saja kami sebagai turis dan peziarah ikut serta dalam prosesi.

Prosesi diakhiri dengan misa Jumat Agung pukul 15.00 di gereja yang penuh sesak. Belum pernah aku melihat gereja yang begitu penuh, berdesak-desakan, suasana menjadi tambah panas karena hampir semua mengenakan pakaian hitam-hitam dan ungu (mewakili perasaan duka karena mengenang wafatnya Yesus Kristus).

Keesokan harinya, koran Manado Post menurunkan berita utama dengan foto yang sangat besar, foto seorang pemeran Yesus yang benar-benar dipaku tangan dan kakinya, di Manila, Filipina. Di Tataaran kemarin dalam prosesi, Yesus benar-benar dicambuk dan berdarah-darah, namun bukan dengan cambuk dan darah sungguhan. Meskipun begitu, tidak mengurangi emosi yang ditimbulkan pada penonton dan peserta prosesi.

Misa Malam Paskah berlangsung di Katedral Manado, sebuah katedral yang megah di tengah kota Manado. Misa ini berlangsung Sabtu malam pukul 23.00 hingga pukul 02 pagi hari Minggunya. Kami semua kelelahan dan mengantuk saat misa ini gara-gara rekreasi pagi harinya di Bunaken.

Yang berbeda dalam misa Malam Paskah ini---setidaknya dibanding di Jakarta---setelah selesai misa, umat berbaris mengantri untuk mengucapkan Selamat Paskah kepada pastor satu per satu. Setelah itu masing-masing mendapatkan satu botol air mineral dan sebuah lilin yang telah diberkati. Barulah kami tahu pada saat itu mengapa ada banyak kotak-kotak air mineral di setiap gereja yang kami datangi sejak beberapa hari yang lalu.

Itulah kegiatan rohani yang kami lakukan, selain satu sesi lagi---terdiri dari doa pagi dan jalan salib---di rumah retret JSSM Tomohon yang sangat keren. Sisanya, jalan-jalan ke tempat wisata.

Tulisan ini sudah telat, sudah lewat moment-nya, karena itu saya tulis buru-buru. Well, better late than never, saya sempatkan nulis di tengah kesibukan dan ketegangan mempersiapkan seminar besok. Moga-moga dalam postingan berikutnya bisa bercerita lebih banyak melalui foto-foto. Tunggu ya!

5 comments:

  1. wah, mana foto2nya....

    ReplyDelete
  2. hahaha sabar mu... harus dipotong2 dulu... blm sempet nih hiks... tunggu ya, abis seminar, pasti gw posting!

    ReplyDelete
  3. Anonymous12:20 PM

    wah pasti berkesan banget ya Paskah di Menado. Kebayang sedihnya pas Jumat Agung. Nangis berapa ember Mei?? :) Ditunggu fotonya ya!!!!! --Lia--

    ReplyDelete
  4. sippp sabar menunggu ya Li.. hehehe

    ReplyDelete
  5. Anonymous1:17 PM

    3 th lalu sy ke manado waktu paskah memang unik salib2nya warna merah2 dan waktu malam menyala...pokoknya unik bgt...dan yg bikin ok sepanjang jalan n banyak bener di tiap rmh ada

    ReplyDelete