Saturday, October 08, 2011

Social Media

Social Media adalah jembatan yang menghubungkan digital dengan mainstream, eskalator yang menurunkan digital dari langit. Digital telah menjadi mainstream berkat social media.

Sebenarnya social media bukanlah hal baru. Social media adalah jargon marketing belaka, istilah yang dibuat untuk membungkus fenomena situs-situs jejaring sosial yang semakin besar.

Besarnya social media membuat sebagian kalangan (awam) melihat digital hanya sebagai social media. Hanya social media yang kemudian asyik untuk dipercakapkan, seksi untuk dijual. Orang-orang keren, orang-orang asyik ada di social media. Orang-orang iklan, orang-orang PR menguasai social media.

Hingga kemudian, agency digital pun di-hire, almost merely about social media. Padahal yang namanya digital tidak sama dengan social media. Social media adalah sebagian saja dari media digital. Social media kemudian lebih banyak dikawinkan dengan kegiatan offline daripada dengan kegiatan online lainnya.

But that’s OK karena cepat atau lambat batas antara online dan offline akan semakin tipis. Social media dan digital bukan such a big deal lagi, bukan hal yang perlu digembar-gemborkan karena sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

Dia menjadi cara baru kita berkomunikasi, cara baru kita berkolaborasi, cara baru kita berkomunitas, cara baru bagi kita untuk menampilkan diri. Suatu hari dia akan menjadi sangat biasa sehingga kita lupa telah pernah terjadi sebuah revolusi.

Meskipun sudah begitu, masih akan ada orang yang setia dengan cara lama. Seperti dulu waktu saya masih kecil, ketika softlens hadir untuk pertama kalinya, saya sempat mengira kaca mata akan punah. Semua orang akan ganti menggunakan softlens. Ternyata, hingga kini masih banyak juga yang mengenakan kaca mata. Begitu juga halnya dengan social media.

Orang-orang akan menggunakannya sesuai kebutuhan. Orang-orang akan menemukan cara mereka sendiri dalam bersosial media, sama seperti dengan tools-tools lain dalam hidup ini.

Social media adalah salah satu tools juga untuk membantu kita melihat dunia. Meski pada awalnya ketika masih baru semua ingin mencoba, tetapi kemudian akan terlihat pola yang berbeda-beda pada setiap orang dalam penggunaan tools-tools social media. Seperti halnya ada yang memilih pindah total ke softlens, ada yang tetap setia pada kaca mata, ada juga yang menggunakan dua-duanya. Semua itu oke-oke saja.

Social media bukan dibuat untuk merumitkan hidup kita, tapi sebaliknya. So, enjoy aja...

0 comments:

Post a Comment