Google+ Followers

Friday, June 15, 2012

Antara Derawan, Wakatobi, dan Karimun Jawa: Cerita tentang Kebangkitan Pariwisata Domestik




Pagi itu hujan turun lamat-lamat, jenis yang senyap dan panjang. Saya terbangun dengan bersemangat, di dalam sebuah rumah panggung yang dibangun di atas laut, tak jauh dari pantai. Sejak sore hari sebelumnya kami telah tiba di Resort Maratua Paradise ini dan langsung jatuh cinta. Pemandangan rumah-rumah penginapan dari kayu di atas air laut yang hijau jernih ini seperti langsung membius kami dan mengingatkan kami pada Maldives, walaupun tak seorang dari kami pernah mengunjungi negara kepulauan yang kesohor dekat Srilanka itu.

Kedamaian yang ditawarkan oleh jauhnya pulau itu dari kehidupan, ketenteraman yang ditawarkan alam, keindahan dan privacy, semua membuat resort di pinggiran pulau terbesar di kepulauan Derawan Kalimantan Timur ini sebuah pilihan getaway yang menyenangkan. Belum lagi menyebut ketika Anda nyebur dan menikmati kekayaan alam di bawah laut, salah satu harta karun Borneo yang belum banyak terekspos.

Kami bercakap-cakap dengan pak Manto, dialah lelaki pemilik boat yang membawa kami all the way dari Berau. Perjalanan ke pulau Maratua dengan speed boat memakan waktu hampir 3 jam dari Berau. Sambil menunggu hujan reda, kami membiarkan Pak Manto, lelaki keturunan suku Bajau kelahiran Maratua asli ini memberikan wawasan baru kepada kami tentang pariwisata di kepulauan Derawan yang mulai menggeliat.

Pak Manto memiliki sendiri speed boat-nya---speedboat kecil yang cukup untuk 12 orang dan setidaknya berharga Rp 100 juta---kongsian dengan beberapa teman. Dia juga memiliki sendiri peralatan snorkeling, sehingga ketika membawa tamu dia sudah bisa membuat paket lengkap yang terdiri dari angkutan dari Berau, island hopping serta snorkeling. Pak Manto lebih maju dari saya, setidaknya dia dan teman-temannya telah memiliki usaha sendiri, mengandalkan modal sendiri serta mengelola bisnis mereka sendiri dengan mengkapitalisasi potensi pariwisata dari kampung halaman mereka.

Keesokan harinya kami pindah menginap di pulau Derawan, salah satu pulau paling ramai yang namanya diambil menjadi nama kepulauan tempatnya berada. Di sini hampir sama dengan Maratua, air laut yang jernih tembus pandang, tetapi yang khas dari Derawan adalah adanya penyu-penyu hijau besar yang bisa kita temui tak jauh dari pantai. Berbeda dengan Maratua Resort yang lebih private, pulau Derawan menawarkan sesuatu yang berbeda. Jalan sedikit dari bibir pantai kita akan menemui sebuah jalan yang kanan kirinya dipenuhi homestay, dan guess what, semua dimiliki dan diusahakan oleh penduduk setempat. Penduduk sini benar-benar menikmati manfaat dari pariwisata di tempat mereka sendiri.

Pak Manto dan keluarga tinggal di sini. Rumahnya tak jauh dari pantai dan deretan homestay bertarif sekitar 100.000-an per malam itu. Dalam hati kami bangga melihat rumah pak Manto, rumah beton yang cukup besar dan bersih, cukup nyaman untuk berdiam dia dan istri serta kedua puteranya yang masih kecil-kecil.

Berjalan-jalan di sini sangat menyenangkan, lingkungan yang penuh homestey berarti juga lingkungan yang penuh turis. Ada juga beberapa café yang menjadi tempat nongkrong para turis, sebagian lokal, sebagian asing. Mereka bercampur dalam satu landscape dengan anak-anak kampung yang sedang bermain di sore hari, di halaman rumah mereka sendiri. Rumah-rumah ini juga bagus-bagus, sebagian besar terbuat dari kayu serta memelihara model tradisionalnya meskipun masih baru.

Sore menjelang malam ketika kami sedang duduk-duduk di café, seorang bule berjalan melewati kami dan mengucapkan “Selamat Pagi,” yang dengan spontan langsung kami jawab “Malam…” yang membuat lelaki itu merasa tidak enak dengan kesalahannya dan buru-buru menjawab, “Oh, sudah malam ya, saya bilang Selamat Pagi karena saya baru bangun,” tentunya dalam bahasa Inggris. Penduduk setempat juga sangat ramah dan melayani dengan baik para pendatang.

Pada trip-trip saya berikutnya (ke Wakatobi, lalu Karimun Jawa belum lama ini) saya bertemu kembali dengan orang-orang yang seperti pak Manto dan merasakan gejolak bangkitnya pariwasata domestik, yang didukung oleh penduduk lokal sendiri. Ini adalah tren yang menggembirakan.

Pak Jufri Penguasa Hoga

Ketika mengunjungi Wakatobi, saya sangat terkesan dengan yang namanya pak Jufri. Pengunjung pulau Hoga pasti pernah mendengar nama ini, salah satu situs web bahkan menyebutnya sebagai penguasa Hoga. Pulau Hoga adalah salah satu pulau di kepulauan Wakatobi yang seringkali menjadi tempat penginapan turis karena di dekat sini banyak diving site.


Pulau Hoga juga merupakan sebuah taman nasional, di sini dulu dikelola Wallace Institute, sebuah lembaga penelitian biodiversity bawah laut. Di suatu sore setelah diving kami sempat mengobrol santai dengan Pak Jufri sambil menunggu sunset.

Pak Juffri memperkenalkan dua bule yang pada waktu itu berkunjung ke Wakatobi bersamaan dengan kami sebagai gurunya. Kedua pasangan bule dari Australia itu kini adalah tamu di pulau Hoga, namun dulunya adalah pengelola tempat itu. Merekalah yang dulu mengajari Jufri diving hingga sekarang menjadi dive master. Mereka juga mengajari Jufri dan istrinya mengelola penginapan yang terdiri dari lebih dari 100 rumah itu. Yang mengejutkan adalah, semua rumah penginapan di Hoga adalah milik penduduk Wakatobi, sebagian besar dari Kaledupa yang merupakan pulau besar terdekat dari Hoga.

Ketika kami berjalan di Kaledupa, pemandu kami berkata “Ini rumah pemilik penginapan yang kalian tinggali” sambil menunjuk sebuah rumah panggung yang mewah. Pada saat masyarakat merasa mampu mengelola sendiri pariwisata di tempat mereka, Wallace Institute pun perlahan melepaskan kepemilikan mereka tentu saja setelah melalui transfer of knowledge. Pemilik penginapan adalah para penduduk, sedangkan yang dipercaya mengelola adalah Jufri dan team-nya. Bapak dan ibu dari Australia itu seringkali datang bila diperlukan, seperti bila ada masalah dengan akunting, website, peralatan diving, dan sebagainya.

Bulan Juni ini mereka akan kedatangan lebih dari 200 pelajar dari seluruh dunia yang merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Wallace Institute. “Kami harus membuktikan bahwa kami mampu mengelola sendiri tempat ini,” ujar Jufri dengan raut yang bijak. Di wajahnya yang hitam pekat tersirat pengalaman mengelola bukan hanya turis yang cerewet, tetapi juga pemilik rumah yang banyak menuntut. Banyak pula di antara mereka yang belum paham tentang pentingnya pelayanan dalam pariwisata, dan sebagainya. Lelaki ini tidak hanya pintar menyelam, tetapi dia juga mengerti sales dan marketing dan pentingnya semua itu untuk kemajuan pariwisata yang berarti kemajuan ekonomi penduduk setempat.

Pada pagi hari ketika kami hendak meninggalkan pulau Hoga, di depan dermaga di hadapan kami sedang bertengger sebuah kapal pesiar yang amat mewah. Kapal itu tampak berkilauan di pagi yang masih remang-remang, bagaikan Titanic kecil. Pak Jufri bercanda bahwa itulah kapal jemputan kami, karena kami sedang menunggu kapal untuk pulang ke Wanci. Kapal seperti itu adalah fasilitas resort-resort mahal, pak Jufri mengenali kapal di hadapan kami sebagai milik salah satu resort di pulau Tomia. Harganya jangan ditanya, membuat saya berpikir mungkin dengan adanya orang-orang seperti pak Jufri inilah pariwisata ke tempat-tempat eksotis seperti Wakatobi, Derawan, dll, akan semakin terjangkau oleh turis domestik.

Tempat-tempat wisata seperti Raja Ampat pun kabarnya sekarang sudah banyak homestay yang dikelola penduduk. Destinasi yang tadinya didominasi asing (baik pengelola maupun turisnya) akan segera berubah. Wisata dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, membuat semuanya lebih terjangkau, dan dengan begini pariwisata Indonesia akan semakin cepat berkembang.

Karimun Jawa

Mungkin di antara ketiga tempat, Derawan, Wakatobi, dan Karimun Jawa, yang terakhir ini adalah yang paling awal ngetop dan paling established sebagai tempat wisata. Pemilihan ketiga destinasi ini kebetulan saja, karena saya baru belum lama ini ke sana. Derawan bulan Januari, Wakatobi Mei dan Karimun Jawa Juni 2012. Pandangan dalam tulisan ini adalah pendapat saya berdasarkan referensi saya yang mungkin terbatas. Di Karimun Jawa kami bertemu dengan seorang pria bernama Alex, seorang pemuda Jawa yang akan sering terlihat mondar-mandir melayani banyak rombongan wisata sekaligus.

Pada akhir pekan biasa seperti ini Karimun Jawa akan dipadati turis. Tempat ini tidak pernah sepi, salah alamat bila Anda mencari tempat sepi, mungkin hanya pada hari biasa (bukan akhir pekan). Kapal Kartini dari Semarang (4 jam perjalanan) selalu penuh pada akhir pekan. Kapalnya dilengkapi air conditioner sehingga cukup nyaman, namun ombak cukup besar sehingga sebaiknya persiapkan antimo. Turis lokal dan muda yang mendominasi pemandangan. Di mana-mana penuh turis: Pulau Menjangan, Pulau Gosong, penangkaran ikan hiu. Sejenak setelah kita meninggalkan sebuah site snorkeling, sedetik kemudian sudah datang rombongan lain dengan kapal lain.

Pemandangan terumbu karang di sini bagus, terumbu besar-besar dan warna-warni, namun ikannya sedikit, dan kecil-kecil, bila dibandingkan dengan kedua destinasi sebelumnya. Secara utuh pengalaman berwisata di sini menyenangkan, serta jauh lebih dekat dan bisa dijangkau over the weekend saja dari Jakarta.

Sama seperti kedua destinasi di atas, di Karimun Jawa saat ini juga sudah banyak sekali homestay. Saya malah cenderung mengusulkan untuk menginap di homestay karena rata-rata homestay ini masih baru, dibanding dengan the so called resort yang usianya sudah tua. Paket wisata Karimun Jawa banyak tersedia di internet, paket ini sudah lengkap dimulai dari kapal dari Semarang atau Jepara, island hopping di Karimun Jawa, snorkeling serta berenang bersama ikan hiu (off course I did it). Karena sudah established tadi, pengelola-pengelola seperti Alex juga sudah sangat established, dan bisa mengelola banyak rombongan sekaligus dan dengan begini dapat menurunkan harga secara signifikan.

Di hari terakhir ketika semua tas sudah dikemas tinggal menunggu boarding ke kapal Kartini, Alex bertanya apakah saya membawa flash disk. “Lho kok gak bilang,” kata saya, karena Alex hendak memberikan semua foto-foto bawah laut yang diambil stafnya ketika kami berwisata dua hari di Karimun Jawa. Mereka sudah dibekali kamera anti air dan memotret para wisatawan yang merupakan bagian dari paket wisata tersebut.

“Kan ada di email,” jawab Alex dengan perasaan tak bersalah.  

Sontak kami langsung melongo dan mengingat-ingat, ternyata kami semua hanya membaca email secara selintas saja dan melewatkan point yang penting itu. Duh.




*Foto1 Maratua Paradise Resort dari borneotourstravel.com, Foto 2 Pemandangan Bawah Laut Wakatobi by Renny Puspita 


3 comments:

  1. Saya titip info ya..
    Mungkin berguna untuk pengunjung blog ini. Bagi pemilik usaha rumah makan ataupun siapa saja yang ingin memulai usaha makanan, maka dapat menggunakan Packaging Makanan dari saya yang sudah terbukti 100% Food grade serta aman dan ramah terhadap lingkungan.

    Informasi lebih lanjut dapat lihat detailnya di sini.

    ReplyDelete
  2. Mari berwisata ke karimunjawa! Silahkan buka http://karimunjawamenjanganresort.com dan pilih paket wisata yang sesuai!

    ReplyDelete
  3. paket wisata karimunjawa harga murah kualitas ok, silahkan kunjungi http://karimunjawa.co.id

    ReplyDelete