Google+ Followers

Monday, May 28, 2012

Wakatobi via Kendari: The beauty of adventure


Surga mencecerkan sebagian keindahannya ke bumi, sebagian yang melihat puncak gunung mengaku melihat surga, sebagian yang sudah melihat dasar laut mengatakan hal yang sama. Rumah-rumah penginapan wisata berlomba memberikan suasana yang menyerupai surga dengan nama-nama seperti Paradise, Heaven, Nirwana… Banyak yang berteriak Surga dan mengalami perasaan spiritual ketika melihat keindahan tiada tara yang hanya surga kata yang layak untuk melukiskannya---meski tak seorang pun dari kita yang sudah melihat surga.

Keindahan surgawi tercecer di mana-mana di bumi. Ada yang telanjang begitu saja di depan mata, tapi ada juga keindahan yang hanya tersembunyi bagi orang-orang yang mampu mencapainya. Keindahan puncak gunung yang sulit ditaklukkan hanya tersimpan untuk mereka yang pemberani. Keindahan bawah laut dalam menanti para penyelam sejati yang mencarinya hingga ke mana pun di ujung dunia. Para pencari surga dunia rela membayar mahal---perjalanan jauh dan sulit, resiko tempat yang tidak familiar, bahaya keselamatan diri maupun kesehatan, dll---demi melengkapi titik-titik dalam peta dunia yang harus dilihatnya.

Ada lagi keindahan yang tak telanjang, tetapi harus dirasakan dan mungkin tidak semua dapat merasakannya. The beauty of adventure. Keindahan sebuah petualangan. Indahnya bertualang ke tempat baru dan asing, mengalami ketidakpastian, mengalami yang jarang dialami orang-orang lain, mengalami yang penuh resiko/bahaya, pengalaman bersama dengan orang-orang lokal di tempat tujuan yang mempunyai latar belakang dan kebiasaan yang berbeda dengan kita.

How to get to Wakatobi

Wakatobi adalah sebuah destinasi wisata bawah laut yang sangat terkenal di Sulawesi Tenggara. Namanya harum hingga ke manca negara karena kekayaan biodiversity yang ada di bawah laut tersebut. Nama Wakatobi diambil dari singkatan nama keempat pulau terbesar dalam kepulauan yang menjadi satu kabupaten tersebut, yaitu Wanci (Wangi-Wangi), Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Keempat pulau ini juga berurutan jaraknya dari pulau Sulawesi, mulai dari yang paling dekat Wanci (Wangi-Wangi) yang menjadi pintu gerbang Wakatobi hingga yang paling jauh Binongko. Karena letaknya yang paling jauh dalam rentetan Wa-ka-to-bi, orang Binongko sering berseloroh "Jangan pernah mengaku sudah ke Wakatobi apabila belum sampai ke Binongko."

Ada berbagai cara mencapai Wakatobi dari Jakarta:

1. Dari Jakarta langsung Wakatobi (ternyata ada. Express Air tujuan Wanci. Cek dulu jadwal penerbangannya, dan ada singgah di Makassar).

2. Via Makassar, ini jalur yang lebih populer digunakan, karena lebih banyak penerbangan ke Wanci.

3. Via Kendari. Dari kendari ada penerbangan ke Wanci dan kapal laut (Kendari-Wanci, atau Kendari – Bau-bau lalu disambung dengan Bau-bau – Wanci).

Perjalanan kami ke Wakatobi dengan memanfaatkan long weekend (17-20 Mei 2012) yang lalu terjadi secara cukup mendadak. Berawal dari sebuah panggilan telepon dari teman yang panik karena mengetahui tanggal 18 Mei adalah hari libur nasional. Kami pun segera mencari tiket yang (masih) tidak mahal pada long weekend itu, sambil mendiskusikan beberapa destinasi yang hendak kita tuju. Dalam waktu beberapa jam pilihan jatuh pada Kendari (sebagai cara menuju Wakatobi) karena pada waktu itu tiket pp Jakarta-Kendari belum selangit. Kami dapat tiket pp Rp 1,7 juta. Sebagian besar destinasi wisata top Indonesia sudah selangit harga tiketnya dan sebagian besar juga sudah penuh. Mengapa Kendari “masih (relatif) normal?” Entahlah. Mungkin masih tidak terlalu popular, sebagian besar menuju Wakatobi melalui Makassar, atau direct dari Jakarta.

Karena dari Kendari, maka alternatif transportasi yang tersisa bagi kami untuk mencapai Wakatobi adalah naik pesawat (kecil) dan kapal laut. Ada dua maskapai yang melayani penerbangan singkat (sekitar 40 menit) ini yaitu Express Air dan Susi Air. Dengan kapal laut ada dua pilihan, langsung Kendari-Wakatobi, atau Kendari – Bau-bau, lalu disambung dengan Bau-bau ke Wangi-wangi (Wakatobi).

Karena mendadak, kami tidak mendapat tiket pesawat dari Kendari ke Wakatobi, tetapi mendapat tiket yang sebaliknya. Pesawat Express Air memang tidak terbang setiap hari dan juga harus dipesan dari jauh-jauh hari. Dan tentu saja tidak akan menarik apabila kami (hanya) naik pesawat pp. Judulnya tidak akan jadi petualangan apabila kami tidak mencoba naik kapal laut dari Kendari ke Wakatobi. Mungkin juga kami secara diam-diam dan bawah sadar berharap kehabisan tiket pesawat tersebut.  

Kendari - Bau-bau - Wangi-Wangi

Petualangan pun dimulai. Pesawat paling pagi dari Jakarta ke Kendari adalah pukul 05.00 (kami menggunakan Lion Air). Penerbangan ini ditunda 1 jam (dengan pemberitahuan sebelumnya) sehingga berangkat 06.00. Penerbangan ditempuh dalam waktu 3 jam, ditambah perbedaan waktu Kendari dengan Jakarta, kami tiba di Bandara Haluoleo Kendari pukul 10.00.

Tiba pukul 10, maka tidak mungkin lagi menumpang kapal Kendari-Wakatobi yang berangkat setiap pukul 09.00 dan baru tiba di Wangi-Wangi sekitar pukul 19.00. Pilihan yang tersisa adalah kapal dari Kendari ke Bau-bau (5-6 jam) lalu disambung dengan kapal malam (overnight) dari Bau-bau ke Wangi-Wangi yang berangkat pukul 21.00 dan tiba di Wangi-wangi keesokan harinya pukul 07.00. Wow… what a long way. Dan tidak ada cara memesan transportasi ini di awal, harus dibeli on the spot.

Setelah singgah di sebuah restoran khas Kendari (yang ditandai dengan cara makan prasmanan, menyediakan sinonggi makanan khas Kendari) dan menuntaskan rasa lapar yang amat sangat (tidak ada yang sudah sarapan pagi itu dan pada kurang tidur karena berangkat subuh-subuh) serta membungkus bekal untuk makan malam di kapal, kami pun beranjak menuju Pelabuhan Kendari.

Di pelabuhan kami menunggu datangnya kapal sambil mengobrol. Di depan pelabuhan ada beberapa penjual buah seperti apel, anggur, dan jeruk. Sesuai tips yang kami peroleh dari Pak Juffri (pengelola penginapan di Pulau Hoga tempat tujuan kami---Anda bisa menghubungi orang ini bila Anda ke Wakatobi) kami pun membeli sedikit apel dan jeruk untuk perbekalan selama berada di Pulau Hoga.

Kami mendapat tiket kapal Express Cantika yang berangkat pukul 15.00. Agak simpang siur mengenai keberangkatan ini, ada juga yang bilang jam 13.00 karena itu sejak jam 12.00 kami sudah berada di pelabuhan. Sekarang saya mengerti bahwa jadwal keberangkatan dan kedatangan kapal tidak bisa 100% exact, karena sangat tergantung pada kondisi ombak, dimana saat ini ombak sedang tinggi karena pengaruh angin timur. Tips: ternyata bulan Mei bukanlah bulan yang baik untuk mengarungi lautan di bagian timur Indonesia ini. Kecuali Anda sudah terbiasa dan tidak akan mabuk laut. Bila tidak, siapkanlah Antimo.

Saya sendiri biasanya tidak mabuk laut, karena itu tidak persiapan dengan minum obat anti mabuk. Tidak disangka, goyangan kapal sangat aduhai. Kapalnya sebenarnya bagus, kapal ini jenis speedboat yang mirip dengan yang digunakan untuk penyeberangan Batam-Singapore. Kami mendapat kelas Eksekutif (harga tiket Rp 122.500) dengan dua deret kursi-kursi empuk, masing-masing 6 kursi dalam satu deret. Di depan deretan kursi-kursi itu ada dua buah televisi (yang memutar film Shaolin Soccer---serasa di pesawat deh) dan alat pendingin ruangan (air cooler). Namun karena kapal tertutup, suasana sangat panas meski sudah dikasih pendingin yang tidak memadai. Baru sekitar satu setangah jam digoyang (goyangan kapal demikian aduhai hingga sulit bagi kita berjalan di kapal tanpa berpegangan pada sesuatu) saya mulai merasa tidak nyaman. Muka menjadi pucat, merasa tidak enak, keringat dingin pun bermunculan. Sebuah plastik pun segera saya siapkan di tangan.

Tidak berapa lama kemudian memang saya muntah semuntah-muntahnya. Ini agak mengerikan untuk diceritakan karena isi perut keluar dengan hebohnya melalui mulut dan bahkan hidung. Saya meringkuk saja di pojokan tempat duduk saya, sibuk sendiri bersama plastik dan tissue, untung tidak ada yang memperhatikan. Setelah urusan selesai, teman saya memberi saya minyak angin dan Antimo. Saya pun tetap meringkuk di pojokan dan mencoba tidur, tak bisa ngapa-ngapain lagi.

Ketika tiba di Bau-bau saya sudah merasa baikan. Namun di sini ada disaster baru, karena sulitnya mencari toilet. Toilet di pelabuhan digembok, kami sampai harus mengetuk rumah penduduk untuk meminjam toilet, namun juga tidak diberikan. Ternyata sedang terjadi kesulitan air, pantas saja semua sangat pelit dan menyarankan kita buang air di kapal saja. Akhirnya kami menemukan toilet di sebelah kantor polisi. Terima kasih pak Polisi yang menyambut kami dengan sangat ramah.

Untuk melanjutkan perjalanan ke Wanci kami menumpang kapal kayu (overnight) KM Aksar Syahputra (Rp 103.000 per orang). Tips: mintalah kamar ABK karena hanya menambah sekitar Rp 50.000 per orang kita bisa mendapat kamar yang bisa ditempati 4 orang. Di luar kamar, ada dipan panjang dua tingkat di mana semua penumpang tidur berjejeran di sana. Perjalanan ditempuh dalam waktu 10 jam, berangkat on time pukul 21.00.

Menurut semua orang yang naik kapal ini, goyangan kapal kayu ini lebih aduhai dibanding speedboat yang kami tumpangi sebelumnya. Tapi saya mencoba tidur sepanjang perjalanan dan memusatkan pikiran saya pada “mencoba tidur” dan melupakan hal lain. Setelah makan malam (dari bekal) di atas kapal, saya pun membersihkan diri (dengan tissue basah), mengganti pakaian agar nyaman (karena pakaian tadi basah oleh keringat dingin), minum Antimo, dan fokus pada mencoba tidur.

Keesokan pagi setelah saya mencoba menjangkau kamar kecil sambil berjalan berpengangan pada sesuatu, orang-orang mengobrol tentang dahsyatnya ombak semalam. ABK yang baik hati datang membawakan segelas teh manis. Mereka bercerita tentang angin timur, dan sesuatu tentang pertemuan arus laut dalam (laut Banda) dengan laut Wakatobi.

Yang saya rasakan dan ketahui adalah goyangan yang heboh sambil mencoba tidur itu, seolah-olah ibunda sedang marah besar sambil menggoyang ayunan dengan penuh emosi. Antara tidur dan tidak, saya mendengar suara kletek-kletek yang konstan karena angin yang menerpa kain penutup kapal. Air yang tinggi muncrat ke dalam kapal hingga akhirnya teman saya mencoba menutup pintu kamar yang sulit dilakukan karena melawan angin. Berkat Antimo semua lebih mudah dilewati karena Antimo menyebabkan kantuk.

Sekitar pukul 07.00 tanggal 18 Mei kami tiba di pelabuhan Wanci, kepulauan Wakatobi. Dari sini naik ojek (Rp 10.000) ke pelabuhan Mola yang tidak jauh dari sana. Kapal KM Wande-wande tujuan Kaledupa berangkat pukul 10.00 pagi (Tiket Rp 50.000, waktu tempuh 1,5 jam hingga 2 jam). Tujuan akhir kami---tempat kami menginap---adalah Pulau Hoga, sebuah pulau kecil di atas pulau Kaledupa.

Kami tiba di Hoga Island, Marine Research Station, Wakatobi National Park dan bertemu pak Juffri setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam. Berangkat tanggal 17 pukul 06.00 dari Jakarta, dan tiba di Hoga tanggal 18 pukul 12.00. Wuih… Hingga saat makan malam hari itu, bumi masih bergoyang seperti dalam ayunan bayi nan abadi. Tetapi semua effort terbayar ketika kami semua nyebur ke dalam lautan Wakatobi yang terkenal itu. Tanpa membuang waktu hari itu juga kami langsung snorkeling dan diving.

Kapok dengan perjalanan laut yang panjang? Tentu saja tidak. Seperti halnya bangkit dan semangat kembali seusai menyelesaikan urusan mabuk laut dan memulihkan diri sendiri, seperti itu pulalah perjalanan demi perjalanan dengan petualangan tidak akan membuat kapok, malah mungkin akan terus dicari. Keluar dari situasi sulit, lega setelah badai berlalu, kelegaan ketika finally arrive, itulah sebagian keindahan sebuah petualangan.

9 comments:

  1. Wow.... keren ceritanya...2 jempol..
    hebat loh petualangannyaa Mei..!! wah....ck..ck.. ;))

    ReplyDelete
  2. Jiahhhhhhhhhh.....
    Perjalanan ini tidak akan terwujud kalau bukan karena elu, Ren. Thank you!

    ReplyDelete
  3. Envy! Gw udah lama meronta-ronta ngidam ke Wakatobi, Mba Mei berangkat duluan :p
    Jadi akhirnya nyoba diving? Aduh, sekarat nih pengen nyebur ketemu si Nemo, hikkkssss

    ReplyDelete
  4. Thanks ra.. kapan2 gw ajak travel bareng kita2 ya..

    ReplyDelete
  5. Boleh minta nomer hpnya pak jufry?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sorry udah gak nemu.. udah tanya temenku pun ilang...

      Delete